Memories (Chapter 5)

Title: Memories (Sequel of Soulmate) | Part 5

Author: Lee Yong Mi / @YongMiSM

Genre: Romance, Thriller, Tragedy, Fantasy

Length: Chapter

Main Cast:

  1. EXO-K Baekhyun
  2. Lee Yong Mi
  3. All EXO Members
  4. One man. Still a secret.

Rating: Masih di part 5… PG-15

Disclaimer:

Annyeong, readers~ I’m back with ‘Memories’, the sequel of ‘Soulmate’~

Apakah part sebelumnya telah memuaskan hati para readers? Author tidak tahu mengapa bisa membuat karakter Yixing seperti itu ._. Mereka sangat romantis ❤

Oh ya, sedikit penjelasan. Apa itu WINGSTALE? Wingstale adalah roh dari para manusia yang telah meninggal, dimana roh itu mempunyai sepasang sayap dan kekuatan yang berbeda-beda ^^ Mianhae, author lupa untuk menjelaskannya di part sebelumnya ._.a Maklum, faktor umur (?) #plak

Itu saja yang ingin author sampaikan. HAPPY READING NE, BELOVED READERS~

Poster credit: Poster credit at: cipzcagraph.wordpress.com

memories-baekhyun-geojitmal

 

Byun Baekhyun / Baekhyun (Geojitmal)

 

Byun Baekhyun / Baekhyun

Bohong. Semua ini bohong.

Luhan hyung pasti berbohong. Tidak mungkin ia tetap mencintai Yong Mi setelah Yong Mi membunuh Hyura.

Kris hyung juga berbohong. Tidak mungkin ia berusaha untuk menyelamatkan Yong Mi. Bukankah Yong Mi telah berlaku jahat?

Suho hyung juga berbohong. Tidak mungkin ia melindungi Yong Mi mati-matian. Yong Mi seharusnya dibiarkan mati terbunuh.

Lay hyung juga berbohong. Tidak mungkin ia menghabiskan waktunya dengan Yong Mi. Yong Mi itu perusak.

Chanyeol juga berbohong. Tidak mungkin ia menerima begitu saja saat Luhan hyung memerintahkannya untuk menolong Yong Mi. Bukankah ia yang mengantarkan Yong Mi pada mereka?

Kai juga berbohong. Tidak mungkin ia menyerang Yong Mi jika tidak berniat membunuhnya. Tapi kenapa sekarang ia tunduk pada Yong Mi?

Kalian semua berbohong padaku. Dan kau, Yong Mi…

Aku membencimu.

+++

Lee Yong Mi

“Andwae… Andwae…”

Ini bukan Luhan. Ini bukan Luhan!!

“Yong Mi-ah, bukankah kita telah menikah?” tanya Luhan dengan nada berbeda. Aku tahu kita telah menikah, tapi… “Kalau begitu, aku bisa melakukannya sekarang.”

Andwae!! Aku belum siap! Yak, Xi Lu Han! Aku belum siap sama sekali!!

“Ta, ta, tapi…” ucapku terbata, sedangkan Luhan mendekatkan wajahnya pada wajahku.

“Tapi apa?”

Argh! Katakan sesuatu, Lee Yong Mi! Jika tidak, maka ia akan menerkammu!

“Aku, aku…”

Mataku berkaca-kaca.

“Aku tidak siap…”

Luhan terdiam. Ia tidak mengatakan apa pun, namun akhirnya ia beranjak berdiri.

“Mianhae. Apa aku menakutkanmu?”

Ia membantuku untuk duduk di tempat tidur. Tangannya menghapus air mata yang menggenang di sudut mataku. Perlahan, aku menggeleng.

“A, aku… belum siap sekarang, Luhan… Mianhae…” ucapku merasa bersalah, namun Luhan justru menggeleng.

“Aniyo. Aku terlalu memaksakan diriku. Gwenchana, Yong Mi… Aku dapat menunggumu.”

Ia mencium puncak kepalaku, kemudian… turun ke hidungku… dan… bibirku…

“Jika suatu saat nanti kau telah siap…” bisik Luhan di telingaku. “… aku adalah orang pertama yang boleh melakukannya.”

Luhan meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Aku menghela nafas lega karena ia tidak melakukannya, namun aku terkejut ketika mendengar suara pikiran seseorang.

