Be Mine Again

Title:    Be Mine Again

Author: A Bubble Tea

Cast:    -Oh Sehoon (Sehun) EXO K

-Kim Rissa (OC)

Other Cast:      -Park Minju (OC)

-Kim Jongin (Kai) EXO K

Genre: Romance

Note: Annyeonghaseyoooo~ author datang dengan epep absurd ini! ^^ gak perlu banyak omong pokoknya author harap kalian suka ff ini dan berkenan buat sekedar ngeklik like dan ngepost comment hehehe, btw author sangat butuh saran kalian karena author masih sangat pemula J ini judul sama cerita gak gitu nyambung efek author lagi ngelamunin sehun(?) ya intinya mohon maaf kalau ada salah salah kata ya kekeke~ so, happy reading guyssssssssss!

***

Summary: Kau tahu? Meski mulutku tak mengucap, meski ragaku tak bertindak, dan meski mataku tak menatap, seumur hidupku hanya ada kau dihatiku. Aku menyesal, be mine again….please?

Rissa’s pov

Aku baru saja tersadar dari alam mimpiku dan segera mengambil iphoneku, jam 09.00. fyuuuh untung sekarang sedang liburan sekolah jadi aku bisa bebas bangun jam berapapun. Aku baru saja ingin meletakkan iphoneku lagi ketika sebuah pesan masuk dan aku pun segera membukanya

From: MinJu

Rissa-ah!!! Omooooo!! Kau harus ke lapangan didekat rumahmu! Sekaraaaaaang!!

Aish, ada apa dengan sahabatku itu? kenapa isi pesannya tanda seru semua begitu? aku pun dengan malas segera mengambil jaketku dan keluar kamarku lalu pamit pada eomma untuk pergi ke lapangan yang memang cukup dekat dari rumahku.

Begitu sampai disana, ku cari Minju kesana kemari tapi nihil dia tak ada namun kurasakan sebuah tangan menarikku dan menyeretku dengan paksa

“yaaa!!” teriakku sambil menarik tanganku dari genggaman orang itu yang ternyata, minju

“aishh, rissa-ah sekarang bukan saatnya berteriak padaku! Ayo ikut aku!!” ucapnya galak sambil menarik tanganku dan aku pun hanya pasrah mengikutinya.

Tak berapa lama kami sampai disebuah sudut lapangan, aku menatap minju heran.

“kenapa kau membawaku kesini?” tanyaku

“LIHAT KESANA” ucapnya sambil mengarahkan wajahku kesalah satu bangku dipinggir lapangan, kupicingkan mataku.

DEG

Aku melihatnya, lagi. Entah sudah yang keberapa kalinya. Namja itu sedang merangkul mesra yeoja lagi dan bahkan membelai rambut yeoja itu lembut ah sekarang bahkan mencium pipi yeoja itu. Entah yeoja mana lagi yang ia bawa kesini. Kukepalkan kedua tanganku mencoba menahan amarahku. Segera kutarik nafasku dalam dalam dan menoleh kearah minju

“ada apa dengannya?” tanyaku sambil tersenyum mencoba menyembunyikan rasa sakit dihatiku

“yaaa! KIM RISSA! KAU SUDAH GILA HAH? Ini sudah lebih dari kesejuta kalinya kau memergoki dia dengan gadis lain dan bermesraan seperti itu!!” teriak minju sambil memegang kedua pundakku. Aku tahu minju, aku tahu. Aku semakin melebarkan senyumku padanya.

Ah ya, namja yang tadi kulihat adalah namjachinguku, kami sudah bersama sejak 6 bulan yang lalu. Dia bilang padaku dia menyukaiku dan ingin aku jadi pacarnya, aku pun menerimanya. Tapi dari awal dia tak pernah sekalipun memperhatikanku. Dia mengabaikanku bahkan dia bermesraan dengan gadis gadis lain di belakangku….atau mungkin didepanku? Aku tahu. Aku sudah berkali kali marah padanya dan berakhir dengan dia yang membentakku bahkan mengatakan bahwa aku boleh melakukan hal yang sama seperti dia. Tapi tidak, aku tidak bisa. Karena aku menyayangi dia seorang. Ya, walaupun sebenarnya aku juga sudah sangat lelah dengan hubungan yang hambar begini, tapi aku selalu percaya dia pasti akan berubah. Entah kapan….

