Love Love

love.love.

love-love_exo_kai_luhan_violetkecila story by violetkecil & septaaa

Cast: Luhan & girl; Kai & girl┇ Length: Oneshot
Genre: Romance ┇ Rating: Rated! NC-17
NO silent reader and Plagiarize please. DO NOT take ideas/plagiarize, dialogues and others from our story. Comments are very welcome.

this world is full of love, when you always love me .

Lee Minah—salah satu mahasiswi anggun di Yonsei University, sosoknya yang cenderung hangat dengan senyum menawan dan kepintaran otaknya yang di atas rata-rata adalah point plus pada dirinya. Namun, sisi lain dari sikapnya yang innoncent membuatnya mudah di goda, bahkan—sesekali teman-temannya ‘pun dengan jahil dapat menipunya.

Hari ini, ia bertanya-tanya. Berawal dari suara gedebug—yang membuatnya nyaris tersentak kaget. Ternyata, itu adalah beberapa buku yang jatuh dari rak perpustakaan. Hembusan angin membuat beberapa buku terbuka pada halaman putih dengan sendirinya. Ada satu buku yang membuat gadis itu mengeryitkan dahi. Buku itu—berbeda dengan lainnya, halaman yang nampak kusam membuat jemari lentiknya beralih untuk mengambil buku itu terlebih dulu.

Tercekat, buku itu berhasil membuatnya bersemu merah—kadar blushing merambat hingga ke telinga. Dengan jelas tercetak dalam Hangeul saat ia membuka halaman pertama, ‘1001 Cara Posisi Bercinta’.

“Bagaimana bisa ada buku seperti ini?” Ia terus bergumam, alih-alih matanya menuju rak yang menjatuhkan buku-buku tadi, di sana tertulis ‘Tutorial book’ sedetik kemudian, bibir mungilnya membulat. “Oh—Ya Tuhan, ini tempat buku-buku tutorial? Tapi—tetap saja! Kenapa harus ada buku seperti ini? Uh…”

“Selamat siang, Baby..” Minah tersentak, ada bisikan di tengkuknya. Segera ia menutup buku yang di pegangnya tadi, gadis itu berbalik dengan senyum kikuk dan tangan di belakang punggung, bermaksud menyembunyikan buku itu.

“E—eh? Honey.. k-kenapa ada di.. sini?”

Luhan mengeryit, lelaki berwajah manis sekaligus tampan dalam waktu bersamaan itu menyipitkan mata, menatap mata doe milik sang gadis dengan intens, “Bukankah setiap jam makan siang kau selalu di perpustakaan, dan aku menemukanmu di sini,” sebuah pertanyaan dengan intonasi pernyataan itu keluar dari bibir plum milik Luhan.

Gadis itu tersenyum kikuk, ujung kakinya membentuk gerakan melingkar di atas lantai, Luhan paham. “Ada yang salah?” Luhan memiringkan kepalanya dengan tatapan lucu.

Perlahan tapi pasti, tangan Luhan mulai berjalan ke belakang tubuh Minah, tanpa melepas tatapan matanya kepada sang gadis. Sehingga membuat gadis itu tidak menyadari—bahwa buku tebal dengan texture kusam itu telah berhasil beralih tangan.

“Tak kusangka kau membaca buku seperti ini,” gumam Luhan sambil membuka buku-buku itu. Minah tercekat, dengan sigap ia mengambil buku itu dari tangan Luhan.

Gadis itu bergidik ngeri, kekasihnya yang dilihat dari segi mana pun akan terlihat manis—kini berbanding terbalik, seringai tipis menghiasi wajah Luhan.

Baby… seharusnya kau bilang padaku. Tak usah susah-susah membaca buku itu, oke?” ucap Luhan dengan nada menggoda. Minah memundurkan badanya takut-takut, Luhan terus mengikuti langkah mundur Minah dengan seringai yang tak pernah lepas dari bibirnya.

Sebelum Minah melancarkan aksinya untuk kabur, Luhan lebih dulu mencengkram tangannya. Sehingga badan Minah terpental—dan tersudut di tembok perpustakaan. Minah menutup matanya rapat. Sama sekali tidak berani menatap Luhan dari jarak begitu dekat. Ia hanya takut, takut jika ia kehilangan cara untuk bernapas, berbicara, dan bergerak.

