Chapter Of Our Life (Chapter 3)

Chapter of Our Life (Part 3)

Title     : Chapter of Our Life (Part 3)

Genre : Family, Friendship, Angst

Length : Chapter

Rank    : PG-15

Main Cast :

  1. Do Kyungsoo as Kim Kyungsoo
  2. Byun Baekhyun as Kim Baekhyun
  3. Park Chanyeol as Park Chanyeol

Support cast:

  1. Oh Sehoon as Park Sehun
  2. Lee Youngra (OC)
  3. Cho Seorin (OC)
  4. Park Jungsoo aka Leeteuk as Park Jungsoo
  5. Kim Heechul as Kim Heechul

Author : Han Minra

chapter of our life_

Baekhyun

“Pandanglah sesuatu dengan hatimu. Jangan hanya menatap dengan mata karena itu bisa berupa tipuan.”

 

Kyungsoo

“Andwae! Kau sudah kesini dan menemuiku… Jangan pergi, masih banyak yang ingin kutanyakan.”

 

Someone

“Ikut denganku atau kau mati sekarang!”

=== CHAPTER OF OUR LIFE===

At Jungsoo’s Home

TOK TOK TOK

Jantungku berdegup kencang saat mengetuk pintu ini. Masa aku baru tinggal beberapa hari disini tapi sudah bertindak seenaknya. Mudah-mudahan semuanya sudah tidur dan hanya Eun ahjumma yang basih terjaga.

“Kyungsoo-ya… Darimana saja kau?” tanya Baekhyun hyung yang membukakan pintu untukku. Sepertinya dari tadi ia masih menungguku.

“Aku…” aku bingung harus menjawab apa.

“Seharusnya kau tidak pulang selarut ini. Kami sangat khawatir… Kenapa kau tak menjawab telpon huh?” tanya appa.

“Mi… mianhae. Aku meninggalkan ponselku. Tadi aku menemani temanku berbelanja hingga malam, karena lelah kami tertidur di bis dan akhirnya kami salah jurusan. Mianhae appa, Baekhyun hyung.” Kataku berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya.

“Kau ini benar-benar. Kau tahu kan, pebuatanmu ini membuat kami khawatir.”

“Ne, appa. Memang tak seharusnya aku bertindak seperti ini.” sesalku.

Kemudian appa pergi ke kamarnya, sepertinya aku membuatnya marah.

“Kau ini. Kami baru saja mendapat berita baik sekaligus buruk siang tadi. Itu sudah cukup menguras pikiran dan perasaan appa, tapi kau malah membuatnya marah sekarang.” Kata Baekhyun hyung menceramahiku dengan volume yang sangat kecil.

“Berita apa hyung?”

“Sehun…. dia sudah sadar… Eits, kau jangan terlampau bahagia dulu. Ada satu berita buruk mengenainya.”

“Apa hyung?” tanyaku penasaran.

“Dia-Sehun… dia amnesia.”

Aku tercekat mendengar perkataan hyungku dan spontan langsung berdiri. Apa aku tidak salah dengar? Amnesia? Dia tak bisa mengingat seorangpun atau apapun dalam hidupnya?? Ini tidak mungkin.

“Ia bisa mengingat seseorang dalam hidupnya, dan ironisnya, itu adalah eommanya.” Kata Baekhyun hyung lesu.

Tubuhku lemas mendengar pernyataan hyungku dan langsung jatuh terduduk kembali di sofa.

“Benarkah itu hyung?”

===

Next Morning

TOK TOK TOK

“Eomma?” kata suara di dalam. Dia bangun pagi sekali.

Pagi ini aku menggantikan Eun ahjumma mengantar makanan untuk Sehun karena sejak kemarin aku belum bertemu dengannya. Mungkin saja sikap Sehun akan berbeda denganku. Mudah-mudahan.

CKLEK

“Ini aku. Aku bawakan sarapan untukmu Sehun.” Kataku sambil tersenyum pada seorang namja yang duduk bersandar di atas kasur.

“Siapa kau! Dimana eomma? Kenapa dia pergi lama sekali?” tanyanya bertubi tubi.

“Aku, saudaramu. Kau tidak menganggapku ya? Kau melupakanku?” kemudian dia menatap lurus lagi ke depan. Tatapannya kosong.

…..

Hening. Kata Baekhyun hyung, sejak kemarin Sehun hanya sedikit sekali berbicara, bahkan hampir tidak berbicara. Kalau tidak, ya memanggil eommanya. Tidak ada kalimat lain yang keluar selain membahas eommanya.

“Aku membawakan bubur untukmu. Makanlah, ini masih hangat.” Aku sudah bersiap menyuapkan sesendok bubur untuknya. Dia mengalihkan pandangannya.

“Kau tak mau makan? Kenapa? Padahal ini enak sekali. Tidak lapar ya? Jangan berbohong… Seingatku, dulu kau bisa menghabiskan dua mangkuk bubur tiap harinya.” Aku mengarang cerita.

“……” tetap tak ada jawaban.

“Baiklah jika tak mau sarapan bubur. Kau minum saja susunya.” Aku menyodorkan segelas susu coklat padanya.

“……” dia malah merapikan posisi bantalnya dan bersiap merebahkan diri ke kasur.

Aku berusaha tetap sabar menghadapi orang di depanku ini.

“Kau baru bangun, kenapa tidur lagi… Aish! Lebih baik kau menghabiskan waktu di luar daripada terus mendekam di kamar. Apa kau tidak bosan?” kataku sambil berusaha menarik selimutnya.

Kemudian ia menarik kasar selimutnya dan menutupi dirinya lagi.

Hening sesaat menjadi jeda obrolan satu arah antara aku dan Sehun. Mungkin dia kesal padaku, jadi lebih baik aku diam karena sudah dapat dilihat dengan jelas jika usahaku GAGAL.

“Baiklah. Kutinggalkan kau sendiri.”

Aku beranjak keluar.

“Aku lelah….” lirihnya.

Aku sontak berbalik. “Mwo?”

“Aku lelah menunggu eomma…” dia mulai terisak.

“Kata lelaki tua itu, eommaku sedang pergi. Kemana dia pergi? Kenapa lama sekali? Apa dia tak merindukanku?” kata Sehun samar-samar di bawah selimut.

