Fallen (Chapter 7A)

Tittle    : FALLEN | CHAPTER 7 PART A: PANCARAN CAHAYA
Author : @dearmydeer_
Main Cast :

  • Lucinda Price : Park Gi Eun (OC)
  • Daniel Grigori : Xi Luhan (EXO-M)
  • Cameron Briel : Wu Yi Fan a.k.a Kris (EXO-M)
  • Arriane Alter : Amber Josephine Liu (F(X))
  • Pennyweather Van Syckle-Lockwood : Lee Sun Kyu a.k.a Sunny (SNSD)
  • Roland Sparks : Roland Sparks (OC)
  • Sophia Bliss : Kim Hyun Jin—Miss Kim (OC)

Support Cast :

  • Gabrielle Givens : Lee Hyori (OC)
  • Mary Margaret ‘Molly’ Zane : Choi Jin Hee (OC)
  • Randy : Kim Joon-myun a.k.a SuHo (EXO-K)
  • Callie : Jung Ji Hyun (OC)
  • Todd Hammond : Park Chanyeol (EXO-K)
  • Trevor : Trevor (OC)

Genre  : Western-Life, Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy

Sumber : FALLEN karya Lauren Kate

Warning : OOC, Typo bertebaran

CHAPTER 7 PART A:

PANCARAN CAHAYA

Mau kemana lagi kau sekarang?” Kris bertanya, menurunkan kacamata hitam plastiknya yang berwarna merah.

Cowok itu tiba-tiba saja muncul di depan pintu masuk Augustine sehingga Gi Eun nyaris menabraknya. Atau mungkin ia memang sudah berada di sana dan Gi Eun hanya melihat dalam perjalanannya yang tergesa-gesa menunju kelas. Bagaimanapun, jantung Gi Eun mulai berdebar cepat dan kedua telapak tangannya berkeringat.

“Ehm, ke kelas?” Gi Eun menjawab, karena kemana lagi sih kelihatannya ia menuju? Kedua lengannya penuh dengan dua buku kalkulus yang sangat tebal dan tugas agama yang baru setengah selesai.

Ini saat yang tepat untuk meminta maaf karena tiba-tiba meninggalkan pesta semalam. Tapi Gi Eun tidak bisa melakukannya. Ia sudah sangat terlambat. Tadi tidak ada air hangat di kamar mandi ruang ganti pakaian, jadi ia harus kembali ke asrama. Entah kenapa, apa yang terjadi setelah pesta itu rasanya tidak penting baginya. Ia tidak ingin kembali mengundang perhatian mengenai kepergiannya—terutama saat ini, setelah Luhan membuatnya merasa begitu menyedihkan. Tapi ia juga tidak ingin Kris menganggap dirinya tidak sopan. Ia hanya ingin pergi meninggalkan Kris dan tidak bersama siapa pun hingga bisa melanjutkan kehidupannya setelah rangkaian kejadian memalukan pagi ini.

Tetapi—semakin lama Kris menatapnya, keinginanya untuk pergi terasa semakin tidak penting. Dan semakin berkurang rasa pahit akibar harga dirinya diinjak Luhan. Bagaimana bisa satu tatapan saja dari Kris mengakibatkan itu semua?

Dengan kulit pucatnya yang bersih dan rambutnya yang mengilap, Kris sangat berbeda dengan cowok lain yang pernah Gi Eun kenal. Kris memancarkan rasa percaya diri, dan bukan hanya karena ia mengenal semua orang—dan tahu cara mendapatkan apapun—sebelum Gi Eun bahkan tahu dimana kelas-kelasnya berada. Saat ini, berdiri di luar bangunan sekolah berwarna kelabu yang menjemukan, Kris terlihat seperti foto hitam-putih berseni, kacamata hitamnya yang berwarna merah memberikan warna.

“Kelas, ya?” Kris menguap dengan gaya berlebihan. Cowok itu menghalangi jalan masuk, dan sesuatu pada bibirnya yang tersenyum gembira membuat Gi Eun ingin tahu ide gila apa yang ada dalam benak Kris. Tampak tas kanvas di bahunya, dan gelas espresso sekali pakai ditangannya. Kris menekan tombol Stop pada iPod, tapi membiarkan speaker mininya menggelantung dileher. Sebagian diri Gi Eun ingin tahu lagu apa yang didengarkan Kris, dan dari mana ia mendapatkan espresso selundupan itu. Senyum jail yang tersirat pada mata Kris menantang Gi Eun untuk bertanya.

