Ridiculous Love (Chapter 1)

Judul : Ridiculous Love 1

Nama Author : Ailes Lee

Genre : Random, Comedy, Romance (maybe)

Length : Multichapter

Maincast : Chanyeol; Baekhyun; Kyungsoo; Kyuna (OC); Euncha (OC)

PS : Typo everywhere… mohon di maklum. saya membuat ff ini di sela-sela waktu luang di masa trainee saya sebagai artis (cih hahah) seklian mohon doanya juga yaaa. Enjoy the story. tulisan saya masih jelek, tolong koreksinya ya… komen or mensyen langsung aja ke @thatXXXs ^^ gomawo 🙂

Ridiculous Love

 ____________________

-Lee Kyuna

“tidak mungkin seorang laki-laki dan seorang perempuan bisa ‘hanya’ bersahabat. Pasti salah satu di antara mereka menahan—menyembunyikan—sesuatu demi mempertahankan persahabatannya.”

Kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut pedas Euncha cukup mampu membuatku mematung sejenak. Entah kenapa rasanya, kata-kata itu mengandung sesuatu yang mampu membuat jantungku menjadi berirama hardcore saat ini. “tapi, buktinya aku dan Chanyeol?”

Euncha tersenyum mengejek. “mungkin bagimu memang tidak, tapi bagi Chanyeol? Who knows.”

Aku menggerutu pelan. Apa maksud dari perkataan ‘tapi bagi Chanyeol? Who knows’ apa Euncha mengetahui sesuatu? “Chanyeol menyukaiku?” tebakku sinis.

Euncha mengangkat kedua bahunya playful. “i dunno.” (dunno=don’t know)

let’s change our topic then. Jangan membuatku bergidik ngeri. Jadi sampai kapan bakalan seperti ini terus dengan Joonmyun?” aku yakin, aku berhasil memfreezing moodnya sekaligus.

“Joonmyun? Suho. Aku tidak yakin, wajah Yesung masih terngiang di setiap mimpi malamku.” Balasnya puitis dengan ekspresi dingin. “… tapi tampaknya Yesung sedang mengincar seorang wanita. Yeah, imma good stalker tho~”

“jadi kesannya emang bener ya. Girls and boys can’t-only-become-a-bestriend haha” aku menelan ludahku sekaligus. Turut prihatin atas kalimat terakhir Euncha.

“yaaaa, makannya aku bilang “tidak mungkin kalo seorang laki-laki dan seorang perempuan bisa ‘hanya’ bersahabat” juga, kepengalaman sendiri bro.” Euncha memutar-putar gelas kosong di hadapannya, terkesan frustasi berat. “if only i had much-much choices to choose, mungkin aku bakal milih untuk tidak pernah menjadikan Yesung seorang sahabat sekaligus figur kakak dalam kehidupanku.” Kembali puitis.

Aku tersenyum geli. “you guys look good together, i’ve told ya before, huh?

Euncha hanya meringis pelan membalas kata-kataku.

“Ye pernah cerita ke aku. Suho curhat sama dia kalo Suho ngeceng kamu as you know before, aku rasa cinta kamu tidak bertepuk sebelah tangan—”

“ya, memang. Tidak bertepuk sebelah tangan, tapi tidak bertepuk sama sekali.” Potongnya kecut.

i’m not done my words yet. Don’t cut me.” Aku mengerang pelan, Euncha terkekeh miris.

neeeext?

“Yesung mengalah pada Suho. Kayaknya sih faktor umur. Suho baru 20 an, cuma beda setahun kan? Sedangkan yesung… dia 20—sekian… you understandlah ya.”

you know, ages is just a NUMBER so what the hell bawa-bawa umur sebagai alasan.”

Giliranku mengangkat kedua bahuku playful. “ya, aku tebak aja lho.”

Euncha kembali meringis.

“aku pulang deh ya. Sunkyu hari ini pulang malem.” aku menyikut lengan Euncha pelan.

“oke. Bye.” Euncha menjawab pasrah.

 

 

Aku membuka pintu rumah histeris. Kosong. Rumah kosong.

Ternyata kekuatan dari kata-kata keramat Euncha tentang persahabatan itu mampu membuat otakku semakin keriting, semakin rumit dan semakin 517megabyte.

“Sunkyu?” teriakku lesu. “SUUUUN???”

Tidak ada jawaban.

Aku menepuk jidatku keras. Rumah kosong, aku tahu rumah kosong. Tapi kenapa aku tetap memanggil Sunkyu?

Aku berlari kecil menuju kamar untuk sesegera mungkin merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan menggulungnya dengan selimut.

Chanyeol… Chanyeol… Chanyeol… secara tiba-tiba dan tidak di inginkan nama itu terus memutari kepalaku membuatku pusing. “HOAAAAAAAA!!!!” teriakku lepas.

“Kyuna?” DEG~

Apa ini?! Dan sekarang aku mendengar suara Chanyeol memanggilku. “AAAIIISSSHHH~” teriakku lagi.

CKRK~ “Kyuna? Kamu kenapa?” Chanyeol menyempulkan kepalanya dari balik pintu kamarku.

“WHOA~ kapan kamu datang?” ujarku terkejut.

