In My Silence Lives

Title: In My Silence Lives

Author: CrazyKidChaa (jaeminkisungonhyuk)

Cast: Park Jung Yoon (OC)

Suho (EXO-K)

Genre: Friendship

Length: Oneshoot

 

Annyeong readers!!! \(>o<)/

Author muncul dengan nama baru dan FF baru ^^ masih ingat author? Author yang bikin FF ‘Romantic Boy??’. Ga ada yang ingat ya ._.

Author kaget setengah mati pas tau itu FF abal banyak komentar positifnya, thanks readers EXO FF, adminnya juga, big THANKS T_T

Author makin kaget pas ada yang minta sequel. Author masih bingung mikirin sequelnya ._.v

Author lagi nunggu pengumuman kelulusan SMP nih, do’ain author lulus yaa (>/\<) dan sekarang author hadir lagi dengan FF abal yang ga kalah abalnya. Sebenernya ini FF author bikin pas author lagi bosan di rumah, iseng-iseng gitu aja. Libur berminggu-minggu bener-bener bikin author mau balik sekolah lagi ._.

Jadi maaf ya kalo gaje. Kalo readers merasa pernah baca FF yang ceritanya mirip ini, itu cuma kebetulan. Ini muuurni dari otak author.

Langsung aja dah, happy reading… ^^

 

***

This is my silence lives…

‘Si bisu’, begitulah orang-orang menjuluki. Awalnya aku merasa julukan itu sejenis ejekan, tapi sekarang aku merasa istimewa dengan julukan itu. Karena di lingkungan hidupku, hanya aku yang seperti ini. Karena itu, jangan heran kalau kau berdiri di dekatku kau akan merasakan aura kesunyian.

Umurku 17 tahun, ibuku adalah seorang yang sangat ingin anaknya mendapatkan kehidupan yang baik. Ibu menyekolahkanku di sekolah biasa, bukan di sekolah luar biasa tempat dimana orang-orang sepertiku seharusnya bersekolah.

Kalau ingin berbicara denganku, bicaralah dengan bahasamu. Boleh bahasa isyarat ataupun mengucapkan kata-katamu secara langsung, karena dari kecil aku sudah diajarkan bahasa isyarat dan bahasa orang-orang normal sebagai pegangan hidupku.

Dan… Hey, aku tidak tuli. Aku hanya bisu, bukan tunarungu seperti sahabat karibku, Hyeo Min. Aku mengangkatnya sebagai sahabatku sejak di taman kanak-kanak. Meskipun di sekolah dasar sampai sekarang kami berbeda sekolah, aku masih menjadikannya teman, satu-satunya temanku. Dia sekolah di sekolah luar biasa, sementara ibuku lebih memilih menyekolahkanku di sebuah SMA biasa yang pendidikannya patut diacungi jempol di Seoul. Aku terkadang sedikit kewalahan mengejar ketertinggalanku di kelas.

Orang-orang disekelilingku adalah orang-orang normal, bukan sepertiku. Tak jarang aku jadi bahan ejekan  teman-temanku di sekolah.

Kecuali… Seseorang.

Orang yang tengah berdiri menghadapku sambil menggaruk tengkuknya. Aku bersumpah, hanya lelaki ini yang tak pernah mengejekku. Entah apa yang ia mau dariku, aku selalu memergokinya tengah mengikutiku kemana pun aku pergi disekolah ataupun pulang sekolah.
Aku tahu namanya. Dia selalu menjadi juara umum di sekolah. Wajahnya yang juga lembut dan tampan selalu jadi pujian banyak orang. Tapi, dia punya 1 kekurangan. Dia sama sekali tidak memiliki teman. Apa mungkin dia merasa punya nasib yang sama denganku, karena itu dia selalu mengikutiku?

” Ngg… ” Gumamnya. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang, yang jelas dia terlihat gugup. Aku sedikit mengeluarkan dengungan. Walau tak bisa berbicara, aku bisa berdengung. Satu-satunya suara yang bisa keluar dari kotak suaraku.

