Finally, It’s You (Chapter 1)

Finnaly, It’s You (I do Love You sequel) chapter 1

By : @leedonghyunn

Cast :

  1. Lee Jihyun (OC)
  2. Oh Sehun
  3. Byun Baekhyun
  4. Park Chanyeol

Dan kamu pun pergi. Disaat aku ingin berlari meraih tanganmu, memelukmu, berjanji takkan melepaskanmu. Disaat aku ingin mengucapkan padamu ‘aku juga menyayangimu’. Disaat aku benar-benar ingin bersama denganmu. Disaat seperti itu kau pergi meninggalkanku dengan senyuman itu di wajahmu.

Maafkan aku..

Dan aku berharap aku dapat memutar waktu. Aku pasti takkan mengulangi kesalahanku; untuk membuatmu menunggu dan menyakitimu. Aku berjanji aku pasti akan membalas senyumanmu, aku berjanji aku akan memelukmu dengan erat saat kau memelukku, aku pasti tak akan menyia-nyiakanmu. Jadi kumohon, jangan pergi..

Jangan pergi, karena aku benar-benar membutuhkanmu..

+++

Lee Jihyun’s POV

Aku memandang cermin di depanku, memantulkan seorang yeoja dengan rambut diikat satu ke belakang menggunakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan rok ketat hitam selutut. Sempurna. Benar-benar membuatku terlihat dewasa. Membuat Lee Jihyun yang sekarang berumur 22 tahun ini terlihat dewasa. Dan ini hari pertamaku bekerja, sebagai seorang guru. Dan di sekolah yang bagus pula.

Drrtt..drrtt.. Handphoneku berbunyi. Dari Baekhyun.

Huufft, disaat-saat seperti ini sebenarnya aku tak ingin diganggu. Tapi orang ini Baekhyun. Selama 3 tahun ini dia benar-benar selalu ada di sisiku, menuntunku melupakan masa lalu. Melupakan namja itu. Melupakan segala kejadian 3 tahun lalu itu. Seandainya saja segalanya terjadi 30 detik lebih cepat. Ah, bahkan hanya 10 detik lebih cepat, semuanya pasti akan baik-baik saja. Sungguh menyesal, itulah yang kurasakan.

“Annyeong, Baekkie!!” ucapku saat mengangkat telepon. “Chukhahamnida! Chukhahamnida!” Aku kaget. Karena suaranya benar-benar menjauhi kata ‘indah’ dan dia nekat menyanyi di pagi yang cerah ini, dan di hari pertamaku bekerja pula. Membuat semangatku menghilang seketika.

“Ya, kau pikir suaramu itu bagus?” omelku terus terang, membuatnya terkekeh. “Mianhae, aku tak tahu suaraku benar-benar terdengar sangat parah di telingamu. Dan chukhae! Setelah bertahun-tahun mimpimu akhirnya tercapai.” Aku tersenyum mendengarnya.

“Gomawo.. Aku juga benar-benar bahagia bisa diterima di SMA Hanyoung, padahal ini pertama kalinya aku menjadi seorang guru.” ucapku heboh. “Tapi.. menjadi seorang wali kelas, apalagi kelas 12, itu bukan sesuatu yang mudah. Tanggung jawabmu pasti sangat berat.” Aku mengangguk-angguk. Aku mengetahuinya. Tapi aku siap menghadapi semuanya.

“YA, LEE JIHYUN! LIHAT SUDAH JAM BERAPA SEKARANG?!” Suara menggelegar eommaku membuatku terlonjak kaget. Dan aku lebih kaget lagi saat melihat jam sudah menunjukkan 35 menit lagi sebelum sekolah dimulai. Dan guru diwajibkan datang 15 menit lebih cepat, berarti aku hanya punya 20 menit untuk sampai di SMA Hanyoung yang letaknya tak dapat dibilang dekat dari rumahku. Tanpa sadar aku langsung mematikan telepon tanpa berkata-kata dan langsung berlari cepat membawa tasku dan langsung keluar rumah tanpa memakan sarapan.

Aiishh, awas kau Byun Baekhyun! Gara-gara telepon nggak penting darimu itu, aku hampir telat di hari penting ini!

