What Are You Doing Today? (Chapter 1)

What are You Doing Today? Chapter 1 of ?

Title     : What are You Doing Today?

Author : 2Jong ( Twitter : @iWulandr_ )

Cast     :

-Byun Ahra (OC)

-Xi Luhan (EXO-M)

-Byun Baekhyun (EXO-K)

-Byun’s family

-Yoo Ahra (Hello Venus)

-etc.

Genre  : Romance, Comedy, School Life

Rating : Teen

Length : Part

23754_397393643677378_841704546_n

Annyeonghaseo, readers! 2Jong imnida^^ *bow* Ini FF ber-chapter pertama yang aku kirim kesini. Castnya bias kedua aku, Luhan~ *cium Luhan* *digampar Jongin-Sungjong*. Mian kalo cast-nya OOC, apalagi Jonginnie alias bangKAI tersayang._. *Jongin: Beraninya menistakan suami paling memble seksi ini!*

Lupakan dialog di atas. Sebelumnya, mian kalo FF-nya jelek, comedy gagal, banyak typo dan tidak jelas, tapi butuh kritik dan saran karena masih amatir^^ Happy reading all! 🙂

***

“Hello, hello~”

Senandung seorang yeoja itu memecah keheningan kompleks perumahan itu. Bukan Ahra namanya jika ia bukan sosok periang, centil, dan pintar. Tapi ia juga penolong, tidak sombong, dan suka menabung untuk membeli eskrim di stand milik Sehun, si Namja Bubble Tea nan Cadel Unyu kesayangannya.

Pagi ini, ia harus berjalan kaki sendiri menuju halte bus, pasalnya, Baekhyun, oppanya sedang berada diluar kota untuk studi banding. Sebenarnya ia kesal, namun dengan prinsip ‘susah dibawa senang saja’ itu, jadi ia menikmatinya. Lagipula jalan kaki menurutnya sehat, dan sudah lama ia tidak berjalan kaki sejak selesainya MOS tahun lalu. Dan sekarang, ia memasuki semester dua untuk kelas 11.

I need you and you want me, jiguran i byeoreseo, oh oh~

Terdengar nada dering telepon dari seseorang yang sangat ia kenal. Yoo Ahra! Kembarannya, karena nama mereka sama, namun marganya saja yang berbeda. Ahra memanggil yeoja itu Bambi, sementara Yoo memanggilnya Centil. Sebenarnya agak terkesan mengejek, namun Ahra tak mempermasalahkan panggilan itu, yang penting orang bisa memanggilnya, itu saja.

“Yoboseyo, Bambi?”

Yak, Centil!” Suara lembut Yoo Ahra agak memekik memanggil nama julukannya dari seberang.

“Aish, kau hampir membuat gendang telingaku pecah, Bambi!” gerutu Ahra.

Oh, mian, hehehe,” ucap Yoo sambil terkekeh.

“Sudahlah, mengapa kau meneleponku?” tanya Ahra yang agak kesal gara-gara sahabatnya.

Bukankah itu ritual pagi kita? Dasar pikun,

“Hehehe,” Ahra hanya menyengir.

Ahra kemudian sibuk bertelepon ria dengan yeoja itu sambil berjalan kaki menuju halte bus. Memperbincangkan tentang guru killer yang kemarin tidak masuk, sehingga jam pelajaran kosong, sampai siswa namja di sekolah mereka yang tampan-tampan.

“Oh ya, kudengar Jongin itu sering mengupil, lho!” celoteh Ahra bersemangat, ia memang suka menistakan namja sahabatnya, Jongin, yang katanya terseksi di sekolah mereka.

Yak Centil, berhenti menjelek-jelekkan namjaku! Lagipula itu fitnah, mana mungkin dia suka mengupil,” bantah Yoo geram.

“Aku pernah melihatnya kok, wlek!” ejek Ahra.

Aish, neo…” Yoo makin geram.

