Gold Cage (Side Story)

Title: Gold Cage (Side Story)

Sub-title: The Truth

Author: Lee Yong Mi / @YongMiSM

Cast: Akan diketahui di setiap chapter

Genre: Romance, Angst, Action, Family, Tragedy

Rating: Mature

Length: Chapter

Disclaimer:

Semua cast milik Tuhan YME  Oh ya, disini karakter Seohyun akan berubah nama menjadi Kim Seohyun, karena penyesuaian dengan alur cerita. Happy reading readers

NOT FOR SILENT READERS AND PLAGIATOR PLEASE

 The Truth

 page

Kim Min Seok

Menjadi seseorang yang mempunyai-ehm-hasrat yang tinggi itu sulit.

Terkadang aku tidak bisa menahan tubuhku sendiri, sehingga aku harus melampiaskannya pada orang lain.

Saat kedatangan Ah Young dulu, di Belanda, jujur saja aku tertarik padanya. Dia tidak mempedulikan penampilannya di depan seorang namja, biasanya para yeoja akan sedikit berdandan jika menemui orang lain, bukan? Tapi dia… hanya mengenakan kaus kebesaran dan legging panjang berwarna hitam. Rambutnya pun dia kuncir dengan berantakan, namun itu tidak mengurang daya tariknya sama sekali. Justru, ia bertambah cantik dengan gaya tersebut.

Dan jika aku jujur, akan kukatakan bahwa aku menyukainya.

Namun aku tidak mungkin jujur seperti itu, bukan? Terlebih, dia sekarang adalah yeojachingu dari Jong Dae. Setelah insiden aku-dan-Yixing-hampir-menyentuhnya-secara-menakutkan, Jong Dae tidak pernah lagi lepas dari Ah Young-kecuali disaat dia masuk ke dalam kamarnya di asrama. Kami berempat jadi sering dihukum bersama karena bolos secara bersamaan, namun bagiku semua itu terasa menyenangkan.

“Min Seok-ah.” Panggil Ah Young suatu hari ketika hanya kami berdua. Jong Dae dan Yixing sedang pergi membeli beberapa snack.

“Ne?” balasku. Dia menatap langit malam yang berhamburan bintang.

“Kau lebih memilih yang mana, menyimpan sebuah perasaan atau mengungkapkannya?”

Aku mengernyit. Tidak biasanya Ah Young bertanya seperti itu.

“Mungkin menyimpannya.” Jawabku asal, namun seketika aku tersadar. Jawabanku itu bukanlah jawaban asal, namun itu memang jawaban dari dalam diriku sendiri. Selama ini aku menyimpan perasaanku pada Ah Young, tanpa ada niat sedikit pun untuk mengatakan hal tersebut padanya.

“Benarkah? Tapi sepertinya kau hanya menyiksa dirimu sendiri jika kau menyimpannya.”

Aku menoleh, menatap Ah Young yang kini menatap lurus ke depan.

“Bukankah lebih baik kita mengatakan perasaan kita? Daripada perasaan itu hanya dipendam saja, itu semua hanya akan membuat kita sakit. Lebih baik kita mengatakannya, dengan begitu ada perasaan lega karena orang yang kita beritahu perasaan kita telah mengetahuinya.”

Dia beranjak dari duduknya bersamaan dengan Jong Dae dan Yixing yang kembali ke asrama.

“Ah Young! Mianhae, aku meninggalkanmu sendirian. Gwenchana?” tanya Jong Dae dengan sikap-sedikit-protektif terhadap Ah Young.

“Gwenchana. Aku sudah mengantuk, lebih baik aku kembali ke kamar. Annyeong~…”

Ah Young berjalan pergi, dan hanya dengan melihat punggungnya tersebut, aku yakin bahwa lebih baik aku tidak mengatakan perasaanku padanya. Biarkan semua rasa ini menjadi rahasiaku saja. Selama Ah Young bahagia, aku pun ikut bahagia.

Karena aku mencintai seorang Kim Ah Young.

+++

Xi Lu Han

Aku akui, aku memang seorang namja yang jahat.

Dengan kejamnya aku memerintahkan Jong In untuk membunuh 19 istriku dulu. Tapi sekarang, aku tidak akan seperti itu lagi. Aku akan berubah, semua demi yeoja yang kucintai…

Kim Seohyun, kakak dari seorang Kim Ah Young.

Sebenarnya dulu, disaat aku pertama kali melihat Ah Young yang memakiku karena aku mengambil Seohyun darinya, aku terpesona. Baiklah, aku sedikit malu untuk menceritakannya. Ehm, bagiku, hanya seorang Ah Young yang berani memakiku, tidak ada yang lain. Karena itu aku terpesona dan… menyukainya. Aku mencari informasi mengenai dirinya selama 11 tahun, sampai akhirnya kuketahui bahwa ia diungsikan ke Belanda, namun ia dikatakan kabur-lagi-dari asramanya. Dan tidak kusangka ia kembali kesini, tapi dengan tujuan untuk mengambil Seohyun dariku.