+++

Aku menatap sekeliling kelas dengan senyum merekah. Untung saja aku datang tepat waktu, biarpun dengan keringat bercucuran dan nafas ngos-ngosan. Akhirnya aku bisa melihat murid-muridku mulai saat ini sampai 6 bulan ke depan ini. Dan mereka terlihat sangat imut.

“Annyeonghaseo, Lee Jihyun imnida. Saya akan menjadi wali kelas sekaligus guru etika (di Indonesia : guru BP) kalian selama 6 bulan ke depan.” ucapku memperkenalkan diri sambil tersenyum. Dan tampaknya mereka cukup meresponku. “Ada yang ingin memberi pertanyaan?” tanyaku pada mereka dengan ramah. Dan terlihat beberapa orang mengangkat tangannya.

“Saem, berapa umurmu?” tanya salah seorang murid namja yang terlihat bukan murid baik-baik yang senang belajar. “Hmm, tahun ini umur saya 23 tahun.” jawabku jujur, dan tak terduga mereka terlihat kaget. “Jinjja? Kupikir dia anak SMP.” Bagaikan petir menyambarku saat aku mendengar komentar tersebut.

“Bo? Anak.. SMP?!” tanyaku dengan kaget. “Karena kau sangat pendek, dan gaya rambutmu sungguh kekanakan. Bagaimana mungkin kau menjadi wali kelas kami?” Aku menelan ludahku. Kurasa sesi tanya jawab hari ini bukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan.

“Araso, sudah cukup pertanyaannya, lebih baik saya melakukan absen.” ucapku dengan muka yang pasti terlihat lebih gelap dari beberapa menit lalu. Aku mengunting rambutku dengan berpikir akan terlihat lebih segar dan dewasa, bukannya dibilang anak SMP. Memang aku pendek, tapi apakah mereka harus mengatakan sejujur itu di pertemuan pertama kami? Lagipula aku tak sependek itu kok! L

“Ah, saem kau tak seru! Baru saja satu pertanyaan!” protes seseorang saat aku membuka buku absenku. “Setelah saya mengajarimu bagaimana memilih pertanyaan yang baik, nanti saya akan membuka sesi tanya jawab lagi.” balasku terus terang. “Jinjja, mengatakan seongsaenim-mu yang baru 5 menit kau temui ‘anak SMP’ dan ‘sangat pendek’ benar-benar bukan sesuatu yang baik.”

Dan mereka hanya terkekeh-kekeh. Sudahlah. Aku mulai mengabsen satu per satu muridku. Dikarenakan kemampuanku mengingat sesuatu bisa dibilang cukup baik, maka aku mulai menghafal satu per satu nama murid-murid yang akan menjadi tanggung jawabku selama 6 bulan ke depan ini.

“Oh Sehun..” ucapku memanggil nama murid terakhir dalam daftarku. Tapi orang bernama Oh Sehun itu tak kunjung menyahut. Maka aku memanggilnya sekali lagi, dan tetap tak ada sahutan. Maka aku mengangkat kepalaku untuk melihat sekeliling, barangkali ada yang mengangkat tangannya. Dan tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Seorang namja tinggi dan sangat putih masuk ke dalam dengan seragam yang tak dikancing, sehingga memamerkan kaus hitam bergambar naga di dalamnya.

“Apakah kamu Oh Sehun?” tanyaku padanya. Dia menatapku datar lalu terus melangkah ke kursinya. Bagus. Dia mengacuhkanku. “Lee Jihyun imnida, aku akan menjadi wali kelasmu selama 6 bulan ke depan. Senang bertemu denganmu.” ucapku memperkenalkan diri. “Dan sebaiknya kau tak terlambat lagi, karena aku akan segera menghukummu jika kau melakukannya lagi.” Dia namja itu malah duduk dengan tenang di bangku pojok kanan belakang. Aku menghela nafas..

Hh.. Semoga kelas ini tidak membuatku jungkir balik selama 6 bulan ke depan..

+++

Aku menghela nafas melihat daftar absensi siswa yang ada di tanganku saat ini. Sudah 2 minggu sejak aku menjadi guru di SMA Hanyoung. Dan murid bernama Oh Sehun itu, sudah 2 kali absen dan 3 kali telat pula. Aku tak pernah bosan menegurnya, dan dia juga tak pernah bosan bersikap cuek padaku. Padahal aku sudah mulai akrab dengan murid-murid lainnya.

