A Stranger In Bus

A STRANGER IN BUS

Judul: A Stranger in Bus

Author: Kyn

Genre: Romance, Fluff

Rating: General

Cast: EXO-M Tao

edit________________________

 

Balok pengangkut manusia itu berjalan lamat-lamat, menikmati suasana Seoul yang cerah. Tidak banyak manusia yang naik hari itu. Entah apa sebabnya, namun siapa pun pasti mengerti bahwa menggunakan kendaraan pribadi akan jauh lebih praktis daripada harus duduk berdesakan dalam sebuah kendaraan umum seperti bus yang tengah bergerak lambat siang itu itu.

Deretan bangku-bangku itu bersusun rapih ke belakang sesuai lajur masing-masing. Seorang lelaki tambun berwajah hangat menjadi pengemudi bus siang itu. Semua penumpang menyukainya. Ia selalu menyanyikan lagu-lagu trot, tidak jarang juga ia menyanyikan lagu artis-artis Hallyu yang tengah naik daun saat ini.

Lajur kanan, bangku ketiga dari belakang. Hayoung tengah melempar pandang keluar jendela. Sinar matahari yang hangat menangkup lembut kedua pipi tembamnya. Hayoung selalu suka matahari. Matahari selalu hangat dan menyenangkan. Hayoung sangat betah berada terlalu lama di bawah mentari tanpa pernah takut kulitnya menghitam. Sebaliknya, ia amat sangat membenci hujan. Ada sesuatu hal yang membuatnya begitu membenci benda itu.

Sebuah earphone dengan hiasan kepala panda di ujungnya terpasang lekat di kedua telinga Hayoung –menjadi media penyambung untaian melodi bernama nada yang mengalun dari iPod merah jambunya untuk kemudian masuk ke dalam telinganya. Sesekali bibir mungil Hayoung bergerak, bersenandung mengikuti lagu dengan tempo sedang kesukaan Hayoung.

Bus berhenti di sebuah halte. Seorang lelaki berwajah dingin muncul dari balik pintu yang terbuka –tipikal wajah tampan dengan sisi dingin yang luar biasa misterius dengan kantung mata yang tebal seperti orang yang kurang tidur. Pandangan matanya tajam, sedikit banyak mengganggu Hayoung dan membuat gadis itu sedikit ngeri melihatnya. Lelaki itu menggenggam minuman yang terbungkus gelas karton di tangan kanannya. Tanpa banyak bicara ia melesakkan pantatnya di sisi Hayoung yang masih asyik dengan pemandangan di luar jendela.

Hayoung menoleh sebentar –sedikit merasa terganggu dengan kehadiran orang asing di sebelahnya. Ia bukan tipe gadis yang mudah akrab dengan orang lain, terutama dengan tipikal manusia es seperti lelaki di sebelahnya.

“Ini.” Sebuah tangan yang terbalut sweater biru tua terjulur di depannya. Tangan itu menggenggam segelas minuman dengan aroma kopi yang menguar kuat dari dalamnya.

“Eh?” Hayoung mengangkat alis kanannya, menunjukkan wajah heran. “Untukku?” tanyanya ragu. Telunjuk kanannya menunjuk pada dirinya sendiri.

“Tentu saja.” Jawab laki-laki itu dengan mata yang menatap lurus ke depan.

Gadis itu mengernyitkan dahi heran. Ini sesuatu yang aneh baginya. Baru saja seorang lelaki menawarkan segelas minuman kepadanya tanpa tersenyum sedikitpun. Oh jangankan tersenyum, melihat wajah Hayoung pun tidak. Bagaimana jika seandainya lelaki itu membubuhkan sesuatu ke dalam minumannya? Bagaimana jika lelaki itu adalah orang jahat yang berniat melakukan sesuatu yang jahat kepadanya?

“Tenang saja. Aku tidak membubuhkan apapun ke dalamnya.” Sahut laki-laki itu tandas –masih dengan ekspresi datar yang sama, seakan bisa membaca pikiran Hayoung.

“Ah uh…” Hayoung menganggukkan kepalanya canggung. Bibirnya menyeruput minuman dalam gelas. Hanya sedikit memang, namun membuatnya mengernyit keheranan tiba-tiba.

“Kopi?” Tanya gadis itu. Mata bulatnya sibuk menilik apa yang ada dalam agelas karton itu sementara ia sendiri memasang wajah masam, kentara sekali bahwa ia tidak terlalu menyukai apapun yang berhubungan dengan cairan berwarna cokelat muda yang ada di dalam gelas karton dalam genggaman tangannya.

“Bukan. Itu vanilla latte. Mantan kekasihku suka sekali minuman itu.”