Kris menyeruput kopi. Sambil mengangkat telunjuk, cowok itu berkata, “Izinkan aku memberitahukan motto-ku tentang pelajaran-pelajaran di Sword & Cross: Lebih baik tidak sama sekali daripada terlambat.”

Gi Eun tergelak, lalu Kris mendorong kacamata hitamnya lagi ke atas hidung. Bagian lensanya begitu gelap, Gi Eun bahkan tak bisa melihat mata cowok itu.

“Lagi pula.” Kris tersenyum, menunjukkan giginya yang putih. “Sudah tiba waktunya makan siang, dan aku punya bekal untuk piknik.”

Makan siang? Bahkan Gi Eun belum sarapan. Tapi perutnya memang keroncongan—dan membayangkan diceramahi Mr. Lee karena terlambat masuk kelas pagi sehingga hanya dua puluh menit yang tersisa makin terasa tidak menarik saat ia berdiri disamping Kris.

Gi Eun mengangguk ke arah tas yang dibawa Kris. “Apa kau membawa cukup untuk dua orang?”

Dengan menekan bagian bawah punggung Gi Eun, Kris mengarahkan Gi Eun menyeberangi lapangan, melewati perpustakaan dan asrama yang suram. Di hadapan gerbang besi pemakaman, cowok itu berhenti.

“Aku tahu ini tempat piknik yang aneh,” cowok itu menjelaskan, “tapi ini tempat terbaik untuk menghilang sesaat. Di sekolah, setidaknya. Kadang-kadang aku tidak bisa bernapas di dalam sana.” Kris member isyarat ke arah bangunan sekolah.

Gi Eun jelas bisa memahami perasaan itu. Ia merasa tidak bisa bergerak juga sekaligus merasa ditelanjangi nyaris setiap saat ditempat ini. Tapi Kris kelihatannya bukan orang yang mengalami sindrom murid baru juga. Cowok itu kelihatan begitu… menyatu. Setelah pesta semalam, dan sekarang dengan espresso terlarang ditangannya, Gi Eun tidak pernah menyangka Kris merasa tidak bisa bernapas juga disini. Atau bahwa cowok itu mencurahkan sisi hati dengan Gi Eun.

Di belakang kepala Kris, Gi Eun bisa melihat bangunan sekolah yang tak terurus. Dari sini, tidak banyak perbedaan antara satu sisi gerbang pemakaman dengan sisi lainnya.

Gi Eun memutuskan mengikuti Kris. “Tapi berjanjilah untuk menyelamatkanku jika ada patung yang tumbang.”

“Tidak,” sahut Kris dengan keseriusan yang segera menghapus lelucon Gi Eun. “Kejadian itu takkan terulang.”

Tatapan Gi Eun tertuju ke tempat beberapa hari lalu nasibnya dan Luhan nyaris berakhir dipemakaman. Tapi patung malaikat marmer yang tumbang ke arah mereka sudah lenyap, bagian dasarnya kosong.

“Ayo,” kata Kris, menarik Gi Eun sambil berjalan. Mereka melangkahi rumpun-rumpun rumput liar yang tumbuh tinggi, dan sebentar-sebentar Kris membalikkan tubuh untuk membantu Gi Eun melangkahi gundukan tanah yang ditumbuhi entah apa.

Pada satu titik, Gi Eun nyaris kehilangan keseimbangan dan berpegang pada salah satu batu nisa untuk menyeimbangkan tubuh. Batu nisan berupa lempengan berukuran besar yang dipernis, sisi lainnya masih kasar.

“Aku selalu menyukai yang satu itu,” kata Kris, mengisyaratkan batu nisan berwarna kemerah-merahan yang berada di bawah jemari Gi Eun. Gi Eun mengitari batu nisan itu untuk melihat bagian depan dan membaca tulisannya.

“Joseph Miley,” Gi Eun membaca keras-keras. “1821 sampai 1865. Mengabdi dengan gagah berani dalam Perang Agresi Utara. Selamat dari tiga luka tembakan dan lima kali terjatuh dari kuda sebelum mencapai peristirahatannya yang terakhir.”

Gi Eun membunyikan buku-buku jari. Mungkinkah Kris hanya menyukainya karena warna batunya yang kemerahan dan dipernis tampak mencolok diantara batu-batu berwarna kelabu? Atau karena ukiran ulir rumit di permukaan batu nisan tersebut? Gi Eun mengangkat alis pada Kris.