Baru saja Ahra ingin mengejek Yoo kembali dengan tertawa kejam, tiba-tiba…

WUSH! Sebuah mobil Mercedes hitam menyerempet Ahra, membuat yeoja itu jatuh terjerembab ke jalan, iPhone-nya yang masih aktif dengan telpon dari Yoo pun dengan anggunnya tercemplung ke selokan. Sungguh mengenaskan nasib smartphone canggih itu.

“Yak, kau!” teriaknya cukup keras sambil menunjuk mobil itu.

Sang empunya mobil segera turun, ternyata ia seorang namja yang berseragam sama dengan Ahra, tapi Ahra tak pernah melihat namja itu sebelumnya.

“Gwenchanayo?” tanyanya khawatir.

“Kau punya mata atau tidak, huh?! Dan kau sama sekali tak memerhatikan pejalan kaki sepertiku!” Perhatian namja itu malah disambut Ahra dengan protes.

“Aish, sudah baik-baik aku menanyakan keadaanmu, malah protes!” gerutu sang namja, tak terima dengan protes dari Ahra.

“Bagaimana aku baik-baik saja? iPhone 5-ku bahkan kau buat karam di selokan itu!” Ahra menunjuk sang selokan yang berisi air keruh—semalam hujan, jadi airnya tertampung di dalam selokan itu. Dan sangat mengenaskan bagi Ahra karena iPhone hasil tabungannya beberapa tahun itu terendam air selokan.

“Mwo? Aish, mianhamnida! Aku akan membelikanmu lima boks iPhone semacam itu!” ucap namja itu meminta maaf—dengan tidak ikhlas.

“Dan itu sebenarnya salahmu sendiri, kau asyik bertelponan sambil berjalan kaki tanpa memerhatikan apapun!” Dan namja itu mulai menyalahkan Ahra balik.

“Mwoya?! Jadi kau juga menyalahkanku, setelah yang kau perbuat ini? Dasar namja pengecut, suka melempar kesalahan pada orang lain!”

Ahra mencoba bangkit, namja itu berusaha menolongnya, namun tangannya ditepis Ahra.

“Tak usah sok menolongku, orang sok kaya! Aish,” Ahra memandang namja itu sinis.

“Aku bukan orang sok kaya! Aku Xi Luhan!” Namja itu jengkel dengan perkataan Ahra. Sebenarnya, jurus ampuh dari seorang Ahra itu adalah kejudesannya, yang bisa membuat orang yang berdebat dengannya menjadi jengkel dan emosi tingkat tinggi.

“Oh? Jadi kau Xi Luhan—anak sok kaya dan tidak tahu malu yang membuat seorang yeoja jatuh dan iPhone-nya masuk selokan? Baiklah, tunggu saja pembalasanku, Xi Luhan!”

Ahra cepat-cepat memungut iPhone-nya yang terendam di selokan, dan bergegas pergi dari situ, menuju halte bus yang sudah dekat.

“Dasar yeoja penggerutu!” umpat si namja—Luhan.

“Tapi… Dia manis juga, sepertinya aku akan satu sekolah dengannya,” Luhan tersenyum evil sambil memandang Ahra dari kejauhan.

***

“Kau baik-baik saja, Centil? Kenapa telponnya kau matikan?” Yoo menanyai Ahra dengan nada khawatir, karena menemui yeoja itu dalam kondisi mengenaskan saat masuk sekolah.

“Aku tidak baik-baik, Bambi! Aish, namja itu akan aku beri pelajaran!”

“Ada apa denganmu, Centil? Ceritakan padaku,” pinta Yoo.

“Emm, baiklah, meskipun aku masih emosi, jujur saja, aku benci sikapnya yang sok itu!” Ahra akhirnya memutuskan untuk bercerita.

“Tadi aku berjalan kaki menuju halte bus, tadi kita berteleponan bukan?” tanya Ahra sebelumnya. Yoo mengangguk.

“Lalu ada sebuah Mercedes hitam menyerempetku, membuatku jatuh lalu iPhone-ku masuk ke dalam selokan! Aish,” lanjutnya sambil menahan rasa kesalnya akan kejadian tadi.

