Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 5)

Different is beautiful. Beautiful is you. (cover)

Author : @Alyakkk

Genre : Romance, Teenager life, Friendship, (little bit) Comedy

Length : Multi chapter

Main cast :      – Kim Hyeon
– Jung Soona
– Byun Baekhyun
– Xi Luhan

Other cast :    – Tuan dan Nyonya Byun
– Byun Hyunji
– Tuan dan Nyonya Jung
– EXO-K

Different is Beautiful. Beautiful is you.

5

Bukan hanya Baekhyun-ah saja yang berulangkali berlari menjauh sampai terjatuh terjerembat, Hyunji-ya dan aku sampai terpingkal-pingkal dan tak sanggup berdiri lagi.

Lihat saja ekspresinya tadi saat aku menunjukkan ‘itu’ di depan batang hidungnya, dan kemudian mengejarnya kemanapun dia pergi. Ekspresinya itu melebihi melihat hantu saja. Dia benar-benar sangat ketakutan. Bahkan wajahnya terlihat merah padam.

Aku mencoba berdiri sambil memegangi perutku yang sakit karena terus-terusan tertawa. Sementara dia sekarang, berdiri 5 meter dariku dengan wajah was-was, panik dan takut bercampur jadi satu. Melihat raut wajahnya yang campur aduk itu, membuatku lagi-lagi tak sanggup menahan tawaku. Omona~ Tawa ini sekarang terasa seperti menyiksaku ><

Tak kusangka, apa yang Hyunji-ya katakan sangatlah benar. Ekspresinya ketika melihat cacing melebihi orang melihat dinosaurus di depan. Bahkan apa yang  kubayangkan sebelumnya tentang ekspresinya itu, 180˚ berbeda. Apa yang kubayangkan ternyata terlalu biasa dan sangatlah berbeda dengan yang kulihat sekarang. Ini lebih dari kata luar biasa.

“Aigoo~ Hyeon-ah, singkirkan hewan menjijikkan itu dari sini!”serunya masih dengan ekspresi campur aduknya itu.

Aku mencoba menghentikan tawaku, kemudian berdeham kecil.”Waeyo? Lagipula, hewan ini, kan, ada ditoples sekarang. Dia juga tidak menggigit kok.”ujarku. Sementara diujung sana, aku masih mendengar gelak tawa mengejek dari Hyunji-ya. Melihatnya, rasanya aku ingin tertawa lagi.

“K-kau! Kalau tidak juga kau singkirkan aku akan… aku..”ancamnya padaku, tetapi menggantung sebelum dia benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Sepertinya dia tengah memikirkan ancaman yang tepat untukku.

“Yakk! Memang apa yang bisa kau lakukan eoh? Dengan cacing saja kau takut, bagaimana denganku?”tukasku.

Dia menatapku cepat.“Yakk! Kalau begitu aku akan…”Kalimatnya lagi-lagi menggantung dan dari ekor matanya aku melihat dia melirik ke dalam rumahnya itu. Hmm… rasanya aku mengerti.

Aku tersenyum meremehkan.“Panggil saja pengawalmu.”ujarku sambil memainkan toples di tanganku.”Lariku lebih cepat daripada mereka, yang begitu juga hewan ini akan mendarat cepat di tubuhmu. Kau mau eoh?”

Mendengar ucapanku bola matanya melebar dua kali lipat. Haha, mau mengancamku? Aku tidak takut pada apapun asal kau tau eoh :p

Dia menggeleng tegas seraya memajukan tangannya seolah menahan niatku yang sebenarnya asal saja kuucapkan. “AA-ANIYA~! Aku, aku tidak akan bilang apapun.”ucapnya.

Aku tertawa lagi melihat ekspresinya itu. Meski jarak kami cukup jauh, dan kami harus sedikit berteriak agar terdengar, tapi rautnya wajahnya yang unik itu jelas sekali terlihat olehku.

“Ahaha, kalau kau mau hewan ini menjauh dari sini, ambil saja sendiri. Lalu terserah kau mau buang kemana.”ucapku setelah sebuah ide brilian melintas di benakku. “Ambil saja. Dia, kan, ada di dalam toples juga. Atau, kau mau aku mengantarkannya padamu heum?”

Lagi-lagi dia menggeleng cepat.“Aniya, aniya! Tidak perlu.”

“Ya sudah, ambil saja sekarang. Cepatlah. Toplesnya aku taruh sini ne.”ujarku sembari menaruh toples cukup jauh dariku meski sebenarnya masih berada dalam jangkauan tanganku. Aku lalu melingkarkan tanganku pada kedua lututku yang sedikit ditekuk.

“Yakk! Eonnie~ Kenapa kau berikan padanya?”protes Hyunji-ah tidak setuju.

Aku menoleh.“Biarkan saja. Biar dia berani melawan ketakutannya itu Hyunnie~”jawabku kemudian tersenyum penuh arti. Dia hanya tersenyum kecil kemudian mengacungkan jempolnya.

“Baiklah. Aku ke dalam dulu ne? Aku haus.”tukasnya yang langsung berlari ke dalam rumah. Kini tinggal urusan antara aku, Baekhyun-ah dan ketakutannya itu :p

Dia masih berjalan ragu-ragu ke arahku. Jarakku dengannya tinggal 2 meter lagi. Aku hanya pura-pura tidak memperhatikannya dan kualihkan pandanganku ke segala arah. Sesekali kulirik jaraknya yang kini semakin mendekat. Berulang kali aku mencoba untuk menahan tawaku dan bersikap biasa saja.

Pabo kau Baekhyun-ah! Asal dia tahu saja, aku sudah menyiapkan satu ide brilian lagi untukmu. kkk~

Dia semakin dekat, dan kini tinggal 20 senti lagi.

15…

10…

Sebelum tangannya itu meraih toples itu dengan ragu-ragu, dengan cepat aku menyambarnya duluan.

“Yakk! Kena—“ Ketika tutup toples yang sebelumnya sudah kukendurkan itu siap kubuka dan kulemparkan isinya pada tubuh Baekhyun-ah, tak kusangka dia…

“Andwae!”