“Sehun…”

“Kenapa? Kenapa banyak sekali orang asing yang mengaku menjadi keluargaku? Padahal satu-satunya keluargaku yang tersisa hanyalah eomma. Apa benar yang kalian katakan jika aku amnesia?? Aku sama sekali tak dapat mengingat kalian.” Katanya lemas.

Dia bangkit dan mengahdap ke arahku, seperti mengharap suatu jawaban.

“Emm… Eomma… dia sedang ada urusan di luar kota. Dia sangat merindukanmu dan mengkhawatirkanmu, setiap hari dia menelpon untuk sekedar bertanya keadaanmu.” Aku tersenyum getir mengatakan itu.

Kami sepakat untuk berbohong sementara pada Sehun. Aku tahu ini tak akan berakhir baik dan pastinya menyakiti perasaan Sehun.

Keadaan Sehun saat ini, sama dengan keadaanku dulu yang lahir tanpa bisa merasakan kehangatan kasih sayang eomma. Sehun sekarang seperti anak ayam yang kehilangan induknya, yang berada di tengah-tengah dunia asing. Aku tak tega membayangkan, suatu saat ketika ia tahu orang yang ia tunggu justru telah lebih dulu menunggunya di dunia yang berbeda.

“Benarkah yang kau katakan? Baiklah, aku akan terus menunggu eomma.”

Kata-kata itu, seakan menambah beban di pundakku dan menambah perasaan bersalahku padanya menjadi ribuan kali lipat. Aku benar-benar tak tahu bagaimana jadinya saat dia mengetahui segalanya.

“Ne.” Kataku pelan.

Tiba-tiba Chanyeol hyung dan appa masuk.

“Lebih baik kau segera bersiap ke sekolah.” Kata appa.

“Baiklah. Anyyeong Sehun.”

===

At School

“Jadi siapa yang bisa menterjemahkan kalimat ini?” tanya Jung sonsangnim.

“Kenapa lesu sekali? Biasanya kau paling berminat dalam pelajarannya Jung sonsaengnim.” Kata Youngra.

Aku tidak yakin apakah harus menceritakan ini semua kepada Youngra. Aku tidak siap melihat sahabat baruku ini terluka. Sudah cukup aku melihat penderitaan orang semacam Sehun yang sangat memprihatinkan.

“Aniya. Aku hanya lapar, tadi pagi aku lupa sarapan.” Kataku sambil memasang senyum yang dipaksakan.

“Arraseo. Nanti kutraktir di kantin.” Katanya dengan muka datar tanpa menoleh ke arahku.

Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Berbagai macam pikiran melayang saja di otakku.

“Kau sedang tidak ingin bercerita ya?” tanya Youngra tiba-tiba setelah Jung sonsaengnim keluar.

“Eh?”

“Tidak usah pura-pura. Dari ekspresi wajahmu sudah bisa terbaca kalau kau sedang punya masalah.”

“Aku hanya lapar. Sungguh. Kajja ke kantin sekarang.” Aku langsung berdiri dan menepuk pundaknya.

Ekspresi dan perkataanku sepertinya kurang meyakinkan. Buktinya dia mengernyitkan alis tanda dia sedang membaca suatu keanehan, kemudian dia mengikuti langkahku.

“Aha! Aku tahu.” Katanya sambil menjentikkan jari.

DEG!

Apa dia bisa membaca pikiranku?

“Kau sedang galau kan? Kau kan belum menemui Miss. Hyunja. Huh! Begitu saja kau sembunyikan.”

“Eh…. hehe… iya kau benar. Seratus untukmu. Aku tidak siap melihat wajah itu.”

“Sudahlah, kan ada aku. Iya kan? Kajja kita temui sekarang.” Katanya sambil tersenyum jahil.

“Umm… Akan lebih baik jika kita ke kantin dulu.”

“Terserahlah.”

Mianhae Youngra, aku hanya belum siap melihat kenyataan bahwa hatimu akan lebih terluka daripada sekarang.

===

At Other Place

Author POV

Jam istirahat, semua anak pergi keluar kelas dan beberapa tetap tinggal di dalam kelas. Termasuk Chanyeol yang sedang berbicara dengan benda pipih berbentuk persegi yang ditempelkan di telinga kanannya.

“Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?” terdengar suara Seorin dari benda itu.

Chanyeol menghela nafas berat. “Belum.”

“Mianhae, kali ini aku tak bisa berbuat apa-apa. Jeongmal mianhae.” Kalimat Seorin terdengar penuh dengan rasa penyesalan.

“Gwaenchana. Sedangkan kau, aku saja merasa tak berguna dalam masalah ini.”

“Bersabarlah~” kata Seorin.

“Kau tahu, saat ini aku membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu.” Kata Chanyeol pelan.

“Mianhae, aku juga sangat ingin menghiburmu sekarang. Tapi bagaimana lagi, orang-orang terpenting dalam hidupku mengalami penderitaan di saat yang bersamaan.” Seorin mendesah pelan.

“O iya. Aku hampir lupa, aku turut berbela sungkawa atas meninggalnya kakekmu.”

“Gomawo. Baiklah, sampai disini dulu. Sepertinya jenazah akan segera dikuburkan.”

“Ne. Hati-hatilah disana dan cepat kembali ke Seoul…”

“Arraseo. Mungkin lusa aku pulang. Annyeong.”

“Annyeong.”

CKLIK

Chanyeol lebih dulu menekan tombol untuk mengakhiri panggilannya dengan Seorin. Ia meletakkan kepalanya di atas meja dan menoleh ke samping kanannya.

“Andai kau disini sekarang. Hanya kau yang bisa mengerti dan memahamiku selain eomma.” Gumam Chanyeol.

Tiba-tiba Baekhyun duduk di bangku sebelah Chanyeol yang masih saja ditatap dengan pandangan kosong oleh Chanyeol.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Baekhyun dengan senyuman ramah.

“Ani.” Jawab Chanyeol singkat dan langsung memalingkan muka.

“Jangan menyiksa dirimu sendiri. Ehem, mianhae jika aku terlalu ikut campur masalah keluargamu. Tapi aku hanya mau mengatakan… Jangan pergi dulu! Dengarkan aku sebentar saja.” Chanyeol yang tadinya berdiri langsung duduk kembali. Baekhyun menghadap pada Chanyeol.