“lalu?” jawabku begitu aku tersadar dari lamunan singkatku

“aishhhh, jinjja! Kenapa kau tidak marah atau kalau perlu tinggalkan namja brengsek itu!!”

“minju-ah, jangan marah marah begitu. aku baik baik saja kok. Ayo pulang” ucapku

“rissa-ah!! Ayolah! Marah padanya!!” paksa minju sambil menarik narik tanganku. Sejujurnya aku juga ingin marah tapi aku tak bisa. Aku selalu tak sanggup marah padanya, aku akan selalu mengalah dan memaafkannya. Bodoh? Iya aku tahu

“sudahlah minju-ah, kubilang tak us…..” belum sempat kuselesaikan kalimatku suara seorang namja sudah memanggilku

“rissa-ah?” aku pun langsung menoleh kearah pemilik suara itu, Kim Jongin. Tetangga sebelah rumahku

“ah, kai! Annyeong” sapaku sambil tersenyum dan minju pun membungkuk memberi salam pada namja tinggi itu.

***

“jadi, untuk apa kau datang ke lapangan sepagi ini?” tanya kai sambil mendribble bola basketnya pelan. Sekarang kami hanya berduaan karena minju pamit pulang katanya akan berkencan dengan baekhyun kekasihnya.

“ah itu…..minju mengajakku”

“untuk apa? Kau bahkan masih memakai baju tidurmu” ucapnya sambil menunjuk baju yang kupakai, sebuah piyama berwarna biru muda

“hahaha itu….untuk melihatnya” ucapku lirih dan kai yang memang sudah mengerti langsung mengubah air mukanya menjadi gelap. Dia menepuk puncak kepalaku lembut

“kau masih berhubungan dengannya?”

“he em”

“kenapa tidak disudahi?”

“aku menyayanginya”

“tapi dia sepertinya tidak.” Ucap kai datar sambil menghentikan kegiatan dribble bola basketnya

“kai-ah….”

“tak bisakah kau mencari namja yang memang menyayangimu?” tanyanya menatapku lekat

“ani. Aku menyayanginya” aku terus mengatakan hal yang sama setiap hari. Setiap menit. Aku tak bisa meninggalkannya karena aku menyayanginya

“hhh kalau begitu aku juga tidak akan bisa meninggalkanmu karena aku menyayangimu. Aku menyayangi sahabat masa kecilku yang begitu bodoh hingga mencintai namja yang sangat jahat” ucapnya lirih dan menembakkan shoot yang sangat cantik ke ring yang cukup jauh dari kami. Membuatku menatapnya kagum, dia memang sangat keren.

“kai-ah…” ucapku lagi

“wae?”

“kenapa kau begitu keras kepala sih?” tanyaku kebingungan dengan apa yang baru saja dia katakan

“berkacalah lebih dulu baru bertanya padaku”

“yaaa! Kenapa begitu?!”

“ti dak ta hu” ucapnya sambil menunjukkan smirk andalannya dan mengacak rambutku membuatku segera memukul lengannya. Beberapa orang memandang kami seperti anak kecil yang heboh sendiri, tapi kenyataannya hanya saat bersama kai saja aku bisa merasa bebas dan lega. Dia selalu memberiku kekuatan dan kehangatan.

Author’s pov

Sementara rissa sedang bermain dengan kai, seorang namja kini sedang menatap layar iphonenya hampa. Sedari tadi dia hanya melamunkan hal hal tidak jelas. Ketika sebuah pesan masuk dan dia pun langsung tersenyum berharap pesan itu dari rissa, tapi nihil. Bukan nama rissa yang tertera

From: Miwa

Oppaaa, hari ini kau mau menemaniku nonton kan? Oppa kan sudah janji hihi. Kita juga akan dinner kan? Sampai bertemu jam 4 nanti :*:*

Sehun menatap layar iphonenya hampa. Entah ini gadis keberapa yang minta ia temani malam ini, dia hanya menghela nafas berat. Dia sendiri juga tidak mengerti dengan dirinya yang tak bisa lepas dari gadis gadis disekitarnya padahal dia sudah mempunyai seorang pacar. Dia senang bersama para gadis dan bermesraan dengan mereka. Alasannya? Dia tidak tahu. Yang dia tahu, dia merasa sangat bahagia tiap kali mengingat rissa. Dengan malas sehun pun segera mengetik pesan untuk miwa

To: Miwa

Mian. Aku sedang malas. Lain kali saja ya.