…mendorong tanganku kebelakang. Aku tidak tahu dimana dan kemana toples itu berada sekarang, aku—ani, kami—lebih tepatnya—sendiri terdiam dengan posisi kami sekarang.

Karena dia refleks mendorong tanganku dengan maksud berusaha menyingkirkan cacing di dalam toples dan—sekarang berhasil—menggagalkan niatku, dia tidak memikirkan lagi keseimbangan tubuhnya yang tentunya terlalu condong ke depan. Apalagi sebelumnya aku sempat merasakan kakiku tersenggol olehnya, dengan kata lain dia juga sempat tersandung sendiri dengan kakiku.

Yah… aku rasa kalian sudah bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya.

.

.

Dia terjerembat ke depan, sedangkan aku terdorong ke belakang karena dorongan cukup kuat darinya tadi. Yang dengan kata lain, dia jatuh tepat di atasku (re: menindihku) dengan kedua tangannya di atas tanganku yang terentang di atas kepalaku. Mataku membulat lebar karena jarakku dengannya sekarang hanya beberapa senti. Dan, aku hanya terdiam membisu dengan napas sedikit tercekat karena ini semua.

Aaaaaaargh! Kau pabo Hyeon-ah!!

~ ~ ~

Sementara itu…

“Hihi~ Mereka berdua memang sangat serasi. Mmm.. mungkin sesekali, aku harus membantu mereka. Suatu saat, aku yakin Hyeon eonnie akan menjadi yeojachingu Baekki oppa. ^^”

~~~

Kenapa aku begitu lemah sekarang? Ayolah tubuhku, mau sampai kapan seperti ini? >.<

Dari jarak sedekat ini, aku dapat dengan jelas tiap lekuk dan garis wajahnya. Bahkan lebam yang kini terlihat samar-samar di wajahnya dapat kuhitung berapa saja banyaknya. Entah kenapa, sesuatu besar dan kuat selalu menarik perhatian mataku untuk menatap kedua bola mata cokelatnya. Tapi, meski batinku sudah kutolak, tubuhku seolah bergerak sendiri hingga berulang kali mataku terpaku pada matanya.

Aigoo~ Kenapa aku sekarang seperti bertarung dengan diriku sendiri? ><

Tiba-tiba terdengar suara dering handphone yang menghenyak kami. Entahlah, mengapa aku berpikir begitu, tetapi perasaanku jadi lega karena dia langsung berdiri dengan canggung untuk menjawab telepon. Sedangkan aku, jadi merasa seperti orang paling bodoh dan memalukan di dunia ini.

Haiss, kenapa bisa-bisanya aku tidak bereaksi sama sekali tadi? Pabo! ><

Aku langsung beranjak menuju pot kecil yang menjadi tempat bibit pratikum kami. Tanpa berniat sedikitpun sebelumnya, aku mendengar pembicarannya di telepon.

“Ne, waeyo?”

“….”

“Oh, baiklah. Kalian bisa langsung masuk nanti.”

“….”

“Haha, ne, ne.”

“….”

“Baiklah. Sampai jumpa nanti. Annyeong.”

Mendengar pembicaraannya di telepon sudah usai, aku cepat-cepat meraih buku tulisku dan menulis apapun yang bisa kutulis disana. Tanpa berniat menoleh ke belakang dan menerka-nerka apa yang terjadi, aku menyibukkan diriku mengisi laporan di buku. Setelah selesai, aku beranjak dari sana dengan pot di tangan kiriku, dan berbalik hendak menanyakan dimana tempat yang tepat untuk menaruh pot ini.

“Oh!”

Lagi-lagi aku dikejutkan oleh kehadiran namja itu di belakangku. Hampir saja aku menabraknya dan menjatuhkan pot di tanganku, kalau aku tidak dengan cepat menahan gerakan kakiku.

Aiss, apa keluarga disini semuanya senang sekali muncul tiba-tiba dan mengagetkan orang eoh?

“Errr, mian mengagetkan—dan soal yang tadi, juga.”ujarnya sambil menggaruk belakang kepalanya. Dia terlihat gugup…?

“Oh, tak apa.”jawabku mencoba santai.”Oh ya, ngomong-ngomong kalau disini, dimana matahari biasanya terbit?”

Dia menatapku heran.“Mwo? Untuk apa kau menanyakan hal itu?”

Aigoo~ banyak tanya sekali dia ini -___-

“Yakk! Jawab saja. Ini untuk menentukan tempat yang tepat untuk menaruh pot ini.”ujarku sedikit sewot.

“Haiss… seingatku, sih, di sana.”ucapnya sambil menunjuk ke arah selatannya yang tentu berarti di sebelah kiriku.”Memang apa hubungannya eoh?”

“Tentu saja berhubungan.”jawabku tanpa berpaling menatap langit. Kuedarkan pandanganku ke langit seraya mundur beberapa langkah.  Melihat beberapa perkiraan arah angin sambil menerka-nerka. Setelah berpikir dan memperkiraan beberapa saat, akhirnya aku menemukan tempat yang tepat. Tempat yang cukup strategis karena akan mendapatkan sinar matahari full dan tidak jauh dari jangkauan sumber air.

“Yakk! Kenapa tanamannya kau taruh disana?”protes Baekhyun-ah membuatku menatapnya sengit.

“Haiss, pabo! Kalau kau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam saja.”tukasku sambil berdiri kemudian membersihkan tanganku dari sisa tanah.”Pokoknya, kalau sampai aku melihat tanaman ini dipindahkan satu senti saja, akan kumasukkan setoples cacing ke dalam tasmu. Mau?”

Dia menggeleng tegas dengan tatapan horor terarah padaku. Lalu, aku melenggang pergi melewatinya untuk mengambil buku tulisku.

“Ngg, tapi.. bagaimana dengan.. laporannya?”

Aku memutar bola mataku malas dan mendengus pelan. Omo~ Mana mungkin membuat laporan saja tidak bisa? -_-

Dengan malas aku berbalik.”Ne, kau bisa melihat punyaku nanti.”

“Ah! Jeongmal?”tanyanya yang seketika mengikutiku.

“Ne, ne.”jawabku malas sambil mulai menulis beberapa laporan lagi.”Tapi, setiap hari kau harus rajin menyirami tanaman ini. Awas saja kalau sampai lupa.”

“Tapi—“

Aku berbalik seketika membuatnya terdiam.“Tidak ada bantuan atau pertolongan untuk menyiram tanaman ini—termasuk tukang kebunmu. Karena ini harus kau lakukan sendiri karena kau akan kutanyakan kapan dan jam berapa.”potongku sambil beberapa kali menggerakkan penaku di depannya.“Ingat! Tidak ada pengecualian dan tidak ada istilah ‘aku rasa’. Ini pratikum, butuh laporan pasti dan sesuai kenyataan. Ingat, kan, kalau kita akan mempresentasikannya nanti.”

