Cinnamons (Chapter 1)

CINNAMONS

Judul   : Cinnamons

Author : Morry @bbymomoo

Genre  : Romance

Length : Chaptered

Main Cast :

  • Lee Ahreum T-Ara as Kim Ahreum
  • Kris Exo-M as Kris Wu
  • Choi Sulli F(x) as Kim Sulli

Cameo :

  • Luhan Exo-M as Luhan
  • Yesung-Tiffany as orang tua Ahreum dan Sulli

FF_Cover

A/Note : Hai, aku penggemar baru Exo, biasku Baekhyun. Tapi, aku suka EXO semuanya 🙂 Ini pertama kali aku membuat FF EXO, mohon dimaklumi ya. Dan FF ini terinspirasi dari lagu salah satu band Indonesia, d’Cinnamons yang berjudul Selamanya Cinta. Happy Reading and I hope all of You Enjoy this story ^^

=====================================================================

If I can show my feeling

That can make you believe

I’ll give you all my love

Forever

            Kim Ahreum, seorang gadis berparas cantik alami dengan tinggi semampai. Ia tengah menunggu seseorang di bandara Incheon. Musim dingin di Korea Selatan saat ini, hanya tinggal menunggu salju pertama datang. Entah esok atau lusa. Jelasnya, udara di Korea Selatan sudah cukup dingin. Gadis imut itu memakai hoodie pink tebal bertulis “New York 12” serta muffler rajut warna hitam keabu-abuan serasi dengan warna tulisan di bajunya. Dipadu dengan celana jins ketat warna hitam dibalut sepatu high heels  sneakers dengan aksen animal print bercorak kulit leopard.

Ia melirik sekilas jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.03 waktu Korea Selatan, waktu yang seharusnya sudah melandingkan pesawat dari New York, Amerika Serikat, menuju Incheon—Bandar udara internasional Korea Selatan. Gadis itu membuang nafas sejanak sambil menyandarkan dirinya di kursi tempat menunggu.

“Semua pesawat menuju bandara Incheon delay hingga 2 jam.”gumamnya yang dari tadi memperhatikan tulisan-tulisan di layar bandara tersebut. “Aissh.”

Ahreum bergumam sebal. Padahal ia buru-buru berangkat ke bandara begitu menyadari waktu sudah hampir jam lima sore. Ia kembali melirik jam tangannya. Dua jam dari jam lima berarti pesawat datang pukul tujuh malam waktu Korea Selatan. Waktu yang cukup lama untuk menunggu. Ahreum berdecak. “Haaah… Lebih baik menghabiskan waktu di luar dulu, sambil menunggu gadis menyebalkan itu kembali pulang ke Korea.”ujarnya malas. Raut wajahnya tampak menerawang ke masa lalu.

Untuk beberapa saat ia masih belum beranjak. Sesekali ia meniup rambut depannya yang jatuh-jatuh kedepan. Lalu, Ahreum pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari bandara megah itu. Bandara yang cukup terkenal di dunia karena keindahannya. Tak salah Korea Selatan Negara yang maju dan tak kalah dibanding New York—Seoul-nya Korea Selatan.

Di luar bandara, ia menolehkan kepalanya ke arah audi a6 putih miliknya yang masih terparkir rapi diluar. Seharusnya mobil kesayangannya itu mendapat tempat yang lebih layak. Karena ia terburu-buru tadi, jadi Ahreum tidak sempat memikirkan tempat parkir yang lebih nyaman. Untungnya petugas keamanan bandara tidak mempersalahkan hal itu.

Ahreum menggambil earphone dan memasangkannya ke telinga. Dari tadi, earphone tersebut sudah menyambung ke playlist di iphonenya. Gadis itu mulai mengayunkan kakinya menuju jalanan sekitar bandara Incheon. Sambil memainkan iphone touchscreennya, ia pun berjalan menuju kafe kecil di seberang bandara megah tersebut. Raut wajah Ahreum tampak berubah-ubah membaca tulisan-tulisan di layar ponsel itu. Kadang berdecak sebal, cemberut dan memanyunkan bibirnya lalu tertawa sampai menahan senyum. Ck, benar-benar gadis aneh.

Ia melihat lampu penyeberangan berwarna merah, Ahreum pun mulai melangkah pelan. Ting! Tanpa ia sadari lampu sudah berubah menjadi hijau kembali. Dari arah kanan, sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan penuh ke arahnya. Tin tin! Pengemudi mobil itu membunyikan klaksonnya beberapa kali. Hingga suaranya begitu menjadi-jadi. Ahreum yang tidak mendengarnya tetap berjalan santai sambil memainkan iphone itu.

