Hurt

Author : monicanr || Title : Hurt || Cast : Byun Baekhyun & Kwon Nara || Genre : Sad || Rating : Teen.

***

Udara musim dingin menyusup melalui celah-celah kecil di mantel tebalnya, ia merapatkan mantelnya dan memasukkan tangannya pada saku mantel. Ia menghela nafas, terlalu lelah untuk terus berjalan tanpa arah. Toko-toko disepanjang jalan sudah tutup hanya menyisakan kehingan dan butiran salju putih yang terus sesekali. Ia mengusap rambutnya yang terkena salju putih, membuat kulit kepalanya terasa dingin.

Jalanan sudah benar-benar sepi, hanya menyisakan suara gonggongan anjing yang saling bersahutan. Ia sama sekali tidak takut. Bahkan jika ada seekor anjing galak dihadapannya yang siap menerkamnya, ia rela, ia sudah terlalu putus asa saat ini. Trotoar yang dilewatinya sudah tertutup salju membuat langkahnya terasa semakin berat seolah enggan membiarkannya melangkah bebas. Dan ia benci tentang hal itu.

“Nara-ya!”

Telinganya tiba-tiba tuli begitu mendengar suara seseorang memanggilnya dengan nafas terengah-engah. Ia tidak berniat berbalik sedikitpun, hanya menegang diposisinya dengan matanya yang mulai memerah menahan tangis.

Grep!

Pelukan hangat itu membuat air matanya mengalir begitu saja. Tangan kokoh dan besar itu memeluknya dari belakang, membiarkannya terlarut dengar perasaan yang membawanya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Namanya Kwon Nara. Dan ia sedang menangis saat ini.

“Aku kalang kabut mencarimu,” sebuah suara lembut yang membuat telinganya kembali terbuka membuat Nara menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. “Kau menghilang sejak kejadian di halte tadi siang. Aku khawatir.”

Nara menghela nafas berat membuat gumpalan asap tipis berwarna putih keluar dari mulutnya. Tubuhnya sudah tak terasa dingin karena pelukan hangat dari lelaki di belakangnya, tapi hatinya, serasa beku dan hampir membusuk karena lelaki itu.

“Aku bukannya tebal muka untuk kembali menemuimu, tapi jujur saja, aku benar-benar khawatir padamu. Sekarang pulanglah! Lihatlah tanganmu bahkan sudah hampir membeku.”

Nara menahan nafasnya dan menghembuskannya secara kasar. Ia memegang tangan kokoh yang memeluknya dari belakang. “Lepaskan aku!”

Suara lemah, nyaris seperti bisikan yang dilontarkan Nara membuat lelaki itu mengernyitkan alisnya. Tapi ia melepaskan pelukannya secara perlahan, tapi Nara sama sekali tidak berniat untuk berbalik sedikitpun. Enggan menatap wajah lelaki yang dulu begitu sangat dicintainya.

“Sekarang kau harus pulang! Bukan aku saja yang mengkhawatirkanmu, Ibumu juga.” Ujar lelaki itu tepat dibelakang Nara.

Nara mengusap air matanya secara kasar. “Kenapa kau harus khawatir?”

Lelaki itu menghela nafasnya pelan lalu memasukkan tangannya kedalam saku celananya yang berwarna hitam. “Karena kau sudah seperti adik kandungku.”

Deg!

Hati Nara tertusuk ribuan jarum tajam yang menghujam hatinya dengan sekali tusukan. Perih dan sakit yang teramat. Air mata Nara kembali meluncur melalui pipinya yang sudah terlalu sering dilalui air matanya.

“Setelah kita putus, aku harap hubungan kita tidak memburuk, bahkan aku mengharapkan jika kita bisa menjadi seperti saudara kandung.” Ujar lelaki itu dengan pelan dan terdengar ragu-ragu. Ia tahu, perkataannya bisa semakin menyakiti perasaan Nara.

“Kau mengharapkan itu?” Nara berbalik dan menatap lelaki dihadapannya walaupun air matanya justru mengalir semakin deras. “Tapi aku, justru mengharapkan kau kembali lagi padaku!”

Hening!