Kulihat dia hendak membuka suara, tapi aku sengaja berbicara lebih dulu darinya. Membuatnya kembali bungkam.

“Dan—sekali lagi—awas saja kalau aku lihat ini berpindah posisi satu senti saja. Tahu akibatnya arraseo?”ancamku.

Tanpa banyak komentar, dia hanya mengangguk mantap. Aku tersenyum tipis seraya mengangguk singkat.

“Bagus. Dan, oh ya, bisa aku—“

Kali ini kalimatku yang terpotong karena suara klakson mobil membuat kami menoleh ke sumber suara. Sebuah mobil sport merah baru saja berhenti melaju tepat tidak jauh dari kami. Mobil itu berhenti di tengah-tengah jalan masuk, sekitar 3 meter dari gerbang masuk.

Aku menatap penasaran pemiliki mobil tersebut. Siapa mereka? batinku. Sangat tidak mungkin itu kedua orang tuanya. Memangnya orang tua mana yang tidak kenal umur memakai mobil sport dengan body elegan seperti itu. Yang ada hanya mobil elegan seperti limusin atau semacamnya. Apa mungkin itu saudaranya?

Saudara yang mana? Bukankah saudara kandungnya hanya Hyunji-ya? Apa mungkin—ah, ne! Bukankah dia tadi baru saja menerima telepon dari seseorang?  Apa itu mereka yang ditelepon eoh?

Kulirik sekilas raut wajah namja di depanku ini. Haiss, sepertinya itu teman-temannya—mungkin.

Aku mengangkat bahuku tidak peduli. Merasa tidak penting dan sama sekali bukan urusanku, aku melanjutkan menulis laporan. Kali ini dari tanaman pratikum kami. Aku penasaran dengan apa saja yang dilakukan oleh namja itu sebelumnya. Dia terlihat serius sekali tadi -,-

***

Suara klakson mobil yang masih kukenal membuatku menoleh. Ah.. itu mereka.

Yup, mereka! Para chingu-ku selama di Korea dulu sebelum berangkat ke USA. Masih dengan mobil sport yang selalu dibawa jika berpergian bersama.

Satu persatu dari mereka keluar dari mobil. Kalau boleh kuakui, mereka bisa dikatakan sama sederajatnya denganku. Maksudku, mereka semua berasal dari keluarga konglomerat dengan kasta masing-masing. Beberapa dari orang tua mereka bahkan sempat menjalin kerja sama bersama. Meskipun begitu, kedekatan dan keakrabanku dengan mereka bukan karena itu. Itu karena sejak awal bertemu kami sudah akrab satu sama lain tanpa memandang asal keluarga kami.

Well, bisa dikatakan sama seperti pertemuanku dengan Luhan-ah, Soona-ya dan Hyeon-ah.

“Annyeong, Baekhyun-ah!”ucap salah satu namja—yang sejak awal sampai saat ini—yang paling tinggi. Dia, Chanyeol.

“Annyeong!”sapaku balik dengan senyum merekah, kemudian berlari kecil mendekat ke arah mereka.

“Sudah lama kita tidak bertemu eoh? Bagaimana liburanmu di USA?”tanya si alis tebal—eh, maksudku D.O :p

“Haiss.. liburan darimana? Aku disana sekolah tahu -_-”tukasku, yang disambut gelak tawa semuanya.

“Kau sedang mengerjakan tugas atau pacaran heum?”tanya si wajah sok datar dan dingin a.k.a Sehun sambil menatap lurus sesuatu di belakangku. Refleks semua menoleh ke arah pandangannya.

Aku pun ikut-ikutan menoleh ke belakang.”Oh, dia teman sekelompokku—Hyeon-ah.”jawabku.

“Dia.. manis.”ucap si bibir tebal a.k.a Kai yang—yah, sejujurnya benar.

“Yah, untuk kalian yang pertama kali melihatnya, sih, pasti berpikiran begitu. Tapi, kalau kalian sudah mengenalnya, kalian pasti berpikir dua kali untuk berkata seperti tadi.”terangku.

“Jadi, kau berpacaran dengannya eoh?”celetuk—yang katanya—si karismatik a.k.a Suho, membuatku mendelik tajam ke arahnya.

“Aniya~ Siapa bilang begitu? Aku dan dia hanya teman sekelompok, tidak lebih.”jawabku jadi sedikit sewot dikatakan begitu. Meski sesuatu yang menyenangkan bergejolak di dalam tubuhku mendengar tudingan tadi. Entah itu apa.

“Jeongmal? Bagaimana kau bisa tahu sangat tepat tentangnya?”tanya Chanyeol seolah mengintrograsiku.

“Yakk! Semua orang tahu itu.”tukasku.”Dan, kalian akan tahu itu.”

Sejenak kami terdiam, dan entah kenapa semuanya jadi fokus melihat satu orang yang sama. Haiss, apa-apaan ini sekarang? -.-

Kulihat Hyeon-ah, yang tengah sibuk dengan pot itu—entah apa yang dilakukannya—tiba-tiba menoleh ke arah kami—tepatnya ke arahku.

“Yakk! Baekhyun-ah! Kau taruh mana bibitnya?”tanyanya setengah berteriak.

Omo~ Jadi sedari tadi dia mengacak-acak isi pot itu?

“Mwo? Apa maksudmu? Aku menaruhnya disana.”jawabku sedikit cemas. Rasanya aku sudah benar menanamnya disana.

Dia kembali menatap pot itu dan mencari-cari. Sehingga tanah yang ada didalamnya mau tak mau berhamburan keluar.”Dimana?”tanyanya mulai jengkel.

Aku menghela napas singkat, dan berbalik menatap teman-temanku.”Mm, sebaiknya kalian masuk saja duluan. Nanti aku menyusul eoh.”ucapku yang disambut anggukan singkat mereka.

Aku langsung menghampiri Hyeon-ah yang nampak gusar. Aku berjongkok di sebelahnya lalu kuambil pot di depannya itu. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku menemukan bibit tersebut.

“Nih!”ucapku seraya menunjukkannya.

Dia menatapku heran sambil mengambil bibit itu dari tanganku.”Kau taruh dimana memangnya, huh?”

“Disini.”jawabku sambil menunjukkan bekas letak bibit itu kutaruh.

Sedetik kemudian…

“Yakk! Pabo!”serunya seraya merampas pot di tanganku tadi.”Kalau kau taruh di dasar, seminggu mana sampai dia di permukaan.”

Dengan sigap dia merapikan kembali tanah tadi sekop. Setelah dianggapnya cukup, bibit tadi ditaruhnya tepat ditengah-tengah. Kemudian, dimasukkan lagi tanah yang berhamburan di luar sebagai alas untuk menutupi bibit tadi.

