A Beautiful Farewell

Title                : A Beautiful Farewell

Author            : kyn (@aggsyaf)

Cast                : Luhan, Kris, OC

Length            : Oneshot

Genre              : Angst, Romance, AU

Disclaimer      : Based on 2AM’s MV – Goodbye My Love

 abf

© trollslikeabuffalo.wordpress.com

 

Camera.

Rolling.

Action.

Fokus handycam bergerak. Wajah seorang lelaki tergambar di sana. Tersenyum dan melambai singkat pada handycam. Namanya Kris Wu. Tampan, berkharisma dan digilai wanita. Tertawa kecil ketika aku melambai padanya dari balik handycam.

Fokus handycam bergerak lagi. Kali ini seorang gadis muncul di sana. Berambut panjang berwarna hitam dan berkilau sehat, dengan garis wajah cantik sempurna dan sepasang bola mata sabit. Namanya Oh Sera.

Kami bertiga adalah sahabat. Itu dulu, beberapa tahun sebelum Kris  menyatakan perasaannya pada Sera. Sera sendiri juga tidak menolak dan kini mereka berpacaran.

Sialnya, aku menyukai pacar Kris.

Dari balik lensa handycam kulihat Sera tertawa, menimpali lelucon konyol yang dilontarkan oleh Kris yang kini juga ikut tertawa. Ada perasaan damai saat melihat Sera yang seperti itu. Seperti ada kupu-kupu yang mengepakkan sayap secara bersamaan dalam perutku. Menggelitik namun manis. Singkatnya, magis.

Tangan Kris bergerak ke saku celananya. Mencoba meraih sesuatu dari dalam sana dan aku sedikit mengernyit saat benda itu berhasil ditarik keluar, membuat fokus handycam yang kupegang sedikit goyah karena heran. Kartu tarot?

“Kau tahu ini apa?” kudengar Kris bertanya. Sorot matanya terkunci rapat pada sepasang sabit kembar di mata Sera. Gadis cantikku –yang sayangnya bukan milikku itu tertawa, memukul pelan punggung tangan Kris .

“Kartu tarot. Kau pikir aku tidak tahu?” Sabit kembar di matanya muncul kembali, seiring dengan suaranya yang terdengar seperti suara lonceng yang menggema dalam telingaku. Manis.

Kris mengulurkan tangannya. Mengusap lembut puncak kepala Sera dengan sayang sementara gadis itu tertunduk malu sambil tertawa dibuatnya. Kris membuat kartu-kartu tarot itu berjajar seperti kipas yang terbuka di tangannya. Hampir membentuk setengah lingkaran dengan punggung kartu menghadap ke arah Sera.

“Tahu mitos tentang kartu ‘The Lovers?’” kulihat Sera berjengit heran mendengar pertanyaan dari Kris . Ekspresi wajahnya dipenuhi tanda tanya.

“Tidak pernah.” Jawab Sera. “Memangnya apa itu? Ceritakan padaku.”

Kris  menyentil hidung Sera pelan dan tersenyum. “Jadi begini, Luhannie bilang padaku bahwa-“

“Kris!” seruku dari balik handycam. “Kenapa harus bilang sih kalau aku yang cerita padamu? Kau jadi tidak keren lagi!” kulihat Sera tertawa ke arahku dan dalam sedetik duniaku seperti diobrak-abrik oleh tawanya sementara itu Kris hanya menggaruk belakang lehernya malu-malu.

“Yah, begitu, pokoknya dari sekian puluh kartu yang ada di tanganku ini.” Kris  mendekatkan kartu tarotnya ke arah Sera. “Ada sebuah kartu dengan gambar sepasang manusia. Harusnya sih sepasang. Tapi di kartu itu gambarnya hanya ada setengah saja, seolah gambar manusia di sebelahnya terpotong.”

Kulihat Sera mengerutkan alisnya tidak mengerti.

