I Love You

Author : junghabin prev; fishyflameye

Title : I Love You

Main cast :

  • Xi Luhan
  • Kim Nara (OC)

Other cast :

  • Oh Sehun
  • Jung Hyemin

you can find them

Length : Oneshot

Genre : AU, Romance, Sad

Rating : T

ajajaja

Author Note: Ini dia ff kedua-ku di exofanfiction 😀 sebelumnya ff-ku berjudul Turn Back, main castnya Sehun dan Hyemin (OC). Jadi ff ini semacam lanjutannya cuman berbeda main cast 😀 walaupun ini ff kedua, tetep aja masih pemula, jadi masih butuh saran dari kalian 😀 seperti biasa, tulisan bercetak tebal itu flashback, typo harap dimaklumi, terima kasih buat exofanfiction yang udah ngepost ff sederhana ini 😀

Happy reading 😀

***

“Hyemin~ah, kau tidak bersama Nara?”

“Ah, Luhan? Nara sedang ke toilet sebentar”

“Eung, begitu. Baiklah, gomawo

Necheonma

“…..”

“Luhan!”

Ne?”

“Untuk apa kau menanyakan Nara?”

Aniya

 

***

Xi Luhan POV

Ku rasa aku tidak perlu menunggu jawaban Hyemin selanjutnya, karena yang aku perlukan saat ini adalah Kim Nara.

Clek!

MwoYa, Luhan~ssi. Sedang apa kau….di depan pintu toilet yeoja?”

Aniya

“Ikut aku kajja!” lanjutku menarik tangannyatangan Kim Nara.

Aku tak memberi ia waktu untuk menjawab, karena aku langsung berlari menarik tangannya menuju taman sekolah yang ku yakini jarang sekali di datangi orang-orang.

“Eum….ada apa?” tanyanya ketika aku menghentikan langkahku.

Aku melepas tanganku yang masih menggenggam tangannya dan membalikkan badanku ke belakangke arahnya.

Ku liat wajahnya yang menunduk, tertutupi dengan rambutnya yang terurai namun tak dapat menghalangi wajahnya yang indah. Perlahan ku genggam kedua tangannya.

Dan yang ku tunggu pun terjadi, ia mendongakan wajahnya, sehingga aku dapat melihat wajahnya utuh tanpa ada yang menghalangi.

Dia menatapku, menatap mataku yang juga menatap matanya.

“Lu…lu…lu…luhan…~ssi

“Kim Nara” potongku.

Would you be mine?”

 

***

Ya! Luhan~ssi, lepaskan tanganmu!!!”

“Ini bukan Luhan”

“Aish jinjja! Aku tau itu kau”

“Baiklah..” ucapku pasrah dan langsung melepaskan kedua tanganku yang menutup kedua matanya–mata Kim Nara.

“Tuh kan! Kau memang Luhan!” ucapnya berbalik badan ke arahku menggembungkan pipinya.

Aish yeoja ini lucu sekali.

“Lalu kau mau berbuat apa kalau aku memang Luhan, ha? ha? ha?” balasku sambil menggelitikinya.

Ya! Hahahahahaha, baiklah, hentikaaan!”

“Panggil aku oppa dulu!”

MwoYa! Mukamu seperti anak kecil begitu tidak cocok dipanggil oppa!” ucapnya berhasil melepas tanganku yang menggelitiknya dan langsung berlari.

Ya! Kim Nara! Aish, yeoja ini” Balasku langsung mengejarnya.

Ia berhenti di taman, tempat aku menyatakan perasaanku terhadapnya.

Ya, kau–“

Aku menghampirinya yang sudah merebahkan tubuhnya di atas rumput-rumput taman ini,

“sedang apa?” lanjutku mengikutinya merebahkan tubuhku di sampingnya.

“Hanya ingin mengingat masa lalu” balasnya tersenyum kepada langit.

Aku menengokan kepalaku ke arah kiri–ke arah Nara, “Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?”