“Sadarlah Chanyeol, kau tidak sendirian. Kau tidak hanya punya Seorin. Kau punya appa, Eun ahjumma, bahkan sekarang kau punya aku dan Kyungsoo. Kita keluarga, apapun yang terjadi kita hadapi bersama karena itulah arti sebuah keluarga. Jika dalam keluarga saja kita tidak menaruh kepercayaan, maka kita akan selalu merasa sendirian. Itulah yang terjadi padamu Chanyeol. Berfikirlah ke depan, tatap semuanya dengan pandangan positif. Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu, karena aku…. aku juga pernah mengalaminya, bahkan lebih buruk darimu.” Ucap Baekhyun lirih.

“Bagaimana aku bisa?! Jelaskan bagaimana caranya! Aku sudah kehilangan eomma, dan sekarang keadaan Sehun…” Kata Chanyeol yang kali ini menoleh ke arah Baekhyun.

“Tidak hanya kau yang merasa terpukul, kami juga. Apalagi appamu Yeol, kita semua berharap agar Sehun cepat sembuh.”

“Appa? Dia tak pernah memikirkan kami…” Chanyeol memalingkan muka ke depan.

“Kuncinya ada di dalam hatimu. Bukalah hatimu untuk sesuatu yang ada di depanmu, berilah mereka kesempatan… Jangan berfikiran tentang apa yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Hidup terus berjalan, jika kau menengok kembali ke belakang dan hanya mengingat yang buruk-buruk saja yang menyakiti hatimu, maka sama saja kau menyia-nyiakan sisa hidupmu yang telah dengan murah hati diberikan oleh Tuhan.”

“Tapi, mengapa ini harus menimpa keluargaku?” Kata Chanyeol ketus.

“Tuhan selalu adil bagi tiap umatnya karena Dia sangat mencintai mereka. Hanya saja wujud cinta kasih pada umatnya ditunjukkan dengan cara yang berbeda. Yang kau hadapi saat ini juga merupakan tanda kasih darinya, Dia sedang berusaha memberimu motivasi dan semangat hidup baru melalui kejadian ini.”

Baekhyun menyelesaikan kalimatnya. Chanyeol hanya diam termenung, menyadari apa yang dikatakan Baekhyun barusan sangat benar. Sambil terus menghadap Chanyeol, Baekhyun mengatakan,

“Pandanglah sesuatu dengan hatimu. Jangan hanya menatap dengan mata karena itu bisa berupa tipuan.”

Chanyeol masih terus diam, terjebak dalam pikirannya sendiri. Kemudian Baekhyun beranjak dan melangkah ke bangkunya.

“Terima kasih.” Kata Chanyeol sangat pelan dan hampir tak terdengar tapi cukup membuat Baekhyun berhenti sejenak dan mengulas senyum.

“Cheonma.” Bisiknya pelan.

===

“Kyungsoo-ssi, untuk apa kau mengajakku kemari? Kajja kita pulang, lalu aku akan mampir ke rumahmu untuk menjenguk Sehun.” Kata Youngra.

“Sebentar saja. Sepertinya aku harus menukar jam tangan yang kubeli kemarin karena ada goresan sedikit.”

“Kenapa harus sekarang?”

“Besok Baekhyun hyung berulang tahun.”

“Makanya teliti sebelum membeli. Sepertinya kau harus belajar dariku.” Kata Youngra datar.

Kyungsoo sengaja mengajak Youngra berputar-putar di pasar. Ya, alasan utamanya adalah mengalihkan perhatian Youngra agar tak ke rumahnya dan mengetahui keadaan Sehun. Alasan lain adalah, dia tak benar-benar ingin menukar jam tangan karena itu hanya alasan yang mumpung lewat di pikirannya.

“Semoga ini berhasil.” Gumamnya.

“Mwo? Apanya yang berhasil?” tanya Youngra polos.

“Aniya. Kau bawa uang tidak?”

“Jangan salah. Kemanapun aku pergi, dompet tak pernah lepas dariku.” Kata Youngra bangga, padahal itu malah menunjukkan jati dirinya yang benar-benar seorang shopaholic. Kyungsoo tersenyum menyadari hal itu.

“Ada apa? Kenapa senyum-senyum?! O… Aku tau, kau pasti ada maunya. Ternyata ini hanya modus… ckckckck.” kata Youngra.

“Kau…. em… tidak ada sesuatu yang ingin kau beli? Aku ingin berguru padamu.” Kata Kyungsoo sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.

“Nah… kan… kemarin siapa yang mengejek jika aku gila belanja? Sekarang kau malah mengajari aku untuk hidup boros.” Hardik Youngra.

“Kau kan tadi bilang jika aku harus belajar darimu. Ajari yaa… jebal.” Kyungsoo memohon.

“Jangan memasang muka itu…. Ah, baiklah, lagipula ada sesuatu yang menarik di tempat yang tadi kita lewati. Akan kuajari kau bagaimana cara memilih satu dari sejuta barang serupa dengan kualitas terbaik tapi harga tetap murah. Juga akan kuajari bagaimana cara menawar.”

“Wuaaahhhh….. Gomapta… Kau memang The Best!” kata Kyungsoo sambil mengacungkan jempol.

Sekarang ia bisa tersenyum lega, akhirnya usahanya untuk menghindarkan sementara Youngra dari Sehun berhasil.

===

@ Kediaman Keluarga Park

TOK TOK TOK

CKLEK

Namja jangkung yang tidak lain adalah Chanyeol masuk ke dalam kamar Sehun tanpa menunggu izin dari pemiliknya karena sudah pasti Sehun tidak akan menjawab. Sehun, seperti biasa, duduk di atas ranjang sambil menatap kosong ke depan.

“Annyeonghaseyo…. Bagaimana keadaanmu hari ini?” kata Chanyeol dengan suara beratnya.

“Aku membawakan es krim untukmu. Rasa coklat. Aku tahu kau paling tidak bisa menolak untuk ini.” Chanyeol mengulurkan tangannya yang menggenggam es krim rasa coklat pada Sehun.

“Kau tidak mau? Sudah bosan ya? Baiklah, besok akan kubelikan rasa lain. Kau mau rasa apa?”

