Dear, My Aurora (Chapter 2)

DEAR, MY AURORA(Part 2)

Author : @Meiywu

 

Cast :

  • Kris EXO M
  • Song Na Ra (OC)
  • Park Chanyeol
  • Other cast

 

Genre : romance, angst(?), married life

 

Length : chapter

 

Rate : PG-15

aurora-borealis-northern-lights-10_副本

***

11 Mei…

 

Baewon School at 11.30 pm.

 

“Ra~ yaa!!”

 

“wae?” aku menjawab panggilan dari sahabatku Seulmi yang dari tadi pagi sudah memberondongku dengan berbagai pertanyaan.

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan di UKS saat berduaan dengan Wu Fan sunbae?” dia menahan tanganku berusaha mencegahku agar tidak pergi.

 

“eoh, tidak terjadi apa-apa..” jawabku singkat.

 

“lalu saat ia mengantarkanmu? Apa tidak ter….”

 

“Seulmi~ahh, aku-dan-Kris-sunbae-tidak-melakukan-apa-apa-dan-tidak-ada-sesuatu-spesial-yang-terjadi” tekanku padanya.

 

Kening Seulmi berkerut saat mendengar ucapanku, “aku-tidak-percaya” balasnya.

 

“terserah saja, aku mau ke kantin…” jawabku ketus dan pergi meninggalkannya. Ayolah, aku bukan gadis yang jutek, aku hanya terlalu malas menghabiskan waktuku hanya untuk membicarakan masalah ini seharian. Sudah kubilang, hanya kisah hidup Kris sunbae yang menonjol dalam kehidupanku, dalam cerita cintaku. Bukan sebaliknya.

 

“yakk!! Aku ikut!!” Seulmi langsung menyusulku, “aku pikir kemarin bisa menjadi hal yang akan menuntunmu bisa dekat dengan Wu Fan sunbae..”

 

“hah? Tak akan…” aku langsung berjalan cepat meninggalkan Seulmi dan langsung memesan dua buah paket makan siang di kantin.

 

“siapa yang tahu Ra~yaa?” Seulmi langsung melipat tangannya saat melihatku datang ke mejanya dengan membawa nampan penuh makanan.

 

“entahlah, hanya tak ingin berharap saja” jawabku acuh sambil mulai memakan makananku.

 

Aku mulai sibuk berkonsentrasi dengan makananku, tiba-tiba ada seorang gadis yang berjalan melewati meja makanku dan Seulmi. Bau parfum yang sangat menyengat terasa membakar rongga-rongga hidungku. Refleks saja aku menutup hidungku dengan kedua tanganku.

\

Oo, gadis yang waktu itu pernah digosipkan berpacaran dengan Wu Fan sunbae.. mataku mengawasi gerak-gerik gadis itu yang duduk di seberang meja makanku bersama dengan teman-temannya.

 

“kau tahu, tadi malam aku bertemu dengan Wu Fan di jalan dan dia mengantarkanku pulang” kata gadis itu memulai pembicaraan.

 

“Jinjja? Aigoo , kau sangat beruntung!” seru temannya.

 

“haha, ya, hanya saja tak ada siswa Baewon yang melihat kejadian itu, jadi tak ada yang menyebarkan gosip yang berlebihan, maksudku seperti gadis yang kemarin di tolongnya…”

 

“haha, sayang sekali Na~yaa, jangan pikirkan gosip kemarin, mana mungkin Wu Fan suka sama gadis itu, kau tahu, kau jauh lebih menarik daripadanya.”

 

“jelas, aku sudah tahu lama soal itu, hanya saja, aku ingin memperingatkan gadis itu agar jangan terlalu berharap dengan Wu Fan..” aku merasakan gadis itu melirikku dengan tatapan sinis.

 

Aku langsung bangkit dari tempat dudukku, “Ra~yaa~ kau mau kemana?” tanya Seulmi yang sedari tadi tak menyadari ucapan dari sunbae itu.

