Different is Beautiful, Beautiful is You (Chapter 4)

Author : Hyoona (@Alyakkk)

Genre : Romance, Teenager life, Friendship, (little bit) Comedy

Length : Multi chapter

Main cast :      – Kim Hyeon
– Jung Soona
– Byun Baekhyun
– Xi Luhan

Other cast :    – Tuan dan Nyonya Byun
– Byun Hyunji
– Tuan dan Nyonya Jung
– EXO-K

 Different is beautiful. Beautiful is you. (cover)

Different is Beautiful. Beautiful is You

4

 

Seperti biasa, setiap harinya, aku selalu yang datang duluan sebelum Soona-ya. Bocah itu… selalu datang hampir telat. Padahal setiap hari dia diantar-jemput ke sekolah. -__-

Kutaruh tasku di atas meja, agar aku bisa bersandar dengan nyaman di bangku. Kupasang kedua headsetku, sementara menunggu kedatangan sahabat karibku satu itu. Well, soal kejadian kemarin, aku sudah tidak terlalu memusingkannya lagi. Lagipula, itu sudah bisa (re: mempermalukan satu sama lain -__-) Paling tidak, ketika dia datang nanti akan kujitak kepalanya itu -,-

Ketika sedang asyik-asyiknya mendengar musik, entah ada angin apa seketika pandanganku teralihkan pada segerombolan yeoja yang langsung mendekati kaca jendela.

Aigoo~ Apa-apaan mereka? Seperti melihat artis saja -,-

Tiba-tiba tanpa ada niat sedikitpun, aku mendengar seruan mereka yang menyebutkan nama namja itu; Byun Baekhyun. Huh, pantas saja~ ><

Tanpa mau ambil pusing memikirkan namja itu, kubesarkan lagi volume lagu yang sedang kuputar. Kulihat para yeoja yang mendekati jendela tadi, buru-buru kembali ke kursi mereka dan ritual pun dimulai mereka mulai berkaca, merapikan rambut dan pakaian mereka. Omona.. alangkah semua mereka ini -,-

Kualihkan pandanganku ketika menyadari penyebab semua kenarsisan beberapa yeoja di kelas ini kambuh masuk ke dalam kelas. Awalnya memang aku tidak peduli, tapi menyadari langkahnya yang terhenti di dekat mejaku—ah, ani, lebih tepatnya berhenti di sisi meja tempat Soona-ya biasa duduk—aku mulai memperhatikannya dengan tatapan curiga. Kemudian, dengan santainya tanpa permisi atau bicara apapun, dia duduk disana, membuatku menatapnya tajam.

“Mwoya?”tanyaku penuh selidik seraya melepaskan salah satu headsetku. Sementara diam-diam aku sadar beberapa tatapan tajam menusukku dari berbagai sudut. Dia menoleh padaku kemudian menatapku dengan wajah—errr, datarnya(?)

“A…niya~”jawabnya seraya menggeleng.

“Lalu? Untuk apa kau disini? Ini bangku Soona-ya, arraseo? Bangkumu, kan, di belakang. Jangan bilang kau sudah pikun eoh.”lanjutku seraya memasang headsetku lagi, tetapi kali ini kukecilkan volumenya.

“Aku tahu. Tapi, ini, kan, sekolah umum, siapa saja boleh duduk dimana saja.”jawabnya santai.

Aku mendelik tajam ke arahnya. Apa katanya? Enak sekali dia bilang begitu -,-

“Yakk! Tapi, Soona-ya sejak awal sudah duduk disini duluan eoh.”tukasku.”Sudah pergi sana!”

Kudorong tubuhnya agar menjauh. Dia pikir dia siapa seenaknya duduk disini? Sudah cukup aku sekelas dengannya, sekarang dia seenaknya duduk di sebelahku. Aigoo~ Shireo!

“Yakk! Yakk! Kau tidak bisa seenaknya mengusirku arra?”ucapnya mencoba menahan tubuhnya agar tidak terjatuh karena doronganku.

Kudongakkan kepalaku dan kutatap tajam matanya.”Kau! Kau yang tidak bisa seenaknya duduk disini Tuan muda Byun yang ter-hormat!“tukasku dengan nada penekanan penuh dan suara yang sengaja kutinggikan. Aku pun menaikkan salah satu sudut bibirku dan kedua alisku. Haha, seisi kelas mendengarkan Tuan Byun, batinku puas.

Tanpa diduga dan kukira, dia hanya mengangkat salah satu alisnya dengan ekspresi datarnya.

M-mwo? Hanya itu saja? Aneh. Bukankah tidak ada satupun di sekolah ini tentang identitasnya? Buktinya saja setiap sekolah aku tidak pernah melihatnya diantar maupun dijemput oleh salah satu pelayannya itu. Yah, meski sebenarnya aku tidak pernah—dan tidak mau tau, tetapi aku hanya melihat pelayan-pelayannya itu pada waktu itu saja -,-

Tapi, kenapa sekarang dia tidak terlihat takut atau panik—mungkin? Haisss… dasar namja aneh!