Merasa bahwa tak akan ada respon yang berarti, Chanyeol tetap meneruskan pembicaraan satu arah dengan Sehun.

“Ya! Sehun! Kau seharian hanya berdiam diri di sini tanpa melakukan apapun? Bagaimana kau mau sehat jika begini terus. Kajja kita keluar, akan kutunjukkan sesuatu yang sangat menarik.” Chanyeol menggandeng tangan Sehun, berusaha mengajaknya bangkit dari tempat tidur. Namun Sehun menarik kasar tangannya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini?!” Kesabaran Chanyeol mulai teruji dengan sifat dan perilaku Sehun. Sekali lagi ia menggapai tangan Sehun dan menariknya untuk berdiri. Namun, sekurus apapun Sehun seperti sekarang, ia tetap bisa meloloskan tangannya dari genggaman Chanyeol.

“Ya! Kau tidak lumpuh! Jadi berdirilah dan ikuti apa kataku!” Chanyeol kali ini menariknya secara kasar dan paksa.

“Sakit! Aku tidak mau.” Sehun akhirnya berbicara juga.

“Wae? Ini demi kebaikanmu.”

“Aku sudah mengatakan ini padamu sejak kemarin…. Apa aku mengenalmu?” kata Sehun datar.

Kalimat itu sukses membuat Chanyeol termenung, tak lama ia merasa hatinya sangat panas.

“Kau jahat.” Kata Sehun ketus.

Ingin sekali ia memukul Sehun, namun ia mengurungkan niatnya karena ini bukan salah Sehun. Akhirnya daripada ia marah kepada Sehun, ia memutuskan untuk keluar.

Tiba-tiba…

PET

Lampu mati. Keadaan gelap total karena ini menjelang malam sedangkan kamar Sehun berada di agak belakang.

“Eomma!” Sehun berteriak, membuat Chanyeol panik.

Ia menuju meja dekat lemari pakaian Sehun dan mencari senter, dinyalakannya dan mengarahkan ke arah Sehun, tentu saja tidak ia arahkan ke muka Sehun karena bisa menyakiti matanya.

“Andwae!!!!!!! Aku tidak bisa mengendalikan mobil ini! Eomma!!!!!” Sehun berteriak sambil menutup matanya dan melindungi kepalanya.

Chanyeol bertambah panik. Apa yang harus ia lakukan…

Ia segera paham, sepertinya Sehun sedang mengalami deja vu saat kejadian kecelakaan itu terjadi. Ia meletakkan senter itu di tepi kasur dan segera memeluk Sehun yang masih terus berteriak. Tanpa ia sadari, senter itulah yang membuat Sehun teringat akan kecelakaan itu. Lampu senter itu, di mata Sehun bagaikan lampu mobil yang bersimpangan dengan mobilnya dan menyebabkan kecelakaan itu terjadi.

Tubuh Sehun terguncang, Chanyeol mempererat pelukannya dan tiba-tiba ia merasakan tubuh Sehun seperti menimpa dirinya. Sehun pingsan.

“Ada apa?” Eun ahjumma datang dengan panik sambil membawa lampu petromax.

“Ahjumma, tolong segera hubungi Kwon uisa. Sehun pingsan!” perintah Chanyeol dengan nada panik.

Eun ahjumma panik dan segera berbalik untuk melakukan apa yang dikatakan Chanyeol.

“Hubungi appa juga.” Kata Chanyeol dari dalam.

Eun ahjumma hanya mengangguk tanpa menoleh.

“Kenapa? Kenapa Sehun berteriak?” Baekhyun tiba-tiba datang.

Tentu saja ia datang sangat lambat karena keterbatasannya yang berjalan dengan bantuan tongkat dan juga kamarnya yang terletak di atas, menambah kesulitannya.

“Sehun… Ia pingsan.” Kata Chanyeol lemas sambil membenarkan posisi tidur Sehun.

“Tenangkan dirimu dulu. Jangan panik.” Nasihat Baekhyun sambil mengelus punggung Chanyeol. Setelah Chanyeol mengatur nafasnya dan mulai tenang, Baekhyun baru berani bertanya.

“Bagaimana bisa? Kata Eun ahjumma tadi siang dia sudah minum obat.”

“Sepertinya, dia mengalami deja vu saat kecelakaan mobil menimpanya dan eomma. Aku tidak tahu mengapa ini bisa terjadi.” Terang Chanyeol.

“Emm… Tapi jika ia mengalami deja vu,  bukankah itu bagus, jadi memorinya tentang masa lalu sudah mulai terbuka.”

Chanyeol terhenyak, “ Kau benar. Semoga melihatnya sembuh bukan lagi harapan, tapi menjadi kenyataan.”

===

“Bagaimana keadaannya Kwon uisa?” tanya Jungsoo.

“Dia terlalu banyak berfikir.”

“Aku juga menyadari hal itu. Ia terlalu memikirkan eommanya.”

“Baiklah… Aku mengerti dilema yang anda dan keluarga anda hadapi. Pikirkanlah cara agar ia berangsur-angsur mulai menerima keadaan di sekitarnya, misalnya dengan mengajaknya rekreasi, menghabiskan waktu di tempat-tempat yang ia suka, dan berinteraksi dengan orang-orang yang dulu sangat dekat dengannya. Ini sangat penting untuk menunjang kesembuhannya.”

“Lalu, apa benar yang tadi itu deja vu?”

“Ya. Kejadian ini menyebabkan dua kemungkinan. Pertama, dengan deja vu berarti dia sudah mulai bisa mengingat sedikit masa lalunya. Kedua, jika ini sering terjadi, dikhawatirkan akan menimbulkan rasa takut yang berlebih dan trauma padanya. Semoga dengan berjalannya waktu ingatanya bisa pulih kembali. Ini kuberi obat, untuk jaga-jaga jika kondisinya terguncang seperti tadi.”

“Khamsahamnida Kwon uisa.”

===

At Other Place

“Gara-gara kau, jati diriku jadi terekspose. Sekarang semua orang tau kalau aku shopaholic.” Gerutu Youngra sambil membawa tas belanjaannya di kedua tangannya.

Kyungsoo hanya tersenyum dan meletakkan tas belanjaan Youngra yang ia bantu bawa. Mereka sudah di halte sekarang dan langit mulai gelap, sudah bisa diduga sebelumnya jika akan membutuhkan waktu yang lama sampai seorang Youngra puas melepas hasrat berbelanjanya.