Send

Segera setelah itu sehun segera beranjak pergi dari rumahnya dan pergi ke lapangan yang tadi pagi ia datangi bersama yeoja lainnya lagi.

Sehun’s pov

Aku berjalan tak tentu dan kakiku membawaku ke lapangan ini lagi. Aku melihat ke seluruh penjuru lapangan. Banyak anak anak kecil bahkan orang tua. Tapi tunggu, pandanganku tertuju pada dua orang yang sedang asik bermain basket di pinggir lapangan. Aku yang penasaran pun segera menghampiri kedua orang yang terlihat sangat menikmati permainan itu

DEG

Apa yang dia lakukan disini? Dengan seorang namja? Kenapa dia asik sendiri begini? Dia bahkan masih memakai baju tidurnya.

“rissa-ah” panggilku pada yeoja dihadapanku membuatnya segera menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arahku

“se…hun?” jawabnya sedikit linglung lalu segera memberikan bola basket ke namja disebelahnya, namja itu jelas menatapku tajam membuatku bergidik ngeri.

“apa yang kau lakukan disini?”

“aku hanya sedang bermain dengan kai oppa, kau?” tunggu, dia memanggil laki laki lain dengan ‘oppa’? padahal terlihat jelas mereka seumuran.

“aku sedang berjalan jalan”

“oooh, memangnya yeojamu kemana?” tanya rissa datar padaku.

“apa maksudmu?” tanyaku agak sedikit panik. Jangan bilang dia melihatku tadi pagi…. Bukan. Ini bukan yang pertama kalinya dia memergokiku dan dia selalu memaafkanku. Tapi kali ini entah kenapa firasatku sedang tidak baik

“aishhh, jangan sembunyi sembunyi begitu sehun. Aku sudah tahu semua kok hehe lagipula sudah banyak yang bilang padaku.” Ucapnya sambil terkekeh tapi aku tahu jelas dia sedang menyembunyikan rasa sakit. Aku pun segera menarik tangannya dan bersiap menariknya pergi ketika sebuah tangan mencengkram tanganku. Tangan namja itu.

“yaa! Lepaskan! Aku ada urusan dengan rissa!” ucapku sambil menarik tanganku dari cengkraman namja itu namun dia justru menatapku tajam

“dia harus segera pulang” ucap namja itu dingin. Tangan kiriku sudah mengepal siap memberi pelajaran pada namja didepanku ini namun rissa segera menengahi perang dingin kami

“kai oppa, gwenchana. Aku nanti pulang sendiri. Aku ada urusan dengan sehun, ok?” dan namja itu pun hanya pasrah mengangguk lalu pergi meninggalkan kami berdua ditepi lapangan.

Aku terdiam menatap yeoja didepanku, entah kenapa pipinya terlihat semakin tirus dan matanya semakin mirip mata panda, apa dia tak pernah tidur? Aku pun segera meletakan tanganku diwajahnya namun dengan cepat dia segera menepis tanganku dengan kasar

“jangan sentuh aku!” ucapnya ketus membuatku tertegun. Ada apa dengannya? Baru sekali ini aku melihat rissa yang notabenenya yeojachinguku seperti ini

“kau kenapa sih?!” ucapku tak kalah ketus. Bodoh, bukan begini cara yang baik menanggapi omongan rissa. Sehun bodoh

“masih bertanya aku kenapa heh?”

“apa maksudmu?”

“oh ayolah Oh Sehoon, tadi pagi yeoja mana lagi yang kau bawa? Tiap hari berapa yeoja yang kau rangkul dan kau belai mesra hah?” ucapnya sambil tersenyum mengejek padaku.