Kau akan kuhancurkan sesaat lagi.

Aku segera berlari keluar kamar untuk melihat siapa yang mengatakan hal tersebut, namun tidak ada. Koridor di depan kamarku kosong. Kalau begitu… siapa yang tadi berbicara?

+++

“Semuanya! Kita akan memulai latihan kita!”

Luhan berdiri di depan semua anggota EXO dan Yong Mi.

“Hyung, untuk apa latihan?” tanya Lay. Dia sibuk membuat sebuah mahkota bunga untuk Yong Mi.

“Ya, hyung! Kenapa kita harus latihan?” tanya Kai. Luhan menggelengkan kepalanya.

“Kalian lupa, bahwa beberapa hari ini keamanan kita semakin kurang terjamin?” tanya Luhan. “Kalian semua tidak pernah belajar dari apa yang pernah terjadi. Kita harus memperkuat pertahanan kita masing-masing. Dan salah satunya adalah…”

Luhan menarik sebuah pedang dari balik punggungnya. Semua anggota EXO dan juga Yong Mi terbelalak menatap pedang itu.

“Kita akan berlatih pedang, dan juga melatih kemampuan kita masing-masing. Otte? Kalian setuju?”

Tidak ada yang menjawab. Luhan menganggap kediaman tersebut sebagai jawaban ‘ya’. Ia meraih tangan Yong Mi dan membantunya berdiri.

“Kau juga harus ikut, Yong Mi-ah!” ucap Luhan seraya tersenyum. Yong Mi terlihat salah tingkah.

“Ji, ji, jinja?” tanya Yong Mi terbata. Luhan mengangguk.

“Kajja! Kita mulai latihannya!”

+++

Lee Yong Mi

Aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi mereka semua… keren!

Latihan pedang dimulai dari Kyungsoo melawan Jong In. Aku memperhatikan mereka yang saling beradu pedang dengan seksama. Gerakan Kyungsoo sedikit lambat, sehingga Jong In menguasai pertarungan sampai akhirnya pedang Kyungsoo terlempar. Jong In segera meminta maaf pada Kyungsoo karena merasa bersalah, dan Kyungsoo-tentu saja-memaafkannya.

Kemudian latihan dilanjutkan dengan Tao melawan Wu Fan. Mereka berdua imbang. Aku melihat Tao sangat ahli dalam memainkan pedang, sedangkan Wu Fan mempunyai kekuatan yang melebihi Tao. Karena itulah, mereka imbang. Namun akhirnya, Tao berhasil melempar pedang Wu Fan karena Wu Fan lengah.

Aku terkesima saat Luhan bertanding melawan Se Hoon. Pertarungan mereka berlangsung selama lebih dari 15 menit. Se Hoon, ia ahli dalam menghindar dan menyerang. Begitu pula Luhan, ia ahli dalam mengambil kesempatan disaat Se Hoon lengah. Bunyi perang yang beradu sama sekali tidak menggangguku untuk melihat setiap gerakan mereka.

Namun akhirnya Se Hoon berhasil melempar pedang Luhan ke belakang. Luhan menepuk bahu Se Hoon dengan bangga.

Nice work.” Ucap Luhan yang dibalas senyuman oleh Se Hoon. Latihan kembali dilanjutkan dengan pertarungan antara Min Seok dan Jong Dae. Min Seok tidak terlalu buruk, ia hampir berhasil menyerang Jong Dae, namun Jong Dae sendiri selalu berhasil mengelak dari serangan Min Seok, dan dengan satu gerakan tidak sengaja, Jong Dae berhasil melempar pedang milik Min Seok.

“Uhm… Mianhae, Xiumin hyung…” ucap Jong Dae karena merasa bersalah, sedangkan Min Seok hanya menepuk bahunya sebagai pertanda bahwa ia tidak apa-apa.

Joon Myung melawan Yi Xing! Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Yi Xing SANGAT PANDAI MEMAINKAN PEDANGNYA! Maksudku, woaah, ini sangat hebat! Yi Xing berhasil membuat Joon Myung kewalahan dan akhirnya ia berhasil melempar pedang Joon Myung.

“Suho hyung, jangan meremehkanku, ya!” ucap Yi Xing dengan senyum polosnya. Joon Myung hanya tertawa.

“Arasseo, aku tidak akan meremehkanmu.”

