Hard To Be Love (Chapter 4)

Hard To Be Love Chapter 4

AUTHOR                  : Hwang Ji Jae ^^  @berti_kim9

CAST                         :

  • Choi Ryeo Na/Ryeonie/Shailee Choi (OC)
  • Kim Jong In/Kkamjong/Kai (EXO-K)
  • Kang Shin Kyung/Kyungie (OC)
  • Oh Se Hoon/Sehun (EXO-K)
  • Lee Chae Ri/Chaeri (OC)
  • Kim Joon Myun/Suho (EXO-K)

OTHER CAST          :

  • Byun Baek Hyun/Baek Hyun (EXO-K)
  • Park Chan Yeol/Chanyeol (EXO-K)
  • Wu Yi Fan/Kris (EXO-M)
  • Xi Lu Han/Lu Han (EXO-M)
  • Choi Si Won (SJ)
  • Choi Soo Young (SNSD)
  • Kim Jong Dae (EXO-M)
  • Kim (?) Seo Hyun (SNSD)

RATING                    : PG 17+ #ah gatau dah pusing gue -,-

LENGTH                   : Chaptered / Series Fic

GENRE                      : Romance

  Humor #rada ragu nih :/

AU (School, Friendship, Family)

Het/Shoujo

 

Annyeooooooooooooonggg!!!!!! *teriak pake toa *ngga ada yg nyaut -_-

Aku balik lagi bawa fanfic Hard To Be Love yg cast nya kece-kece sama kayak authoooor 😀

Makasih yg udah ngomen di chap sebelumnya, komen –yang emang ngga banyak—itu bikin motivasi author nambah! 😀

Semoga perbaikan dari chapter sebelumnya bisa MEMUASKAN kalian xD HUAHAHAHAHA *krekes* Buat yang udah nunggu lanjutan fanfic ini silahkan nikmati aja sepuasnya yaaaaaa =))))

HARD TO BE LOVE à Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Sekian dan terimakasih…….. *turun dari podium #GUBRAKK!! *jatoh *ngga ada yang nolongin /miris/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Previous chapter …

Dia memindahkanku kekasur dan mulai menindihku lalu kembali menciumku, ciumannya kali ini agak liar. Berbeda dengan yang tadi. Kenapa dengan dia? Aku tak menghiraukannya dan langsung membalas kecupannya tak kalah liar. Aku tak menyangka bahwa dia sangat mahir dalam berciuman. Padahal aku tahu first kiss nya direbut olehku kikiki.

–V–

Author’s POV

Kyaaa! Kim Jong In! Sedang apa kau?!!

Ryeona kaget saat tangan Kai jahil meraba sesuatu didadanya. Merasakan dadanya sedikit geli, Ryeona menggelinjang dan mendorong Kai agar menjauh. Bukannya menjauh, Kai malah semakin mendekap Ryeona. Menarik tengkuknya dan kembali memperdalam ciumannya. Melesakkan lidahnya kedalam mulut Ryeona dan Ryeona pun mulai pasrah dengan keadaan. Tapi tiba-tiba Kai melepaskan ciumannya.

“Kau.. mulai mencintaiku? Hahaha”, ucap Kai saat ia melepaskan tautannya.

Ryeona kaget saat ia menyadari bahwa Kai hanya bermain-main atas perlakuannya tadi. Lagi-lagi ia ditipu oleh perlakuan lembut Kai. Dengan sekali hentakan, dia menendang dada Kai dengan kedua kakinya yang jenjang itu. Tak salah jika sekarang Kai terjengkang (?) sampai jatuh dari kasur, toh Ryeona kan jago sekali renang. Sudah pasti jika kaki jenjangnya itu kuat dan sehat.

“Kau.. berani-beraninya kau mempermainkanku lagi. Apa sebenarnya maumu huh?”, ujar Ryeona dengan setengah amarah nya yang sebentar lagi akan memuncak.

“Ya! Bisakah kau memperlakukanku sedikit lebih lembut? Kau membuatku meringis kesakitan tau!”

“Hah?! Apa itu yang bisa kau katakan huh?! Dasar namja jadi-jadian, tidak salah kalau aku menyebutmu namja sialan! Oh ya, tambah satu lagi.. byeontae!”, teriak Ryeona sambil berdiri dan menunjuk-nunjuk kearah Kai yang menatapnya dengan bingung.

Memang apa yang telah kulakukan padanya? Apa itu salah?, tanya Kai pada dirinya.

Ryeona naik kembali keatas kasur dan menenggelamkan dirinya didalam selimut. Ia merutuki dirinya karena hampir saja harga dirinya jatuh didepan namja itu. Apa sudah jatuh? Entahlah. Yang penting sekarang Ryeona tidak ingin memikirkan dulu debaran hatinya saat ini. ia pun tak lama kemudian tidur dengan nyenyaknya hanya dalam waktu 5 menit.

Sedangkan Kai, yang sedaritadi sama-sama merutuki dirinya dan berpikir apa kesalahannya masih saja bergumam sambil berpikir. Dan tak lama kemudian, Kai pun naik kekasur dan tidur bersama Ryeona. Tanpa melakukan hal apapun lagi pasti dan tentunya.

–S–

Esok harinya..

“Ugh.. hoaaaahmm.. Dimana ini?”, tanya Shinkyung saat ia baru bangun dari tidur nyenyaknya kemarin malam.”Ahh, mengapa aku sampai lupa? Aku kan sedang ada diapartemen Sehun. Oh iya, Sehun..”

Serasa teringat Sehun, Shinkyung langsung pergi meninggalkan selimut dan benda-benda yang menemaninya saat tidur tadi malam. Ia menghilang dibalik pintu kamarnya. Tak lama kemudian, ia dikejutkan seorang namja yang sedang memasak. Memakai celemek berwarna pink dan itu membuat sipemakai terlihat cute. Tapi sayang, celemek yang dipakainya menjadi kotor seperti dapurnya yang sekarang telah menjadi kapal pecah.

Sehun, namja itu, mencoba memasak makanan untuknya dan Shinkyung. Ia ingin membuat Shinkyung ceria lagi dengan masakan yang ia buat. Meskipun resep dan cara pembuatannya ia dapat dari D.O, salah satu member digrup nya. Tapi, usahanya nihil. Tak berhasil sekalipun. Lebih susah memasak daripada dance untuknya.

Shinkyung menghampiri Sehun . Ia sekarang sedang menahan tawa. Ia menjaga agar tawaannya tidak meledak saat ia melihat Sehun dari jarak dekat. Dan benar saja, Shinkyung tidak bisa lagi menahan tawanya saat Sehun membalikkan badannya saat Shinkyung ingin menyapa Sehun.

“HUAHAHAHA”, ledak Shinkyung.

“Ya! Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu huh?!”, tanya Sehun kesal.

“Hahahaha, bagaimana tidak tertawa? Melihatmu memakai celemek pink yang kotor dan juga mukamu yang sama-sama kotor itu, bagaimana bisa aku tidak tertawa huh? Hahahahaha”, tawa Shinkyung semakin meledak dan Sehun hanya bisa mendesah penuh kesal.

Hey, dia tertawa lagi. Dan aku yang membuatnya tertawa. Kau hebat, Oh Se Hoon.

Sehun yang cemberut kesal menjadi tersenyum gembira saat melihat Shinkyung yang tadi malam ia nyanyikan lullaby karena susah tidur, yang selalu mengigau karena dicampakkan pacarnya, yang selalu mengatakan ‘jangan pergi’ sambil tidur juga. Dahinya yang mengkerut saat tidur yang menandakan sesuatu yang buruk terjadi dimimpinya. Sehun yakin kalau Shinkyung tidak akan bisa tidur nyenyak jika tidak ada dia disampingnya.

Dan akhirnya, Sehun bisa melihat kembali senyuman itu. Senyuman saat Shinkyung selalu perlihatkan ketika bertemu dengan seseorang yang memakai pakaian yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya hingga Sehun tidak bisa melihat jelas siapa dibalik pakaian itu. Tapi tak lama kemudian senyuman ia pudar dan diakhiri oleh tangis dan isakan dari seorang yeoja yang ia sukai, ia cintai, Kang Shin Kyung.

Shinkyung yang sedang tertawa puas tiba-tiba menghentikan tawaannya itu ketika melihat Sehun yang sedang tersenyum-senyum sendiri menatapnya.

“Ya! Kau kenapa Sehun?”, tanya Shinkyung.

Sehun terperanjak kaget dan hanya bilang,”Gwaenchana”. Shinkyung mengangguk dengan bingung lalu menanyakan apa yang sedang dimasak Sehun.

“Aku sedang membuat dorayaki. Tapi sumpah aku tidak bisa. Padahal resep dan cara pembuatannya sudah ada dan lengkap. Bahkan D.O hyung menjelaskan bagaimana cara memasak yang benar”, ujar Sehun dengan jelas.

Dan akhirnya Shinkyung membantu Sehun untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dengan melewati bersama, Shinkyung dan Sehun menjadi lebih dekat. Shinkyung pun sudah menerima Sehun sebagai chingu dihatinya. Tapi, ada sesuatu yang ganjal juga dihatinya. Entahlah apa itu. Mereka memakan sarapan yang mereka buat pagi ini.

