Curious (Chapter 7)

Curious – Part 7

 

Title: Curious.

Main Cast: Oh Se Hoon (Sehun), Jung Jin Hyeon, Jang Wooyoung, Jung Krystal, Kim Joon Myun (Suho).

Support Cast: Xi Luhan, Jung Jin Woon, Kim Kibum (Key), EXO.

Genre: Romance-Comedy, Friendship, Family, a little bit drama.

Length: Chapter.

Author: Sehun’s (@elftomato)

Cameo: Jung Yong Hwa, Jung Yoo Geun, Jung [Choi] Yong Jun!

Suggest Song: My Love – Joo Won [Baker King, Kim Tak Goo OST]

cover-new

Note: Ini juga masih salah satu klimaks part 😉 enjoy~

 

***

Part 7 – IF ANOTHER LOVE COMES…

“Mungkin aku akan tinggal di sini untuk waktu yang lama!” ujar Yong Hwa lugas. Kemudian menegak habis teh yang ada di hadapannya. Tak lama pandangannya teralih kepada anak semata wayangnya yang sedang tidur.

“Ah, arra! Hyung akan tinggal di mana?” balas Jin Woon seraya berpikir. “AH! Bagaimana kalau hyung tinggal di rumah ini? Jadi hyung juga sekalian mengawasi Jin Hyeon,” lanjut Jin Woon yang lumayan tiba-tiba, hal itu sekaligus mengagetkan Yong Hwa.

“Entahlah. Aku bisa tinggal di mana saja. Kalau Jin Hyeon tidak menolak, aku dengan senang hati tinggal dengannya,” balas Yong Hwa pelan.

Yong Hwa sebenarnya masih bingung dengan kata ‘mengawasi’ dari segi pandang Jin Woon, karena mereka berdua kadang memiliki persepsi berbeda. Yah sebenarnya bisa dibilang Jin Woon anak Jung yang paling berbeda cara berpikirnya.

“Tenang saja hyung. Aku akan bicara dengan Jin Hyeon. Aku yakin ia akan memperbolehkan!” ucap Jin Woon yakin.

Ding Dong.

Bel berbunyi. Jin Woon dan Yong Hwa menatap ke arah pintu utama berbarengan.

“Ah! Itu pasti Jin Hyeon!” pekik Jin Woon lalu segera bangkit dan berjalan ke arah pintu.

“Aish! Anak itu! Sudah petang begini baru pulang! Apa yang dia lakukan?” dumel Jin Woon di tengah-tengahnya.

Tangannya menekan ke bawah kenop pintu kemudian membukanya perlahan.

“Ya—” ucapnya terhenti. Saat ini yang dilihatnya bukanlah Jin Hyeon, melainkan Suho.

“YA! NEO!”

***

“SIALAN KAU! UNTUK APA KAU KE SINI?!” Sehun tersentak dan mendongak ke arah gedung perumahan Jin Hyeon. Yang paling pertama di-cek olehnya adalah rumah Jin Hyeon. Dan ternyata, masalah sedang terjadi di depan rumah Jin Hyeon.

Jin Hyeon ikut mendongak mengikuti arah pandang Sehun—ke rumahnya. Dilihatnya terlebih dahulu yang sedang terjadi di sana. Dan ternyata Ia mengenali seseorang.

“Joon Myeon-ssi?” kata Jin Hyeon refleks.

Sehun sempat menatap Jin Hyeon selama beberapa saat. Mendengar suara Jin Hyeon yang meneyebut nama asli leadernya, ia sedikit merasa tidak nyaman—cemburu.

Sehun dan Jin Hyeon akhirnya memutuskan untuk melihat situasi. Sehunlah yang pertama kali sampai. Ia melihat Jin Woon sedang mengangkat tinggi-tinggi kerah Suho dan lengan kanannya dipegang oleh seseorang—yang ia tak tahu namanya.

“OPPA!” teriak Jin Hyeon.

Jin Woon sempat menoleh, namun tetap saja pandangannya langsung beralih menatap Suho garang.

“Jin Woon-a, hentikan! Apa yang kau lakukan?” Yong Hwa mencoba melerai mereka berdua.

“Yong Hwa Oppa?” ucap Jin Hyeon skeptis.

“Annyeong Jin Hyeon-a. Tolong bantu aku melerai mereka berdua terlebih dahulu! Nanti baru aku akan bicara denganmu,” balas Yong Hwa masih sambil mencoba melerai kedua orang tersebut.