Chanyeol tertawa kecil seraya berjalan mendekatiku yang sedang a mess di atas tempat tidur. “aku melihatmu pulang barusan, aku membuntutimu, ternyata pintu depan tidak kamu kunci. Aku duduk di teras depan hampir sejam menunggumu pulang, baboya.” (baboya=bodoh)

Aku mengerutkan keningku. Berarti dia melihat aku jalan terseok-seok berusaha menggapai gagang pintu rumah dengan muka kusut? Berarti dia mendengar aku teriak-teriak tidak jelas? Beruntunglah aku tidak meneriakan namanya lancang. “jinjja?” (jinjja=benarkah/sungguh?)

Chanyeol mengangguk cepat. “tiba-tiba aku merindukanmuuuuu~” ucapnya aegyo (menggemaskan) seraya menggelayut pelan di sampingku yang kini sudah terduduk manis masih di atas tempat tidur.

Perasaan aneh muncul. Aku tiba-tiba merasa ‘menyukainya’ lebih dari sekedar sahabat. Kenapa ini? Ada apa ini?

ya, ada apa denganmu? Daritadi mukamu seperti habis melihat setan. Dan teriakan-teriakan barusan… sebenarnya ada apa denganmu?” ekspresi Chanyeol berubah 360 derajat.

Aku menggeleng cepat. “aku tidak apa-apa. Hanya sedikit terkejut dengan kenyataan.”

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. “terkejut dengan kenyataan? Kenapa? Apa kamu bertemu om-om sangat tampan di perjalanan pulang dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa om-om tidak bisa di samakan dengan oppa-oppa?” (oppa=kakak, perempuan ke laki-laki)

Aku menatap Chanyeol sinis. “apa aku pernah mengatakan yang seperti itu sebelumnya?”

Chanyeol mengangguk yakin. “hampir sering malahan.”

Aku menepuk jidatku. “kenapa seleraku om-om?!” aku berpura-pura sedih. Chanyeol tidak boleh tahu bahwa keadaan a mess ini di sebabkan oleh namanya yang mengelilingi otakku dan kutipan kata-kata sakti Euncha yang merusakkan hari indahku. Tentu saja. Dia tidak boleh tahu.

“hahahahaha~ konyol. Hidupmu memang konyol, Kyun.” Chanyeol tertawa lepas dan lagi-lagi jantungku tidak santai menghadapi kenyataan bahwa Chanyeol terlihat sangat bright dan eksotis ketika tertawa. Fxck…fxck… perasaan ini membunuhku!!!!

Aku mendesah panjang. Mungkin ekspresiku saat ini tampak lesu dan tidak layak lihat. Aku tidak perduli. Yang aku perdulikan saat ini adalah… ada apa dengan diriku?!.

“oke… oke. Jangan sampai om-om itu membuatmu bunuh diri. Sekarang untuk memboost moodmu aku teraktir Bubble Tea?” Chanyeol menarik lenganku kasar untuk segera bangkit dari tempat tidur.

Aku menatapnya lemas. “ajak Sehun yuk? Atau Kyungsoo. Kayaknya aku kangen mereka.” Ucapku asal.

“gimana kalo kita minum Bubble Tea-nya di dorm? Para member sedang tidak ada jadwal. Dan aku punya kaset game baru.”

Terimakasih Chanyeol menyertakan kata ‘kaset game baru’ setidaknya bermain game mungkin bisa kembali menjernihkan nyawaku yang kini tinggal 5,5megabyte.

“tapi nanti rumah kosong apa tidak apa-apa? Sunkyu pulang jam berapa?” Chanyeol menghentikan langkahnya sedikit mengejutkanku yang berhenti mendadak sampai sukseu menubruk badan tiang listriknya.

“em?” aku menoleh lesu padanya. “biar deh. Sun pegang kunci ganda ko.” Lagian aku buru-buru pulang tadi bukan karena rumah kosong, tapi gara-gara nama Chanyeol merajalela di setiap inci lekuk otak keritingku.

“oke. Kaja!”

 

Sepanjang jalan menuju dorm Exo yang memang lumayan jauh dari rumahku, Chanyeol terus menggerakan mulutnya mengeluarkan cerita-cerita panjang yang mungkin kalau di ketik bisa menyaingi skripsi tebalnya. Ia menceritakan kekesalannya pada Byun (Baekhyun) setiap kali dengkuran merdunya muncul dan mengganggu mimpi indahnya, kekhawatirannya pada Kai yang tampak punya tombol activated fever di punggungnya yang membuatnya bisa tiba-tiba demam dan tiba-tiba pulih lagi, kecapekannya akan bullying yang di alaminya hampir setiap hari. Poor Chanyeol. Ya memang nasibnya sebagai tetua ke 3 di Exo K itu miris.

“sampai.” Ujarnya excited di sela-sela cerita panjangnya.

Chanyeol mendropku di depan Apartemen lalu menyuruhku untuk duluan masuk ke dorm sedangkan dirinya akan membeli beberapa karung makanan ringan untuk menemani aktifitas kami—dan para member lain—sore ini.

“oke~” aku melambaikan tanganku pada Chanyeol.

 

TIIT~ aku menekan bell pintu dorm lesu.

nuguseo?” (siapa) suara nyaring melengking dan setengah tertawa yang tidak aku harapkan itu menyambutku melalui interkom.

“Chanyeol.” Jawabku tenang. Ya suara kami memang mirip hanya mungkin suara Chanyeol lebih rendah, lebih alto seperti T.O.P BigBang. Sedangkan aku? Suaraku alto, bagi seorang perempuan suaraku lebih seperti suara laki-laki pada umumnya.