“Hmm, mashitta!”, ucap Shinkyung setelah mencicipi sedikit dorayaki yang telah mereka buat.

“Hmm, iya. Ini memang enak, untung saja aku menerima bantuanmu hehe”

“Huh, aku kan manager artis. Jadi aku harus bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini”

“Apa katamu? Hal kecil? Wah, hebat sekali kau”, puji Sehun. Dan itu sukses membuat pipi Shinkyung berubah warna. Malu.

“Hehe, tentu saja. Shinkyung gitu loch!”, ucap Shinkyung bangga. Sebenarnya itu hanya untuk menutupi rasa malunya saja kikiki.

Hening sesaat. Hanya ada suara sendok dan garpu dipiring. Keadaan semakin canggung, padahal mereka sudah akrab tapi kenapa sekarang jadi canggung? Hemeh!

“Emm, Kyungie, bolehkah aku menawarkanmu sesuatu?”, tanya Sehun.

Kyungie? Ah itu.. aku jadi kangen Ryeonieeeeee…

“Oh? Apa itu?”, tanya Shinkyung balik menandakan setuju.

“Emm, maukah kau.. menjadi..emm..”

“Menjadi? Menjadi apa?”

“Menjadi.. menjadi managerku?”, tanya Sehun.

Sehun menundukkan kepalanya. Ia tak kuasa menahan malu. Sungguh Shinkyung tak bisa menahan tawanya (lagi). Ia meledakkan tawaannya (lagi) didepan Sehun dan membuat namja itu meringis kesal (lagi) atas perlakuan Shinkyung.

“Ya! Aku serius!”

“Hah? Arraseo arraseo haha. Jadi, maksudmu aku menjadi manager grupmu, begitu?”

Tiba-tiba saja wajah Shinkyung yang sedang tertawa sedetik kemudian berubah menjadi wajah serius.

“Ah, bu-bukan.. i-itu…”

Sehun menjadi sedikit salah tingkah. Sebenarnya bukan menjadi grup EXO yang dia maksud. Tapi menjadi manager pribadinya, manager seorang Oh Se Hoon member dari EXO. Tapi akhirnya –karena malu–Sehun menganggukkan kepalanya mantap, menandakan bahwa dia serius dengan ucapannya.

“Hmm, maukah?”, tanya Sehun lagi. Ia menatap Shinkyung dengan tatapan memelas, memohon.

“Hhh, baiklah”

Kata singkat, padat, dan jelas yang Shinkyung lontarkan sontak membuat Sehun berjingkrak-jingkrak (?) kegirangan.

“Heh, biasa aja kali ngga usah heboh gitu. Norak amat! -,-“

“Ehehehe..”

Merekapun melanjutkan brikfest #maklum pinter basa ingles -_- mereka dengan lahap.

—–

Sinar matahari menusuk dan menembus mata sang yeoja yang sedang tidur disebuah kamar. Entah kapan jendela itu terbuka sampai angin pagi yang dingin pun masuk dan hampir menembus kaus piyamanya yang tipis. Dengan sekali gerakan, ia menepis cahaya itu dengan tangannya dan menarik kain tebal dan hangat yang sering dibilang selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang mulai menggigil.

Seorang namja yang sedikit terusik dengan gerakan yang membuat blanket hangat yang ia pakai menghilang dari jangkauan tubuhnya, segera masuk kembali kedalam naungan blanket hangat itu. Lebih hangat dari yang sebelumnya, dan wangi. Kakinya yang panjang melewati batas kasur karena ia tidur sedikit lebih turun dari yang sebelumnya. (Ngerti nggak readers?? O.O)

Didalam selimut itu, si namja alias Kai, memeluk guling yang sangat besar. Gulingnya sangat panjang dan nyaman. Ia pun tak ingin melepaskan guling yang sekarang ada didekapannya itu. Ia malah semakin erat memeluknya. Tapi ada yang beda dengan gulingnya itu.

Semakin ia menenggelamkan wajahnya pada guling itu, semakin juga ia merasakan keberadaan dua gundukan. Kenyal dan nikmat. Tak ia rasa ia menciuminya. Membuat sang pemilik gundukan yang sebenarnya bukan guling mendesah menahan kegelian.

“Ahh.. uhm.. ahh”

Ryeona yang notabene guling didunia Kai merasakan kegelian yang amat sangat geli #apalah ini -_-. Kai terus saja mencium gundukan itu yang kebetulan tidak memakai pelindung, meskipun tertutup piyama yang tipis. Puncaknya yang seperti tombol pun menegang menikmati sensasi nya. Ryeona terus-terusan mendesah dan belum sadar bahwa Kai menciumi.. ehem.. payudaranya.

Hmm, apa ini? Kenyal dan besar. Seperti marshmallow super big saja.

Kai pun ketagihan menggigit-gigit kecil sesuatu yang menjadi puncak gulingnya itu. Dan tak lama kemudian Kai tidak sengaja menggigit keras sesuatu itu dan membuat sang pemilik bangun dan memegangi sesuatu yang sakit didadanya.

“Kyaaaa!”, Ryeona menjerit kaget saat Kai menggigit nipple nya keras.

Kai pun ikut kaget dan langsung terbangun saat mendengar teriakan histeris dari Ryeona. Ryeona memegang nipplenya yang berdenyut-denyut karena kesakitan. Saat ia melihat kearah dadanya, ia menjadi kaget dua kali saat melihat piyama nya basah dan membuat payudaranya yang sebelah kiri pun basah total.

Kai yang masih mengucek-ngucek matanya pun sama-sama terlihat kaget saat melihat pandangan dihadapannya saat ini. Dia hanya bisa melihatnya sambil menelan ludahnya berkali-kali. Bagaimana tidak? Dihadapannya sekarang dilihatkan sebuah #inget nih sebuah engga dua nyanyah# benda berwarna putih susu-bulat-besar-dengan-satu-benda-kecil-berwarna-coklat-kemerahan-ditengahnya. Yang jika dilihat dari luar sepertinya benda itu kenyal.

Karena piyama milik Ryeona yang basah dan transparan memperlihatkan sesuatu yang indah dibaliknya.

“KYAAAA!!! KIM JONG IN!! KELUAAAARRR!!!! SEKARAAAAANG!!!!”, teriak Ryeona dengan nada histeris, kesal, marah, dan malunya yang menjadi satu.

Kai yang tidak kuat mendengar teriakan Ryeona pun langsung keluar dengan perasaan aneh didalam hatinya.

Apa yang kulihat itu benar? Aish! Kim Jong In, apa yang telah kau lakukan padanya barusan huh?!

Kai pun sibuk merutukki dirinya sendiri karena tidak menyadari bahwa ia telah berbuat pelecehan terhadap seorang yeoja. Sedangkan Ryeona masih mencoba mengendalikan perasaannya yang sedang dilanda perang (?) ini.

Kyaaaa! Apa yang terjadi? Kenapa dia menggigit.. ahh, apa sih yang dia pikirkan? Dasar Kim Jong In! Awas kau!

Ryeona tidak bisa menahan amarah dan malunya. Ingin rasanya ia menjambak-jambak rambut Kai, tapi disisi lain ia malu karena Kai telah melihat sebagian dari tubuh vitalnya. Bagaimana ini? Jika saja masih bisa, ia akan kembali tidur dan melupakan kejadian tadi.

Ia pun berniat untuk membersihkan badannya. Ia mengira bahwa Kai juga sudah meraba semua kepunyaannya. “Dasar namja sialan! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMUUU!!!!”, teriak Ryeona frustasi.

—–

“Hmm, pagi yang indah!”, ucap seorang yeoja yang sedang berjalan disekeliling kolam dengan ceria.

Namun, tak lama kemudian wajah ceria yeoja itu berubah menjadi murung dan sedih. Entah kenapa. Tapi dari raut mukanya sepertinya ia sedang sakit hati.

“Huh! Dasar namja pervert! Kalau aja kamu tuh ngga mesum, kita pasti masih bersama seperti dulu”, ucap yeoja itu dengan nada kesal.

“Mengapa kau menyakitiku seperti itu.. Chanyeol oppa? Mengapa saat itu, kau berbuat hal keji yang bahkan aku pun belum pernah bisa membayangkannya”, ucap yeoja itu lirih. Dia menahan tangisnya saat mengingat masa lalunya bersama seorang namja yang sebenarnya sangat ia cintai.

Flashback…

CIPRAT.. CIPRAT.. ß anggep aja backsound lagi nyiprat air ya readers -_-

“Ya oppa! Kenapa kau melakukan itu?! Lihat! Bajuku kan jadi basah!”, seru seorang yeoja.

“Ehehe, mianhae chagi. Habisnya kau diam saja sih, jadi aku jahili saja kau hahaha”, ujar seorang namja yang tidak lain adalah kekasihnya.

“Huh! Dasar Chanyeol tiang listrik!”