“Waeyo, Jihyunnie? Apa ada murid yang membuatmu stress?” tanya Park Miyeon, guru Bahasa Inggris di sekolah ini. Aku sudah akrab dengannya sejak hari pertamaku di sini, karena kami memang seumuran. “Oh Sehun, apakah dia selalu seperti itu? Dan sepertinya dia tidak punya teman, dia selalu sendirian..” tanyaku padanya. Dan Miyeon langsung mengangguk-angguk seakan sudah mengerti semuanya. Aku menatapnya penasaran.

“Appa-nya ketua yayasan di sini, tak ada yang berani menegurnya. Teman-temannya pun takut dengannya, dan dia juga jarang masuk ke sekolah. Tapi otaknya cemerlang. Dia sangat pandai. Sudahlah Jihyun, jangan pikirkan anak itu. Dia pasti akan melakukan ujian akhir dengan baik.” Ah, alasan itu lagi. Entah kenapa murid-murid seperti ‘itu’ pasti selalu ada di sekolah manapun.

“Tapi yang aku pikirkan kan, bukan hanya nilai saja. Dia juga butuh teman. Dia juga harus menaati peraturan di sekolah ini.” bantahku. Dan Miyeon hanya menepuk-nepuk pundakku pelan. “Dia benar-benar keras kepala, percuma saja kamu berusaha membuatnya masuk ke sekolah.” Miyeon langsung pergi begitu menyelesaikan kata-katanya.

Ah, sebaiknya aku jalan-jalan sebentar dulu. Aku belum pernah benar-benar memerhatikan seisi sekolah ini. Jam pulang sekolah sudah berbunyi, dan hampir semua murid sudah pulang. Aku berjalan masuk ke kelasku, kelas 12-1. Aku berjalan ke sekeliling kelas, memerhatikan setiap sudut-sudutnya. Dan aku melihat sebuah buku di dalam loker meja paling belakang. Buku Sejarah, dan aku ingat hari Senin ada ulangan Sejarah. Di bagian atas buku itu tertulis nama ‘Oh Sehun’. Ah, jinjja! Bagaimana dia bisa belajar kalau bukunya tertinggal?

Dan tahu-tahu aku sudah berada di apartemen mewah ini. Nomor 302. Benar, tertulis nomor ‘302’ tepat di hadapanku. Ini rumahnya. Rumah Oh Sehun. Dengan memeluk buku sejarah itu aku memencet bel. Masih belum ada jawaban setelah 5 menit aku memencet bel. Apa orang itu pergi? Eodi? Aiishh, jinjja. Aku jadi harus menunggunya.

Dan setelah melakukan berbagai pose, dari berdiri, duduk, jongkok, tapi dia juga belum kunjung datang. Aku sungguh mengantuk, sudah beberapa hari ini aku kurang tidur untuk membaca data siswa mengenai murid-murid kelasku. Dan tanpa sadar kedua mataku sudah tertutup.

Saat aku terbangun aku sudah berada di sebuah sofa. Aku melihat sekelilingku, aku berada di sebuah rumah yang sangat mewah. Peralatannya terlihat sangat mahal. Dan saat kulihat jam di dinding, ternyata sudah pukul 8 malam. Apakah ini rumah Oh Sehun?

“Tertidur di depan apartemen seorang namja, apa kamu mengajakku untuk melakukan macam-macam?” Tiba-tiba suara yang terdengar dingin mengagetkanku. Ternyata orang itu ada di sampingku, sedang asyik menonton TV. Aku terlonjak mundur saking kagetnya.

“Ya, Oh Sehun! Kau tak boleh berbicara seperti itu kepada seongsaenim-mu! Apa kau tak tahu aku menunggumu selama berjam-jam? Kemana kamu pergi? Jinjja, bahkan kamu meninggalkan buku sejarah-mu di sekolah. Apa kamu tidak tahu hari Senin ada ulangan sejarah?” semprotku panjang lebar padanya. Dia masih serius mengganti-ganti saluran TV. Lalu aku mendekatkan wajahku tepat di depannya, menutupi pandangannya pada TV. Dan dia terlihat kaget.

