A Long Summer with 6+1 (Part 9)

97558360

Title: A Long Summer with 6+1 (Part 9)

Author: abcdefg (@afnfsy)

Genre: Friendship, romance

Length: Multi-chapter

Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story.

A/N: Sorry if you find to many “-” signs in this story! ^^

===============================

Siang harinya, semua berjalan seperti biasa. Namun kali ini tidak ada yang namanya pertengkaran dalam diam yang biasa dilakukan oleh Haerin dan Jihwa. Kedua gadis itu kini sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jihwa yang sedang ka-lem menonton televisi dan Haerin yang sedang membantu D.O memasak.

Tetapi D.O yang biasanya bersikap tidak begitu peduli, hari ini ia bersikap sangat protektif terhadap Haerin.

“Jangan! Biar aku yang memotong wortel ini, kau lebih baik merebus ayam saja,” potong D.O saat melihat Haerin yang sedang menggenggam pisau dan sebuah wortel.

“Aku saja yang mencuci piring-piring ini. Kau masukkan saja sayur-sayuran yang sudah kupotong kedalam panci,”

“Kau harus memakai pelindung tangan jika ingin mengangkat panci yang panas itu! Lihat, kan, jarimu melepuh,” D.O lang-sung beringsut untuk mencuci jari-jari kecil Haerin agar rasa panasnya berkurang, lalu mengoleskan krim khusus luka ba-kar untuk menyembuhkan lukanya. Haerin jadi semakin bi-ngung, padahal D.O yang memintanya agar membantu ia me-masak, tetapi sekarang D.O malah menyuruhnya agar tidak melakukan apa-apa.

Namun memang dasarnya Haerin adalah orang yang sangat pengertian, ia tidak membiarkan D.O bekerja sendirian untuk menyiapkan makan siang bagi keenam member EXO-K ter-masuk dirinya yang selalu kelaparan terlebih Chanyeol yang selalu makan sampai 7 porsi ini dan tambahan dua orang lagi.

Gadis itu pun membantu D.O merapikan meja makan, mena-ta piring-piring, sampai menaruh satu panci sup ayam yang kalau ditaruh kedalam mangkuk-mangkuk kecil bisa sampai 15 mangkuk.

Setelah selesai menata barang-barang yang ada di meja makan, Haerin meminta izin untuk ke kamar mandi pada D.O, D.O pun mengangguk seraya menaruh sepiring lauk terakhir di meja.

Haerin pun berjalan cepat kearah kamar mandi, tidak mem-pedulikan tatapan tajam Sehun yang terarah padanya. Haerin hanya menunduk untuk menghindari tatapan Sehun yang selalu membuat dirinya membeku. Memalukan sekali jika ia membeku didepan lelaki itu.

Sesampainya di depan pintu kamar mandi, Haerin membuka pintunya perlahan-lahan, mengintip sedikit untuk memasti-kan bahwa tidak ada orang lain di dalam kamar mandi. Sete-lah merasa aman, ia memasukki pintu kamar mandi lalu me-nutupnya perlahan. Melihat tirai pancuran yang tertutup, te-tapi tidak memperdulikannya.

Gadis itu menghela napas, melihat kearah kaca. Lalu berjalan kearah kaca dan mendapati pantulan dirinya disitu. Ia men-dekati cermin besar yang direkatkan ke tembok, memajukan tubuhnya untuk memeriksa pipi kirinya yang memar dan se-karang sudah berwarna kuning keunguan, lebih baik dari ke-marin yang masih berwarna ungu kebiruan. Ia menghela napas lagi.

========================

Kai mengalungkan handuk sehabis mengeringkan rambutnya di lehernya. Kepalanya terangkat keatas karena merasa segar sehabis keramas, dengan mantap ia pun membuka tirai pan-curan sambil sesekali mengeringkan rambutnya.