“Kali ini lebih parah dari kemarin, ya?” Kyungsoo terkekeh karena merasa puas Youngra bisa masuk ke dalam jebakannya.

“Jika kau tidak rewel memintaku mengajarimu, mungkin aku juga tidak terlalu boros seperti ini!”

“Aku kan tidak memintamu berbelanja sebanyak ini, aku hanya memintamu mengajari. Lagipula, kau juga tidak harus membeli kan??”

“Ne… Arraseo… Jika sudah disana, aku memang tidak bisa mengendalikan diri. Jika kau tidak menarikku dari toko tadi dan mengajak pulang, mungkin sekarang kita masih berkeliaran disana.”

“Haha… itu sudah tugasku untuk mengingatkan sahabat yang sedang tersesat akal sehatnya.. hahaa….” ejek Kyungsoo.

“Huh! PD sekali… Eh? Kau tidak jadi menukar jam tangan yang kemarin?”

“Oh iya… Ini semua gara-gara melihatmu yang terlalu bersemangat.” Kyungsoo menepuk jidat, pura-pura lupa.

“Mian, padahal tujuan utama kita kesini kan untuk menukar jam itu. Bagaimana kalau kita kembali, mumpung masih dekat.”

“Tidak usah… Gwaenchana.”

Melihat Youngra yang merasa bersalah dan kecewa membuat Kyungsoo menjadi tak enak.

“Sudahlah… tak usah begitu. Santai saja…. Jangan cemberut, mukamu seperti ikan koi.”

Youngra mengulas senyum.

DEG!

‘Senyumannya kali ini berbeda… Bukan bibirnya yang mebuatnya berbeda. Tapi matanya, terlihat lebih cerah dan… cantik? Ya, bola mata itu cantik.’ Pikir Kyungsoo dan seketika ia merasa gugup.

“Annyeong… Kau tidak sedang tidur tanpa memejamkan mata kan?” Youngra menatap bingung sambil menggerakkan tangannya persis di depan wajah Kyungsoo.

“Eh… ngomong-ngomong, berbelanja sebanyak ini, sering pula, mengapa kau tidak pernah kehabisan uang??” Kyungsoo mengalihkan topik pembicaraan untuk melupakan apa yang barusan ia rasakan.

“Appa selalu memberiku uang…”

“Waahhh… enak sekali hidupmu.”

“Tidak juga. Appa jarang di rumah, setiap hari selalu di luar kota. Paling seminggu hanya pulang satu kali dan itupun ia gunakan untuk tidur. Meskipun anggota keluarga kami lengkap, tetapi kami tidak pernah melakukan suatu hal bersama. Dengan adanya eomma aku sangat bersyukur karena aku tidak merasa kesepian.” Youngra selalu tersenyum saat bercerita, tapi matanya tidak bisa berbohong jika ia mengalami kekosongan dalam hidupnya, dan Kyungsoo melihat itu.

“Eh, itu bisnya sudah datang.” Teriak Youngra.

“Jangan ketiduran lagi ya…”

“Ya! Kau juga tertidur waktu itu. Jangan hanya menyalahkanku!”

===

Kyungsoo’s POV

“Kenapa kau tidak marah?” tanya Youngra memecah keheningan diantara kami.

“Kenapa harus marah?” aku menoleh wajahku kini berhadapan dengannya, mengapa sedekat ini?

“Kemarin saat pertama kali aku mengajakmu kesana dan aku berbelanja lama sekali, kau terlihat kesal. Tapi sekarang mengapa tidak? Atau kau sebenarnya kesal tapi mencoba menutupinya karena tak enak denganku?” katanya lembut seperti biasanya saat ia sedang menjadi gadis normal.

Deg deg deg deg…

Kenapa ini? Kenapa dadaku sakit? Wahai jantung, kenapa degupmu bertambah kencang?

“Hei! Kau sering melamun seharian ini. Apa kau lelah?”

“E iya… hehe… Begini, kan tujuanmu kali ini untuk mengajariku… Jadi beda ceritanya.” Aku memalingkan muka ke jalanan karena aku duduk di samping jendela untuk menghindari kemungkinan terjadinya serangan jantung (?).

Kenapa jadi seperti ini? Padahal kemarin-kemarin biasa saja. Akan kutanyakan pada Baekhyun hyung, apa keluarga kami pernah mempunyai riwayat kelainan pada jantung? Jika iya, mungkin saja sekarang itu menurun padaku… Andwae!!!

“Oh… jadi benar, kau lelah… Mianhae.” Katanya.

“Bukan… aku tidak lelah, hanya saja aku merasa pegal.” Kataku dengan senyum bodoh.

“Itu sama saja.” Katanya datar.

Sunyi….

Dalam bis ini hanya ada lima orang termasuk supir, dua yang lain adalah pasangan kakek nenek yang dengan antengnya duduk di kursi sebelah kami.

Aku berkutat sendiri dengan pikiranku. Bagaimana keadaan Sehun di rumah? Apa appa akan marah lagi jika aku tidak pulang tepat waktu? Mudah-mudahan tidak karena ini baru menjelang malam, artinya ini belum malam kan? Dan, kenapa frekuensi degup jantungku jadi seperti ini? Aku tidak mau mati gara-gara terkena penyakit jantung…

PLUK

Kutolehkan kepala ke samping kanan dan, lagi-lagi Youngra tertidur di bahuku. Huh, bosan Youngra bosan… sudah diingatkan masih saja…

Lagi lagi….

Deg deg deg deg deg deg deg

Kali ini bertambah kencang dan cepat. Kenapa jantung ini tidak bisa diajak kompromi? Aku jadi takut sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan aneh yang terbesit di pikiranku. Aku melihat wajah Youngra yang tidur dengan tenang karena biasanya dengan melihat orang tertidur dengan tenang, perasaanku juga tenang. Aku terbiasa begini karena wajah Baekhyun hyung selalu terlihat tenang saat tertidur dan bisa membuatku tertidur dengan pulas.

Tapi kali ini berbeda. Sekali lagi, ini berbeda.

Jantung ini malah semakin tidak santai. Aduh, kapan sampainya? Aku butuh obat, aku butuh Baekhyun hyung. Apapun asal kau berhenti melompat lompat wahai jantung.

