Hello Baby (Chapter 2)

Author: viviviviski

Title: Hello Baby EP 2

Length: Chapter

Genre: Comedy, Romantic, Family

Rating: All Ages

Main Cast: Kai, EXPLOSION Member, Lincoln, ChanRi (OC),  Zelo BAP

EXPLOSION adalah à http://exoismine.wordpress.com/about-explosion/

COVER (1)

~Love Hate – F(X)~

I Love You, I hate you, my hearts keeps changing

I Love You, I hate you, the clock hand goes back and forth

Isn’t love and hate the same thing anyway?

I hate you, I love you, the repeating dejavu

I love you, i hate you, i think i almost know

Yes, love and hate is the same thing anyway

 

26 Oktober 2012

07:34 KST

 

Setelah puas bermain di Everland, Chan Ri, Lincoln dan Kai menunggu di halte subway yang berada di dekat tempat wisata itu. Hari sudah larut, matahari mulai terbenam. Salah seorang staf kemudian memberikan mereka sebuah mission card. Kim Jong In yang menggendong Lincoln yang sedang tertidur pulas dengan kepala di bahunya menerima mission card itu, tapi kemudian menyerahkan mission card itu ke Chan Ri, karna tangannya tak memungkinkan untuk membuka mission card itu. Chan Ri menerima lipatan kertas berwarna merah muda itu, kemudian membukanya.

 

Mission Card:

 

Kalian akan tinggal bersama disebuah apartement di daerah Sunsan-Dong. Sebentar lagi sebuah mobil akan datang menjemput kalian.

 

Chan Ri memperlihatkan kertas di tangannya itu ke arah Kai, Kai mengangguk mengerti. Mereka menunggu mobil yang di maksud dalam diam. Diam diam Kai melirik Chan Ri, begitu juga Chan Ri, namun tidak dalam waktu yang bersamaan, tapi bergantian. Benar benar persis seperti yang ada di serial drama – drama Korea yang sering Jangmi dan Sung Rin saksikan.

Chan Ri melirik Kai lagi. Kali ini Kai memergokinya, Chan Ri menjadi salah tingkah, wanita itu menggaruk tengkuknya dengan wajah yang sangat aneh. “Kenapa Junior?” tanya Kai dengan wajah polos, padahal saat itu ia sedang menggoda Chan Ri.

“Ah itu… ada daun di kepala mu, Senior,” jawab Chan Ri asal.

Kai mengusap usap rambutnya dengan tangan kanan, karena tangan kirinya yang menggendong Lincoln. Tapi nihil. Sama sekali tidak ada sehelai daun apapun di rambut Kai. Kai memasang wajah penuh tanya ke arah Chan Ri, “Mana daunnya, Chan Ri?”

Chan Ri yang kelimpungan kemudian terkikik terpaksa, yang jatuhnya malah seperti bunyi orang batuk, “Ekh ekh. Entahlah, mungkin hanya halusinasiku,” Gadis itu mengibas ngibaskan  tangannya di depan wajahnya yang terasa panas karena salah tingkah.

Kai diam sejenak melihat kelakuan Chan Ri yang semakin hari semakin aneh, “Dasar ratu alien.”

Chan Ri memasang wajah terkejutnya. Benar benar tindakan gegabah dari seorang Kim Jong In. Bagaimana dia bisa memanggil panggilan itu disaat ratusan pasang mata akan menyaksikan acara ini. Bagaimana kalau orang orang mengetahui kedekatan mereka.

“Kau memang orang teraneh di SOPA, pantas saja orang orang banyak membicarakan mu di sekolah, ratu alien,” lanjut Kai.

Chan Ri yang awalnya panik mulai mereda akibat alasan dadakan yang dibuat Kai. Tapi kemudian gadis itu sadar kalau Kai mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia tidak ketahui, “Jadi… selama ini aku dibicarakan karena ke anehan ku? Ingin di taruh dimana mukaku? Aih harga diriku.”