Ia ikut menengokan kepalanya ke arah kanan–ke arahku, “Waeyo? Tidak boleh?”

Aish, yeoja ini.

Aku mengembalikan posisi kepalaku–menghadap ke arah langit, “Aniya

“Aku ingat saat kau berkata ‘Would you be mine?’”

Lagi lagi aku menengok ke arahnya, ia masih dengan posisi sebelumnya–menengokan kepalanya ke arahku.

Kali ini ia yang mengembalikan posisi kepalanya menjadi menghadap ke arah langit, “Ku fikir aku bermimpi saat itu” lanjutnya.

“Jika memang aku bermimpi saat itu, aku hanya berharap saat itu juga aku terbangun dari tidurku. Aku tak mau terlalu banyak berharap. Kau tau kenapa begitu? Karena aku adalah pengagum rahasiamu. Ku fikir kau tak menyadari keberadaanku, aku–”

Aku menggenggam tangannya, “Dan sampai saat ini aku baru tau kalau dulu kau adalah pengagum rahasiaku. Ku fikir kau akan mengira aku adalah orang jahat yang menarik tanganmu seenaknya” potongku.

“Dan setidaknya sekarang kita sudah bersama, walaupun diawali dengan saling mencintai diam-diam” lanjutku.

Kami saling menengokan kepala, saling menatap. Matanya masih sama seperti 1 tahun yang lalu.

Aku mendekatkan kepalaku ke kepalanya.

Nafasnya mulai terasa.

Ia memejamkan matanya.

Ya, Kim Nara, Luhan~ssi, sudah ku duga kalian ada di–“

AigoMimimian!” lanjutnya sukses membuatku menjauhkan kepalaku dengan kepala Nara.

Nara langsung bangun dari rebahannya, “Mwo? Hyemin? Ada apa?” tanyanya kaget.

Ani, aku ingin mengajak kalian main. Sehun sedang ada pelatihan untuk pertandingan basketnya, huhu”

“Ah tapi sepertinya aku mengganggu kalian, aku pergi duluan–“

Chakkaman!” potong Nara.

“Ayo pergi denganku. Luhan, aku pergi bersama Hyemin, ne?” lanjut Nara.

“Tentu. Kenapa tidak?” jawabku tersenyum kepadanya.

Ia membalas senyumku, “Gomawo

***

Kim Nara POV

Ya, Kim Nara bandel yah~”

“Aish, kau ini”

Marhaebwa! Sudah berapa kali kalian melakukan–“

Ya! Kau ini mesum sekali Hyemin~ah. Tentu saja kami belum pernah!” potongku menegaskan.

“Ckckck. Baiklah aku mempercayaimu”

“Tapi tadi? Kalian sedang apa?” lanjutnya membuatku kaget.

“Eung itu, hanya mengenang masa lalu”

“Tsk, baiklah. Temani aku makan, kajja!” ucapnya langsung menarik tanganku.

***

Aku duduk di sebelah Hyemin yang sedang memakan makan siangnya, “Jung Hyemin~ssi” panggilku.

“Eum?”

“Apakah kau pernah melakukan itu?”

“Melakukan itu? Melakukan apa?”

“Yang tadi kau tanyakan padaku..”

Uhok! Uhok!

“Aish, kau kenapa sampai tersedak begitu” ucapku langsung memberikannya minum.

“Tentu saja pernah” jawab seseorang dari belakang kami.

Mwo??!! Ya! Sehun! Luhan??!” ucapku kaget melihat Sehun bersama Luhan di belakang kami.

Sehun dan Luhan duduk di bangku depan kami yang terhalangi meja, “Kau kenapa menanyakan hal itu?” tanya Sehun kepadaku.

Ya! Menanyakan apa?!”

“Haruskah aku sebutkan? Menanyakan tentang popp–“

Aku langsung membekap mulut Sehun dengan tanganku, “Aish kau ini sama aja dengan Hyemin”

Ya, Kim Nara kasihan Sehun hahaha” ucap Luhan melepas tanganku dari mulut Sehun.