Sret~

Bruk

Satu detik! Hampir saja nyawa gadis itu terancam jika namja tinggi itu tidak segera menarik Ahreum ke dalam dekapannya. Dengan cekatan ia menarik Ahreum hingga gadis itu menenggelamkan kepalanya pada dada bidangnya. Ahreum memejamkan matanya begitu ia merasa seseorang menarik tubuhnya kasar. Earphone di telinganya terlepas begitu saja. Ia menduga-duga apa yang telah terjadi, dan ia terlalu takut membuka matanya. “Hei~”suara bass seorang namja berhasil membuyarkan dugaan Ahreum. “Jangan takut. Buka matamu.” lagi-lagi suara bass itu terdengar, membuat Ahreum membuka matanya dan mendongak ke arah namja tinggi tersebut.

Deg! Mata foxy Ahreum bertemu dengan mata onyx milik namja tinggi berambut pirang khas cowok New York dan sekitar Washinton, California, L.A, dan yah begitu—yang pernah ditemui Ahreum. Begitu memikat. Sejenak alunan melodi awal lagu Only U milik Super Junior yang dinyanyikan oleh Kyuhyun mengalun indah di pikirannya. Ahreum dan namja itu sama-sama terdiam. Hingga Ahreum mengerjap beberapa kali lalu dengan cepat melepaskan dekapan namja asing namun menarik itu. Menjaga jarak mereka sedikit jauh.

“Lain kali jangan menyeberang jalan dengan menggunakan ini nona.”ujar namja itu sambil menunjuk earphone warna putih milik Ahreum. Gadis itu benar-benar merasa err~ Malu.

“Ah, maaf aku begitu ceroboh dan eum.. terimakasih sudah menolongku.”ungkap Ahreum sopan lalu membungkukkan badannya sambil menggaruk belakang kepalanya. Malu. Namja berambut pirang itu menyeringai melihat tingkah Ahreum.

“Baiklah. Perhatikan jalanmu lain kali. Aku tidak akan datang dua kali, kan?” namja itu berkata misterius lalu mulai beranjak meninggalkan Ahreum yang masih terpaku di tepi jalanan.

“Ahjussi, tunggu!”teriak Ahreum sambil berlari kecil mengejar namja yang menurutnya sedikit misterius itu. Namja itu menghela nafasnya mendengar panggilan Ahreum. Baru kali ini ada yeoja yang memanggilnya dengan sebutan ‘ahjussi’. Hei! Umurnya masih 20 tahun, ckck.

“Yak! Ahjussi katamu? Hei~ Aku sudah menyelamatkan nyawamu nona manis, ckck” ucapnya kesal sambil membalikkan badannya. Lagi-lagi namja itu tersenyum misterius membuat dahi Ahreum berkerut dan… Sedikit kesal juga. Tidak ikhlas ya, namja itu menolongnya. Pikir Ahreum.

“Iya. Maaf.”ujar Ahreum. “Aku hanya ingin berterimakasih, jadi~”lanjut Ahreum terputus.

“Jadi?” namja itu mengulangi.

Ahreum tampak menghela nafasnya.

“ Baiklah tuan, apa yang bisa ku lakukan untuk membalas kebaikanmu?”tanya Ahreum dibuat-buat. Namja itu terkekeh pelan.

“Bagaimana kalau kita makan malam?”tawar namja itu dengan gampangnya.

“Tapi~”

“Sudahlah, aku sedang kedinginan dan lapar, kau tau? Nah, kajja!”

Tanpa menghiraukan umpatan sebal Ahreum, namja itu langsung menarik tangan gadis itu menuju restoran terdekat. Kalau tidak salah restoran korea yang cukup terkenal karena milik salah seorang personel Super Junior, Yesung. Ya, Babtols nama restoran yang dimasuki oleh dua orang tersebut.

Namja itu masuk dan langsung memesan makanan tanpa melihat Ahreum yang terbengong melihat kelakuan cukup frontal namja yang sepertinya berdarah New York—lagi-lagi—dipikiran Ahreum terngiang kata-kata New York, New York dan New York. Sementara Ahreum hanya memesan secangkir moccaccino dan salad buah.