“ap…”

“DIAM! Dengarkan aku. Sekali ini saja. Aku sudah cukup lelah dengan sikapmu. Sungguh. Sebenarnya kau itu menyayangiku atau tidak hah?” ucapnya setengah berteriak, untung saja lapangan itu sudah sepi

“rissa-ah, kau kan tahu aku hanya berteman dengan mereka…”

“berteman katamu? Berteman? Kalau begitu izinkan aku berteman dengan cara yang sama sepertimu tuan”

“kim rissa! Ada apa sih denganmu? Kenapa kau jadi begitu sensitif hah?” ucapku mulai meledak. Aish, pabo namja! Kenapa kau tak bisa mengendalikan emosimu sih oh sehoon!

“kita sudahi saja sehun. Ok?” ucapnya tanpa nada ragu sedikit pun, apa dia gila? Kami sudah berpacaran 6 bulan dan dia dengan mudah ingin mengakhirinya.

“kau gila?” tanyaku padanya, dia pun segera tersenyum miris padaku

“ya, aku gila. Aku gila karena aku selalu percaya kau akan berubah. Nyatanya, sampah tetaplah busuk. Kau tetap saja playboy.”

“yaaa! Dengarkan dulu penjelasanku!!”

Dia tak memperdulikanku dan segera berjalan meninggalkanku namun aku segera menarik tangannya dan membawanya mendekat kearahku.

“dengarkan ak….” Belum sempat kuselesaikan ucapanku, sebuah tangan mungil sukses mendarat di pipi kiriku

PLAK!

Aku ditamparnya, untuk pertama kalinya. Aku ditampar rissa. Kini aku tertegun memegangi pipi kiriku, dan dia hanya menatapku dengan mata berkaca kaca.

“kita sudahi saja. Kumohon” ucapnya lirih dan bernada putus asa. Aku masih diam, aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Apa kau begitu sakit selama bersamaku hingga kau menamparku sekarang? Atau kau jadi seberani ini karena namja yang tadi bersamamu itu sudah menggantikan posisiku dihatimu? Kenapa kau berubah?

“kau tahu sehun? Kau itu cinta pertamaku dan pacar pertamaku. Beruntunglah aku tidak memberi ciuman pertamaku pada namja brengsek sepertimu. Terimakasih” ucapnya sambil membungkuk lalu pergi meninggalkanku.

Tunggu… dia bilang terima kasih? Apa itu artinya kami sudah selesai? Tidak. Ini tidak benar. Tidak. Rissa-ah, kau tidak bisa seperti ini. kau yang biasanya akan memaafkanku dan memelukku mengatakan kau sayang padaku. Rissa-ah, mianhae. Kembalilah. Jangan meninggalkanku. Jebal…

***

#3 tahun kemudian…

Author’s pov

Pagi itu matahari bersinar dengan terang memberi kehangatan pada setiap orang. Seorang yeoja dengan rambut terurai panjang berwarna coklat tua sedang berjalan santai menuju kampusnya. Tak berapa lama hp yeoja itu mengeluarkan suara tanda ada sebuah telfon masuk, membuatnya segera mengangkat telfon itu

“yeoboso”

“hey, kau dimana?” tanya sebuah suara bass disebrang sana

“aku dijalan ke kampus, wae?” jawab yeoja cantik itu

“aish, kenapa tidak menungguku menjemputmu sih?”

“hahaha tak mauuuu! Nanti yeoja yeoja penggemarmu ngamuk dan aku kena imbas oppa”

“he? Alasan macam apa itu? kalau begitu kutunggu kau digerbang, ara?”

“ne ne, gomawooo kai oppa”

Klik.

Sambungan telfon pun terputus, yeoja itu segera menjepit poninya keatas dan berjalan lebih cepat ke kampusnya. Begitu dia tiba, benar saja namja tampan berkulit agak gelap dengan tubuh tegap itu sudah menunggunya

“kai oppaaa!” sapanya riang

“ah, rissa-ah!” ucap kai sambil menghampiri gadis itu dan segera mengacak lembut rambut rissa.