“AH~~” Ternyata suara itu adalah suara magnae Sehun yang juga membukakan pintu untukku. “AAAAH~ Kyu! Masuk-masuk. Apa kamu membawa bubble tea untukku?”

Aku mengangkat sebelah alisku. “aku sudah di pecat oleh majikanku karena terlalu sering menggelapkan bubble tea untukmu, Kyung dan Byun.” Jawabku datar.

wassaaaap!!! Kyuna~” tak di sangka, Luhan menyapaku berlebihan begitu aku menginjakan kakiku di ruang tengah. Rupanya M sedang berkunjung sekaligus menghancurkan dorm K.

heyyo! Whatcha doing?” aku balas menyapa Han, tidak terlalu datar.

doing good. Sendirian kesini? Chanyeol belum pulang lho, dia katanya mau ke rumah kamu.”

Aku mendaratkan pantat indahku di lahunan Kai yang sedang serius memainkan handphonenya.

“biarin aja. Nanti juga pulang kok.” Responku datar pada Luhan.

Kai tidak berkutik. Bagus. Setidaknya aku tidak usah berpindah ke lahunan Byun yang pasti akan ribut karena keberatan. Suruh siapa semua duduk di sofa. Suruh siapa sofa penuh.

Aku dan para memeber Exo ini terbilang dekat sudah semenjak mereka masih prepare mini album bertajuk MAMA ini.

Ya, tentu saja aku bisa dekat dengan semua karena aku sangat dekat dengan Chanyeol si tiang listrik, tapi jika ada member M disini Kris-lah yang tiang listrik, Chanyeol dudukannya sedangkan Byun baudnya yang paling kecil dan terlihat samar-samar. Hehe.

Tak berapa lama Chanyeol datang dengan 13 cup bubble tea dan sekarung makanan ringan yang membuat semua orang tersenyum girang kecuali aku. Otakku masih stuck pada kata-kata Euncha dan semakin sini aku merasa semakin yakin… perkataan Euncha sepertinya benar adanya. Aku mencintai Chanyeol sebagaiyeoja (perempuan) to namja (laki-laki) bukan sebagai sahabat dan aku rasa perasaan ini berlangsung sudah lama.

 

 

Winter, 2 weeks later. 14:35pm.

“Kyun, aku merasa ada yang aneh denganmu akhir-akhir ini.” Suara Chanyeol terdengar mendengung di telingaku, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

“nah~ aku juga merasa aku aneh akhir-akhir ini.” Ujarku senatural mungkin. “change topic. Aku punya cerita so sweet tentang temen kuliahku, namanya Haneul.”

“apa?”

Aku mengembungkan pipiku seraya mengatur nafasku, berharap Chanyeol tidak curiga atas ceritaku ini. “gini, Han itu sobatan rapet banget sama Jiyong trus si Han bilang sama aku kalo dia suka sama Jiyong dari dulu banget dari sebelum mereka sobatan dan pas dia cerita si Jiyong ternyata denger, Jiyong lagi gelantungan—um… maksudnya duduk di ranting besar—di pohon tempat kami berdua curhat kan Zonk ya? Untung aja ternyata Jiyong keliatan biasa aja, besoknya Han bilang ke aku mereka akhirnya jadian. Ampun deh… Jiyong padahal kecengan aku.”

Chanyeol terdiam. Ekspresinya aneh. Sangat aneh.

“kenapa? Aku salah ngomong? Jiyong bukan om-om kok, dia oppa-oppa tulen yang teramat tampan sampai membuatku terpesona luar-dalam.” Aku berusaha membuat nada bicara sepolos mungkin, takut-takut Chanyeol tiba-tiba mengerti langsung tujuanku ini dan lost-feel padaku.

anio~” (tidak) jawabnya singkat berusaha menghindari kontak mata denganku.

“oke. Ganti topik lagi deh.” Sejujurnya aku mengutuk diriku sendiri jika sampai tiba-tiba Chanyeol menjauhiku gara-gara cerita konyol itu. “kemaren aku ketemu om-om ganteng yang ternyata itu adalah ayahnya Jiwon. Bule, tinggi banget setinggi Kris… ada-lah. Matanya biru… iiyyuuuuuuwh indah di pandang. Tapi kembali lagi, sayang dia om-om.” Semoga usahaku ini berhasil mengembalikan moodnya seperti semula.

“kenapa kamu suka om-om sih?” Chanyeol masih menghindari kontak mata denganku. Suaranya rendah dan terkesan sangat serius mengatakannya. “kasian kan istri-istri mereka kalo suaminya kamu keceng.”

Aku tertawa kecil. “peduli deh sama istri-istri mereka. Kan nyatanya sampai saat ini aku masih berpacaran dengan teman seumuran atau beda 2-3 tahun di atasku.”

“siapa pacarmu? Orang-orang mengira aku pacarmu.” Nada bicara Chanyeol kembali seperti semula. Syukurlaaaaah.

“ya anggap saja. nyatanya semenjak kita selalu bersama tidak ada yang berani mendekatiku. Tapi banyak yang mendekatimu.” Aku mengerucutkan bibirku. “ehby the way kamu katanya jadian sama Yejin? Anak trainee SM juga?” well, aku sudah mempersiapkan dengan matang hatiku untuk mendengar jawabannya ini. Jawaban dari topik—yang sebenarnya sudah lama—ingin ku tanyakan.