“Waeyo? Kau mulai tertarik padaku, huh?”ucapnya seraya memajukan wajahnya, menyentakku dari lamunanku tadi. Refleks, kujauh tubuhku seraya mendorongnya.

Belum sempat aku membalasnya, suara bel masuk terdengar nyaring. Kumasukkan iPod-ku cepat-cepat ke dalam laci. Seketika aku teringat pada Soona-ya yang belum juga datang. Aigoo~ Kemana bocah satu itu?

Diantara banyaknya siswa yang masuk ke kelas dengan berbondong-bondong, kulihat Soona-ya masuk ke kelas dengan napas tersengal-sengal dan peluh di sekitar wajahnya. Baru saja aku hendak menyapanya dan memprotes tentang namja yang seenaknya duduk di tempatnya, muncul sosok Gyeon songsaenim yang membuatku langsung bungkam.

Alhasil, kini Soona-ya duduk di belakangku tanpa ada satu komentar apapun. Sementara, namja aneh yang duduk di sebelahku ini terlihat puas. Yakk! Awas saja kau Baekhyun-ssi, keadaan pasti akan berbalik nanti, rutukku dalam hati.

“Baiklah anak-anak, minggu lalu kita sudah membahas ciri-ciri makhluk hidup, jadi hari ini kalian akan mendiskusikan tentang ciri-ciri makhluk hidup dan contohnya.”terang Gyeon songsaenim.”Diskusikan secara berkelompok dengan partner sebangku kalian. Waktu kalian hanya satu jam sebelum dipresentasikan nanti ne.”

Mwo? Partner? Sebangku?!

Aiss, kenapa hariku selalu buruk semenjak ada namja aneh ini? -___-

“Songsaenim, apa boleh mencari partner yang lain—yang tak harus sebangku?”protesku.

“Wae Hyeon-ah? Bukankah dengan partner sebangku kalian lebih mudah bekerja sama?”

Omo~ Yang benar saja, dengan namja ini… yang ada perang mulut saja -,-

“Ne, songsaenim.”jawabku mengalah—tentu saja, memangnya harus bagaimana lagi?

“Hyeon-ya, mian ne?”ucap Soona-ya setengah berbisik padaku. Aku hanya menoleh, tersenyum seraya mengangguk kecil, sebagai jawaban.

“Sudahlah Hyeon-ssi, terima saja takdirmu ini.”celetuk Baekhyun-ssi tanpa menoleh.

“Yakk! Diam kau pembawa sial!”tukasku jengkel. Kukeluarkan buku tulisku dengan dongkol, dan mau tidak mau dengan sangat terpaksa aku berdiskusi dengannya -.-

.

.

KRIIING!

“Baiklah, cukup sekian pelajaran untuk hari ini. Sebagai tugas kalian untuk minggu depan, masih dengan pasangan partner yang sama, kalian meneliti salah satu ciri-ciri makhluk hidup; yaitu tumbuh dan berkembang.”terang songsaenim di sela-sela membereskan buku-bukunya.

“Kalian akan songsaenim berikan bibit bunga matahari yang akan kalian amati perkembangannya selama seminggu. Laporannya kalian tulis pada buku tulis kalian masing-masing, isi laporan bisa kalian lihat di buku cetak halaman 45 bagian A.”

Sudah cukup aku duduk sebangku dengan namja aneh ini, berdiskusi dengannya, dan sekarang harus mengerjakan laporan bersama.. lagi. Haiisss, kenapa harus dia, dia, dan dia lagi. Omo~ Apa tidak ada kejadian lebih bagus lagi apa dari ini? -,-

“Ada pertanyaan?”tanya songsaenim seraya mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan.

Aku hanya menatap malas seisi kelas dengan tangan menopang dagu. Sudah sangat jelas pasti tidak ada yang akan bertanya.

“Baiklah kalau tidak ada, saya harap tidak ada kesalahan dalam laporan kalian nanti. Annyeong!”

Setelah songsaenim sudah berada jauh dari jarak aman pandangan mata, seisi kelas mulai riuh kembali—seperti biasa…

“Jadi, kapan dan dimana?”tanya Baekhyun-ssi seraya memasukkan buku-bukunya.

Dahiku mengkerut tajam.“Apanya yang ‘kapan dan dimana’?”tanyaku heran. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba bertanya seperti itu. Dasar aneh. -,-

“Tugas ini akan dilakukan kapan dan dirumah siapa?”tanyanya ulang lebih jelas.

Aku ber-oh ria dalam hati.“Mollayo. Nanti kupikirkan lagi.”

“Ne, jangan lama-lama.”tukasnya.

“Arra.”