***

“Kau jangan percaya dengan Sehun”

Mwo? Hahaha, memangnya kenapa?”

“Itu tidak benar!”

“Kalaupun benar juga tak apa”

MwoYa! Kenapa kau jadi mesum juga?!” balasku memukul lengannya.

Yaappo

Omo Xi Luhan, wajahmu mengapa lucu sekali..

Aku langsung memegang lengannya yang tadi ku pukul, “Sakit sekali? Aigomian

Ia tersenyum kepadaku, “Gwenchana

Perlahan ia menggenggam tanganku dan kami melanjutkan perjalanan kami pulang ke rumah.

“Eum, besok kau ada acara?” tanyanya.

“Tidak. Wae?”

“Bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan?”

“Hmmm, baiklah!”

“Besok aku jemput, ne?”

Aku tersenyum kepadanya, “Ok!” ucapku.

Ia membalas senyumku dengan senyumannya yang tak pernah gagal membuatku meleleh.

***

Noona, itu ada temanmu di bawah”

Namja?”

Ne

“Suruh dia tunggu sebentar”

Ne

“Ngomong-ngomong, dia namjachingu-mu?” tanyanya kembali.

Ne Minseok~ssi

“Tsk, kau pintar memilih namja”

Aku tersenyum ke arahnya, “Tentu saja”

Chakkaman hyungnoona sedang berdandan. Dia memang begitu, kalau berdandan lama sekali”

YA! KIM MINSEOK! APA YANG KAU KATAKAN?!” teriakku dari balkon atas depan kamarku.

“Lihat saja hyung, kelakuan dia sebagai yeoja teriak-teriak seperti itu di depan namjachingunya” sungguh Kim Minseok, kau minta dipenggal.

“Hahaha, sudahlah, kasihan noonamu” ucap Luhan membelaku.

“Ngomong-ngomong, namamu siapa? Kim Minseok?” lanjutnya.

Ne hyung, atau panggil aku Xiumin juga tak apa. Lalu namamu siapa hyung?”

“Baiklah Xiumin. Namaku Xi Luhan”

“Xi Luhan? Kau bukan orang Korea asli?”

Ne, aku orang China hehehe”

Aku mendengarkan percakapan diantara mereka, ku harap Xiumin senang dekat dengan Luhan, ckckck.

Aku menuruni tangga, “Luhan~yakajja!”

Luhan menengok ke arahku, “Mwo? Ah ne. Xiumin, aku pergi dengan noonamu dulu, ne?”

Ne hyung. Hati-hati dengan noonaku”

Ya!–“

Negomawo” potong Luhan sembari menutup mulutku dengan kedua tangannya.

***

 “Kau cantik hari ini”

“Eh? Maksud…mu?”

Luhan menengok ke arahku, dan tersenyum, “Kau cantik hari ini chagiya~”

Aku hanya membeku melihat senyumnya, “Ya! Jangan menatapku seperti itu” ucapku ketika menyadari ia masih menatapku.

“Ck, kau ini. Kau juga mengapa menatapku seperti itu?” Godanya.

Aish Luhan, bagaimana bisa wajahmu seperti itu?

“Eum, gomawo” ucapku pelan.

Ia menengok ke arahku, “Gomawo? Untuk apa?”

“Eung…tadi…kau sudah bilang aku cantik”

Apakah ucapanku tadi terlihat begitu percaya diri? Baiklah aku mulai menundukan kepalaku.

“Hahaha, nado gomawo sudah bilang wajahku seperti anak kecil”

Mwo? Hahaha, kau masih ingat saja”

“Tentu. Tak akan pernah ku lupa. Lagipula, kau tidak cantik hari ini saja, kau cantik setiap waktu. Haruskah aku mengatakan bahwa kau cantik setiap waktu?”

***

Gomawo untuk hari ini” ucapku ketika sudah berada di luar mobil Luhan.