 

“aku sudah selesai makan Selmi-ahh~ aku permisi dulu..” ucapku sambil berbalik membelakangi Seulmi dan pergi meninggalkannya.

 

Aku tahu, aku bahkan sudah sadar sejak dulu kalau seandainya Wu Fan sunbae tidak akan pernah memandang ke arahku apalagi menyukaiku. Sudahlah, jangan terlalu dipertegas, toh aku sudah lama mengetahuinya.

 

Aku berlari masuk ke kelasku dan menatap ke luar dari balik jendela kaca. Menyaksikan beberapa anak yang berjalan melewati lapangan basket itu. Aku melihat Wu Fan sunbae berjalan melewati lapangan basket itu menuju ke perpustakaan, tiba-tiba gadis itu menyusulnya dan langsung menggandeng tangannya.

 

Airmataku kembali mengalir, jendela ini… saksi bisu atas segala kesakitanku.

***

16 Mei..

 

Baewon School at 03.00 pm

 

          Titik-titik hujan mulai membasahi wajahku, Aku mempercepat langkahku keluar dari kelasku, hari ini aku harus pulang cepat agar bisa ke supermarket, nanti malam aku takkan bisa membantu ibuku memasak, setidaknya aku bisa membantunya sedikit dengan membelikannya bahan-bahan makanan.

 

Saat aku menyeberangi lapangan basket, sudut mataku menangkap seseorang yang berdiri di depan pintu kelasnya seperti tengah memandang ke arah lapangan basket.

 

Aku memalingkan wajahku menatap ke arahnya, benar. Wu fan sunbae tengah tersenyum ke arahku.

 

Kyaaa~ baru saja aku ingin membalas senyumnya, tiba-tiba tubuhku menabrak seseorang.

 

“ya!! Gadis bodoh!!” bentak gadis itu, ah~ gadis kantin itu. Matanya langsung beralih ke arah Kris sunbae dan langsung melambaikan tangannya.

 

Aku membungkukkan badanku berkali-kali ke arah gadis ini. dia tak membalas. Hanya memberikan cibiran dan berlari meninggalkanku. Ah~ dia baru saja menyadarkanmu Ra-yaa. Wu fan sunbae tak sedang menyapamu.

 

3 November…

 

07.00 PM

 

“Yak! Lama sekali..” aku melirik ke arah jam tangan yang melingkar indah di tanganku. Ini sudah lebih dari 10 menit sejak aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan menunggu Seulmi.

 

Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. Udara sudah sangat dingin di sini. Sebentar lagi musim dingin akan tiba.

 

“Tin..tinn…” suara klakson mobil memecah keheningan malam.

 

“yak! Ra-yaa cepatlah masuk” teriak seseorang dari dalam mobil.

 

Tanpa basa-basi aku langsung masuk ke dalam mobil Seulmi. Tubuhku mulai melemas setelah masuk ke dalam mobil. Udara di dalam sini tak sedingin di luar.

 

“bzzzz kau hampir membuatku mati kedinginan Seulmi-yaa!!” bentakku.

 

“siapa suruh menunggu di luar?!!” Seulmi tak ingin kalah dengan balas membentakku.

 

Aku hanya mengerucutkan bibirku dan langsung memfokuskan pandangan ke jalan. Seulmi mulai melajukan mobilnya pelan. Hari ini kami akan pergi ke festival musim dingin.. yah~ sebelum natal tiba, sekolahku juga akan merayakan pesta kelulusan para sunbaenim. Tentu saja aku sangat membenci hal ini. melihat Wu fan sunbae dari balik jendela saja aku sudah tersiksa bagaimana kalau aku takkan bisa melihatnya lagi? Aku berani bertaruh ini akan menjadi akhir tahun terburuk dalam hidupku.

 

“Waa indah sekali…” mataku langsung menatap ke atas langit yang bertabur dengan cahaya kemerahan yang diciptakan oleh kembang api.

 

“keluarlah~ kau akan melihat hal yang lebih indah dari itu” ajak Seulmi yang sudah keluar dari mobilnya.