 

***

 

“Jadi, kau akan memberitahuku apa?”tanyaku setelah kami duduk di bangku favorit kami. Bangku yang menghadap hamparan bunga dan di bawah pohon rindang.  Soona-ya mengajakku ke taman untuk membayar janjinya padaku untuk menceritakan suatu hal. Entah itu apa, tapi sepertinya sangat rahasia dan penting—mungkin.

“Ngg, tapi sebelumnya kau janji tidak akan membenciku, ne?”ucapnya membuatku heran. Aigoo~ Sejak kapan terbesit pemikiran untuk benci padanya dari sekian banyak hal yang membuatku setengah-mati-jengkel padanya.

Aku mengangguk cepat.“Ne, ne. Memangnya ada apa, sih?”desakku lagi-lagi penasaran. Kalau dia sampai bicara seperti itu, kira-kira hal apa yang akan diberi tahunya?

“Se-sebenarnya… aku dan Baekhyun-ssi… be-bersaudara. Tidak dekat, sih, tapi tetap saja kami masih bersaudara.”ungkapnya membuat satu hal yang sangat besar terbesit dalam pikiranku. Aku harap ini bukan salah satu lelucon menyebalkanmu itu Soona-ya, batinku.

“Mwo? Jeongmal, Soona-ya? Kau tidak sedang membuat lelucon, kan?”tanyaku sambil memegang pundaknya dengan senyum mengembang penuh arti.

“N-ne. Tapi, kau tidak marah padaku, kan?”tanyanya masih dengan tatapan ragu-ragu.

Aku tertawa kecil.“Hahaha.. tentu saja tidak. Untuk apa aku marah padamu? Itu malah bagus eoh. Jadi, apa saja yang kau ketahui tentangnya?”tanyaku padanya dengan wajah antusias. Aku sungguh penasaran. Tentu saja ini tidak buruk, ini malah SANGAT LUAR BIASA bagus.

Tahu apa yang kupikirkan? Sayangnya ini masih sangat di.ra.ha.sia.kan :p

Kulihat wajah Soona-ya yang sebelumnya ragu menjadi terdiam menatapku tidak percaya.

“Soona-ya? Wae?”tanyaku seraya mengguncang bahunya.

Masih dengan tatapan tidak percayanya itu, dia menggeleng cepat.“A-aniya~”ucapnya.”Soal itu aku tidak tahu banyak tentangnya, tapi soal statusnya sebagai keturunan bangsawan seperti yang kau katakan itu memang benar. Selebihnya cuma Hyunji-ya yang tahu.”

Hyunji-ya? Hm..

“Siapa dia?”

“Dia yeodongsaeng Baekhyun-ssi.”jawabnya membuatku mengangguk dalam diam.“Ngomong-ngomong dia itu sekutu denganmu.”

“Sekutu… bagaimana?”tanyaku bingung.

“Dia juga sama jengkelnya dengan oppanya itu, sama sepertimu. -,-“

BINGO~!

Penjelasan Soona-ya tadi memberiku lebih banyak ide. Mataku mungkin sekarang tengah berbinar cerah dengan senyum mengembang sangat lebar. But, no one know that I have so much idea crossed my mind  kkk~ *evillaugh

“Jeongmal eoh? Sempurna! Gomawo sahabatku tercintaaa~”seruku seraya memeluknya singkat. Soona-ya yang—kuyakini—melihat sikapku yang terlalu membingungkan, membuatnya menatapku aneh.

“Ne, ne. Sebenarnya, ada apa sih? Apa yang kau pikirkan?”tanyanya penasaran sekaligus heran. Aku hanya tersenyum mengatup seraya menggeleng-geleng. Tentu saja bermacam-macam hal bermain dipikiranku.

Matanya menyipit tajam ke arahku. Kurasa dia mulai mengerti.

“Kau jangan terlalu berlebihan mengerjainya eoh, meski menyebalkan dia tetap saudaraku.”tukasnya terdengar seperti ancaman.  -__-

“Tenang saja, Soona-ya. Tidak akan berlebihan, kok. kkk~”jawabku sepenuhnya tidak pasti :p “Soal apa yang akan kulakukan nanti, akan kuceritakan padamu besok ne ^^”

 

***

 

Aku tengah berbincang ringan dengan Luhan-ah sambil menghabiskan makananku saat seseorang datang menghampiri kami, tepatnya menghampiriku. Dia Hyeon-ssi.

“Baekhyun-ssi, tugas kita nanti diselesaikan di rumahmu, ne.”ucapnya dengan wajah memohon yang tidak pernah kulihat. Ani, ani. Bukan dengan wajah memohon seperti memanyunkan bibir, mengatupkan tangan, atau membuat puppy eyes seperti itu. Dia hanya datang dengan santai, bersikap tenang, dan… raut wajah dan senyum kecil bak malaikat—seperti yang kulihat di kelas seni waktu itu. Oke, oke. Mungkin itu tidak sepenuhnya tergambar seperti sebuah permohonan. Tapi, dari apa yang terpancar melalui tatapannya sepertinya itu lebih terlihat seperti permohonan daripada pernyataan.