“Yah.” Kris mengangkat bahu. “Aku hanya suka dengan batu nisan yang menjelaskan bagaimana orangnya meninggal. Jujur, kau tahu? Biasanya orang-orang tidak mau melakukan itu.”

Gi Eun membuang muka. Ia cukup tahu hal itu dari tulisan rumit pada batu nisan Trevor.

“Bayangkan betapa akan lebih menarik tempat ini jika penyebab kematian setiap orang diperhatikan dibatu nisannya.” Kirs menunjuk makam kecil beberapa deret di bawah makam Joseph Miley. “Menurutmu, kenapa dia menginggal?”

“Ehm, demam berdarah?” Gi Eun menebak, berjalan mendekat.

Gi Eun menelusuri tanggal yang tertera di sana dengan jemarinya. Gadis yang dimakamkan disini meninggal pada usia yang lebih muda daripada dirinya. Gi Eun tidak mau terlalu memikirkan apa yang mungkin terjadi pada gadis tersebut.

Kris memiringkan kepala, menimbang-nimbang. “Mungkin,” cowok itu berkata. “Mungkin seperti itu atau terjadi kebakaran misterius di lumbung ketika Betsy muda tidak sengaja ‘tidur siang’ dengan cowok tetangga.”

Gi Eun pura-pura merasa tersinggung, tapi wajah Kris yang jail membuatnya tertawa. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bercanda dengan cowok. Tentu saja, tempat ini lebih ajaib daripada berpacaran di tempat parkir bioskop yang biasa ia lakukan, tapi begini juga para murid di Sword & Cross. Tetapi, bagaimanapun, Gi Eun sudah menjadi bagian mereka sekarang.

Ia mengikuti Kris ke bagian bawah pemakaman yang seperti mangkuk, ke tempat makam-makam yang lebih banyak hiasan dan bangunan-bangunan makam besar. Di tanah melandai di atas mereka, seakan Gi Eun dan Kris sepasang seniman di teater ruang terbuka. Sinar matahari siang memancarkan cahaya orange melalui daun-daun pohon ek rasasa pemakaman, dan Gi Eun melindungi mata dengan kedua tangan. Hari ini hari terpanas yang mereka rasakan sepanjang minggu.

“Nah, lelaki ini,” kata Kris, menunjuk makam besar yang diapit tiang-tiang gaya Yunani. “Pengecut yang melarikan diri dari wajib militer. Ia mati tercekik ketika balok runtuh di ruang bawah tanahnya. Yang menunjukkan bahwa jangan pernah bersembunyi dari panggilan tentara Konfederasi.”

“Begitu ya?” tanya Gi Eun. “Coba ingatkan aku, apa yang membuatmu ahli pada bidang ini?” Bahkan saat menggoda cowok itu, Gi Eun anehnya merasa diistimewakan karena berada di sini dengan Kris. Cowok itu terus-menerus melirik untuk meyakinkan dirinya bahwa Gi Eun tersenyum.

“Hanya kemampuan indra keenam.” Kris menyunggingkan senyum lebar yang polos pada Gi Eun. “Jika kau mau tahu, masih ada indra ketujuh, kedelapan, dan kesembilan dalam diriku.”

“Mengagumkan.” Gi Eun tersenyum. “Aku lebih memilih indra pengecap saat ini. Aku kelaparan.”

“Saya siap melayani Anda.” Kris mengeluarkan selembar selimut dari tas kanvas dan menghamparkannya di bawah naungan pohon ek. Cowok itu memutar tutup termos dan Gi Eun bisa menghirup aroma kuat espresso. Gi Eun biasanya tidak minum kopi hitam, tapi ia memperhatikan ketika Kris mengisi gelas dengan es batu, menuangkan espresso, dan menambahkan susu dalam takaran yang pas dipermukaannya. “Aku lupa membawa gula,” cowok itu berkata.

“Aku tidak pernah memakai gula.” Go Eun menyeruput kopi latte yang sangat dingin itu, tegukan nikmat kafein terlarang pertamanya selama satu minggu di Sword & Cross.

“Untung saja,” kata Kris, sambil mengeluarkan dan menata bekal piknik yang lain. Mata Gi Eun membesar ketika ia memerhatikan Kris menata makanan: sepotong roti Perancis berwarna cokelat tua, sebongkah kecil keju lembek, satu botol zaitun berwarna terakota, semangkuk telur berbumbu, dan dua apel berwarna hijau terang. Rasanya tidak mungkin Kris bisa memasukkan semua barang itu ke tas—juga mustahil ia berencana memakan semuanya sendirian.