Aku langsung melepas sabuk pengamanku dan langsung berjalan keluar, merentangkan tanganku dan menghirup udara dingin yang masuk ke dalam lubang hidungku.

 

Aku dan Seulmi berjalan masuk ke dalamm perayaan itu, sungguh menyenangkan. Meskipun kau tak mempunyai namjachingu, kau bisa menghabiskan kebahagiaanmu dengan sahabatmu.

 

“Ra-yaa lihatlah~ ada banyak sekali namja tampan di sini. Kau tidak ingin mendekati salah satu dari mereka?” goda Seulmi.

 

“kau ini!!” aku meninju bahu Seulmi pelan.

 

“kkk kau tunggu di sini. Aku akan membelikanmu jagung bakar”

 

Aku langsung mengangguk cepat kepadanya dan membiarkan Seulmi memisahkan diri dariku. Berjalan-jalan di dalam festival ini merupakan hal yang sangat menyenangkan. Kau bahkan bisa menemukan sesuatu yang tak bisa kau lihat di dalam rumahmu atau tempatmu menuntut ilmu. Semuanya terasa menyenangkan sebelum pada akhirnya aku melihat hal yang seharusnya tak kulihat malam ini.

 

Wu fan sunbae bersama gadis kantin itu datang ke perayaan ini.

 

Pandangan mataku terasa mengabur saat melihat mereka. Aku langsung membalikkan badanku membelakangi jalan utama. Tanganku bergerak menutupi kepalaku dengan tudung jaketku.

 

Mereka berjalan ke sini…. nafasku tertahan saat Wu fan sunbae dan wanita itu berjalan melewatiku. Moodku langsung berubah seketika. Demi Tuhan aku membenci kejadian ini.

 

“waeyo?” Seulmi yang entah-sejak-kapan melihatku menangis sendirian di sini langsung menemuiku.

 

“aku ingin pulang!!” teriakku frustasi di tengah kerumunan orang banyak.

 

“ahh…ne..ne..” Seulmi langsung meraih tanganku dan mengajakku pulang. Kami berjalan memutar menuju pintu keluar.

 

Saat berjalan… mataku tak sengaja menangkap bayangan di sebuah toko perhiasan. Wu fan dan wanita itu… apa yang mereka lakukan???

 

18 Desember…

 

Baewon School at 19.00 ..

 

          Aurora, mungkin…hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan dalam hidupku. Harus menghadiri pesta perpisahan sunbaenim. Ya~ hari ini juga adalah hari terakhirku bisa melihatnya. Pada pesta prom malam ini.

 

Semuanya memakai pakaian yang mewah dan indah. Aku? Nothing special. Haha. Bahkan sampai aku pulang ke rumah, tak ada yang mengajakku berdansa.

 

Kau tau? Wu fan sunbae? Tentu saja dia yang menjadi pusat perhatian malam ini. dia terlalu bersinar malam ini… semua wanita berebut untuk bisa berada di dekatnya. Berharap bisa di ajak Wu fan sunbae untuk berdansa.

 

Entah, tentu saja jauh di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku juga ingin diajaknya berdansa. Sayang, harapan itu rasanya terlalu mustahil untuk diwujudkan.

 

Berdiam mematung di tengah keramaian ini benar-benar membosankan. Aku bahkan ingin segera melangkahkan kakiku menuju pintu keluar, kalau saja aku tak mengingat ini adalah pertemuan terakhirku dengan Wu fan sunbae.. mungkin aku sudah pulang ke rumah.

 

“yak! Berhenti melamun Ra-yaa.. ini pertemuan terakhir kau dengan namja yang sangat kau cintai itu!!” bentak Seulmi yang berhasil mengagetkanku.

“yakk!! Kau ini!! bisa tidak agar tidak mengagetkanku dengan kedatanganmu yang secara tiba-tiba itu?! Kalau saja aku mempunyai riwayat penyakit jantung, mungkin aku sekarang sudah tewas karenamu…”

 

“kkk aku tidak baru datang Ra-yaa aku daritadi berada di sampingmu..”