“Mwo? iPhone 5-mu yang baru kau beli seminggu lalu dari tabunganmu selama beberapa tahun ini kan?” Yoo tercengang.

“Ne, dan namja itu merusaknya! Padahal itu sangat berharga!”

“Sabar saja, ya, twins,” ujar Yoo menenangkan Ahra.

Ne, tapi aku tak bisa bersabar untuk membalas perbuatannya! Batin Ahra.

Alhasil Ahra hanya bisa mengangguk pelan, dan bel masuk pun berbunyi seiring senyum evil yang disunggingkan Ahra untuk membalas Luhan. Semua murid memasuki kelasnya, dan duduk dengan manis menanti sang guru.

Tak lama kemudian, derap higheels menggema di dalam kelas 11-B. Song sonsaengnim memasuki kelas dengan anggun.

“Selamat pagi, anak-anak,” ucap Song sonsaengnim penuh senyuman.

“Ne, selamat pagi, sonsaengnim,” balas semua murid dengan santun dan penuh rasa hormat. Seusai memberi penghormatan, mereka duduk kembali.

“Baiklah, bagaimana kabar kalian selama liburan semester ini? Apakah menyenangkan?” tanya Song sonsaengnim ramah, dan pertanyaannya mendapat jawaban beragam dari para murid.

“Sangat menyenangkan, sonsaengnim!”

“Biasa saja, sonsaengnim!”

“Tidak menyenangkan sama sekali, sonsaengnim!”

“Ternyata semuanya beragam juga jawabannya, hm, baiklah, pelajaran akan saya mu…”

“Annyeong,” Seorang namja mengetuk pintu kelas, membuat Song sonsaengnim memenggal kalimatnya sejenak.

“Wah, ternyata kita kedatangan murid baru, selamat datang,” sambut Song sonsaengnim antusias.

“Ne, sonsaengnim, kamsahamnida,” Namja itu masuk ke dalam kelas, diiringi bisikan para yeoja yang sedang memperbincangkannya. Mata Ahra membesar. Itu namja sok kaya dan tak tahu malu—Xi Luhan di jalan tadi, gawat!

“Kalau begitu, perkenalkan dirimu,”

“Ne, annyeong, choneun Xi Luhan imnida, pindahan dari Cina, kamsahamnida,” Luhan memperkenalkan dirinya singkat, tak lupa dengan senyum manisnya yang membuat semua yeoja di kelas itu luluh, dan tentu saja namja disitu mencibir karena ada saingan baru.

“Wah, manis juga namja itu, Centil,” ujar Yoo pada Ahra memuji Luhan.

“Mwo? Apa yang kau bilang tadi? Manis? Menjijikan,” balas Ahra sinis.

“Ya ampun, kau buta terhadap namja imut seperti dia? Atau kau hanya tertarik pada anjing jantan pudelmu yang kau bilang imut itu?” tanya Yoo berburuk sangka akan balasan Ahra tadi.

“Kalau aku tertarik pada anjing pudel kenapa?!” jawab Ahra emosi.

Semua terdiam, kemudian… HAHAHAHAHA! Tawa semua murid meledak mendengar perkataan Ahra.

“Si Centil ternyata tidak normal!” celetuk salah satu murid yang merupakan Happy Virus kelas itu, Chanyeol, lalu melanjutkan tawanya lagi.

Sementara Song sonsaengnim tercengang. Luhan bahkan sampai membulatkan matanya, itu yeoja yang di jalan tadi!

“Byun Ahra…” panggil Song sonsaengnim gemas.

“Emm, ne, sonsaengnim?” sahut Ahra dengan ciri khasnya, centil tapi malu-malu.

“Kamu bilang apa tadi? Tertarik pada anjing pudel?” tanya Song sonsaengnim. Ia mengerutkan dahinya.

“Ah, eh…” Ahra salah tingkah.

“Silahkan maju ke depan, dan ceritakan ketertarikanmu pada anjing pudel, Byun Ahra!” pinta Song sonsaengnim seraya tersenyum.