Tidak ada satupun diantara mereka yang mengucapkan sepatah katapun. Nara menatap lelaki dihadapannya dengan pandangan kosong walaupun air matanya terus meleleh, sementara lelaki dihadapannya hanya mampu termenung tak percaya dengan apa yang dikatakan Nara tadi.

“Sudahlah, ucapanku tadi anggap saja angin lalu.” Gumam Nara dan membalikan lagi badannya dan melangkah dengan susah payah walaupun berkali-kali ia hampir terjatuh.

Nara tahu kenapa hubungannya dengan lelaki itu harus kandas ditengah jalan. Restu dari orang tua pihak lelaki lah yang menjadi penghalang. Lelaki itu merupakan calon penerus sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang perhotelan, sementara Nara hanyalah seorang freelance disebuah penerbit buku cukup terkenal.

***

            Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang menggantungkan hidupnya sebagai seorang buruh cuci disebuah losmen kecil yang tak jauh dari rumahnya. Ayahnya meninggal karena sakit jantung sejak tujuh tahun lalu, saat semua harta yang dimiliki Nara disita oleh Bank karena ayahnya dituduh korupsi di sebuah lembaga pemerintahan. Dan semenjak saat itu pula, kehidupan Nara berubah sepenuhnya.

Nara membuka pintu rumahnya, lalu melepas sepatunya dan dengan bertelanjang kaki ia memasuki rumahnya. Tampak ibunya yang tertidur dibawah kasur lipat tipis yang sudah menjadi tempat tidur Nara dan ibunya selama empat tahun kebelakang. Nara melirik baskom kecil berisi air hangat yang sudah dingin dengan sebuah handuk kecil berwarna putih kusam disampingnya.

Udara musim dingin memang selalu membuat kaki terasa perih dan memerah. Nara mendekat kearah baskom dan mulai mencelupkan handuk itu kedalam baskom dan mengusap kakinya sambil sesekali meringis menahan perih. Kakinya terlalu lelah untuk menemaninya berjalan tanpa arah seharian ini. Walaupun hatinya jauh lebih lelah pada semua kenyataan yang dihadapinya.

Ponsel Nara yang disimpan didalam tasnya berdering, membuat sejenak Nara menyimpan handuknya dan membuka tasnya. Tiba-tiba hatinya merasa sakit sekaligus perih. Dia. Menelponnya lagi.

Nara terhenyak, ia sama sekali tidak ada niat untuk menjawab panggilan dari orang itu, ia mencoba untuk mengabaikannya, tapi ponsel itu terus berdering tanpa henti membuat Ibu bangun dengan wajah bingung. Mau tidak mau, Nara harus mengangkat telepon itu.

“Hallo,” ujar Nara dengan nafas yang tercekat. Belum siap mendengar suaranya yang hanya mampu membuat air matanya kembali mengalir.

“Kau sudah sampai rumah?” tanyanya dengan suara yang terdengar pelan dan penuh perasaan. Nara menghela nafas. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, membuat matanya berat.

Tidak ada jawaban. Nara enggan menjawabnya, tangisnya sudah pecah menyisakan isak tangis kecil yang terdengar samar di seberang sana. Tangannya lemas, hendak menghempaskan ponselnya karena tidak bertenaga.

“Aku akan membawakan sup kesukaanmu ke rumahmu, kau harus banyak makan, Nara-ya! Tunggu beberapa menit, takkan lama.”

Nara meringis masih sambil menangis. Telepon sudah ditutup satu detik yang lalu. Ini kebiasaannya yang sampai saat ini masih menyisakan bekas. Saat Nara terpuruk, lelaki itu akan mengantarkan sup hangat kesukaannya, yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Tapi sepertinya untuk kali ini tidak, justru akan semakin membuatnya merasakan betapa sakit dan teganya hidup ini.

Nara hendak menolak. Tapi ia tak mampu berkata satu patah kata pun. Rasanya sakit. Memilukan. Dan penuh penderitaan.

***

            Suara ketukan pintu yang terdengar pelan mengingat malam sudah berlalu dan sekarang hampir subuh. Nara melirik pintu itu masih sambil memeluk lututnya. Ibunya sudah kembali terlelap dan pergi bersama mimpi yang mampu membuat Ibu sejenak melupakan penderitaan hidupnya.

“Nara-ya, ini aku.”

