Love Sign (Chapter 9)

Tittle : Love Sign

Author : Shane (@shaneleeps)

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Love Sign posutaa

Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Maaf ya kalau ada kata-kata kasar, please jangan tersinggung.

Please welcome, Do Kyungsoo as the guest cast *smirk*

__________________________

Hari berlalu dan terasa cepat bagi empat orang ini. Mereka melewati hari-hari mereka dengan peralatan-peralatan tidak umum; perekam suara, note kecil dan kertas-kertas yang berisikan nama siswa disekolah mereka. Yah, inilah yang harus mereka lakukan meskipun ada ujian ataupun tugas yang datang seiringan, mereka tidak mengeluh.

Semua mengedepankan kepentingan bersama.

“Yoojun-ah,” panggil Hyesung. Kali ini kelas mereka benar-benar kosong. Gadis itu diam-diam berterima kasih pada si ketua kelas yang mendadak tidak memanggil guru piket. “Sampai kapan kita akan melakukan ini? Maksudku, bukannya semua jawabannya sudah banyak?”

“Sehun bilang kita harus menanyakannya pada semua murid disini,” jawab Yoojun kalem.

“Dia lagi? Kamu ini sebenarnya pacaran dengan Sehun atau dengan Jongin?”

Yoojun mendadak diam. “Entahlah.”

Hyesung menggeleng pelan. Sekeras, sedingin, sediam apapun dia, dia tetaplah seorang perempuan. Meskipun dia tidak mengerti letak permasalahannya—Hyesung belum pernah mengalami hal seperti Yoojun—tapi Ia tahu jelas bagaimana perasaan Yoojun sekarang. Bagaimana perasaannya yang berharap, perasaannya yang terasa diabaikan. Hyesung menghela napasnya berat. Duh, desahnya. Ia paling malas berkecimpung disoal percintaan remaja seperti ini.

“Jadi sampai sekarang Jongin belum meresmikanmu?” tanya Hyesung.

Yoojun menggeleng lemah.

“Lalu dia sudah berkencan denganmu?”

Yoojun mengangguk lemah.

“Dan dia sudah menciummu?”

Yoojun mengangguk, malu. Kalau diingat-ingat lagi ciuman itu… ralat, ciuman pertama itu selalu membuat pipinya memerah dan kepalanya menunduk. Tapi satu yang Yoojun tahu kalau Kai hanya terbawa suasana, bukan benar-benar ingin menciumnya.

Yah, itulah argumennya selama ini. Apalagi Kai yang selalu mengalihkan pembicaraan kalau sedang ditanya peresmian itu membuat Yoojun makin menambah embel-embel dari argumennya. Yoojun membalas, “Aku nggak pernah sebingung dan sebimbang ini.”

“Kamu pernah,” kata Hyesung. “Dan kamu nggak pernah sadar soalnya bingungnya kamu, kamu lewati dengan senyum. Aneh melihatmu begini. Biasanya kamu sudah loncat-loncat atau berteriak.”

“Nggak mood, Hyesung-ie.”

“Mood nggak mood biasanya kamu tetap melakukan itu semua.”

Nan molla.” Yoojun menghela napasnya. Hari ini hari teraneh selama 17 tahun ia hidup didunia ini; kecuali beberapa perihal yang menyangkut keluarganya. Oh, kalau ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, ia akan melakukannya dengan sangat sangat senang hati. Gadis itu membenamkan kepalanya dalam kedua tangan yang ia tekuk diatas meja. Coba-coba lagi memikirkan hubungannya dengan Kai.

“Tapi bukannya aku memang harus membuatnya mencintaiku?”

Yoojun menggelengkan kepalanya.

“Terus, kenapa aku malah makin mencintainya dan lupa semua tujuanku?” gumamnya lagi. “Aku benar-benar bodoh.”

Hyesung memutar bola matanya. Sedari tadi mendengar gumaman Yoojun—yang ingin sekali ia rekam dan ia simpan pribadi—yang menurutnya lucu sekali. Lebih lucu dari slogan keluarga berencana yang itu, malah. Tapi, menurut keadaan sekarang ia tidak mungkin tertawa. Bukan, bukan karena malu atau apa tapi ia tidak ingin menyakiti hati Yoojun. Sedikitpun itu, ia tidak ingin menyakitinya.

Hati Yoojun terlalu polos, terlalu lugu, dan Hyesung berjanji akan menjaganya agar tetap seperti itu semenjak mereka menjadi sepasang sahabat.