“Jaraknya dengan permukaan sekitar 2 atau 3 cm saja. Kau pasti tidak membaca prosedurnya, kan?”tukasnya membuatku bungkam.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.“Y-yah… aku kira tidak ada bedanya.”

“Haiss, kau ini. Bilang saja kau tidak membacanya.”ungkapnya sejujurnya benar.

“A-ani. Aku membacanya kok.”kilahku.

“Ne, ne. Terserahlah.”ucapnya malas. Kemudian, dia bangkit berdiri seraya membersihkan kedua tangannya.”Oh ya, bisa aku meminjam handphonemu untuk memfoto tanaman ini. Sebagai bukti perkembangan tanaman ini dari awal.”

Tanpa ragu, kuserahkan handphoneku dari saku celana. Dia mulai mengambil gambar untuk tanaman itu, sementara aku mengedarkan pandanganku sejenak.

“Sempurna.”ucapnya.”Nih. Jangan kau hapus gambarnya, nanti kalau semua ini sudah selesai kau yang kutugaskan untuk mencetaknya.”

Aku hanya mengangguk dalam diam seraya memasukkan handphone-ku lagi.

“Ini sudah sore. Aku mau pulang.”

Sedetik sebelum dia benar-benar pergi, aku bangkit seraya menahan tangannya.”Ani. Kau tidak boleh pulang dulu. Lagipula, ini masih jam setengah 3.”

“Yakk! Apa maksudmu melarangku? Peduli amat sekarang jam berapa, pokoknya aku mau pulang.”tolaknya kemudian berjalan kembali. Aku yang hendak menahannya dan berkata kembali terhenti saat dia tiba-tiba berbalik.”Dan tidak ada istilah berbaik hati untuk mengantarku pulang. Aku bisa sendiri.”

Setelah berkata itu, dia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tapi, aku tidak menyerah. Lagi-lagi aku menahannya dengan berdiri tepat di depannya.

“T-tunggu dulu. Kalau tidak keberatan, aku ingin mengenalkanmu dengan teman-temanku tadi.”ungkapku sebagai alasan mengapa aku melarangnya pulang dulu.

Alisnya bertautan di kening.”Mwo? Kalau aku keberatan bagaimana? Lagipula, apa untungnya aku mengenal mereka.”tolaknya kemudian berjalan kembali. Untuk kesekian kalinya aku menahannya lagi.

“Jebaal~ Untuk sekali ini saja ne? Sebentar saja kok.”pintaku.

“Aigoo~ Memangnya apa maksudmu mengenalkanku pada mereka?”tanyanya. Belum sempat aku menjawab, dia sudah berkata lagi.”Atau jangan-jangan… kau sudah menceritakan yang macam-macam tentangku, huh?”

“A-aniya. Aku tidak menceritakan apa-apa.”tukasku.”Aku hanya mau mengenalkanmu pada mereka. Itu saja.”

“Haisss, terserahlah.”katanya lagi-lagi melongos pergi begitu saja.

Senyum merekah langsung menghias wajahku. Itu semacam ‘kode’, kau tahu.”Jadi kau mau, ne?”

Dia hanya bergumam dan mengangguk singkat.

^^

***

Untuk kesekian kalinya aku menghela napasku malas. Aku sedang malas berdebat dengan namja ini. Jadi, biar ini semua cepat selesai dan aku bisa cepat pulang aku menuruti saja apa kehendaknya. Haiss, awas saja kalau dia diam-diam sedang mengerjaiku -,-

“Annyeong, semuanya!”sapanya pada kelima namja yang tengah asyik mengobrol di ruang tamu. Aku yang sebelumnya berjalan di depannya, kini mengekorinya dari belakang dengan langkah malas. Aigoo~ Kenapa aku jadi gugup begini? ><

“Annyeong, Baekhyun-ah! Bagaimana, apa kau sudah selesai?”tanya—entahlah siapa, aku tidak melihat siapa yang bertanya tadi—dan aku tidak mengenal seorangpun dari mereka.

“Ne, kalau kau masih lama juga tak apa. Kami siap, kok, untuk menghabiskan satu toples kuemu lagi.”tukas yang lainnya lagi yang disambut gelak tawa lainnya—termasuk namja di depanku ini.

“Haha, aniya~ Aku baru saja selesai.”jawabnya buka suara.”Oh ya, aku mau mengenalkan kepada kalian temanku tadi.”

Aku melihat tanda (re: kode) dari tangan di belakang punggungnya untuk mendekat dan berdiri di sebelahnya. Dengan langkah malas, aku berdiri di sebelahnya.

“Mwo? Yeoja yang tadi?”ucap seseorang yang memiliki alis paling tebal di antara yang lain.

“Ne.”jawab Baekhyun-ah. Masih dengan senyum di wajahnya dia mendekatkan sedikit kepalanya ke arahku kemudian berkata setengah berbisik.”Berbicaralah yang sopan, kalau kau tidak mau memalukan dirimu sendiri.”

Mwo? Apa katanya?

Cih, benar-benar menyebalkan!

Tanpa aba-aba, kuinjak kakinya yang masih di balut sepatu sekolah itu. Ekspresiku mungkin terlihat santai, tapi tidak dengan tenaga yang sudah kukumpulkan menjadi satu pada titik tumpuan kakiku. Alhasil, dia membungkam menahan sakit kemudian meringis pelan.

“Sekali lagi kau berkata seperti itu, kau akan mendapatkan masalah besar. Kau tahu itu.” tukasku setengah berbisik penuh tekanan.

Aku kemudian tersenyum tipis kepada lima pasang mata yang sepertinya mulai heran melihat gerak-gerik kami.”Annyeong haseyo. Kim Hyeon imnida. Mannaseo bangapseumnida.”ucapku memperkenalkan diri sambil membungkuk singkat.

“Ah, annyeong Hyeon-ssi. Park Chanyeol imnida.”

“Annyeong~ DO Kyungsoo imnida.”

“Kim Joon Myun imnida. Suho-rago hamnida.”

“Annyeong haseyo. Kim Jong In imnida. Kau bisa memanggilku Kai.”

“Oh Sehun imnida.”

Setelah perkenalan singkat dari mereka, dan sejenak mengingat-ingat nama dan wajah-wajah mereka yang memiliki perbedaan karakter masing-masing itu, aku melirik sedikit pada Baekhyun-ah yang sepertinya masih kesakitan karena ulahku tadi.

“Sekarang kau puas? Aku mau pulang.”ujarku, lalu segera beranjak pergi dari sana.

“Yakk! Hyeon-ah. Kau harus tanggung jawab pada kakiku!”serunya yang masih terdengar jelas olehku, tapi sengaja kuabaikan. Aku segera masuk ke ruang belajar tempat dimana aku menaruh tas dan skateboardku. Tanpa basa-basi, kukalungkan tali tas selempangku di leher dan memasang beberapa pelindung tubuhku.