Sikap men-dramatisir Park Chan Ri mampu membuat dirinya muak, pria itu mencubit pelan pipi Chan Ri, “Shut! Kau mau membuat Lincoln bangun? Kau berlebih lebihan.” Chan Ri mendengus kesal ke arah Kai, gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Ayo masuk, jangan sok imut seperti itu.” Kai membuka pintu mobil yang baru saja datang di depan mereka. Kai memegang puncak kepala Lincoln agar ia tidak terkantuk dengan mobil. Kemudian Chan Ri menyusul masuk dan menutup pintu mobil. Mobil itu mulai melaju.

Chan Ri mengambil Lincoln dari Kai, kemudian memangku Lincoln sesekali mengusap rambut anak itu. Tak berapa lama mobil berhenti. “Oke, Cut!” Terdengar suara produser acara hello baby dari earphone yang ada di telinga supir mobil tersebut yang berada di depan Chan Ri.

Kai turun terlebih dahulu, kemudian menutup pintu mobil. Chan Ri menghela nafas, kemudian turun dari mobil seraya menggendong Lincoln yang tertidur. Ibu Lincoln menghampiri Chan Ri. Chan Ri tersenyum, “Annyeonghaseyo,” Chan Ri membungkuk.

“Annyeonghaseyo,” Ibu Lincoln ikut tersenyum. Chan Ri kemudian menyerahkan Lincoln ke ibunya. Anak itu bergerak perlahan, kemudian membuka mata. Chan Ri tersenyum, gadis itu mengusap kepala Lincoln. “Lincoln ah, kenapa bangun? Nuna berisik ya? Mianhae,” kata Chan Ri lembut.

Lincoln menggeleng, tersenyum manis, “Aniyo Eomma, Lincoln boleh manggil Chan Li Nuna Eomma?”

“Boleh sayang,” Chan Ri mencubit gemas pipi Lincoln. “Sekarang Eomma ingin pulang, Lincoln juga pulang dengan Eomma Lincoln, besok kita bertemu lagi, Jaljayo Lincolnie sayang,” lanjut Chan Ri sambil melambaikan tangan. Chan Ri mengusap lagi kepala Lincoln, kemudian beranjak pergi.

“Chan Li Eomma!” panggil Lincoln.

“Heung?” Chan Ri kembali ke arah Lincoln.

Lincoln mendekat ke arah Chan Ri kemudian mencium bibir Chan Ri pelan, “Chu!” Chan Ri terkekeh, “Goodnight Lincolnie~” Chan Ri kembali pergi meninggalkan Lincoln dan Ibunya.

Chan Ri menghela nafas, asap asap kecil keluar dari mulutnya. Sekarang musim gugur, sebentar lagi musim dingin.  Di musim gugur nyaris musim dingin seperti ini, udara di Seoul cukup mematikan. Angin malam nya sangat dingin, apalagi dalam posisi lapar seperti Chan Ri saat ini.

Mata Chan Ri menyari sekeliling. Mencari sosok itu. Siapa lagi kalau bukan Kim Jong In. Tapi nihil, pria itu sama sekali tidak terlihat di sekelilingnya. Tiba tiba handphone Chan Ri berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Kakao Talk milik Chan Ri.

 

Kakao Talk

KimJongOut

Naik taksi kemudian pergi ke Blue Cafe, aku traktir. Cepat ya Barbie Sayang kekeke~

 

Chan Ri bergidik geli melihat Kakao Talk dari Kai. Pria itu semakin lama semakin terlihat aneh di mata Chan Ri. Chan Ri kembali memasukan Handphonenya ke saku jaketnya. Chan Ri menghampiri Hana yang duduk bersama staf Hello Baby yang lain.

“Manager! Hoy!” Chan Ri menepuk pundak Hana, manager Explosion. Lagi – lagi Chan Ri menunjukan sikap bar barnya. Hana menatap Chan Ri, tatapan penuh isyarat untuk ‘berhenti melakukan itu’. Tapi, itu hanyalah perbuatan sia sia, Chan Ri adalah gadis yang tidak peka sama sekali. Dia tidak peduli orang lain mengetahui sikap aslinya. Chan Ri menarik Hana dari kerumunan itu.