Sudahlah, semua hanya kisah yang telah lalu.

Daddy!

Alberto melompat ke atas punggungku dengan tiba-tiba, membuatku hampir saja terjatuh jika tidak ada seseorang yang menahannya.

Alberto! Don’t do that! You will hurt your dad!

Seohyun…

Uhh, Mom! I wanna play with daddy~” rengek Alberto, namun Seohyun menggeleng tegas.

Your dad is tired, now go to your room and do your homework!

Alberto memajukan bibirnya kesal. Dia berlari menjauhi kami seraya berteriak.

Then give a little brother!!

Wajah Seohyun memerah. Dia hanya membungkuk sopan padaku.

“Mi, mianhae. Aku akan segera pergi.”

Seohyun berbalik dan hendak berjalan pergi, namun aku segera menahannya.

“Aku tidak memintamu untuk keluar, Nyonya Xi.” Ucap Luhan datar. Ia menarik Seohyun ke dalam kamarnya. “Tidak setelah kau melayaniku dengan baik.”

+++

Wu Yi Fan (dialog yang ditulis miring artinya diucapkan dalam bahasa Inggris)

Cintailah seseorang dengan tulus. Itulah saranku.

Jangan pernah mencintai orang karena ada sesuatu di dalam dirinya yang kau inginkan, tapi cintailah seseorang apa adanya. Biarkan orang yang kau cintai menjadi dirinya sendiri. Biarkan orang yang kau cintai memilih jalannya sendiri.

Karena kau akan mendapatkan sesuatu yang berharga nanti.

“Em… Kris?”

Aku menatap ke arah Ah Young. Dia tampak berjalan malu-malu ke arahku dengan gaun malam yang ia kenakan.

Ka, kau… ingin tidur?

Kalian semua pasti tahu apa yang dilakukan oleh sepasang pengantin yang baru menikah, bukan? Namun sepertinya Ah Young takut.

Ya, aku akan tidur di luar jika kau takut aku ‘tidur’ bersamamu disini.” Jawabku. Aku mengambil bantal dan selimut dari dalam lemari, kemudian berjalan keluar, namun Ah Young menahanku dengan menarik bajuku, membuatku berhenti berjalan.

Tu, tunggu dulu, Kris…” ia terbata. “A, aku… aku telah menunggu saat ini…

Aku terpana.

Aku… tidak pernah melakukannya dengan Luhan… karena…

Ah Young mengangkat wajahnya, menatap Kris dengan mata berkaca-kaca.

… aku hanya ingin memberikannya padamu…

Aku merasa bahagia mendengarnya. Dia menjaga kesuciannya, hanya untukku? Padahal ia pernah menikah dengan Luhan yang terkenal dengan ‘King of Bed’… Tapi ternyata ia tetap menjaganya.

Jadi, kau ingin aku melakukannya?” tanyaku dengan sebelah alis terangkat, namun ia menggeleng.

Bukan hanya kau…” jawab Ah Young dengan wajah memerah. “Tapi kita…

Aku tersenyum. Bantal dan selimut yang tadi kuambil pun kubuang ke sembarang arah, kemudian tanganku meraih tubuhnya dan memeluknya erat, mencium aroma tubuhnya.

Kau yakin?” tanyaku pelan. Kurasakan ia mengangguk.

Ya, Kris…

Aku melepas pelukanku, kemudian dengan lembut aku mencium bibir mungilnya, hanya perlahan karena aku takut akan menyakitinya…

Wo ai ni, Kim Ah Young…” bisikku di sela ciumanku, kemudian aku mengangkatnya dan membawanya ke atas tempat tidur.

+++

Kim Joon Myung

“Kau harus tunduk dengan apa yang dikatakan oleh majikanmu.”

Sebuah kalimat, yang selalu kuingat sejak kecil sampai sekarang.

Orang tuaku hanya mengajarkan kalimat itu padaku dan Kyungsoo, saudara angkatku. Ya, kami selalu bersama sejak kecil, mengikuti perintah dari sang majikan yang bernama Choi Seunghyun. Beliau melatih kami bagaimana cara memegang pistol, membuang perasaan iba, menjadi seorang pembunuh yang kejam dan cerdas.

Aku bisa mengikuti dua di antaranya, namun aku tidak bisa membuang perasaan iba milikku, begitu pula dengan Kyungsoo.

“Joon, Joon Myung hyung…” bisik Kyungsoo pelan di jam tidur kami. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan menghampirinya.

“Waeyo, Kyungsoo-ah?” tanyaku seraya mengusap rambutnya lembut. Wajahnya terlihat pucat.