Oh babylook! Kau mengubah kucing manis menjadi singa buas, sayang..” Luhan menyentil hidung Minah. Tangan kirinya masih mendekap bahu Minah sebagai tumpuan agar gadisnya tetap tersudut, jemari bebas Luhan mulai bergerak—dari hidung menuju ke pipi gadisnya yang sedikit chubby, dan berakhir di bibir Minah yang bergetar, “Rileks baby.”

Terakhir, Minah merasakan sesuatu yang basah bergerak di bibirnya. Gadis itu membuka mata sebelahnya, dan tercekat—Luhan menciumnya, bukan itu yang Minah takutkan. Masalah cium-mencium memang kerap mereka lakukan. Namun, hell.. ini di tempat umum ‘kan? Lantas, jika ada mahasiswa lain yang mempergokinya. Duh—bagaimana ini? batin Minah merutuk. Beruntung jika yang mempergoki mereka mahasiswa lain, alih-alih jika ternyata ada dosen.

Hening.

Kyaaa..” Minah mendorong bahu Luhan kuat, membuat lelaki manis itu tertabrak dengan rak di belakangnya, membuat kegaduhan yang mengakibatkan orang-orang menghampiri mereka.

Are you okay?” penjaga perpustakaan menepuk bahu Minah. Luhan memajukan bibir bawahnya, ia menarik tangan Minah dan membawa gadis itu pergi.

Dua sejoli itu meninggalkan tempat kejadian perkara dengan acuhnya, mengabaikan orang-orang yang berdecak menatap mereka aneh.

Ketika sampai dalam mobil Luhan, tangan gadis itu di cengkram Luhan dengan erat. “You make me embarrassed, Baby... I thought you should get a bit punishment.” Luhan memamerkan seringainya. Ia menarik tengkuk Minah lebih dekat padanya. Dan mencium bibir gadisnya dengan sedikit brutal.

Minah tidak membalas, tidak juga memberontak. Ia membiarkan lidah Luhan mengeksplor rongga mulutnya, memberikan sengatan-sengatan kecil yang akhirnya membuat Minah jatuh dalam buaiannya. Perlahan, gadis itu mulai merespon sentuhan Luhan dengan mengalungkan tangannya di leher pria itu.

Tak peduli dengan tempat dan waktu, Luhan terus melancarkan aksinya. Tangannya bergerak di perut Minah yang masih tertutup t-shirt tipis. Pergerakan tangan Luhan yang memutar mengakibatkan kaos Minah tersingkap. Luhan melepas tautan mereka, membuat Minah mengerucutkan bibirnya lucu, karena baru saja ia menikmati ciuman Luhan.

Woho… tak apa baby.. biarkan aku meneruskannya dengan mengecupi lehermu,” ucapan Luhan sukses membuat Minah bersemu merah, sengatan kupu-kupu di ujung perutnya terus saja menggelitiknya. Kekasihnya ini terlalu frontal. Berubah dari sweet deer ke horny deer.

Luhan sedikit menggeser tempat duduknya, dan memajukan badannya agar dapat mencapai tengkuk gadisnya, tak lupa, ia menutup tirai kaca mobilnya. Takut-takut jika ada orang yang melihatnya. Saat Luhan memberi tanda kepemilikan yang bercorak ungu masam, di saat bersamaan tangan jahil Luhan terus berputar di perutnya. Dan menyingkap kaos Minah lebih ke atas, Luhan memasukkan jarinya di perpotongan kain bra gadisnya itu, membuat Minah tersentak.

Bibir Luhan beralih ke telinga Minah, mengulum kuping itu dengan lembut, “Sst, everything gonna be okay baby… rasakan saja hukumanmu.”

“A—gh..” Minah tak bisa untuk tidak tercekat saat jemari Luhan mencubit dadanya. Bukan hanya mencubit, jemari-jemari Luhan sudah mulai nakal, dengan melepas bra milik Minah dan meremas dadanya.

Hon-honeey…”

Sepuluh menit berlalu sudah—tak menghiraukan empat pasang mata dari luar, menatap mobil sport berwarna merah itu dengan penuh tanya.

Guys.. kalian tahu mengapa mobil itu bergerak sendiri?”

I don’t know. Mungkin itu hantu.”

“Hantu? Ya Tuhan—aku takut hantu..”

Segerombolan itu hanya tertawa. Meninggalkan area parkir dengan pikiran mereka masing-masing, tak ayal juga satu diantara mereka menarik sudut bibirnya. You know what I mean, what you did.