Aku yang mungkin, bisa dikatakan—atau memang kenyatannya—terpesona oleh sikapnya itu, terdiam beberapa detik dengan mulut setengah menganga karena dia datang tepat saat aku hendak memasukkan sesuap kimbapku ke dalam mulut. Tapi sedetik setelahnya, aku langsung mengatup bibirku cepat, sebelum aku menjawab pertanyaan yang sempat kudengar sebelum aku terbius seketika

“Mwo? Kenapa di rumahku?”

Dia menatapku dengan tatapan sedikit terkejut.“Wae? Memangnya tidak boleh? Lagipula pekarangan di rumahmu pasti luas dan besar.”ucapnya yang menurutku lebih terdengar sebagai cibiran.

“Yakk! Kita, kan, hanya menaruhnya di dalam pot jadi tidak perlu pakai pekarangan luas juga bisa.”

“Yakk! Kau ini pelit sekali.”tukasnya, dengan raut muka yang berubah merengut sepertinya biasanya. Aigoo~ Kenapa setelah melihat raut wajahnya yang berubah itu membuatku jadi serba salah. Seolah-olah aku hanya ingin melihat wajah teduhnya tadi.

Omo! Apa yang baru saja aku pikirkan? >< Aiss, ani, ani. Abaikan ucapanku tadi. -__-

“Sebagai sesama teman baru apa salahnya, sih, berkunjung ke rumahmu, Baekhyun-ah. Lagipula—kurasa—jarang-jarang dia akan memintamu seperti ini lagi.” Kali ini Luhan-ah yang sudah dapat dipastikan mendengarkan pembicaraan kami sedari tadi ikut buka suara.

Kulihat Hyeon-ah melempar tatapan sengit ke arahnya.“Aiss.. apa maksudmu, huh?”

“kkk~ Ani, ani. Just kidding. ^^v”

Mendengar ucapan Luhan-ah tadi membuatku berpikir ada benarnya dan merasa ada sesuatu yang aneh. Itu karena—seperti kata Luhan-ah tadi—kalau rasanya terlalu kecil kemungkinan dia mau bicara denganku seperti sekarang ini. Bicara langsung dengan nada normal dan tanpa ekspresi jengkel atau merengut seperti biasa—contohnya ketika di kelas tadi. Pasti ada sesuatu yang tidak beres sepertinya..

“Haiss… Ne, ne. Terserah apa kata kau saja, yeoja tomboy.”ucapku akhirnya mengiyakan. Mungkin aku jangan terlalu berburuk sangka dulu, bisa saja dia memang bermaksud untuk bersikap lebih baik padaku. Yah, meski tak bisa dipungkiri rasa aneh masih mengganjal perasaanku.

“Eoh? Jeongmal?”tanyanya dengan wajah tidak percaya bercampur senang. Aku melihatnya? Tentu saja. Ekspresi ceria yang jarang kulihat tersorot jelas oleh mataku. Sungguh, kalau sejak awal adalah ekspresi wajah seperti ini, mungkin aku benar-benar sudah terpikat olehnya.

Aku berdeham kecil seraya mengalihkan pandanganku ke piring spaghetti yang sudah habis.“Ne.”jawabku dengan nada senormal mungkin, meski sesungguhnya berbanding terbalik dengan debaran jantungku yang tiba-tiba berdetak terlalu cepat.

“Yay! Gomawo, Baekhyun-ssi~”serunya senang.

Tunggu dulu. Sebenarnya… ada apa dengan yeoja ini?

Lagi-lagi aku merasa sedikit aneh dengannya.

“Yakk! Setelah aku mengizinkanmu ke rumahku, kau harus menghilangkan embel-embel ‘ssi’ pada namaku.”cetusku.

Dia menoleh.“Oh, ne. Baiklah, Tuan Baekhyun-ah.”ralatnya yang kali ini terdengar seperti ledekan—mungkin.

“Aiss, dan sebutan ‘itu’ juga.”

“Hhe, ne, ne ^^”

 

***

 

Tubuhku meliuk-liuk lincah di sebelahnya, sementara dia berjalan santai di sebelahku. Posisiku sedikit berada di depannya karena tidak mungkin aku bergerak di atas pegangan besi panjang di pinggir jalan dengan kecepatan lambat. Bisa-bisa aku tidak seimbang, dan terjatuh ke bawah.

“Apa masih jauh eoh?”tanyaku yang kini sudah bergerak berdampingan di sebelahnya.

“Ani, sebentar lagi kok.”jawab Baekhyun-ah tanpa menoleh. Sudah hampir 5 menit kami berjalan untuk menuju mobil antar-jemput ‘Tuan muda’ satu ini, yang akan mengantar kami ke rumahnya nanti.

Aku menoleh sekilas ke belakang, dan menghitung-hitung sejenak.“Lumayan jauh dari sekolah. Aku tidak menyangka tuan muda mau berjalan lumayan jauh seperti ini—setiap hari.”ucapku.