“Sudah berapa kali kau mengucapkan kata ‘gomawo’ hari ini kepadaku? Ckck”

“Hehehe. Baiklah, hati-hati Luhan~ya

Ia tersenyum, “Ne

Aku berbalik badan berjalan menuju pagar rumahku, “Kim Nara!” panggil Luhan kembali.

Ne?” ucapku menengok ke arahnya.

Saranghaeyo

***

“Nara~ya!”

“Sehun~ahWae?”

“Kau mau kemana?”

“Mencari Luhan, hari ini aku belum melihatnya hehehe”

Ya, kau tidak tau? Ia tidak masuk hari ini”

Mwo? Kemana dia sampai tidak masuk hari ini?

“Eum, begitu. Gomawo Sehun~ah” ucapku langsung berlari meninggalkan Sehun.

***

Aku menekan bell rumah Luhan, ya aku pergi ke rumahnya untuk mengetahui mengapa ia tak datang ke sekolah hari ini.

Annyeong Nara~ssi

“Ah neannyeong bibi Jung. Luhannya ada?”

“Luhannya sedang pergi ke luar kota”

Mwo? Berapa lama?”

“Kurang lebih seminggu”

“Eum begitu. Gamsahamnida bibi Jung, maaf menyita waktumu”

Ia tersenyum, “Gwenchana

Aku melangkah menjauh dari rumah Luhan setelah menanyakan tentang ‘mengapa ia tak hadir ke sekolah’ hari ini. Setelah itu, aku langsung mengirimnya pesan.

From: Kim Nara

Ya! Xi Luhaaan!! Mengapa kau pergi tak mengabariku sedikitpun?!

 

Aku menunggu balasannya sambil melanjutkan perjalananku ke rumah. Dan yah, sampai saatnya aku sampai di rumah, ia tak kunjung membalas pesanku.

***

10 hari kemudian.

“Kim Nara!” panggil seseorang dari depan pintu kelasku.

“Luhan?!” ucapku kaget langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.

Ya! Kau kemana saja?! Aku kangen sekali denganmu, aku hanya berdiam diri di kelas selama istirahat, kata bibi Jung kurang lebih kau hanya seminggu perginya, ternyata lebih dari seminggu, kau juga tak memberi kabar sebelum kau pergi, pesanku pun tak kau balas” aku mengoceh sambil menangis di dalam pelukannya.

Ssstt, sudahlah. Aku juga kangen sekali denganmu, mian tak memberi kabar, ini sangat mendadak. Pesanmu pun baru aku baca saat aku sampai disini kembali, handphoneku tertinggal di tempat tidurku. Ku rasa bibi Jung tidak melihatnya”

“Tidak enak berbicara disini, ayo kita ke taman” ajaknya merangkul pundakku.

Jeongmal bogoshippo Luhan” kataku sesampainya di taman.

Ya, kau mengapa menangis?” ucap Luhan langsung mengusap air mataku di kedua mataku.

Ia langsung menarikku ke dalam pelukannya, “Nado jeongmal bogoshippo chagiyamianhaejeongmal mianhae aku tak memberi kabar kepadamu”

“Lagipula kau harus terbiasa tanpaku” lanjutnya.

Mwo? Kita kan selalu bersama” jawabku mendongakan wajahku agar melihat wajahnya.

“Maksudku barangkali aku harus menemani appa pergi seperti kemarin, kau sudah terbiasa. Kau tau kan eommaku sudah tidak ada, jadi aku harus menemani appa

***

Kali ini Luhan mengajakku ke taman luar sekolah, ia bilang kita bisa menghabiskan waktu disana selama kita sedang tidak di sekolah.

“Whoaa, indah sekali”

“Begitukah? Kau suka tempat ini?”

Aku mengangguk, “Ne

Ya, Nara~ya, ada ulat di kepalamu”

MWOYA! TOLONG AKU! LUHAN! TOLONG AMBIL ULATNYA!” teriakku ketakutan.

Sungguh, aku takut sekali dengan ulat.