Saat ia mengangkat wajahnya ia melihat Haerin yang sedang bercermin tiba-tiba tersentak kaget. Wajahnya memucat me-lihat Kai yang hanya mengenakan celana pendek dan bagian tubuh atasnya dibiarkan telanjang, dengan handuk yang me-lingkar di lehernya dan rambut yang setengah basah.

Haerin mengumpulkan suaranya di kerongkongannya, ber-siap untuk menjerit sekuat yang bisa. Wajahnya panik dan memucat. Saat ia membuka mulutnya, dengan cepat Kai me-nutup mulut gadis itu agar tidak menjerit.

“Sssttt!” ucap Kai sambil masih menutup mulut Haerin. Gadis itu meronta-ronta saat tangan Kai hampir menutupi seluruh wajahnya, pipi gadis itu memerah seperti tomat. Matanya berlinang air mata hendak menangis saat Kai semakin mema-jukan tubuhnya didepan Haerin, membuat Haerin bisa meli-hat jelas bagaimana bentuk tubuh lelaki itu.

Haerin memejamkan kedua matanya, membuat air matanya perlahan turun. Dalam hatinya ia ingin sekali segera keluar dari kamar mandi, namun kemudian dimanakah ia harus ber-sembunyi? Sementara Kai semakin kaget saat ia melihat air mata gadis itu menuruni pipinya yang memerah, ia pun me-ngendurkan cengkeraman tangannya di wajah gadis itu.

Ya! Uljima—jangan menangis…,” kata Kai setengah berbisik seraya menghapus air mata Haerin memakai ibu jarinya dengan lembut. Haerin hanya sesenggukan seraya berusaha untuk kabur dari situ. Kai pun tidak menahannya, ia membi-arkan gadis itu lepas dari pegangannya, dan membiarkan ga-dis itu keluar kamar mandi dalam keadaan masih setengah menangis.

Namun Kai baru ingat, gadis itu mungkin saja bisa kabur dari dorm ini seperti kemarin. Dan mencari gadis itu mungkin saja tidak mudah, bisa saja ia bersembunyi di semak-semak dan tak mau keluar lagi untuk selamanya.

Kai pun menepuk dahinya sendiri.

========================

Haerin berlari kecil kearah pintu depan, tangannya menutupi mulutnya untuk menyembunyikan suara tangisannya. Orang-orang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Ketika ia hampir sampai ke pintu depan, sebuah tangan menahan lengannya. Membuat gadis itu berhenti.

Chanyeol pun menarik lengan gadis itu sedikit kuat, seperti memaksa gadis itu untuk menatap matanya. Dilihatnya gadis itu masih mengeluarkan air matanya, saat Haerin melihat ke mata Chanyeol, ia malah makin menangis.

Chanyeol lagi-lagi langsung memeluk Haerin dengan erat un-tuk menenangkan gadis itu. Dan sekali lagi Haerin tidak me-nolak dirinya dipeluk oleh Chanyeol karena ia mengakui bahwa ia merasa lebih nyaman dengan lelaki itu. Chanyeol pun membiar-kan gadis itu menangis membasahi kausnya sementara ia menepuk-nepuk punggung gadis itu.

Wae geurae?—ada apa lagi?” tanya Chanyeol lembut sem-bari setengah berbisik di dekat telinga Haerin. Gadis itu pun masih terisak kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan, tepat saat Kai keluar dari kamar mandi.

Kai berdiri seperti anak kecil yang hilang saat menyadari bah-wa seluruh orang yang berada di rumah itu langsung melihat kearahnya. Terlebih Sehun yang tatapan dinginnya berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

Ya, Haerin… dan Kai? Kenapa kalian bisa keluar dari kamar mandi yang sama…? Dan Kai, kenapa gadis itu menangis?” ta-nya Suho kebingungan. Wajah Kai kali ini pun menjadi seperti ‘maling yang tertangkap basah sedang mencuri apel’, yang lainnya pun masih menatap Kai dengan penuh pertanyaan.