Suara itu. Suara yang dulu begitu mengaguminya, sekarang seolah berubah menjadi suara raungan srigala yang menyeramkan bagi Nara. Pintu kembali diketuk dengan ketukan yang lebih keras. Nara bangkit, tak ingin membuat Ibunya terbangun untuk kedua kalinya.

Pintu terbuka hingga menimbulkan suara decitan pelan. Nara menghela nafasnya sambil memejamkan matanya. Bersiap melihat seorang lelaki dihadapannya. Nara membuka matanya, mengerjap. Nyatanya rasa kagum sekaligus sakit langsung melanda hatinya. Perih dan memilukan.

“Ini sup kesukaanmu, maaf aku datang telat, sulit menemukan sup sepagi ini.” ujar lelaki itu sambil menyerahkan kantung plastik berisi sup. Nara menerimanya dengan ragu. “Apa kau tidak akan membiarkanku masuk? Diluar sangat dingin.”

Nara mengerjap lalu ia membuka lebar pintu rumahnya membiarkan lelaki itu melepas sepatunya dan hanya mengenakan kaus kaki masuk kedalam rumahnya. Ini bukan untuk kali pertama lelaki itu datang ke rumahnya. Sering. Bahkan nyaris setiap hari. Tapi itu dulu.

“Kau tidak perlu melakukan ini, Baekhyun-ah,” gumam Nara pelan, lelaki itu—Baekhyun—tidak mendengarnya dengan begitu jelas sehingga ia hanya mengernyitkan dahinya. Bingung. “Hubungan kita sudah berakhir.”

Baekhyun sedikit tegang mendengar ucapan Nara tadi. Ia menghela nafasnya lalu memasukan tangannya kedalam saku mantelnya. Tidak ada penghangat ruangan di rumah Nara, itulah yang membuatnya nyaris membeku walaupun didalam rumah.

“Apa setelah hubungan kita berakhir, aku tidak boleh menemuimu lagi?” tanya Baekhyun yang terkesan ragu-ragu. Baekhyun memang masih terlihat biasa saja tidak sesakit Nara dalam hal ini. Tapi sejujurnya, lelaki itu merasakan sakit yang luar biasa saat harus menatap mata sayu miliki Nara.

Nara terdiam, ia menunduk, air matanya kembali turun membasahi pipinya. “Mengingatmu, mendengar suaramu, apalagi melihatmu, membuatku menangis terisak seperti ini. Aku harap kau mengerti.”

“Jadi aku tidak menemuimu lagi?”

Nara menutup mulutnya dengan telapak tangannya, mencoba meredam isak tangisnya yang tak kunjung berhenti. Nafasnya tercekat dan sesenggukan.

“Nara-ya,” panggil Baekhyun sambil memeluk gadis itu, membiarkan Nara menangis dibahunya yang memang selalu menjadi sandaran bagi Nara setiap kali gadis itu bersedih. “Maafkan aku.”

Isak tangis Nara semakin terdengar nyaring, membuat Baekhyun merasakan pilu di lubuk hati terdalamnya. Ia ingin menangis, tapi tidak bisa. Baekhyun memang yang mengatakan jika ia memutuskan hubungan antara mereka, tapi Baekhyun menambahkan jika ia masih mencintai Nara dan akan menjaga gadis itu hingga Nara memiliki pengganti dirinya. Tapi pada kenyataannya, ia justru merasakan rasa bersalah yang terus terngiang dipikirannya.

“Kau yang mengatakan jika aku harus terus menggengam tanganmu, tapi saat ini, kau yang justru melepaskan genggaman tanganku.” Ucap Nara terisak dan terbata-bata.

Baekhyun terdiam. Ia merasakan rasa sakit yang sama ketika Nara mengatakan hal itu. Jika saja orang tuanya tidak pernah melarangnya seperti ini mungkin ia dan Nara sudah menjadi sepasang suami-istri sejak dua bulan yang lalu. “Maaf,”

Gumaman Baekhyun memang terdengar oleh Nara, tapi gadis itu seolah menutup telinganya mendengar apapun yang terlontar dari bibir Nara.