“Panggil aku Luhannie dulu baru akan aku ambilkan ulatnya” jawabnya santai.

Ya, aku mohon..” ucapku dengan puppy eyesku.

Shireo!”

Jebal Luhan..” aku memohon dengan suara gemetar, aku takut.

“Panggil aku Luhannie dulu”

“Baiklah Luhannie, tolong aku”

Ia mengambil ulat di kepalaku dan melemparnya jauh-jauh.

Aku langsung memeluknya sambil menangis, “Aku takut dengan ulat!!” ucapku dalam tangisku.

***

Author POV

Mwo? Aish mian, aku tidak tau kalau kau se-begitu takutnya dengan ulat” ucap Luhan panik.

“Lagipula ulatnya sudah tidak ada, lihat?” lanjut Luhan mengangkat kepala Nara dari dekapannya.

Nara tersenyum, “Gomawo

“Hahaha kau ini, cengeng sekali sih semenjak aku tinggal kemarin” ucap Luhan meledeknya.

“Lagipula aku senang, kau memanggilku Luhannie” lanjutnya sukses membuat Nara mencibirkan bibirnya.

“Aku ingin kau memanggilku Luhannie atau chagiya!” pinta Luhan.

Mwo?” ucap Nara kaget.

***

Kajja! Kita ke taman!” ucap Luhan sepulang sekolah kepada Nara.

Uhok! Uhok!

“Nara? Gwenchana?” Luhan terlihat khawatir dengan Nara.

“Hanya batuk biasa” balas Nara santai.

Ya, pasangan itu romantis sekali yah”

“Iya, aku iri deh sama mereka berdua”

“Nara beruntung yah bisa mendapatkan Luhan, artis sekolah kita”

Ne, setauku dulu Nara penggemarnya Luhan, sekarang sudah jadi yeojachingunya. Omo, beruntung sekali”

Begitulah serentetan ucapan yang Luhan dan Nara dengar dari anak-anak sekolah mereka saat mereka hendak melangkah ke pintu gerbang sekolah. Mereka hanya tersenyum kepada orang-orang yang mereka lewati. Tak jarang ada yang menyapa mereka.

“Kim Nara! Xi Luhan!”

“Whoa, Sehun? Hyemin?” ucap Nara dan Luhan bergantian.

“Kalian mau kemana?”

“Ke taman, biasa ehehe. Kalian?”

“Ke rumahku” jawab Hyemin tersenyum.

“Seperti biasa, menemaninya, ck” lanjut Sehun.

“Kalian makin romantis aja, bukan begitu Hun?” ucap Hyemin menyenggol lengan Sehun.

“Tentu! Hahaha”

“Ah? Kalian bisa saja” balas Nara menggaruk kepalanya yang sudah pasti tak gatal.

“Kami duluan, neAnnyeong Hyemin~ah, Sehun~ah” ucap Nara dan Luhan berpamitan.

***

Seperti biasa yang dilakukan Nara dan Luhan ketika di taman, merebahkan tubuh mereka di atas rerumputan yang hijau.

“Aku harap kita bisa seperti ini, selamanya” ucapnya–Kim Nara.

“Aku juga berharap begitu” balas Luhan tersenyum menghadap langit.

“Kau kenapa? Suaramu mengapa bergetar seperti itu?”

Luhan bangun dari rebahannya, “Ani, sudah larut malam, ayo kita pulang”

“Luhan? Wajahmu kenapa pucat sekali?” ucap Nara ikut bangun dari rebahannya.

Ani, hanya pucat saja, sudah biasa”

“Tapi kau benar-benar puc–“

“LUHAN!” ucap Nara yang terpotong karena melihat Luhan yang tiba-tiba pingsan.

***

Kim Nara POV

“Kau kenapa tidak pernah bilang kepadaku tentang semua ini?”

“Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?”

“Ku mohon kau jangan mengalihkan pembicaraanku”

“Kau sudah minum obat batukmu?”