“Ha, haruskah… kita tetap berada dalam kehidupan seperti ini?”

Ya, kita hanya bisa terjebak di dalam kehidupan ini, Kyungsoo-ah…

“Mianhae… Sekarang kau tidur saja.” ucapku seraya menyelimutinya dengan selimut yang cukup tebal.

“Hyung, kau tidak akan tidur?” tanya Kyungsoo dengan polosnya.

“Aku akan tidur jika kau telah tidur. Makanya kau harus cepat tidur, Kyungsoo-ah.” Jawabku seraya tersenyum. Kyungsoo mengangguk dan membalas senyumku.

“Ne, hyung. Aku akan tidur. Jaljayo…”

Beberapa detik kemudian, Kyungsoo telah terhanyut dalam mimpinya. Aku hanya tersenyum tipis, kemudian kembali ke tempat tidurku dan memaksakan diriku untuk tidur.

~~~

“Ne?! Tuan Choi meninggal??” ucapku tidak percaya, sedangkan Kyungsoo sendiri hanya terbelalak. Nona Jung-sekretaris Tuan Choi-mengangguk pelan.

“Karena Tuan Choi membantah perintah dari Tuan Xi… sehingga anggota dari kelompok Tuan Xi membunuhnya…”

Tuan Xi… berarti Xi Lu Han… Dia membunuh majikan kami, satu-satunya orang yang masih menyayangi kami?

“Sekarang, kelompok kita tidak mempunyai pemimpin, sehingga kita akan membubarkan diri.” Ucap Nona Jung lagi. Aku hanya mengangguk seraya menggenggam tangan Kyungsoo erat.

“Kami pergi.”

~~~

Kyungsoo tampak bingung melihatku. Sekarang kami telah berada di sebuah apartemen kecil.

“Hyung, waeyo?” tanyanya. Tunggu sebentar, Kyungsoo. Aku sedang berpikir…

“Kyungsoo, apakah kau marah ketika Tuan Choi dibunuh?”

Kyungsoo tampak terkejut, namun ia menganggukkan kepalanya.

“Ne, hyung! Tuan Xi sangat jahat. Ia membunuh Tuan Choi, padahal Tuan Choi tidak mempunyai salah apa pun terhadapnya…”

Aku mengangguk.

“Apa kau ingin membalas dendam padanya?”

“Tentu, hyung! Dia harus membalas semua perbuatannya terhadap Tuan Choi! Nyawa dibayar dengan nyawa!”

Aku kira, inilah hasil dari pelajaran ‘membuang rasa iba’ dari diri kami.

~~~

Penyelinapan kami berhasil. Kami menjadi penari di dalam club milik Luhan. Meskipun kami harus menari tanpa mengenakan baju sekali pun, kami akan melakukannya asalkan bisa membalaskan dendam Tuan Choi pada Luhan.

Namun semua berubah ketika aku melihatnya.

Dia, yeoja yang berteriak histeris ketika melihatku dan Kyungsoo menari. Dia segera berlari mencari pintu keluar-dan tetap berteriak tidak jelas. Ternyata ia istri dari seorang Xi Lu Han, membuatku hampir saja ingin membunuhnya di tempat itu saat itu juga, namun aku harus menjaga emosiku.

Disaat aku dan Kyungsoo menghampirinya, ia semakin menjerit histeris dan bersembunyi di belakang tubuh Luhan. Jujur saja, ia adalah yeoja pertama yang menjerit karena melihat kami. Kemudian, disaat aku dan Kyungsoo telah mengenakan baju kami, ia menghela nafas lega.

Sebegitu takutkah ia melihat kami?

“Em… Namaku Kim Ah Young.”

Kim Ah Young.

Kau bahkan membuatku memikirkanmu hanya dalam waktu 1 detik.

~~~

Siasat kami untuk menculik Seohyun, istri Luhan yang sedang mengandung itu berhasil. Luhan datang ke tempat yang kami perintah dengan cepat.

Namun kenapa ia harus membawa Ah Young?!

“Hyung, tembak Luhan!” isyarat Kyungsoo dari kejauhan. Aku mengarahkan pistol yang kupegang ke arah Luhan, namun sepertinya pengawal mereka menyadari keberadaanku.

Tembakanku meleset. Kyungsoo berjalan keluar dari persembunyian seraya membawa Seohyun, dan barulah aku keluar dari persembunyianku. Ah Young terbelalak menatapku, sedangkan Luhan berteriak menyumpahi kami.

Sejujurnya, aku hanya terpaku pada Ah Young. Semua yang kulakukan hanyalah sebuah topeng. Aku ingin menembak Luhan, menjauhkannya dari Ah Young, namun…

Dor dor!

Sebuah peluru menembus tubuhku dan seketika aku ambruk. Tidak, aku tidak mengingat apa-apa lagi selain wajah Kyungsoo yang kesakitan. Inikah akhirnya…?