Ketika aku tengah bersiap dan hendak keluar, seseorang mengetuk pintu dan langsung masuk. Aku sudah siap menyemburkan rentetan kalimatku jika dia adalah namja menyebalkan dan teraneh di seluruh dunia (re: Baekhyun). Tapi seketika semua kalimat itu hilang ketika yang kulihat sekarang adalah…

“Hyunji-ya? Ada apa?”tanyaku padanya.

“Hyeon eonnie mau pulang sekarang eoh?”ujarnya dengan wajah ditekuk.

Aku membungkuk sedikit ketika dia mendekat.”Ne, memangnya kenapa?”

“Jangan pulang dulu ne? Jebaaal~”pintanya sambil menarik-narik tanganku, membuatku menghela napas singkat. Aigoo~ Ternyata, maupun kakak atauadik sama-sama merepotkan juga -__-

“Waeyo?”tanyaku.

“Gambarkan aku sesuatu ne?”pintanya membuat bola mataku melebar.

Kenapa dia tiba-tiba memintaku menggambarkannya sesuatu?

“Gambarkan… sesuatu? T-tapi aku tidak—“

“Ayolah~ Aku tahu eonnie bisa menggambar dan semua gambarannya bagus-bagus, kok.”ucapnya membuat bola mataku semakin lebar saja.

“M-mwo? Darimana… kau—tahu?”tanyaku terbata-bata.

Apa mungkin Soona-ya yang memberitahunya?

Mendengar pertanyaanku, dia tiba-tiba bungkam dan menunduk ragu-ragu.“Ngg, sebelumnya aku mau minta maaf karena… sudah membuka-buka isi tasmu..ne?”

Mwo? Dia membuka tasku? Kapan?

Haiss, pasti saat di halaman tadi, setelah dia masuk ke dalam rumah. Tapi, ya sudahlah. Lebih baik kuturuti saja permintaanya. Toh, untuk apa aku mengelaknya lagi. Dia juga pasti sudah melihat semua isi tasku.

“Aigoo~ Ya sudah, tapi kau janji tidak memberitahu ini kepada oppamu ne?”ucapku, membuatnya mendongak kembali dengan wajah berbinar-binar.

Tanpa ragu, dia mengangguk mantap.“Baiklah. Aku tidak akan memberitahunya. Lagipula, apa untungnya aku memberitahunya.”tukasnya membuatku tersenyum kecil.“Kajja, kita ke atas!”

Aku hanya menurut dan mengikuti saat tangan kecilnya menarikku ke keluar. Saat aku teringat tangga penghubung jalan ke atas melewati ruang tamu, lagi-lagi aku merengut malas.

Dan benar saja, dia dan teman-temannya itu masih asyik mengobrol di ruang tamu. Aku pura-pura tidak peduli ketika matanya tiba-tiba terarah padaku. Kurasa dia pasti akan protes  melihatku dengan adiknya, terlebih kalau melihat kami melangkah menuju tangga.

“Yakk! Apa yang—“

Tuh, kan?

Aku berdecak kesal.“Kau tidak lihat siapa yang menarikku sekarang eoh?”sungutku memotong kalimatnya. Sementara aku mulai menaiki tangga karena tangan Hyunji-ya masih menarikku.

“Ne! Baekki oppa cerewet sekali, sih. “tukasku seraya berhenti.”Jangan suka mencampuri urusan yeoja, arra?”

Setelah berkata begitu, dia menarikku pelan tanganku lagi untuk mengikutinya. Susah payah aku menahan tawa setelah mendengar ucapan Hyunji-ah.

“M-mwo? Apa katamu tadi, Hyunji-ya?”ucap Baekhyun-ah—pasti sangat—tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

“Aniya~ Tidak penting juga.”jawab Hyunji-ya acuh tanpa menoleh. Omo~ Rasanya aku benar-benar ingin tertawa sekarang.

Sebelum aku benar-benar sampai di lantai dua dan menghilang dari pandangannya, kujulurkan lidah tanda mengejek kepadanya. kkk~ Rasakan itu Baekhyun-ah!

Hyunji-ya terus melangkah melewati kamarnya, dan mengajakku berjalan memutar ke suatu tempat. Oke, lebih tepatnya, balkon di lantai dua. Disana aku melihat sebuah kanvas berukuran sedang dengan cat minyak di atas meja tepat di sebelahnya. Kupercepat langkahku ke sana untuk mendekat.

Ani, ani. Aku bukan begitu tertarik dengan kanvas dan cat minyak itu, tapi aku terpana dengan apa yang kulihat sekarang. Senyumku langsung merekah lebar ketika mendapatkan suguhan pemandangan yang indah terpapar di depan mataku. Aku tidak menyangka ternyata bagian belakang rumah ini menghadap Namsan Tower yang entah mengapa terlihat jelas disini. Belum lagi, di tambah hamparan halaman belakang rumah ini yang luas dan dipenuhi beberapa pepohonan dan bunga yang disusun se-apik mungkin. Langit yang cerah dengan awan-awan berbagai macam bentuk menghiasi, menambah kesan sempurna untuk semua ini.

Ini sungguh daebaak!! ^^

“Ngg, eonnie?”tegur Hyunji-ya membuatku menoleh.”Tidak apa, kan, kalau aku menyediakan cat minyak? Soalnya kalau menggambar aku biasa menggunakan itu.”

“Ne, tidak apa Hyunnie~. Kau tahu, pemandangan ini terlalu bagus kalau hanya menggunakan pensil saja.”ucapku sambil mengacak sayang rambutnya yang panjang bergelombang.”Baiklah kalau begitu. Saatnya menggambar~!”

.

.

.

Karena terlalu asyik melukis,  tidak terasa 20 menit berlalu untuk menggambar ini semua.

“Selesai~”seru riang sambil memperhatikan gambarku sendiri.

“Huaaaa.. ini benar-benar daebaak~”puji Hyunji-ya.”Aku tidak menyangka, eonnie bisa menggambar sebagus ini dengan cepat.”

Aku hanya tersenyum kecil seraya membersihkan tanganku yang belepotan terkena cat minyak.

“Ngg, bolehkah ini untukku?”pinta Hyunji-ya dengan mata bulat indahnya itu.

Aku mengangguk kecil.”Ne, tentu saja.”jawabku.

“Jeongmal? Huaaaa… gomawo~ Eonnie baik sekali ^^”ucapnya seraya memelukku dari samping.

“Haha, ne, ne. Cheommanayo Hyunnie~”jawabku lalu mencubit hidung kecilnya yang menggemaskan.”Tapi kau harus ingat. Jangan sampai oppamu itu tau tentang lukisan ini, ne?”

Dia mengangguk dalam diam.“Tenang saja. Akan kusimpan di tempat teraman, kok.”jawabnya.

Kulirik jam tanganku yang hampir menunjukkan jam 15.00 KST.”Ah, sudah jam segini. Hyunnie, aku pulang dulu ne.”pamitku kemudian mulai berbenah.

“Eonnie, besok ajari aku menggambar sepertimu ne?”ucapnya, membuatku sejenak terdiam.

Besok?—Ah, tentu saja! Tugas pratikum, kan, jangka waktunya selama seminggu.