Semenjak mensadari bahwa aku mencintainya, aku menjadi banyak mencari berita tentangnya dari mana-mana dari banyak sumber terpercaya juga aku mulai mengingat-ingat kenangan-kenangan dan gisop-gosip lama tentang Chanyeol yang dulu tidak terlalu aku gubris.

Chanyeol menunduk. “kami sudah mau setahun pacaran.” Ujarnya lesu.

“WHHHAAAAAAT~~ dan kamu tidak mengenalkannya padaku?” BUKK!! Aku meninju—lumayan—keras pipi kurusnya. “sahabat macam apa kamu ini, HA?…” aku menunduk pura-pura—memang—kecewa.

Chanyeol merangkulku penuh rasa bersalah. “aku… aku pikir ini tidak penting bagimu.”

TIDAK PENTING?! Andai kamu tau isi hatiku sebenarnya. “ah~ sudahlah…”

ya… maafkan aku.” Chanyeol merengek.

Aku mengulum senyumku menahan tangis hatiku yang semakin menjerit. “hmmmm… baiklah, aku maafkan. jadiiii~ kalian udah ngapain aja? Ceritakan padaku seeeemuanya.”

Chanyeol tiba-tiba blushing dan ia pun mulai menceritakan semua pengalaman indah yang telah di laluinya bersama Yejin selama hampir setahun itu. Blind date, candle light dinner, kissing scene semuanya ia ceritakan dan semuanya membuat hatiku terkena stroke akut dengan gejala; kejang-kejang, pendarahan atau bahkan hatiku seperti berhenti bekerja, membiarkan racun-racun di tubuhku membunuhku secara perlahan karena hatiku tidak berfungsi sebagaimana fungsinya. Berlebihan memang. Aku baru tahu kalau patah hati rasanya sesakit ini. Lebih sakit dari nahan mules 9 jam.

“tapi hubungan kami sedang tidak baik saat ini. Kemarin aku bertengkar hebat dengannya.” Kalimat terakhir Chanyeol membuatku sedikit bernafas lega. Hanya sedikit. Mungkin 1:21515634635651657 kalau di angkakan.

“kenapa?” tanyaku tidak bersemangat tapi sangat penasaran.

Chanyeol mengangkat kedua bahunya. “aku percaya kamu akan menjaga rahasia penting ini.”

Aku membulatkan mataku. “apa?”

“emmm… aku…” DRRRT~ “yeoboseyo?” (halo?)

Telepon masuk sialaaaaan!!!!! Membuatku mati penasaran. Ku kutuk kau hey orang yang mengganggu sekaligus memutuskan perkataan Chanyeol barusan!!!

TUUT~ “aku harus pulang. Ada meeting kecil dengan manajer di dorm sekarang.” Ujarnya sedikit panik. Aku tidak jadi mengutuk kalau ternyata orang yang aku kutuk adalah manajer hyungnimnya Exo.

Aku mengangguk cepat. “pulanglah. Aku masih mau disini, aku bisa pulang sendiri naik bus.”

jinjja?” (benarkah?).

Aku mengangguk yakin. “sampaikan salam cintaku pada Byun, Sehun dan Kyungsoo. Tanyakan kapan kita menikah? hahahaha”

Chanyeol tertawa. “sounds like kamu benar-benar berpacaran dengan mereka bertiga.”

Aku hanya tersenyum membalas ucapan terakhirnya sebelum Chanyeol masuk ke dalam mobilnya lalu mobilnya ngacir pergi secepat kilat meninggalkanku mati penasaran dan patah hati. Hatiku sedang melankolis saat ini. Saat ini… lagu-lagu lawas sangat klop dengan hatiku yang ikut lawas. Seketika jiwa lawas+melankolisku terasa berlebihan.

Aku mengeluarkan iPod Byun yang aku sewa dari dalam tas ranselku lalu menyelipkan sebelah headsetnya ke telingaku. What is love is the-very-right song for me now. Setidaknya di lagu ini yang ada hanya suara Byun dan Kyungsoo. Suara indah mereka untuk hatiku yang sedang stroke ini.

DRRT~ Euncha calling… mengganggu alunan lagu yang ku dengar.

Aku melirik screen handphoneku yang menampilkan tilisan ‘Euncha calling’ dan What is love…. 00:13. Baru 13 detik… baru intronya saja, sudah terpotong. Sama seperti cerita Chanyeol tadi. Bari intro.

“Hm?” aku mengangkat teleponnya tanpa semangat setitik pun.

feeling bad, huh? Aku jadi sama Yesung. Pasti belum tau kan?” suara Euncha terdengar antusias. Well, kabar ini cukup memboost moodku untuk sementara.

“WAH~ gimana ceritanya? Kamu dimana sekarang? Wanna meet up?”

“aku di belakang kamu, tolol. kkkkk~”

Aku berbalik dan mendapati sosok mungil nan lincah itu sedang tersenyum dengan 2 bungkus hamburger di tangannya.

“aku tau. Perasanmu ke Chanyeol—”

“udah kalo tau diem aja.” Aku buru-buru memotong omongan Euncha.

“sebenernya kemaren aku ngomong tentang sahabat itu ada tujuannya, Kyun.” Euncha mendarat cantik di sebelahku. Tiba-tiba kami berdua amnesia tentang topik tujuan ‘aku jadi sama Yesung’ dan malah membahas luka hatiku.