“Ajusshi, cepat sedikit ya… Ini kapan sampainya?” tanyaku.

“Masih lama. Kan tujuan kalian ke pusat kota, masih jauh kalau dari sini.”

Aku menghela nafas. Masih lama ya?

“Wah… Yeojachingumu nyenyak sekali. Tidurnya sangat pulas dan tenang, aku jadi ingat masa lalu…” Goda kakek-kakek di sebelah.

“Dia? Dia bukan yeojachingu saya. Kita hanya sahabat kok.” Jelasku gelagapan.

“Yang begini dibilang sahabat? Bagaimana kalau sudah pacaran ya? Anak-anak jaman sekarang… ckckck.”

“Yah, dibilang gimanapun, dia memang sahabat saya.”

“Sahabat bisa jadi cinta kan. Kalimat itu sering kudengar di acara TV yang ditonton cucuku.” Si nenek ikut menimpali.

Kata-kata pasangan kakek nenek ini langsung mengunci bibirku. Sok tahu… Itu yang kupikirkan.

Eh, tapi apa iya? Tapi, kita kan sahabat dan kita kenal juga belum lama. Lagipula, apa itu cinta? Aku sering mendengar dan menonton di TV, biasanya sang tokoh laki-laki berkata cinta pada sang tokoh perempuan. Lalu mereka menghabiskan waktu bersama. Padahal itu lebih mirip sepasang sahabat yang sedang bermain. Apa cinta seperti itu??

Ah, tetap saja aku tak mengerti apa itu cinta. Susah dijelaskan. Mungkin Baekhyun hyung tahu lebih banyak, akan kutanyakan padanya.

===

Ragu untuk sekian lama, akhirnya kuketuk juga pintu depan. Tidak ada sahutan.

CKLEK

Ternyata tidak dikunci dan, sepi? Kemana semua orang?

Kesempatan ini kugunakan untuk langsung menuju kamar supaya tak terlihat oleh siapapun.

“Hyung…” saat kubuka pintu kamarku, Baekhyun hyung juga tidak ada padahal biasanya dia di kamar untuk belajar.

Kemana mereka semua? Apa sedang makan di luar?

Hmm… aku mandi dulu saja.

Aneh, ini aneh. Sejak tadi selama di rumah ini aku merasakan waktu berjalan lebih lambat. Apa mungkin ini karena aku sendirian? Lalu jika mereka pergi, kenapa pintu depan tidak dikunci?

O iya, aku melupakan Sehun. Apa dia juga ikut menghilang?

Aku menuju kamar Sehun dan,… kosong. Aku benar-benar merasa sendiri sekarang.

Bosan, akhirnya kuputuskan untuk menonton TV sambil menunggu mereka kembali. Aku memposisikan tubuhku dengan posisi yang paling nyaman di atas sofa, yaitu dengan tiduran. Tak lama, kurasakan mataku tak tahan lagi untuk terpejam.

***

 “Kyungsoo… Apa benar kau Kyungsoo?”

“Kau… Siapa? Sepertinya wajahmu tak asing.”

“Benar, aku eommamu nak. Aku sangat merindukanmu…”

“Eomma? Benarkah itu kau?”

“Ya. Kesinilah dan peluk eomma…”

Aku segera berlari menuju wanita itu dan memeluknya.

“Aku tak percaya, selama ini aku hanya melihatmu melalui foto. Tapi sekarang, tak dapat dipercaya… Apa kau nyata?”

“Tentu saja. Aku kembali untuk memberitahumu sesuatu yang sangat penting.”

“Apa? Sepenting itukah sampai kau mau repot-repot kesini?” aku melepas pelukannya, dia mengangguk.

“Kau, sekarang sudah tak tinggal di rumah lagi?”

“Ne. Mianhae eomma. Aku dan Baekhyun hyung terpaksa melakukannya.”

“Kau dan Baekhyun sudah besar dan sudah tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak….”

“…. Tapi di kehidupanmu yang sekarang, kuminta kau selalu berhati-hati dan jangan sampai lengah. Aku hanya ingin hidupmu dan Baekhyun selamat, jadi, berhati-hatilah. Keluargamu yang sekarang sangat bisa dipercaya dan diandalkan, kau bisa meminta bantuan kapanpun kau meminta. Kau beruntung mempunyai mereka Kyungsoo. Mianhae aku tak bisa merawatmu seperti bagaimana mereka merawat kalian.”

“Tunggu, aku tak mengerti perkataan eomma. Apa inti dari ini semua?”

“Aku ingin yang terbaik untukmu dan Baekhyun. Di kehidupanmu yang sekarang, teruslah berhati-hati dan jaga diri baik-baik.”

“Mengapa memintaku menajaga diri? Bukankah eomma akan disini untuk merawat dan mendidikku dan Baekhyun hyung?” kurasakan tiba-tiba air mataku menetes.

“Mianhae, waktuku tidak banyak. Hanya bertemu denganmu saja aku sudah sangat senang… Suatu saat jika waktunya tiba, bukankah kita sekeluarga akan bersama? Jadi bersabarlah untuk itu.”

“Andwae! Kau sudah kesini dan menemuiku… Jangan pergi, masih banyak yang ingin kutanyakan.”

Lama kelamaan sosok itu memnudar hingga akhirnya menghilang.

“Andwaeeeeeeee!!!!”

***

 

Nafasku tersengal-sengal, tenggorokanku kering, keringat dingin bercucuran, dan perasaan ini… Ini semua seperti nyata. Padahal cuma mimpi tapi bisa membuatku sampai seperti ini. Dalam seumur hidup ini kedua kalinya aku bermimpi tentang eomma, pertama sangat terekam jelas di otakku dan nampak sangat nyata yaitu satu minggu sebelum appa meninggal. Dalam mimpiku, ia berpesan padaku untuk selalu berada di dekat appa dimanapun dan kapanpun. Aku menganggapnya wajar karena saat itu appa sedang dirawat di rumah sakit. Tapi ternyata, setelah adanya mimpi itu, terjadi sesuatu yang buruk pada appa. Ia seperti memberi peringatan padaku. Tetapi untuk saat ini, ia memintaku untuk selalu berhati-hati? Tiba-tiba perasaanku menjadi tak enak.

