It’s Okay, I Am With You

Title : It’s Okay, I am With You

Author : Krys98

Main Cast :

–          Lara Park (oc)

–          Kris Wu (exo)

Length : Vignette

Genre : Romance , Drama

Rating : PG-14

itsokayiamwithyou

Credit Poster : ( http://superita.wordpress.com/ ) ( thanks, bagus banget^^ )

IT”S OKAY, I AM WITH YOU

 __________________

“Kris, bangun….”

 

“YA! Kris, bangun! Aku mau berangkat bekerja.” Teriak seorang yeoja.

 

“Hmm..i know, babe..” si namja menjawab sambil tetap bergelung dengan selimutnya.

 

“Sarapan ada di meja makan, aku berangkat dulu.” Setelah memberi sedikit ciuman di bibir sang namja, si yeoja berambut merah itu memakai sepatunya dan berjalan ke arah halte terdekat.

 

Yeoja itu bernama Lara Park. Seorang yeoja campuran Kanada-Korea ini tengah kabur dari keluarganya yang tergolong seorang konglomerat di Ottawa, keluarganya memaksanya untuk menikah dengan anak seorang pengusaha sukses dari Korea. Tapi seperti tabiat asli yeoja ini, Lara menolak, ia kemudian kabur ke Los Angeles dan mulai hidup di kota ini. Ia tinggal bersama kekasihnya yang bernama Kris Wu. Seorang namja yang juga blasteran Korea-Kanada dan tengah kabur juga dari orangtuanya yang berada di Seoul. Ia menolak untuk menjadi pewaris tunggal perusahaan milik keluarganya dan memilih kabur ke Los Angeles dan bekerja sebagai bartender untuk menunjang kehidupannya.

 

Mereka berdua yang sama-sama merupakan anak perantauan ini memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah flat kecil di tengah kota yang lumayan murah, mengingat gaji Kris sebagai bartender dan gaji Lara sebagai seorang hair stylist tidak cukup besar.

 

Lara mengernyit ketika melihat salon tempatnya bekerja tertutup rapat dengan tulisan –CLOSE- di pintunya. Ia melihat sekeliling dan menemukan Debbie –rekan kerjanya- sedang memandang pintu salon sambil mengerutkan alis. Lara menghampirinya.

 

“Deb, kenapa salonnya tutup?”

 

“Oh, hai Lara, seingatku kemarin Mrs. Prisscot bilang kalau ia mau ke tempat anaknya di Ottawa.” Debbie menjawab sambil tersenyum.

 

“Lalu kenapa kau tetap kesini?” Lara bertanya heran.

 

“Aku lupa, hehehe…”

 

“Dasar kau ini, ya sudah aku pulang saja, bye Deb..”

 

****

 

Kris mengalihkan pandangan dari sandwich miliknya ke arah pintu flatnya yang terbuka. Tampak Lara sedang melepaskan high heels hitamnya di depan pintu. Gadis itu kemudian melepas mantelnya dan berjalan ke arah kamar mereka. Tak lama kemudian ia keluar dengan pakaian yang berbeda.

 

“Tidak bekerja?” tanya Kris dengan mulut penuh.

 

“Salon tutup hari ini, Mrs. Prisscot ke rumah anaknya yang berada di Ottawa.” Jawab Lara sambil duduk di hadapan kekasihnya.

 

Kris langsung tersedak begitu mendengar daerah yang disebutkan kekasihnya tadi. Ia langsung menyambar kopinya dan meneguknya hingga habis. Lara yang melihat Kris berlaku aneh hanya menaikkan sebelah alisnya.

 

“Kenapa?” tanya Lara.

 

“Kau tidak merasa kaget mendengar nama Ottawa?”

 

“Kenapa harus kaget?”

 

“Ah, sudahlah, lupakan..” Kris mendesah dan kembali memakan sandwich-nya.

 

Lara hanya tersenyum. Ia sebenarnya mengerti kenapa Kris bersifat seperti itu. Ottawa adalah tempat kelahiranya, dimana disana terdapat orang tuanya yang tengah berencana menikahkannya dengan seorang anak pengusaha dari Seoul. Lara menepuk pundak Kris. “Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja disini selama kau disampingku.”