Aku merebut satu bungkusan hamburger di tangan kiri Euncha. “tujuan? Tujuan apa? tujuan bikin aku sekarat seperti sekarang ini?”

Euncha mengulum senyumnya dengan cara yang menjijikan, sok imut. “Suho memberiku satu bocoran yang aku tidak tahan untuk membongkarnya.” Oke, clue ini membuat jantungku sedikit berdetak lebih cepat.

“apa??? aaaapaaa??? Tentang Chanyeol?”

Euncha mengangguk. “tapi aku rasa lebih baik kamu tau sendiri suatu saat nanti.”

Ingin rasanya aku menggorok leher Euncha saat ini. Andai saja ini bukan di tempat umum, mungkin aku sudah mencekik Euncha sampai sekarat untuk memaksanya menceritakan ‘sedikit bocoran’ itu.

Aku menghembuskan nafasku kasar. “kayaknya perasaan sukaku ini udah lama deh sampe-sampe jadi cinta. Tapi kenapa aku baru menyadarinya begitu kamu bicara soal quote sialan itu?!”

see, aku udah yakin kamu menyukainya dari dulu. Dari cara kamu memperhatikannya. You two look good together, huh.” Euncha mengembalikan kalimat ejekanku dulu.

yeahwe are.” Responku sinis.

Keadaan hening sejenak. Aku dan Euncha, kami sama sama sibuk menghabiskan hamburger di tangan kami sampai Euncha kembali berdering.

“dia menyimpan semua barang yang… kamu, berbau kamu, di bawah tempat tidurnya secara sembunyi-sembunyi karena Byun dan Kyungsoo, mereka juga menyukaimu.” Dering Euncha mistik.

MWO?!” (apa?!) aku tidak percaya dengan apa yang telah Euncha ucapkan. Bagaimana mungkin ada 2 member sekaligus menyukai aku dalam waktu bersamaan? Sebegitu cantiknyakah aku? Haha.

i envy you. Suho bilang kamu berhasil membuat Byun, Kyung dan Yeol perang dingin di dorm. Itu keren, tau!” Euncha melanjutkan kalimat yang membuat senyumku kian lebar.

“ternyata aku laku!!!!” desahku sangat bahagia menghadapi kenyataan ini. “so i’ll make fun of them to proving your words.”

“kamu tidak percaya padakuuuu???” Euncha melebarkan matanya terkejut. “oh my~~”

Aku mengangguk. “till i prove it. Tunggu aja SMS dariku yang isinya ‘kamu benar!!!’ oke?”

aish~”

Ya tentu saja aku percaya padanya tapi jaga-jaga kalau-kalau si Suho hanya mengarang saja kan who knows. Rata-rata orang yang sudah tua (baca: Suho) itu senang membuat orang bahagia dengan sedikit mengarang cerita.

“terus, maksud mereka juga menyukaiku? Chanyeol me… nyukaiku lalu mereka juga?” aku memastikan lagi kata-kata Euncha tidak salah aku dengar.

no repeat!” ujarnya benar-benar membuat emosiku naik pitam. Kurcaci ini benar-benar… minta aku telan hidup-hidup.

OkayThanks.” Aku membuang muka menahan kesal.

“sepertinya bakalan ada salah satu dari yang aku sebutkan tadi… bergerak cepat untuk memastikan hatimu untuknya atau untuk yang lain.” Euncha kembali mengunyah potongan terakhir hamburgernya.

“apa tingkah umm… jokeku pada Byun dan Kyung keterlaluan selama ini?”

Euncha mengangkat kedua bahunya cepat. “no. Mereka aja yang nanggepin berlebihan. Kata Suho sih… Kyung tidak akan seagresif Byun dan Yeol. Untung Sehun tidak ikut-ikut menyukaimu, kalau tidak… semua aja member Exo menyukaimu?!”

see? Gotcha. Jadi Chanyeol menyukaiku?” aktu tidak tergubris oleh kata-kata terakhir Euncha.

“tapi dia masih punya Yejin, Kyun.”

Ya, kalimat terakhir Euncha cukup menyambar hatiku sampai nyaris terbelah-belah menjadi segi 4546758697.

 

Homed. 11:45pm.

Aku kembali merenungi perkataan Euncha tadi. Euncha bilang kalau Suho bilang Chanyeol menyimpan semua barang yang berbau aku? Segitu baunya kah aku sampai Chanyeol tidak mau mencuci barang-barang itu dan menyimpannya di bawah tempat tidurnya? Bukan. Bukan bau seperti itu yang Suho maksud. Tapi yang menunjukan dalam barang itu ada aku. Bukan. Eum… ya pokoknya barang itu aku bangetlah ya.

“tapi dia masih punya Yejin. Fxck that wordS. Aku tahu Yejin masih menjabat sebagai kekasih dari sahabatku yang aku cintai dan… mereka setahun bersama. ah~~ dan apa itu Byun dan Kyung menyukaiku? Kenapa semuanya jadi rumit di saat kapasitas otakku menurun karena cinta?!.

BUK~ BUK~ “KYUUNNN ADA TEMENNYA TIANG LISTRIK NIIIHHH~~~” Suara menggelegar Sunkyu dari balik pintu kamarku berhasil membuyarkan lamunanku seketika.