“Tidak mengerti ya?” Kris tertawa lucu. Tangannya bergerak mengocok kartu-kartu yang ada di tangannya dan kembali menyodorkannya dalam posisi punggung kartu menghadap ke arah Sera  seperti tadi. “Sekarang kau ambil kartu secara acak. Terserah yang mana saja. Kalau kau beruntung mendapatkan kartu yang kuceritakan tadi maka tinggal berdoa saja supaya kita benar-benar berjodoh.”

Sera tertawa mendengar ucapan konyol yang terlontar dari bibir Kris tapi tak urung juga tangannya terulur maju untuk memilih kartu. Jemari lentiknya bergerak dari kartu yang terletak di ujung paling kiri ke ujung kanan. Lalu melompat lagi ke tengah dan kembali ke kiri. Membuat Kris yang sedang harap-harap cemas jadi kesal sendiri dan melahirkan tawa dari bibirku.

“Sera-ya….” Ujarnya kesal setengah merajuk. Sera tertawa lagi dan berhenti menggoda Kris . Tangannya berhenti di salah satu kartu yang disangga oleh jari telunjuk Kris .

“Yang ini saja.” Sera menarik pelan-pelan kartunya. Kulihat perlahan raut wajah cemas Kris  berubah menjadi…kelegaan mungkin? Kali ini giliranku yang harap-harap cemas. Mungkinkah?

Sera berhasil menarik keluar seluruh kartunya, menunjukkannya pada Kris  yang kini tertawa kegirangan dan melambai-lambaikan kartunya di depan handycam yang sedang kupegang. The Lovers.

“Kartu ini.” Ujar Kris pada Sera. “Memiliki pasangan dan pasangannya itu ada di antara tumpukan kartu-kartu ini.” Ia memindahkan tumpukan kartu tarot dari tanganya ke telapak tangan Sera. Menuntun gadis itu menjajarkan kartunya dalam posisi yang sama seperti tadi, bedanya kali ini punggung kartu itu menghadap ke arah Kris . “Kalau aku berhasil menemukan pasangannya, maka…”

Sera mengangguk seolah paham. Ia tersenyum dan membenahi jajaran kartu di tangannya. “Aku mengerti.”

“Gadis pintar.”

Kris  mengelus-elus rambut Sera dengan sayang sebelum tangannya bergerak berlari-lari di atas jajaran kartu. Kulihat kini giliran Sera yang memasang wajah cemas.

“Yang… ini.” Kris sebuah kartu keluar dari jajarannya, disusul dengan wajah gembira Sera dan adegan berikutnya yang terjadi di depan mataku bukanlah suatu adegan menyenangkan untuk bisa kulihat tanpa merasa seolah oksigen di paru-paruku terampas habis. Sesak.

Dengan wajah gembiranya Sera memeluk Kris erat-erat sementara Kris sendiri masih dengan wajah terkejutnya –yang kini dihiasi senyum, meraih kartu di tangan Sera. Merobek separuh bagian kosong yang tidak bergambar dan menempelkannya pada bagian kosong di kartu lain yang ia pegang. Seperti keping puzzle yang disempurnakan oleh kepingan yang lain, gambar itu disatukan menjadi sebuah gambar yang utuh.

Kris  sekali lagi melambaikannya ke arahku dan handycam yang kupegang dengan bahagia. Disusul dengan dirinya yang mencium kening Sera di depan mataku.

Lensa handycam yang kupegang masih terus mengarah kepada dua orang di hadapanku sementara wajahku sudah tertunduk dalam-dalam dari tadi.

Sakit.

Sudah kubilang. Bukan adegan yang menyenangkan untuk dilihat.

Bus yang kami tumpangi berhenti di tepi sebuah pantai. Dari balik lensa kulihat Sera bertepuk tangan gembira ketika kakinya sudah menjejaki pasir pantai yang hangat terpapar matahari musim panas. Kakinya berlari cepat di atas pasir, disusul oleh Kris  yang tertawa di belakangnya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana denimnya. Aku sendiri sibuk menjadi pengamat di belakang mereka. Merekam tiap detik yang kulewati bersama Sera melalui lensa handycamku.