Eh, t-tunggu dulu. Seminggu? Bukankah.. itu berarti..

“Eonnie? Waeyo?”tegur Hyunji-ya membuatku terhenyak dari lamunanku. Seketika aku menyadari pasti wajahku terlihat pucat pasi.

“A-ani.”kilahku sambil terus berbenah.

Seminggu menyelesaikan dan mengikuti perkembangan tanaman pratikum, itu berarti selama seminggu penuh aku akan terus bertemu dengan namja aneh itu!!

Omo~ Bagaimana hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehku? ><

“Jadi, boleh, kan?”

Dahiku menyernyit heran dengan kalimat Hyunji-ya. Sepertinya gara-gara melamun tadi, aku jadi tidak begitu menyimaknya.”W-wae?”

“Aigoo~ Eonnie tadi memikirkan apa, sih? -__- Kataku, besok eonnie mau, kan, mengajariku menggambar sepertimu tadi?”ulang Hyunji-ya dengan wajah sedikit cemberut, karena kuakui aku tidak begitu memperhatikannya tadi.

Aku membungkuk sedikit menyamai tingginya.“Ne, Hyunnie. Pasti. Tapi, untuk sekarang, kau belajar sendiri dulu, ne?”ucapku kemudian mencolek hidungnya.

Dia tersenyum, kemudian manggut-manggut kecil.

“Baiklah, eonnie pulang dulu. Annyeong~”

Tanpa ingat lagi ada dimana aku sekarang, aku langsung menaiki skateboardku tanpa ragu -,- Terlebih saat aku akan menuruni tangga, seperti kebiasaanku  kalau di rumah atau sepulang dari sekolah ketika sudah sepi, aku menuruninya melewati pegangan pada tangga. Dengan menyeimbangkan tubuhku dan skateboardku, aku meluncur dengan mulus ke bawah.

Aigoo~ Aku benar-benar lupa. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur juga-.-

Tepat saat aku melompat turun ke bawah dengan skateboard jatuh ke bawah terlebih dahulu, pandanganku langsung bertemu dengan enam pasang mata yang menatapku dengan tatapan tercengang—entahlah.

“Wiiiih, tadi itu daebak eonnie~ Kau memang luar biasa!”seru Hyunji-ya dari atas yang ternyata mengikutiku dari belakang.

Aku menoleh, lalu tersenyum kecil padanya.”Ne, gomawo~”

“Hihi~ Annyeong eonnie~ Hati-hati dengan namja menyebalkan di depanmu!”serunya sebelum berlari kecil menjauh, mungkin dia takut mendapat semburan dari oppanya.

Oke, kembali pada apa yang ada di depanku. Haiss, mereka masih menatapku dengan pandangan yang membuatku jadi risih.

“Y-yakk! Apa yang kau tadi lakukan…? Tidak sopan sekali.”tukas Baekhyun-ah tiba-tiba buka suara.

“Wae? Tidak sopan denganmu juga, kan? Memang kau siapa? Lagipula, mungkin aku lebih tua darimu.”jawabku acuh kemudian menjulurkan lidahku padanya. Kemudian, lagi-lagi—karena sudah terlanjur—aku menaiki skateboardku lagi dan meluncur keluar rumah.

“Yakk! Kau tidak ingin diantar—“

Aigoo~ Harus berapa kali, sih, kubilang kalau aku tidak mau diantar. -__-

“Ani! Aku bisa pulang sendiri!”seruku setengah berteriak karena jarakku yang sudah cukup jauh darinya. Kulihat perlahan gerbang terbuka otomatis. Mm, baguslah.

Setelah keluar gerbang, sejenak aku mengamati arus jalan raya dan melihat-lihat lokasi sebentar. Rasanya aku masih mengingat jalan apa yang harus aku lalui. Aku melompat kecil bersama skateboardku, memutarnya bersamaan ke arah trotoar di sebelah kananku. Kemudian meluncur dengan mulus di antara pepohonan maple dengan daun-daun yang mulai berguguran.

***

“Aku sangat penasaran denganmu Baekki-ya. Bagaimana mungkin kau tidak tertarik dengan yeoja itu?”ujar Chanyeol entah sudah yang kesekian kalinya sambil mengelap peluhnya.

Lagi-lagi, sejak awal bermain basket sampai sudah ronde keempat ini, mereka semua membahas dan membicarakan Hyeon-ah tanpa henti. Entah mengapa, aku sangat tidak suka mereka membahasnya . Ani, ani. Bukan berarti aku membenci yeoja itu. Aku—entah kenapa—tidak suka mereka membahasnya seolah sangat tertarik dengannya. Seolah—akh! lupakan -_-

“Yakk, Baekki-ya! Aku berbicara padamu eoh.”seru Chanyeol yang menyenggol bahuku membuatku mengerjap-ngerjap tersadar. Haiss, aku melamun lagi eoh -.-

“Ng? Wae?”

“Kau ini.. sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu eoh?”tukas Chanyeol yang malah kemudian menggeleng-geleng.”Kataku, bagaimana mungkin kau tidak tertarik padanya—Hyeon-ah?”

“Mwo? Aku? Untuk apa? Kau tidak lihat bagaimana menyebalkannya dia tadi?”ujarku.”Kau bahkan belum lihat saja bagaimana cerewet, judes, dan garangnya kalau dia sudah mengomel.”

Dia meneguk air minum sebelum membalas kalimatku.”Eoh? Bukankah itu menarik? Kau bahkan tahu jelas tentangnya.”

“Yakk! Chanyeol-ah. Sudah kubilang, kalau seantero sekolah tahu tentangnya itu. Bahkan mereka lebih tahu daripada aku.”rutukku kesal karena merasa disudutkan sedari tadi ><

“Aigoo~ Kau ini. Justru itu tandanya dia berbeda bukan?”kata Kai setelah memasukkan bola ke dalam ring.” Berbeda itu langka. Yeoja sepertinya itu langka. Kalau aku yang pertama kali bertemu dengannya, mungkin aku sudah mencari beribu macam cara untuk menaklukannya—tapi bukan untuk mempermainkannya—kau tahu—itu karena aku sadar sejak awal  hatiku sudah bertekuk padanya.”

“Aku juga sedang begitu.”gumamku tanpa sadar.

“Mwo?”

Aiss, pabo kau Baekhyun! Bagaimana kau bisa lupa kalau Chanyeol-ah masih di sebelahmu -,-

“Ah, aniya. Aku tidak bilang apa-apa.”kilahku sebelum meneguk habis minumanku.

“Aku rasa, namja sepertimu tidak mungkin tidak tertarik padanya. Kami saja—sejujurnya—tertarik padanya.”aku D.O sambil memain-mainkan bola basket di tangannya.

Ucapannya tadi disambut anggukan setuju yang lain.

”Ne. Tapi sayangnya, kau lebih dulu bertemu dengannya. Jadi, kami kira dia sudah ditakdirkan untukmu.”ucap Suho-ya sebelum merebut bola yang ada di tangan D.O, meskipun akhirnya gagal.