Honeeey,” Minah merengek sambil memukul pelan dada Luhan. Mereka sedang berada di apartemen gadis itu sambil menonton televisi di ruang tengah. Atau lebih tepatnya televisi yang menonton mereka, karena sejak mereka tiba dari kampus tadi Luhan masih saja ‘nakal’ menggoda gadisnya.

I’ll take shower,” ucap Minah sambil sekilas mengecup pipi Luhan.

“Aku ikut,” teriak Luhan genit dan ia mendapatkan tatapan mata kesal dari Minah. Luhan hanya tertawa pelan. Ia menunggu Minah sambil mengganti-ganti saluran televisi. Berapa puluh menit kemudian Minah selesai dan duduk di samping Luhan. Handuk melingkar di bahu dengan rambutnya yang basah.

“Kemari. Aku akan mengeringkan rambutmu,” Luhan mengambil handuk dan mengeringkan rambut gadisnya itu. Sesekali ia menggoda Minah dengan mengciumi tengkuknya.

Minah melirik jam di dinding. Sudah hampir jam sepuluh malam, “Kenapa Jo belum pulang ya?” tanya Minah.

Luhan mengangkat bahu, “Sepupumu itu?”

“Iya. Biasanya jam segini dia sudah berada di rumah.”

“Mungkin ia ingin memberi waktu untuk kita berdua,” bisik Luhan sambil meniup telinga gadis itu dengan jahil.

Suara musik dengan irama cepat memenuhi ruangan dengan wallpaper bermotif awan dan cermin yang selebar salah satu sisi dinding ruangan. Suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai kayu terdengar seirama dengan beat musik dan gerak tubuh. Kim Jongin berada di barisan paling depan. Pantulan sosoknya di kaca sesekali mengganggu konsentrasi orang-orang yang berada di belakangnya. Terutama jika mata saling bertemu pandang. Jongin akan menarik satu sudut bibirnya dengan mata mengedip.

Okay, enough for today. You’ve work hard. See you tomorrow,” ucap pelatih seiring dengan musik yang berhenti. Dance studio itu kemudian penuh dengan riuh rendah suara. Dan kemudian satu persatu keluar dari ruangan itu. Kecuali Jongin yang masih berdiri bersandar di dekat pintu. Berat tubuhnya tertopang kaki kanan, dengan kaki kiri tersilang. Tangan terlipat di depan dada. Sudut mata menatap sosok seorang gadis yang sedang memasukkan handuk ke dalam tas punggung.

Jongin memiliki mata yang jeli dan tatapan mata yang menilai. Dan ia tidak pernah salah. Tatapan matanya seakan bisa menciptakan lubang besar di tubuh gadis itu. Tubuh yang sedikit berkeringat tapi menurut Jongin justru terlihat seksi. Salahkan hormonnya, ia masih remaja dengan hormon yang bergejolak.

Tonight,” gumamnya sambil meluruskan tubuh dan berjalan mendekati gadis  yang berdiri membelakanginya itu.

“Yah, Kkamjong! Ada apa dengan tatapan mata itu?” tanya gadis yang sejak tadi diperhatikan Jongin. Gadis yang sering dipanggil Jo itu menatap balik Jongin dari balik bulu mata yang lentik.

Jongin mengulurkan tangan dan mengusap pipi gadis itu dengan ibu jari, “Aku tidak tahu bahwa kamu semenarik ini,” ucap Jongin sambil menarik bibir.

Gadis itu memegang tangan Jongin yang mengusap pipinya dan tangan satunya lagi memainkan ujung kerah jaket. Ia bisa melihat kulit seksi Jongin di balik kaos tanpa lengan di balik jaket abu-abu itu. Kemudian ujung jarinya menyusuri garis rahang Jongin. Tidak sedikitpun melepaskan tatapan mata dari pria itu.

“Aku juga,” bisik gadis dengan rambut hitam sepunggung itu. Bibirnya sekilas menyentuh telinga Jongin. Membuat pria itu tidak bisa mengendalikan hormonnya lagi.

Oh shit, umpat Jongin dalam hati. Dan tanpa menunggu ia menjebak bibir merah penuh itu dalam bibirnya. Ujung lidahnya bermain-main di bibir bawah gadis itu. Tangannya mulai bergerak nakal—menyentuh punggung dengan gerakan melingkar—membuat erangan pelan keluar dari bibir sang gadis. Jongin tersenyum diantara ciuman yang mulai panas. Lidahnya bermain nakal di dalam rongga mulut. Mendominasi.