Semuanya tertawa. Seperti itulah jika wali kelas mereka menghukum, dengan cara halus, tidak menyakitkan, tapi memalukan. Sudah terbukti sejak semester pertama.

“Jika kamu tidak maju ke depan, kau mau kan nilai Sastramu saya kurangi?” tanya Song sonsaengnim, sebenarnya wanita itu mengancam Ahra, dan lagi-lagi dengan cara halus.

“A, ani, saem…” tolak Ahra pelan sambil menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, ayo, maju ke depan, sekarang,” suruh Song sonsaengnim.

Ahra dengan lemas berjalan ke depan kelas, semuanya masih tertawa. Oh, dunia sungguh kejam pada Ahra kini.

“Luhan-ssi, tolong bantu saya untuk menilai cerita Byun Ahra, arra?”

Luhan mengangguk. “Ne, saem.”

Ahra sempat melirik Luhan sinis, seakan ingin menelan namja itu hidup-hidup, dan Luhan tak memerdulikannya.

“Emm, baiklah, aku akan menceritakan ketertarikanku pada anjing pudel…” mulai Ahra dengan malu-malu.

“Aih, tak usah bermalu-malu seperti itu Byun Ahra, saya ingin mendengar cerita anjing pudelmu itu~” goda Song sonsaengnim.

“Ah, eh, n, ne sonsaengnim,” balas Ahra malu-malu.

Lalu Ahra berceloteh tentang anjing pudelnya yang dianggapnya sangat imut itu. Anehnya, semuanya antusias mendengar cerita Ahra, seperti anak TK yang terpukau melihat balon-balon berkilau yang dijual di depan pagar sekolah. Dan setelah beberapa menit, akhirnya usai sudah kisah anjing pudelnya.

“Ahra yang centil, boleh kan aku bertanya?” tanya seorang murid namja, Sehun dengan panggilan sayangnya pada Ahra. Namja Bubble Tea nan Cadel Unyu-nya itu mengajukan pertanyaan! Mungkin dengan menjawab pertanyaannya, eskrim cotton candy-nya bisa ia beri diskon 70%! Pikirnya.

“Kau ingin menanyakan apa, Sehun?” tanya Ahra balik dengan gemasnya melihat wajah polos Sehun yang imut-imut.

“Aku ingin bertanya… Thiapa nama anjing pudelmu?” tanya Sehun dengan cadelnya. Semua yeoja disitu gemas, termasuk Song sonsaengnim.

“Ah, nama anjing pudelku ya? Pertanyaan yang manis, Tuan Bubble Tea~” goda Ahra, membuat pipi Sehun bersemu merah. Pasti diskonnya semakin naik jika aku menggodanya! Batin Ahra bersemangat.

“Hmm, namanya Xi Luhan, ya, Xi Luhan pabo, begitu aku memanggilnya karena kebiasaannya buang air di sembarang tempat! Tapi aku lebih suka memanggilnya Luhan Berbulu~” jawab Ahra semangat sambil melirik Luhan. Di dalam hatinya, ia tertawa penuh kemenangan karena bisa membalas perbuatan namja itu yang tadi.

Sementara Luhan, ia mendengus kesal sambil mengumpat yeoja itu dalam hati, tapi ia masih bersabar. Tetapi, ia mendapat cemoohan dari namja di kelas itu, dan para yeoja malah kebingungan dengan penjelasan nama anjing pudel Ahra tersebut.

“Luhan Berbulu, hm, menarik sekali, bagaimana bisa nama itu kebetulan sama dengan murid baru ini, Byun Ahra?” tanya Song sonsaengnim penasaran.

“Oh, itu, saem tahu bukan, sekarang ada keberadaan jejaring sosial? Nah, saat iseng menjelajah, muncul nama Xi Luhan, dengan foto profil bbuing bbuing aegyo, tapi dia bukan murid baru ini, rencananya nama itu ingin kuberikan pada anjing bulldog-ku, tapi aku berubah pikiran setelah oppaku membelikanku anjing pudel,” jelas Ahra. Jelas saja Ahra mengarang-ngarang itu semua, Ahra pandai bermain kata-kata, dan nilainya sangat tinggi untuk sastra.