Jin Hyeon kemduian mulai memegangi lengan kiri Jin Woon. Jin Woon menoleh ke arah adiknya lagi. “Lepaskan aku! Biar aku habisi orang ini. Berani-beraninya ia muncul di hadapanku!”

“Sehun-ssi, tolong bantu aku melerai mereka!” pinta Jin Hyeon.

Sehun mengangguk kemudian mulai memegangi tubuh Suho. Suho yang tadinya diam mulai mencoba melepaskan diri dari Jin Woon.

“JIN WOON-A! LEPASKAN!” teriak Yong Hwa mulai murka.

Jin Woon menatap Yong Hwa tanpa berkedip kemudian mulai merenggangkan pegangannya dari kerah Suho lalu melepaskannya.

“Jelaskan,” ucap Jin Woon ambigu. Suho menatap Jin Woon dengan pandangan bertanya.

“Kalian semua masuk. Kemudian jelaskan apa yang terjadi,” kali ini Yong Hwa yang angkat bicara. Nadanya sedikit agak garang.

“Eo,”

***

“Geurom. Harus mulai dari mana dahulu?” tanya Yong Hwa seraya melipat silang kedua tangannya. Yong Hwa menyebarkan pandangan hampir ke seluruh manusia-manusia yang ada di depannya.

“Oppa,” panggil Jin Hyeon pelan.

“Mwoe? Kau ingin menjelaskan semua ini?” balas Yong Hwa. “Sebenarnya apa yang terjadi setelah kalian meninggalkan rumah?” lanjutnya.

Sehun yang tadi diam jadi sedikit terkejut. Suho yang merasa tak nyaman merubah posisi duduknya.

Suho tahu benar latar belakang keluarga Jung. Ia tahu benar.

“Eo,” jawab Jin Hyeon. Tubuhnya mulai panas dingin. Otaknya bekerja dua kali lipat karena dia harus mulai mengingat-ingat masa lalu dan mencari cara keluar dari situasi genting seperti ini.

“Hm. Sesaat setelah kami kabur dari rumah, oppa memutuskan untuk mulai mencari kerja. Aku yang masih remaja belum mengerti benar tentang kehidupan yang sebenarnya, maka dari itu oppa memutuskan agar aku menjaga dan mengurus rumah, sedangkan oppa yang akan mencari kerja,” kata Jin Hyeon panjang. Ia menarik nafas sejenak, kemudian melanjutkan.

“Oppa akhirnya memutuskan untuk mencari kerja yang benar-benar bisa bertahan hingga cukup lama, akhirnya oppa memilih untuk ikut audisi K-pop. Setelah cukup lama mengikuti audisi akhirnya oppa mendapat satu agensi yang lumayan besar, oppa-pun akhirnya menjadi trainee—”

“Geurom. Aku sudah mendapat teman trainee. Kemudian aku bertemu orang itu”—menunjuk Suho—“dikenalkan oleh teman traineeku yang lain, lalu kami memutuskan berteman. Tetapi kami berbeda agensi, ” sela Jin Woon.

“Karena terlalu sering main bersama, aku mengenalkannya kepada Jin Hyeon, dan merekapun dekat, makin dekat, dan akhirnya, menjalin suatu hubungan—”

***

“Ya! Suho-ya! Angkat telephone-ku!” dumel manager hyung kepada ponselnya sendiri. Saat ini manajer hyung berada di dorm EXO beserta penghuninya.

“Eottohkae?” tanya D.O lugu. Dari semua member, memang ialah yang paling khawatir. Apalagi menyangkut 2 orang terdekatnya ini. Sehun dan Suho.

“Mereka tidak ada yang menjawab telephoneku,” balas manager hyung. Biarpun begitu, tangannya masih terus men-dial nomor mereka.

“Lebih baik kalian beristirahat. Mungkin nanti Suho akan memberi kabar,” ucap manager hyung seraya menepuk bahu D.O dan memandang member EXO satu per satu.

“Hyung, aku ijin keluar,” tiba-tiba Kai berujar. Sepertinya aku tahu di mana Sehun, lanjutnya dalam hati.

“Eo! Hati-hati! Jangan lupa penyamaranmu,” balas manager hyung.

“Eo~”

***

Sehun terkesiap. Ia memandang Suho dan Jin Hyeon bergantian. Baru saja hatinya terasa seperti tersambar petir.