Rissa’s pov

“yaaa! Oppa jangan mengacak rambutku” ucapku sambil menyingkirkan tangan milik kai oppa dari kepalaku

“eoh? Wae?”

“ya kan tadi sudah rapi -_-“

“haha mianhaeee chagiii” ucapnya sambil tersenyum dan mencubit kedua pipiku.

“hapha hau hihang? Haghi? (apa kau bilang? Chagi?)” tanyaku masih dalam posisi kedua pipiku dicubitnya membuat ucapanku tidak benar sama sekali T^T

“ne, chagi. Kau kan sahabat terbaikku. Memangnya tidak boleh memanggil chagi?”

“aishhh, nanti yeoja yeoja penggemarmu bisa mengeluarkan api dari mulut mereka kalau tahu kau memanggilku begitu” ucapku lalu meninju pelan dada bidang milik kai oppa.

“hahaha tidak akan koook. Ayo kekelas” ucapnya sambil merangkul pundakku.

Ah, apa perlu aku mengenalkan diri? Namaku Kim Rissa, sekarang aku seorang mahasiswi di sebuah universitas di korea selatan jurusan ekonomi, dan namja disebelahku ini. Kim Jongin, sahabatku dari kecil. Kebetulan kami sejurusan dan jadwal kami selalu sama. Jodoh? Ani! Kami hanya sepasang sahabat yang beruntung.

Aku dan kai oppa berjalan menuju kekelas kami, aku melihat keseluruh penjuru kampus. Tiba tiba ada sesosok namja yang menarik perhatianku. Namja yang begitu kukenal. Sangat kukenal. Aku pun segera menghentikan langkahku.

Author’s pov

Rissa yang kaget menghentikkan langkah kakinya untuk memperjelas namja yang baru saja dilihatnya itu, kai yang menyadarinya segera melakukan hal yang sama namun dia bingung apa yang membuat rissa menghentikan langkahnya

“wae? Ada apa rissa?” tanya kai sambil memandang bingung ke arah yeoja disampingnya

“oppa…itu….” ucapnya terbata sambil menunjuk seseorang, kai pun segera memicingkan matanya mencoba memperjelas sosok yang rissa tunjuk

DEG

Jantung kai berdetak tak normal, dia shock. Namja itu namja yang begitu ia kenal. Namja yang pernah mengisi hati rissa. Namja bernama, Oh Sehoon. Kai menelan ludahnya yang terasa kelu, dia pun segera menggandeng tangan rissa namun rissa melepaskannya dan berjalan mendekati namja itu. kai hanya diam, dia tak bisa berkutik melihat rissa yang pergi begitu saja. Entahlah dia merasa tak pantas mencegah gadis itu.

Sehun’s pov

Aku baru saja kembali dari pertukaran pelajar di London, beberapa teman lamaku menyapaku. Tapi sedari tadi aku merasa ada yang menatap kearahku. Siapa? Entahlah aku juga tidak tahu. Tiba tiba sebuah tangan sudah menepuk pundakku dan membuatku mencari siapa pemilik tangan itu

DEG

“ri…ssa?” ucapku terbata begitu menyadari sosok yeoja yang berada dihadapanku sekarang

“annyeong sehun. Kau kuliah disini juga?” sapanya sambil tersenyum. Ternyata dia tetap saja seramah dulu dan dia tambah cantik

“ah annyeong, ne aku kuliah disini. Kau juga?”

“he em, fakultas ekonomi hehe kalau kau?”

“aku hukum rissa-ah” jawabku sambil tersenyum. Kami pun sama sama terdiam. Rasanya sudah begitu lama. Jujur saja semenjak kejadian 3 tahun yang lalu aku tak pernah berdekatan lagi dengan yeoja yeoja. Karma? Mungkin. Aku tak pernah bisa melupakan rissa. Aku selalu mengingatnya, bahkan aku masih ingat bagaimana rasanya ditampar oleh tangan mungilnya itu. aku masih sangat mencintainya….

“sehun?”