“Ya! Apa sekarang kau bahkan menggodaku? Jinjja, kamu benar-benar mesum!” Aku hanya melongo saat mendengarnya. “Bo? Mesum? Ya, neo jinjja! Aisshh!!!!” ucapku sambil meloncat mundur dan menatapnya kesal. Apa dia benar-benar tak dapat bersikap sopan padaku?

“Mmm.. Untuk apa seorang yeoja pura-pura tertidur di depan apartemen namja? Dan asal kau tahu, kamu sangat berat.” Aku melotot menatapnya. Kalau aku bukan guru yang baik, aku pun tak akan melakukan ini. “Aku membawakan buku sejarahmu, asal kau tahu juga!” balasku tak kalah ketusnya. Lupakan fakta aku seorang guru, aku benar-benar kesal.

“Ahh, aku sudah mengambil buku sejarah yang penuh dengan ilermu itu kok..” Dan aku menatapnya tak percaya. “Jinjja??” Dia hanya mengangguk-angguk tanpa mengalihkan padangannya dari TV. “Aku serius.” Aku yakin pipiku sangat merah saat ini. Aiish, bagaimana mungkin itu terjadi?!

“Apa kau tak mau pulang? Ini sudah malam, jangan sampai naluri namjaku muncul dan membuatku terpaksa melakukan macam-macam padamu.” Aku melirik jam, ternyata sudah pukul setengah sembilan malam. Araso. Aku akan segera pulang. “Sudah makan?” tanyaku sambil membereskan barang-barangku, dan dia menggeleng.

“Sudah jam segini, kamu benar-benar belum makan??” tanyaku sedikit tidak percaya. Biasanya anak remaja paling suka makan.. Dan dia menggeleng lagi, lalu menatapku datar. “Kalau kamu tak mau dianggap seongsaenim yang tak bertanggung jawab, sebaiknya buatkan aku makanan sebelum kau pulang.” Aku menatapnya dengan mata melebar.

“Kau mengancamku?!” tanyaku dengan keras, dan dia hanya mengedikkan bahunya dengan ekspresi seakan meledekku. Aku menghela nafas, kesal. “Araso. Tapi benar-benar bukan karena ancaman mu yang sama sekali tak menyeramkan itu. Aku tak akan bisa tidur tenang malam ini jika aku meninggalkanmu tanpa melihatmu makan terlebih dahulu.” Dan dia hanya menatapku datar sekilas. Huuh, apakah dalam dirinya hanya ada ekspresi seperti itu?

Rumahnya sangat besar, dan dapur serta ruang makannya benar-benar nyaman. Tapi, aku tak menemukan bahan-bahan makanan apapun di dalam kulkas. Bahkan kimchi pun tak ada. Di dalam kulkasnya benar-benar hanya ada sebotol susu dan minuman ringan, serta puluhan bungkus makanan dingin yang tinggal dihangatkan di microwave. Apa dia benar-benar makan makanan seperti itu setiap harinya? Jujur, aku benar-benar anti dengan makanan seperti itu. Tidak sehat.

“Oh Sehun, apakah tak ada bahan-bahan makanan di rumahmu?” tanyaku sambil melongok ke arah ruang keluarga dimana dia sedang tergeletak asal-asalan di sofa yang benar-benar nyaman. Dia hanya menggeleng tanpa menatapku. “Kau mengerti cara menggunakan microwave kan?” Oh. Jadi maksudnya memasak adalah, memasukkan makanan dingin itu ke dalam microwave. Andwae. Bagaimana mungkin aku membiarkan muridku hidup dengan tidak sehat seperti itu?

+++

Oh Sehun’s POV

Betapa kagetnya aku saat yeoja itu menarikku keluar secara tiba-tiba. Padahal aku menyuruhnya menghangatkan makanan yang ada di kulkas. Apakah guru baruku ini memiliki ketertarikan denganku bahkan sampai menculikku di rumahku sendiri?

“Ya! Apa yang kau coba lakukan?!” teriakku padanya. Dia tak memedulikanku dan memakai sepatunya. Dia pasti tak akan melepaskanku dan aku terlalu malas untuk bertengkar dengannya  hari ini. Jadi aku ikut memakai sendal jepitku. Dan dia terus menarikku sampai kami tiba di sebuah super market. “Untuk apa kita kesini?” tanyaku padanya lagi saat dia mengambil keranjang besar.