Mwo? Takdir katanya? Ada-ada saja -___-

“Kau seharusnya bersyukur mengenal yeoja sepertinya.”ujar Sehun-ah sambil terus mengelak dari Kai-ah, sebelum akhirnya melakukan jump shoot untuk memasukkan bola ke dalam ring.”Sangat jarang yeoja apa adanya seperti Hyeon-ssi itu. Aku juga berharap suatu saat menemukan yeoja yang bisa menaklukkanku dengan cara berbeda dan apa adanya sebagai dirinya sendiri.”

Semua kalimat yang diucapkan mereka semua terngiang di dalam benakku. Perlahan-lahan semuanya seolah memperjelas perasaan yang mengambang dalam diriku sendiri. Apa mungkin aku mencintainya?

Aku ragu—entahlah. Di benakku juga terngiang ucapan Soona-ya, yang apabila aku tidak bisa memantapkan sendiri perasaanku… aku bisa saja melukai sahabatnya itu. Aku tidak tahu bagaimana rasanya terluka, tapi… aku yakin itu pasti menyakitkan. Aniya~ Aku tidak akan melukai perasaan seseorang untuk menemukan perasaanku sendiri pada orang tersebut -,-

Aigoo~ Kenapa aku jadi pusing sendiri begini? ><

“Yakk! Jadi intinya kau menyukainya atau tidak?”tegur Chanyeol seraya menyenggol pundakku dengan botol minumannya yang dingin.

Aku sedikit terhenyak, tapi untunglah kali ini aku masih menangkap jelas ucapannya.”A-aniya—entahlah.”jawabku bimbang sendiri.”Memangnya kenapa?”

“Benar kau tidak suka?”tanyanya lagi.

Meski agak ragu, aku mengangguk sebagai jawaban.

“Ya sudah kalau begitu.”ucapnya membuatku menyernyit heran. Sebenarnya, apa yang ada dipikirannya saat ini. Kulihat dia merogoh tasnya, dan mengeluarkan handphonenya. Tapi, aku langsung mengalihkan pandanganku kepada teman-temanku yang masih sibuk bermain di lapangan.

“Hati-hati, Baekkie-ya. Jangan suka membohongi perasaan sendiri, lho. Kau jangan menyesal saja kalau tiba-tiba seseorang merebutnya darimu eoh.”goda D.O-ya yang langsung mendapat jitakan mulus di kepalanya oleh Kai-ah yang sebelumnya tertawa kecil mendengar ucapannya.

Aku mencoba tersenyum kecil. Tapi, tak kupungkiri, ucapannya tiba-tiba membuatku jadi gusar. Sesekali kulirik Chanyeol-ah yang masih berkutat dengan handphonenya. Mendengar jawabannya tadi, aku jadi penasaran dengan apa yang dilakukannya. Tak lama, kulihat dia mengangguk-angguk kecil sebelum memasukkan kembali handphonenya. Kualihkan lagi pandanganku agar dia tidak curiga.

“Ternyata rumahnya tak jauh dariku. Tidak masalah, kan, kalau aku mengantar-jemputnya  besok?”tukas Chanyeol-ah seolah menjadi pengejut jantung tersendiri bagiku.

“Mwo?!”tanyaku spontan dengan volume suara yang tidak terkontrol. Haiss, bagaimana mungkin refleksku sejelek ini, sih? Pabo kau Baekhyun -__-

Aku sadar, semua mata kini tertuju pada kami.

“Wae? Kau tidak menyukainya juga, kan? Jadi—“

Entah mengapa, suatu emosi meluap di dalam diriku.”T-tapi apa maksudmu kau ingin mempermainkannya eoh?”tanyaku mencoba mengontrol suara dan emosi yang—entah itu apa—meluap. Tanpa aku sadari, saat berkata tadi aku sudah berdiri.

Haiss, sebenarnya ada apa denganku?

“T-tunggu dulu. Sekarang siapa yang lebih mempermainkan? Kau bilang tidak suka, tapi kenapa kau sekarang sewot?”cerca Chanyeol-ah membuatku bungkam.

Dapat kurasakan suasana di sekitarku mendadak hening dan mencekam.

“Tapi, aku sudah berjanji pada sahabatnya—dan pada diriku sendiri—kalau tidak ada yang boleh menyakitinya. Sekarang kalau kau seperti itu, bagaimana kalau dia memiliki perasaan padamu dan ternyata kau sama sekali tidak serius padanya?”terangku panjang lebar. Kalau aku mau, ada segulung kalimat dalam benakku yang bisa saja aku ucapkan semuanya.

Kulihat dia mendengus singkat.”Aigoo~ Ternyata kau perhatian juga padanya eoh?”ujarnya seraya menepuk pundakku. T-tunggu dulu. Jangan-jangan dia ini sedang menjebakku.”Yeoja seperti dia tidak akan mungkin dengan mudahnya jatuh cinta, kau tahu. Kau sendiri, kan, yang bilang sifatnya seperti apa. Lagipula, aku hanya mengantar-jemputnya saja sebagai teman. Tidak lebih.”

Tsk, sial! Ternyata benar dia menjebakku (_ _!)

“Yah, sebenarnya soal mengantar-jemput itu aku awalnya hanya asal bicara saja. Kau tahu, tidak ada niat sama kali.”lanjutnya kemudian mulai mengedarkan pandangan ke teman-teman yang lain.”Tapi, seperti yang kita lihat reaksinya tadi—yah, aku rasa bagus juga kalau diteruskan.”

Kurang ajar kau Park Chanyeol! Kau akan mendapatkan balasan karena ulahmu tadi!!

“Yakk! Apa maksudmu, huh?”semburku. Sementara, dia dan yang lainnya terbahak mengingat reaksiku tadi. Aku benar-benar harus menahan malu sekarang. Aigoo~ pabo kau Baehyun! Bisa-bisanya termakan jebakan namja jakung menyebalkan ini -_-

“Omo~ Baekhyun-ah. Kau ini kalau suka, apa susahnya, sih, bilang suka. Hahaha…”ujar D.O di sela-sela tawanya.

Aiss, mau taruh dimana mukaku sekarang. Bagaimana bisa aku keceplosan sendiri seperti tadi, sih? -.-

“A-aniya~”jawabku mencoba menahan malu yang sudah siap meledak.

Kuberikan tatapan death glareku ketika menyadari tawa Chanyeol-ah yang paling besar kudengar.

“Haha.. jadi.. tidak masalah, kan… kalau aku mengantar-jemputnya heum?”ujarnya lagi terdengar seperti ledekan.

Baiklah, aku sudah kuat lagi mendengar semua ini.”Haiss, terserah!”sunggutku kemudian beranjak masuk ke dalam rumah.

“Yakk! Jadi tidak apa, kan?”seru Chanyeol-ah yang masih dapat kudengar.

Kututup rapat telingaku dan berjalan terus tanpa memperdulikannya.”Terserah!”jawabku acuh terserah dia mau dengar atau tidak.

Ini sungguh memalukan! ><