 

“yayaya..” aku menunjukkan muka datarku padanya.

 

“kau tak ingin meminta Wu fan sunbae agar bisa berfoto bersamamu?”

 

“hah?” mataku membelalak. Berfoto dengannya? Bahkan aku tak sedikitpun berpikir ke sana.

“ayolah Ra-yaa`~ tak ada salahnya kan kau mengambil foto dengannya? Anggap saja ini adalah perpisahan sunbae dan hoobaenya.”

 

“memang kenyataannya begitu kan?” cibirku.

 

“maksudku perpisahan antara kau dengan dia anggaplah seperti itu! Bukan perpisahan yang ditandai kepergian seorang namja yang tak pernah tau bahwa ada seorang yeoja yang selama ini menantinya…”

 

“aku tak pernah berfikir begitu.” Sungutku.

 

“jangan munafik Ra-yaa~”

 

“hft..” aku menghela napas panjang. Menatap handphoneku, berharap suatu saat wallpapernya akan berubah menjadi foto seorang namja rupawan tengah memandang ke arah kameranya bersama dengannya.

 

Seulmi menepuk bahuku pelan. Memberikanku semangat sekaligus memberiku aba-aba agar aku melangkah maju.

 

Bodoh. Aku bahkan tak tau harus berkata apa saat berada di hadapannya.

 

Baru saja aku ingin mengumpulkan jiwaku agar bisa mendekatinya. Wu fan sunbae sudah meraih ponselnya dan langsung berjalan keluar melewatiku.

 

Aurora, kau pikir ini akan menjadi sebuah cerita cinta yang indah? Seperti di dongeng-dongeng atau drama-drama yang akan membuat pembaca atau penontonnya bahagia? Kau salah. Ini bukan cerita cinta yang bahagia dengan segala keberuntungan yang menyertai pemain utamanya. Kau salah~ kau sedang tak berada di tangan yang benar.

 

Kepergian Wu fan sunbae di pesta prom malam ini juga merupakan perpisahan kami berdua. dia tak muncul. Dia sudah pulang… dan…. tak ada sesuatu yang terjadi antara kami berdua…

 

6 tahun berlalu…

Aku berjalan mengendap-endap masuk ke dalam rumahku sepulang kuliah, ahh.. ibu dan ayahku sepertinya sedang menyambut tamu yang sangat spesial sampai harus mereka berdua yang meluangkan waktu di siang ini untuk sekedar menyambut tamu itu. Karena itu, aku cukup segan untuk melewati beberapa orang tamu yang datang itu sehingga memutuskan untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Sepertinya tamu itu juga cukup kaya, sebuah mobil mewah keluaran terbaru terparkir dengan gagahnya di depan rumahku.

 

“Ra~yaa..” langkahku tertahan saat ibuku memanggil namaku.

 

“ne..” jawabku sambil menuruni anak tangga terakhir saat aku ingin naik ke atas menuju kamarku.  Sebegitu pentingnya kah tamu itu sampai aku juga harus ikut menyambutnya?

 

“Ra~yaa dialah orang yang akan menikah denganmu..” ujar ibu kepadaku saat aku sudah berada di samping ibuku.

 

Aku hanya diam membatu menyambut ketiga orang tamu yang kuyakini mereka adalah calon mertuaku dan calon suamiku, namja itu…….

 

Nafasku tertahan saat aku berhasil mengenali namja yang akan menjadi calon suamiku. Ya, namja itu adalah orang yang sangat aku sayangi, orang yang sudah membuatku menghabiskan hidupku hanya untuk berniat melupakannya sekarang akan menjadi calon suamiku?

 

“Wu fan sunbae…” bibirku bergetar saat mengucapkan namanya.

 

“ahh? Jadi kalian sudah saling mengenal? Ini akan memudahkan proses pernikahan.” Ucap eommaku antusias.