“Bagaimana kalau kamu pergi ke kantin, beli banana milk atau apapun itu yang mengandung susu lalu tenangkan dirimu?” usul Hyesung, yang disambut tatapan berbinar dari Yoojun. Hyesung menggeleng, merasa puas akan apa yang ia lakukan.

Yoojun akhirnya mengikuti semua usulan Hyesung barusan. Kakinya melangkah agak cepat menuju kantin. Ia tahu, ia sudah kelas tiga dan harusnya tidak melakukan semua ini, tapi kalau ia stres sebelum ujian negara hanya karena ini semua pihak sekolah pasti tidak akan bertanggung jawab, pikirnya. Tanpa sadar gadis itu mengangguk seiringan dengan apa yang ia pikirkan tadi.

Dan, tanpa sadar juga ia sudah sampai di Kantin.

“Paman, tumben sekali kantin sepi, memang tidak ada anak-anak yang habis olahraga mampir kemari?” tanya Yoojun, penasaran.

“Tidak ada yang kemari karena mereka takut, Aggashi.”

“Takut?” Yoojun mengernyitkan dahi. Setelah memberikan uang sesuai harga dua banana milk dan lolipop yang ia beli, gadis itu cepat-cepat mengerlingkan matanya pada meja dan bangku di Kantin. Mereka semua benar-benar kosong, benar-benar…

“Sehun!” pekik Yoojun.

Ia bersumpah kalau yang ia lihat itu bukan mimpi ataupun fatamorgana. Pemuda yang duduk dibangku paling pojok dengan buku ditangannya itu pasti yang membuat para murid tidak ada yang berani menginjakkan kakinya di Kantin. Selain murid khusus, Sehun adalah keponakan dari pemilik sekolah. Dan pasti mereka berpikiran jelek padanya, kata Yoojun dalam hati.

Subjek yang dipanggil sebenarnya tidak yakin kalau itu namanya yang dipanggil—mengingat kantin ini benar-benar kosong—namun setelah kenal dengan suara yang ia dengar samar itu, ia hanya melirik sebentar, lalu memusatkan pandangannya lagi pada buku ditangannya. Ia menggeleng pelan.

Sehun membaca deretan huruf itu dengan mode lambat. Iya, dia sengaja melakukan itu semua, takut-takut kalau Yoojun datang menghampirinya dan membuat kosentrasinya buyar. Namun bukannya sosok gadis berisik itu yang muncul, melainkan sosok pria paruh baya dengan jas cokelatnya berdiri didekat Sehun. Sehun hampir saja melongo. Perkiraannya tidak pernah salah sebelumnya.

“Paman?”

Pria paruh baya itu menggeleng pelan. “Oh Sehun…”

“Kelas khusus sedang istirahat, Paman. Dan aku sudah berada disini sejak—” Matanya bergulir turun, menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.

Shit.”

“Tolong kembali kekelasmu karena yang aku tahu, kelasmu sedang mengadakan ujian fisika,” kata Paman, namun jelas sekali terdengar nada marahnya yang tertahan. Sehun yang sadar akan hal itu langsung merapikan buku-bukunya (Ia juga sempat meminjam buku diperpustakaan kelas reguler) dan langsung berjalan tanpa membungkuk ataupun pamit pada sang paman. Ia berjalan dengan santai. Sangat santai, malah.

Pamannya kembali menggeleng. Melihat kelakuan Sehun yang benar-benar mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia kenal.

“Anak itu mirip sekali dengan ayahnya.”

***

Yoojun agak sedih sore ini. Selain tugas sejarah dari gurunya untuk bersemedi (re: membaca buku) diperpustakaan dan mencari topik sejarah untuk presentasi minggu depan, sore ini Ia pulang sendirian. Maksudnya, benar-benar sendirian.

Hyesung dijemput ayahnya dan Yoojun sedang tidak mau berurusan dengan dua pemuda dari kelas khusus itu. Tidak sekarang, tidak hari ini dan juga tidak untuk besok. Bukannya apa, tapi kepala Yoojun sudah terlalu sakit untuk memikirkan hubungannya yang tidak jelas arahnya dan semua rencana penghapusan peraturan itu—kepalanya benar-benar sakit. Sebisa mungkin untuk menghindari mereka, sama seperti apa yang ia lakukan di Kantin hari ini pada Sehun.