“Mwo? Berani-beraninya kau memanggilku tiang listrik. Tanpa oppa pula”, kata sang namja yang disebut Chanyeol kesal.

“Ehehe.. lalu kenapa, oppa tiang listrik kekeke”, ucap sang yeoja dan langsung berlari.

“Ya! Kemari kau Chaeri pabo!”

“Tidak mau! Wlee”

Chaeri pun berlari dan Chanyeol pun terus mengejarnya. Chaeri menyipratkan air kolam kewajah Chanyeol sebagai hukuman. Tak ingin kalah, Chanyeol pun menyipratkan beberapa butir air yang akhirnya malah membuat Chaeri hampir basah kuyup.

“Ya! Oppa! Lihatlah bajuku jadi basah! Tanggung jawab!”

“Eh? Kenapa harus aku?”, tanya Chanyeol dengan tampang watados nya.

“Tentu saja! Kau kan yang sudah membuatku basah seperti ini. Kalau tidak mau, aku akan pulang”

Tanpa menghiraukan jawaban dari Chanyeol, Chaeri langsung meninggalkan Chanyeol yang tengah terpaku karena ditinggal yeojanya itu. Dengan sigap, Chanyeol berlari mengejar Chaeri dan langsung menarik Chaeri.

“Baiklah, aku akan tanggung jawab.. kevillaku sekarang”

Dan sekarang, Chanyeol yang tidak menghiraukan jawaban Chaeri. Ia langsung menarik Chaeri pergi dari tempat itu dan menggiringnya kevilla miliknya. Yang kebetulan tidak jauh dari lokasi. Sesampainya divilla, suasana menjadi canggung.

Ini pertama kalinya Chaeri masuk kevilla Chanyeol. Itu membuatnya salah tingkah dan tak tahu ingin berbuat apa.

“Ini, pakai dulu”

“Eh? Oppa, tapi ini.. pasti kebesaran”

“Aku tahu. Biarlah, daripada kau kedinginan dan menggigil seperti itu”

“Arraseo..”

Chaeri pun mengganti pakaiannya dikamar Chanyeol. Chanyeol pun menunggu Chaeri sambil menonton televisi. Tak lama kemudian, Chaeri datang dan membuat Chanyeol yang menengoknya menelan ludahnya. Sekarang Chaeri memakai kaos basket milik Chanyeol. Kebesaran namun imut jika dipakai oleh Chaeri.

Chanyeol pun mendekati Chaeri tanpa memalingkan wajahnya dari tubuh Chaeri. Tak ia sangka ‘yeojanya’ itu sangat seksi. Meskipun tak seseksi Choi Ryeo Na yang sekarang sedang dekat dengan Suho. Tak kuasa ia menahan hasrat yang sedang bergejolak didadanya kini.

Ia sedang menginginkan sesuatu dari yeojanya itu. Setelah Chaeri sudah tepat berada dihadapannya, Chanyeol tak bisa menahannya lagi. Ia pun langsung menarik tengkuk Chaeri yang sedang menatap Chanyeol bingung dan langsung menciumnya.

Dengan penuh nafsu, Chanyeol yang sedang menikmati permainannya segera melanjutkan kejenjang (?) yang lebih tinggi. Ia menarik pelan kaos besar yang dipakai Chaeri keatas, membuka perlahan-lahan. Chaeri yang tidak sadar hanya membalas kecupan dalam Chanyeol, namjachingu nya. Tak lama kemudian, Chanyeol memasukkan satu tangannya kedalam kaos itu sedangkan tangan yang satunya menekan tengkuk Chaeri.

Chaeri kaget saat Chanyeol meremas pelan payudaranya. Ia mencoba memberontak, tapi Chanyeol yang notabene namja tidak ingin kalah dan langsung mendekap Chaeri lebih erat. Membuat Chaeri pun tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa mendesah merasakan remasan pelan dari Chanyeol.

“Andwae.. jangan begini Chanyeol oppa”, batin Chaeri.

Ia tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Terlalu susah berbicara daripada mendesah untuknya sekarang. Chanyeol yang tidak sadar terus memimpin permainan tanpa mengkhawatirkan yeojachingu nya. Ia terus memainkan ‘mainan’ dari yeojanya itu sampai lama-lama menjadi agak kasar.

“Arghh.. Chanyeol oppa.. andwae..”, ujar Chaeri saat Chanyeol melepaskan ciuman panasnya.

Tak Chanyeol gubris kata-kata Chaeri itu. Ia pun langsung membungkam mulut yeojanya itu dengan ciuman panas dan lebih panas dari yang barusan. Dengan lumatan kasar yang Chanyeol berikan, Chaeri tak kuasa untuk menahan tangisnya.

“Mengapa Chanyeol oppa menjadi berubah seperti ini?”, batin Chaeri lagi menangis.

Chanyeol terus melumat dan meremas kasar tubuh Chaeri, seakan-akan dia kehilangan kesadaran. Dan memang, Chanyeol sedang kehilangan akal sekarang. Ia menggendong Chaeri kekamarnya tanpa melepaskan tautan panas terhadap yeojanya. Ia segera membaringkan dirinya dan Chaeri dikasur saat mereka tiba dikamar.

Dengan sekali tarikkan, kaos yang dipakai oleh Chaeri tergeletak tidak rapi dilantai. Chanyeol memandang sesuatu yang indah (menurutnya) yang sekarang terpampang jelas dihadapannya. Tak lama kemudian, Chanyeol melahap kedua gundukkan itu. Chaeri takut pada Chanyeol sekarang. Oppa yang selalu dipujanya berubah seperti orang yang lapar terhadap tubuhnya.

Chaeri hanya bisa mendesah dan menangis. Desahannya keluar tanpa persetujuan dari otaknya. Hanya mulutnya yang mendesah tapi tidak dengan pikirannya. Ia memikirkan cara untuk keluar dari ‘namja’ ini. Ia pun menendang keras milik namja itu. Dia tidak peduli meskipun ia menendang Chanyeol yang notabene adalah kekasihnya dengan keras.

Chanyeol jatuh dari kasur. Tak lama ia pun bangun dan menatap sangar pada Chaeri. Ia langsung membuka pakaian atasnya, membuatnya topless. Dengan sigap, ia menangkap Chaeri dan menjatuhkannya kekasur lagi. Langsung melumat kasar bibir mungil milik yeoja itu.

“Hiks.. hiks..”, isak Chaeri disela-sela ciuman mereka.

Chanyeol yang menyadari bahwa Chaeri menangis pun segera melepaskan ciumannya. Dia menatap Chaeri kosong. Pikirannya masing penuh dengan pikiran yadong tentang yeojanya. Tak butuh waktu lama, akhirnya Chanyeol kaget dan langsung bangun menjauhi Chaeri.

Chaeri menutup tubuhnya dengan selimut dan terus menangis. Chanyeol yang bingung karena tidak menyadari apa yang telah ia lakukan segera merubah dirinya yang sangar menjadi lembut. Dan dengan kelembutannya ia menyentuh yeoja nya.

“Chagiya, kenapa?”, tanya Chanyeol.

“Hiks.. hiks.. Kau.. hampir merebut keperawanku. Kau tau itu?!”

Chaeri tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia menumpahkan kekesalannya terhadap Chanyeol. Ini adalah pertama kalinya mereka mempunyai masalah. Chaeri terus memarahi Chanyeol dan akhirnya ia mengambil baju yang tergeletak dilantai dan memakainya kembali. Dengan celana basah yang sebelumnya ia pakai, ia keluar dari apartemen Chanyeol.

Chanyeol menahannya tapi Chaeri tetap pada pendiriannya. Menjauh dari Chanyeol. Hingga seminggu lamanya mereka tak berbicara sama sekali. Chaeri terus menjauhi Chanyeol jika Chanyeol menghampirinya dengan sambutan atau senyuman khasnya. Chaeri takut jika suatu saat Chanyeol akan melakukan hal lebih dari yang sebelumnya. Hingga akhirnya…

“Chanyeol-ssi, aku ingin kita berakhir”, ucap Chaeri dengan susah payah. Itu adalah kata pertama non-banmal Chaeri pada Chanyeol. Ditambah dengan kesan dingin dan sedikit tidak peduli.

“M-mwo? Kau hanya bercanda kan, chagiya?”, tanya Chanyeol dengan raut wajah khawatir. Chanyeol mencoba untuk membelai pipi yeojanya, tapi Chaeri menepis tangan Chanyeol dengan kasar dan tak berperasaan.

“Aniya. Aku memang ingin kita berakhir sekarang, Chanyeol-ssi”

Kata-kata –ssi yang Chaeri ucapkan begitu menusuk kedalam hati Chanyeol. Yeoja yang ia cinta memutuskan hubungan dengannya dan tidak meninggalkan suatu kenangan dihari terakhir mereka akan bersama. itu sangat menyakitkan untuk Chanyeol.

“Jika kau memutuskanku hanya karena kejadian seminggu yang lalu, mohon maafkan aku. Aku tidak akan berbuat keji seperti itu lagi”

“Kalau kau tau perbuatan itu keji, lantas kenapa kau melakukannya PADAKU!”