“a..ah ne?” tanyaku kaget tersadar dari lamunanku

“ani, apa kau tidak mau masuk kelas?” tanyanya

“ak…” belum sempat kujawab pertanyaan rissa seorang namja menghampiri kami berdua, dia kai. Aku masih ingat dengan wajahnya. Dia membungkuk ke arahku lalu menggandeng tangan rissa mesra. Oh Tuhan hatiku sedikit sakit melihat pemandangan ini

“chagi, ayo masuk kelas” ucap kai pada rissa. Apa? Chagi? CHAGI? Dia memanggil rissa chagi? Jadi mereka……

“ah ne ne, sehun aku duluan ya. Annyeong!” ucap rissa lalu segera pergi dengan kai.

Aku hanya berdiri mematung. Jangan katakan padaku mereka berpacaran. Ani. Aku baru saja menemukannya kembali dan dia sudah menjadi milik orang lain? Ini tidak adil. Kuacak rambutku kesal dan menghela nafas kecewa. Aku pun segera berjalan gontai ke kelasku.

***

#sore hari

Rissa’s pov

Kuliahku baru saja selesai, begitu juga kai oppa. Tapi kai bilang dia ada latihan basket jadilah aku hanya duduk dibangku taman kampus menunggu namja itu selesai latihan itu pun jika aku tidak keburu bosan dan pulang duluan. Mwo? Menunggunya dipinggir lapangan? Aniya! Penggemar kai itu sangat banyak dan mereka sepertinya selalu siap melemparkan granat ke arahku jika berdekatan dengan kai. Padahal kan kai sahabatku dari kecil, siapa suruh dia tumbuh jadi setampan itu dan menyusahkanku sekarang.

Karena bosan, aku pun mengenakan headphoneku dan mulai mendengarkan musik. Angin berhembus cukup kencang membuatku segera memejamkan mataku. Kuhirup udara disekitarku dan tersenyum, rasanya aku begitu bebas tiap kali melakukan hal ini.

“sedang apa kau?” tanya seseorang merusak kesenanganku, aku pun langsung membuka mataku dan menemukan sehun sedang berdiri dihadapanku

“menikmati angin” jawabku singkat

“menikmati angin?” ucapnya mengulang perkataanku dengan sebelah alis terangkat

“he em, ayo ayo sini kau juga harus mencobanya” ucapku sambil menarik tangannya menyuruh dia duduk disampingku dan dia pun menurut

“lalu bagaimana caranya?” tanyanya

“seperti ini…pejamkan kedua matamu” ucapku sambil memberinya contoh dengan memejamkan kedua mataku.

Sehun’s pov

Kutatap yeoja dihadapanku ini, dia sedang memberiku contoh cara menikmati angin katanya. Dia memejamkan matanya. Kuteliti tiap sudut wajahnya, dimulai dari alisnya, matanya yang terpejam dengan bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung, pipinya yang chubby dan menggemaskan, terakhir bibir merah mudanya yang begitu menggodaku. Dari awal aku bertemunya hingga kami berpacaran, belum pernah sekalipun kusentuh bibirnya itu. aku terlalu takut bahkan hanya untuk menyentuhnya. Akhirnya justru kulampiaskan pada yeoja yeoja nakal disekitarku -_-

Tanpa sadar kudekatkan wajahku ke wajahnya, kupejamkan mataku dan perlahan kutempelkan bibirku di bibirnya

Chuuu

Rissa diam, dia tidak menolak tapi tidak juga memberiku respon. Aku pun semakin memperdalam ciumanku, dia sedikit tersentak kaget dengan tindakanku namun aku segera memegang kedua tangannya dan menarik kedua tangannya itu melingkari pinggangku. Aku tak peduli, aku sendiri juga tidak tahu ada apa denganku hingga senekat ini. perlahan rissa memberi respon pada ciumanku, alhasil aku justru semakin mempererat menariknya dalam pelukanku.

Cukup lama kami dalam posisi seperti itu hingga akhirnya kami berdua sama sama butuh oksigen dan menjauhkan bibir satu sama lain. Kutatap yeoja itu sedang shock dengan kejadian barusan. Dia menarik nafas berkali kali dan menunduk. Aku pun hanya tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan yeoja itu. namun dia segera mendongakkan kepalanya dan menatapku

“wae?” tanyaku

“hemmm darimana kau belajar mencium seganas itu heh? Yeoja mana yang mengajarimu?” tanyanya dengan muka polos membuat rona merah segera memenuhi wajahku. Ganas katanya? Tadi itu bahkan lips kiss pertamaku!