“Hei, kau tidak duduk nona?”tanya namja itu. Yang ternyata ia sudah memposisikan dirinya senyaman mungkin di kursi meja nomor 12 restoran tersebut. Namja itu berbicara seolah-olah ia yang mengajak Ahreum ke sana. Gadis itu pun ikut duduk. Mereka pun duduk berhadapan.

Ahreum terlihat sibuk dengan ponselnya. Ternyata masih jam setengah enam. Ia begitu khawatir dengan orang yang ia sebut ‘gadis menyebalkan’ jika orang itu sampai menunggunya. Cih. Gadis itu berdecak sebal. Memanyunkan bibirnya tatkala mengingat kelakuan ‘gadis menyebalkan’ itu.

Nae mal deuro jullae… Amu maldo haji malgo

Suara Cho Kyuhyun terdengar sedikit menggema. Alunan musik di restoran itu mulai terdengar. Only U yang dibawakan Super Junior tak hanya berputar di benak Ahreum, namun nyata di restoran itu kini. Sambil mengutak-atik ponselnya gadis itu tersenyum kecil lalu mengikuti lagu favoritnya itu.

Namja pirang itu ikut tersenyum kecil melihat tingkah kekanakan Ahreum. Kesan coolnya entah lenyap kemana sejak bertemu dengan gadis didepannya beberapa menit yang lalu. Hei, sejak kapan ia seperti ini. Sejauh ini semua yeoja mengatainya cuek dan dingin, tapi sekarang… Yak! Hilangkan pikiran aneh itu. Ia menggelengkan kepalanya sejenak.

Namja itu kembali memperhatikan gadis di depannya dengan seksama. Mata foxy bulat, hidung mancung, pipi chubby, kulit seputih susu—tidak, bahkan lebih putih—menurutnya—dan bibir pink mungil dan rambut cokelat kemerahan menambah lengkap kecantikan yeoja tersebut, Ahreum. Selesainya Only U berganti dengan alunan From U tepat dengan datangnya pesanan mereka berdua. Tidak cukup lama, restoran yang mendekati nilai sempurna.

“Hari dingin seperti ini kau memesan salad buah dan sayur?”tanya namja itu. Ahreum menghentikan aktivitasnya yang sibuk dengan ponsel. Ternyata ia tidak sadar kalau pesanannya sudah datang.

“Eh? Memang kenapa? Ini enak, kau mau coba?” tawar Ahreum menyodorkan salah satu sayuran di piringnya. Selada. Dengan cepat namja itu menutup hidungnya. Menjauh dan menggelengkan kepalanya. Jijik.

“Jangan dekatkan itu padaku. Aku jadi mual.”ungkap namja itu tanpa melihat raut wajah Ahreum.

Gadis itu malah tertawa. Baru kali ini ia bertemu namja pembenci sayur. Namja itu terlihat kesal melihat raut kemenangan Ahreum. “Harusnya kau pesan makan hangat, jajjangmyun misalnya.”lanjut namja itu. Jemari panjangnya mulai mengaduk-aduk mangkuk berisi jajjangmyun yang ia pesan.

“Aku sudah janji makan malam dengan seseorang sayangnya.” Ahreum mulai memakan saladnya. Entah kata ‘seseorang’ dari mulut gadis di depannya membuat selera makannya hilang. Jadilah namja itu mengaduk-aduk jajjangmyun di depannya dengan sumpit.

“Oh, is that someone your boyfriend, isn’t he?”tanya namja itu dengan English US yang cukup fasih. Lagi-lagi Ahreum teringat New York. Okay, stop think ‘bout that fucking City.

“Bukan, dia eonni-ku. Ya, walaupun kita seumuran. Bisa dibilang sepupu lah.” Ahreum tersenyum lalu menyesap moccaccinonya. Namja itu mengangguk. “Ah, aku lupa kita belum berkenalan. Ahreum, Kim Ahreum imnida..”ujar Ahreum sambil mengulurkan tangannya.

“Kris Wufan. Tapi kau bisa memanggilku Kris saja.” Namja itu pun menjabat tangan Ahreum.

“Nice to meet you, Mr. Wu.”kata Ahreum sambil tersenyum. Manis.

“Me too, Miss Kim.”

“Pernah tinggal di US?”tanya Ahreum.

“Ya, aku besar di Kanada, sebenarnya. Lalu pindah ke Korea, China dan Korea lagi.”jawab Kris melanjutkan makannya.