 

“mwo? Kau belum memberitahu calon menantuku?” tanya Wu fan eomma bingung.

 

“ahh.. ne.. biarlah ini menjadi kejutan untuknya, lagipula kau takkan keberatan menerima dia sebagai calon suamimu kan?” tanya eomma kepadaku.

 

“n..ne..” jawabku takut-takut. Mataku menatap ke arah Wu fan sunbae yang sedari tadi duduk tenang di sofa. Tak ada raut kesedihan terpancar dari wajahnya. Wajah yang kulihat pertama kali. Enam tahun yang lalu… tak ada yang berubah.. hanya garis-garis wajahnya dan bentuk tubuhnya yang semakin tegas dan padat. Pertanda tumbuh kembangnya.

“kalau begitu.. 2 minggu lagi kalian akan menikah..” ujar Wu fan eomma.

 

“mwoo? Secepat itukah?” tanyaku bingung. Tak mungkin mempersiapkan pernikahan dalam waktu sedekat itu. Mustahil.

 

“tentu saja tidak, bahkan kalau kami mau, mungkin pernikahannya bisa saja dilaksanakan seminggu setelah ini. kau tau, aku dan eommamu sudah mempersiapkan acara pernikahan ini dari dua bulan yang lalu, bahkan Wu fan juga ikut membantu kami..” terang Wu fan eomma.

 

Pantas saja aku tak melihat raut terkejut dari wajahnya… hanyalah aku satu-satunya orang bodoh di sini, semua bahkan sudah mengetahui rencana pernikahan ini.

 

Untuk saat ini, aku bahkan tak dapat mengenali lagi perasaan yang ada dalam diriku. Haruskah aku bahagia melihat Wu fan sunbae yang sudah lama kupuja ini akan menjadi milikku seutuhnya? Haruskah aku berduka melihat pernikahan tanpa cinta ini? tanpa cinta dari seorang suami kepada istrinya? Apalah gunanya membangun rumah tangga hanya dengan satu cinta?

 

Terlalu munafik memang jika aku mengatakan aku bersedih kalau kenyataannya aku memang sangat bahagia. Hari ini…. detik ini…

 

Salahkah aku mempunyai tekat untuk membahagiakannya? Salahkah seorang Song Na Ra ingin menanamkan benih cinta pada seorang namja yang sangat ia cintai? Salahkah aku ingin memiliki anak dari hubungan ini? Aku pikir tidak. Mungkin sekalipun aku tak memiliki cinta dari Wu fan, aku akan memiliki cinta dari anakku dan Wu fan nanti.

 

11 April..

 

Wu fan’s apartment at 09.00 PM

 

“Mandilah…”  ucap Wu fan mengucap keheningan di dalam apartemennya. Ya, hari ini adalah tepat 2 minggu hari dimana aku mendapat kabar akan menikah dengan Wu fan. Hari ini… aku sudah resmi menjadi Nyonya Wu fan.

 

“ahh.. ne sunbae..” ucapku.

 

“mulai sekarang, panggil aku oppa. arasseo?” pintanya.

 

“ahh..ne oppa..” ucapku canggung. Baru kali ini dia memintaku memanggilnya oppa…

 

“mandi yang bersih.” Pintanya lagi kali ini dengan senyuman. Demi Tuhan, aku bahkan hampir melupakan bagaimana caranya bernafas.

 

“ne..ne..arasseo..” jawabku sambil mencoba tersenyum kepadanya.

*

          Setelah aku keluar dari kamar mandi, Wu fan meminta ijin untuk mandi. Tentu saja aku mengijinkannya, bahkan seandainya aku punya keberanian untuk menyuruhnya cepat-cepat ke kamar mandi, mungkin aku sudah mendorongnya ke kamar mandi, mengingat keadaan tubuhku yang hanya berbalut handuk putih.