+++

Zhang Yi Xing

Err… Bagaimana caraku mengatakannya?

Baiklah, begini saja. Aku namja yang kurang kasih sayang. Mengerti?

Sejak aku pindah ke dalam asrama, aku tidak bisa lagi menghubungi orang tuaku. Yah, selama uang untuk kehidupanku tetap dipenuhi, aku tidak terlalu peduli.

Namun tidak selamanya rasa ‘tidak peduli’ itu akan tetap ada.

Aku merasakannya, ketika aku benar-benar merasa terpuruk tanpa ada siapa pun yang menolongku.

Dia datang.

Saat itu, aku sedang duduk di taman sekolahku dengan mengenakan tudung jaket, menggerutu karena orang tuaku yang tidak mempedulikanku lagi, ketika yeoja itu datang.

Dia duduk di hadapanku, dengan mata yang tertutup, mulutnya mengeluarkan sebuah kalimat.

“Hentikan gerutuanmu itu, bodoh.”

Aku meliriknya tajam, namun sepertinya ia tidak berniat membuka matanya sedikit pun.

“Jika kau menggerutu hanya karena orang tuamu tidak mempedulikanmu, bayangkan jika aku menggerutu karena orang tuaku mengirimku kesini karena ingin menjauhkanku dari saudaraku sendiri dan dari musuh jahat.”

Aku mengernyit, sedikit tidak paham akan apa yang ia katakan.

“Bayangkan ketika saudaraku sendiri dibawa pergi oleh musuhku, tepat di depan mataku dan aku ditahan agar tidak bisa merebutnya kembali.”

Dia menggelengkan kepalanya, kemudian beranjak dan berjalan pergi.

“Bersyukurlah karena kau mempunyai hidup yang lebih baik daripada diriku!” ucapnya acuh. Dia menghilang di balik dinding gedung, meninggalkanku yang merasakan sesuatu yang aneh di dalam diriku.

Yeoja itu, walaupun ia terdengar tidak peduli, tapi sebenarnya ia peduli… Bahkan, ia peduli terhadapku.

Di bangku tempat ia duduk tadi terdapat sebuah name tag. Aku mengambilnya dan membaca nama yang tertera disitu.

Kim Ah Young.

“Jadi, namamu Kim Ah Young?” gumamku pelan. Aku meletakkan name tag itu di tempat yang sama, kemudian berjalan pergi.

+++

Byun Baekhyun

Menjadi seseorang yang lebih tua terkadang merupakan suatu hal yang menyenangkan. Apalagi disaat kau lebih tua daripada orang yang kau sukai.

Kim Ah Young.

Yeoja yang sangat ingin kucekik, namun entah mengapa aku merindukannya.

Mengapa aku ingin mencekiknya? Karena ia mengatakan suatu kebohongan besar disaat kabur dari Luhan dan Kai.

Karena Luhan dengan jelas mengumumkan bahwa ia akan menikah dengan Ah Young.

Karena Ah Young tidak datang lagi sejak terakhir kali ia datang.

Karena… Ah Young bercerai dari Luhan, namun ia justru menikah dengan Kris.

Karena Ah Young mengundangku, Sehun, dan Chanyeol untuk datang ke pernikahannya.

Jujur, aku sangat ingin mencekiknya, tapi apa daya jika aku merindukannya?

Merindukan tawanya…

Merindukan senyumnya…

Merindukan ucapan acuhnya…

Aku tergila-gila padanya, dan aku tahu ini adalah sesuatu yang salah.

“Baekhyun-ah~!”

Tiba-tiba seseorang memelukku dengan erat. Aku terkejut ketika melihat bahwa Ah Young yang memelukku.

“Aku membawakan kabar gembira untuk kita semua! Apa kau ingin tahu?” tanya Ah Young tetap dengan wajah polosnya itu. Berita gembira bagimu tidak akan sama dengan berita gembira untukku, Ah Young. Bagiku, berita gembira adalah disaat kau bercerai dengan Kris.

“Ne, Ah Young-ah! Apa kabar gembiranya?” tanyaku dengan sebuah senyum palsu. Dia meraih tanganku dan meletakkannya di atas perutnya. Samar, aku bisa merasakan sesuatu bergerak disana. Firasatku menjadi buruk. Apakah ia…

“Aku hamil, Baekhyun-ah!”

Mungkin aku tersenyum di depannya, namun di dalam hatiku, aku merasa sakit. Terlalu sakit.

“Chukkae~” ucapku seraya mengusap rambutnya pelan. Dia mengangguk dan tersenyum lebar.

“Kris mengizinkanku untuk pergi berjalan-jalan hari ini! Baekhyun-ah, apakah kau ingin menemaniku hari ini? Aku juga telah mengajak Sehun dan Chanyeol. Mereka semua mengatakan bahwa mereka akan menemaniku. Bagaimana denganmu?”