“Mian, chagiya. Tolong jangan seperti ini. aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kau meninggalkanku. Jebal..”

“Andai kau tahu, oppa.. aku juga sangat mencintamu. Tapi.. aku.. kita.. tidak boleh meneruskan hubungan kita”, batin Chaeri.

“Maaf op.. Chanyeol-ssi, aku telah dijodohkan oleh namja pilihan appa. Dan aku.. aku.. mencintainya!”

“Mwo? Kau.. tidak mungkin. Kau pasti akan menolaknya dan kembali padaku kan? Kau tidak akan meninggalkanku kan?”

“Kau salah Chanyeol-ssi!”

“Jangan panggil aku seperti itu!”

“Maaf.. Chanyeol-ssi..”

Chaeri meninggalkan Chanyeol yang saat itu sangat terpuruk. Tanpa disadari Chanyeol, Chaeri pun menangis setelah meninggalkannya. Dan saat itulah, Chanyeol dan Chaeri melanjutkan hari-harinya tanpa mengingat masa lalu yang telah mereka tinggalkan.

 

Chaeri’s POV

Masa lalu? Masa lalu untuknya, tapi untukku? Aku ingin semuanya kembali. Aku tidak ingin menerima lamaran seorang namja yang tak aku kenal dan tidak aku cintai. Kalau saja aku memiliki time turner atau time machine, aku akan memutar waktu dan kembali pada saat itu. Saat itu dimana dia menyentuhku dengan kasar.

Aku tidak menyukai perbuatannya itu, tapi.. setidaknya pada saat itu lebih baik daripada sekarang. Sekarang, aku sudah terikat cincin tanda pertunangan. Seminggu setelah aku memutuskan Chanyeol oppa. Sayangnya, saat aku ingin kembali padanya, saat itu dia sudah memulai trainee nya untuk menjadi seorang bintang.

Kami.. memang tidak diizinkan untuk bersatu. Kami saling mencintai, tapi kami tak pernah luput dari suatu masalah. Dari awal memang sudah seperti itu. Harusnya aku sadar kalau kami tidak dipersatukan. Tapi hati ini, jiwa ini, dan juga raga ini, menginginkan dirinya untuk berada disisiku.

Aku berdiri ditepi kolam sambil menendang-nendang kecil pasir dan ada disekitarku. Dengan tatapan kosong aku memandang lurus kolam yang sekarang ada dihadapanku. Sepi. Sama seperti hatiku. Tanpa sahabat, tanpa keluarga, dan tanpa kekasih.

Sudah berapa lama aku meninggalkan Ryeona dan Shinkyung? Suho sunbae, Kai, dan juga Baekhyun sunbae? Hahh, sekarang aku malah sendirian disini. Keluargaku menyuruhku untuk diam disini sampai hari pernikahanku sudah dekat. Gila. Apa yang mereka pikirkan?

Apa aku dijual pada anak temannya? Hingga aku harus menunggu seperti patung seperti ini?  berapa lama lagi aku akan terpuruk dalam kesendirian. Ini semua membuatku gila. Aku butuh seseorang sekarang. Jangankan seseorang, disini pun tak ada siapa-siapa. Aku benar-benar sendiri disini.

CPLUK..

Aku menendang kerikil kedalam kolam untuk membuat suara didalam kesunyian. Huhh, bagaimana bisa sepi sekali dikota? -,-

“Eh? Kau.. Chaeri-a”, ucap seorang namja.

Aku pun membalik dan akhirnya aku menemukan satu sosok manusia. “S-sunbae..”

Author’s POV

“S-sunbae”, ucap Chaeri.

Ia tak percaya, akhirnya ada sosok manusia yang ia kenal disini. Seorang namja. Namja itu menghampiri Chaeri dengan senyumnya yang tampan. Seperti malaikat saja. Terlalu tampan untuk para namja yang telah ditemui Chaeri. Bahkan ‘mantan’ namjachingu yang masih ia pikirkan pun tidak terlalu tampan, hanya cute saja.

Chaeri pun tersenyum lebar dan dengan mata yang berbinar-binar karena senang ia pun menghampiri namja itu yang juga sedang menghampirinya.

“Sunbae..”

“Ah, ternyata benar ini kau. Lama tak jumpa, Lee Chaeri”, ucap namja itu sambil memamerkan gigi ratanya.

“Aigoo, Suho sunbae. Kau masih saja seperti dulu haha”

“Hei, kenapa memanggilku seperti itu? Aku kan bukan sunbae-mu lagi, jadi panggil saja aku oppa, ne?”

“Ah begitukah? Keureom, ne s-oppa hehe”,ujar Chaeri sambil cengengesan.

“Aih, kau masih saja belum bentes mengucapkan kata ‘oppa’ padaku. Sedangkan pada Chanyeol..”, Suho mengerucutkan bibirnya kesal.

Chaeri hanya diam memikirkan apa yang dikatakan Suho. Oppa? Chanyeol? Chanyeol oppa? Iya, Chaeri. Kau sering menyebut ‘mantan’mu dengan sebutan itu kan? -,-

Seakan teringat sesuatu, Suho menghentikan sikapnya yang makin lama seperti anak kecil itu. Ia baru ingat bahwa Chanyeol dan Chaeri sudah bubaran. Bahkan Chaeri yang memutuskannya duluan. Aish! Kenapa aku pabo sekali?!

“A—ah, em, Chaeri-a, mian aku.. aku..”

“Hmm, gwaenchana, oppa”, sahut Chaeri sambil mencoba tersenyum.

“Jeongmal?”

“N-ne”

Hening… Tak ada satupun dari mereka yang bicara. Akhirnya Chaeri pun berjalan menuju kursi kayu yang terletak disebelah pohon yang rindang. Daripada berdiam seorang diri, Suho pun mengikuti arah berjalan Chaeri dan mengikuti Chaeri, duduk disampingnya. Dan kemudian.. hening lagi.

“Emm, oppa?”, ucap Chaeri membuyarkan lamunan Suho.

“Hmm?”

“Aku.. aku mau curcol ama oppa, boleh?”, tanya Chaeri.

Suho menghadap Chaeri dan terseyum kembali.”Ceritakan apapun”

“Begini, oppa. Oppa pasti berpikir aku jahat karena berani memutuskan Chanyeol oppa yang saat itu sangat mencintaiku kan?”

Suho kaget dengan ucapan Chaeri. Ia tidak menyangka Chaeri akan membicarakan hal ini dengannya.

“Sebenarnya bukan seperti itu oppa. Mungkin ini bisa dibilang privacy tapi.. aku harus menceritakannya pada seseorang”

“Aku mengerti. Ceritakanlah, aku akan mendengarkanmu.”

“Tapi oppa jangan bilang pada siapapun apalagi Chanyeol oppa, ne?”, Suho pun mengangguk.

“Begini.. saat anniversary hubungan kami yang genap setengah tahun Chanyeol oppa mengajakku kencan. Sebenarnya bukan kencan, dia mengajakku bermain divillanya yang ada dekat pantai”

Ah.. villa itu.. aku tahu! Kami juga (EXO) pernah kesana, sekali, batin Suho. Ia pun hanya bisa mengangguk-ngangguk untuk mendengarkan cerita selanjutnya.

“Well, disana dia berbuat.. berbuat hal yang tidak senonoh padaku, oppa”, ucap Chaeri sambil menunduk. Ia menahan malu dan tangisnya. Suho pun membelalakan matanya. Bagaimana mungkin Chnayeol sekeji itu pada yeojachingu nya sendiri? Pikir Suho.

“Saat itu, hampir saja aku kehilangan ke-virginan ku. Jika saja aku tak menghentikannya, entah jadi apa aku sekarang”

Chaeri tak kuasa untuk menampung air matanya sendirian. Maka saat itu juga ia menumpahkan segala bebannya, namun terasa lega karena dia sudah mengeluarkan uneg-uneg nya pada namja ini, Suho.

“Hiks.. hiks.. dia begitu.. hiks.. aku sangat mencintai nya.. hiks..“, tanpa membuang waktu, Suho langsung menarik Chaeri kedalam pelukannya. Ia paling tak bisa jika melihat yeoja mengangis.”Tapi kenap.. hiks dia berbuat sesuatu yang keji.. hiks.. seperti itu.. hiks.. oppaaa!”

Chaeri semakin erat memeluk pinggang Suho. Ia ingin mengeluarkan beban yang selama ini ia tanggung sendiri.

“Uljima.. Kau sudah menyalurkan bebanmu padaku. Tenanglah Chaeri-a”, ucap Suho lembut sambil mengusap punggung Chaeri pelan.

“Hiks.. hiks.. Tapi oppa.. hiks”, Chaeri melepas pelukan Suho.”Bukan hanya itu alasan aku memutuskan Chanyeol oppa”

Suho mengernyitkan dahinya, seakan bingung apa yang baru saja dikatakan Chaeri.”A-aku sudah dijodohkan oleh namja pilihan umma dan appa hiks..”

Suho pun memeluk Chaeri kembali, membiarkan yeoja berparas cantik nan imut itu menangis didadanya.’Ooh, jadi begitu ceritanya’, pikir Suho.