 

Kris memiringkan kepalanya, sedetik kemudian ia tersenyum setelah mendengar jawaban Lara. “Mau kencan hari ini?”

 

“Sure.”

 

****

 

“Jadi, kita mau kemana hari ini?” tanya Lara sambil mengayun-ayunkan tangannya yang sedang digenggam erat oleh Kris.

 

Kris tersenyum, “Jalan-jalan saja, atau kau mau ke suatu tempat?”

 

Lara menggeleng sambil tersenyum. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Satu-satunya tempat yang ingin dikunjunginya sekarang adalah tempat dimana Kris berada di dalamnya, dan sekarang ia tengah berada di tempat itu. Jadi ia tak ingin kemana-kemana lagi, berada di samping kekasihnya sudah lebih dari cukup untuk Lara.

 

Mereka berdua terus berjalan di sepanjang jalan setapak yang dipenuhi oleh salju. Sesekali mereka berdua tertawa dan saling mencubit. Tiba-tiba Lara menghentikan langkahnya. Kris menatapnya heran, “Ada apa?”

 

“Bahan masak di rumah habis, kita belanja di O’cenell Market ya?”

 

Kris menimang-nimang sebentar. Ia melihat dompetnya dan mendesah, sepertinya masih cukup untuk membeli beberapa bahan masakan yang mendasar. Lara yang melihat kelakuan Kris langsung meringis. “Kalau masih belum ada uang tidak apa-apa, masih ada mayonaise dan kentang di rumah, aku bisa membuatkanmu kentang goreng nanti untuk makan siang.”

 

“Apa? Oh, tidak apa-apa, kurasa masih cukup. Ayo kita ke O’cenell..”

 

Lara tersenyum senang, ia melompat-lompat kecil disamping kekasihnya. Kris yang melihat tingkah kekasihnya hanya tersenyum geli. Ia mengacak-acak rambut kekasihnya dengan sayang. Sampai di depan tempat terang benderang dengan tulisan O’Cenell Market di kacanya, mereka masuk.

 

Kris langsung mengambil troli belanja dan berjalan mengikuti Lara yang telah menghilang di balik rak-rak tinggi.  Ia melihat berkeliling, mencoba membantu kekasihnya untuk memilih bahan makanan yang sekiranya mereka perlukan.

 

“Kris, kau lebih suka selada atau brokoli untuk sayurnya?” tanya Lara sambil memegang kedua sayuran itu.

 

“Beli saja keduanya, aku suka semuanya.”

 

“Hei..kau ini bagaimana sih, kita itu harus berhemat, sudah kita beli selada saja.”

 

Kris hanya menggumam tak jelas, ia berjalan ke arah rak yang menyediakan makanan instant. Kris terus memandanginya, ia sebenarnya sudah pernah menyuruh Lara untuk membeli makanan instant saja, selain murah, makanan itu juga lebih mengenyangkan. Tapi ia juga masih ingat jelas bagaimana jawaban Lara saat itu, “Makanan instant itu tidak sehat, ia bisa merusak organ dalam tubuhmu. Masalah uang, kita masih bisa mencarinya bersama-sama bukan? Jadi, tidak ada masalah dengan harga.”

 

“Kris kau sudah selesai? Ayo kita ke kasir.”

 

Kris tersentak,”Oh..Ok. Ayo..”

 

Mereka berdua membiarkan seorang gadis berambut pirang menghitung total belanjaan mereka. “Semua US $13,5.”

 

“Eh?” Kris tergagap, ia cepat-cepat melihat dompetnya. Kris meneguk ludah saat melihat bahwa uang yang dimilikinya tidak cukup untuk membayar semua belanjaan miliknya dan Lara.

 

“Ini..” terdengar Lara menyerahkan lembaran dollar berjumlah US $6,2.

 

“Aku sudah membayar setengahnya, kau bisa membayar sisanya kan?” Lara bertanya sambil tersenyum.

 

“Uh..oh tentu saja. Ini..” Kris cepat-cepat menyerahkan lembaran dollar kumal ke arah si gadis kasir.

 

“Ini belanjaan kalian. Terima kasih sudah berbelanja di toko kami.”