Spontan, dia berhenti berjalan.”Mwo? Kau meremehkanku?”

Aku menggeleng seraya ikut berhenti.”Aniya. Aku hanya bilang, kok.”jawabku kenyataan.

“Haiss.. terserah kau saja lah.”ujarnya mulai berjalan kembali. “Kau sendiri, setiap hari pergi maupun pulang sekolah naik skateboard-mu itu. Padahal, aku yakin kalau kau merupakan golongan keluarga berada.”

Aku terdiam sejenak. Sial. Kenapa dia jadi nuntut pertanyaan balik seperti itu?

“Yah… memangnya kenapa? Lagipula, setiap hari seperti ini, kan, sama saja seperti olahraga.”ucapku membela.

“Berarti aku juga begitu. Buktinya pergi-pulang sekolah aku berjalan kaki minimal lima menit.”tukasnya menyudutkanku.

Aiss, bagus Hyeon-ah. Lemparanmu berbalik ke arahmu. -_-

“Ne, ne. Terserah kau saja lah.”jawabku malas.

“Ah, itu mereka. Kajja!”ajaknya. Kuturunkan kedua kakiku dari skateboard dan kubawa seperti biasa. Aku sedikit terkejut melihat apa yang terlihat tak jauh dariku setelah kudongakkan kepalaku. Sebuah limusin hitam dengan seorang supir dan dua orang pelayan di sebelahnya menunduk sopan menyambut kedatangan kami—ah, ani, lebih tepatnya namja itu.

Aku tidak terkejut dengan limusin besar itu. Aku hanya terkejut dengan para pelayannya itu. Sampai sebegitukah dia diperlakukan? Aigoo~ Kira-kira berapa banyak orang-orang seperti mereka di rumahnya? Dan ngomong-ngomong, berapa kira-kira luas rumahnya itu? -,-

Haiss, aku jadi sedikit iri pada Soona-ya yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya

“Yakk! Hyeon-ah. Mau sampai kapan kau disana? Kajja! Masuklah.”ucapnya membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat kuhampiri Baekhyun-ah yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam limusin. Setelah kami masuk, dan disusul kedua pelayan serta supirnya, mobil mulai melaju.

.

.

.

AS.TA.GAH

I-ini rumah atau istana?!

Dari sekian banyak rumah mewah di perkomplekkan elit di sekitar sini, ini adalah rumah terbesar dan termegah yang kulihat. Ini jelas dua kali lipat lebih besar dari rumahku -,- Bahkan, dijadikan sekolah pun ini sudah lebih dari cukup.

Apa kira-kira reaksi Soona-ya sama denganku eoh?

“Hyeon-ya, kau mau masuk atau tidak?”ujar Baekhyun-ah lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk cepat, kemudian menyusulnya yang sudah berada di muka pintu. Sejak kami turun dari limusin tadi, kami—lagi-lagi—sudah disambut oleh beberapa pelayan yang berjejer rapi. Aigoo~ sepertinya, untuk hari ini, aku baru saja masuk ke dunia dongeng.

Lagi-lagi aku terkesiap dalam diam setelah memasuki rumah istana ini. Aku bahkan harus menggerakkan kepalaku untuk bisa melihat jelas semuanya, karena ini benar-benar luas!

“Kita ke ruang belajar dulu saja, ne. Nanti baru kita tanam bibitnya.”usul Baekhyun-ah sambil terus berjalan melewati ruang keluarga menuju salah satu ruangan yang—katanya—merupakan ruang belajar. Setelah dia membukakan pintu, aku langsung disambut nuansa putih dan abu-abu yang menenangkan. Selain menenangkan, terlihat sekali ruangan ini begitu nyaman. Ada meja belajar bundar berkaki rendah di atas karpet berbulu segi panjang, sofa, computer, rak-rak buku, televisi dkk—sangat sempurna!

“Oh ya, Hyeon-ah.”tegur Baekhyun-ah membuatku menoleh.”Aku keluar sebentar mau mencari pot, kau tunggu disini sebentar. Jangan kemana-mana, nanti nyasar.”

Aku langsung menyernyitkan dahiku dan menatap jijik ke arahnya. Apa maksudnya barusan berkata begitu? -.-

“kkk~ Bercanda.”tukasnya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.

Aku mendengus jengkel seraya memutar malas bola mataku. Huh, dasar.

Kulangkahkan kakiku menuju meja belajar bundar dan menaruh tas di atasnya dan skateboard di dekat sana. Setelah itu, aku melangkah keluar dari ruangan tersebut. Aku tidak peduli dia mau marah padaku nanti atau tidak, aku ingin kembali ke ruang keluarga yang tadi kami lewat dan melihat sebuah foto berbingkai lebar di sana yang membuatku sedikit tertarik.