 

Aku memakai piyama yang sudah kusiapkan dari rumahku. Sebuah piyama berwarna merah muda dengan corak berbentuk panda sebagai hiasannya. Sangat kekanakan tapi aku menyukainya. Ini lebih nyaman kan daripada lingerie yang sudah disiapkan eomma khusus untukku. Itu sangat menjijikkan. Berani bertaruh. Wu fan takkan bernafsu untuk menyentuhku sekalipun aku memakai lingerie.

 

Aku menyisir rambutku perlahan sampai aku mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Wu fan sudah selesai mandi. Aku tak berani memandangnya. Terlalu memalukan.

 

“belum tidur?” tanya Wu fan , langkah kakinya terdengar mendekat ke arahku.

 

“ah ne..sebentar lagi..” ujarku berusaha sedatar mungkin. Jantungku sudah berpacu dengan kencangnya. Wu fan berada di sampingku. Dia hanya memakai celana pendek dengan tubuh bagian atas yang terekspos jelas.

 

Demi Tuhan, aku ingin menyentuh tubuhnya… kalau saja aku bukanlah seorang wanita..mungkin aku akan menyerangnya malam ini, haha. Godaan pertama untukmu Song Na Ra..

 

“tak apa-apa kan aku tidur dengan keadaan seperti ini?” tanya Wu fan yang mungkin sudah menyadari perubahan raut wajahku yang tak karuan usai melihatnya.

 

“ah..ne…ne…aku tidur duluan…” ucapku. Ugh.

Aku langsung berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan diriku di sana. Memposisikan tubuhku membelakanginya. Aku harap aku bisa tidur malam ini.

 

Setengah jam kemudian aku merasakan tempat tidurku ditindihi oleh sesuatu yang berat. Wu fan merebahkan diri di sampingku. Jantungku semakin bertalu-talu. Aku ingin sekali membalikkan tubuhku dan menatapnya. Sayang, itu terlalu memalukan.

 

Saat aku ingin memejamkan mataku kembali tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangku.. Wu fan merapatkan tubuhnya ke punggungku, tangannya bergerak membelai rambutku.

 

“Ra-yaa..kau sudah tidur?” bisiknya lembut di telingaku.

 

“…..” aku tak berani menjawab. Nafasku semakin tak beraturan.

 

“Ra-yaa aku tahu kau belum tidur..” Wu fan langsung membalikkan tubuhku.

Mata kami pun saling bertemu, oh Tuhan… ini sangatlah indah bisa melihatnya dalam jarak sedekat ini..

 

Tubuhnya sedikit menindihku, tangannya terus membelai rambutku, dia tersenyum.. “aku ingin memilikimu malam ini…”

 

Aku tak berkata apa-apa. Mulutku seakan terkunci rapat… ini terlalu memabukkan sampai aku tak bisa membuat sistem sarafku berfungsi dengan normal.

 

Tangannya mulai bergerak menyusuri lekuk-lekuk wajahku. “cantik..” ucapnya.

 

Apa ini hanya tipu muslihat?? Bukankah seorang lelaki itu akan meracau tak jelas saat melihat seorang wanita tak berdaya di hadapannya. Dia akan semakin tak jelas kalau nafsu sudah menyelimuti akal pikirannya.

 

Tangannya bergerak menyusuri bibirku, mengelusnya sebentar dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di sana, “aku ingin memiliki ini…”

 

Tangannya kembali bergerak menuruni leherku, “aku ingin mengukir sesuatu di sini..”

 

Lagi…dia menurunkan tangannya, mendekapku erat, kemudian tangannya mengelus perutku. “bisakah?” pintanya.

 

Tangannya menyusup masuk ke dalam piyamaku, menggelitik perutku dengan jemarinya, sensasi apa ini? aku jadi semakin menginginkannya…

 

“mmph..lakukanlah…” ujarku pasrah. Toh aku sudah sah menjadi istrinya.

 

Aku melihat seringaian yang terukir di bibirnya. Merasa menang akan memilikiku malam ini. tangannya bergerak keluar dari dalam piyamaku. Membelai rambutku dengan sebelah tangannya yang memegang tengkukku.