Chanyeol pun masih berusaha untuk menenangkan Haerin, Jihwa hanya mendesah melihat gadis itu yang tertangkap ma-salah tanpa henti. Dengan raut bersalah, Kai berjalan mende-kati Haerin dan Chanyeol.

Haerin yang melihat Kai sedang berjalan mendekati mereka semakin beringsut kedalam dekapan Chanyeol dan mem-benamkan wajah kecilnya, tidak mau melihat kearah Kai. Chanyeol yang melihat itu pun semakin ‘menyembunyikan’ Haerin didalam lengannya itu.

Ya, dasar pervert,” kata Chanyeol sambil mendorong lengan Kai pelan. Kai yang memang sudah dikenal oleh setiap mem-ber EXO karena kegemarannya menonton film yadong—por-no—menjadi selalu salah tingkah. Kai hampir saja merutukki Chanyeol yang sendirinya suka menonton film yadong bersa-manya kalau saja ia tidak melihat kearah kedua mata Haerin yang masih berlinang air mata—menatapnya sayu.

Kai menghembuskan napas berat, dirinya sungguh tidak tega melihat gadis yang berada dalam dekapan Chanyeol terus-te-rusan merasa takut pada dirinya. “Oh, Haerin-ah, jeongmal mianhae—aku benar-benar minta maaf,” ucap Kai lembut sambil berusaha memegang tangan Haerin. Awalnya Haerin selalu menarik kembali tangannya jika berhasil disentuh oleh Kai, tetapi kali ini ia membiarkan Kai menggenggam tangan kanannya. Ia bahkan sedikit meremas telapak tangan lelaki itu, membuat Kai tersenyum.

Chanyeol pun ikut tersenyum saat Haerin mengangkat tubuh-nya dari dekapan Chanyeol. Gadis itu sekarang mulai membe-ranikan diri untuk menatap Kai, sementara Kai hanya nyengir dan menyubit pipi Haerin pelan. Haerin hanya menatap Kai dengan intens, seakan-akan sedang bertelepati dengan me-ngatakan ‘Jangan takuti aku seperti itu lagi, aku sangat kaget’ kepada Kai.

Kai pun mengangguk, “Tidak akan pernah lagi,” sedangkan Haerin membulatkan kedua matanya, apakah dia secara tidak sengaja menyuarakan pikirannya tadi?

Haerin masih saja terlihat bingung sementara Chanyeol dan Kai tertawa kecil melihat tampang Haerin yang benar-benar polos. Bahkan Chanyeol secara refleks mencubit hidung Hae-rin pelan, membuat sang empunya meringis pelan sembari mengelus-elus hidungnya.

Dan member yang lainnya pun sudah kembali menghela na-pas lega karena Haerin sudah kembali tenang seperti biasa.

====================

Eonni, kau mau cokelat panas atau teh hijau seperti yang lain?” tanya Haerin sambil memegang mug kosong. Menurut Haerin rasanya tidak adil jika ia tidak membalas perbuatan baik Jihwa yang sudah mau bersusah-susah untuk mencari di-rinya kemarin. Yah, walaupun hanya kebaikan kecil yang bisa dibalas oleh Haerin.

Jihwa tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari tele-visi, ia hanya menjatuhkan kedua bahunya sambil tetap me-mencet tombol-tombol yang berada pada remote. “Terserah kau saja,”

Haerin pun mengangguk sambil memutar kedua bola mata-nya sekilas lalu berjalan kembali karah dapur untuk menemui D.O dan memberitahu pesanan Jihwa.

Oppa, dia bilang terserah saja,” kata Haerin pelan seraya menaruh mug kosong itu diatas konter. D.O membalikkan ba-dannya agar menatap gadis itu sambil mengelap gelas-gelas yang baru saja dicuci.