Sepersekian detik berikutnya, Ia ingat kalau ia punya kakak.

Ya, Taejun! Kamu kakakku atau bukan? Kenapa tidak menjemputku?” bentak Yoojun. Sikapnya 180 derajat berubah kalau membicarakan dan bicara dengan Taejun.

“Kamu tahu kalau aku sedang bekerja, Yoo-gom—oh ya, kenapa tidak pulang sama Kai saja?” tanya Taejun dari seberang sana.

Hening.

“Oke, oke, aku tahu. Aku jemput sekarang.”

“Pe-pekerjaanmu?”

Taejun tertawa kecil. “Itu masalah gampang, adikku. Tunggu aku ditoko roti dekat sekolahmu itu, beli saja makanan yang mau kamu makan nanti aku yang bayar. Bye!”

Klik.

Satu nada itu memutuskan hubungan telepon tersebut. Yoojun menggeleng pelan. Ia tidak mengerti apa yang merasuki tubuh sang kakak sehingga bisa membawa santai pekerjaannya sendiri. Perlu diingat kalau Taejun adalah pekerja keras, Ia bahkan rela terjaga semalaman demi pekerjaannya. Taejun tipikal orang yang akan menomor satukan perkejaan. Bukan, bukan dalam hal negatif, melainkan untuk kepentingan Ia sendiri dan Yoojun, adiknya.

Yoojun cepat-cepat melangkah pergi menuju toko roti yang tidak jauh dari sekolahnya. Ia tahu, beberapa menit lagi, murid-murid khusus akan keluar dari sekolah.

Dan ia tidak mau bertemu Kai ataupun Sehun.

Setelah sampai ditoko roti tersebut, Yoojun langsung duduk ditempat favoritnya dan kakaknya. Dulu, sewaktu Taejun masih bersekolah disekolah itu, Taejun sering mengajak Yoojun untuk makan roti dan minum cokelat panas ditoko roti ini. Pemiliknya pun sampai kenal dengan kedua kakak-beradik itu.

“Kyungsoo!” seru Yoojun tatkala melihat pemuda dengan apron putih khas para pegawai ditoko ini sedang merapikan deretan roti. Yoojun bisa dibilang cukup kenal dengan Kyungsoo, sedangkan Kyungsoo kenal sekali dengan Yoojun. Mereka sudah jarang bertemu semenjak Kyungsoo meneruskan sekolahnya ke Italia.

Dan akhir-akhir ini Yoojun jarang mengunjungi toko roti tersebut.

Pemuda bernama Kyungsoo balik berseru riang melihat gadis yang jarang ia lihat beberapa bulan terakhir ini. “Yoojun!” serunya.

“Lama nggak ketemu dan—wow, lihat si cupu ini sudah tampan sekarang,” kata Yoojun sambil berdecak kagum.

“Dan lihat juga cewek sok polos yang nggak pernah panggil aku oppa ini, sekarang sudah besar,” balas Kyungsoo yang otomatis direspon death glare dari Yoojun. Kyungsoo tahu sekali bagaimana Yoojun dulu sewaktu kecil. Jelas terhlihat gadis kecil yang dulu sering ia ajak bermain itu sudah menjadi remaja yang… ahem, cantik. “Kamu sendirian? Taejun mana?”

“Dijal—”

Hyung!” pekik Kyungsoo. Yoojun refleks menoleh kebelakang, melihat sang kakak yang baru saja menginjakkan kakinya ditoko roti. Taejun tersenyum pada dua muda mudi itu seraya melangkahkan kakinya juga.

Taejun berdecak, “Kyungsoo heboh seperti biasa dan kamu, Yoojun, kamu berbeda.”

“Woah, woah, ada apa dengan adik kecil kita yang satu ini?”

Hening.

“Kyungsoo, susu panas dan Jeonbyeong!” seru Yoojun.

“Cokelat panas dan Bungeoppang!” ujar Taejun, ikut-ikutan memesan.

Kyungsoo mendesah berat, lalu memegangi dahinya—kepalanya mendadak pening. Kakak-beradik ini kalau sudah berkumpul bisa membuat pekerjaan bertambah rupanya. Padahal dulu, kalau kakak-beradik atau pengunjung tetap ini muncul, pekerjaannya berkurang karena mereka akan meminjam Kyungsoo untuk menemani mereka sampai mereka selesai makan.

Ternyata oh ternyata, dugaan Kyungsoo salah.