Chan Ri kemudian merangkul Hana, “Manager-nim~” katanya manja. Hana memasang muka sedatar mungkin, ia tau kalau Chan Ri berlaku seperti itu jika menginginkan sesuatu. “Manager-nim~” panggil Chan Ri sekali lagi.

“Kenapa?” tanya Hana akhirnya.

Chan Ri menjawab dengan suara yang amat lembut, “Aku… ingin menemui seseorang. Eum.. hanya sebentar! Aku janji hanya sebentar! Boleh kan? Manager boleh pulang membawa mobilnya, aku bisa naik taxi. Boleh ya? Jebal~”

Hana menggeleng cepat, “Tidak boleh. Kau harus pulang ke dorm.”

Chan Ri memajukan bibir bawahnya, ia menarik narik kaus Hana, “Manager-nim~ Jebal~” rengek Chan Ri.

“Tidak boleh Park Chan Ri. Tidak Boleh. Kita pulang! Now! Atau tidak, aku akan menelfon PD-nim Hello Baby untuk memulai shooting lagi besok, dan kau tidak akan menonton BAP Showcase. Bagaimana?” kata Hana seraya menyeret Chan Ri.

Chan Ri masuk ke dalam mobil seraya menutup pintu mobil dengan cukup keras. Kemudian ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang.

“Yobaseyo,” kata Chan Ri cepat.

Yobaseyo”

“Aku tidak bisa kesana, kau datang saja ke dorm ku, mianhae,” kata Chan Ri.

Kai menghela nafas diseberang telefon, “Kenapa?”

“Ada monster menyebalkan, dia tidak mengizinkan aku pergi,” Chan Ri melirik Hana yang duduk disebelah supir.

Kai tertawa, “Manager mu? Baiklah, tunggu aku di depan apartement mu Barbie Sayang, See ya.”

Telefon terputus. Chan Ri membanting handphonenya ke bangku sebelahnya. Ia melirik Hana terus menerus. “Kau tau Manager-nim, ini kesempatan emas, dia mengajak ku dinner, karna besok ia tidak bisa menemui ku, tapi kau menghancurkannya, kau, menyebalkan.”

Hana pura pura tidak mendengar, ia terus melihat keluar. Tapi kemudian gadis berkacamata itu menjawab, “Peduli apa aku.”

 

Handphone pria itu tidak aktif.  Chan Ri sudah  menghubunginya berkali kali.  Hana, Manager Explosion sudah pergi ke lantai atas dorm Explosion. Hampir setengah jam Chan Ri menunggu Kai di depan gedung. Sebenarnya, Chan Ri sudah menelfon Kiyoo, Jiyoung ataupun Sungrin untuk menemaninya menunggu. Tapi tidak ada yang turun satupun. Lagipula, Chan Ri tidak mungkin menyuruh Leader Explosion yang sedang makan malam dengan ‘kev’ nya pulang hanya untuk menemaninya.

Akhirnya Kai pun datang. Pria itu melepas helm hitam nya kemudian mengacak rambutnya beberapa kali dan tersenyum ke arah Chan Ri. Tangan kanannya dilambaikan ke arah Chan Ri, tangan kirinya menenteng helm miliknya.

“Jadi? Kita naik sekarang?” tanya Kai.

Chan Ri menggeleng, “Kita tidak akan naik. Kita ke dorm ku. Susah mencari inspirasi di dorm, bagaimana?”

Kai terdengar mendengung, berpura pura berfikir kelas, kemudian dia tersenyum tipis, “Baiklah.” Kai merangkul Chan Ri menuju motornya. Kai kembali memasang helmnya, kemudian naik ke motornya. Chan Ri terlihat takjub melihat motor Kai. Ini kali pertamanya Chan Ri melihat Kai dengan motor keren dan membuat dirinya terlihat…. lebih keren.

“Eung, Ducati 1199 Panigale merah?” tebak Chan Ri. Tepat sasaran. Kai sendiri takjub melihat seorang gadis dapat menebak tipe motor. Chan Ri tidak suka dengan mobil, jika berlama lama di dalam mobil ia merasa mual bahkan pusing.

“Kau benar. Cepatlah naik Park Chan Ri, cacing di perutku tidak dapat ku jinakan lagi.”