“temennya tiang listrik?” aku marathon menuju pintu depan dan mendapati sosok tidak terlalu jangkung dengan jaket tebal hitam berdiri memunggungiku. “ah~Byun, kamu tau alamat rumahku? Ada perlu apa?”

“ikut aku sebentar? Aku teraktir bubble tea.” Entah mataku yang rusak atau kenapa tapi aku merasa Byun rapih dan wangi saat ini, selain itu suaranya juga tidak nyaring seperti biasanya. Ada apa ini?!.

“oke, ganti baju dulu. tunggu di dalem aja, Byun. Sunkyu jinak kok, dia udah lama meninggalkan status kanibalnya.”

“oke.” Byun bahkan tidak tertawa atas kalimatku yang bermaksud humor. Mungkin dia tadi kepentok tabung gas jadi sok cool begini.

 

/flashback/

2 weeks ago.

“beraaaat~ pergilaaaah… beraaaaaat!” rengek Kai, pada akhirnya setelah aku duduk di lahunannya kurang-lebih 30 menit lamanya, sebari menggerak-gerakan lututnya yang mungkin mulai kesemutan.

“haha~ gomawo baby Jongin.” (terimakasih) aku bangkit dari duduk indahku di lahunan Kai lalu berjalan menuju dapur bermaksud menghindari keramaian juga membasahi tenggorokanku yang mulai kering.

“mau kemana?” Chanyeol menarik bajuku kasar.

“jangan sekarang Chanyeol. Banyak orang.” jawabku genit membuat Chanyeol melengos ngeri.

“tidak. Jangan pegang dia! Dia yeojaku!” Byun menepis tangan Chanyeol yang masih menggantung di bajuku. “kamu mau kemana sayang, biar aku temani.” Ujarnya lalu menggandeng tanganku mesra.

“kalian? sejak kapan?” Chen menatapku dan Byun dengan tatapan histeris. Ya, bagi para member K sudah tidak asing dengan perlakuan Byun yang memang agak tidak normal ini padaku, bagi para member M mungkin ini asing. Tapi aku sih oke-oke aja atas perlakuannya, so far semua ini cuma joke ringan antara kami untuk menghidupkan suasana.

“sejak aku break dengan Kyungsoo.” Jawabku lirih. “Kyungsoo lebih memilih wajan ketimbang aku, untunglah saat itu Byun datang menyelamatkan hatiku yang rontok karena wajan sebelangga lalu Terjadilah hubungan terlarang ini.”

Semua tertawa mendengar jawaban asalku.

“aku kira kalian serius.” Kris. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Sesaat tiba-tiba aku berpikir, ternyata Kris lebih bagus dari Chanyeol untuk segi muka. Aish… tapi tetap saja Chanyeol berada di podium sebari memegang piala juara pertama di hatiku.

Aku melanjutkan perjalananku yang terhenti dan terpaksa mengajak Byun yang masih menggandeng tanganku ke dapur untuk mengambil segelas air mineral yang mungkin bisa sekalian membasahi otakku yang kering karena nama Chanyeol terus berkulibat di dalamnya.

“jadi kamu menganggap semua ini bercanda?” ujar Byun tiba-tiba dengan suara rendahnya yang jarang terdengar olehku.

Aku mengangguk cepat. Kenapa tiba-tiba Byun menjadi menyeramkan.

Byun mengasongkan segelas air mineral hangat padaku. “bagaimana jika aku meminta mu untuk sungguh-sungguh menjadi pacarku?”

“Kyun,” thanks God Kyungsoo datang menyelamatkan hidupku dari creepy Byun yang tiba-tiba bertingkah aneh itu. “ini, aku menyisakan Miso soup untukmu, mungkin agak dingin. Tadinya aku mau titip Chanyeol hyung untuk di antar ke rumahmu.” (hyung=kakak untuk laki-laki ke laki-laki) Dan apa ini? Tiba-tiba suara Kyungsoo pun menjadi lebih manly ketimbang biasanya. Tapi Kyungsoo tidak menakutkan, ah~ mungkin karena hening jadi suaranya merendah.

Aku menerima mangkuk plastik yang di asongkan Kyungsoo dengan gerakan cepat. “thanks hon.” Aku tersenyum lalu menepuk bahu kiri Byun playful. “kamu menakutkan Byun. Hentikan joke tidak masuk akal ini. Aku merinding.” Aku beranjak seraya menarik tangan Kyungsoo menuju ruang tengah kembali meninggalkan Byun yang masih berdiri mematung di dapur.

/flashback/

 

“apa yang di katakan Euncha tadi sungguhan?” aku menatap pantulan diriku sekali lagi di cermin kamarku. Shirt putih polos dengan celana panjang di padu dengan jaket super tebal kepunyaan appa (ayah) warna biru langit. “semoga tidak.”

Aku meninju punggung Byun pelan dari belakang.“maaf lama nunggu. Kaja!

Byun bangkit dari sofa ruang tamu lalu tiba-tiba menggandeng tanganku lembut. Aku membalasnya dengan cara histeris. Aku menggandeng tangan Byun seperti Ibu menggandeng anaknya yang tidak mau diam.

Kami sama-sama terdiam. Aku memikirkan topik yang akan aku bahas untuk mencairkan suasana kalau nanti tiba-tiba creepy Byun muncul lagi. Sedangkan Byun? Aku tidak tahu apa isi otak rumitnya itu. Mungkin dia memikirkan uang di dompetnya yang terbatas kalau-kalau aku dengan tiba-tiba kesurupan dan menghabiskan 20 cup bubble tea secara anarkis.