“Kris.” Sera sudah berhenti berlarian di sepanjang bibir pantai. Setengah serius kini ia berdiri berhadap-hadapan dengan Kris  yang masih tersenyum kepadanya.

“Ada apa Sera-ya?”

“Mau mencoba sesuatu yang lebih menarik lagi?” Sera mengacungkan tumpukan kartu tarot di tangannya. Tanpa aba-aba ia melemparkan kartu-kartu itu ke udara. Membuat mereka melayang-layang sebelum akhirnya terhempas ke atas pasir pantai. Beberapa dari mereka bahkan ada yang tersapu gelombang air laut. Sera tersenyum misterius. Mengacungkan sebuah kartu The Lovers yang ada di tangannya.

Kris tertawa seraya mengangguk mengerti. Tubuhnya kini membungkuk-bungkuk memeriksa satu per satu kartu di bawah kakinya. Membolak-balik, melihat apakah kartu yang ia pegang adalah kartu yang ia cari ditemani Sera yang tertawa memberi semangat di depannya sambil melompat-lompat seperti anak kecil.

Masih dengan handycam di tanganku aku kembali merekam apa yang ada di depan sambil terus berjalan mengikuti Sera dan Kris. Tiba-tiba langkahku terhenti ketika kaki kananku menginjak sesuatu yang teksturnya tidak seperti pasir yang lembut. Benda ini agak keras dan memiliki ketebalannya sendiri. Aku tersenyum, mengarahkan lensa handycamku ke bawah ketika salah satu kartu yang dilempar oleh Sera tadi terinjak oleh kakiku dan kembali berjalan ke arah Sera yang kini digendong oleh Kris yang berpura-pura hendak melempar Sera ke laut sambil tertawa lepas. Sementara Sera sendiri masih bisa tertawa walaupun Kris tidak berhasil menemukan kartu yang ia maksud.

Aku tersenyum melihat pemandangan di depanku. Lebih tepatnya aku tersenyum melihat Sera yang bahagia seperti itu. Teringat betapa tadi aku menahan sakit di dadaku ketika melihat sahabatku mencium kening gadis yang kusukai sejak lama itu. Betapa aku berpikir bahwa aku bisa saja lari ke arahnya dan menendang Kris hingga ia jatuh terjengkang. Tidak akan ada yang tahu apa saja yang bisa dilakukan lelaki yang patah hati sepertiku.

Awalnya aku memang berpikir begitu.  Awalnya. Namun saat kulihat Sera tersenyum ketika tangannya digenggam oleh Kris . Saat Sera tertawa di dalam pelukan Kris . Saat hidup Sera menjadi lebih baik lagi ketika bersama Kris . Saat  gadis yang kau cintai dan kau jaga perasaannya dengan sepenuh hati bahagia bersama lelaki yang ia cintai walaupun lelaki itu bukan kau, kau tahu bahwa doa yang kau panjatkan agar dia bahagia bersama lelaki itu adalah doa paling tulus yang pernah kau panjatkan seumur hidupmu.

Padang bunga daffodil.

Sera suka sekali bunga daffodil.

Menurutnya bunga daffodil itu cantik seperti musim panas. Menurutku Sera lebih cantik daripada bunga daffodil.

Aku berdiri di tepi jalan sementara Kris dan Sera berjalan beriringan menelusuri jalan setapak di tengah hamparan bunga daffodil di depannya. Merekam setiap momen indah yang sekarang sedang berlangsung di depan mataku. Tawa Sera memecah keheningan di sekitarku ketika Kris berlutut di hadapannya sambil mencium punggung tangan Sera.

Pandanganku menerawang. Handycam yang kugenggam sedikit goyah. Betapa aku iri pada Kris . Aku iri karena aku tidak bisa seperti dia yang bisa jujur atas perasaannya sendiri. Lama aku terdiam hingga kudengar suara teriakan yang tidak asing lagi. Dari balik lensa handycam kulihat Kris berteriak ke arahku sambil menunjuk-nunjuk ke arah utara. Wajahnya tampak pias, antara pucat dan panik. Sementara Sera mulai menangis sambil menjerit memintaku untuk lari.