 

Dia semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Refleks saja aku menutup mataku, perlahan tapi pasti dia menempelkan bibirnya… hanya menempel…

 

Aku sudah merasakan darahku terasa mengalir deras di kedua pipiku, ini benar-benar sunngguh memalukan. Ciuman pertamaku… aku berhasil mempertahankannya sampai aku menyerahkannya kepada orang yang kucintai. Wu fan…

 

Bibirnya mulai bergerak di sela-sela bibirku, memintaku untuk membuka mulutku. Aku membuka mulutku. Merasakan bibirnya melumat pelan bibirku. Menghisap bibir atasku..

 

Kau tahu, aku merasa seperti bermimpi…membanyangkan… merasakan bibirnya bergerak pelan melumat bibirku…lidahnya menyusup masuk ke dalam mulutku dan membelit lidahku..

 

Merasakan saat tangannya membelai tubuhku… merasakan lidahnya yang bermain-main dengaan leherku… menggelitik daerah sensitif dari tubuhmu yang tak pernah di jamah orang lain…

 

Aku hanya ingin mendengar dan merasakan…aku hanya ingin merasakan dekapannya, sentuhannya… aku hanya ingin menikmati setiap detik yang kulalui dengannya.. aku tahu.. mungkin ini adalah sentuhan pertama dan terakhirnya dalam hidupku.

 

Ia hanya ingin memberikan tanda bahwa aku sudah ia miliki seutuhnya. Aku memang sudah dimiliki olehnya, bahkan jiwa dan ragaku… tapi… bisakah aku memiliki Wu fan seutuhnya?

 

28 september..

 

Wu fan’s apartment.

 

          Aurora, semenjak aku tinggal di sini, di apatemen Wu fan.. aku jadi semakin sering menatap langit saat malam hari..Ahh.. andai saja ada aurora.. mungkin semuanya akan sangat indah..

 

menunggu suamiku pulang kerja adalah hal yang sangat menyenangkan, setidaknya aku tak merasa terlalu gagal untuk bisa menjadi istrinya..

 

kau tahu? Rumah tangga ini berjalan sangatlah buruk.. terlalu datar..

 

Tak ada sesuatu yang spesial sejak kami berumah tangga beberapa bulan yang lalu…

 

Apa kau pikir setelah malam pertama ia menyentuhku sikap Wu fan akan berubah menjadi romantis? Hubungan kami akan menjadi semakin dekat? Tidak. Sekali lagi tidak. Aku semakin menjaga jarakku dengannya. Aku tak ingin membiarkan diriku lemah dengan terus-menerus mengemis cintanya.

Biarlah semuanya seperti ini.

 

Menatap wajah tampannya di pagi hari sebelum kau bersiap untuk membersihkan rumah. Memasakkan sesuatu yang layak dimakan untuknya.

 

“makanlah…”

 

“ah…ne…”

 

“kau memasak apa hari ini?”

 

“aku sudah selesai.. aku berangkat..”

 

Hanya untaian kalimat-kalimat itu yang keluar dari bibirnya setiap pagi.. tak ada ucapan selamat pagi… tak ada ciuman hangat sebelum berangkat kerja..

 

“ah..” aku merasakan mataku terasa di tutupi oleh kabut hitam.. apa? Apakah aku akan pingsan? Kenapa semuanya terasa gelap dan kabur? Aku mengerjapkan mataku beberapa kali…

 

“belum tidur?” ahh aku mendengar sebuah suara dari belakangku. Wu fan sudah pulang? Sial. Dia mendapatiku tengah menunggunya malam ini.

 

“ahh.. ne..”

 

“…….” lagi-lagi kabut hitam kembali menyelimuti pandanganku. Ada apa ini? apakah ini bagian mimpi? Kenapa semuanya terasa nyata? Ada apa dengan mataku??

 

–TBC–

22 pemikiran pada “Dear, My Aurora (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s