Luhan semakin jengkel dengan karangan indah Ahra. Ia tahu yeoja itu sebenarnya menjelek-jelekkan dirinya, tapi yang lain tidak sadar. Benar-benar pengarang ulung, awas kau nanti! batin Luhan.

“Ehem, Luhan-ssi, menurutmu bagaimana penilaianmu untuk cerita Byun Ahra?” tanya Song sonsaengnim meminta pendapat Luhan.

“Emm, ceritanya sangat sangat menarik, saem, sangat menarik sekali!” jawab Luhan setengah kesal sambil melirik Ahra yang tersenyum penuh kemenangan, kemudian pura-pura tidak peduli.

“Menurut saya juga ceritanya sangat menarik, tidak heran seorang Byun Ahra menjadi ketua tim mading di sekolah ini,” timpal Song sonsaengnim memuji Ahra. Yeoja itupun tersenyum-senyum centil.

Dasar yeoja centil! Sudah mengarang cerita, menjelek-jelekkanku pula! Tak akan kubiarkan tipu muslihatmu berjalan lancar, Byun Ahra! Umpat Luhan dalam hati.

“Baiklah, sekarang, kalian berdua duduk bersebelahan,”

Luhan dan Ahra menatap Song sonsaengnim geger.

“S, saem tidak bercanda, kan?” tanya mereka bersamaan.

“Ani, saya tidak bercanda, saya serius, Luhan-ssi, Byun Ahra,” jawab Song sonsaengnim menatap tajam yeoja dan namja itu.

Aniya, habis terang terbit kegelapan, andwaeeee! Jerit Ahra dalam hati.

Ini akan menjadi hari terburuk yang pernah ada selama tujuh belas tahun aku hidup! Luhan menggelengkan kepalanya.

“Xi Luhan? Byun Ahra?” panggil Song sonsaengnim.

“Ne?” sahut mereka bersamaan.

“Tunggu apalagi, cepat duduk!” suruh Song sonsaengnim.

“T, tapi bagaimana dengan teman sebangkuku, saem?” tanya Ahra.

“Dia pindah ke tempat Do Kyungsoo, sudahlah, cepat, sekarang!” ancam Song sonsaengnim.

Luhan dan Ahra ketakutan, lalu segera ke bangku mereka.

“Mian Bambi, aku harus membuatmu pindah dan duduk dengan namja itu,” bisik Ahra pada Yoo.

“Ne, gwenchana, tapi aku akan melupakan kejadian paling memalukan itu selama duduk dengannya, setidaknya akan kucoba,” balas Yoo lemas.

Yoo menyandang tasnya, kemudian pindah ke samping Do Kyungsoo, namja yang punya mata belo’, seperti ini O.O *digeplak D.O*

Dan Luhan, ia akhirnya duduk di sebelah Ahra.

“Ini merupakan tempat strategis untuk membalas dendamku tentang anjing pudelnya!” gumamnya tanpa suara. Bibirnya menyunggingkan senyum evil yang sangat menakutkan.

Selamat datang di neraka, Xi Luhan yang sok kaya dan tak tahu malu… Sebentar lagi kau akan menderita sepanjang semester ini! Ahra mengeluarkan smirk khas andalannya yang dipelajari dari Kyuhyun Super Junior, khusus.

Sepanjang pelajaran itu akhirnya dihabiskan mereka untuk saling berselisih tatap satu sama lain.

***

“Kau beruntung sekali duduk dengannya, Centil,” celoteh Yoo sambil menyeruput strawberry milkshake-nya.

“Beruntung, sangat beruntung, Yoo Ahra…” balas Ahra geram sambil menatap sandwich-nya yang tergeletak di meja. Ia masih ragu untuk memakannya, karena pembahasan ini yang membuat tekanan darahnya naik tiba-tiba.