Tapi, ada apa?

Sedetik kemudian barulah aku mengerti. Sedetik, setelah sebuah truk container yang melaju dengan kecepatan di luar batas normal dan ugal-ugalan menghantam tubuhku yang masih mematung di pinggir jalan. Membuat tubuhku terlempar dan terseret beberapa meter ke selatan. Bau anyir darah tercium di sekitarku. Dari sudut mataku samar-samar kulihat Kris  dan Sera berlari menghampiriku yang tergeletak di tengah jalan menunggu ajal.

Aku tersenyum. Dengan kesadaran yang masih tersisa kugerakkan jemari tanganku yang mulai mati rasa, memutar lensa handycam hingga menghadap ke arahku. Kupaksakan tersenyum walau sebenarnya aku sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi. Pandaganku kabur dan semuanya seperti menggelap. Di detik milikku yang terakhir ini, aku harus bisa.

Oh Sera? Ini Xi Luhan….”

(No one POV)

Sehari setelah pemakaman Luhan. Sera masih enggan beranjak dari tempatnya. Menyandar pada tepi ranjang dengan lutut terlipat. Matanya masih sembab oleh air mata sementara giginya bergemeletuk menahan dingin yang menjalari tubuhnya.

Karena tidak ada lagi Xi Luhan yang senyumnya sehangat matahari musim panas.

Luhan.

Lagi-lagi nama itu muncul tiba-tiba dalam kepalanya dan berputar-putar persis seperti kaset rusak. Menabraklarikan berbagai memori antara dirinya dengan Luhan ketika laki-laki itu masih ada untuk memeluknya. Namun sekarang justru melahirkan air mata pilu dari sepasang mata sabitnya yang kini mulai meredup sinarnya.

Pintu kamar Sera berderak halus. Seseorang masuk sambil membawa sesuatu di tangannya. Kris Wu, tersenyum miris melihat keadaan Sera yang sekarang. Dengan telaten dan penuh kesabaran ia menyampirkan selimut tebal yang diberikan oleh ibu Sera tadi di bahu rapuh milik Sera.

“Kudengar dari Sehun kau belum makan seharian.” Kris tersenyum tipis menyadari tak ada respon dari Sera. “Aku tak akan memaksamu seperti kemarin karena sejujurnya aku enggan bertengkar denganmu. Maafkan aku karena aku bersikap kasar padamu kemarin.”

Masih tidak ada jawaban.

Kris menghela napas. Menyodorkan sebuah kotak seukuran kotak sepatu dan nampan berisi makan malam untuk Sera. Tangannya terulur menepuk kotak berwarna cokelat di bawah telapak tangannya. Membuat Sera menoleh sedikit ke arah kotak tersebut.

“Benda ini kutemukan ketika selesai membereskan kamar Luhan tadi sore. Kuharap bisa membuatmu lebih baik.”

Lagi-lagi tak ada jawaban.

Kris mengangguk mengerti seraya tersenyum lemah. Berusaha keras menahan air matanya sendiri agar tidak jatuh. Tangannya mengusap puncak kepala Sera dengan lembut.

“Aku ada di bawah kalau kau mencariku.”

Sepeninggal Kris fokus pandangan Sera terkunci pada kotak cokelat di dekat kakinya. Kedua tangannya terulur membuka penutup kotak dan gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat mengenali sebuah handycam berwarna hitam yang tersimpan di dalam kotak.

Tentu saja. Benda itu milik Luhan. Sera sendiri yang hari itu mengantar Luhan pergi ke toko setengah tahun yang lalu.

Sesuatu terjatuh begitu saja ketika Sera mengangkat handycam tersebut. Sebuah kaset berwarna hitam terjatuh di atas pangkuannya. Ia tertegun. Mungkinkah ini sebuah pesan yang ditinggalkan oleh Luhan untuknya?