Menjalin suatu hubungan?

Jin Hyeon?

Suho?

Ah! Dia ingat! Baru tadi siang Suho mengaku kalau dia adalah mantan pacar Jin Hyeon. Tetapi Sehun seperti diantara percaya atau tidak terhadap omongan Suho.

Lalu bagaimana jadinya? Apakah dirinya harus menerimanya dengan hati lapang?

Apakah dirinya harus terjun bebas untuk melepas semua beban yang tiba-tiba datang dan menerjang tanpa ampun? Atau tetap membiarkannya menumpuk dan baru membuangnya saat sudah menggunung?

Walaupun Sehun sudah mengetahui kenyataannya ternyata kenyataan yang lain masih ada. Masih lebih banyak. Dan masih lebih dalam menyakitinya. Apakah semua orang di dunia pernah mengalami hal yang sama sepertinya?

Sehun menoleh ke arah Jin Hyeon saat menyadari tangan Jin Hyeon yang sudah menggenggamnya. Tangan itu terasa sedikit lembab. Ah, ani. Tangan itu basah, bukan lembab.

“Gwaenchana-yo?” tanya Jin Hyeon. Ia mengeluarkan suara hampir bersamaan dengan menelan air liur. Jin Hyeon gugup, pikir Sehun.

Sehun mengangguk sebagai balasan. Ia juga balas menggenggam Jin Hyeon erat.

“Hyung, geumanhae.” Suho ingin menyudahi semua ini. Itu kata finalnya, Hyung dan geumanhae.

“Tidak! Kau meninggalkan Jin Hyeon begitu saja. Saat ia sedang bahagia karena dia tidak sendirian, karena dia tidak kesepian lagi, lalu kau malah menghancurkannya! Kau kira sebegitu remehnya masalah yang telah kau perbuat? Kau kira mudah membalikkan kembali adikku yang saat itu sangat terpuruk?” balas Jin Woon skeptis. Runtunan kata keluar dari mulut Jin Woon.

Ini bukan Jin Woon yang biasanya, batin Yong Hwa.

“Oppa, geumanhae-yo. Kita sudahi saja dulu. Ini sudah hampir malam. Oppa butuh istirahat, eo?” ujar Jin Hyeon seraya beranjak dari duduknya dan mulai menarik lengan Jin Woon.

Sehun melihat ke arah Jin Hyeon sejenak. Kata-katanya, hampir sama dengan Suho. Ia memalingkan wajahnya sambil mencoba menampik lagi fakta-fakta yang sudah terkuak.

Jin Hyeon mantan pacar Suho Hyung.

Jin Hyeon pernah disakiti Suho Hyung.

Jin Hyeon … Suho Hyung

Jin Hyeon …

Semua yang berhubungan dengan Jin Hyeon dan Suho hampir berkelebat di pikirannya. Untuk mengurangi rasa gelisah—atau cemburu?—nya ia mengusap kepala bagian belakangnya asal.

“Geurae…”

***

“Eottohkae arra-yo?” tanya Krystal. Ia merubah tempat duduknya senyaman mungkin setelah mendapat pertanyaan dari salah satu member EXO.

“Itu sangat terlihat sekali Krystal-ssi,” balas pria tersebut.

“Kumohon jangan ikut campur masalah pribadiku!” Krystal membalas tegas.

“Aku bukan ikut campur masalahmu. Aku ikut campur masalah Sehun. Ia termasuk member EXO dan orang yang paling dekat denganku. Berarti hal tersebut sangat berhubungan denganku!” ucap pria tersebut tak kalah tegas.

Orang ini! Belum debut tetapi sudah berperilaku begini. Haiissh! Aku ini lebih berpengalaman daripada dia! dumel Krystal dalam benaknya.

Krystal mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kafe yang ada di daerah SM Building. Ia berfikir keras. Apa yang harus ia lakukan? Apa?

“Geurae-yo! Jadi, apa yang harus kulakukan Xi Luhan-ssi?” setelah sedikit lama dia agak diam Krystal angkat bicara.

“Kau hanya perlu mengikuti caraku,” Luhan mulai mendekatkan dirinya kepada Krystal.

“Cara?” ucap Krystal bingung.