“Dan kau tahu dia siapa?” tanya Ahra setengah berbisik.

“Memang dia siapa? Kau mengenalinya?” tanya Yoo balik.

“Dia namja sok kaya dan tak tahu malu yang menyerempetku tadi pagi!” jawab Ahra, alisnya ia angkat, ia berbicara dengan dramatis.

“Mwo? Jadi dia yang menenggelamkan iPhone tak berdosamu di dalam selokan itu?” Yoo menatap Ahra tak percaya.

“Ne, dia! Aish,”

“Omona, tak kusangka ia seperti itu…”

“Dan ngomong-ngomong, kenapa nama anjing pudelmu kau ganti dengan Xi Luhan? Setahuku namanya Bacon,” tanya Yoo lagi.

“Biar saja, kemarin aku sudah diprotes oleh oppaku karena nama anjingku, mungkin ia merasa,” jawab Ahra santai.

“Lagipula aku sebenarnya tak punya anjing bulldog, aku hanya mengarang saja, kau tahu?” ungkap Ahra kemudian terkekeh.

“Orang sepertimu cocok dipekerjakan untuk sesi berbohong, Byun Ahra,” Yoo menggelengkan kepala heran.

“Ahra!” Seorang namja berlari-lari ke arah meja twins itu.

“Jongin?”

Tubuh namja itu bersimbah keringat dengan memakai baju training putihnya.

“Kau baru habis latihan, hm?” tanya Yoo yang perhatian dengan namjachingu barunya, Jongin sambil memberikan handuk.

“Begitulah, kompetisi makin dekat, kau tahu itu,” Jongin menyeka keringatnya dengan handuk pemberian Yoo.

“Fighting, ne!” seru Yoo memberi semangat pada namjachingunya itu.

“Gomawo~” Jongin mencium pipi Yoo mesra.

Sementara Ahra harus menahan rasa irinya, ya, dia single, atau bahasa kasarnya, jomblo. Tak punya pasangan, sendirian. Jadilah ia terkatung-katung setiap kali Kai dan Yoo berduaan seperti ini. Padahal yeoja cantik sepertinya harusnya punya namjachingu, dunia sungguh tak adil.

Seandainya saja ada pangeran tampan yang menghampiriku saat ini, seorang namja yang dapat mengerti, dan mencintaiku sepenuh hati… Harapnya dalam hati.

“Byun Ahra!” Tiba-tiba suara lantang itu mengagetkan Ahra dari lamunannya. Namja itu lagi. Sepertinya belum cukup mencari gara-gara karena mencorat-coret buku tulis Ahra dengan gambar pudel dan seorang yeoja yaitu Ahra sedang bergandengan tangan, lalu menulis ‘Luhan Berbulu + Byun Ahra Selamanya’. Cukup menguras emosi Ahra saat ini.

“Yak!” seru Ahra kaget. Namja itu—Luhan kini sedang bersandar di meja makan Ahra sambil melipat tangannya di atas dada. Bukan pangeran tampan, malah monster pudel yang datang!

“Apa maumu, namja sok kaya dan tidak tahu malu?!” sambar Ahra.

“Hahahaha!” Luhan tertawa, membuat Ahra jengkel.

“Katakan apa maumu, Xi Luhan!”

“Mauku ya? Apa kau mau tahu?” tanya Luhan sinis.

“Mau tahu?” ulang Ahra polos.

“Ne, apa mauku sekarang…” terang Luhan.

“Maka dari itu, sini…” Luhan mencoba mengajak Ahra, lebih tepat menjebak yeoja itu. Yeoja bermarga Byun itu menurut saja, dan…

“AAAAAAA!” pekik Ahra saat Luhan menariknya ke dalam pelukan namja itu, dan mereka sama-sama terjungkal ke bawah. Sekarang posisi Ahra di bawah, dan Luhan di atasnya. Juga dengan bibir yang menyatu.

“Xi Lu—emph~” First kiss Ahra dicuri Luhan! Sepanjang sejarah, namja pertama yang merebut first kiss itu justru namja yang menyebalkan!