“Biarlah, Chaeri-a. Jika kau sudah melangkah sejauh ini, menurutku lebih baik kau jalani saja hubungan dengan namja yang dijodohkan denganmu itu. Pasti namja itu baik, buktinya kan orangtuamu sudah menyetujui hubungan kalian”

“Bukan begitu, oppa. Aku.. belum pernah menemui namja yang dijodohkan denganku itu.. hiks”

“Eh?” kenapa seperti itu? “Baiklah, kau tenangkan saja dirimu dulu. Setelah pikiranmu kembali jernih, pikirkanlah apa yang akan kau putuskan”, ucap Suho lembut. Chaeri pun mengangguk.

Setelah beberapa saat…

“Oppa, sedang apa oppa disini?”, tanya Chaeri sambil memejamkan matanya, menghirup segarnya angin pagi.

“Emm? Aku sedang jalan-jalan saja kemari. Dulu aku sering kemari.. bersama yeojaku..”, ucap Suho sambil mengikuti Chaeri memejamkan matanya.

“Yeoja? Oppa punya pacarkah? Kok aku tidak tahu ya”

“Ahaha.. itu masa lalu Chaeri-a”, kata Suho sambil mengacak rambut Chaeri pelan. Tapi membuat yeoja itu mengembungkan pipinya kesal.

“Lalu, yeoching oppa itu kemana? Masih bersamakah?”, tanya Chaeri membuat Suho merinding mendengarnya.

“Chaeri-a.. dia sudah.. ada diatas sana”, ucap Suho pelan sambil tersenyum dan kembali menikmati semilir angin segar.

“Eh? Ah.. maafkan aku, sunbae. Aku benar-benar tid—“

“Hei, bukankah sudah kubilang kalau kau harus memanggilku oppa?”

“Eh?”, Chaeri kebingungan dan menghentikan aksinya untuk membungkuk 90dihadapan Suho.

“Jika kau memanggilku sunbae lagi, akan kuhukum kau”

“Huehehehe.. mian oppa”, kata Chaeri sambil cengengesan menampilkan V-sign nya.

“Lalu.. apa yang sedang kau lakukan disini. Sepertinya kau kabur dari rumah ya? Kau kan tak punya rumah didaerah sini”

“Aku disini menunggu hari pernikahanku dengan namja itu oppa. Sebelum aku menikah, aku diharuskan untuk merenungi diriku disini.. sendirian”

“Hah? Perjodohan macam apa itu?”

“Yahh.. entahlah. Tapi ini pertama kalinya orangtuaku memaksaku untuk melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan. Miris sekali hidupku ini..”

“Ahaha.. jangan begitu Chaeri-a. Aku tahu orangtuamu pasti mempunyai niat terbaik untukmu, makanya dia mengkekangmu untuk keluar. Dia pasti tidak ingin kau kabur dari perjodohan ini. mungkin saja hubungan orangtuamu dan orangtuanya sudah sangat dekat. Jadi demi menjaga kehormatan dan persahabatnnya dia tidak ingin membuat sahabatnya itu kecewa”, jelas Suho.

“Loh.. oppa. Kenapa oppa mengetahui dengan jelas asal-usul aku diperjodohkan?”

“Karena aku juga sudah terikat dengan seorang yeoja. Yeoja yang aku tidak tahu siapa orangnya”

“Eh? Begitukah? Kenapa kita bisa senasib begini oppa? Huh.. orangtua kita sama-sama aneh deh oppa”, gerutu Chaeri.

“Haha.. Ya! Mereka juga kan masih orangtua kita Chae-a”

“M-mwo?”, pekik Chaeri.

“Kenapa? Aku tak boleh memanggil nama kecilmu? Haahh.. aku pikir kau adalah dongsaengku”

“Hahaha, oppa. Jangan cemberut seperti itu, muka angelic mu berubah jadi kelinci yang ditinggal induknya, oppa. Hahaha”

DEG..

Entah hanya perasaannya saja atau memang benar kalau sekarang jantungnya berdetak lebih kencang saat melihat Chaeri tertawa lepas dihadapannya? Cantik sekali.. Dengan sekejap Suho mengalihkan pandangannya dan menutupi mukanya yang merah. Lalu memngacak lagi rambut Chaeri dan membuat yeoja itu kembali mengembungkan pipinya.

Hening.. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Yang ada hanyalah suara hembusan angin yang melewati telinga mereka.

“Oppa, maukah kau menemaniku sebentar divillaku?”

—–

Ryeona pergi kebalkon yang berada diluar ruang tamu. Menghisap dan menghembuskan udara dengan berat. Kenapa hidupku selalu sial jika aku sedang bersamanya? Ryeona terus saja menggerutu kesal atas apa yang telah terjadi pagi ini. Dia menyibukkan dirinya dengan membersihkan villanya agar tidak mendengar suara atau bahkan melihat namja yang sedaritadi menatapnya dengan bingung.

Tak henti-hentinya Ryeona berdiri dan mondar-mandir dibalkon tersebut. Memikirkan cara untuk keluar dari masalah kecil tapi besar yang sedang melandanya kini. Bagaimana aku bisa pulang?

DRRT.. DRRT..

Tanpa babibu Ryeona langsung mengangkat telpon dihandphone nya. Entah dari siapa.

“Yeobseoyo?”

“Shailee..”

“Eh? KRIS?!!”, mendengar pekikan Ryeona yang keras itu. Kai kaget dan langsung menghampiri yeoja itu. Ryeona langsung mengetahui itu Kris, karena .. siapa lagi yang menyebut Ryeona dengan nama Inggrisnya kecuali Kris?

“Hehe.. Yes its me”

“Ya! Neo eodiga?! Sekarang jemput aku! Ppaliwa!”, suruh Ryeona. Kai hanya bisa mengernyitkan dahinya. Bukankah disini tidak ada sinyal?

“Mian, Shailee. Aku hanya ingin tahu keadaanmu. Aku tidak mungkin menjemputmu sebelum umma menyuruhku. Jeongmal mian, Shailee”

“Eh? Ya, Kris! Kau itu managerku atau umma-ku sih?! Kenapa kau jadi menurut pada umma-ku? Aku tidak mau tahu! Kau harus menjemputmu sekarang!”

“I’m sorry but i can’t. Shailee, just enjoy yourself with him, okay? You’ll be safe beside him and yo—stthssttshhhstststs—“

“Eh? Yeobseo? Kris? Ya! Haish!”

Telpon dari Kris tiba-tiba mati dan ternyata handphone Ryeona sedang lowbatt. Salah sendiri ia memakainya untuk main game Angry Birds tadi pagi sampai baterainya hampir habis. Dan akhirnya.. seperti ini.

“Ya! Kau bilang disini tidak ada sinyal. Lalu kenapa Kris bisa meneleponmu hah?”, tanya Kai.

“Hah? Molla. Aku juga tidak tahu. Padahal sekitar 10 tahun yang lalu disini belum ada sinyal dan— AWW! YA!“

“Neo.. PABOYA!”, ucap Kai setelah menjitak keras dahi Ryeona.

Kai kesal dengan ke-P-A-B-O-an calon istrinya itu. Calon istri? Kai mengetahuinya? Tentu saja. Suho yang mengatakan bahwa dia yang akan dijodohkan dengan Ryeona dan dia yang akan menikah dengan yeoja dari keluarga Lee itu. Suho sangat mengerti rasa takut dongsaengnya terhadap ahjushi yang satu itu. Meskipun ia tak tahu siapa yeoja itu, tetapi Suho berpositive thinking atas keputusan yang umma dan appa nya buat. Bagaimana dengan Ryeona? Jelas saja Ryeona tak tahu tentang keputusan ini. Makanya orang tua mereka menjebak mereka berdua divilla ini agar mereka lebih dekat satu sama lain. Tapi hasilnya?? Readers pasti udah pada tau hehehe.

Ryeona melangkahkan kakinya kekamar. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil bernafas frustasi.

“AKU INGIN PULAAAAAANG!!!”

“YA! BERISIK KAU! KUSUMPAL MULUTMU DENGAN BAWAL!!”

“Aish! Dasar namja bawal!”, dengus Ryeona kesal. #wkwkwk emang enak digituin ama Kai? xD

Beside that…

“Umma, telpon nya terputus”, ucap namja dengan nada khawatir.

“Eh? Kok bisa?”

“Entahlah, padahal tadi aku sedang berbicara dengannya. Dia memintaku untuk menjemputnya”

“Andwae! Biarkan mereka pedekate (?) terlebih dahulu”

“Tapi umma, aku khawatir. Apa ada alat komunikasi lain disana? Seperti telpon?”

“Hmm, tidak ada. Kami belum memasangnya karena disana lebih jauh dari kota, bahkan pedesaan”

“Hahh, bagaimana ini?”

1 detik..

2 detik..

5 detik..

“Aku akan menyusulnya!”

Back to KaiRyeo..

Diruang makan..

“Ya! Kau bawa handphone?”, tanya Ryeona sambil menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulutnya.