” Apa hari ini kau sibuk? ” tanyanya membuatku terkejut. Baru kali ini aku ditanya begitu oleh seorang yang normal seperti Suho, namanya. Dia nyaris sempurna dimataku, maupun dimata orang-orang lainnya.

Aku menggeleng pelan. ” Kalau begitu, apa aku boleh mengajakmu jalan-jalan? ” tanyanya yang berhasil membuat mataku melotot.

” Ada apa? ” tanyanya kembali. Aku mencoba menormalkan wajahku kembali, dan mengangguk. Seketika wajahnya berubah senang. Aku memberikan senyumanku padanya.

” Aku akan menunggumu di gerbang sekolah, nanti. ” Ujarnya, ia melambai padaku dan berlalu pergi setelah sebelumnya tersenyum dengan manisnya padaku.

Aku tak habis pikir dengannya. Ternyata masih ada orang normal yang mau berteman denganku, apa lagi mengajakku jalan-jalan selain keluargaku. Aku tersenyum takjub, baru kali ini aku merasa sesenang ini.

***

Aku berjalan seperti biasa, menunduk. Aku tidak ingin melihat mata orang-orang yang selalu menatapku dengan kejam. Yahh, meskipun aku sudah terbiasa dengan pandangan itu.

” Jung Yoon! ” namaku di panggil. Aku mengangkat kepalaku, dan menemukan Suho melambai ke arahku di gerbang sana.

Aku menghampirinya. ” Ayo, ” ajaknya. Aku menyamai langkahku dengannya.

” Strawberry, perpaduan rasa asam dan manis yang selalu membuat orang-orang tersenyum. Aku suka. ” Imbuhnya. Aku tahu itu, dia membicarakan parfum aroma strawberry-ku. Aku tidak terlalu suka memakai parfum, tapi ibu selalu menyemprotkannya di seragamku sebelum berangkat sekolah. Alasannya, agar aku terasa manis meskipun selalu diam.

” Kau suka es krim? ” tanyanya kembali sembari menoleh ke arahku. Aku mengangguk dan betapa terkejutnya aku ketika Suho menarik tanganku ke sebuah cafe yang menyediakan es krim sebagai hidangan utamanya.

Tangannya memegang bahuku, membimbingku untuk duduk di kursi kuning cafe tersebut, sementara dia menuju ke meja bar untuk memesan.

” Aku bisa tebak, coklat adalah favoritmu. ” Ujarnya dan duduk dihadapanku. Anggukan dan senyuman kuberikan sebagai jawaban meskipun aku sedikit terkejut dengan tebakannya yang tepat. Suho, selalu mengejutkan.

” Aku ingin berteman denganmu, kau terima? ” tembaknya sekali lagi membuatku terkejut. Aku hanya diam tanpa anggukan, gelengan, apa lagi kata ‘ya’ ataupun ‘tidak’.

” Aku tahu, kau merasa risih karena aku selalu mengikutimu.” Aku menggeleng pelan.

” Kumohon, jangan berpikiran buruk. Aku hanya ingin berteman denganmu. ” Aku mengangguk. Kemampuanku, hanya mengangguk dan menggeleng, terkadang leherku sakit dibuatnya, tapi mau bagaimana lagi kan? Aku tak bisa menentang takdir Tuhan.

” Mungkin banyak yang bingung kenapa aku tak punya teman. Kau juga kan? ” tanyanya padaku yang langsung kusambut dengan anggukan cepat karena itu memang benar. Seorang pelayan mendekati kami dan memberikan semangkuk es krim coklat untukku dan es krim vanilla untuk Suho.

Kulihat, Suho tidak melanjutkan kata-katanya membuatku semakin penasaran alasan apa yang membuatnya tak punya teman seperti ini. Ia sibuk melahap es krimnya. Aku pun melakukan hal yang sama, melahap es krim yang terlihat menggiurkan di hadapanku.