Langkahku terhenti ketika menemukan foto itu kembali. Disana semuanya memakai baju khas kerajaan. Seorang raja dan ratu, serta seorang pangeran di sebelah raja dan seorang putri di sebelah ratu. Jelas sekali mereka adalah keluarga kerajaan. Tapi, dari foto itu aku tidak menemukan sedikitpun kemiripan dengan Baekhyun-ah—bahkan pangeran yang tengah tersenyum hangat itu.

Mm, kurasa mereka nenek moyang dari keluarga ini. Tapi, kalau memang benar keluarga Byun keturunan bangsawan, kenapa tidak tinggal di istana semestinya atau memakai baju kerajaan semestinya? Apa mereka ini semacam keluarga bangsawan modern?

Melihat foto di depanku ini, kira-kira ini dinasti kerajaan siapa, ya?

Aku melangkah mendekat untuk mencari tahu. Foto ini terlalu besar sehingga membuat leherku pegal karena terlalu lama mendongak.

“Ah, eonnie ini Kim Hyeon ne?”

Ada serangan kecil tersendiri pada jantungku ketika mendengar suara itu. Itu jelas suara yeoja. Tiba-tiba aku teringat seseorang. Apa dia…

Aku berbalik menghadap ke sumber suara. Seorang yeoja kecil tersenyum manis ke arahku. Dia terlihat menggegam sebuah boneka teddy bear berukuran sedang berwarna cokelat muda.

“N-ne. Waeyo?”jawabku.

Senyumnya semakin lebar setelah mendengar jawabanku. Dia berlari kecil mendekatiku. Firasatku mengatakan dialah orangnya.

“Byun Hyunji imnida. Yeodongsaeng Baekki oppa.”ucapnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.

Bagus! Sepertinya hari ini hari baikmu, Hyeon-ah. Dan kau Baekhyun-ah, kau akan kalah perang kali ini. HAHA *evillaungh

Aku menunduk sedikit, kemudian menyambut uluran tangannya.”Annyeong, Hyunji-ya. Senang bertemu denganmu.”jawabku sambil tersenyum penuh arti.

“Kajja eonnie Hyeon-ya, kita ke kamarku. Kita akan bercerita sepuasnya~”

Untuk saat itu juga, seketika itu juga, aku lupa dengan tujuanku sebelumnya kesini.

 

***

 

Haiss, kemana yeoja satu itu? Kusuruh diam sebentar di ruang belajar, sekarang dia sudah menghilang entah kemana. Padahal aku sudah menyiapkan satu buah pot berukuran sedang yang baru saja kucari dengan sedikit susah payah di gudang dekat taman.

Aku tidak takut dan tidak masalah dia berkeliling di rumah ini, tapi masalahnya, dimana dia sekarang. Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru ruangan mencoba mencari tanda-tanda kehadirannya di sekitar sini.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar diiringi alunan musik. Pertanda ada telepon masuk. Kulihat ke layar telepon dan aku tersenyum kecil membaca nama yang tertera disana.

 

“Annyeong.”

“…..”

“Haha, ne. Ada apa?”

“…..”

“Mwo? Sekarang?”

“…..”

“Oh, baiklah. Tapi aku sedang mengerjakan tugas kelompok sekarang, jadi kalau menunggu sebentar tidak apa, kan?”

“…..”

“Ne, ne. Tidak datang juga tidak apa. Hahaha”

“…..”

“kkk~ Bercanda. Ya sudah, aku tutup dulu ne. Annyeong.”

“…..”

 

Tepat setelah sambungan telepon tertutup, aku mendengar gelak tawa ramai dari lantai atas. Hyunji-ya?

Dengan cepat, kuayunkan kakiku ke lantai atas. Lebih tepatnya ke kamar yeodongsaengku itu. Rasanya tidak mungkin kalau Hyunji-ya tertawa sendiri sampai seperti itu. Apa mungkin… dia bersama Hyeon-ya?”

Kuketuk pelan pintu kamarnya. Membuat siapapun di dalamnya sejenak terdiam.

“Ne, masuklah.”

Setelah mendapat izin masuk dari pemilik kamar, kuputar kenop pintunya dan kulihat orang yang sangat kukenal duduk bersama Hyunji-ya.

“Hyeon-ya?”

Dia menoleh ke arahku.“Oh, Baekhyun-ah, waeyo?”

“Kau.. sedang apa disini?”tanyaku heran.

“Memangnya kenapa oppa? Hyunji yang mengajak Hyeon-ah eonnie kesini, kok.”jawab Hyunji-ya, yang disambut anggukan Hyeon-ah.

“Ah, aniya. Maksudku, kau kemana saja sedari tadi? Tugas praktek ini bagaimana?”tanyaku seraya menunjukkan pot sedang di tanganku.

Kulihat dia menepuk pelan keningnya.”Omo~ Mianhae Baekhyun-ah. Aku lupa, kkk~”

“Haiss, ya sudah, kita kerjakan saja sekarang.”ajakku.

Dia mengangguk cepat.”Ne!”