Tiba tiba Chan Ri mengeluarkan kunci motor dari sakunya. “Aku dengan milikku sendiri, ikuti aku saja dari belakang.” Chan Ri pergi menuju parkiran gedung. Tak lama gadis itu sudah kembali dengan jaket kuning, helm hitam, dan motor BMW S1000RR nya yang berwarna perpaduan antara kuning dan hitam.

Kai melongo. Kai mengira gadis itu akan membawa motor scooter berwarna biru atau kuning, entahlah. Tapi gadis itu membawa motor yang body dan kecepatannya hampir sama dengan motornya. Chan Ri mulai melajukan motornya. Melihat Kai dari kaca Spion yang masih diam, akhirnya Chan Ri membunyikan klakson yang akhirnya menyadarkan Kai dan membuat kai melajukan kendaraannya di belakang Chan Ri.

 

Chan Ri Penthouse

Hannam-Dong, Yongsan-Gu, Seoul

26 Oct 2012, 23:56 PM

 

“Finish!” Chan Ri membersihkan tangannya dengan celemek yang ada di bajunya. Kemudian duduk di depan Kai yang berada di meja makan mini berwarna abu abu. Kai mengerutkan alis melihat makanan yang di masak Chan Ri.

“Masakan Italia? Aku tidak menyukainya. Sewaktu aku kecil, aku pernah pergi ke salah satu Restorant Italia dan rasanya sama sekali tidak enak. Aku lebih baik makan apel saja,” Kai melirik aneh ke arah makanan buatan Chan Ri.

Chan Ri tersenyum tipis. Kemudian ia memotong Italian Veal yang dibuatnya. Italian Veal adalah daging khas dalam atau tenderloin yang dibumbui kemudian di goreng dan diberi saus khas Italia. Chan Ri mengarahkan sepotong Italian Veal yang sudah ditusuk garpu ke arah Kai. Kai membuka mulutnya. Hening. Chan Ri menunggu jawaban atas masakannya.

Kai sendiri rasanya ingin mengunyah Italian Veal yang ada di mulutnya tanpa henti. Daging yang empuk, bumbu yang menyerap, saus yang lezat, semua bercampur di mulutnya. Italian Veal buatan Chan Ri sangat enak menurut Kai, jauh dari kesan buruk yang sebelumnya ia duga. Kai benar benar jatuh hati pada Italian Veal buatan Chan Ri.

“Bagaimana?” Akhirnya Chan Ri memancing Kai.

Kai terlihat menimang nimang jawaban apa yang akan ia berikan. “Rasanya sama seperti Restoran Italia yang aku katakan, hanya saja, ini sedikit lebih baik.”

Chan Ri benar benar terkejut setengah mati. Bagaimana Kai bisa mengatakan kalau rasanya sama dengan makanan yang ia rasakan di Restoran Italia yang ia katakan, dan sedikit lebih baik. Perlu di garis bawahi, sedikit. Hanya sedikit. Padahal Italian Veal ini masakan andalan yang selalu di puji oleh ‘Bi’. Bahkan orang lain termasuk Explosion saja belum pernah mencoba Italian Veal buatan Chan Ri.

Chan Ri mendesah kecewa kemudian berkata, “Kalau begitu habiskan makanan yang sedikit lebih baik itu.”

Pada akhirnya. Lima belas menit kemudian. Italian Veal di piring Kai sudah habis, tapi tidak di piring Chan Ri. Gadis itu hanya memainkan makannya. Ia menjadi tidak lapar karena kata kata Kai yang sangat amat diluar dugaan Chan Ri.

“Kau tidak mau itu? Bagaimana kalau buat ku saja?” Kai menarik piring Chan Ri ke hadapannya, kemudian melahap habis Italian Veal milik Chan Ri.Chan Ri yang bingung akhirnya tersenyum kemudian mendesis pelan, sangat pelan, “Dasar munafik.”

“Selesai Chef, aku ingin hidangan penutup Chef!” ujar Kai dengan nada anak khas anak kecil. Chan Ri tertawa karna guyonan Kai. Kai sendiri yang merasa jijik dengan guyonan nya sendiri pun ikut tertawa.