“Dari mana kau mendapatkan ini semua?” Gi Eun bertanya. Sambil berpura-pura serius merobek sebongkah roti, ia bertanya, “Dan siapa yang tadinya mau kau ajak piknik sebelum aku muncul?”

“Sebelum kau muncul?” Kris tertawa. “Aku tidak bisa mengingat kehidupanku yang suram sebelum kau muncul.”

Gi Eun menunjukkan mimic menghina pada Kris agar cowok itu melihat bahwa Gi Eun menganggap kata-katanya sangat norak… dan Cuma sedikit menarik. Gi Eun bersandar ke belakang dengan bertumpu pada siku di selimut, kedua kakinya disilangkan pada pergelakang kaki. Kris duduk bersila menghadap Gi Eun, dan ketika cowok itu meraih melewati tubuh Gi Eun untuk mengambil pisau keju, tangan cowok itu tidak sengaja menyentuh, kemudian berpegangan pada lutut Gi Eun yang mengenakan jins hitam. Kris mendongak menatap Gi Eun, seakan bertanya, Apakah ini tidak apa-apa?

Ketika Gi Eun tak bergerak, Kris tidak mengangkat tangan, mengambil roti Perancis dari tangan Gi Eun dan menggunakan kaki Gi Eun sebagai meja sementara ia mengoleskan keju pada roti. Gi Eun suka merasakan tekanan tubuh Kris di atas tubuhnya, dan pada cuaca sepanas ini, itu bukan pernyataan sembarangan.

“Aku akan mulai dengan pertanyaan paling mudah dulu,” kata Kris, akhirnya duduk tegak kembali. “Aku membantu di dapur beberapa hari dalam seminggu. Bagian dari perjanjian saat masuk kembali ke Sword & Cross. Aku diwajibkan ‘memberikan sesuatu kembali’.” Kris memutar mata. “Tapi aku tidak keberatan berada disana. Kurasa aku menyukai hawanya yang panas. Itu jika kau tidak menghitung percikap minyak panas.” Kris memutar tangan untuk menunjukkan puluhan bekas luka kecil pada bagian bawah lengannya. “Risiko pekerjaan,” Kris berkata santai. “Tapi aku bisa menguasai dapur.”

Gi Eun tidak bisa menahan diri untuk tidak meraba beberapa bekas luka itu, tonjolan-tonjolan pucat bekas luka kecil yang memudar, menyatu dengan kulit Kris yang lebih pucat. Sebelum Kris malu karena keberaniannya dan menarik tangan, Kris menyambar tangannya dan meremasnya.

Gi Eun menatap jemari Kris yang menggenggam jari-jarinya. Sebelum ini ia tidak menyadari betapa mirip warna kulit mereka. Di daerah selatan yang penuh orang suka berjemur, warna kulit Gi Eun yang pucat selalu membuatnya tidak percaya diri. Tapi kulit Kris begitu mencolok, begitu menarik perhatian, nyaris metalik—dan kini Gi Eun menyadari bahwa dirinya pasti tampak sama, menurut Kris. Gi Eun bergidik dan merasa agak pusing.

“Apa kau kedinginan?” Kris bertanya pelan.

Ketika menatap kedua meta Kris, Gi Eun tahu cowok itu tahu ia tidak merasa kedinginan.

Kris bergeser lebih dekat di atas selimut dan merendahkan suara menjadi bisikan. “Sekarang ku rasa kau ingin aku mengakui bahwa melalui jendela dapur, aku melihatmu menyebrangi lapangan dan aku segera menyiapkanmu untuk membolos bersamaku?”

Saat ini seharusnya Gi Eun menelas es batu dalam minumannya, jika saat es itu belum lumer dalam cuaca bulan September yang panas.

“Dan kau merencanakan piknik yang romantic ini,” Gi Eun menyelesaikan kalimat Kris. “Di pemakaman?”

“Hei.” Kris menyapukan jari di sepanjang bibir bawah Gi Eun. “Kau yang mengundang suasana romantic.”

Gi Eun menjauh. Kris memang benar—Gi Eun-lah yang terlalu berani… untuk kedua kalinya hari ini. Gi Eun bisa merasakan pipinya merona saat ia berusaha tidak memikirkan Luhan.