Saat Hyeon-ah beranjak dari tempat duduknya, ternyata Hyunji-ya mengikutinya dari belakang. Kucegah dia dengan meletakkan telunjukku tepat di keningnya dan menahannya sehingga membuatnya terhenti.

“Eits! Kau, mau kemana, huh?”tanyaku sambil mengangkat daguku.

Dia mendongak dan menatapku jengkel.”Aku mau ikut Hyeon-ya eonnie!”ujarnya kemudian memaksa berjalan kembali. Lagi-lagi kutahan lagi langkahnya.

“Ani, ani. Nanti kau hanya merepotkan saja.”tolakku.”Sudah sebaiknya kau main saja dengan bonekamu itu.”

Dia menggeleng tegas.”Aniya~ Aku mau ikuut. Boleh ya oppa? Jebaaaal~”pintanya dengan menunjukkan puppy eyesnya yang sama imutnya denganku

Aku berpikir sejenak, lalu mendengus malas.”Haiss.. ne, ne. Kau boleh ikut.”jawabku. Sebelum dia sempat berteriak kegirangan, aku cepat-cepat memotong.”Tapi, awas saja kalau kau sampai menggangu. Dan, tinggalkan bonekamu itu di kamar, jangan mengotorinya.”

Dia mengangguk cepat. Kemudian menaruh boneka yang tadi masih di pelukkannya ke ranjangnya. Lalu, dia menghambur keluar dan langsung menuju Hyeon-ah. Tangan kecilnya menggegam tangannya, lalu menariknya bersama untuk turun ke bawah.

Aneh. Mengapa kedekatan mereka membuat perasaanku mendadak tidak enak?

Aku menggeleng pelan. Haiss, sudahlah. Bukankah kalau mereka akrab seperti itu malah lebih bagus.

 

Bagus apanya?

 

Aku tertegun sejenak mendengar suara isi kepalaku sendiri. Benar juga. Memang, bagus apanya..?

“Yakk! Baekhyun-ah. Kalau kau melamun disana terus, kapan tugas ini bisa selesai?”seru Hyeon-ah dari bawah yang membuatku mengerjap tersadar.

“Ne, ne. Chakkaman!”jawabku seraya melangkah cepat menuruni tiap anak tangga.

 

***

 

Aku masih tidak bisa menahan tawaku ketika mengingat aib yang diumbar oleh yeodongsaeng a.k.a sekutuku sekarang. Dan yang paling kusangka adalah ketika Hyunji-ya mengatakan kalau oppanya itu paling benci dan tidak suka sama yang namanya cacing. Oke, aku ulangi. CA.CING.

Omo~ Aku tertawa sampai sakit perut mendengarnya. Bagaimana tidak? Namja menyebalkan nan aneh itu, benci sama cacing? Aigoo~ Namja macam apa itu. Ckck, jinjja… dia bahkan melebihi yeoja saja.

Dalam hati aku benar-benar masih tidak percaya dengan kenyataan yang kudengar beberapa menit yang lalu. Ingin rasanya aku tertawa sepuasnya di depannya itu. HAHA

Sementara Baekhyun-ah sibuk mengurusi tanaman pratikum kami, aku dan Hyunji-ah sibuk mencari-cari tanah yang cukup lembab dan subur di sekitar pepohonan. Mm, kurasa kalian tahu apa yang kami cari. Tapi… seperti yang kalian ketahui, tidak mudah untuk mencari hewan tersebut di halaman yang super luas ini.

“Hyeon-ah, bisa kau ambilkan selang itu dan putar kerannya?”seru Baekhyun-ah setengah berteriak membuatku menoleh.

“Ne!”jawabku tak kalah keras.”Hyunnie, kau cari dulu sebentar ne. Aku mau membantu oppamu itu dulu.”ucapku pelan pada Hyunji-ah yang disambut anggukan mantap darinya. Aku hanya tersenyum kecil, kemudian aku mulai mencari letak keran dan selang yang dimaksud Baekhyun-ah.

Ternyata, tak butuh waktu lama untuk mengetahuinya. Letaknya berada sekitar 3 meter dari depan Baekhyun-ah. Aku langsung mengambil selang tersebut, dan membuka lilitannya pada keran sehingga mudah dipanjangkan.

“Ah! Eonnie, ketemu~!”seru Hyunji-ah yang terdengar sangat jelas di telingaku. Ada perasaan girang sekaligus panik mendengar suaranya yang menggelegar itu. Aigoo~ Hyunji-ah, kenapa kau bicaranya keras sekali? Haiss, sudah pasti Baekhyun-ah dengar. Bagaimana kalau rencana kita gagal? batinku resah.

“Yakk! Ketemu apanya? Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?”

Tuh, kan!

Aku berbalik perlahan dan langsung bertemu mata dengan Baekhyun-ah yang kini menatapku meminta penjelasan.

“Ngg, maksudnya… selang—ne! Maksudnya, aku sudah menemukan selangnya. Ya, selang!”ucapku sedikit gugup sambil menunjukkan ujung selang yang tengah kupegang. Aku menyengir lebar seraya menggerakkan selang yang tengah kuacungkan. Berharap semoga saja dia tidak curiga.