5 menit, dentingan sendok terdengar. Aku melihat mangkuk es krim suho bersih dan licin. Lagi-lagi aku terkejut. Suho melap mulutnya dengan punggung tangannya. Sementara es krimku masih tinggal separuh.

” Lanjutkan makanmu, aku bayar dulu, ” aku kembali mengangguk. Suho mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, dan beranjak ke meja kasir. Saat itulah aku melihat sesuatu terjatuh dari dompetnya.

Aku menunduk untuk melihat sesuatu yang terjatuh itu. Sebuah foto. Aku mengambilnya dan mengamati foto itu dengan seksama.

” Kau ingat anak itu? ” suara Suho mengejutkanku lagi. Otakku mulai bekerja.

Kim Jun Myun

***

Mataku membesar mendengar pengakuannya. Aku tahu, wajahku menampakkan ketidak percayaan, dan Suho hanya tersenyum tipis melihat reaksiku.

” Kim Jun Myun, si buta. Aku rindu julukan itu, ” ucapnya sembari menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang kian cerah memperindah suasana di taman ini. Aku masih saja menatap tak percaya padanya.

” Aku kehilangan julukan itu saat lulus SMP, dan aku senang akan itu. Aku bisa melihat wajah teman-temanku. Termasuk wajahmu, ” ujarnya yang kembali membuatku terkaget-kaget.

” Aku pertama kali mendengar namamu di taman kanak-kanak. Jongdae selalu menyebutkan namamu dan mengatakan bahwa seorang Park Jung Yoon adalah seorang anak perempuan tercantik di kelas. Aku jadi penasaran seberapa cantik Park Jung Yoon itu. Tapi sayang, pandanganku terlalu gelap sehingga aku tak bisa menangkap wajahmu di mataku. Aku juga tak bisa mendengar suaramu… ” Aku terdiam memandanginya. Pandangannya menerawang entah kemana. Aku tersenyum tipis. Jongdae, anak itu. Dia selalu mengganggu Hyeo Min dulu. Dia adalah seorang anak yang kakinya mengalami kelumpuhan sejak lahir.

” Aku tak bisa menyembunyikan kegembiraanku ketika ayahku mengatakan aku mendapat donor mata. Aku ingat, waktu itu aku kelas 1 SMP di sekolah luar biasa. Aku benar-benar tak sabar mendapatkan mata itu agar bisa melihat wajahmu. Tapi, mungkin memang nasibku. Di hari mataku di operasi, orang yang ingin mendonorkan matanya mengalami kecelakaan yang mengenaskan. Matanya terkena pecahan kaca dan itu membuat matanya rusak. Susah untuk menggambarkan betapa kecewanya aku waktu itu…

Lulus SMP, aku dapat merasakan apa yang sesungguhnya dikatakan ‘melihat’. Sungguh menyenangkan begitu melihat wajah teman-temanku, tapi tak ada wajahmu di antara mereka. Begitu masuk SMA, aku terkejut ketika mendengar namamu disebut dengan embel-embel ‘si bisu’. Karena itu aku mengikutimu untuk memastikan apa benar Park Jung Yoon yang kutemui di SMA adalah Park Jung Yoon teman sekelasku di taman kanak-kanak. Maaf jika kau merasa terganggu. ” Tanpa sadar aku mengusap pipiku yang terasa basah.

” Kau menangis? ” tanya Suho terdengar kaget. Aku hanya diam dan menunduk. Nada bicaranya masih sama, seperti dulu…

” Uljimayo. Aku benar-benar senang sekarang. Bisa melihat wajahmu yang ternyata secantik bidadari. Aah, jangan anggap aku menggodamu. Aku tak pernah berbohong dalam hal mengomenta- ”

Grep

Aku memeluknya. Benar, aku memeluknya. Menangis di bahunya. Membiarkan air mataku membasahi seragamnya. Aku tak peduli. Aku merindukannya, dan dia… Ceritanya meluluhkan hatiku. Aku tak pernah tahu seorang Kim Jun Myun ternyata mengetahui keberadaanku di taman kanak-kanak luar biasa itu.