“Ku mohon untuk saat ini jangan mempedulikanku Luhan~ssi!” ucapku dengan nada meninggi.

“Kau bodoh! Mengajakku pergi ke taman setiap hari, padahal kau harus beristirahat lebih. Mengkhawatirkanku yang hanya sakit batuk sementara keadaanmu seperti ini? Bilang kepadaku pergi menemani appa padahal kau yang pergi berobat ditemani appa? Kenapa tidak memberitahu yang sebenarnya Luhan~ssi?“

“Aku…aku…aku hanya takut kehilanganmu” lanjutku mulai mengeluarkan air mataku.

Luhan menggenggam tanganku, “Aku memang bodoh. Sudah tau aku tak bisa menemanimu selamanya, malah berani menyatakan perasaanku kepadamu, babo

“Luhan….”

“Namun bagiku itu adalah kesalahan terindah” lanjut Luhan.

***

Annyeong Luhannie!” sapaku sesampainya di kamar rawat Luhan.

Mwo? Hahaha, tumben sekali kau panggil aku Luhannie”

“Kan kau yang memintanya, ck”

“Kau sudah makan?” lanjutku bertanya kepadanya.

“Belum lapar. Kau sudah makan?” aish Luhan, selalu seperti ini.

Aku keluar mencari suster yang biasa membawakan makanan untuk Luhan.

“Suster, boleh aku minta makanan untuk Luhan?”

“Ah ne, tadi sudah aku bawakan tapi ia malah menyuruhku untuk membawanya lagi” ucap sang suster sembari memberiku nampan berisi makanannya.

“Ck, mianhae atas kelakuannya. Gomawo

Aku kembali masuk ke kamar rawat Luhan dan memberikan nampan tersebut, “Ini makan” ucapku berdiri di samping ranjangnya.

Mwo? Segampang itu kau menyuruhku makan? Shireo!”

Ya, makanlaah. Ku mohon..”

“Tapi kau harus menyuapi aku”

Ck, anak ini. Bukan hanya wajahnya saja yang kekanak-kanakan, ternyata sifatnya juga.

“Baiklah, buka mulutmu”

Luhan mendudukan tubuhnya.

Satu suap pun sudah berhasil.

Dua suap.

Tiga suap.

Empat suap.

“Kau belum makan juga bukan?” kali ini Luhan mengambil alih sendoknya.

“Buka mulutmu” ucapnya.

Aish. Aku pun membuka mulutku. Dan pada akhirnya kami saling menyuapi satu sama lain, ck.

“Sudah habis kan?”

“Karena aku membantumu menghabiskan makanan ini” balasku mencibirkan bibirku.

“Hahaha, kau juga lapar kan?” ledeknya.

“Huh, aku keluar sebentar” ucapku membalikan badanku.

Chakkaman!” ucapnya menarik tanganku dan membuat dahiku menyentuh dahinya.

Ya Tuhan, aku tak pernah melihat wajahnya sedekat ini.

“Aku mohon kau temani aku disini, kau tau keadaanku bagaimana? Mungkin aku akan melewati masa-masa kritisku, ku harap saat itu terjadi, kau ada disini, menemaniku.”

Ia memegang kepalaku dengan kedua tangannya, “Saranghaeyo Kim Nara”

“Lu…Lu…Luhan?” balasku gugup.

Luhan tak membalas ucapanku, ia malah menarik kepalaku, semakin dekat.

Chu~

***

“Maafkan aku malam ini tidak bisa menemanimu”

Gwenchana, besok ada test yang harus kau laksanakan. Lagipula kau sudah hampir seminggu tidur disini, ku rasa eommamu khawatir”

Aku tersenyum kepadanya, “Negomawo Luhannie”

Aku baru beberapa langkah keluar dari rumah sakit tempat Luhan dirawat, tiba-tiba aku mendapatkan satu pesan masuk.

From: Xi Luhan

Chagiya! Fighting!! Mian aku tidak bisa mengikuti test tersebut bersamamu TT

 

***

Aish mengapa aku tidak bisa berfikir?