Kulihat dia menyipit heran. Ayolah… percaya saja, lirihku dalam hati.

Mataku dan Hyunji-ah saling bertukar pandang sama-sama tegang. Baekhyun-ah memutar badannya untuk meminta jawaban tegas dari adiknya. Tanpa ragu, Hyunji-ah mengangguk mantap dan cepat—masih dengan tatapan horornya.

“Ne, ya sudah. Cepat kemarikan selangnya, setelah itu hidupkan keran.”ucapnya membuatku sangat lega.

Fiuuh~ Hampir saja -,-

Aku menoleh pada Hyunji-ya yang terlihat sama leganya denganku. Lalu, ketika matanya bertemu denganku aku langsung berkata padanya tanpa suara,”Cari yang banyak ne.” Dia pun hanya mengangguk cepat dan mencari kembali.

“Ne, ne.”kataku menjawab titah ‘tuan muda’ tadi. Aku pun berjalan ke arahnya dan menyerahkan selang tersebut.

“Putarnya sedikit saja. Jadi airnya tidak terlalu kencang keluar.”titahnya tanpa berpaling.

Dahiku menyernyit heran.“Mwo? Kalau terlalu kecil kapan sampainya?”tanyaku mengingat panjang selang yang—entahlah berapa.

Dia tiba-tiba mendongak dan menatapku tajam.“Yakk! Kalau terlalu besar nanti aku yang malah basah! Kau ini bagaimana.”semburnya padaku habis-habisan. Mwo? Bisa kesal juga dia rupanya.

Aku mengangkat bahuku cuek.“Yah, tak apalah. Mandi siang-siang segar juga, kok.”gumamku jelas mengejeknya, lalu segera beranjak dari sana.

“Yakk! Kau.”

Aku terkekeh kecil mendengar seruannya. Haha, dia pasti menatapku sengit tadi. Sesuai titahnya tadi, kuputar beberapa senti ke kanan tutup keran sehingga kulihat perlahan air mengalir keluar. Ketika kulihat tanda dari Baekhyun-ah untuk mematikan keran, kuputar kembali tutup keran ke kiri sehingga airnya berhenti mengalir.

Setelah selesai dengannya, aku berlari kecil ke arah Hyunji-ah kemudian berjongkok di dekatnya.

“Bagaimana?”tanyaku.

“Mm, aku hanya menemukan satu saja disini. Aku tidak menemukan yang lainnya lagi.”jawab Hyunji-ah membuatku sedikit kecewa.

“Tapi tak apa, yang penting sudah ada.”ucapku seraya mengambil toples kecil dengan ‘penghuni’ yang baru saja dimasukkan kedalamnya.”Baiklah, sekarang pertunjukan akan kita mulai.”

Aku dan Hyunji-ah tertawa kecil bersama, kemudian kami melakukan high-five dengan suara dipelankan. Sungguh, aku benar-benar penasaran dengan reaksinya nanti. kkk~

“Kau tunggu disini saja, ne?”titahku, tanpa banyak komentar Hyunji-ah hanya mengangguk cepat. Aku yakin dia juga sama tak sabarnya denganku.

Kuletakkan toples kecil itu di belakang punggungku. Dengan sikap biasa dan santai aku berjalan mendekati Baekhyun-ah. Semakin dekat, langkahku semakin kupelankan. Seperti orang mengendap-endap. Seperti sebelumnya, dia masih sibuk saja dengan tanaman pratikum kami.

“Baekhyun-ah~”panggilku.

Tanpa ragu dia langsung menoleh.”Mwoya?”

“Mm, aku rasa kalau dengan air saja tanamannya tidak akan tumbuh subur, kau tahu.”ujarku sedikit berbasa-basi.

Dahinya mengkerut tajam.”Maksudmu?”tanyanya heran. Senyumku semakin lebar dan aku mulai menghitung mundur.

3….. 2…. 1!

“Maksudku—Tadaaaa~ KEJUTAN!”

“AAAAAAAAAKH! Singkirkan itu dariku!!”

 

~TBC~

NB: Style rambut Baekhyun dari chapter sebelumnya sampai beberapa chapter selanjutnya sama seperti MV di History ^^v

 

———————————————————–

Annyeong~

Demi apapun author gak nyangka ternyata lumayan banyak juga yang baca dan suka ff abal-abalan buatan author ini :p

Baguslah kalau banyak yg suka, author berharap semoga tiap chapternya bisa jadi semakin seru dan tidak terduga-duga. Hehe ^^

Don’t be a silent reader, ne? And don’t be a plagiator or copycat-or(?) God always see you everywhere and everytime~

Gomawo untuk admin yang udah mau ngepublish ff ini~

–  Author  ^^

 

27 pemikiran pada “Different is Beautiful, Beautiful is You (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s