Dan lagi, sebuah senyum palsu yang kuberikan padanya.

“Tentu saja aku akan menemanimu!” balasku dengan ceria. Dia menggenggam tanganku erat.

“Gomawo, Baekhyunie! Kau telah menjagaku selama ini!”

Tanpa terasa aku justru menangis… di dalam hati.

“Ne, cheonma, Ah Young-ah…”

+++

Kim Jong Dae

Pilihlah, kau akan melindunginya sebagai saudara atau memenjarakannya sebagai seorang lelaki.

Bagiku, aku akan memilih pilihan pertama.

Kim Ah Young, yeoja yang mungkin terlihat kuat di luar, namun siapa sangka ia mempunyai mental seperti seorang anak kecil yang hobi melakukan apa pun? Ia masih ingin tahu akan apa yang belum ia ketahui. Ia masih membutuhkan perlindungan dari  seseorang yang ‘bermental’ dewasa.

Karena itulah, aku datang untuk melindunginya, membuang jauh-jauh perasaan sayang berlebihanku padanya, menjaga rasa sayang sebagai seorang saudara, bukan rasa sayang dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan.

Namun terkadang, sulit untuk mengendalikan diriku sendiri. Perasaan sayang itu tetaplah ada, sehingga disaat dia mengatakan bahwa ia akan menikah dengan Luhan, aku mengusulkan ide konyol itu, yaitu untuk membawa ia pergi tepat disaat pernikahannya.

Siapa yang menyangka kalau ia akan setuju?

Memang sulit untuk menebak hati seorang Ah Young, namun tidaklah sulit membuat ia percaya padamu. Ia akan tetap percaya meskipun kau telah menyakitinya. Hanya keegoisan saja yang menutupi semua itu.

Bahkan, jika kau ingin memenangkan hatinya juga tidaklah sulit, namun kau tidak akan tahu bagaimana caranya.

Begitu pula denganku. Aku tidak pernah tau bagaimana cara memenangkan hati seorang Ah Young. Dan aku telah terlambat. Kris adalah namja yang berhasil memenangkan hatinya.

Aku hanya bisa berjalan mundur dengan teratur, karena aku telah kalah saing dengan namja keturunan Chinese-Canadian itu.

Well, I know that he’s perfect. Too perfect to compare with me. But at least, I still can be Ah Young’s big brother, right? I still can take care of her, protect her, and else.

Dan jika Kris melarangku untuk mendekatinya, aku akan mematahkan kedua tangannya sekali pun ia adalah pemimpin mafia.

Ah Young seharusnya bangga mempunyai oppa yang dapat diandalkan seperti diriku, meskipun dulu aku hampir saja tidak berhasil melindunginya saat Min Seok dan Yixing hampir menyentuhnya. Sial, seharusnya aku tahu kalau sifat mereka berdua itu tidak berubah sama sekali.

Tapi, selama Ah Young tetap aman, aku tidak akan khawatir. Aku yakin, Kris adalah namja yang tepat untuknya. Kris pasti akan menjaganya. Jika ia berani meninggalkan Ah Young, maka ia akan berhadapan denganku.

Dan kurasa, aku tidak sendiri jika berhadapan dengannya.

+++

Park Chanyeol

Kebahagiaan Ah Young adalah kebahagiaanku juga.

Ehm, sejak awal aku melihatnya, aku telah menyukainya. Saat Sehun mengatakan bahwa Ah Young adalah yeojachingu-nya, disaat itu aku ingin membunuh diriku sendiri, namun ternyata itu hanya untuk menjauhkan Ah Young dari Tuan Xi.

Disaat Ah Young mengatakan kebohongan-yang-sangat-besar-itu pada Tuan Xi dan pergi, aku kehilangan arah hidup. Terlalu berlebihan? Tidak sama sekali. Aku memang merasakannya, ketika Ah Young pergi, yang bisa kulakukan hanyalah terus memikirkannya. Bagaimana keadaannya? Apakah ia baik-baik saja? Dimana ia tinggal?