Aku terkekeh pelan membayangkan Byun kewalahan karena kurang uang untuk membayar semua cup yang aku minum.

“Kyun.” Byun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Aku ikut menghentikan langkahku seklaigus tawa kecilku lalu menatapnya bingung. “aku rasa kita bicara di sini aja.” Lanjutnya misterius.

Ini baru 13 meter ke arah kiri dari rumahku. Dan sekarang ini kami berhenti tepat didepan tanah kosong yang di gosipkan angker oleh para tetanggaku.

“ahem~ Byun… bisa kita bicara didepan aja? Di sini kabarnya…”

Byun melirik ke arah tanah kosong angker itu. “oke. Aku juga tidak enak hati.”

Lalu sedetik kemudian kami sama-sama marathon untuk segera meninggalkan tempat itu sebari tertawa terbahak-bahak dan berhenti tepat didepan toko roti yang menjual bubble tea—yang sudah tutup—yang tidak begitu jauh dari rumahku.

“ahahahahahaha~” kami menghabiskan tawa kami sebelum memulai topik utama. “tokonya tutup.”

Byun melirik ke arah pintu toko yang sudah menggantungkan tanda ‘closed’ lalu meringis pelan.

“oke, kalo gitu di sini aja. jadi ada apa, mau bicara apa? hosh~ hosh~” aku berusaha mengatur nafasku yang terpengah-pengah sekaligus memulai topik untuk mempercepat pembicaraan.

“euuum… jadilah yeojachinguku.” Ujarnya di tengah nafasnya yang masih terputus-putus. “waktu itu… hoh… hah… aku tidak bercanda, Kyun. Aku sungguh-sungguh menyukaimu. Dan aku harap kamu tidak menyukai Chanyeol.”

Aku membulatkan mataku ketika mendengar kalimat terakhirnya. “ada apa denganmu?” tanyaku heran.

“oke. Sekarang aku butuh jawabanmu.” Byun memegang pundakku. Setetes air keringat mengucur menjalari lekuk wajah bagian tengahnya, membuatnya… seksi? Haha. Tapi tidak cukup seksi di bandingkan dengan Chanyeol saat tertawa.

Chanyeol. Ya, Park Chanyeol. Aku terjebak dalam cinta Exo K. Byun dan Chanyeol. Kyungsoo? Jika benar yang di katakan Euncha bahwa dia tidak agresif, aku rasa dia mengalah untuk hyung bodohnya ini.

“apa maksudmu?” aku pura-pura tidak mengerti. Ya seperti yang dilakukan kebanyakan perempuan ketika di ajak pacaran oleh seseorang yang tidak mereka sukai. Aku bukan tidak menyukai Byun. Dia tampan, imut dan care tapi Chanyeol lebih dulu mengunci hatiku. Ah, ini benar-benar gila.

“oke, begini saja.” Byun mangatur nafasnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Semakin dekat… dekat dan dekat sampai jaraknya hanya 1 senti di depan mukaku dan—

BUKK!!

Gosh, i’ll never forget today!. Sebuah tinjuan maut melayang tepat ke arah pipi Byun.

Aku melongo parah. Mukaku terkejut parah. Ekspresiku tidak layak, parah. Semuanya parah. Mukaku, muka Byun dan tangan… tangan Chanyeol yang memukulnya. Itu tangan Chanyeol!!!!

“aku… speechless.” Ucapku benar-benar dari hati.

Chanyeol menatapku tajam. “kenapa kamu membiarkannya hampir menciummu?” tanyanya sinis.

Otakku berantakan, pikiranku kacau. Aku benar-benar lupa caranya bicara. Mata Chanyeol seperti samurai yang memutuskan seluruh syaraf otakku. Terutama syaraf bicaraku dan syaraf hatiku—dari kemarin-kemarin.

BUKK!! Byun bangkit lalu balas memukul Chanyeol tak kalah keras mereka saling memukul.

Tiba-tiba jiwa ke ibu-tirianku muncul. Aku memegang pergelangan tangan mereka berdua keras. Sangat keras. Terlalu keras. Sampai mereka merintih kecil.

“BODOH~ bagaimana jika ada orang lihat? Apa kata mereka nanti? Kalian bertengkar karena hal konyol? Aku tidak mau mukaku besok masuk koran besok pagi sebagai tersangka penyebab tawuran antara teman sekamar.” Bentakku reflek. Baguslah aku masih punya reflek ibu-tiri andalanku.

Reflekku memang muncul kalau melihat orang yang aku kenal—apalagi aku sayangi—saling memukul, menyakiti. Dan menurut Euncha, reflekku ini sangat buruk dan terkesan terlalu ibu tiri di bandingkan wanita perkasa. Tidak apa-apa selama reflek ibu-tiriku ini berguna bagiku.

Chanyeol dan Byun menunduk.

“pulanglah.” Aku melepas peganganku pada kedua pergelangan tangan manusia-manusia yang bertingkah aneh itu lalu berbalik dan beranjak meninggalkan mereka dengan setumpuk kebingungan menjelalati lika-liku otakku atas tingkah Chanyeol barusan.