Sesungguhnya Haerin ingin sekali mencubit member EXO-K yang satu ini. Bagaimana tidak, D.O sangatlah terlihat imut dan polos, ukuran tubuhnya memang bisa dibilang kecil di-banding tubuh Chanyeol atau Kai atau Sehun, kedua mata-nya yang besar sangat lucu jika ia sedang kaget. Terlebih lagi ia pintar memasak. Yah, sebenarnya jika dibandingkan de-ngan Sehun, Baekhyun atau D.O-lah yang lebih cocok menja-di magnae. Dan Haerin sangat suka dengan eye-smile milik Baekhyun.

Arrasseo—baiklah,” jawab D.O seraya meletakkan gelas-gelas yang baru saja dikeringkan pada rak gelas. Kemudian ia mengambil mug yang tadi diletakkan Haerin diatas konter. Haerin pun memutar tubuhnya sambil bersandar di pinggir konter, matanya jelalatan memerhatikan orang-orang yang berada di apartemen. Chanyeol dan Baekhyun yang bermain video game non-stop sejak pagi, Suho yang sedang melewati mereka pun tak segan mengetuk kepala mereka berdua de-ngan majalah otomotif yang sedang ia baca, kemudian me-marahi kedua lelaki itu karena terlalu sering bermain. Kai yang kelihatannya sedang mengetik sesuatu di iPad miliknya, tetapi sebenarnya sedang bermain Angry Bird. Sehun yang terlelap diatas sofa, dan Jihwa yang sedang beralih untuk mengambil ponselnya diatas meja.

D.O yang sudah selesai membuat minuman untuk Jihwa pun menyenggol lengan Haerin yang masih terpaku melihat kea-rah ruang tengah dengan pelan. Haerin pun sedikit tersentak lalu ia memutar tubuhnya untuk mengambil mug yang D.O genggam lalu nyengir sekilas. Untung saja D.O tidak menya-dari bahwa sedari tadi Haerin memerhatikan sosok Sehun yang damai dalam tidurnya.

Haerin melangkah mendekati Jihwa yang sedang berkutat de-ngan ponselnya. Perlahan Haerin meletakkan mug yang ia ba-wa itu di meja kecil sebelah kursi yang Jihwa dudukki. Sejak Jihwa bahkan tidak menatapnya sama sekali, Haerin pun ber-jinjit-jinjit pergi dari situ.

Gadis berumur lima belas tahun itu mencari tempat dimana ia bisa duduk. Namun sejauh matanya melihat, tempat yang bisa ia dudukki hanyalah lima puluh sentimeter disebelah ka-ki milik Sehun yang sedang tertidur pulas. Haerin melengos, dengan berat hati dan berat langkah, ia pun menggerakkan kakinya kearah sofa, berhati-hati saat akan duduk agar tidak membangunkan pangeran es di sebelahnya. Perlahan-lahan agar tidak menyentuh kaki dengan jari-jari ramping dan ber-warna putih pucat itu.

Sampai akhirnya ia dapat duduk dengan tenang. Sampai ak-hirnya Sehun meregangkan kedua kaki panjangnya.

Mata Haerin membelalak sementara yang lain tidak menya-dari kepanikan Haerin saat kedua kaki yang berada di pang-kuannya mulai bergerak-gerak asal. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sampai memutih. Ia melirik kearah Jihwa, tetapi gadis itu bahkan tidak mempunyai waktu kurang dari sedetik hanya untuk melihatnya, tangan Jihwa bergerak untuk me-ngambil mug yang Haerin taruh diatas meja.

Sehun yang sepertinya menyadari bahwa posisi kakinya tidak nyaman, akhirnya ia menarik kembali kedua kakinya, dan me-lipatnya agar bisa lelaki itu peluk. Haerin yang sedari tadi ha-nya menatap Sehun yang tengah tertidur tersenyum kecil sa-at melihat Sehun yang tidur sambil memeluk kedua kakinya.

Dua detik kemudian, semua digemparkan oleh Jihwa yang terbatuk heboh.

15 pemikiran pada “A Long Summer with 6+1 (Part 9)

Tinggalkan Balasan ke ♥ Linia Aulia ♥ (@NiaNiotd) Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s