Chan Ri membuka laci dapurnya, dan mengambil sebungkus kopi A7cord, yang menurut Chan Ri itu adalah kopi terenak kualitas Kenya. “Bagaimana kalau kopi saja? Kopi buatan ku tak kalah dengan americano di Vito Sangju yang pernah kita kunjungi.” Kai tersenyum tipis kemudian berkata, “Baiklah, satu kopi untuk ku harus segera di antar Chef.”

Kai memutuskan untuk menonton tv seraya memainkan gitar Chan Ri yang terletak di sofa abu abu empuk itu. Tak lama Kai mencium aroma kopi yang sangat harum, dan Chan Ri kemudian datang menghampirinya. Chan Ri menaruh dua gelas kopi di meja hitam yang diatas karpet bermotif dalmation yang empuk, Chan Ri pun duduk di karpet itu.

“Thanks Che… bukan. Thanks Coffee Queen,” Kai tersenyum.

“Coffee Queen, kemari.” Kai menepuk nepuk sofa sebelahnya. Chan Ri bangkit dari karpet menuju tempat yang Kai maksud. Kai mengambil remot, kemudian mematikan televisi. Kim Jong In, pria itu mulai memetik senar gitar, dan sedikit menyerongkan badannya agar dapat melihat Chan Ri.

 

I hear your breathe your lying close to me

The shadows gone, i have found my place

You make me calm

With you im save form harm

And right by your side, I’ll stay trought the night ‘til eternity

Thats the way it will be

And i wonder what youre dreaming of

Your so peacefull when your sleep

Everything i want, Eeverything I need, is lying here in front of me

 

Chan Ri benar benar tidak menyangka pria di depannya menanyikan lagu FT Island yang berjudul Always be Mine. Entah kapan, Chan Ri lupa waktu pastinya, Chan Ri pernah mengatakan pada Jiyoung kalau suatu saat ada seorang pangeran yang akan menyanyikan lagu itu dengan memainkan gitar di hadapannya. Dan sekarang, apa yang Kai lakukan saat ini, membuat gadis itu tidak bisa berkata apapun.

 

And if i ever lose my power to fly

The your love takes me high

I’ll always be true to you

Sometimes i think i might lose it all

Guess the chances are small

Cause you hold me close i feel you near

 Dont let go, say you’ll always be here

So just hold me tight and i’ll be fine

Dreaming you will always be mine

 

Hati Chan Ri berdersir hebat saat Kai menanyikan bagian reffnya. Permainan gitarnya mulai meng-klimaks. Begitu pula senyum Kai barusan, senyum manis, yang sangat manis di mata Chan Ri. Jantung Chan Ri berdetak lebih cepat, dan keras. Gadis itu bahkan takut Kai akan mendengar degup jantungnya yang benar benar tidak terkendali sekarang. Muka Chan Ri memerah, gadis itu menunduk dan diam diam menangis. Chan Ri itu ingin merutuk dirinya sendiri mengapa ia harus menangis disaat seperti ini. Tapi gadis yang mempunyai tinggi 162 itu tidak bisa, dirinya seakan dibawa terbang oleh perbuatan Kai.

 

Just like the sun

You make me warm inside

Like a soft summer breeze

A moment to seize

So true, i wont stop loving you

And i wonder what youre dreaming of

Your so peacefull when your sleep

Everything i want, Eeverything I need, is lying here in front of me

Kai berhasil. Kim Jong In berhasil membuat gadis bernama Park Chan Ri menangis terharu. Kai menatap gadis itu yang sekarang hanya menunduk dan sesekali tangannya mencoba mengapus air matanya. Dirinya harus berterimakasih pada Jiyoung. Kemarin, Jiyoung sempat  memberi tahu tentang lagu ini. Kai melirik jam hitam yang ada di tembok. Jam 12 lewat 2 menit. Setidaknya, Kai lah yang pertama kali memberikan hadiah pada Chan Ri.