“Pantas saja aku melihatmu begitu familiar seperti, namja-namja di US. Dulu aku tinggal di New York, tapi hanya tiga tahun karena menyelesaikan Junior Highschool-ku disana.” Kini giliran Ahreum yang mengoceh. Namja itu malah tampak senang mendengarkannya.

“Oh ya?”

“Ne. Ah, kau juga keturunan China?”

“Iya. Nama lengkapku Wu Yi Fan.”

“Lucu sekali. Berarti aku tidak salah memanggilmu, Mr. Wu. Iya ‘kan?”goda Ahreum diikuti tawanya.

“Lucu?”heran Kris.

“Iya, namamu lucu. Wu Yi Fan, itu terdengar lucu. Hehe.” Ahreum tertawa semakin lebar.

“Ya! Kau belum pernah ke China, ya?” kesal namja itu.

“Belum pernah gege.” Yeoja yang memiliki innocent face itu menggeleng.

“Nah itu, kau tau harus memanggilku apa. Tapi aku tidak heran, sih.” Decakan kecil terdengar di akhir kalimat yang dilontarkan Kris. Oh, sifat cool namja itu sudah kembali rupanya.

“Kau mengataiku, gege?”

“Tidak, siapa bilang?”

“Aigu.”Ahreum memanyunkan bibirnya. “Eum, ngomong-ngomong, kau sedang apa di Incheon?”tanya gadis itu. Ia sudah selesai memakan saladnya.

“Aku? Hei, nona manis, aku tinggal di Incheon memang.”

“Oh, aku kira kau mau ke bandara juga.”

“Memangnya kau mau ke bandara, eoh?”

“Iya, menunggu sepupuku yang kembali ke Korea dari New York.”

Kris mengangguk mendengar jawaban Ahreum. Ia meminum minumannya lalu mengeluarkan dompet—untuk membayar makanannya dan gadis di depannya—kemudian ia langsung mengajak Ahreum keluar dari restoran itu. Yeoja itu tertegun. Namja ini benar-benar beda dari apa yang ia kira.

“Gomawo.”ujar Ahreum begitu mereka sudah diluar restoran.

“Untuk?”tanya Kris.

“Makan malam.”

“Ah, sudah sewajarnya namja seperti itu nona manis.”Kris mengacak rambut Ahreum. Gadis itu memang lebih pendek darinya. Ciri khas cowok New York—lagi.

“Ya! Rambutku~”rengeknya manja.

“Dasar yeoja manja!”ejek Kris. “Umurmu berapa sih?”

“Enak saja, aku sudah 18 tahun tau.”ungkap Ahreum manja. (Transylvania Ringing Rock

“Aku lebih tua dua tahun darimu, pabo. Kau mau kembali ke bandara, eoh?”tanya Kris. Ahreum segera melihat jam tangannya. Baru jam enam lebih lima belas. Masih ada empat puluh lima menit lagi sebelum si ‘gadis menyebalkan’ itu pulang.

“Tidak. Mungkin, aku akan berjalan-jalan dulu. Menikmati waktu sebelum sepupuku pulang.”jawabnya pelan.

“Hei! Mau ku tunjukkan tempat bagus di daerah sini?”tawar Kris.

“Boleh.”

“Kajja!”

Lagi. Kris langsung menggandeng tangan Ahreum begitu saja. Membawa gadis imut itu ke sebuah tempat favoritnya saat musim dingin. Mereka berjalan menyusuri jalanan ramai dekat bandara Incheon berdua. Ahreum sedikit kewalahan mengikuti langkah kaki Kris yang besar-besar. Tak sampai setengah jam, mereka sampai di sebuah tempat yang cukup indah.

Sebuah danau kecil. Di tepinya ada sebuah dermaga kecil dari kayu jati yang kuat. Ada dua buah perahu dayung berjajar di sampingnya. Dan kini, Kris mengajak Ahreum duduk di bawah pohon yang di atasnya terdapat rumah pohon yang cukup besar.

“Ini tempat apa? Indah sekali.”tanya Ahreum sambil melihat sekeliling.

“Sebelum keluargaku pindah ke China, kami dulu tinggal di sana.”Kris menunjuk ke arah jajaran villa-villa elit di seberang danau. “Dan kami sering menghabiskan waktu di sini.”lanjutnya.

“Keluargamu di China?”

“Iya.”

“Jadi kau sendiri. Keluargaku juga ada di New York semua.”Ahreum terkekeh. Ternyata ada juga orang yang senasib dengannya.