“Mana boleh seorang murid SMA hanya makan makanan tidak sehat yang dibuat dengan bahan-bahan kimia seperti itu? Dan di rumahmu hanya ada minuman ringan. Kau benar-benar ingin mati sia-sia karena perbuatanmu sendiri?” Seperti seongsaenim manapun, yeoja ini haruslah seorang yang sangat bawel dengan kesehatan dan segala kerabat-kerabatnya yang lain.

“Baiklah. Tapi aku benar-benar tak membawa uang sepeser pun. Berkat yeoja di depanku yang menculikku secara tiba-tiba.” ucapku padanya. Dan dengan masih sibuk memilih sayur-sayuran dia menjawab santai, “Aku menjadi guru bukan karena aku semiskin itu kok. Tenang saja.” Aku menatapnya bingung. Memang banyak seongsaenim yang sok menjadi pecinta kesehatan seperti dia, tapi seongsaenim yang rela mengeluarkan uangnya hanya demi kesehatan muridnya, rasanya sangat unik, dan membuatku merasa aneh.

“Saem, kau tertarik padaku kan?” tanyaku blak-blakan padanya, dan dia dengan wajah kaget menatapku. “Untuk apa kau susah-susah datang ke rumahku hanya untuk mengantarkan buku sejarah? Dan kau rela mengeluarkan uangmu dan juga waktumu..”

“Ah, itu maksudmu. Tapi, mian! Kamu benar-benar akan patah hati jika berpikir aku menyukaimu. Hanya saja… Aku menjadi seorang guru benar-benar bukan karena aku membutuhkan uang atau semacamnya. Aku benar-benar menyukai pekerjaanku dan aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Seperti sekarang ini, memasakkan sesuatu untuk muridku. Hehe..” Aku tertegun menatapnya yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Kebahagiaannya saat ini, aku dapat merasakannya dari caranya tersenyum. Dan itu menggetarkanku.

“Ya, Oh Sehun! Mana yang lebih kau suka, rasa bolognaise atau BBQ?” tanyanya sambil menunjukkan dua buah bungkus yang bertuliskan ‘bumbu spagetthi’ kepadaku. “Yang mana saja.” jawabku singkat. Apapun yang dia masak, kurasa aku akan menyukainya. Ucapan tulusnya barusan, aku pasti merasa bersalah jika berkata bahwa makanannya tak enak.

“Yang benar, yang mana yang lebih kau suka?” ucapnya agak memaksa. “Yang mana saja. Aku serius. Aku benar-benar suka makanan apapun jadi terserah saja.” ucapku. Dan dia menurutiku. Selama setengah jam aku terus membuntutinya yang sibuk mengambil ini-itu. Dan tak perlu dikagetkan, total harganya benar-benar menguras habis dompetnya. Dia benar-benar mengambil barang apapun yang ada di super market ini, jadi wajar saja kurasa. Dan dia tak mengatakan apapun saat kami kembali ke apartemen. Dia bahkan tidak membahas soal tagihan yang membuat dompetnya benar-benar kosong tak tersisa. Tadi aku mengintip sedikit.

Sampai apartemen, dia langsung mengeluarkan bahan-bahannya dan memasak dengan sangat nyaman seakan berada di rumahnya sendiri. Aku memerhatikannya dari meja makan, dia tampak tak menyadari ada aku disana saking seriusnya. Kalau dilihat-lihat, sungguh tak bisa dipercaya bahwa dia adalah seorang seongsaenim di sekolahku. Tampaknya dia jauh lebih lucu dan menggemaskan dibanding teman-teman sebayaku.

“Uwaaa, akhirnya selesai juga!!” teriaknya sangat girang sambil membawa dua piring spagetthi ke meja makan. “Oh Sehun, cepat makan selagi panas. Spagetthi buatanku benar-benar enak, lho! Kau harus coba!” Aku hanya menatapnya datar sambil mengambil garpu. Dia ikut duduk di seberangku. Aku mencoba suapan pertama, ternyata benar-benar enak.

“Oh ya, dimana orangtuamu? Sudah malam begini, mereka belum pulang?” tanyanya secara tak terduga. Aku menatapnya datar. “Orangtua? Eobseo, aku tak punya.” jawabku, membuatnya menatapku dengan aneh dan kesal.