Dan terakhir, pertarungan antara Baekhyun dan Chanyeol. Mereka bermain dengan pelan namun pasti. Chanyeol dan Baekhyun benar-benar ahli beradu pedang, namun tiba-tiba pedang Baekhyun terlempar ke… arahku…

Mati kau.

Aku terbelalak mendengar suara pikiran Baekhyun. Ia… melakukannya dengan sengaja?

“Yong Mi, awas!!”

Tidak, aku tidak akan membiarkannya begitu saja!

+++

Byun Baekhyun / Baekhyun

Aku mengepalkan tanganku kesal. Sial, rencanaku tidak berhasil! Sekarang aku harus menelan pahit fakta bahwa Yong Mi mampu melindungi dirinya. Dia menggunakan kemampuan telekinesis-nya, sehingga ia mampu menghentikan laju pedang yang-dengan sengaja-kulempar ke arahnya.

Dia memang mengesalkan.

“Yong Mi-ah! Daebbak!” puji Chanyeol-yang semakin mengesalkan. Aku tetap diam di tempatku berdiri, tidak berniat sedikit pun untuk menghampiri yeoja itu.

“Syukurlah kau bisa melindungi dirimu sendiri.” Ucap Luhan hyung seraya mengusap rambut Yong Mi. “Bagaimana kalau kau juga ikut berlatih pedang? Melawan salah satu dari kami?”

Eh?

Melawan Yong Mi?

“HYUNG! AKU MAU MENJADI LAWANNYA!!” teriakku tanpa sadar, membuat mereka semua menatapku aneh. “Ma, maksudku… biarkan aku yang membantu Yong Mi untuk berlatih.” Ucapku. Wajah Yong Mi sedikit berubah ketika melihatku.

“Baiklah!” ucap Luhan hyung ceria. Dia memberikan pedangnya pada Yong Mi, sedangkan Chanyeol memberikan pedangnya padaku. “Silahkan dimulai latihannya! Ingat, latihan akan berhenti jika salah satu pedang telah terlepas dari tangan sang pertarung.”

Aku tersenyum sinis. Ini adalah saatnya aku untuk membalaskan dendam pada Yong Mi!

+++

Lee Yong Mi

Oke, aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Yang jelas, hanya satu yang kuketahui.

Baekhyun sangat ingin membunuhku.

Sepertinya kebencian yang ia miliki membuatnya sangat bernafsu untuk membunuhku. Dan sekarang, ia menatapku dengan sorot mata yang berkilat-kilat.

Aku takut.

Baekhyun menyerangku dengan cepat. Aku segera menahan pedangnya dengan pedangku, namun kekuatannya terlalu kuat. Wajar saja, ia adalah namja sedangkan aku sendiri yeoja. Kekuatan kami jelas berbeda jauh.

Mati kau. Mati kau!

Baekhyun, sadarlah! Kau terlalu dibutakan oleh nafsumu sendiri! Ingat, Baekhyun! Kau bukan namja seperti ini!!

Baekhyun-ah, kenapa kau ingin membunuhku? Tanyaku di dalam pikiran, menggunakan telekinesis pada Baekhyun. Ia terbelalak.

Bagaimana kau mengetahuinya?! Tanyanya tidak percaya.

Tentu saja aku mengetahuinya… Tapi mengapa? Apa salahku?

Kau membuatku kehilangan sesuatu yang amat sangat berharga… Kau membuatku kehilangan dongsaeng yang sangat kusayangi… KAU MEREBUT SEMUANYA DARI HYURA!

Ia mengayunkan pedangnya dan berhasil melukai tubuhku. Aku meringis. Emosinya terlalu memuncak.

“Cukup! Henti-“ suara Luhan terdengar, namun samar aku melihat Kris menahan dirinya.

“Biarkan mereka.”

Baiklah, jadi aku bisa terfokus pada Baekhyun. Tanganku mengayunkan pedang, berusaha untuk melempar pedang Baekhyun tanpa niat untuk melukainya sama sekali.

Aku tidak merebut. Kau pikir siapa yang membuatku menjadi seperti ini? Tanyaku. Baekhyun mengarahkan pedangnya ke leherku, namun aku berhasil menepis pedangnya.

Kau merebutnya! Semua yang kau katakan bohong! Kau berbohong! Batin Baekhyun lagi. Aku menggeleng.