“Kalau sedang makan jangan berbicara”, ujar Kai santai.

“Aish.. jawab saja. Bawa atau tidak. Susah amat”

“Baw—“

“Bagus! Mana hp-mu kalau begitu?”, tanya Ryeona.

“Hah? Emm— charg—eh sama juga sedang lowbatt hehe”, ujar Kai gugup.

Ryeona memandang Kai curiga. Ada yang aneh dengannya. Ryeona menatap Kai dengan tatapan menginterogasi. Kai yang dilihat seperti oleh itu oleh Ryeona hanya bisa memalingkan wajahnya saja. Tak terasa sekarang jantungnya sudah berdegup kencang.

Kai’s POV

Haahhh, bagaimana ini? pasti dia curiga padaku. Hp-ku kan tidak lowbatt sama sekali. Bahkan baterai nya pun masih full karena kemarin aku charge sebelum pergi kemari. Entahlah, aku tidak ingin memberikan handphone-ku padanya. Jika aku memberikannya handphone-ku, aku berani bertaruh handphone-ku akan tamat riwayatnya saat kembali padaku.

Dan juga, dia pasti akan menelepon managernya yang namanya.. Miss.. eh.. Kris? Entahlah, aku lupa lagi -_- Setelah itu dia akan memaksa managernya itu untuk menjemputnya. Dan jika itu terjadi, maka hari-hariku disini bersamanya akan.. Eh, tunggu dulu. Kenapa aku berpikiran seperti aku tidak ingin dia meninggalkanku?

Ah andwae!  Hapus pikiran itu, Kai. Jangan berpikiran bahwa kau ingin terus bersamanya. Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi.

“Eh? Begitukah? Hm, jangan-jangan kau bohong, iya kan?”

Aigoo.. bagaimana ini?

“Atau.. kau memang tidak ingin memberikannya karena ingin terus bersamaku?”

DEG!

Tentu saja bukan! Aku ingin berbicara seperti itu. Tapi entah kenapa bibir dan lidahku rasanya kelu. Tak bisa digerakkan saking gugupnya. Gugup? Tentu saja. Aku disini seperti seorang narapidana yang tengah disidang dan dibanjiri beberapa pertanyaan dan pernyataan. Sungguh membingungkan.

“YA! MICHEOSEO?!! MANA MUNGKIN AKU MELAKUKAN SEMUA ITU HAH?!!”

“YA! Bisakah kau merendahkan sedikit suaramu?! Itu membuat telingaku sakit!”, ucapnya sambil menutup kedua telingannya erat-erat.

Huh! Dasar yeoja jadi-jadian. Seenaknya saja menuduhku yang tidak-tidak. Meskipun memang aku tidak ingin menyerahkan hp-ku padanya. Dan entah apa alasannya aku berbuat hal seperti itu -_-

“Lalu mengapa kau menuduhku hah?!”

“Aku tidak menuduhmu! Aku hanya bertanya! Dasar namja GILA!”

Aku tidak merespon lagi ucapannya. Aku hanya menyuapkan satu-persatu sendok makanan yang ada dipiringku #Kai makan sendok -_-. Begitu juga dengannya. Hingga akhirnya ia menghabiskan makanannya dan langsung mencucinya didapur.

Sungguh, aku tidak ada mood lagi untuk menyantap makanan ini. Dasar yeoja gila. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengannya dimasa depan? Huhh, dan mengapa juga aku menerima tawaran Suho hyung untuk menjadi ‘calon mnampyeon’ yeoja gila ini.

Bisa saja appa membatalkan perjodohan ini. Tapi perusahaan dan pabrik-pabrik yang appa punya menjadi sasarannya. Gyaaah! Aku bingung sekali!

TINN.. TIN..

Eh? Aku tidak salah dengar kan? Itu suara klakson mobil kan?

Aku pun beranjak dari kursi dan meninggalkan makanan yang hampir mendingin itu. Tapi gerakan yeoja yang tadinya ada didapur melewati langkahku hingga akhirnya dia yang duluan melihat siapa yang datang. Seketika wajahnya berubah menjadi cerah. Dia mengapa bisa sebergembira itu?

“Kris..”, gumamnya pelan.

Sangat pelan, tapi aku bisa mendengar jelas apa yang dikatakannya. Terlebih gerakan bibirnya. Dan akhirnya dia berlari dengan gerakan cepat menuju pintu dan membukanya. Dan lagi-lagi dia menghilang dibalik pintu.

Tanpa menunggu apapun lagi, aku segera menyusulnya keluar. Dan..

DEG!

Apa mereka GILA?! Ya, Kris! Mengapa kau berani menyentuh ‘calon anae’ ku huh?! Jika aku hanya berdua denganmu, aku pastikan kau akan habis!

Ryeona’s POV

Huh! Menyebalkan! Dasar namja GILA! Jika dia tidak mau memberikan handphone-nya, ya bilang saja. Tidak usah membentakku seperti itu kan? Aish!

TINN.. TINN..

Eh? Bukankah itu suara klakson? KLAKSON?!

Tanpa berpikir panjang lagi aku menuju jendela untuk melihat siapa yang datang. Dan…

“Kris..”, gumamku.

Aku tidak henti-hentinya tersenyum saat mengetahui manager setiaku datang kemari untuk menjemputku. Aku berlari menuju pintu dan langsung berlari memeluk Kris yang saat itu baru keluar dari mobil.

“Shailee.. what’s wrong?”, tanyanya.

Apakah dia amnesia? Mengapa menanyakan hal dia sudah tau jawabannya?

“Ya! Mengapa kau meninggalkanku disini? Kau tahu aku sangat menderita disini. Kau juga tahu aku takut dengan villa-ku ini. Kenapa kau meninggalkan-ku begitu Kris?”

Aku menangis didada Kris. Menangis sekencang-kencangnya hingga dia kebingungan untuk menghentikanku. Dia mengangkat daguku untuk menatapnya.

“Uljima..”

“Huaaaaa!!!!”, aku kembali menangis dipelukannya.

“Ya! Bisakah kau tidak berlebihan! Aku sangat membenci drama romantis!”

Aku tahu siapa yang berbicara seperti itu. Aku sangat mengenali suara khas darinya. Tapi, aku tidak akan pernah menghiraukannya.

“Bogoshipoyo.. Kris..”

Dengan wajah yang penuh dengan air mata, aku mengatakan perasaanku atas kerinduanku pada Kris. Sungguh, aku merindukannya saat dia mengurusku. Dia adalah sahabat setiaku. Saranghaeyo, Kris!

“Hahaha.. nado, Shailee”, dia langsung menghapus air mata yang ada diwajahku. Sungai deras yang mengalir itupun akhirnya hilang perlahan-lahan.

SREETT..

Tangan siapa itu?

Seseorang mengambil tangan Kris yang sedang menghapus air mataku. Aku tak tahu itu siapa. Tidak mungkin itu Jong In. Huh.. lagipula, apa pedulinya terhadapku?

“Kai..”, ucap Kris.

Eh? APA?!!

Tanpa babibu aku langsung melirik siapa pemilik lengan berotot itu.

DEG! DEG! DEG!

Terlihat sekali dia tengah menatap tajam kearah Kris. Ada apa ini?

“Jangan pernah kau sentuh.. yeoja-ku”

—–

Shinkyung keluar dari kamar mandi Sehun dengan handuk yang membalut rambutnya. Tubuhnya telat terlapis piyama berwarna pink milik Sehun yang pastinya kebesaran. Tapi itu semua membuat Shinkyung lebih terlihat cute dan mungil dimata Sehun yang sedang bersantai diruang tengah. Tak terasa ia tersenyum.

Sehun menepuk sofanya, menyuruh Shinkyung untuk duduk disampingnya. Shinkyung pun tak berpikir terlebih dahulu dan langsung duduk disamping Sehun. Aroma sabun tercium sangat wangi dari tubuh Shinkyung. Refleks Sehun menutup matanya. Shinkyung yang tadinya menatap layar TV sekarang berpindah menjadi menatap Sehun. ia menatap Sehun bingung. Ada apa dengan namja ini?

Perlahan ia menggoyangkan bahu Sehun. Dan tak lama kemudian Sehun membuka matanya dengan tempo yang sangat sangat lambat. Sungguh lebay -_-.

“Wae geurae?”, tanya Shinkyung.

“Hmm?”

Sehun hanya bergumam sambil masih menatap lekat wajah Shinkyung. Shinkyung hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kembali menonton TV sambil mengambil cemilan yang ada dimeja. Dia pun langsung melahapnya. Perlahan-lahan Sehun membuka handuk yang dipakai Shinkyung untuk menutup rambutnya yang basah. Ia mengambil sisir dan langsung menyisir rambut Shinkyung yang tergerai basah.

Shinkyung masih saja menikmati cemilan dan film nya. Hingga tak terasa setelah rambutnya kering, ia langsung tidur dipangkuan Sehun. Lagi-lagi Sehun tersenyum melihat wajah polos Shinkyung.