“Kau pikir itu lucu, Ahreum-ssi?”

“Maaf, tidak kok. Wah, aku baru tau kalau danaunya sudah menjadi es.”Ahreum sedikit berteriak dan langsung berlari kecil menuju dermaga kecil danau itu. Kris menyusul di belakangnya.

Benar. Danau itu sudah menjadi es kira-kira setebal satu atau dua senti meter. Karena belum turun salju. Ikan-ikan terlihat berenang di danau itu. Ahreum sangat senang melihatnya. Ia mengira hal ini hanya terjadi di kutub saja.

Kris berdiri di samping gadis itu. Ahreum terus saja mengoceh tentang ikan-ikan disana. Bagaimana ia ingin memancing, lalu memakan ikan tersebut bersama dengan keluarganya. Membakar barbeque, kebab, dan ia merindukan ayahnya. Udara semakan dingin. Butiran-butiran salju mulai turun di tanah korea, Incheon.

“Wah, salju!!” Ahreum kembali berteriak, membuat Kris tertawa dan menggeleng pelan. Gadis itu mengulurkan tangannya yang tak memakai sarung tangan agar dapat merasakan salju pertama.

“Salju pertama turun di Incheon.”tanpa sadar Kris mengikuti tingkah Ahreum. Hal yang tak pernah ia lakukan sejak berumur tiga belas tahun. Mungkin ia merindukannya.

“Salju pertama?”gumam Ahreum. Ia menolehkan kepalanya ke arah Kris. Senyumnya mulai terkembang menghiasi wajahnya.

“Kenapa diam? Kau kedinginan?”tanya Kris. Ahreum menggeleng pelan. “Lihat, kau bahkan tidak memakai sarung tangan. Kemarikan tanganmu.”perintah Kris.

Kris pun menggengam tangan kiri gadis di sampingnya. Perlahan ia mulai memasukkan tangan mereka berdua ke saku mantel tebalnya. Deg! Ahreum hanya dapat diam, merasakan debaran jantungnya.

Drrrt~

Ponsel Ahreum bergetar, mau tak mau ia menarik tangannya. Ternyata si ‘gadis menyebalkan’ sudah sampai di bandara. Bahkan di saat seperti ini gadis itu benar-benar menyebalkan. Untung saja ia masih ke kamar kecil. Ahreum segera menutup sambungan teleponnya.

“Wae?”

“Sepupuku sudah sampai di bandara ternyata. Maaf dan terimakasih untuk semuanya, ya.”ujar Ahreum. Tanpa mereka sadari seberkas perasaan aneh mulai menyelimuti hati mereka. Sedih? Mungkin saja.

“Iya. Aku jga, nona Lee.” Kris sedikit terkekeh membuat kepulan uadara di depan wajahnya. “Apa kau akan datang ke Incheon lagi?”lanjut Kris.

“Nde?”

“Ani—lupakan. Sana segera kembali ke bandara.” Kris mengacak lembut rambut Ahreum. Gadis itu menggembungkan pipinya kesal. Padahal ia hanya ingin namja itu mengulangi pertanyaannya. Memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Gadis itu lantas tersenyum. Lalu dengan langkah kecilnya ia mulai meninggalkan tempat tersebut. Danau kecil serta pemandangan yang indah. Meninggalkan seorang namja kembali sendirian di sana. Kris hanya memandang dengan tatapan yang sulit diartikan pada punggung Ahreum yang perlahan mulai menghilang. Begitu sampai di keramaian, Ahreum berlari menuju bandara. Kembali ke tempat tunggu tadi.

“Ahreum-aa! Aku kembali!!!”teriak seorang gadis dengan senyum terkembang di wajahnya. Gadis itu menghampiri Ahreum dan langsung memeluk gadis itu. Ahreum hanya membalas seadanya. Bahkan koper besar gadis dari New York itu digeletakkan begitu saja.

“Aku tau. Kau sendirian?”

“Ya! Kau pikir seberapa besar nyaliku datang ke Korea sendirian, huh?”gadis itu mengomel.

“Jangan mengomeliku Kim Sulli. Ini bandara, kau tau?” geram Ahreum.

“Maaf. Jadi… sebenarnya aku kemari bersama~” Sulli menggeser sedikit badannya agar Ahreum dapat melihat seseorang di belakangnya.

“Luhan?”gumam Ahreum tidak percaya.

To Be Continued 🙂

Iklan

6 pemikiran pada “Cinnamons (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s