Semua pertanyaanku terjawab ketika Ah Young datang mengunjungi kami, namun ia dalam kondisi yang cukup berantakan. Ada beberapa bagian bajunya yang robek, membuatku sangat merasa khawatir sehingga aku segera melompat ke arah dapur untuk membuatkannya segelas teh.

~~~

“Chanyeol-ah! Kau mau menemaniku jalan-jalan hari ini?”

Senyum dari seorang Kim Ah Young sangatlah berbeda. Dia terlihat lebih… bahagia saat ini.

“Tentu saja aku akan menemanimu.” Ucapku seraya tersenyum, menahan semua perasaan di dalam diriku. Tidak, aku tidak boleh egois. Ingat, Chanyeol. Kebahagiaan Ah Young adalah kebahagiaanmu juga.

“Oh ya, Chanyeol-ah! Kau tahu? Aku sedang hamil sekarang!” ucapnya dengan wajah berbinar, namun cukup sukses untuk membuatku merasa sakit.

“Jinjayo? Chukkae-ya~ Kau harus mentraktirku untuk makan siang nanti!” candaku seraya tertawa, tapi aku menangis di dalam.

“Uhh… Bukankah seharusnya kau yang mentraktirku?” balasnya lalu ia memajukan bibirnya. Aku mencubit pipinya.

“Arasseo, aku akan mentraktirmu. Kajja.” Ucapku, namun ia menahan lenganku.

“Chankamman! Aku lupa mengajak Sehun dan Baekhyun! Chanyeol-ah, kau tunggu disini dulu, ne?” ucap Ah Young panik, kemudian ia berjalan pergi mencari Baekhyun hyung dan Sehun. Aku hanya dapat menatap punggungnya yang semakin jauh… Menjauh dari diriku.

+++

Do Kyungsoo

Aku hanya ingat satu hal. Namaku adalah Do Kyungsoo. Selain itu, aku tidak ingat apa pun. Disaat aku bingung karena tidak tahu apa-apa, seseorang mengajakku pergi ke sebuah rumah dan memperkenalkanku dengan anak laki-laki yang tidak jauh berbeda denganku.

“Namaku Kim Joon Myung. Sepertinya aku lebih tua darimu, jadi kau bisa memanggilku dengan embel-embel ‘hyung’.”

Kim Joon Myung… hyung.

~~~

Seunghyun appa… terbunuh.

Tuan Xi Lu Han yang membunuhnya. Tuan Xi jahat… Tuan Xi jahat…

~~~

Menyelinap ke rumah Xi Lu Han. Menculik seorang yeoja, menyekapnya di Namsan tower. Aku tidak melihat wajah yeoja itu karena sibuk mengurusi persiapan disaat Luhan datang.

“Kyungsoo-ah.” Panggil Joon Myung hyung padaku. “Coba kau lihat si Seohyun itu. Mungkin ia sedang sekarat karena kita tidak memberinya makan sedari tadi.”

“Ne, hyung.” Jawabku patuh. Aku menghampiri Seohyun-yang kami ikat di sebuah kursi roda. Rambut Seohyun itu menutupi sebagian wajahnya, sehingga aku menyibakkan rambut itu ke atas.

Lututku melemas.

Sungguh, aku tidak tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku hanya tahu bahwa jantungku berdetak dengan cepat ketika melihat wajahnya. Tunggu… kenapa aku merasa iba? Bukankah seharusnya aku membuang rasa iba ini?

“Kyungsoo-ah! Mereka datang!”

Aku sedikit gelagapan, namun dengan cepat aku kembali pada pekerjaanku. Tanganku menarik kursi roda itu untuk ikut bersembunyi di balik semak-semak, membuat Seohyun terbangun. Dia melihat sekelilingnya dengan panik, namun ia tidak dapat melakukan apa pun karena selain tangan dan kakinya terikat, Joon Myung menyumpal mulutnya dengan sapu tangan.

Aku merasa bersalah, disaat yang tidak tepat.

Terdengar suara teriakan. Ini saatku untuk keluar membawa Seohyun.

“Mianhae…” bisikku pelan di telinganya, membuat ia terdiam. Aku pun membawanya keluar dari persembunyian.

~~~

Sial…

Aku tidak menyangka ternyata ada yang membantu Luhan, sehingga kami berdua terkapar seperti ini.

Namja tidak diundang itu, membunuh Joon Myung hyung…

Tanganku meraih pistol yang tergeletak tidak jauh dariku.

Aku harus membunuh Luhan dan namja itu…

DOR!

“A, awas!”

Tiba-tiba Seohyun menghalangi pandanganku dari Luhan, sehingga peluru yang kutembakkan…

“Argh!”

… menembus tubuhnya…

Dan aku tidak tahu apa lagi yang terjadi.

+++

Huang Zi Tao

Kau harus selalu membalas budi atas kebaikan orang lain terhadap dirimu, terutama jika mereka telah menyelamatkan nyawamu.

Flashback

“Huang Zi Tao! Naik ke tempat eksekusi sekarang!”

Aku-yang saat itu berumur 7 tahun-hanya dapat berjalan ke atas meja eksekusi. Karena daerah tempat tinggalku masih kental dengan efek kerajaan zaman dahulu, setiap kesalahan besar yang dilakukan oleh masyarakat disini akan dihukum dengan eksekusi.

Tapi kenapa karena kesalahan ayahku yang membunuh orang lain dan kabur meninggalkanku, sekarang aku yang harus menanggung segala akibatnya?