Pernahkah aku berbohong? Tanyaku yang berhasil membuatnya terdiam. Byun Baekhyun, kalian yang membawaku kesini. Aku ingat bahwa kau, Dio, Kai, Xiumin, dan Tao yang membawaku kesini.

Berhenti berbicara! Teriak Baekhyun dalam pikirannya, namun aku menggeleng.

Tidak, dengarkan aku! Kalian yang membawaku kesini, tapi kenapa aku yang bersalah? Kenapa kalian semua menyalahkanku?

“BERHENTI BERBICARA!”

Dan secara tiba-tiba, Baekhyun menusukku dengan pedang itu.

+++

“YONG MI-AH!!”

Chanyeol, Luhan, Kris, dan lainnya menghampiri Yong Mi dengan cepat, sedangkan Baekhyun hanya berdiri terdiam, menatap Yong Mi dengan tatapan kosongnya.

A, apa yang telah… kulakukan? Batin Baekhyun. Ia menatap tangannya yang terciprat oleh darah dari tubuh Yong Mi. Tidak… Aku, aku membunuhnya… Tunggu, bukankah ini yang kuinginkan? Tapi… kenapa aku…

Ia kembali menatap Yong Mi yang sekarang sedang berusaha untuk disembuhkan oleh Lay.

Kenapa aku… menyesal?

“BAEKHYUN! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA?!”

Chanyeol merenggut kerah baju Baekhyun, sedangkan Baekhyun sendiri antara sadar dan tidak sadar.

“Aku… membunuhnya?”

Suara Baekhyun terdengar sangat pelan, namun mereka semua dapat mendengarnya. Lay kembali berkonsentrasi untuk menutup luka Yong Mi pada tubuhnya.

“Tidak, ia tidak mati.” Ucap Lay seraya menghela nafas lega. “Syukurlah kita tidak menggunakan pedang beracun untuk latihan ini. Kris hyung, ayo kita membawa Yong Mi ke kamarnya.”

Lay dan Kris pun membawa Yong Mi pergi, sedangkan Chanyeol melepas renggutannya pada baju Baekhyun. Baekhyun berjalan mundur ke belakang, dengan wajah yang ketakutan.

“Tidak… Aku tidak membunuhnya… Tidak… AKU TIDAK MEMBUNUHNYA!!”

Baekhyun berlari keluar seraya berteriak bahwa ia tidak membunuh Yong Mi. Chanyeol ingin mengejarnya, namun kali ini Luhan yang menahannya.

“Gwenchana. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri.” Ucap Luhan yang membuat Chanyeol diam. Ia hanya menatap punggung Baekhyun yang semakin menjauh dari pandangannya.

+++

Byun Baekhyun / Baekhyun

Aku tidak membunuhnya… Hiks, aku tidak membunuhnya…

Kakiku terus berlari menelusuri hutan. Aku harus menjauh darinya… Sejauh mungkin! Aku tidak mau menyakitinya! Tidak, aku justru tidak bersalah! Tapi… tapi… Argh!

“Eo? Neo jeongmal paboya.”

Aku terkejut ketika seorang namja melompat turun dari dahan pohon. Namja itu berpakaian serba putih, dengan tatapan yang tajamnya mengarah padaku.

“Nu, nuguya?” tanyaku terbata. Dalam sedetik namja itu telah berada di hadapanku dan merenggut kerah bajuku kuat.

“Kau… Beraninya kau berniat untuk membunuh Yong Mi-ku…” ucapnya dengan nada mengancam. Ia mengangkat tangannya yang mengeluarkan cahaya putih, dan seketika aku merasa sesak.

“Kau harus mati…” desisnya. Tunggu, apa ini adalah kematianku? Aku akan mati?

Namun tiba-tiba namja itu melepaskan renggutannya, membuatku jatuh ke atas tanah dan terbatuk-batuk.

“Sial.”

Hanya satu kata itu yang ia katakan, sebelum akhirnya ia menghilang dari pandanganku.

+++

“Bagaimana keadaan Yong Mi?” tanya Luhan pada Lay. Mereka berdua berkumpul di depan pintu kamar Yong Mi.

“Dia baik-baik saja. Lukanya telah menutup dengan sempurna. Selama ia tidak bergerak dalam kurun waktu 5 jam, lukanya tidak akan terbuka kembali.” Jawab Lay yang membuat Luhan menghela nafas lega.