Jam delapan? Mwo? Ternyata belum lama aku tertidur. Cukup aneh untuk menerima mimpi semacam tadi. Masih sepi. Baik, ini bertambah aneh. Lebih baik kuhubungi Baekhyun hyung atau appa.

Tut tut tut tut

Aku sama sekali tak bisa menghubungi seorang pun. Atau lebih baik jika aku mencari mereka? Yang benar saja? Siapa yang tahu mereka sedang dimana dan sedang apa?

Yakinkan dirimu Kyungsoo. Kau mempunyai perasaan tak mengenakkan, jangan-jangan ini berhubungan dengan mereka.

Segera kuambil jaket dan pergi mencari mereka. Aku hampir lupa. Naik apa? Sepeda? Masih ditambal karena kemarin bocor. Lari? Tak mungkin lagi, kau pikir kau superhero? Taksi? Ya, naik taksi saja.

Baru beberapa langkah meninggalkan pintu depan, tiba-tiba…

“Kau mau kemana?” seseorang dengan pakaian serba hitam dan menggunakan masker mengahdang jalanku.

“Si… siapa kau?”

“Kau tak perlu tahu. Kajja ikut denganku!”

“Aku tak pernah mengenalmu. Ada urusan apa kau mencariku?” kataku sambil mencoba untuk tetap tenang meskipun jantungku rasanya ingin lepas karena takut.

“Ada sesuatu darimu yang menjadi urusan bagiku.” Kemudian orang itu mengeluarkan pisau yang diselipkan di belakang punggungnya.

“Kau!! Jangan macam-macam atau kupanggil polisi!” Aku sudah mengedarkan pandangan, mencari-cari sesuatu untuk menyerangnya dan bingo! Ada batu yang lumayan besar, tapi sayang ada di dekatnya.

“Cih! Percuma! Kau akan lebih dulu mati sebelum bisa melapor ke polisi.”

Sebenarnya apa salahku? Aku bahkan tak mengenal orang ini, tapi… Dia seolah olah sudah mengenalku dan mempuyai dendam terhadapku.

“Ikut denganku atau kau mati sekarang!” katanya menegaskan sekali lagi.

“Baik-baik. Aku akan ikut denganmu, tapi tolong, singkirkan pisau itu. Itu membuatku ngeri padamu.”

“Kau pikir aku akan menuruti perkataanmu? Hah! Cepatlah!”

Aku berjalan mendekat dan… dengan sigap kuambil batu yang terletak tak jauh darinya.

“Sekarang jika kau yang mendekat, aku tak akan segan melayangkan batu ini ke kepalamu!” ancamku.

“Nyalimu besar juga. Baiklah, akan kuikuti permainanmu.”

Glek. Aku menelan ludah. Bukan ini yang kumaksud. Appa, Baekhyun hyung, kalian semua… cepatlah pulang…

Dia mulai mengayun ayunkan pisaunya padaku. Jujur, aku sangat takut dan rasanya otot-otot ku lemas semua. Saat dia sudah semakin mendekat, aku mencari celah agar setidaknya aku bisa mengenakan batu ini tepat sasaran dan pergi melarikan diri.

BRUK

Kulemparkan saja batu besar itu dan pas mengenai perutnya, dia agak sedikit terjungkal ke belakang. Aku langsung berlari meninggalkannya.

BRUK

Lagi-lagi suara itu terdengar. Bukan berasal dari batu yang tadi kulempar, tapi berasal dari diriku. Ya, dia mengejarku dan berhasil menjegalku.

SRET

“Argghhh….” Aku mengerang.

Dia menggoreskan pisau itu pada kakiku. Ini sangat sakit.

“Sayangnya, aku tak bisa membunuhmu sekarang. Jadi sebelum aku berubah pikiran, turuti saja apa kataku!” katanya tepat di atasku.

“Aku tak mau ikut denganmu!”

“Bukankah kau masih menyayangi nyawamu?”

Dia menarikku dan memaksaku untuk berdiri. Ini terasa sangat sakit, darah merah segar terus keluar dari bawah lututku. Tidak cukup dengan itu, sekarang dia malah menyeretku agar mau berjalan sambil mengunci pergerakan tanganku.

Tiba-tiba,

TIN TIN

Sebuah mobil masuk ke halaman dan, seperti yang kuharapkan… Itu mobil Chanyeol hyung.

“Hei! Siapa kau!” teriaknya setelah keluar dari mobil.

“Aku tidak ada urusan denganmu anak muda!”

“Kau?? Bukankah kau sudah…” kata Chanyeol hyung setelah semakin dekat.

Hening beberapa saat.

“Berhenti atau kulaporkan ke polisi!”

Lelaki ini tidak menggubris dan terus menyeretku untuk berjalan mengikutinya.

Dengan gerakan yang sangat cepat Chanyeol hyung menyerang lelaki ini. Ia agak lengah jadi aku dengan mudah dapat melepaskan diri.

Chanyeol hyung menendang perut dan lengan lelaki itu, membuat pisau di tangannya terjatuh tepat di depanku. Sigap kuambil pisau itu dan menyembunyikannya agar kemungkinan-kemungkinan terburuk tidak terjadi.

“Baiklah… Kalian tunggu saja. Terutama kau! Kim Kyungsoo!” teriaknya kemudian berlari, Chanyeol hyung berusaha mengejarnya tapi dia sudah terlebih dahulu menghilang di kegelapan.

Chanyeol hyung menghampiriku, “Ini benar kau kan? Kyungsoo?”

“Ne. Ada apa?”

“Kau… Aku pikir kau sudah meninggal.”

“Mwo?!”

“Tadi seseorang menelpon, dia bilang bahwa kau sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan. Saat kami kesana, kami sangat keget karena kau sudah tak bernyawa dan… Umm… Kondisimu sangat mengenaskan bahkan kami tak bisa mengenali wajahnya.” Kata Chanyeol hyung hati-hati.

“Ta… tapi.. aku baik-baik saja. Jadi siapa dia?”

“Entahlah, kami percaya saja kalau itu kau karena disana ada dompetmu beserta isinya.”

Dompet? Apa mungkin pencopet kemarin ada hubungannya dengan ini? Jadi, selama ini ada yang menguntitku? Ini semua seperti sudah direncanakan.