~~~

Sementara itu…

“Omo~ Chanyeol-ah, jinjja.. kau membuatku tak bisa berhenti tertawa sekarang.”

“Ngomong-ngomong, kau serius dengan ucapanmu tadi, eoh?”

“Tentu saja. Kita akan membantu mengungkap perasaan sesungguhnya Baekki-ah.”

“Tapi, kau jangan sampai membuatnya jadi suka padamu.”

“Tenang saja. Itu tidak akan terjadi, Sehunnie~ Aku hanya akan membantu chingu kita itu mengetahui sendiri perasaannya.”

Sebuah pesan masuk, sebagai jawaban dari seseorang di ujung sana menimbulkan sebuah senyum samar seseorang.

Hm.. rasanya aku punya ide.

~TBC~

———————————————————–

Annyeong~

Sebenernya, sekarang lagi padat sepadat-padatnya jadwal di sekolah. Apalagi, beberapa hari lagi author lagi ada persiapan untuk acara pengukuhan eksul. >< Tapi, author masih sempet-sempetin—dan akan author tetep usahain untuk ngelanjut chapter selanjutnya.

Untuk chapter ini, sebelumnya maupun yang selanjutnya, mian kalau ada kesalahan dalam penulisan a.k.a typo. Author nulisnya sering buru-buru dan kadang gak sempet ngecek lagi sebelum dikirim. Jadi, mianhae chingu~ *bow ><

Don’t be a silent reader, ne? And don’t be a plagiator or copycat-or(?) God always see you everywhere and everytime~

Gomawo untuk admin yang udah mau ngepublish ff ini~

–  Author  ^^

26 pemikiran pada “Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s