Luhan memeluk Ahra sangat erat, sementara Ahra merasa malu, sangat malu karena diperhatikan seisi kantin. Bagaimana bisa ia melakukan ini dengan murid baru? Mau ditaruh dimana kehormatannya sebagai ketua tim mading jika nanti di mading ada artikel ‘Ketua Mading Berciuman dengan Seorang Murid Baru di Kelasnya yang Unyu-unyu Kayak Ikan Lohan Saat di Kantin’?

Kini Ahra menatap Luhan horor.

“Apa maksudmu, Xi Luhan?!” desisnya.

“Aku sedang mempermalukanmu balik, ketua mading…” balas Luhan setengah berbisik, kemudian tertawa sinis tanpa bersuara.

Sialan kau, Xi Luhan! gerutu Ahra dalam hati.

“Lepaskan aku, sekarang!” perintah Ahra.

“Sebentar dulu, nona Byun… Lagipula pelukanmu hangat,” Luhan tersenyum mesum.

“Kau, Luhan Berbulu yang Mesum!”

“Mengapa gelarku kau tambah, hah?”

“Itu terserahku, oh, jadi kau merasa kalau aku mengejekmu di depan tadi?”

“Sangat!”

Ahra tertawa. “Ternyata kau pintar juga bisa merasa bahwa kuejek di depan tadi, tidak seperti yang lain, yang terpukau dengan ceritaku itu…”

“Kau pikir aku sebodoh Luhan Berbulu-mu yang buang air saja di sembarang tempat? Asal kau tahu, IQ-ku lebih tinggi darimu!” sahut Luhan, lalu tertawa mengejek.

“Mwo? Jadi kau bilang aku bodoh, hah?!” Ahra tiba-tiba naik darah.

“Jadi kau merasa bodoh?” tanya Luhan.

“A, ani…” jawab Ahra tergagap.

“Hahaha, mengakulah Byun Ahra~” goda Luhan.

“Aniya!” kilah Ahra.

“Dan sekarang, lepaskan aku, atau aku juga akan mempermalukanmu dengan hal yang tak akan kausangka nanti~” ancam yeoja itu kemudian sambil menatap mata Luhan.

“Coba saja, cih! Aku tak akan terjebak sama sekali, Nona Pudel!” balas Luhan meremehkan.

“Mwo? Aish, neo jinjja…” Ahra makin geram dengan kelakuan Luhan. Akhirnya, ia mendorong tubuh Luhan, lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu, ia benar-benar malu sekarang. Martabatnya akan dipertaruhkan gara-gara namja itu!

***

“Centil! Gwenchanayo?” tanya Yoo khawatir.

“Nan gwenchana…” jawab Ahra sambil menutup wajahnya.

“Ya ampun, saat istirahat tadi apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian bermusuhan?” tanya Yoo bertubi-tubi.

“Itu… Aish, dia ingin mempermalukanku di muka umum, Bambi!” seru Ahra frustasi.

“Duh, sabar saja ya, Centil,” ucap Yoo menenangkan Ahra, sementara yeoja itu mengangguk lemah.

“Lebih baik besok kau pakai saja topeng anjing pudel milik saengku saja, jika kau malu…” saran Yoo.

“Kau gila, Bambi? Itu lebih menjatuhkan martabatku! Alangkah baiknya jika topeng itu dipakaikan pada namja sok kaya dan tidak tahu malu itu!”

“Siapa yang kau bilang namja sok kaya dan tidak tahu malu itu?” sahut Luhan yang sejak tadi berada di belakang mereka.

“Mwo?!” seru Yoo dan Ahra kaget.

“Kau, Luhan Berbulu yang Mesum, sejak kapan kau berada di belakang kami?!”

“Sejak tadi, wae?”

“Lebih baik kita pergi dari sini, Bambi!” Ahra menarik tangan Yoo, dan segera berlari menghindari namja itu, sementara Luhan? Ia tertawa kejam.

Kembali ke twins Ahra. Mereka sampai di halte dengan nafas tersengal-sengal.