“yaaa…aku tidak belajar darimana mana”

“ish, bohong. Yeojamu kan banyak” ucapnya sambil cemberut

“eoh? Itu kan dulu! Lagipula aku tak pernah lips kiss!” tukasku dan dia menatapku dalam

“dulu? Saat bersamaku maksudmu? Kau….tak pernah ciuman?! KAU??!!” dia bahkan membulatkan kedua matanya persis seperti O___O membuatku justru salah tingkah

“n…ne” jawabku sedikit menunduk. Entah karena malu atau apa

“jadi kau tak pernah pacaran setelah putus denganku?” tanyanya lagi. Kuputar bola mataku, sejujurnya aku sangat malu mengingat ketampananku ini sudah tidak bisa diragukan lagi tapi aku selalu menolak setiap yeoja karena masih memikirkan rissa

“ya begitulah…” ucapku akhirnya. Persetanlah dengan gengsi, yang jelas aku masih setia padamu

“nado” jawabnya membuatku membulatkan kedua mataku.

“apa kau bilang?” tanyaku lagi

“nado. Aku juga tidak pernah pacaran lagi semenjak putus denganmu” jawabnya sambil tersenyum sangaaaaat manis dihadapanku. Tapi tunggu, kalau dia bilang dia tidak pernah pacaran lagi setelah denganku lalu maksud kai tadi itu apa? Jelas jelas kai memanggilnya chagi.

“kau bohong”

“NE?! bohong?” ucapnya kaget

“iya, kau pasti sekarang sedang pacaran dengan seorang namja kan?”

“ih kok kau sok tahu sekali sih?” ucapnya sedikit nyolot(?) padaku

“yaa! Aku tidak sok tahu. Buktinya kai tadi memanggilmu chagi kan?”

“….”

Diam, dia hanya diam mendengar pertanyaanku barusan. BINGO! Tuh kan dia bohong padaku, pasti dia sedang berpacaran dengan namja itu. baru saja aku mau melanjutkan tuduhan tuduhanku ketika akhirnya rissa mengangkat wajahnya dan mensejajarkannya dengan wajahku

“HAHAHAHAHAHAHAHAHA kau bilang apa barusan? HAHAHAHA” dia tertawa terbahak bahak di depan wajahku sambil memegangi perutnya. Ugh tertawanya tidak cantik sama sekali -_- tapi tunggu, kenapa dia tertawa?

“yaaa! Kenapa kau tertawa begitu?” ucapku kesal

“HAHAHAHA sehuuuuun!! Kau itu cemburu ya? Hahaha asal bicara tanpa bertanya dulu” ucapnya sambil mencoba menghentikan tawanya, astaga dia bahkan sampai menangis begitu -____-

“aishhh apa sih maksudmu? Kau pacaran kan??” ucapku kali ini sambil memegang kedua pundak yeoja dihadapanku itu.

“aniiii. Dia memanggilku chagi karena kami sudah sangat akrab bukan karena aku pacaran dengannya. Ara?” jawabnya sambil menatapku lekat lekat dan tersenyum. Aku pun langsung bengong, bisa terbayangkan wajahku sederp apa sekarang? Mulutku menganga dan mataku menatap yeoja itu kosong.

“yaaa, sehuuuun. Kau masih hidup kan?” ucap rissa sambil melambaikan tangannya didepan wajahku. Aku pun segera menutup mulutku

“ah ne. jadi……”

“jadi apa?”

“kau masih sendiri?” tanyaku lagi kali suasana yang terlihat sangat bodoh kuubah menjadi serius.

“heem ne sehun, wae?” ya Tuhan, dia masih bertanya maksud dan tujuanku menanyakan dia masih sendiri?! Setelah ciuman panas tadi?! Aishh, otak yeoja ini memang tak beres.