“Kau tidak perlu merasa kasihan padaku, aku hanya perlu waktu untuk kembali ke kenyataan. Sekarang, aku mohon, tinggalkan aku sendiri. Aku percaya tak lama lagi aku akan menemui dalam keadaan baik-baik saja.” Ujar Nara pelan, berlomba dengan suara tangisnya.

Mungkin, Nara memang butuh waktu untuk terbangun dari mimpi buruknya. Tapi ia tidak terlalu yakin jika ia bisa menemui Baekhyun lagi tanpa isak tangis yang akan mengalir melalui pipinya.

***

            Empat tahun berlalu, segalanya berubah. Kecuali hatinya yang masih beku dan sulit untuk mencair. Dia Kwon Nara. Gadis yang berubah 180 derajat dari biasanya hanya karena seorang lelaki kaya bernama Byun Baekhyun. Nara ingin mengelak dari kenyataan ini, tapi nyatanya ia sama sekali tidak bisa.

Nara adalah orang yang ceria, dan mudah bergaul. Tapi itu empat tahun yang lalu. Nara yang sekarang adalah gadis yang mencintai pekerjaan dan melupakan apapun tentang cinta, gadis dingin yang bahkan jarang sekali tersenyum. Dan semua itu hanya karena seorang lelaki, Byun Baekhyun.

Nara memasukan tangannya kedalam saku mantelnya, ia memutuskan berjalan untuk pulang ke rumahnya. Udara musim dingin memang sangat dibencinya, tapi ia juga harus mulai menyukai musim dingin. Bagaimanapun, musim dingin mengingatkannya pada sosok terang dalam kegelapan, lelaki dengan sejuta pesona yang mampu memikat hati gadis manapun. Byun baekhyun.

Ia melihat ke sekeliling, jajaran toko mewah dengan berbagai macam jenis mantel rancangan desainer terkenal terpajang dengan indah di etalase utama toko. Nara meringis. Ia hanya bisa bermimpi untuk memiliki mantel bulu berwarna putih pucat yang dipajang di salah satu toko baju mewah khas Eropa. Semuanya hanya angan semu saja.

Nara masih terus berjalan sambil melihat berbagai macam mantel musim dingin yang terpajang dengan indah seolah menarik orang yang lewat untuk sekadar mampi kedalam toko. Nara masih terus fokus pada toko-toko mewah itu, sementara ia sama sekali tidak fokus pada jalanan didepannya hingga ia sadar bahunya telah menabrak sesuatu yang keras. Bahu orang lain.

Nara hampir saja terjungkal kebelakang jika saja orang yang ada dibelakangnya tidak menahan berat tubuhnya. Nara mengerjap. Ia menegakan tubuhnya lalu membungkuk minta maaf, ia berbalik hendak mengucapkan terima kasih pada seseorang yang menahan berat tubuhnya, tapi seketika matanya melebar sempurna.

“Nara-ya,” gumam lelaki itu sambil menatap Nara dengan tatapan tidak percaya. “Lama tidak bertemu kau tampak tak banyak berubah. Masih seperti dulu, tetap cantik.”

Nara menahan nafasnya lalu menghembuskan nafasnya dengan berat. Lagi-lagi jutaan butir air mata berlomba memenuhi pelupuk matanya, siap terjun bebas melalui pipi Nara jika saja gadis itu mengedip barang satu detik saja. Nara menutup matanya, membiarkan air mata mengalir melalui pipinya. Meleleh bersama udara musim dingin dan angin yang berhembus kencang.

“Nara-ya,” Baekhyun mengibaskan tangannya tepat dihadapan wajah Nara. Ia ingin menyentuh lengan gadis itu jika saja Nara tidak menepisnya dengan kasar. Nara membuka matanya lalu menatap Baekhyun dengan sengit. “Kau kenapa?”

Nara hampir menjerit menahan emosi. Bagaimana mungkin lelaki dihadapannya itu bisa tebal muka dengan mengatakan hal itu? Nara mengelus dadanya, mencoba sabar pada kenyataan yang harus dihadapinya.

“Bukankah sudah aku bilang, jangan lagi muncul dihadapanku, karena itu hanya akan membuatku menangis!” jerit Nara frustasi.