“Yang satu penggila susu dan yang satu penggila cokelat, lantas apa yang harus aku gilai untuk bergaul dengan mereka,” gumamnya seraya berjalan menuju dapur.

Disekolah, Kai dan Sehun sedang jalan bersama. Ujian fisika yang terlalu dadakan dan pengambilan nilai untuk kesenian yang juga dadakan membuat keduanya—atau Kai menampilkan wajah murung. Sangat murung. Ia sudah ditahun ketiga bersekolah disana dan bisa-bisanya tidak siap dalam ujian dadakan. Mendadak ia ingin mengambil kertas ujiannya kembali dan mengisinya secara openbook.

“Kai, berikan jawabanmu pada Yoojun atau semua ini akan memburuk,” kata Sehun tiba-tiba. Jelas membuat pemuda berkulit gelap disampingnya hampir terlonjat kaget.

“Jangan ikut campur, kau tidak tahu apa—”

“Aku tahu.”

Kai terdiam. Seingatnya, Sehun bukanlah orang yang mau ikut campur atas urusannya maupun urusan orang lain. Sehun bukanlan orang yang akan merepotkan dirinya demi orang lain.

“Aku tahu, karena dia mulai menghindari kita berdua,” lanjut Sehun. Nadanya terdengar serius, begitupun mimik wajahnya.

Ia merasa bersalah.

.

.

.

“Jadi, selama ini ka-kalian belum resmi?” tanya Taejun, syok. Benar-benar tidak percaya dengan apa saja yang Yoojun katakan beberapa menit yang lalu. Apalagi yang Taejun tahu, adiknya ini sudah pernah kencan dengan Kai—bahkan Kai pernah kerumah mereka pagi-pagi sekali.

Yoojun mengangguk lemah. Pada akhirnya, sang kakak juga tahu yang sebenarnya.

“Hentikan saja semuanya dan cari yang lebih baik dari dia, Yoo-gom.” Suara Taejun mendingin. Kakak mana yang tega adiknya diperlakukan seperti ini? Taejun benar-benar tidak terima.

“Dia baik, Taejun. Kai adalah orang yang sangat baik,” sergah Yoojun. Gadis itu menghela napasnya. “Hanya saja masa lalunya yang membuat dia jadi seperti ini.”

“Persetan dengan masa lalu, Yoojun! Hari ini adalah hari ini, bukan masa lalu!”

“—Hyung.”

“Diam, Kyungsoo! Makan saja rotimu!” bentak Taejun.

Yoojun menggeleng, melihat bentakkan kakaknya yang harusnya terdengar seram, sekarang terdengar sedikit lucu. Maksudnya, ini ditengah-tengah perseteruan dan bisa-bisanya Taejun membentak Kyungsoo seperti itu. Sedangkan yang dibentak hanya terus memakan rotinya sambil dalam hati mengutuk berat kakak-beradik dihadapannya. Kalau bisa makan mereka berdua, pasti akan dimakan oleh Kyungsoo. Sekali lahap, teriak Kyungsoo dalam hati.

“Udahlah, Hyung. Yoojun sudah cukup umur untuk mengatasi dirinya sendiri,” ujar Kyungsoo, agak acuh. Beberapa detik kemudian pemuda dengan mata besar ini menggeleng tak percaya. Ada sebuah kalimat dan kata panggilan dari Yoojun yang sering didengarnya kalau Taejun sudah banyak bicara. Dari hal tersebut, lama-kelamaan Kyungsoo mengangguk, mengakui. “Tidak salah Hyung dipanggil paman oleh Yoojun.”

Merasa pendapatnya tentang Taejun diakui, Yoojun menatap Kyungsoo dengan mata berbinar. “Uh, I love you, Kyungsoo.”

Kyungsoo bergidik ngeri.

Kalah telak. 1:0 untuk Yoojun dan Taejun.

Percakapan itu langsung teralihkan begitu saja. Yoojun diam-diam berterima kasih pada Kyungsoo, yang juga secara diam-diam membantu mengalihkan pembicaraan dan membuat topik seru untuk Taejun agar ia bisa melupakan sedikit masalah yang tadi. Beberapa menit kemudian, suara deringan ponsel mengusik obrolan mereka. Ponsel Taejun yang berbunyi ternyata; Ia pun langsung pemirsi dan keluar dari toko untuk menjawab telponnya.