“Jangan bohong! Aku tahu kamu anak ketua yayasan SMA Hanyoung. Aku ini, benar-benar membaca data seluruh siswa di sekolahku.” Ah, jadi dia sudah mengetahuinya. Tapi benar juga, selama hidup ini rasanya aku tak punya orang tua. “Mereka hanya orang-orang yang melahirkanku. Toh sejak hari pertama aku ada di dunia ini, rasanya aku hidup tanpa mereka.”

Dan seperti yang ku duga, dia menatapku tak kedip. Inilah alasanku paling benci membicarakan mengenai keluargaku dengan orang lain. Mereka akan menatapku dan memperlakukanku seakan aku seorang yang perlu dikasihani. Benar-benar salah. Aku benar-benar tak butuh rasa kasihan dari orang lain. Dan yeoja ini sama saja dengan orang lain..

“Jangan berkata bodoh! Bagaimana perasaan orangtuamu saat tahu kamu berbicara seperti itu? Selama 9 bulan sebelum hari pertamamu di dunia ini, kamu hidup dengan mereka. Dan aku yakin mereka adalah orang yang paling mencintaimu.” Aku tertegun. Tampaknya aku salah. Dia malah memarahiku. Dan dia serius. Wajahnya benar-benar serius saat ini.

“Orangtua? Mereka hanyalah orang asing yang sok ikut campur kehidupanku tanpa pernah mau bersusah-susah tau tentangku. Dunia ini hanya dipenuhi dengan orang-orang bermuka dua yang hanya tahu soal materi, kau tahu? Bagiku aku hanya harus bertahan hidup sendirian, tanpa memedulikan orang lain, dan segalanya akan berjalan lancar.” ucapku pelan dan datar. Hidup seperti ini, sudah biasa. Sejak berumur 7 tahun aku sudah dipaksa hidup sendirian.

“Mian, tapi tampaknya kau salah berbicara. Bagiku, di dunia ini aku hidup dengan banyak orang. Dan aku butuh orang lain, aku yakin semua orang membutuhkan orang lain yang dapat dipercaya. Suatu saat kau akan menemukan orang yang berharga untukmu, orang yang benar-benar tak ingin kamu lepaskan.” Lagi-lagi aku tertegun mendengar cara bicaranya yang tenang tapi menghanyutkan. Aku benar-benar terhanyut dengan sikap tegas tapi lembutnya itu.

“Sudah malam, aku harus pulang.” ucap yeoja itu lagi sambil berjalan mengambil tasnya. “Aku sudah membeli stok air mineral yang banyak, dan aku sudah menyisakan spagetthi di kulkas, kau bisa makan itu besok pagi. Aku akan memberikanmu resep-resep makanan di sekolah. Ingat! Kamu tak boleh makanan yang tidak baik lagi mulai saat ini!” Aku tertawa kecil mendengar perkataannya yang sangat panjang bagai kereta api. Dia lebih terlihat seperti seorang eomma daripada seorang seongsaenim sekarang.

Aku terus memerhatikannya sampai dia tak terlihat lagi di mataku. Ah, kenapa rasanya sangat hangat dan nyaman? Entahlah..

Yang aku tahu, aku terus tersenyum sampai aku terlelap malam ini…

+++

“Saem,, datang lagi besok!” Entah keberanian apa membuatku dapat berkata seperti itu, dan yeoja itu langsung mengalihkan padangannya padaku. “Ajarkan aku Sejarah, aku benar-benar tak bisa pelajaran Sejarah.” ucapku yang tentu saja bohong. Aku hanya mencari-cari alasan yang entah kenapa kulakukan. Kenapa aku ingin dia datang lagi besok?

“Jangan bohong. Mana mungkin murid jenius sepertimu tak bisa pelajaran Sejarah?” Aku baru ingat perkataannya tentang niatnya menjadi seorang seongsaenim yang baik. Pastinya dia sudah mencari tahu apapun tentang murid-murid kelasnya.

“Saat kamu menemukan alasan yang masuk akal kenapa kau memintaku datang, aku akan datang. Aku pulang dulu.” ucapnya tepat sebelum keluar dari pintu rumahku. Dan aku masih memikirkan perkataannya saat aku berada di tempat tidur. Benar juga..

Kenapa aku memintanya untuk datang lagi?

+++

Iklan

12 pemikiran pada “Finally, It’s You (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s