“Ne, cara dan perjanjian denganku,”

***

Suho dan Sehun keluar dari rumah Jin Hyeon, atau bisa disebut apartemen kecil keluarga Jung. Yong Hwa dan Jin Hyeon juga tak luput menemani mereka sampai lapangan parkir. Setelah Yong Hwa mengetahui hampir semua cerita hidup adik-adiknya setelah kabur dari rumah, dan setelah Jin Woon tenang, Yong Hwa memutuskan untuk membiarkan dua orang yang asing baginya itu pulang.

“Gwaenchana-yo?” tanya Jin Hyeon saat menuruni anak tangga sambil memengangi tangan Sehun—yang sepertinya enggan untuk melepaskan.

Sehun menoleh. Matanya tidak dapat terbaca oleh Jin Hyeon.

“Gwaenchana-yo!” balas Sehun diiringi senyum andalan miliknya—tetapi matanya masih tetap sama, sulit dibaca Jin Hyeon.

Jin Hyun menatap ke depan, Suho dan Oppanya terlalu cepat berjalan, mereka berdua tertinggal.

Jin Hyun berhenti sejenak. Sehun menyadari Jin Hyun berhenti segera berbalik menatap Jin Hyeon yang sedang menunduk. Dilihatnya perlahan Jin Hyeon merangsek memeluk tubuh  Sehun. Genggaman tangan mereka terlepas karena Sehun terlalu kaget dan Jin Hyeon ingin mendekap Sehun dengan kedua tangannya.

“Kumohon, percayalah padaku,” setelah berbicara Jin Hyeon makin mengeratkan pelukannya.

Sehun mau-tak-mau membalas pelukan Jin Hyeon dengan merengkuh bagian leher, kemudian mengelus kepala Jin Hyun sayang.

“Eo. Nan arattago. Aku mempercayaimu,” balas Sehun kemudian merengkuh pipi Jin Hyeon.

Sehun mulai memejamkan mata. Wajahnya makin ia dekatkan dengan wajah Jin Hyeon.

“Aku percaya padamu,” dan Sehunpun mengecup bibir Jin Hyeon pelan.

***

“Jeosonghamnida Hyung-nim, karena telah membuat keributan di rumahmu,” ucap Suho, tubuhnya ia bungkukkan 90 derajat.

“Ah, Gwaencahanta. Aku juga mau meminta maaf atas kesalahan adikku Jinwoon.” Ucap Yong Hwa balas meminta maaf. “Ahh, itu dia Jin Hyun dan Sehun,” lanjut Yong Hwa.

Suho yang sehabis membungkuk segera menatap orang yang disebutkan Yong Hwa.

“Ah, ne. Aku juga ingin berterima kasih kepada Sehun karena tadi sudah membantu melerai kau dan Jinwoon.” ujar Yong Hwa kemudian menepuk bahu Suho yang juga sedang emnatap kedatanga dua orang itu

“Kalau begitu aku permisi,” ucap Suho saat Sehun dan Jin Hyeon sudah sampai di tempat ia sedang berdiri. Ia membungkuk lagi diikuti dengan Sehun.

“Jalja-yo,” salam Sehun pelan seperti berbisik, beberapa detik setelah mereka membungkuk. Jin Hyeon membalas dengan tersenyum, walalupun ia tidak mendengar tetapi ia dapat melihat gerak mulut Sehun.

Setelah Suho dan Sehun pulang—dengan menggunakan taksi karena sudah terlalu larut untuk menaiki bus—Yong Hwa dan Jin Hyeon kembali ke rumah mereka.

“HUWA!! Melelahkan sekali yaa~” teriak Yong Hwa lalu mengalungkan lengannya di leher adiknya—bermaksud sebagai tumpuan juga.

“JALJA~” lanjut Yong Hwa seraya menekan kata yang keluar dari mulutnya.

Jin Hyeon menyikut perut oppanya. “Oppa mendengarnya?” dumelnya.

“Geurom! Aku mendengarnya sangat jelas, Haha.” jawab Yong Hwa . “Hmm, percintaan masa remaja, HAHA~!” Yong Hwa melepas rangkulan lengannya dari Jin Hyeon dan berjalan cepat.

“YA! OPPA!”

***

“Aku sudah menjalin cinta lagi dengan Suho-ssi,”

“Kasihan sekali kau Sehun-a~ aku sudah memiliki pacarmu, ah, atau bisa kubilang aku merebut kembali cintaku?”

“Kurasa kita tidak cocok Sehun-a,”

“ANIYO!” Sehun terbangun—duduk—dari tidurnya, nafasnya terengah layaknya orang yang berlari marahton. Aish! Ia mimpi buruk.