Kyungsoo sekarang menatap Yoojun serius. Ia juga mau tidak mau penasaran dengan masalah Yoojun yang sudah mereka bicarakan tadi itu.

“Tapi benar juga kata Taejun, Yoojun-ah. Kamu mau nunggu sampai kapan? Belum lagi kamu juga nggak tahu perasaan dia padamu,” katanya pelan.

“Iya…” Yoojun tak sadar akan hal itu.

Iya.

Dan, iya.

Yoojun tidak tahu perasaan Kai terhadap dirinya.

“Jangan ikuti kemauanmu, tapi ikuti hatimu. Itu semua antara kamu ingin menyesal diakhir atau bahagia diakhir.” Kyungsoo menatap Yoojun. Detik berikutnya ia kembali berkata lagi, “Menangis hanya mengekspresikan apa yang kamu rasakan. Bukan media pelampiasan. Jadi jangan menangis untuk hal-hal yang tak logis untuk hatimu sendiri.”

Yoojun terpanah mendengar ucapan Kyungsoo. Kemana perginya pemuda kacamata yang dulu sering mengajaknya bermain? Kemana perginya pemuda yang dengan seenak jidatnya mengatakan semua hal dengan enteng? Semua sudah berkembang. Mereka tidak hilang, tapi berkembang.

Kyungsoo benar-benar sudah berubah menjadi seorang pria.

“Kamu ternyata berguna juga diumur ke-dua puluh lima kamu, Kyungsoo Oppa.”

“Wah, tumben sekali memanggilku begitu. Ada sesuatu dibalik sesuatu, ya?”

Yoojun menggeleng. “Aku memanggilmu oppa, karena kamu udah menjadi pria dimataku. Bukan pemuda yang dulu sering bicara seenak jidat.”

Kyungsoo sontak tertawa. Ia ingat sekali kalau dulu, ia adalah pemuda serampangan berkacamata yang juga anak dari pemilik toko roti. Sebelum kenal Taejun, Kyungsoo adalah orang yang lebih sering menghabiskan waktunya dirumah teman daripada ditoko roti keluarganya. Kyungsoo lebih suka berkumpul dengan orang-orang yang bahkan beberapa orangnya tidak ia kenal dibandingkan belajar membuat roti.

Imo, Bunggeoppang satu lagi!” kata Taejun seiringan dengan masuknya langkah kaki kedalam toko roti.

Kyungsoo tersenyum. Menyadari perubahan yang terjadi setelah bertemu dengan Taejun yang dulu seorang anak SMA yang bersekolah disekolah orang kaya namun senang sekali datang dan membantu ditoko roti keluarganya. Lalu Taejun mengajak Yoojun yang waktu itu masih berumur 12 tahun, dan mereka berdua pun ikut membantu ditoko tersebut. Yah, bertemu dengan kakak-beradik Park ini mengubah hidupnya.

“Jadian, yuk?” Kyungsoo mengedipkan matanya.

“Maaf, aku nggak mau sama om-om,” kata Yoojun, refleks.

Kalah telak. 1:0 untuk Yoojun dan Kyungsoo.

***

Minggu-minggu Yoojun dilalui dengan aneh. Tidak, bukannya Yoojun mendadak makan keju ditengah jalan raya, tapi apa yang ia lakukan seakan-akan ini bukanlah seorang Yoojun. Ini bukanlah kegiatan sehari-hari Yoojun. Yah, gadis ini juga sudah berhasil selama satu minggu menghindari kedua lelaki yang memberikannya sakit dikepala dan sakit dihati. Benar-benar berterima kasih pada Hyesung yang—awalnya tidak mau—mau membantunya menyerahkan hasil wawancara kepada Sehun dan Kai.

“Mau sampai kapan begini? Aku, kalau boleh jujur, agak asing denganmu.” Hyesung melirik sahabatnya yang sedang menenggelamkan kepala diatas meja. Entah sedang apa.

Yoojun perlahan mendongak. Bersumpah tidak ingin melihat Hyesung. Namun matanya melakukan hal yang sebaliknya. Yoojun menatap Hyesung yang dengan wajah datar biasanya. Tapi yang Yoojun tahu, ada juga hal yang berbeda dari apa yang Hyesung tampilkan sekarang.

Matanya.

Matanya menunjukkan kecemasan.

“Kamu tahu Park Yoojun?” tanya Hyesung, perlahan duduk dikursi didepan meja Yoojun. “Pengecut takkan pernah mendapatkan apa yang sebenarnya ia inginkan.”