“Lalu, bagaimana dengan Baekhyun?” tanyanya lagi. Lay menggeleng.

“Dia belum kembali. Aku tidak tahu dimana ia sekarang.”

“Aish, anak itu. Seperti biasa, ia memang terlalu kekanak-kanakan. Kira-kira, ia pergi kemana?” tanya Luhan.

“Entahlah. Mungkin menyendiri di dalam hutan?”

BRAK!

Mereka berdua terkejut ketika mendengar suara itu dari dalam kamar Yong Mi. Lay segera membuka pintu kamar Yong Mi dan… mereka melihat jendela yang terbuka lebar. Angin memainkan tirai yang terbuka itu.

Dan Yong Mi tidak berada di atas tempat tidur lagi.

+++

Lee Yong Mi

Aku berlari. Menelusuri hutan yang gelap ini. Baekhyun tidak boleh berkeliaran di saat cahaya matahari dapat membunuhnya seperti ini!

“Baekhyun-ah!!” teriakku memanggilnya. Aku mencari di sekelilingku, berharap menemukan Baekhyun. “Baekhyun-ah!! Jawab aku! Baekhyun-ah!!”

Tidak ada yang menjawab. Sekarang, aku hanya mengandalkan insting-ku. Astaga, Baekhyun… Dimana kau sekarang?

“Yong Mi-ah…”

Aku mendengarnya! Suara Baekhyun!

Dalam sekejap, aku berteleportasi ke tempat Baekhyun. Mataku terbelalak melihat Baekhyun terkapar di atas tanah dengan cahaya matahari yang menyinari bagian kakinya. Aku segera menggenggam tangannya erat.

“Baekhyun-ah! Bertahanlah!!” ucapku berusaha menguatkannya. Aku mengalirkan kekuatan penyembuhku pada tubuh Baekhyun. Kumohon, jangan mati, Baekhyun…

Tangannya bergerak. Aku segera membuka mataku dan melihat Baekhyun tersadar! Ia membuka matanya secara perlahan, dan entah mengapa… aku ingin menangis.

“Ba, Baekhyun?”

Dia menoleh ke arahku. Matanya menatapku bingung, namun sedetik kemudian ia terbelalak dan beranjak duduk. Tangannya menepis tanganku, namun ia kembali kesakitan karena sinar matahari itu.

“Jangan melepas genggamanku!” ucapku seraya menggenggam tangannya lagi. Kali ini ia menurut. “Apa yang terjadi? Mengapa kau kabur?” tanyaku. Ia menunduk, sepertinya tidak berniat untuk menjawabku.

Aku… takut…

Tunggu, ia takut?

Aku… tidak mau menyakiti siapa pun…

Astaga, Baekhyun berubah…?

“Ba, Baekhyun-ah…” panggilku pelan seraya mengusap rambutnya lembut. Ia… masih kekanakan. Mentalnya masih mental seorang anak-anak. “Tidak apa-apa. Kau tidak menyakitiku. Lihat, aku baik-baik saja sekarang, bukan? Aku tidak apa-apa…”

Ia masih menatapku takut. Aku memeluknya secara perlahan, kemudian mengusap punggungnya dengan niat untuk menenangkan.

“Baekhyun… Tidak apa-apa. Aku masih hidup, dan aku tidak marah padamu. Aku tahu, kau hanya emosi sesaat. Jangan menyalahkan dirimu, karena kau tidak bersalah.” Ucapku pelan. Tanganku masih tetap mengusap punggung dan rambutnya. “Jadi, jangan merasa bersalah, ne? Kau namja yang baik, jadi jangan membuat dirimu terpuruk seperti ini… Tidak ada yang akan memarahimu, tenang saja. Percaya padaku, Baekhyun-ah…”

Aku melepas pelukanku, membuat ia menatapku dengan polos.

“Jinja? Tidak ada yang akan memarahiku?” tanyanya. Astaga… Betapa polosnya anak ini…

“Ne, tidak akan ada yang memarahimu…” jawabku seraya tersenyum. Ia mengangguk cepat, kemudian menghapus air mata-eh, tadi dia menangis?-yang mengalir di pipinya. “Ayo, kita pulang. Semua mencarimu.”

Aku beranjak berdiri, namun dia menarik tanganku.