Hayoung mengernyitkan dahi, heran. Apa baru saja lelaki di sebelahnya membicarakan tentang seorang gadis yang tidak ada di antara mereka berdua?

“Aku tidak begitu suka latte atau semacamnya, tapi… terimakasih.” Jawab gadis itu pada akhirnya. Ia kembali asyik melempar pandang ke luar jendela, menikmati hiruk pikuk Seoul di siang hari yang cerah.

“Jung Hayoung…. Itu namamu?” lelaki di sebelahnya melirik ke arah sebuah buku literatur super tebal di pangkuan Hayoung. Membuat gadis itu kembali menatap wajah tampan di sebelahnya dengan setengah hati.

“Ya. Ada masalah?” Tanya Hayoung lagi dan lelaki di sebelahnya hanya menghela napas berat. Seperti ada sesuatu yang membebani dadanya hingga untuk bernapas pun ia merasa berat.

“Hayoung…. Nama yang indah.” Kata laki-laki itu, balas menatap Hayoung dengan pandangan yang teduh –menurut  gadis itu. “Mantan kekasihku bernama Yeosin. Dia… cantik sekali, seperti bunga pertama yang mekar di musim semi.” Lanjutnya lagi.

Hayoung mengerutkan kening. Apakah lelaki ini baru saja membicarakan tentang gadis yang sama dengan gadis lain yang juga menyukai vanilla latte? Seorang gadis yang bahkan tidak pernah Hayoung lihat sebelumnya.

“Aku bisa membayangkan wajahnya hanya dari mendengar namanya saja.” Jawab Hayoung seraya tersenyum tipis. Berpura-pura tertarik pada pembicaraan itu walaupun sebetulnya ia enggan juga membicarakan seseorang yang bahkan tidak ia kenal. Namun lelaki di sisinya seolah tidak lelah untuk membuat Hayoung berjengit heran atau sekedar bergumam kecil untuk menimpali ucapannya.

“Dan ia hanya mantan kekasihku. Seharusnya… aku melupakannya.” Sahut laki-laki itu. Raut wajahnya masih tetap sama, datar dan nyaris tanpa emosi. Namun Hayoung cukup pintar untuk bisa menangkap sinar kehilangan di mata lelaki itu. Sepasang mata dengan bola mata sekelam jelaga dn menyedot Hayoung ke dalam pusarannya. Sepasang mata yang tiba-tiba menjadi menarik di mata Hayoung.

Gadis itu tersenyum kecil, menatap si lelaki misterius yang kini menatap balik ke arahnya. “Tidak harus melupakannya. Kau masih boleh memilikinya, dalam hati.” Ia menatap lelaki itu sekilas sebelum akhirnya kembali melihat keluar jendela.

Lama tak ada suara hingga akhirnya lelaki itu menyahut pelan. Terlalu pelan untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk Hayoung yang kini memutar bola matanya kesal –menunjukkan ekspresi jengah atas pertanyaan paling tidak penting yang dilontarkan lelaki itu.

“Menurutmu begitu?”

“Tidak usah pedulikan omonganku. Aku hanya mengatakan apapun yang sedang kupikirkan saat ini. Tidak usah dipedulikan.” Lanjut Hayoung sambil mengibaskan tangannya ke udara. Merasa konyol karena baru saja mengatakan sesuatu hal yang terdengar omong kosong pada orang asing yang baru ia kenal tidak sampai 3600 detik yang lalu.

Laki-laki itu menghela napas pelan. Tangannya meraba permukaan bangku yang tengah ia duduki bersama Hayoung saat ini. Tatapan matanya berubah sayu.

“Bangku ini adalah bangku favorit kami, dulu.” Ujarnya sambil tersenyum pilu. “Dulu sekali, sebelum hubungan kami berakhir.”

“Kau masih mencintainya?” Tanya Hayoung datar. Tidak benar-benar bertanya sebenarnya, mengingat ia hanya berpura-pura untuk terlihat tidak terlalu mengacuhkan lelaki asing itu.

“Eung…” Laki-laki itu menggaruk tengkuknya, terlihat canggung dengan pertanyaan Hayoung yang tiba-tiba. “Sepertinya. Aku seolah hidup dalam baying-bayangnya. Aku tidak sanggup kalau harus mengenyahkannya dari pikiranku. Kau tahu? Jatuh cinta padanya itu seperti anugrah dari Tuhan. Mustahil kalau aku memaksa untuk mengabaikan anugrah itu. Itu termasuk dalam dosa besar Hayoung-sshi. Kau tahu? Menyia-nyiakan pemberian dari Tuhan….”