“Jadi kalian sejak tadi di rumah sakit?” kataku berusaha tetap tenang.

“Ne. Kami sangat khawatir. Appa sangat terpukul mendengar berita ini, apalagi Baekhyun, dia malah terus-terusan menyalahkan diri karena tak bisa menjagamu.”

Jika aku pulang lebih awal tadi, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Kesimpulannya adalah, ada seseorang yang menerorku. Apa yang mereka inginkan dariku?

“Oh iya, siapa lelaki tadi?”

“Aku juga tak tahu. Akan kujelaskan semuanya setelah Baekhyun dan appa kembali.”

“Aku hampir lupa. Akan kutelpon appa untuk segera pulang. Dan kau tolong bangunkan Sehun, dia tertidur di dalam mobil.”

“Arraseo.”

Aku berusaha berjalan, dan… baru kurasakan sekarang, sayatan pisau tadi lumayan lebar dan membuat luka sobekan yang agak dalam.

“Ah… Kau tak apa? Kajja kubantu kau masuk ke dalam.” Kata Chanyeol hyung ramah.

Kali ini Chanyeol hyung sangat baik terhadapku dan baru kusadari, tadi merupakan percakapan terlamaku dengan Chanyeol hyung sejak aku tinggal disini.

===

“Jadi intinya ada yang ingin mencelakaimu dan menggunakan orang yang meninggal tadi sebagai umpan.” Kata appa yang rupanya sepemikiran denganku.

“Aku juga berfikiran seperti itu, apa yang telah kau lakukan sehingga membuat dia sebegini dendam padamu?” tanya Baekhyun hyung.

“Molla. Aku merasa tak pernah mencari masalah dengan siapapun, aku juga merasa tak punya musuh.”

“Baiklah, lebih baik kita lapor polisi. Biar mereka yang mengusut siapa dia karena ini termasuk tindak kriminal.” Kata appa.

“Emmm… lebih baik tak usah buru-buru, aku tak ingin membawa-bawa masalah ini kepada polisi. Bisa jadi si pelaku hanya salah paham atau, mungkin juga salah sasaran.”

“Tapi tadi dia menyebut namamu. Berarti dia seseorang yang sudah mengenalmu, dan itu berarti targetnya memang kau.”

“Di kota ini, yang aku kenal hanya keluarga ini juga teman-teman di sekolah dan itupun hanya beberapa.”

“Lalu siapa dia…”

“Sudahlah. Untuk saat ini kita jangan lapor polisi dulu, jika ia datang lagi barulah kita melapor. Aku yakin setelah kau menghajarnya seperti tadi, dia tidak berani datang Hyung.”

“Kau yakin? Ini menyangkut keselamatanmu dan aku merasa sangat bertanggungjawab untuk ini.”

“Ne. Aku sangat yakin.”

“ Baiklah jika itu memang keputusanmu, maka berhati-hatilah. Aku dan hyungmu hanya tidak ingin kehilangan satu anggota keluarga lagi. Aku ke kamar Sehun dulu.” Kata appa kemudian ia meninggalkan ruang tamu.

“Khamsahamnida dan, mianhae.”

“Kau yakin dengan keputusanmu? Kau tahu kan, appa mempercayakanmu padaku dan di dunia ini hanya kau yang kupunya setelah appa tiada. Jadi, kumohon… Jangan mengambil resiko dari suatu tindakan yang kau tahu itu pasti berbahaya.” Kata Baekhyun hyung.

“Tapi hyung, aku hanya tidak mau terburu-buru membawa kasus yang masih samar ini ke polisi. Lagipula, aku sudah cukup banyak merepotkan appa.”

“Dia tak merasa kerepotan, kelihatannya. Dia bahkan sangat senang dengan kehadiran kalian dan sangat menyayangi kalian.” kata Chanyeol hyung pelan.

“Ne. Tapi di hatinya, hanya kau dan Sehun yang menduduki peringkat pertama. Ah, eommamu juga.” Baekhyun hyung sepertinya berusaha menghibur Chanyeol hyung.

“Aku harap juga begitu.” akhirnya Chanyeol hyung tersenyum. Aku belum pernah melihatnya tersenyum, ternyata dia jauh lebih tampan saat tersenyum.

“Oh iya hyung, kau harus tahu bagaimana tadi Chanyeol hyung menghajar lelaki itu.” kataku bersemangat mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Dia? Menghajarnya? Bagaimana-bagaimana, ceritakan padaku.”

“Keren sekali…. Percaya atau tidak, dia seperti super hero.”

“Jinjja?? Sayang sekali aku tak bisa melihatnya.” Sesal Baekhyun hyung.

“Jadi kau menganggapku seperti itu? Padahal tadi bukan apa-apa.” Chanyeol hyung menimpali.

“…..”

Obrolan kami terus berlanjut hingga malam. Baru sekarang aku merasakan kenyamanan menjadi anggota keluarga di rumah ini, berkat senyum dan tawa dari hyung baruku, Park Chanyeol. Dan Baekhyun hyungku tentunya.

===

Author POV

At Other Place

“Jadi kau tak berhasil?! Aku harap penjelasanmu masuk akal.”

“Seseorang datang membantunya. Aku tak bisa melawan karena pisauku jatuh dan dia sangat hebat dalam berkelahi.”

“Dasar bodoh! Dia masih anak-anak, sedangkan kau… Jika tahu begini aku tidak akan memintamu membereskan ini semua.”

“Tolonglah, beri aku satu lagi kesempatan.”

“Lebih baik kau pergi! Aku bisa menyuruh orang yang jauh lebih cerdas darimu.”

“Tapi kau harus membayarku. Setidaknya aku sudah bekerja malam ini.”

“Membayar katamu? Kau pikir aku bodoh? Kemarin kau sudah kuberi setengahnya, seharusnya kau yang ganti rugi karena tak berhasil. Pergi sekarang juga atau ucapkan selamat tinggal pada kepalamu.” Orang itu menodongkan pistol kepada orang di depannya.

“Baiklah, aku pergi.”

CKLEK

“Mengapa kau tidak mengincar kakaknya? Bukankah akan lebih mudah karena kakinya pincang.”

“Dia? Dia terlalu berisik.”

===TBC===

Iklan

3 pemikiran pada “Chapter Of Our Life (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s