 

Kris dan Lara tersenyum sebagai jawaban. Mereka berdua keluar dari swalayan dan berjalan dalam diam. “Lara..”

 

“Hm?”

 

I am sorry. Seharusnya aku tidak membiarkanmu membayar belanjaan kita tadi.”

 

It’s okay babe. Aku senang bisa ikut membantumu, rasanya aku bukan jadi bebanmu saja.” jawab Lara sambil tersenyum.

 

“Jika aku sudah kaya nanti. Aku tidak akan membiarkanmu membayar belanjaan kita seperti tadi, I promise.”

 

Lara tersenyum, “Jadi kau sekarang menyesal huh telah kabur dari keluargamu yang merupakan keluarga terkaya di Seoul?”

 

“Tidak juga. Aku kan punya kau disini, kenapa aku harus menyesal?”

 

****

 

Kris sudah akan berangkat ke bar tempatnya bekerja ketika ia melihat sekumpulan laki-laki berpakaian hitam berdiri di depan pintu flat-nya. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, sebaliknya ia langsung berlari ke dapur tempat kekasihnya yang sibuk berkutat dengan alat-alat memasak.

 

Babe, banyak orang berpakaian hitam di luar, menurutmu mereka siapa?”

 

“Eh? Mereka bukan utusan yang dikirim keluargamu atau keluargaku untuk mencari kita kan?”

 

Kris menegang. “Benar juga. Cepat bereskan pakaianmu, kita kabur dari sini.”

 

“Eh?”

 

“Go.”

 

Mendengar bentakan kekasihnya, Lara cepat-cepat berlari ke arah kamar mereka. Ia mengambil sebuah koper sedang dan mulai memasukkan pakaian miliknya dan milik Kris secara serampangan. Ia juga mengambil uang yang disimpannya di dalam lemari dan kartu ATM-nya. Tak lupa ia juga membawa pasport dan visa miliknya dan Kris. Sementara Kris tengah mengutak-atik jendela balkon lantai atas. Ia mengambili gorden-gorden di flat-nya dan selimut-selimut miliknya dan Lara. Ia menyambung semuanya sehingga cukup panjang untuk membawanya dan Lara turun ke lantai dasar tanpa harus melewati segerombolan laki-laki berbaju hitam di pintu flatnya.

 

“Kris..” Lara datang dengan tergesa-gesa. Tangannya memegang sebuah koper hitam sedang. Kris menyambar koper itu. “Kau turun dulu, aku akan menyusulmu..”

 

Lara menatap takut-takut ke arah bawah. Tak lama kemudian ia mulai turun, diikuti dengan Kris yang turun sambil membawa koper.

 

BUGHH… mereka berdua jatuh ke jalan di samping flat mereka. Mereka langsung berdiri dan berlari secepat mungkin, tapi mungkin suara mereka yang terlalu berisik, mereka ketauan.

 

“Itu mereka, kejar..” seseorang yang tampak seperti pemimpin mereka memberi aba-aba.

 

Kris dan Lara terus berlari. Mereka berlari menyusuri gang-gang sempit kota Los Angeles guna untuk menyesatkan pengejar mereka, tapi sepertinya itu tidak berguna.

 

“Tuan Wu, Nona Park, Kami ingin menyampaikan pesan dari orangtua kalian berdua.” Terdengar para pengejar mereka berteriak.

 

Kris dan Lara tetap berlari, mereka menghiraukan teriakan pengejar mereka. Sampai mereka telah sampai pada titik lelah mereka, Kris langsung menarik Lara ke arah taksi terdekat. Ia cepat-cepat mendorong Lara untuk masuk kemudian mengikutinya.

 

“Young street, 17.” Kris menyebutkan tujuannya.

 

“Siap sir.”

 

Lara menoleh ke belakang. Ia melihatnya, sekelompok orang berpakaian hitam yang tengah memandang kesal ke arah taksi yang ia naiki bersama Kris. “Kita akan kemana?”

 

“Flat milik temanku.” Kris menjawab. “Kita akan meminjam uang disana, setelah itu kita akan ke bandara untuk kabur ke luar negeri.”

 

“Eh? Apa katamu?”

 

“Los Angeles sudah tak aman. Kita harus mencari tempat tinggal baru.”