Aku pun segera menarik tubuh yeoja itu mendekat ketubuhku. Kutatap wajahnya lekat lekat dan membuat wajah rissa merona merah. Omooo! Mukaku juga sepertinya memerah >///<

“sehun-ah…” ucapnya

“dengarkan aku” ucapku dan membuatnya menutup mulutnya lalu menatapku

“aku tahu ini klise, tapi aku tak pernah bisa melupakanmu. Semenit pun. Ah aku masih sangat menyayangimu! Walaupun 3 tahun yang lalu aku terus menerus menyakitimu dan membuatmu sedih hingga akhirnya kau membenciku tapi aku sudah mendapat karmaku. Kumohon beri aku kesempatan. Maukah…kau menjadi yeojachinguku lagi?” lanjutku panjang dikali lebar membuat rissa membulatkan kedua matanya dengan sempurna

“m…mwo? What did you say?” katanya mencoba meyakinkan telinganya tidak salah dengar sepertinya.

“yaaa! Jawab saja, iya atau tidak? Aku capek mengulang kata katanya” jawabku gemas pada yeoja didepanku itu. kenapa dia hobi sekali membuatku frustasi sendiri sih?

“hem bagaimana ya….” Ucapnya sambil memutar kedua bola matanya membuatku semakin frustasi, yatuhan kumohon sadarkan hamba-Mu yang satu ini agar tidak membuat stress diriku terus T^T^T^T^T^T

“yaaa! Lama sekali sih. Jawab sajaaa” rengekku padanya, dia pun menunjukkan smirknya dan mencubit kedua pipiku

“awww!” teriakku kesakitan

“kau tahu aku sudah menunggumu kembali semenjak kita putus dan kau baru sadar sekarang? Aigooo aku bahkan hampir lupa pernah kenal dengan seorang namja bernama oh sehoon” ucap rissa sambil terus menarik kedua pipiku ke kiri dan ke kanan

“hakhu minha hamhun, hau hawab haha herhahaanhu (aku minta ampun, kau jawab saja pernyataanku” ucapku bersusah payah

“aishhh, menurutmu? Tentu saja aku mau, pabo!” ucap rissa semakin mengencangkan cubitan di kedua pipiku tapi aku segera melepas tangannya dan menariknya ke pelukanku. Ibarat aku ini musim salju, maka rissa itu musim semi yang selalu mencairkan es yang selama ini menyelimuti hatiku karena sudah menyia nyiakan

“jangan pernah meninggalkanku lagi, ne?”

“kau juga jangan bermain main lagi dengan yeoja yeoja disekitarmu ya?”

“ne, tenang saja ratuku. Selamanya aku untukmu kok” ucapku lalu mengecup pipinya lembut. Lagi lagi semburat merah menghiasi wajahnya membuatku gemas padanya dan memeluknya lebih erat

“saranghae Kim Rissa”

“nado saranghae, Oh Sehoon” balasnya sambil membenamkan wajahnya didadaku.

Ya, sepertinya Tuhan memang sangat adil. Aku dipisahkan 3 tahun dari rissa agar aku dapat berpikir dan merenung. Sekarang dia sudah kembali ke pelukanku. Kurasa untuk kali ini kisahku dengan rissa sampai disini dulu. Ini hanya awal, awal dari kebahagiaanku dengan rissa tentunya kekeke~ aku takkan pernah melepaskannya, takkan pernah! Jeongmal saranghae, Kim Rissa♥♥♥

The End

Fyuh……. Aaaaaah jeongmal mianhae!! Sumpah ini ff gak layak banget kayaknya ya buat dibaca T^T ini author bikin sambil melamun mikirin ulang tahun yesung #salahfandomwoy #okesip ya tapi terimakasih yang mau baca apalagi mau comment. Author cinta banget sama kalian deeeh kisseu kisseu :*:* *author dilempar panci* ketemu di ff yang lain yaaah~~

17 pemikiran pada “Be Mine Again

  1. woghh, payah rissa!!! klo udah jadi kece, jangan mau balik sama mantan kayak gtu.. 😆 ya, susah sih ya pesona sehun gtu loh.. padahal kece-an juga kai.. 😆 mumumumumuuu~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s