“Sayang sekali jika namja itu meninggalkanmu. Tapi, memang lebih baik seperti itu. Karena kau.. terlalu sempurna untuknya”, bisik Sehun di telinga Shinkyung. Shinkyung hanya bisa menggeliat pelan dan sedikit merubah posisinya, menaruh kepalanya dibahu Sehun. Sedikit mengagetkan untuk Sehun karena wajah Shinkyung sangat jelas dihadapannya saat ini.

Ia menatap setiap lekuk wajah yeoja itu. Cantik. Seperti bidadari. Tak terasa dadanya bergemuruh ketika matanya berhenti bergerak menelusuri wajah yeoja itu dan bertumpu pada bibir pink yang sekarang ada dihadapannya itu.

CHUP.

Sekali kecupan, tapi semua itu beresiko tinggi pada jantung Sehun yang sekarang meronta ingin keluar. Sangat berbeda ketika ia bermain-main dengan yeoja bayaran yang sengaja mendekatinya karena ketampanannya. Kenapa hidupnya menjadi seperti ini setelah mengenal Shinkyung? Apa Shinkyung yang merubahnya? Entahlah, hanya Sehun dan Tuhan yang tahu. Tapi sayang, Sehun tak menyadari itu semua.

“Emmh—“, erang Shinkyung saat Sehun membelai pipinya yang chubby itu.”Sehun?”

Shinkyung bangun dari sandarannya pada Sehun. Mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba untuk mengumpulkan nyawanya yang masih setengah itu. Setelah ia sadar, ia merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Itu Sehun. ia menatap Sehun bingung. Daritadi Sehun aneh. Batinnya.

“Shinkyung-a, would you like.. to be my..—“

“Ne?”

“To be my.. my manager?”

“NE??”

—–

Reyona’s POV

Kalian masih ingat kata-katanya? Jangan pernah kau sentuh.. yeoja-ku. Iyuh, mejijikkan sekali. Apa dia tidak sadar bahwa ucapannya itu membuatku semakin membencinya? Mana mungkin dia menyukaiku? Lagipula aku tidak menyukainya sama sekali. Eh? Kenapa aku malah berpikiran bahwa dia menyukaiku? Apa memang dia menyukaiku? Aish! Dwaesseo! Untuk apa pula aku memikirkan hal aneh seperti ini.

Kami—aku, Kris, dan Jong In—berkumpul diruang makan. Sebenarnya bukan kumpul sih, aku hanya menemani Kris untuk makan karena kasihan sekali dia belum makan sejak berangkat kemari. Dan Jong In.. entah apa yang ingin dilakukannya aku tidak peduli. Jujur aku kecewa padanya. Bagaimana bisa dia bersikap tidak sopan seperti tadi pada Kris? Apa Kris salah peduli padaku? Apa semua ini ada hubungannya dengan dia? Hahh, aku lelah memikirkan semua ini.

“Shailee, aku kesini hanya ingin menengokmu. Aku sedikit khawatir karena tiba-tiba sambungan telepon tadi putus”, ucap Kris membuyarkan lamunanku. Ternyata dia sudah menyelesaikan makan malamnya.

“Ne? Ah, Kris, gomawo sudah mau menengok aku disini. Tapi sebenarnya aku tidak ingin ditengok, karena aku tidak sakit. Aku ingin ikut pulang denganmu”, ujarku manja. Perkataanku tadi membuat Jong In yang sedang ada dihadapanku membelalakan matanya tidak percaya. Wae? Apa kau masih ingin bersamaku? Aigoo, pikiran apalagi ini? ︶_︶

“What? It’s impossible, Shailee. Mendapat ijin dari umma untuk kesini saja susah sekali. Apalagi membawamu pulang tanpa ijin darinya. Bisa-bisa aku pulang ke Kanada dengan kepala saja”

“Aigoo, Kris-ah, tenang sajalah. Lagipula umma-ku bukan seorang pembunuh hahaha”

“Shailee, disaat seperti ini kau masih saja bisa membual”

“Hahaha, sudah lama aku tidak bercanda denganmu”

BRAK!

Tawaanku terhenti ketika.. ketika Jong In menatap tajam kearahku dan juga Kris. Aigoo, apalagi ini? ( ⌣ ́_ ⌣ ̀)

Aku menatapnya geram. Kenapa sih hari ini dia aneh sekali? Dengan dinginnya aku berkata,”Wae?”

Dia malah menatapku.. tidak percaya? Tidak percaya atas apa yang aku ucapkan? Hahh, menurutku itu biasa saja. Tanpa berkata apa-apa lagi dia langsung pergi meninggalkan ruang makan. Dasar namja aneh! (>̯┌┐<)

“Shailee…”, panggil Kris. Aku pun langsung menoleh padanya. Dan sekarang apa lagi? Kenapa tatapan Kris seolah-olah mengatakan,”Kenapa kau seperti itu padanya?”

“Baiklah, Kris. Aku tidak tahan dengan sikapnya yang makin lama makin aneh padaku. Kenapa sih dia itu selalu masuk kedalam kehidupanku? Apa dia tidak punya kerjaan lain selain menguntit hidupku? Terlebih lagi sikapnya yang menyebalkan ketika aku sedang melepas rindu bersamamu. Itu semua membuatku kesal, Kris”, jelasku panjang lebar. Terlihat dia sedang berpikir karena tidak langsung merespon ucapanku.

“Shailee, aku yakin dia memang mencintaimu”

Aku membelalakan mataku, tidak percaya. Kris, apa kau terkena sifat anehnya itu haaa?!! (>̯┌┐<)

“Ya! Micheosseo?!”

“Ssttt, Shailee, listen to me. Aku yakin dia mencintaimu. Yakinkan juga pada hatimu kalau kau juga mencintainya. Aku yakin kau mempunyai sesuatu yang berdegub kencang didadamu saat kau bersentuhan dengannya”

“Mwo??”

Aku berpikir. Aku harus meyakinkan hatiku bahwa aku mencintai namja itu? Namja aneh yang tinggal bersamaku divilla ini beberapa hari yang lalu? Dan mengapa tiba-tiba dadaku berdegub kencang ketika Kris mengatakan ‘bersentuhan dengannya’. Dan juga kenapa aku teringat saat dia ‘menyentuhku’ saat itu?

Aaaaargh!! Andwae, Ryeo Na-ya! Kau-tidak-boleh-menyukai-namja-aneh-itu-TITIK! Aigoo, apalagi sampai mencintainya. Tidak akan!

“Haha, andwae, Kris-ah. Bahkan sampai sekarang saja dia masih berstatus sebagai rivalku. Haha itu sangat tidak mungkin”

Aku tertawa dengan puas sambil mengipas-ngipas tanganku diudara. Sungguh, aku terpingkal-pingkal mendengar perkataan Kris yang menurutku lucu itu. Gelar master dari kuliahnya di Harvard sungguh menipu. Bagaimana mungkin pernyataannya itu meleset 360 derajat?

Author’s POV

“Haha, andwae, Kris-ah. Bahkan sampai sekarang saja dia masih berstatus sebagai rivalku. Haha itu sangat tidak mungkin”

Suara nyaring Ryeona terdengar oleh Kai yang sekarang sedang bediri dibalik pintu kamarnya. Terasa sakit sekali didadanya saat Ryeona mengatakan hal yang sebenarnya tidak benar.

“Kau salah. Sekarang.. aku adalah calon nampyeon-mu, Choi Ryeo Na”, lirihnya sambil menatap sayu yeoja yang mulai dicintainya, mungkin.

—–

“Oppa! Kau mau makan apa? Sekarang sudah malam dan daritadi kita terus saja bermain catur”, ucap Chaeri pada Suho setelah mereka menyelesaikan permainan catur mereka.

“Hmm, apa disini ada toserba? Sepertinya aku ingin makan sesuatu”

“Tentu oppa! Tapi oppa tak perlu khawatir, karena bahan-bahannya sudah lengkap dikulkas. Kita hanya tinggal memasak saja”

“Oh ya? Yasudah, apa lagi yang kita tunggu? Ayo masak!”

Mereka berdua beranjak dari sofa dan berjalan pelan kedapur. Tiba-tiba Suho berpikir, “Sedang apa aku disini? Bersama hoobae-ku pula”. Tapi semua itu ia tanggapi dengan bijak. “Aku hanya ingin melepas rindu saja dengannya karena sudah lama tidak bertemu”

Chaeri menyadari sikap Suho yang tiba-tiba aneh itu. “Oppa, apa yang sedang oppa lakukan? Belajar pidato?”

Suho sedikit kaget ketika menyadari bahwa Chaeri memperhatikannya. Dan memang posisi badannya saat ini seperti sedang berpidato. Tangan ia gerakan diudara sambil memasang tampang bapak-bapak yang sedang berbicara dipodium. Dan itu semua membuatnya menjadi salah tingkah. “Ah? Em.. haha.. itu.. ya! Memang aku sedang latihan berpidato hehe”. Sungguh jika kau tertawa ‘gaje’ seperti itu kau akan mirip seperti orang bloon yang tertangkap basah melakukan kesalahan XD

Chaeri masih saja bingung dengan sikap Suho. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya karena cacing diperutnya sudah meminta jatahnya malam ini. “Oh, geurae. Oppa, kajja! Aku sudah lapar sekaliiiii”

Perasaan lega menyelimuti perasaan Suho. Fyuuuuuuhhh…”Haha, kajja!”