Jo semakin merapatkan mata. Ia tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Kakinya lemas dan Jongin tidak membantu. Pria itu semakin menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Kakinya membentur sofa yang berada di dekat mereka. Ia terjatuh. Terperangkap di bawah tubuh Jongin.

Mereka tidak peduli lagi jika ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu. Tidak juga peduli bahwa tidak ada ikatan apapun di antara mereka. Selama ini Jo memang menaruh hati pada Jongin dan ia tahu pria itu pun sama. Mereka tidak peduli apapun, bahkan tidak pada udara dingin yang menyentuh tubuh tanpa sehelai pakaian.

Nafas tersengal terdengar nyaring di ruangan. Hingga mereka sama-sama mengucapkan nama masing-masing.

I love you. Would you be my girlfriend?” bisik Jongin di telinga Jo dengan lengan melingkar manis di pinggang ramping gadis itu.

Love you too,” balasnya sambil mengecup bibir Jongin yang terlihat makin seksi. Ia berdiri dan berpakaian. Melirik jam di ponsel yang tergeletak di lantai. “Aw, Onnie akan membunuhku,” teriaknya panik.

Wae?” tanya Jongin sambil memasang celana.

“Sudah jam sepuluh malam. Lewat satu jam dari jam seharusnya aku sudah berada di rumah. Onnie akan membunuhku,” gadis itu mengambil tas dan berjalan cepat keluar ruangan.

Jongin menarik tangannya sambil mengacak-acak rambutnya, “Aku akan mengantarkanmu pulang dan menjelaskan kenapa kau terlambat pulang.”

“Menjelaskan? Oh no no no.” Ia menggelengkan kepala. Jongin hanya tertawa di sampingnya.

Mereka berdua sampai di depan apartemen yang berada di daerah Apgujeong. Jo melambaikan tangannya pada Jongin. Ia berhasil meyakinkan pria itu bahwa ia bisa menghadapi Onnie-nya itu sendiri. Senyum lebar tidak lepas dari bibir manisnya.

Ia menghela nafas panjang sebelum membuka pintu apartemen. Ia sudah menyiapkan telinga untuk mendengar teriakan dan omelan panjang lebar, tapi…

Omoooo.” Ia menutup mulut dengan telapak tangan. Di sofa ruang tengah, Luhan sedang mencium Onnie-nya, Minah.

Onnie!!! Oppa!!! No PDA here. No public display affection. Kalian berdua menodai ke-innocent-anku!” teriaknya evil pada dua orang itu sambil berjalan cepat menuju kamar tidurnya.

Minah melepaskan diri dari Luhan dengan cepat. Wajahnya memerah. Luhan hanya memasang cengiran.

Yah!!! Jo!!! Darimana saja kau?”  teriak Minah untuk menutupi rasa malunya karena kepergok sedang bersama Luhan. Bukan yang pertama kali terjadi.

Ssst, biarkan saja dia,” Luhan kembali melanjutkan aksinya.

Honeeeey,” rengek Minah setengah kesal.

Onnie!!! Oppa!!! No PDA juseyo!!!” teriak Jo lagi dari dalam kamar. Ia tertawa pelan di dalam kamar. Ia membayangkan wajah Onnie-nya yang pasti sudah merah padam. Salah satu hobinya adalah menggoda Minah.

Dari dalam kamar Jo mendengar pintu yang ditutup dengan keras. Dan kemudian sekilas ia bisa mendengar rengekan Minah. Ia menepuk dahi, “Astaga, aku tidak akan bisa tidur malam ini,” gerutunya. Ia tidak habis pikir bagaimana dua orang dengan wajah innocent itu ternyata… Jo hanya menggelengkan kepala sambil membaringkan tubuhnya yang lelah dan tidak lupa menutup telinga dengan bantal.

Such a long night, gumamnya sambil memaksakan diri untuk tidur.

violetkecil‘s note: *sembunyi di punggung Luhan* berawal dari ‘crazy-fangirl-talk‘ di WA jadilah FF ini. FF duet dari pemikiran gimana kalo ada yang nulisin buat kita FF ‘kita & bias’, jadilah first part (Luhan’s) ditulis Septaaa, and then next part (Kai’s & filler part) by me^^ My bias is Luhan and Septaa‘s Kai~  NO BASH please~

Iklan

116 pemikiran pada “Love Love

  1. HOT >.< . w herann kogg sukaa bangett yaa kalooo luhan ituu pervert /plakk . ceritaaa nyaaa kerennnn thorrr^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s