Sehun mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya kamarnya. Ia lupa mematiakan lampu, ah, atau memang ia tidak pernah mematikan lampu? Aish, ia kan memang seperti itu, karena D.O hyung yang biasanya mematikan lampu untuknya. Setelah matanya sudah terbiasa ia melihat jam yang ada di dinding samping atas pintu, masih jam 3 subuh. Sepertinya D.O hyung ada job di radio atau variety.

CKLEK

“Aigo!” ucap D.O terkejut. Ia mendapati Sehun yang terbangun sambil memandangi jam. “Kau mengagetkanku Sehun-a,” kemudian D.O melepas jaket dan tasnya lalu menaruhnya di lemari.

“Ah, hyung.” balas Sehun lalu menampilkan senyumnya.

“Kau kenapa… kenapa sudah bangun? Ini maish jam 3 pagi. Tumben sekali,” seperti biasa, D.O selalu berkomentar jika Sehun berkelakuan aneh. Seperti tadi. Bangun jam 3 saja dikomentari, hm, memang hyung satu ini mirip sekali ibunya.

“Aku… aku hanya terbangun karena haus,” jawab Sehun tidak sepenuhnya benar. Ia terbangun memang haus, tetapi juga karena mimpi buruk yang baru saja ia alami.

“Ah, arra-yo,” ucap D.O seraya mematikan lampu dan berlalu ke meja rias guna membersihkan make up yang setidaknya tadi malam ia pakai.

Sehun bangun dari duduknya kemudian berlalu ke dapur.

“Issangae (aneh),”

***

“Jin Hyeon-ah, Annyeong?” ucap Wooyoung setelah Jin Hyeon membukakan pintu. Ia yakin yang  membukakan pintu adalah Jin Hyeon karena ia sempat berbicara di interkom.

“Wae-yo?” tanya Jin Hyeon. Wajahnya tadi tiba-tiba segar saat melihat wajah Wooyoung di layar interkom, dan sekarang ia bertatap wajah langsung dengan Jang Wooyoung, member 2PM yang sangat ia segani.

“Ah! Aku ingin mengajakmu sarapan di luar~” ujar Wooyoung dengan wajah secerah mungkin.

“Ah,” balas Jin Hyeon mengerti. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya sedikit canggung, karena masih tidak percaya, kalau Wooyoung—idolanya mengajaknya untuk sarapan bersama.

Apakah ini benar-benar Jang Wooyoung?

“Ah, Oppa, tapi ini masih jam… 7 pagi. Apakah sudah ada restoran yang buka pagi begini?” tanya Jin Hyeon sambil melihat jam tangannya.

“Sudah! Aku tahu di mana tempat sarapan yang sudah buka jam segini!”  balas Wooyoung kemudian menarik lengan Jin Hyeon.

“Ah! Oppa, tunggu! Aku mau pamit dulu pada oppa-oppaku!” sergah Jin Hyeon sebelum ditarik jauh dari rumahnya.

“Ah, ne! Cepatlah!” balas Wooyoung.

Jin Hyeon beranjak masuk ke apartemennya lagi. Ia mencoba membangunkan oppa-oppanya, namun karena wajah kelelahan kedua oppanya dan satu keponakan tampannya itu, ia jadi tidak enak membangunkan mereka. Akhirnya ia menempelkan post it di lemari es dan berlalu untuk menemui Wooyoung.

“Kajja!”

***

“Hmm, mashita!” ujar Jin Hyeon setelah memasukkan satu suap bubur yang masih panas ke dalam mulutnya. “Bagaimana oppa tahu tempat seperti ini?”

Wooyoung menelan buburnya kemudian menjawab. “Wae-yo? Kau tidak suka diajak ke tempat pemukiman?”

“Ani-yo! Aku malah suka. Daripada menghamburkan uang ke restoran, lebih baik seperti ini. Malah aku kira oppa yang tidak suka tempat seperti ini!” balas Jin Hyeon panjang lebar.

“Haha! Ani-ya! Aku dan member 2PM memang suka ke tempat yang agak berbahaya, seperti tempat yang banyak orang ini!” jawab Wooyoung.

“Ah! Member 2PM yang  lain? Jinjja-yo? Aaah~ pasti menyenangkan sekali,” balas Jin Hyeon seraya membayangkan apa yang akan terjadi jika semua member 2PM datang bersamanya sambil makan bubur.