Malam ini mereka habiskan untuk bercanda dan berbagi cerita bersama. Entah kenapa jika bercerita kepada Chaeri, Suho akan merasa plong (?) dan merasa lega seperti bebannya sudah tersalurkan kebak sampah beban. Begitu juga Chaeri, rasa aman dan nyaman menyelimutinya. Bersama sunbae-nya itu membuatnya ingin merasakan jatuh cinta lagi. Ups! Apa memang….?

STOP! Chaeri menggelengkan kepalanya. Ya ampun, seharusnya aku tidak boleh memikirkan hal itu saat bersama Suho sunbae! Aish, apa yang aku pikirkan sih (>̯┌┐<)

“Ehm, Chae-a?”

“Ah, ne oppa. Ada apa?”, Chaeri kaget mendengar suara Suho yang lembut itu memanggil namanya.

“Tidak ada apa-apa. Hanya… sekarang sudah malam. Terlalu larut malah. Aku mau—“

“Pulang? Padahal ini masih jam 10 oppa. Kenapa tidak menemaniku saja dulu disini?”

Well done, Chaeri. Kau membuat dirimu seperti menginginkan Suho berada didekatmu saat ini. dan itu memalukan! (>̯┌┐<)

“Ne? Haha, itu tidak mungkin. Aku harus bekerja besok, Chae-a”

Chaeri mempoutkan bibirnya. Layaknya anak kecil yang ingin coklat dan permen. Kekanakan memang, tapi entah mengapa semua itu membuat Suho terkekeh dengan sendirinya. Mungkin karena Chaeri menjadi tampak lebih lucu? Lebih imut? Entahlah.

“Jangan seperti itu, aku akan sering-sering mengunjungimu kemari. Itupun jika kau masih ada disini. Oh ya! Mana ponselmu?”

Chaeri mengangkat sebelah alisnya. Sedikit bingung, padahal pertanyaan Suho sudah-sangat-jelas menanyakan ponselnya. Dan seakan tersadar perkataan author, Chaeri mengambil ponsel Galaxy Note nya dari saku jaketnya. Tak menunggu lama, Suho mengambil ponsel yang diserahkan Chaeri kepadanya.

Terlihat Suho yang sedang mengutak-atik ponsel berwarna jingga itu. Chaeri hanya bisa diam membisu karena Suho sangat serius mengajak bermain ponselnya. Dan akhirnya…

“Ini.. aku sudah memasukkan nomor dan e-mailku. Akupun sudah menyimpan punyamu, kecuali e-mail sih. Tapi itu sudah cukup untuk kita berhubungan seperti biasa. Kapan-kapan aku akan menghubungimu, Chae-a”

Bengong. Dengan wajah tablo tapi masih terkesan imut, Chaeri hanya bisa melongo. Entah kenapa dirinya tidak bisa menahan debaran jantungnya saat ini. Ini terlalu dahsyat, pikirnya. Tak ia sangka akan mendapatkan nomor sunbae-nya itu. Dan tak lama kemudian—mau tidak mau—ia menganggukkan kepalanya, tanda setuju.

“Geurae, aku pulang dulu yah. Annyeong! ^^”

Dan… terdengar suara pintu dibuka dan tertutup kembali. Suho sudah pergi. Dan.. dia kembali sendiri, ditempat ini.

“Oppa….”, lirih Chaeri. Dan setelah itu… ia tersadar akan sesuatu.

—–

Dan sekarang, disini, terdapat dua insan yang masih saling tatap. Sang yeoja bingung atas permintaan sang namja beberapa saat yang lalu. Shinkyung, yeoja itu mencoba mencerna apa yang baru saja Sehun—sang namja—katakan.

“K-kau.. serius?”

“Dengan segenap hatiku, Kang Shin Kyung…”

Eh? Bagaimana dia bisa tahu nama lengkapku?”

“Maukah?”

“Eh? Em.. entahlah, aku.. aku bingung..”

Shinkyung memalingkan wajahnya dari tatapan Sehun yang sekarang hanya berjarak beberapa centi saja dari tubuhnya. Hatinya sekarang berdegup kencang, seakan meminta untuk dilepas. Sehun yang memahami bahwa ‘gadis’ yang ada dihadapannya itu sedang gugup segera menggenggam tangannya. Tangan yeoja itu. Shinkyung kaget, mana mungkin ia bisa berdebar disaat namja lain, selain ‘namjachingu’nya memegang tangannya.

Namjachingu?

Oh, bahkan ia lupa kalau sekarang ia sudah resmi menjadi jomblo. Single. Kosong. Dan butuh seseorang. Tapi.. apakah seseorang itu adalah Sehun? Namja yang tiba-tiba berada dihadapannya. Namja aneh, namja asing yang tiba-tiba menariknya ke sebuah apartemen mewah. Menciuminya, mencumbunya, dan sekarang memintanya untuk menjadi manager PRIBADI nya.

Apakah kekosongan itu dapat membuat Shinkyung melupakan Baekhyun? Mantan namjanya?

Baekhyun?? Baekhyun oppa sudah tidak ada. Tidak ada kata Baekhyun lagi dikehidupanku. Aku harus sepenuhnya melupakan namja itu.

Seakan terpikir untuk melupakan Baekhyun. Shinkyung mengangkat kepalanya, membalas tatapan Sehun. Dan tak lama kemudian ia mengangguk. Menandakan bahwa ia setuju untuk menjadi manager pribadinya. Dengan sekejap mata Sehun berbinar-binar.

“Jinjja?! Jeongmal?!! Aaaaa!!!”

Dan.. kembalilah sifat Sehun yang kekanakan. Dasar namja aneh, batin Shinkyung.

“Gomawo, Kyungie. Akan kupastikan kau betah bekerja bersamaku!”

Sehun pun langsung memeluk Shinkyung. Dan sekali lagi, Shinkyung merasakan debaran dan sengatan listrik menyengat tubuhnya. Apakah kau orangnya, Sehun-a?

Shinkyung membalas pelukan Sehun. Tak ia sangka hari ini mendapatkan berbagai ekspresi yang dimiliki Sehun. Ada disaat dimana namja itu marah, kesal, dan malu. Sungguh membuat hati terasa nyaman. Namun, tiba-tiba…

“OMO! Aku lupa membereskan flat-ku! Aku harus pulang sekarang!”

Shinkyung melepaskan pelukan Sehun dengan cepat. Membuat Sehun terbengong karena belum bisa mencerna apa yang dikatakan Shinkyung. Pikirannya masih terlarut pada hatinya saat ini. Shinkyung menjadi managernya? Manager pribadinya? Oh, terimakasih Tuhan!

“Eh? Ya! Eodiga?!”

Sehun tersadar ketika Shinkyung membuka pintu apartemennya sambil membawa barang-barang yang ia bawa keapartemen Sehun sebelumnya. “Aku harus pulang, Hun-a. Annyeong! ^^”

“Ya!!!”. Telat. Bayangan Shinkyung sudah tak terlihat lagi. Sepertinya yeoja itu sudah pergi. “Ah, sial!”

Tapi….

CHU~

Sehun terkaget ketika didapatkannya Shinkyung kembali dan langsung mencium bibirnya. “Aku akan kembali, besok pagi”, ucap Shinkyung dengan lembut sambil tersenyum. Membuat dada Sehun berdegup kencang.

DEG! Dan.. akhirnya Sehun yakin, bahwa yeoja ini.. adalah yeoja yang tepat.

“Tunggu aku, Kang Shin Kyung”, gumam Sehun dengan seringaian yang sangat berarti diwajahnya.

.

.

.

TBC ^^

 

Ohyeah!! Akhirnya part ini selese juga… Fyuhhh… *lap keringet pake tangan Aif* #eh?

Annyeong readers! Mian BGT ya epep ini lama BGT dipublishnya. Soalnya aku ngirimnya telat cz aku belom nyelesein chap ini pas yang chap 3 udah dipublish XD Dan, mian juga kalo ada typo yang engga ke-scan -_-v

Gimana nih ceritanya? Tambah membosankankah? Mian, ya.. ide diotakku dipenuhin sama ***SECRET ADMIRER*** jadi aku tiap hari mikirin dia teyusss.. u.u

Tapi, aku janji deh, buat kalian yang nunggu BGT chap 5 aku bakalan kirim seeeeeeeecepat-cepatnya biar kalian nggak mati penasaran #bentar.. emang ada yah yg nunggu epep gue ini? u_u

Pokonya makasih BGT buat yang udah baca epep abal gue ini, tadinya sih mau ada adegan yadongnya, tapi nanti aja deh dichap selanjutnya XD

Nah, readers! Sampai jumpa yaaaaa dichapter 5! Dadaaaaaaaaaaaaaaaaaahh!!! *terbang bareng Kris*

34 pemikiran pada “Hard To Be Love (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s