Jun Myun-ah andaikan aku bisa berbicara. Aku akan mengatakan semua yang kurasakan padamu

Suho kembali tersenyum padaku setelah aku melepas pelukanku. ” Tentang kenapa aku tak punya teman, 10 tahun berbaur dengan anak-anak di sekolah luar biasa membuatku susah beradaptasi dengan orang-orang disekolah biasa. ” Ujarnya sambil masih saja tetap tersenyum.

” Jadi, apa aku boleh menjadi temanmu? ” tanyanya kembali dengan lembut. Aku mengangguk cepat, dan merasakan jarinya menyeka air mataku. Senyuman kembali terlukis diwajahnya.

Aku, Park Jung Yoon. Si bisu yang hanya bisa menggerakkan kepala, kaki, tangan, bernafas, dan merasa…

 

Flashback

Sebuah tepukan pelan di bahu membuat gadis kecil itu menoleh dan mendapati temannya tengah berdiri sambil menggenggam setangkai lollipop, dan menyerahkan lollipop itu padanya.

Temannya itu membuat gerakan pada tangannya membentuk sebuah kalimat. ‘Jung Yoon, berhentilah menangis, aku hanya pergi 2 hari.’

Jung Yoon, gadis kecil yang tengah menggenggam lollipop dari temannya itu mengangguk lemah. Tangannya bergerak, mengisyaratkan sebuah kalimat pada temannya. ‘Hati-hati di jalan, Hyeo Min,’

Hyeo Min mengangguk, dan berlari keluar pagar sekolah menghampiri sang ibu. Jung Yoon melambai lemah pada Hyeo Min yang kini sudah berada di dalam mobil sambil membalas lambaian Jung Yoon.

Jung Yoon tak kuasa menahan tangisnya. Ia membalikkan badan berniat menghampiri gurunya di dalam sekolah. Namun,

Bruaghh

Jung Yoon dapat merasakan bahunya sedikit nyeri karena bertabrakan dengan seorang anak laki-laki yang kini mengelus bahunya sendiri.

Tiba-tiba Jung Yoon merasakan wajahnya di raba oleh anak itu. Jung Yoon hanya diam dan memandang heran.

” Kau menangis? ” tanya anak itu terdengar kaget. Jung Yoon menunduk.

” Uljimayo. Aku benar-benar tak sengaja menabrakmu. Ahh, hapus air matamu, ” anak itu menyodorkan sapu tangannya pada Jung Yoon.

Merasa Jung Yoon tak kunjung menyambut sapu tangannya, anak itu mengacungkan tangannya sedikit ke atas dan tangan mungil itu tepat jatuh di bahu Jung Yoon, dia meraba terus ke bawah dan berhasil mendapatkan telapak tangan Jung Yoon. Anak itu meletakkan sapu tangannya diatas telapak tangan Jung Yoon yang juga mungil.

” Sayang, ” merasa bahunya di tepuk pelan, Jung Yoon menoleh ke belakang dan menemukan ibunya yang berdiri tepat di belakangnya.

” Ayo pulang, ” ajak ibunya. Jung Yoon gelagapan. Ia menunduk berterima kasih pada anak lelaki tadi.

Kim Jun Myun. Coklat, permen, pensil, jepit rambut, dan sekarang sapu tangan. Apa kau tahu semua itu kau berikan pada siapa? Aku ingin berteman denganmu…

Jung Yoon menggumam dalam hati kemudian mengikuti langkah ibunya keluar dari pekarangan sekolah.

THE END

Eheheheh ._.

Ini author terinspirasi dari seorang anak bisu yang sering datang dan main ke warnet abangnya author. Dia cowok, dia ga sekolah, dia tinggal di panti asuhan. Asli author kasihan kalo liat dia T_T

Sekian aja dehh FF gaje author

Wassalam… (^/\^)

Iklan

11 pemikiran pada “In My Silence Lives

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s