 

And if i ever lose my power to fly

The your love takes me high

I’ll always be true to you

Sometimes i think i might lose it all

Guess the chances are small

Cause you hold me close i feel you near

 Dont let go, say you’ll always be here

So just hold me tight and i’ll be fine

Dreaming you will always be mine…

Lagu itu selesai dimainkan. Chan Ri sadar dari mimpi indahnya. Betapa malunya sekarang saat ia menyadari bahwa ia menangis. Chan Ri merasa Kai mengamatinya, “Ya! Park Chan Ri. angkat kepala mu? Kau kenapa? Kau tertidur?”

“Lagu yang kumainkan barusan bagus bukan? Aku mempersiapkannya untuk berlomba bersama Hyung-deul. Ini ide gila Chen Hyung, dia menantang EXO untuk menunjukan siapa yang paling hebat, rencananya aku akan menyanyikan lagu ini untuk wanita itu, bagaimana menurut penilaian mu?” lanjut Kai.

Chan Ri terlihat menghapus air matanya cepat cepat kemudian mengangkat kepalanya memandang Kai. Kai berusaha menahan tawanya yang hampir meledak karena kebohongannya barusan. Kai memasang wajah pura pura bingung, “Kau kenapa menangis?” tanya Kai.

Chan Ri rasanya ingin meledak sekarang. Bagaimana bisa dalam satu hari ini dia merasakan dua kali skakmat langsung dari Kim Jong In, pria yang sedang menatapnya bingung. Rasanya sekarang ingin mati saja, kenapa dirinya terlalu percaya diri meyakini bahwa Kai menyanyikan lagu itu untuknya. Chan Ri terdiam.

Tiba tiba bel apartementnya berbunyi, Chan Ri bersyukur dalam hati. Dewi Fortuna menyelamatkannya kali ini. Chan Ri bangun, bergegas membukakan pintu. “Aku tidak menangis, aku hanya mengantuk,” kata Chan Ri seraya berjalan menuju pintu.

Pintu terbuka. Rombongan yang tidak di duga duga berdiri di depan apartementnya. “Happy Birthday Chan Ri, Happy Birthday Chan Ri, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Park Chan Ri,” rombongan itu menyanyi dengan sangat berisik karena ini adalah tengah malam. “Kita bagi suara sekarang,” kata Leader Explosion, wanita yang membawa kue ulang tahun itu. EXO-M plus Sung Rin menyanyikan lagu Happy Birthday versi China. Kiyoo, Jiyoung, Chanyeol dan Sehun menyanyikan lagu Happy Birthday versi Jepang. Dan sisanya, Suho, Baekhyun, DO, Hana, Sophie dan Jang Mi menyanyikan lagu Happy Birthday versi Korea.

“Oh Guys! Cant believe it,” umpat Chan Ri. Chan Ri membuka pintu semakin lebar. “Ayo cepat masuk, sebelum tetangga ku bangun dan memarahi kalian,” lanjut Chan Ri. Chan Ri menutup pintu. Kemudian melihat ke arah Kai yang sudah bergabung dengan yang lainnya.

“Jika tetangga mu tampan, tak apa,” elak Sung Rin seraya terkekeh. Satu persatu mereka masuk. Chan Ri kemudian menutup pintu seraya berkata, “Tentu saja, 2 kamar di sebelah ku adalah dorm member BAP.”

“Jinjja?! Kenapa tidak memberi tahuku?!” Kiyoo berpura pura mencekik Chan Ri. Yang lain hanya menatap kelakuan Magnae asli dan Magnae tidak asli.

 

Hello Baby Shooting Location

Gangnam-Gu, Seoul, South Korean

07:12 AM KST

 

~2AM – L.O.V.E~

How much time needs to pass before i can be next to you?

How many clouds must past before i can be next to you?

Azure azure like brocoli

Azure azure like you

Would i be able to return to you?

Could i be next to you?

Or couldn’t i send you my song

My words of love to you?

I love you, I love you, i love you, you

 

Camera Rolling and…Action.

 

Kim Jong In membuka pintu kamar Lincoln perlahan. Kamar bernuansa biru-putih itu menyambutnya dengan wewangian khas anak kecil “Appa!” seru Lincoln dari atas kasur. Selimut biru nya masih membungkusnya. Anak kecil itu mengucek matanya sesekali seraya menguap lebar.