“Byun Ahra, kau akan bertanggung jawab jika kali ini asmaku kambuh!” ancam Yoo.

“Mianhae, aku ingin menghindari namja itu, Bambi,” Ahra menyengir.

Yoo hanya memasang tampang datarnya-___-.

Tak lama kemudian, bus tujuan mereka datang, dan mereka segera memasukinya.

“Yoo Ahra, kau tahu hari terburuk jatuh pada hari apa?” tanya Ahra.

“Mollayo, kurasa tak ada hari buruk, karena aku selalu bersama Jonginnieku,” jawab Yoo gombal.

“Aish, kerjaanmu hanya memikirkan Kkamjong-mu saja, Bambi,” gerutu Ahra.

“Justru hari terburuk itu jatuh pada hari ini! Tepat hari ini, dan mungkin seterusnya…”

Yoo berdecak. “Omona, karena kau bertemu dengan namja itu?”

“Tepat sekali!” Ahra menjentikkan jarinya.

“Bagaimana dengan first kiss-mu yang direbut olehnya?” tanya Yoo seraya tersenyum geli.

Seketika semburat merah muncul di pipi chubby Ahra.

“Hahaha, beruntung sekali ia bisa menjadi first kiss-mu!” goda Yoo.

“Beruntung apanya, ah, sudahlah Bambi!” sergah Ahra, ia masih malu.

“Hihihi,” Yoo tertawa geli.

Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di perumahan yang sama.

“Ayo turun!” ajak Yoo.

“Ne,” balas Ahra.

Mereka turun dari bus, dan berjalan kaki bersama. Sebenarnya, rumah mereka berdekatan, hanya berjarak beberapa blok saja. Setelah jauh berjalan, akhirnya mereka berpisah di persimpangan jalan.

“Annyeong, Centil!” Yoo melambaikan tangannya.

“Annyeong, Bambi!” balas Ahra melambaikan tangannya juga. Ahra berjalan lagi, tak butuh waktu lama untuk sampai di rumahnya.

“Aku pulang, eomma~” seru Ahra dari depan pintu.

“Wah, ternyata kau sudah pulang,” sambut eomma Ahra senang.

“Begitulah,”

“Oh iya, ternyata rumah mewah di sebelah kita sudah ada yang menempati sekarang, baru saja pindah tadi pagi,”

“Eh? Jinjjayo, eomma?”

“Ne, katanya pindahan dari Cina,”

“Cina?” Tiba-tiba perasaan Ahra tak enak. Apa jangan-jangan… Tidak mungkin!

“Ahra-ya?” panggil eommanya, membuat Ahra tertegun.

“Ah, n, ne eomma?” sahut Ahra tergagap.

“Ayo masuk, untuk apa kau melamun disitu?”

“N, ne eomma!”

Ahra segera menuju ke kamarnya, lalu mengintip rumah mewah itu, ternyata benar saja, sudah ada yang mendiaminya. Dan kamar di seberangnya jendelanya terbuka, alangkah indahnya jika ada kenalan baru, mungkin remaja seusianya, jadi mereka bisa mengobrol.

Sesosok namja kemudian memasuki kamar itu, membuat Ahra tercengang.

“M, mwo?! Namja itu lagi?!” serunya. Dunia seakan runtuh hari ini.

***

Segitu dulu ya._. ehehe, ini pengerjaannya sambil denger lagu Time Control, tapi gak nyambung banget sebenernya-__- Udahlah, kamsahamnida yang mau baca, tunggu part selanjutnya! ^^v Annyeong :3 salam unyu dari 2Jong~ *kecup basah*

 

Sumpah author tergesa gesa mengetiknya. Karena takut idenya kabur lagi XD

RCL adalah suplemen makanan terbaik untuk para author. Karena author sudah kurang gizi setelah mengais ngais ide (?), author butuh RCL walaupun hanya coment.-.

Jeongmal gamsahamnida yeoreubun

Iklan

12 pemikiran pada “What Are You Doing Today? (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s