Baekhyun diam. Waktu seolah-olah berhenti hanya menyisakan tatapan mata Nara yang beradu dengan mata gelap milik Baekhyun. Sama-sama larut dan mengagumi tatapan mata orang yang ada dihadapannya.

“Bahkan itu sudah berlalu selama empat tahun, kenapa kau masih mengungkitnya?”

Nara menatap Baekhyun sambil menahan tangisnya yang terus mengalir, membuat orang-orang yang berjalan disekitarnya memperhatikan mereka dengan bingung. “Kenangan buruk itu, takkan pernah ku lupa seumur hidupku.”

Baekhyun menunduk, ia memang terus mengingat wajah Nara dalam benaknya, tapi ia tidak pernah berpikir jika Nara masih akan tetap bersikap seperti ini padanya bahkan setelah empat tahun berlalu.

Baekhyun memegang tangan Nara walaupun gadis itu mencoba memberontak. Baekhyun menatap Nara, tepat di manik matanya. Ada jutaan rasa rindu yang menyeruak dari dalam hatinya. Ia maju satu langkah, lalu memeluk gadis itu dengan erat seolah enggan untuk melepaskannya.

“Jangan lakukan ini!” gumam Nara pelan, walaupun ia memang harus menyadari, ada rasa hangat dan nyaman yang menyelip kedalam tubuhnya. Terutama saat menangis dibahu lelaki itu. “Atau kau akan semakin membuatku terluka.”

Baekhyun masih memeluk Nara. “Aku merindukanmu.”

Nara merasakan jika nafasnya tercekat tak tertahankan. Nara ingin berteriak dan mengatakan jika ia juga merindukan lelaki dihadapannya ini, tapi multutnya sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Membisu, terdiam, dan larut pada rasa rindu yang mengerubunginya.

***

            “Apa kabarmu? Kau hidup dengan baik selama empat tahun ini?” tanya Baekhyun sambil menggenggam lengan Nara walaupun gadis itu terus mengalihkan pandangannya pada jalanan diluar yang membatasi kafe mewah dengan nuansa klasik khas Eropa dengan jalanan diluar sana. “Bagaimana kabar ibumu?”

Nara terpaksa menoleh saat mendengar lelaki dihadapannya bertanya tentang ibunya. “Ibu sudah meninggal, lebih tepatnya tiga tahun yang lalu.”

Baekhyun menegang di posisinya. Selama empat tahun tidak bertemu dengan gadis ini, saat dia kembali ia membawa sejuta kabar mengejutkan dan sedikit tidak dapat dipercaya.

“Penyakit jantung yang dideritanya. Aku yakin, aku pernah menceritakan tentang hal ini padamu.” Nara kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan diluar sana. Nara mengusap air mata yang turun dari pelupuk matanya. Bukan karena Baekhyun. Tapi karena mengingat Ibunya yang meninggal dengan sangat tragis.

“Kau kembali dengan sejuta kabar yang mengejutkan, Nara-ya,” ujar Baekhyun pelan. “Lalu selama ini kau tinggal dimana? Aku pernah mencarimu ke rumah, tapi ternyata kau sudah pindah.”

“Untuk apa aku masih bertahan di rumah yang menyimpan sejuta kenangan buruk untukku?” gumam Nara pelan.

“Tidak bisa kah, kau berhenti untuk mengungkit masa lalu?” ujar Baekhyun penuh penekanan, ia merasa jika Nara terlampau sinis kepadanya. Walaupun itu adalah hal yang dianggap wajar.

“Tidak!” ujar Nara hampir teriak. Giginya gemertak menahan tangis padahal pelupuk matanya sudah meloloskan beberapa butir air matanya. “Dan takkan pernah bisa.”

“Aku tahu aku salah. Aku minta maaf,” gumam Baekhyun. “Walaupun aku tahu, penyesalanku sama sekali tak ada artinya bagimu.”

Nara menunduk, memudahkan air mata untuk tumpah membasahi mantelnya yang sama sekali tidak berubah sejak empat tahun yang lalu. Sejak terakhir kali bertemu dengan lelaki yang ada dihadapannya saat ini.

“Aku harap kau bisa menemukan lelaki yang jauh lebih baik dari lelaki sepertiku.” Gumam Baekhyun, walaupun hatinya terasa perih dan seolah-olah tersayat pisau kecil yang tajam dan mampu merobek dinding hatinya.