Kai menghampiri Linclon kemudian berbaring di sebelahnya, “Good Boy! Jagoan Kai Appa sudah bangun.” Kai menepuk nepuk pelan kepala Lincoln.  Kai memegang perutnya sendiri kemudian mengusap ngusapnya perlahan, “Lincoln-ah, appa lapar. Lincoln bagaimana?”

Lincol mengikuti gaya mengusap perut Kai seraya terkikik pelan, “Lincoln juga lapal, Appa.”

“Kalau begitu ayo kita serbu Eomma Chan Ri yang sedang memasak! Kajja Lincoln-ah~ Ireonayo!” Kai menggendong Lincoln kemudian berlari menuju dapur. Lincoln tertawa senang seraya berkata, “Kajja Kai Appa, Kajja!”

Kai mendudukan Lincoln di kursi anak kecil di sebelahnya. Kai mengambilkan sumpit untuk lincoln dan untuk dirinya sendiri. Chan Ri masih sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan kedua orang yang sudah siap di meja makan itu.

“Lincoln-ah, lakukan seperti appa,” ujar Kai. Pria itu menaruh satu sumpit di tangan kirinya dan satu sumpit di tangan kanannya. Kemudian dengan kedua tangannya itu, Kai memukul mukul pelan meja sehingga timbul bunyi gaduh. “Paegopa! Paegopa! Paegopa!” ujar Kai seiringan dengan ketukannya. Lincoln yang tertarik melihat kelakuan Kai pun ikut melakukannya.

“Chan Li Eomma Paegopa! Paegopa! Paegopa!” Linclon berteriak girang.

Chan Ri menghidangkan 3 nasi dan beef teriyaki buatannya. Chan Ri mengambil posisi duduk di hadapan Kai. Tangan Chan Ri mengelus kepala Lincoln, “Arraseo arraseo Lincolnie sayang. Neo paegopa? Neo mogmallayo?” (Kau lapar? Kau Haus?)

Lincloln mengangguk semangat. Chan Ri mengambil kan beberapa daging beef teriyaki ke mangkuk nasi milik Lincloln. “Manhi moggo Lincolnie,” kata Chan Ri saat menyerahkan mangkuk nasi itu kembali kepada Lincoln.

 

Baby Salon, Seoul

10:43 AM KST

 

“Shilleo! Eomma Shilleo!” Lincoln menangis kejar digendongan Chan Ri.  Sudah hampir satu jam mereka ada di salah satu salon untuk anak anak yang terkenal di Seoul. Dalam hati, Chan Ri merutuk dirinya sendiri. Semakin lama mereka berada di salon, semakin lama dirinya akan pergi ke Hwajeong.

Chan Ri memindahkan Lincoln ke Kai. Kemudian gadis itu memegang kedua bahu Lincoln, “Lincoln-ah, potong rambut mu!” Chan Ri berusaha mengontrol nada bicaranya agar tidak terlihat kesal. Tiba tiba Lincoln mendorong Chan Ri. Seraya menangis, anak itu berteriak, “Lincoln benci Chan Li eomma!”

Chan Ri terdiam sesaat, begitupula Kai. Chan Ri kemudian mengambil mantelnya dan berjalan keluar. “Terserah.”

***

 

Korea University Gymnasium Hwajeong, Seoul

27 October 2012, 08:57 PM KST

 

“Ada seseorang yang sedang merayakan ulang tahun mereka pada hari ini?

Sekitar 4000 Fans BAP yang hadir dalam Baby Day berteriak heboh seketika. Chan Ri terkejut. Hari ini hari ulang tahun nya. Walaupun Apartement Chan Ri bertetanggan dengan Apartement BAP, tapi Chan Ri sama sekali tidak pernah berjumpa dengan BAP. Chan Ri keluar dari barisan penonton. Chan Ri kemudian menunjukan kartu identitasnya pada salah satu staf, setelah perbincangan cukup singkat dengan staf, Chan Ri berlari menuju panggung BAP.

Tapi tiba tiba satu staf dekat panggung mencegahnya naik karena dua orang wanita, fans beruntung BAP telah naik ke atas panggung lebih cepat dibanding Chan Ri. Chan Ri sudah berupaya menegosiasikan kepada staf tersebut tapi sayang, staf hanya memperbolehkan dua orang saja, tidak bisa lebih.