Gadis berambut hitam itu tertohok mendengar perkataan Hyesung barusan. Jelas-jelas kata pengecut itu ditujukkan untuknya. Hyesung memang tidak pernah pandang bulu untuk mengatakan apapun yang ia pikirkan. Tapi ini, terlalu menyakitkan bagi Yoojun.

Tidak, dia tidak marah, melainkan kecewa.

Dia adalah seorang pengecut.

“Lari bukan penyelesaian. Bicara, adalah jawabannya,” kata Hyesung lagi.

Yoojun diam. Otaknya bekerja dua kali lebih keras dibandingkan kalau ia memikirkan jawaban dari soal-soal matematika tiap harinya. Bertanya juga dalam hati untuk penyelesaian semua ini. Yoojun…

“Dan tindakan,” gumamnya. Detik itu juga ia beranjak dari duduknya dengan mendorong meja dan berjalan menuju pintu kelasnya. Saat itu hanya berpikiran untuk menyelesaikannya hari ini juga. Gadis itu bahkan tidak memperdulikan teriakan Hyesung dan pelajaran olahraga yang akan datang setelah istirahat ini. Yoojun hanya melangkah, melangkah kesebuah tempat yang mungkin bisa menyelesaikan semua ini.

Kakinya menaiki satu persatu anak tangga dengan gemas. Tak sabar untuk sampai keujung tangga dan membuka pintunya. Ya, atap adalah tujuan Yoojun sedari tadi. Entah mengapa rasanya ia ingin pergi ke Atap, melewati pagar-pagar yang membatasi kelas khusus dan reguler, dan masuk ke lingkungan sana.

Ingin bertemu…

“Sehun-Ssi,” pekiknya setelah membuka pintu atap dan melihat seorang pemuda dibaliknya. Ia kembali memanggil Sehun dengan sebutan –Ssi, refleks.

Sehun menarik lengan Yoojun. “Kebetulan. Ayo.”

Kakinya melangkah.

“—tidak. Yoojun ikut denganku.”

Yoojun refleks memalingkan kepalanya, melihat siapa gerangan yang lagi-lagi mengajaknya pergi. Tapi bahkan sebelum memalingkan kepala, Yoojun sudah tahu siapa gerangan itu. Ia kenal sekali dengan suara ngebass yang tiba-tiba muncul dibelakangnnya. Kai, atau Kim Jong In dengan rambutnya yang agak berantakan. Gadis itu menatap kosong—dan tiba-tiba tersadar akan suatu hal.

Ini pertama kalinya, kedua lengannya ditarik oleh dua pemuda yang berbeda.

TBC

1 word; Slow.

Yeah, or maybe two words for too slow? Saya nggak mau membuat ceritanya terkesan cepat atau malah terburu-buru karena bakal buat cerita ini jadi aneh /apa. Atau memang sudah aneh (?) But guys, thank you. Ternyata manjur benar komentar-komentar dan dukungan readers. Writer’s block plus dedemit sekaliannya hilang dan bisa membuat saya melanjutkan cerita ini.

Kyungsoo itu umurnya cuma beda dua tahun sama Taejun. Makanya ia juga ikutan dipanggil om-om sama Yoojun karena perbedaan umur mereka.

Still, comments are blessed ❤

*Jeonbyeong = kue wafer panggang tradisional

*Bungeoppang = sebutan orang korea untuk taiyaki (roti berbentuk ikan dengan selai kacang tanah/cokelat didalamnya)

 

52 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 9)

  1. annyeong aku reader baru , mian ya aku baru koment di part ini soalnya aku mesti baca maraton dari awal biar ngerti ceritanya , hehe . dan ternyata daebak!! suka banget amal ceritanya , aku setuju ama author yang bikin alurnya ga kecepetan . terkadang cerita yg menarik itu butuh suatu pemaparan yg ga bisa cepet biar bikin reader penasaran *apasih
    next chap ditunggu ya thor 😀

  2. annyeong aku reader baru , mian ya aku baru koment di part ini soalnya aku mesti baca maraton dari awal biar ngerti ceritanya! oh ya next chap jangan lama2 ya thorrr….. soalnya ini lagi seru! dan oh ya ni ff daebakk bgt!!! aku kasih rated A++++++

    next chap ditunggu segera!!!! ppalli juseyo…….. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s