“Tapi nyatanya aku belum menemukan lelaki seperti itu, sampai saat ini,” ujar Nara tertahan. “Aku masih mengharapkan kau mau kembali padaku.”

Nara sudah memutuskan urat malu dan perasaannya. Sebagai seorang wanita hal ini tentu saja membuat harga dirinya jatuh dan malu serasa terinjak-injak. Tapi untuk kali ini, ia mencoba bersikap seolah-olah itu semua adalah hal yang wajar.

Seluruh tubuh Baekhyun terasa lemas setelah mendengar Nara mengatakan hal itu dengan sejuta rasa perih yang sarat tersirat dari setiap ucapannya. “Tapi aku tak bisa.”

“Aku tahu,” potong Nara dengan cepat sambil mendongak, membiarkan Baekhyun menatap wajahnya yang benar-benar berantakan dan penuh dengan air mata kepedihan. “Kau tidak akan pernah mau kembali padaku.”

“Bukannya aku tidak mau, Nara-ya. Tapi aku tidak bisa.”

“Apa bedanya?” jerit Nara frustasi, ia tidak peduli dengan tatapan tajam dari pengunjung lain yang menatapnya dengan bingung.

“Tentu saja beda, Nara-ya. Jika aku tidak mau, maka aku juga tidak akan mau bertemu dan berhadapan lagi denganmu. Sedangkan aku tidak bisa, karena untuk kembali padamu,” ujar Baekhyun tertahan. “Itu adalah sesuatu yang mustahil.”

Nara memejamkan matanya, seolah-olah ada ribuan ton besi yang menimpa dirinya membuatnya serasa mati rasa dan berada diujung jurang kematian. Memilukan. “Ke—kenapa?”

“Karena aku—“ ucapan Baekhyun terhenti saat tiba-tiba saja ponsel Baekhyun berdering dengan cukup nyaring membuat keduanya memfokuskan pandangannya pada ponsel Baekhyun yang diletakan diatas meja. “Maaf,”

Baekhyun bangkit dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh dari mejanya. Ia mengangkat teleponnya dengan ragu-ragu.

“Hallo.” Ucapnya pendek dengan suara yang pelan, nyaris seperti sebuah bisikan

“Hallo, Oppa, kenapa kau belum datang juga? Desainer-nya sudah sibuk bertanya tentang keberadaanmu. Jangan bilang kalau kau lupa untuk fitting gaun hari ini?”

Baekhyun terdiam, ia melirik Nara melalui sudut matanya. Ia melihat gadis itu masih menunduk sambil memilin ujung mantelnya yang tampak kusam.

“Aku akan segera kesana.” Ucap Baekhyun sambil menutup teleponnya dan langsung memasukan ponselnya kedalam saku mantelnya.

Nara mendongak saat merasakan Baekhyun berdiri disampingnya sambil mengusap bahunya. Nara kembali menunduk dan kembali larut pada rasa sedih yang melandanya.

“Aku akan mengantarkanmu pulang.” Gumam Baekhyun.

“Aku bisa pulang sendiri.” Sergah Nara sambil mengambil tas tangannya dan langsung bangkit dari duduknya. “Terima kasih untuk apapun tentang hari ini. Dan lupakan tentang ucapanku hari ini.”

“Aku bisa mengantarkanmu, mobilku di parkir didepan toko kue langganan kita.” Cegah Baekhyun sambil mencekal pergelangan tangan Nara yang hampir saja pergi meninggalkannya.

“Tidak perlu, aku sudah sangat merepotkanmu hari ini.”

Nara mengusap air matanya dengan kasar. Ia berjalan keluar dari kafe berharap meninggalkan semua rasa sedih dan kesalnya di kafe mewah itu. Walaupun hasilnya akan sia-sia.

***

            Nara berjalan kearah meja kerjanya yang tampak berantakan dan berbeda dengan meja kerja yang berada di sekelilingnya. Satu minggu yang lalu ia bertemu dengan Baekhyun yang membuat semangatnya seolah kembali menguap dan pergi bersama angin yang berembus. Ia benci pada kenyataan itu, walaupun hati kecilnya sedikit tersentuh dengan pertemuan tanpa disengaja itu.