“Aku bercanda,” kata Kris, menggeleng saat melihat raut wajah Gi Eun yang berubah. “Mestinya itu kelihatan jelas.” Kris mendongak menatap burung nasa yang terbang mengitari patung raksasa putih berbentu meriam. “Aku tahu ini bukan Taman Firdaus,” Kris berkata, melemparkan apel kea rah Gi Eun, “tapi anggap saja kita berada dalam lagu Smiths. Dan sebagai pembelaan untukku, memang tidak banyak yang bisa dikerjakan di sekolah ini.”

Itu ungkapan halusnya.

“Menurutku,” kata Kris, bersandar ke belakang di atas selimut, “lokasi tidak penting.”

Gi Eun memandang Kris ragu. Ia juga berharap cowok itu tidak bersandar menjauh, tapi ia terlalu malu untuk bergeser mendekat ketika Kris berbaring menyamping.

“Tempat aku tumbuh” —Kris diam sesaat—“tidak jauh berebda dengan kehidupan gaya penjara di Sword & Cross ini. Kesimpulannya, aku kebal dengan lingkungan sekitarku.”

“Tidak mungkin.” Gi Eun menggeleng. “Jika aku memberimu tidak pesawat ke California saat ini juga, apa kau tidak akan penuh semangat berusaha keluar dari sini?”

“Mmm… tidak terlalu teratirk,” Kris berkata, memasukkan telur isi ke mulut.

“Aku tidak percaya,” Gi Eun mendorong Kris.

“Berarti kau mengalami masa kecil yang bahagia.”

Gi Eun menggigit kulit tipis apel hijau dan menjilat air apel yang mengaliri jemarinya. Ia mengingat lembaran-lembaran kehidupan dalam benaknya yang dipenuhi kemarahan orangtuanya, kunjungan ke dokter, dan berpindah-pindah sekolah sejak ia masih kecil, bayangan-bayangan hitam yang melayang seperti kain yang menyelubungi segalanya. Tidak, ia takkan mengatakkan ia mengalami masa kecil yang bahagia. Tapi jika Kris bahkan tidak bisa melihat jalan ke luar dari Sword & Cross, adanya sesuatu yang lebih penuh harapan di kaki langit, mungkin masa kecilnya lebih buruk.

Terdengar suara gemerisik dekat kaki mereka dan Gi Eun langsung meringkuk ketika ular besar berwarn hijau dan kuning melata melewati mereka. Sambil mencoba tidak terlalu dekat, Gi Eun merangkak dan menatap binatang itu. Bukan ular biasa, tapi ular yang sednag berganti kulit. Kulit tipis termbus pandang terkelupas bagian ekornya. Banyak ular di Georgia, tapi Gi Eun belum pernah melhat yang terngan berganti kulit.

“Jangan menjerit,” kata Kris, meletakkan tangan di lutut Gi Eun. Sentuhan cowok itu membuat Gi Eun merasa lebih aman. “Ular itu akan pergi jika kita tidak mengganggunya.”

Rasanya binatang tersebut tidak akan cukup cepat pergi. Gi Eun ingin sekali berteriak. Dari dulu ia benci dan takut ular. Binatang itu licin, bersisik, dan… “Ih.” Gi Eun bergidik, tapi tidak bisa mengalihkan pandangan dari si ular hingga binatang itu menghilang ke antara rumput-rumput tinggi.

Kris nyengir saat memungut kulit yang terkelupas dan meletakkannya di tangan Gi Eun. Kulit itu rasanya masih hidup, seperti kulit lembap bawang segar yang baru saja dicabut ayahnya dari kebun. Tapi kulit ini baru saja terlepas dari ular. Menjijikan. Ia melemparnya lagi ke tanah dan mengusapkan tangan ke celana jins.

“Ayolah, apa kau tidak menganggapnya lucu?”

“Kau tahu dari tubuhku yang gemetaran ya?” Gi Eun mulai agak malu karena pasti ia terkesan seperti anak kecil.

“Bagaimana dengan keyakinanmu tentang kekuatan perubahan?” tanya Kris, sambil mengusap kulit ular. “Bagaimanapun, karena itulah kita berada disini.”

Kris melepaskan kacamata hitamnya. Kedua matanya yang seperti zamrus begitu percaya diri. Cowok itu diam tak bergerak seperti patung lagi, menunggu jawaban Gi Eun.

“Aku mulai menganggap kau aneh,” akhirnya Gi Eun berkata, tersenyum simpul.