Fikiranku selalu tertuju kepada Luhan. Apa kabar ia disana?

Apakah ia baik-baik saja? Oh kenapa aku berfikir seperti itu? Sudah pasti ia baik-baik saja!

Seharusnya aku mengerjakan soal ini segera agar bisa menjenguk Luhan.

Aku mendesah pelan. Akhirnya aku selesai menyelesaikan soal-soal tersebut.

Ku lihat ponselku, satu pesan baru.

From: Xi ahjussi

Kim Nara, tolong kesini secepatnya. Luhan dalam keadaan kritis dan dia terus memanggil namamu

 

***

“Luhan!” ucapku dengan nafas tak beraturan.

Tanpa permintaan, semua suster yang semula mengelilingi ranjang Luhan pergi keluar menyisakan aku dan Luhan di dalam kamar rawat ini.

“Kim…Nara” ucapnya terputus.

Chagiya, kau jangan banyak berbicara” ucapku menahan tangis sambil mengusap pelan pelipisnya.

Aku menatap wajahnya yang tak berhenti tersenyum meskipun dalam keadaan seperti ini.

Mian…” kali ini air mataku tak terbendungi lagi.

Saranghae…

“Xi Luhan…”

“Xi Luhan??!!”

“Ku mohon, kau masih mendengar aku berbicara kan?”

“Ku mohon kau jangan bercanda…”

***

“Saat kau test, Luhan menulis ini. Dia bilang, ini untukmu”

Mwo? Ah gamsahamnida ahjussi

Kim Nara!! Bagaimana testmu? Mudahkah? Mian aku tak bisa mengikuti test itu bersamamu TT

Kau tahu, meskipun aku seperti ini, aku bahagia karena kau masih selalu di sisiku.

Aku takut jika kau tau, kau akan meninggalkanku.

Ku fikir air mataku sudah habis, ternyata aku salah. Aku masih bisa menangis padahal aku belum ada setengah membaca surat ini.

Kau adalah alasan mengapa aku kuat menjalani hidup ini. Bahkan, aku tidak terlihat seperti orang yang terkena kanker darah stadium 4 bukan? Kkkk. Itu semua karnamu, Kim Nara.

Aku senang mendengarmu memanggilku Luhannie, karena itulah yang ku tunggu-tunggu. Haruskah aku sakit seperti ini agar kau memanggilku Luhannie? Ah, aku hanya bercanda Kim Nara ehehe.

“Kim Nara…”

“Aku bodoh!” ucapku disertakan isak tangisku yang tak berhenti-henti.

Hyemin yang melihatku terpuruk langsung memelukku, “Aku bodoh Hyemin~ah, aku bodoh!” ucapku kembali di dalam pelukannya.

“Tidak, kau tidak bodoh. Kau harusnya bangga, kau menjadi yang terakhir untuknya!”

Ku harap Kim Nara tidak cengeng lagi hahaha. Itulah alasanku bilang kau harus membiasakan diri tanpaku kepadamu waktu itu.

Ku harap Kim Nara selalu cantik seperti biasanya. Ingat! Kita hanya terpisahkan oleh jarak.

Terima kasih sudah menemaniku menghabiskan waktuku, sehingga waktuku tak sia-sia.

 

Saranghaeyo, Kim Nara

 

Xi Luhan

 

The End

 Gimana nih pendapat kalian? 😀 mian buat semuaaaaaa kekurangannya TT oiya aku bikin ff ini karena ada yang request >///< tolong dicommentyah ^^ karena ini cuman ff, jadi kata-katanya jangan dimasukin ke hati yah uu gomawo /bow/

Iklan

12 pemikiran pada “I Love You

  1. ahhh.. jjinjaaa… inii sedih, beneran sedih.huhuhu, aku suka banget cast luhan disini dan cast sehun yg disana.. buatlah karya yg lain yg bisa membuatku dan readers yg lainnya berasa ikut terjun kedalam ceritanya nee.. hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s