Dengan gemetar ia memasukkan kaset itu ke dalam pemutar kaset dan menyalakan tv. Layar menyala. Di sana ada Oh Sehun –adiknya. Duduk bersila menatap Luhan yang sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.

“Entah kenapa aku suka kesal sendiri kalau ada laki-laki yang suka pada noonaku.”

“Memang kenapa Sehun-ah? Bukannya malah bagus? Noonamu  jadi tidak sendirian lagi kan?”

“Tapi aku tidak suka pada mereka,hyung .”

“Kalau begitu kau pasti juga tidak suka padaku, Sehun-ah.”

Sera terhenyak. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Gambar berganti. Ada gambar Sera dan Luhan di sana, di tengah-tengah keramaian pasar malam, sedang melambai antusias pada kamera. Ada Kris yang menjadi latar di belakangnya, tertawa lucu melihat tingkah laku mereka berdua.

Kedua mata Sera mulai terasa panas.

Gambar berikutnya. Gambar dirinya bersama Kris di dalam bis. Bukan Kris, hanya bagian kecil tubuhnya saja yang kelihatan sebab kamera hanya berfokus pada Sera yang sedang tertawa di sana. Lalu tiba-tiba fokus kamera menjadi sedikit turun ke bawah. Ada gambar Kris sedang mencium keningnya sambil melambaikan kartu tarot The Lover yang berhasil mereka satukan.

Sebulir air mata jatuh begitu saja membasahi rok berwarna khakinya.

Gambar berikutnya ada dirinya yang tertawa bahagia di pantai. Sekali lagi, kamera hanya berfokus pada dirinya saja. Sera yang sedang tertawa, Sera yang sedang tersenyum, Sera yang merengut. Hanya ada Sera. Sedetik kemudian fokus kamera turun ke bawah. Sera terdiam.

Potongan kartu The Lovers yang tidak berhasil ditemukan oleh Kris. Potongan kartu yang dengan sendirinya berada di bawah kaki Luhan.

Dan bulir-bulir air mata itu turun begitu saja tanpa bisa Sera hentikan.

Bunga kuning. Padang daffodil. Ada Sera yang tersenyum lebar ketika tangannya digenggam oleh orang yang gambarnya tidak kelihatan. Fokus kamera sedikit turun ke bawah. Terdengar suara teriakan Kris dan jeritan Sera pada hari itu. Fokus kamera berubah lagi menjadi entah ketika sebuah container berwarna putih tiba-tiba melesat. Terdengar suara hempasan dan suara kamera jatuh.

Layar gelap.

Sedetik kemudian menyala kembali. Kali ini ada gurat-gurat keretakan di sisi kanan atas yang memanjang hingga ke tengah-tengah. Sebuah tangan berlumur darah bergerak menyetuh layar, memutarnya menghadap seorang lelaki dengan wajah tersenyum sementara darah mulai mengalir dari hidung dan telinganya.

Seorang lelaki dengan senyum sehangat matahari musim panas.

Senyum yang hanya dimiliki oleh Luhan.

Xi Luhannya.

“Oh Sera? Ini Xi Luhan. Akhirnya aku harus jujur juga padamu. Hehe.”  Luhan tertawa di sana sementara Sera sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.

Oh Sera…” Suara Luhan mulai tersengal-sengal. Lelaki itu batuk-batuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Sera terkesiap.

S-Saranghae. Jeongmal…”

Seketika layar gelap.

Tiba-tiba saja Sera lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar.

 

 

-END-

38 pemikiran pada “A Beautiful Farewell

  1. Great fanfiction!
    Aku suka banget gaya bahasanya yang simpel, tapi sangat mengena di hati.
    Sayangnya kenapa Lulu harus mati? Hiks.
    Dan itu si Kris Sera ga di jelasin ya berantem kenapa?

  2. Good job banget! Bikin orag nyesek seketika.. huwee kasian luhannya r.i.p dstu.. sera telat lgi nyadari prasaannya … ff nya daebak thor! Keep writing ya! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s