“Hahahaha! Ya! Wajahmu seperti orang bodoh! Hahaha,” kata Wooyoung yang hampir saja tersedak sedetik setelah Jin Hyeon sedang membayangkan member 2PM. Tawa Wooyoung hampir saja menarik perhatian kalau tidak Jin Hyeon peringatkan.

“Yak! Geumanhaeyo,” ucap Jin Hyeon berbisik.

Sedangkan Wooyoung masih saja tertawa kecil, dan hal tersebut membuat Jin Hyeon kesal lalu merengut.

“Hahaha,”

***

“Kita mau ke mana lagi?” tanya Jin Hyeon saat menyadari Wooyoung sudah melewati daerah perumahannya.

Wooyoung menoleh sebentar dan tersenyum kepada Jin Hyeon. Melihat tingkah dan senyum aneh Wooyoung Jin Hyeon membelalak.

“Yak! KAU INGIN MENCULIKKU?” jerit Jin Hyeon seraya membuat tanda silang dengan lengannya di depan dada.

“Mwo? Hahahaha! Ani-ya!” balas Wooyoung tertawa lagi.

“Ya! Oppa! Menyetir yang benar!” ujar Jin Hyeon memperingatkan.

Wooyoung kembali menyetir dengan tenang, kemudian ia mulai melambatkan laju mobilnya, beberapa saat kemudian ia memberhentikan mobilnya di suatu tempat.

“WOAH!!!!” ucap Jin Hyeon terkesima. Di depannya sudah ada hamparan luas laut yang memang segar jika masih pagi. Ia membuka pintu mobil dan berlari meninggalkan Wooyoung yang masih ada di dalam mobil.

“Menyenangkan sekali,” lanjut Jin Hyeon seraya merasakan angin nakal yang beberapa kali menerbangkan rambutnya.

Ia berlari menuju pantai. Ia sangat senang bermain air jika sudah dihadapkan dengan view yang sangat amat ia sukai. Tangannya ia rentangkan agar seluruh tubuhnya dapat merasakan angin segar khas pantai. Jin Hyeon terkesiap sekiranya air laut menenggelamkan telapak kakinya yang masih berbalut sepatu kets.

“Aigo! Aku lupa!” pekik Jin Hyeon kemudian mundur beberapa langkah saat ia menyadari akan ada air laut lagi yang dapat membasuh kakinya.

“Ya! Kau itu! Lepas dulu sepatumu!” ujar Wooyoung di balik maskernya.

Eh? Masker? Ah, Jin Hyeon baru sadar kalau di pantai memang sudah lumayan banyak orang, hanya saja Jin Hyeon yang keasikkan sendiri sampai-sampai tidak menyadarinya.

Jin Hyeon melepas sepatu seperti yang disarankan Wooyoung diikuti juga dengan Wooyoung yang melakukan hal sama.

SPLASH

Wooyoung tidak menyadari jika Jin Hyeon sudah mengambil ancang-ancang untuk mengerjainya, yaitu dengan mencipratkan air laut ke daerah wajah Wooyoung. Untung saja Wooyoung menggunakan masker dan ia sedang menunduk untuk membuka sepatu, jadi hanya bagian mata dan setengah pipinya yang terkena.

“YA!” teriak Wooyoung yang tenggelam dalam maskernya.

Wooyoung mengejar Jin Hyeon yang ternyata sudah berlari menjauhinya. Saat sudah dekat dengan Jin Hyeon Wooyoung membalas. Dan mereka berdua berakhir dengan basah-basahan.

Setelah merasa berlebihan, Jin Hyeon dan Wooyoung memutuskan untuk duduk di bawah pohon kelapa seraya mengeringkan diri mereka.

“Hm, oppa sedang tidak ada job?” tanya Jin Hyeon sambil menatap anak kecil yang sedang bermain pasir.

“Ani-yo! Maka dari itu aku mengajakmu bermain!” jawab Wooyoung sekenanya.

“Ah, arratta!” ucap Jin Hyeon mengangguk berkali-kali.

Hal tersebut membuat Wooyoung gemas kemudian mengacak rambut Jin Hyeon asal.

Tiba-tiba suara perempuan menginterupsi kegiatan mereka.

“Jin Hyeon-ssi,”

“Krystal-a…”

“Sehun-ssi,”

Curious – Part 7, End

Iklan

8 pemikiran pada “Curious (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s