“Oh, masih banyak yang perlu kauketahui tentang diriku,” jawab Kris, mencondongkan tubuh mendekat. Lebih dekat daripada ketika ular tadi muncul. Lebih dekat daripada yang dikira Gi Eun berani dilakukan cowok itu. Kris mengulurkan tangan dan perlahan mengelus rambut Gi Eun. Tubuh Gi Eun menegang.

Kris sangat tampan dan menarik. Yang tidak dimengerti Gi Eun adalah bagaimana, saat seharusnya merasa gugup—seperti sat ini—ia masih bisa merasa nyaman. Ia ingin berada tepat di tempatnya sekarang ini. Ia tak bisa melepaskan pandangan dari bibir cowok itu, yang penuh, merah muda, dan bergerak mendekat, membuatnya semakin pusing. Bahu cowok itu menyentuh bahunya dan ia merasakan gemetaran aneh jauh di dalam dadanya. Ia memperhatikan sat Kris membukan bibir. Lalu Gi Eun memejamkan mata.

“Di sini kalian rupanya!” Suara penuh semangat menyadarkan Gi Eun yang terhanyut dalam suasana.

Gi Eun menghela napas kesal dan mengalihkan perhatian pada Hyori, yang berdiri dihadapan mereka dengan rambut ekor kuda yang diikat tinggi disamping, dan dengan cengiran tanpa rasa bersalah.

“Aku tadi mencari ke mana-mana.”

“Kenapa kau mencari kami?” Kris menatap marah Hyori, yang menambah nilai cowok itu di mata Gi Eun.

“Pekuburan tempat terakhir yang terpikirkan olehku,” Hyori terus saja mengoceh, menghitung jemari. “Aku sudah memeriksa kamar asrama kalian, lalu di bawah bangku-bangku penonton di lapangan, kemudian—“

Mau apa kau, Hyori?” Kris memotong kalimat gadis itu, seperti saudara yang bertengkar, seakan mereka sudah cukup lama saling mengenal.

Hyori mengerjap, lalu mengigit bibir. “Miss Kim,” akhirnya gadis itu berkata, menjentikkan jari. “Benar, ia mulai panic ketika Gi Eun tidak muncul di kelas. Terus-terusan mengatakan kau murid yang menjanjikan dan sebagainya.”

Gi Eun tidak memahami gadis ini. Apakah ia tidak main-main dan hanya mengikuti perintah? Apakah ia mengejek Gi Eun karena memberikan kesan baik pada guru? Apakah ia belum cukup menguasai Luha—sehingga harus mendekati Kris juga sekarang?

Hyori pasti merasa ia mengganggu, tapi ia hanya berdiri di sana, mengerjapkan matanya yang besar dan memelintir sejumput rambut pirang dengan jari. “Yah, ayo, kalau begitu,” akhirnya gadis itu berkata, mengulurkan tangan untuk membantu Gi Eun dan Kris berdiri. “Ayo, kita kembali ke kelas.”

To Be Continue

Buat yang udah baca part ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

13 pemikiran pada “Fallen (Chapter 7A)

  1. Yeayyy akhirnya udah update lagi.. 🙂
    duhh aku agak krang ngrti yg di awal, soalnya agk gak nymbung sma chap 6B ..tpi tak apalah..yg pnting updatenya cepet…
    Stiap bgian di jln crta novel ini aku pnsaran bnget.. Chaptr ini lbh pnjang dr chaptr sblmnya, tp rsanya msih krang pnjang ..kkk~
    Next chap nya cepet ya, dan panjangin lagi ..kan biar cpet slsai juga..ya ya ya jebaallll
    gomawo 🙂

  2. aauuw~ pikniknya kris ama gieun romantis deh. sebelum2nya ak ga bgt trtarik sma kris d fic ini, di fic ini ak lebih suka ama luhan, tp chap ini buat ak pen tau lebih byk soal kris. masa kecil kris suram, ya? penasaran… tapi itu si hyori ganggu aja, nyebelin –‘

    chapter selanjutnya lebih panjang lagi ya author, habis chapter ini rasanya masih krg panjang 😀 ditunggu ya author~

  3. ‘Kris terlihat seperti foto hitam-putih berseni, kacamata hitamnya yang berwarna merah memberikan warna’
    aaah~ aku suka banget bagian yang ini. deskripsinya pas banget sama si Kris kalo lagi di bandara gitu ._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s