“Waeyo?” tanyaku bingung. Baekhyun ikut berdiri, dan sedetik kemudian ia menciumku. Aku terkejut, namun akhirnya aku membiarkan ia melakukannya. Ia membutuhkanku, suamiku ini sangat membutuhkanku.

+++

Yong Mi membawa Baekhyun kembali berteleportasi ke rumah mereka. Disaat Kris dan Luhan hampir memarahi mereka, Yong Mi segera menenangkan mereka. Baekhyun bersembunyi di belakang punggung Yong Mi karena takut.

“Kami tidak apa-apa.” Ucap Yong Mi untuk kesekian kalinya. Ia menggenggam tangan Baekhyun di belakang punggungnya. “Kalian tidak perlu khawatir dan jangan melimpahkan kesalahan pada satu orang. Tidak ada yang bersalah disini.”

Kris dan Luhan tahu, bahwa Yong Mi melarang mereka untuk menyalahkan Baekhyun. Mereka memilih untuk menuruti perkataan Yong Mi.

“Baiklah, kalau begitu aku…”

Tiba-tiba saja Yong Mi terhuyung. Ia merasakan dirinya melemah, pandangannya berubah menjadi samar, dan ia hampir saja jatuh ke atas lantai jika… Baekhyun tidak menangkapnya. Tanpa mengatakan apa pun, Baekhyun berlari membawa Yong Mi ke kamarnya, kemudian ia mengunci pintunya, melarang siapa pun untuk masuk ke dalam.

+++

Byun Baekhyun / Baekhyun

Yong Mi cepat sadar… Yong Mi cepat sadar… Yong Mi cepat sadar…

Yong Mi jangan meninggalkanku… Hanya Yong Mi yang mengerti aku… Hiks, Yong Mi jangan pergi…

Aku menatap wajah Yong Mi yang pucat. Tidak, aku tidak mau Yong Mi pergi! Yong Mi harus segera sadar! Aku… aku menyayanginya! Ia yang mengerti bagaimana diriku yang sebenarnya… Ia tidak pernah marah padaku… Ia baik terhadapku… Aku sangat menyayangi Yong Mi…

“Yong Mi… Ayo cepat sadar…” ucapku seraya menggenggam tangannya erat. “Kalau, kalau Yong Mi tidak sadar… nanti siapa yang baik sama aku… Nanti, siapa yang mengerti kalau aku… kalau aku seperti ini…”

Tanpa terasa, air mataku jatuh lagi. Hiks, aku terlalu cengeng…

“Yak, jangan menangis…”

Aku terkejut ketika melihat Yong Mi telah membuka matanya. Tangannya mengusap air mataku dengan gemetar.

“Yong Mi? Kau telah sadar?!” tanyaku tidak percaya. Yong Mi mengangguk lemah.

“Sudahlah, jangan menangis. Aku hanya pingsan sebentar saja telah membuatmu menangis sampai berderai-derai, bagaimana jika nanti-“

“Andwaeeee!! Kau tidak boleh meninggalkanku!!”

Aku memeluknya erat, tidak ingin melepaskannya. Dia tidak boleh pergi!

“Aku…” ucapku terbata. “Aku… tidak mau kehilangan lagi…”

Seketika aku tersadar.

Yong Mi tidak bersalah. Ia juga tidak berbohong padaku. Aku yang terlalu menyalahkannya, bahkan dengan bodoh aku membencinya. Kenapa aku bisa sebodoh itu? Argh, sudahlah! Aku tidak ingin mengingat semua tentang kebodohanku!

Oke, aku tahu aku ini terlalu… ehm, tidak berdiri pada pendapatku sendiri. Tapi setelah semua yang terjadi, apa aku akan terus teguh pada pendapatku? Jika ya, maka aku pastilah hanya binatang buas yang tidak memiliki perasaan.

“Baekhyun-ah, gwenchana!” ucap Yong Mi yang membuatku tersadar dari lamunanku. Ia memberikan senyumnya seperti biasa, kemudian tertawa seperti biasa. “Setidaknya kita berdua selamat! Lihat, kau tidak terluka dan aku pun hampir sembuh! Sebentar lagi kita dapat berlatih pedang lagi!”

Polos. Terlalu polos.

“Tunggu, justru kau yang terlalu polos.” Ucapnya tiba-tiba seraya merengut. Eh, tunggu. Ia bisa membaca pikiranku? “Tentu saja aku dapat membacanya. Justru kau yang terlalu polos.”