 

****

 

Lara meremas-remas tangannya. Ia berkali-kali mengedarkan pandangan matanya yang tampak gelisah ke arah seluruh penjuru bandara yang cukup ramai malam ini. Ia menatap Kris yang duduk di sampingnya, pria itu mensedekapkan tangannya sambil memejamkan kedua matanya, kentara sekali bahwa Kris tidak khawatir sama sekali. Berbeda dengannya yang khawatir setengah mati.

 

“Kau kenapa?” Kris menatap Lara dalam.

 

“Aku..aku takut.”

 

Kris tersenyum, ia mengambil tangan milik kekasihnya dan mulai mengelus-elusnya, “Apa yang kau takutkan?”

 

“Kehidupan kita di Las Vegas nanti.”

 

“Kenapa memangnya?” Kris bertanya heran.

 

“Bagaimana kalau kita jadi gelandangan disana? Kita tidak membawa cukup uang.”

 

Kris tertawa, ia meletakkan tangan Lara di pipinya, “Tanganmu dingin sekali, tadi kau mengkhawatirkan apa? Oh..jadi gelandangan ya? Emm..kita kan masih bisa mencari pekerjaan disana seperti yang kita lakukan disini.”

 

“Tapi aku tak yakin.” Lara menyuarakan kekhawatirannya.

 

Kris lagi-lagi tersenyum, “Percayalah, kita tak akan jadi gelandangan disana, tak ada gelandangan yang tampan sepertiku. Wajahku ini bahkan jauh lebih tampan dari seorang artis,  rasanya aneh sekali kalau orang tampan sepertiku menjadi gelandangan.”

 

Lara tertawa keras. “Kau benar, mana mungkin ada gelandangan setampan kekasihku ini?”

 

Kris tersenyum, ia senang melihat Lara tertawa, ia berharap Lara bisa terus tersenyum seperti itu.

 

“Perhatian semuanya, harap penumpang pesawat Dragon Airlines yang bernomor seri 010 dengan tujuan Los Angeles-Las Vegas segera memasuki pesawat, lima menit lagi kita akan segera lepas landas.”

 

“Dengar, kita sudah dipanggil, ayo..” Kris mengangsurkan tangannya ke arah Lara. Lara menyambutnya sambil tersenyum. Mereka berdua kemudian berjalan ke arah pintu masuk pesawat dengan langkah yang ringan. Mencoba tegar menghadapi kehidupan baru mereka di Las Vegas nanti.

 

Dulu kalau kita tak begitu, kini bagaimana kita?

Dulu kalau kita tak disitu, kini dimana kita?

Kini kalau kita begini, kelak bagaimana kita?

Kini kalau kita disini, kelak dimana kita?

 

Tak tahu kelak ataupun dulu

Cuma tahu kita begini

Cuma tahu kita disini

Dan kini kita saling mencintai

 

END

 

Woaahh..akhirnya selesai. Ni coba-coba bikin ff dengan main cast suami baru author #digampar hahaha, lagi gila sama Kris nih author, dia ganteng banget ya? Nge-rap nya juga keren kan? Dia juga pinter empat bahasa asing? Dia emang bener-bener perfect {}

Eehh.. kok jadi ngomongin suaminya author sih -___- hehehe

 

Gimana menurut kalian ff ini? Sampaikan kesan dan pesan kalian setelah membaca ff ini di kotak komen yang tersedia okey?

Gomawo sebelumnya J

17 pemikiran pada “It’s Okay, I Am With You

  1. ahhhhhh keren banget ffnya *O* ngebayangin kris yg begitu tampannya *eh *plakkkk
    aku suka banget ffnyaaa e 😀

  2. Kris emg keren thor…q ja pe drooling liatdia hehehe…sedih dia cbut dr exo…mdh2an ae g jd…bs g ya??hum klo ceritanya yg ngjk kbur kris…kmnapun q lakoni…hahaha..ngarep

  3. Wahh bagus bgt thot ceritanyaa, buat sequel dong thor gimana cerita kris sama lara nantii. Kan blum di restuin sama ortu mereka tuhh, jelasin lg thor endingnya gimanaa. Pasti jadi makin baguus, keep writing yaaa!

Tinggalkan Balasan ke kimhyein Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s