“Kwon Nara-ssi, ada titipan untukmu.”

Nara menoleh kearah seorangan Office Boy dikantor itu yang memegang sebuah kotak yang berukuran sedang. Nara berjalan mendekat dan mengambil kotak itu setelah mengucapkan terima kasih.

Nara membuka kotak tadi dengan ragu-ragu, dan seketika air matanya langsung turun mengalir dari pipinya saat ia melihat sebuah foto yang dibingkai dengan figura kayu yang berwarna pastel. Menampakan foto dirinya dan Baekhyun yang sedang tersenyum senang saat keduanya pergi ke Nami Island untuk merayakn hari jadi mereka yang ke-satu tahun. Sekitar tujuh tahun yang lalu.

Nara mengambil figura itu dan mengusap wajah Baekhyun yang benar-benar tampan dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya.

“Aku merindukanmu.” Gumam Nara.

Ia meletakan foto itu diatas meja kerjanya dengan terbalik. Tidak ingin melihatnya lagi. Berikutnya, ia kembali memfokuskan pikirannya kearah kotak berwarna biru muda itu. Air matanya kembali mengalir tatkala melihat sebuah sapu tangan usang bermotif kotak-kotak berwarna coklat terlipat rapih.

Nara mengambilnya sambil mencium bau yang menguar dari sapu tangan itu, masih sama seperti dulu. Sapu tangan itu milik Nara yang ia gunakan untuk membantu Baekhyun yang saat itu terjatuh dari sepeda motornya saat SMA dulu. Awal pertemuan mereka. Baekhyun mengendarakan sepeda motornya dengan kecepatan penuh sehingga membuatnya terjatuh dan kakinya mengalami luka yang cukup serius, Nara yang kebetulan melintas dan melihat keadaan Baekhyun langsung melingkarkan sapu tangannya di kaki kiri Baekhyun.

Nara melipat lagi sapu tangannya dan menyimpannya diatas foto yang terbalik. Ia kembali melirik kotak itu dan melihat sebuah surat yang ditulis rapih dengan tulisan tangan yang begitu dikenalnya. Tulisan tangan Baekhyun. Nara membuka surat itu, dahinya berkerut bingung. Hanya ada kalimat pendek yang tertera diatasnya. Kau harus melupakan lelaki bodoh sepertiku!

Nara kembali melirik kotak berwarna biru muda—warna kesukaan Nara. Dahinya terlihat semakin bingung tatkala melihat sebuah kartu undangan berwarna emas yang terlihat begitu mewah.

“Jangan katakan jika—“ ujar Nara was-was sebelum akhirnya ia mengambil undangan itu dan seketika matanya melotot disertai dengan isak tangis yang terdengar semakin jelas dan bergemam memenuhi ruangan kantor kosong yang hanya menyisakan dirinya dan isak tangisnya.

Byun Baekhyun & Kim Yoojin. Nama yang tertera diatas undangan itu tentu saja membuat hatinya seketika merasakan perih berkali-kali lipat. Bukan hanya pada kenyataannya ia harus tahu jika Baekhyun akan menikah. Tapi yang paling membuatnya merasakan perih adalah wanita yang akan menikah dengan Baekhyun. Dia Kim Yoojin, sahabat Nara yang jelas-jelas tahu hubungan yang terjalin antara Nara dengan Baekhyun.

Nara merasakan tubuhnya seketika lemas yang membuatnya tak lagi bisa menopang berat tubuhnya. Tubuhnya merosot dan meringkuk disamping meja kerjanya. Ia meremas undangan itu dengan sekuat tenaga walaupun ia sama sekali tidak bisa merusak satu senti pun dari udangan mewah itu.

Nara sadar. Sekuat apapun ia mencoba untuk melupakan Baekhyun, tapi pada kenyataannya ia sama sekali tidak mampu untuk melupakan lelaki itu. Bahkan setelah sekian lama waktu berjalan.

END

62 pemikiran pada “Hurt

  1. Baekhyun jahat yaa… atau orang tua nya yang jahat?
    Sahabatnya jugaa itu arghhh! Sahabat macam apa itu! Itu namanya bukan sahabat :”
    Tapi ini keren, nyesekkkkk <//3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s