Tingkahnya menunjukan bahwa ia menyukaiku tapi… aku tidak benar-benar yakin. Kembali ke… Chanyeol masih punya Yejin.

 

Early morning. 04:09am.

Aku tidak bisa menutup mataku sejak pulang ke rumah karena kejadian keren tadi malam. Aku melihat sepasang roomate yang saling meninju dengan alasan yang tidak jelas. Bukan, tapi dengan alasan konyol. Sebenarnya kalau kemarin Byun berhasil menciumku… waaah~ itu akan menjadi bonus untukku dan label bibirku bukan Seunghyun lagi tapi Byun Baekhyun haha.

PUK~ aku menepuk puncak kepalaku sendiri atas pikiran sesat yang barusan melintas di otak rusakku ini.

Aku memutuskan untuk menganggu Euncha di subuh buta ini.

yeoboseyo?” Euncha menjawab panggilan masuk dariku dengan nada ‘on my way back from my dreamy-travelling’.

“kamu harus tau… kemaren ada kejadian eksotis yang harus aku abadikan sekaligs membuatku hampir kejang-kejang penuh pertanyaan.”

“masih subuh, Kyun. Masih ngantuk.”

“ayolaaaah…” Bujukku.

“hoaaaah~ arraseo. Ada apa?” (aku mengerti).

Aku menceritakan detail kejadian semalam dari A-1 sampai Z-1000, sesuai dengan yang aku ingat semalam. Euncha menanggapi histeris. Tiba-tiba saja nyawanya terkumpul. Kami menggosip hebat di pagi buta. Awal yang bagus untuk memulai hari yang semoga saja lebih indah dari kemarin.

“ah~ aku tidak bisa membayangkan mereka saling memukul.” Desah Euncha tidak percaya. “kenapa aku tidak pernah melihat Yesung dan Suho saling memukul ya? Kayaknya bakalan keren.”

omo! Kamu belum menceritakan padaku bagaimana bisa kamu dan Yesung????” sebenarnya bukan saat yang tepat membuka topik ini, tapi aku penasaran.

Euncha berdecak genit. “semua ini berkat pertolongan Ryeowook. Dia malaikat penyelamat jiwaku.” Euncha menceritakan perjuangan Yesung—sesuai dengan apa yang di ceritakan Ryeowook—untuk mendapatkan hati bulukannya itu. Perjalanan cinta yang rumit tapi berujung manis. “done. Mending kamu komentarin cerita aku nanti aja. Sekarang apa plan mu setelah kejadian tadi malam?”

Aku menggaruk anarkis kepalaku. “mungkin sekarang Byun tidur di sofa atau di kamar KaiSoo. Aku sedikit merasa bersalah juga sih. Ya, langsung atau tidak… mereka bertengkar itu ada kaitannya dengan aku. Aku tidak habis pikir akan begini jadinya. Semula semuanya fine-fine aja… sampai kamu datang membawa quotesial yang tampaknya kesialannya meraja lela kemana-mana.”

Aku mendengar Euncha mendesah panjang. “bicaralah dengan mereka berdua. Itu saranku.”

too nervouz.” Jawabku singkat dan yakin.

Tiba-tiba sambungan terputus. Pulsaku habis. Dan setelah di tunggu 15 menit, sepertinya kurcaci yang di beri nama Euncha itu kembali pada dreamy-travellingnya.

Aku mendesah pelan lalu mengacak-acak rambut gondrongku yang tidak keruan semakin tidak rambutwi—kalau manusia, tidak manusiawi—secara kasar. Aku frustasi di usia muda. Kalau sekarang di kamarku tersedia mushroom aku sudah fly dan semakin frustasi sampai di temukan membangkai secara menghenaskan sebari memeluk bingkai foto Chanyeol dan masuk berita malam dalam kategori ‘kejadian tragis menimpa seorang gadis remaja ababil’.

DRRT~ you have 2 messages…

“Euncha!” sahutku gembira.

 

Mianhae atas perlakuanku tadi malam. Aku tidak bermaksud membuat semuanya menjadi kacau.

Sender: si pencuri hari ^^

 

Aku mengangkat sebelah alisku ketika membaca nama sender di badan bawah pesan. Aku terlalu berjiwa remaja sampai-sampai memilih nama kontak menjijikan seperti itu untuk Chanyeol.

Pesan ke dua.

 

Mianhae. Tapi aku masih butuh jawaban. Bisa aku menghubungimu sekarang? Apa kamu masih bangun?

Sender: ByunBaek

 

Aku mengangkat kedua alisku. Byun pantang menyerah.

Aku menurunkan kedua alisku lalu menghembuskan nafas brutal. Pulsaku baru saja habis. Aku harus bagaimana?!

 

10 pemikiran pada “Ridiculous Love (Chapter 1)

  1. Ini yang comment pertama saya? _-_a
    Ini bagus dan cocok banget thor untuk kehidupan real life kita/? *kecuali yang bertemen sama anak2 exo*
    Jadi takut kalo punya sahabat cowok kejadiannya bakal kayak gini, tragis/? ;_;
    4 JEMPOL! dd(‘-‘)bb

  2. demi apapun ta thoooor ini FF-nya KEREN GILA !!
    TWO THUMB UP buat jeng author !!
    aku suka banget cara nulisnya yang ngalir dan ga maksa, jadi feelnya dapet banget .
    jangan lama-lama ya next chapternya authornim , jebaaal .
    n,n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s