Hayoung kembali menatap lelaki di sebelahnya. Bibir mungilnya menyunggingkan senyuman kecil. “Kalau begitu lakukan sesuatu agar kau bisa segera melupakannya. Eumm… tidak benar-benar melupakan sebenarnya. Mungkin menghilangkan sekitar setengah persen candu gadis itu dalam otakmu.”

Lelaki itu menyorot mata Hayoung dengan pandangan teduhnya yang intens dan membuat pipi gadis itu merona merah. Disadari atau tidak, namun sedikit demi sedikit pandangan teduh dari lelaki di sebelahnya membuat Hayoung seperti terbius. Mungkinkah kali ini lelaki itu yang menjadi candu bagi Hayoung? Sepasang mata kelam itu entah sejak kapan membuat Hayoung tak bosan memandanginya.

“Oh ya? Bagaimana caranya?” Tanya lelaki itu lagi, tanpa mengurangi tatapan teduhnya dari kedua mata bulat Hayoung., membuat gadis itu balas menatap lekat seolah tidak ingin kehilangan sinar mata sehangat matahari dari lelaki asing itu.

“Mudah saja. Kau bilang bahwa bangku ini adalah bangku kenanganmu dengan gadis itu. Mengapa tidak coba untuk pindah tempat saja?” Hayoung berdiri dan berjalan ke salah satu bangku di lajur kiri, deret ketiga dari depan “Kemarilah.”

Lelaki itu menatap Hayoung ragu, seakan tidak yakin dengan dengan keputusannya ini. Pikirannya masih kacau, apakah tidak apa-apa seandainya ia meninggalkan mantan gadisnya itu bersama kenangan mereka yang sudah lalu bersama waktu? Sedikit sulit.

Hayoung menggembungkan kedua pipinya gemas. Belum ada dua menit yang lalu lelaki itu menyetujui ajakannya dan sekarang ia malah sibuk mematung –kembali memandang Hayoung dengan tatapan kosong. Hayoung berjalan menghampiri lelaki asing itu. Tangannya menggenggam erat pergelangan tangan lelaki itu dan membawanya menuju bangku mereka yang baru.

Lelaki itu tercekat merasakan pergelangan tangannya ditarik oleh jemari lentik Hayoung. Ia terkesiap merasakan hangatnya tangannya yang kini menggenggam nadinya. Selain gadis dari masa lalunya itu tidak pernah ada orang lain yang bisa memberikan kehangatan yang sama. Tidak ada, kecuali gadis asing bernama Jung Hayoung ini.

Hayoung mengambil tempat di sisi jendela. Tangan kanannya menepuk lembut sisi bangku yang kosong dan beralih menatap lelaki asing yang masih berdiri terpaku.

“Duduklah.” Pinta Hayoung lembut sementara lelaki di sebelahnya hanya berdiri kaku sebelum akhirnya turut menghempaskan tubuhnya di sisi Hayoung.

“Jadi tuan –err….” Hayoung berjengit geli, menyadari bahwa ia sama sekali tidak mengetahui nama lelaki di sebelahnya. Kedengarannya tidak adil mengingat lelaki itu telah mengetahui namanya lebih dulu. “Maaf tuan, tapi sebelumnya bolehkah aku bertanya siapa namamu? Kukira dalam sebuah perkenalan tidak hanya kau yang boleh tahu namaku tapi kurasa aku juga berhak tahu namamu.”

Gadis itu tertawa. Suaranya terdengar seperti denting lonceng pertama di malam natal. Kedua matanya yang bulat kini menyipit bak bulan sabit tertelan bulatan di kedua pipinya. Lelaki asing itu tanpa sadar terpaku sendiri. Ada sesuatu yang lain dengan gadis ini. Sesuatu yang membuatnya nyaman, hanya saja ia sendiri tak tahu harus bagaimana mendefinisikan perasaan itu.

Lelaki asing itu tersenyum –senyuman pertamanya di hari pertama musim semi milik Hayoung. “Namaku Tao. Huang Zi Tao”

“Jadi Tao-sshi.” Hayoung memutar posisi duduknya, berhadapan dengan wajah dingin yang kini mulai melunak milik Tao. Gadis itu tersenyum simpul, menunjukkan sepasang lesung pipit di kedua pipi tembamnya yang bisa membuat Tao mendadak lupa bagaimana caranya bernapas selama beberapa detik. Bunga tercantik yang mekar pertama kali di musim semi tergambar jelas di sorot mata kecoklatan milik gadis di hadapannya. “Bisakah kau ceritakan secara lengkap seperti apa gadismu itu?”

-END-

17 pemikiran pada “A Stranger In Bus

  1. kukira hayoung yg bakal bersikap acuh tak acuh. ternyata malah tao yg bawel. jadi ceritanya love at the first sight nih? :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s