“Letakkan kepalamu di papan itu!” perintah algojo yang akan mengeksekusikan diriku. Aku meletakkan kepalaku di tempat yang telah tersedia, bersiap menunggu kapan rasa sakit akan menyerang tubuhku…

“Tunggu sebentar!”

Dan siapa yang dengan beraninya menunda rasa sakitku ini?!

“Tu, Tuan Wu Yi Fan!”

Tuan Wu…?

“Lepaskan dia sekarang juga! Aku telah menemukan dimana orang yang seharusnya berada disana!”

Aku melihat ayahku diseret dengan paksa ke atas meja eksekusi.

“Lepaskan aku! Seharusnya aku berhasil kabur dan anak itu mati!”

Itu… Ayahku? Ah, bukan. Dia bukan ayahku.

“Kau hanya diam disana?”

Seorang laki-laki yang kemungkinan lebih tua beberapa tahun dariku, dengan rambut berwarna pirang terangnya-mengulurkan tangannya padaku.

“Ikuti aku.”

Flashback Off

~~~

Sejak saat itu, aku berhutang pada Tuan Wu. Aku harus membalas kebaikannya karena menyelamatkan nyawaku dan menyadarkanku bahwa ayahku itu hanyalah seorang namja yang tidak mementingkan keluarganya sama sekali. Ibuku telah lama meninggal, dan hanya akulah satu-satunya anak yang mereka punya

PRANG!

Aku terkejut mendengar suara sesuatu yang pecah tersebut. Dengan cepat aku berlari ke arah suara dan melihat Tuan Wu terduduk di atas lantai dengan tangan yang berdarah.

“Tuan!” ucapku seraya menghampirinya. “Tuan, tangan anda berdarah!”

“Tao.” Panggil Tuan Wu tetap dengan wibawanya. “Bisakah kau mengabulkan permintaanku?” tanya beliau dengan konyolnya. Tentu saja aku akan menuruti perintah Tuan Wu, karena beliau adalah majikanku.

“Tuan, saya tidak akan pernah menolak apa yang Tuan perintahkan, karena saya belum dapat membalas kebaikan Tuan dulu.” Ucapku dengan sopan. Tuan Wu membuka mulutnya, mengatakan sesuatu yang tidak pernah kusangka.

~~~

Disinilah aku sekarang, mencari seorang yeoja bernama Kim Ah Young. Tuan Wu menitipkan pesan padaku, agar aku menyelinap masuk ke dalam kelompok Tuan Xi, dengan tujuan agar aku dapat menjaga Kim Ah Young tersebut.

Namun ternyata Ah Young melarikan diri dari pernikahannya-atau lebih tepat dikatakan ‘kabur’. Aku menghabiskan sepanjang hariku untuk mencarinya, karena Tuan Wu sampai mengurung diri di kamar, memikirkan yeoja itu.

“Ah Young noona!”

Aku berhenti berjalan. Secara spontan aku menoleh ke belakang dan melihat seorang yeoja berdiri di depan sebuah pintu dorm. Wajah yeoja itu sangat persis dengan wajah di foto yang Tuan Xi berikan padaku.

Tuan Wu, aku menemukan Ah Young-mu… Dan tidak akan pernah kulepas.

+++

Kim Jong In

Seseorang yang berhati dingin pun terkadang bisa berubah dengan hanya sebuah kata.

Cinta.

Awalnya aku meragukan satu kata ini. Tidak mungkin kata ‘cinta’ dapat merubah perilaku seseorang. Tidak mungkin kata ‘cinta’ akan membuat seseorang merasakan kebahagiaan.

Namun ternyata, aku merasakannya juga.

Semua berawal ketika aku melihatnya, dengan baju kebesaran dan rambut yang acak-acakan, membuatku sedikit melakukan perubahan pada dirinya. Aku menatap rambutnya, memakaikan make up pada wajahnya, dan disaat aku mempoles bibirnya dengan lipgloss… adalah saat dimana aku merasakan sesuatu berdetak dengan sangat cepat di dalam tubuhku. Apakah itu jantungku? Tunggu dulu, mengapa jantungku berdetak seperti ini? Ini tidak normal, ini aneh.

Aku telah selesai menata rambut dan wajahnya, sekarang aku harus mengganti bajunya. Tanganku menariknya berdiri namun tanpa sengaja aku terpeleset (?) sehingga aku mendorongnya jatuh ke atas tempat tidur.

Deg deg deg…

Detak itu semakin cepat, membuatku salah tingkah dan tanpa sadar aku merobek baju yang ia kenakan. Oh ayolah, Kim Jong In! Kau membuat semuanya menjadi lebih buruk!