Aku menggembungkan pipiku kesal.

“Aniyo! Justru kau yang polos!” bantahku. Yong Mi ikut menggembungkan pipinya.

“Kau yang polos!”

“Ani! Kau yang polos!”

“Justru kau yang polos!”

“Kau yang polos!”

“Kau yang-“

Aku mengunci bibirnya dengan bibirku, menahan kedua tangannya di atas tempat tidur agar ia bisa diam. Dan berhasil, ia diam seketika. Aku melepas ciumanku dan memberikan sebuah smirk padanya.

“Sekarang, siapa yang pantas disebut polos?”

+++

Lee Yong Mi

“BYUN BAEKHYUN BYUNTAE!!!!!!”

Aku mendorong Baekhyun tanpa mempedulikan bahwa ia akan terjatuh ke atas lantai dan kesakitan. Dia mesum! Mesum!!

“Auw, appoyo…”

Dia mengeluarkan puppy eyesnya padaku. Tidak, aku tidak akan luluh, Byun Baekhyun!

“Yong Mi, ini sakit…”

Ugh, aku tidak akan luluh…

“Hiks, ini sakit…”

Dan dia menangis. Bagaimana mungkin aku tidak luluh melihatnya?!

“Baiklah, baiklah, Baekhyun!” ucapku seraya beranjak secara perlahan, namun tiba-tiba Baekhyun melompat ke atas tubuhku dan memelukku erat.

“Hehe, aku bercanda!” ucapnya tanpa merasa bersalah. Aku kembali merengut kesal. “Aigoo, Yong Mi! Jangan cemberut seperti itu! Kau tampak jelek.”

Dia sepertinya mencari masalah denganku.

“Tapi tidak apa-apa! Aku menyukaimu apa adanya!”

Baekhyun bergerak ke sampingku, kemudian ia memelukku erat. Wajahnya tepat berada di hadapanku.

“Aku menyayangimu, Lee Yong Mi! Sangat menyayangimu!”

Wajahku merona. Aku memang tidak tahan jika seseorang mengatakan hal itu padaku.

“Bagaimana kalau mengubah namamu menjadi Byun Yong Mi?”

Eh?

“Kurasa itu bagus! Yong Mi-ah, kau mau menjadi istriku?”

Tunggu… Ia melamarku? Ia benar-benar melamarku?!

“Ka, kau… melamarku, Baekhyun?” tanyaku tidak percaya. Ia mengangguk polos.

“Tentu saja aku melamarmu! Kau adalah orang pertama yang mendengar kalimat ini dariku. Jadi? Bagaimana, Yong Mi?”

Astaga… Ottokhae? Aku harus menjawab apa?

“Katakan saja ‘ya’.”

Baekhyun membenamkan wajahnya pada leherku, dan sedetik kemudian, ia tertidur pulas.

+++

“Satu… dua… tiga… empat… lima… enam… tujuh… delapan… sembilan…”

Namja itu menghela nafas. Ia melihat waktu yang tersisa baginya.

“Masih tujuh hari… Dan aku hanya perlu menyadarkan 3 hati yang tersisa…”

Ia tersenyum tipis.

“Bagaimana kalau aku bermain dulu dengan kalian, hm? Aku ingin menguji seberapa mampu kalian melawanku yang ingin mengambil Yong Mi…”

Sepertinya tujuannya kini telah berubah. Ia, yang awalnya ingin menolong Yong Mi agar 12 anggota EXO tidak membencinya, sekarang telah berubah. Ia menginginkan untuk membawa Yong Mi untuk pergi ke tempatnya, yaitu…

Di atas sana. Di sebuah tempat bernama heaven. Ya, dia menginginkan Yong Mi untuk mati.

Permasalahannya adalah, siapa namja itu?

TBC

Next episode: Chen (Jinja?!)

“Aku hanya mencari sebuah informasi.”

 

“Maukah… kau menunggu?”

 

“Eo… eomma?”

 

“Aku… tahu akan fakta itu…”

 

“… Jahat.”

 

“Kita bekerja sama. Deal?”

 

“Aku hanya kecewa…”

“Aku… aku kesepian…”

 

“Adikmu itu bukanlah sesuatu yang dapat kau remehkan…”

Iklan

45 pemikiran pada “Memories (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s