“Ini adalah untuk semuanya, jadi tolong jangan terlalu cemburu, dan aku berharap semua orang akan bergabung dengan kami dalam memberikan ucapan selamat kepada mereka,” ujar Daehyun.

Chan Ri kembali ke barisan penonton dengan perasaan kecewa. Tiba tiba handphone nya bergetar di saku celana. Chan Ri membuka satu pesan singkat dari staf Hello Baby yang berisi, ‘Kita akan mengadakan shoot dadakan, setelah showcase itu selesai, tunggu disana Chan Ri-ssi, Kamsahamnida’. Chan Ri memasukan Handphone nya dan melanjutkan menikmati penampilan BAP.

Setelah Baby, sebutan untuk fans BAP menikmati 15 lagu persembahan dari BAP. Showcase itu resmi selesai. Berbondong bondong orang berebutan pintu keluar. Chan Ri yang tidak sedang tergesa gesa mumutuskan untuk keluar nanti.

Setelah menunggu sekitar satu jam an, pintu keluar mulai sepi. Chan Ri memutuskan untuk keluar area konser dan mencari mesin minuman. Dilihatnya dipojok ruangan mesin minuman berwarna biru. Chan Ri berlari menuju mesin minuman itu, memasukan selembar uang kertas dan menekan beberapa tombol, namun tak ada satu pun kaleng soda yang turun.

Chan Ri yang geram sekaligus lelah, ditambah tingkahnya yang memang bar- bar akhirnya menendang mesin minuman tersebut, “Ya! Monster! Aku haus!”

Tiba – tiba seseorang terkekeh dari belakang Chan Ri, kemudian menyelak Chan Ri dan menekan satu tombol. Pria itu kemudian menyerahkan satu kaleng minuman soda ke Chan Ri, “Yang monster mesin ini atau kau?” Pria tinggi berambut pirang itu tertawa.

“Z..zelo-ssi?” kata Chan Ri takjub menyadari dihadapannya adalah idolanya.

“Ah Kau? Kau yang hari ini berulang tahun? Maafkan kami sebelumnya, kami tidak tau kalau banyak fans yang berulang tahun hari ini,” Zelo membungkuk beberapa kali.

Chan Ri tertawa, “Tak apa Zelo-ssi, aku memaklumi. BAP adalah grup hebat yang mempunyai banyak fans.”

Zelo tertawa ramah, “Kamsahamnida. A? Sepertinya aku pernah melihat mu sebelumnya, tapi dimana.”

Kini Chan Ri yang membungkuk, “Annyeonghaseyo, Chan Ri Explosion Imnida, bangapseumnida. Lagipula kita satu gedung apartement Zelo-ssi.”

Zelo terlihat takjub, “A~ arra. ExploCR right? Bangapseumnida. Jinjjae? Kalau begitu temui aku nanti malam di restaurant. Boleh aku minta ID line atau kakao mu?” Zelo menyerahkan ponselnya. Chan Ri menulis IDnya kemudian kembali menyerahkan handphone itu kepada Zelo.

“Eomma!” teriak seseorang, suara yang sangat tidak asing bagi Chan Ri. Chan Ri menoleh. Dilihatnya dari jauh Lincoln yang sedang digendong Kai berjalan ke arahnya. Chan Ri tersenyum menatap Lincoln. Tapi Chan Ri menatap cemas ke arah Kai. Pria itu terlihat marah. Chan Ri benar benar tidak tau apa yang membuat Kai memasang ekspresi wajah seperti itu. Apakah pria itu cemburu melihat dirinya bersama Zelo? Entahlah itu terlihat mustahil, diantara mereka tidak apa apa. Tapi sejujurnya, Chan Ri berharap, hal itu terjadi.

 

TBC

 

This original fanfiction already posted at my blog viviviviski.wordpress.com and this blog exoismine.wordpress.com  Thanks for read my fanfict and comment juseyo ^^ kamsahamnida

 

5 pemikiran pada “Hello Baby (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s