“Diamlah!” bentakku. Aku berusaha untuk tidak melihat tubuhnya karena aku pasti dibunuh Tuan Xi jika melakukannya. Dengan cepat aku memakaikan gaun yang telah dibeli Tuan Xi untuknya, kemudian kembali menariknya berdiri dan mengarahkannya untuk berdiri di depan cermin. Tanganku membuka dasi yang menutup matanya. “Lihatlah dirimu di depan cermin!”

Dia terbelalak melihat penampilan barunya, sementara aku hanya tersenyum miris.

“Sekarang kau terlihat… lebih pantas menjadi Nona Xi.”

Tidak, aku tidak cukup kuat untuk menahan diriku lagi!

Aku berjalan keluar dari kamar itu.

~~~

Semua ini… memang salahku…

Aku yang membiarkan Ah Young kabur. Seharusnya aku lebih menjaganya… Aku memang pantas dihukum seperti ini…

Tap tap tap…

Aku mendengar suara seseorang yang datang. Tidak, mungkin ini hanya halusinasiku. Tuan Xi mengurungku di ruangan dingin dan jauh dari jangkauan manusia. Tidak mungkin ada yang akan menemukanku disini…

Tap tap tap…

Suara itu terdengar jelas, namun aku kembali meyakinkan diriku bahwa itu adalah halusina-

“Jong In?!”

Aku membuka mataku pelan, menatap seseorang yang berdiri di luar jeruji besi itu. Dia…

“Ah, Ah Young…?”

Ah Young menatapku tidak percaya dan miris. Aku memaksakan diriku untuk mendekatinya, membuat ia terpekik.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau dikurung disini?!” tanyanya panik. Tangannya menyentuh tanganku dan ia kembali terpekik. “Omo! Dingin! Jong In, kau kedinginan!”

Aku mendesis. Apa yang ia lakukan disini?!

“Pabo…” lirihku pelan. “Kenapa… kau berada disini? Seharusnya… kau kabur, pabo…”

“Apa kau dihukum oleh Luhan? Karena aku kabur?” tanyanya tiba-tiba, dan lagi-lagi ia terpekik. “Benarkah itu? Karena aku kabur?!”

Aku tidak menjawab, karena rasa ini… semakin membesar. Aku merindukan yeoja ini… Aku, aku ingin memeluknya… meskipun hanya sekali…

Tanpa kusadari, tanganku bergerak dan meraih tangannya dari balik jeruji.

“Ah Young…”

Aku menarik nafasku yang terasa berat. Apakah aku akan mati?

“Kau seakan… matahari yang berada di hidupku…”

Aku hampir saja melepas tangan ini, namun aku menguatkan tubuhku.

“Kaulah… satu-satunya orang yang menerangi hidupku… saat ini…”

Sepertinya ini memang akhir dari hidupku. Aku menatap wajahnya, ia tampak sangat cantik…

“Izinkan aku…” lirihku pelan. “… untuk mati di dalam pelukanmu…”

Aku tidak sanggup lagi menahannya. Genggamanku terlepas dan aku ambruk di atas lantai. Satu-satunya hal yang masih kuingat adalah teriakan Ah Young.

“JONG IIIIINNNNN!!!!!!”

+++

Oh Se Hoon

Perebut ciuman pertamaku, adalah seorang Kim Ah Young.

Aku tidak pernah menyangka bahwa tindakan-tanpa-pikirannya-untuk-menciumku-di-depan-Jong-In justru membuatku jatuh cinta padanya.

Namun hal yang menyesakkan adalah ketika ia menikah dengan Luhan.

Dan lebih menyesakkan ketika ia bercerai dari Luhan, namun menikah dengan Kris.

Mengapa ia tidak memilihku? Apa karena aku lebih muda daripada ia, membuat ia bersama dengan Kris?

Tapi sudahlah.

Aku menyukainya, berharap ia bahagia dengan keputusannya. Aku tidak ingin melihat raut wajah sedih, kecewa, atau pun raut wajah berbohong-saat-keadaan-terjepit lagi di wajahnya itu.

Yang ingin kulihat adalah senyum di wajahnya tersebut.

Ah Young…

Kau bahagia dengan Kris?

Jika tidak, tenanglah… Aku adalah orang pertama yang akan menghajar Kris dan membawamu pergi.

Kenapa?

Karena aku menyayangimu, melebihi apa pun.

END

27 pemikiran pada “Gold Cage (Side Story)

  1. wow… like this yoo.. ceritanya okeh bgt…. jdi sbnernya mreka smua itu pnya perasaan spesial ke ah young ya? tapi akhirnya kris deh yg dapet… nggak disangka yaaa? hehejehe…

  2. nice ff thor. maaf baru ningalin jejak di capter terakhir. ternyata semua punya perasaan sama ah young pengen deh jadi ah young kalo gitu. ini ff terkeren yg pernh aku baca/serius/ di tunggu tulisan selanjutnya yah thor

Tinggalkan Balasan ke meblely Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s