Memories (Chapter 9)

Title: Memories (Sequel of Soulmate) | Part 9

Sub-Title: Huang Zi Tao / Tao (Appo)

Author: Lee Yong Mi / @YongMiSM

Genre: Romance, Thriller, Tragedy, Fantasy

Length: Chapter

Main Cast:

  1. EXO-M Tao
  2. Lee Yong Mi
  3. Lee Hyunwoo
  4. BAP Members

Rating: Masih di part 9… PG-16

Disclaimer:

                Not for silent readers, please.

Poster credit: Poster credit at: cipzcagraph.wordpress.com

 memories-tap-appo

 

 

Huang Zi Tao (Appo)

 

Yong Mi cemas. Setelah Kris mengatakan segala hal yang ia ketahui mengenai wingstales, ia benar-benar cemas. Pasalnya adalah, wingstales tidak dapat mereka sakiti.

“Wingstales, mereka adalah roh-roh dari para manusia yang terpilih. Biasanya mereka memang dipilih dari beberapa keluarga manusia yang dianggap pantas untuk menjadi wingstales.”

“Wingstales mempunyai sepasang sayap berwarna putih bersih. Mereka juga mempunyai kemampuan yang tidak dapat dianggap remeh. Lalu, kita sebagai makhluk bumi juga tidak dapat melukai mereka, karena jika kita melukai mereka, justru tubuh kita sendiri yang akan terluka.”

“Mungkin wingstales dapat dikategorikan sebagai makhluk ‘suci’, namun tidak. Jika salah satu dari mereka terluka, maka yang lain akan membalas dengan serangan yang hebat! Mau bagaimana pun, kita pasti akan berperang dengan mereka. Oleh karena itu, kita harus kembali bersiap.”

“Kita akan kembali latihan, baik itu latihan mempertahankan diri maupun latihan menggunakan kekuatan kita masing-masing.”

Yong Mi menghela nafas. Ia tahu bahwa semua ini adalah kesalahannya. Maksudnya, para wingstales itu mengincarnya, bukan? Pernah terbersit di dalam pikirannya untuk menyerahkan diri pada mereka, agar semua anggota EXO tetap aman.

Tapi bagaimana mungkin ia dapat meninggalkan EXO? Ia telah memiliki ikatan yang kuat dengan mereka semua.

“Ugh… Ottokhae? Apa yang harus kulakukan?”

Yong Mi benar-benar bingung sekarang.

+++

Hyunwoo sedari tadi memperhatikan kondisi adiknya. Ia tahu bahwa adiknya merasa takut karena mengetahui fakta bahwa ia adalah salah satu dari wingstales, tapi apalah yang harus Yong Mi takutkan? Bukankah ia juga salah satu dari wings

“Tunggu dulu.”

Hyunwoo melompat turun dari ranting tempat ia duduk sedari tadi.

“Yong Mi… Tidak tahu bahwa ia adalah salah satu dari wingstales.”

Samar, sebuah senyuman sinis terbentuk di wajah Hyunwoo…

“Akan kumanfaatkan kesempatan ini.”

+++

Huang Zi Tao / Tao

Trang!

Aku mengeluarkan seluruh kemampuanku pada pedang ini. Amarahku sedang memuncak, dan aku melampiaskannya pada latihan pedang. Yang menjadi partner berlatihku adalah Kris hyung, dan ia pun sedikit kewalahan melawanku.

“Yong Mi tidak ikut berlatih?” suara Baekhyun terdengar, dan itu membuat amarahku semakin naik. Ya, karena nama itulah aku marah. Aku tidak ingin mendengar nama itu saat ini.

“Ia sedang tidak fit untuk ikut latihan, jadi ia beristirahat di dalam kamarnya.” Jawab Kris hyung di sela latihan kami. Saat itulah aku menyerangnya dan melemparkan pedang itu jauh darinya.

Trang!

Pedang itu jatuh ke atas lantai. Kris hyung mengangkat kedua tangannya, sedangkan aku hanya tersenyum kaku.

“Kau mengalahkanku lagi, Tao.” Ucap Kris hyung seraya menepuk bahuku. Mungkin ia bangga, tapi aku tidak. Yang terpikirkan di kepalaku hanyalah bagaimana cara untuk menyingkirkan yeoja itu dengan cepat…

Aku benar-benar membencinya.

+++

Lee Yong Mi

Deg!

Aku melihat sekelilingku dengan cepat. Rasa itu datang lagi. Entahlah, aku selalu merasakan bahwa ada seseorang yang mengawasiku secara terus menerus. Dan sepertinya firasatku ini benar, karena beberapa kali aku memergoki sepasang mata sedang menatapku dari kejauhan, namun ketika aku memfokuskan diriku untuk melihat mata tersebut, entah mengapa mereka selalu hilang.

“Yong Mi-ah…”

Tubuhku membeku. Suara itu lagi! Itu adalah suara yang selalu mengendalikanku!

“Yong Mi-ah…”

Aku menutup kedua telingaku. Tidak! Aku tidak mau mendengar suara ini lagi!!

“Yong Mi…”

Samar, aku melihat seorang namja yang berdiri di depan jendela kamarku. Ia mengulurkan tangannya, seakan menyuruhku untuk segera menghampirinya.

“Yong Mi… Kemarilah…”

“Shi, shireo!!” teriakku. Aku menggunakan kekuatan anginku untuk menutup jendela dengan rapat. Kenapa para wingstales juga mengincarku?! Sudah cukup vampire memperebutkanku, sekarang ditambah dengan wingstales!

“Kau tidak dapat menghindari takdirmu, Yong Mi…”

“Aku tidak peduli!!!” teriakku lagi. Aku segera menarik selimut sehingga menutupi seluruh tubuhku. Aku terlalu takut sekarang!

“Yong Mi.”

Aku membuka selimutku dan melihat Tao berdiri di depan pintu. Ia menatapku datar.

“Kau masih disini ternyata.” Ucapnya yang membuatku terdiam. Ternyata… ia membenciku juga. “Baiklah, aku tidak akan banyak berbasa-basi. Keluar, temui Kris hyung, latihan pedang, kembali ke kamar, tidur. Mudah bukan? Selamat tinggal.”

Ia mengucapkannya dengan cepat, kemudian ia berjalan keluar dari kamarku. Entah apa yang terjadi, tapi… aku hanya merasakan sebuah rasa sakit. Tepatnya di dalam dadaku… Kenapa bisa sakit seperti ini?

“Sekali lagi kukatakan. Temui Kris hyung.”

Tao ternyata masih berdiri di depan kamarku, baru ia melanjutkan langkahnya. Aku mengikutinya pelan, dan akhirnya kami sampai di kamar Wu Fan. Wu Fan segera menyadari keadaanku, dan ia menghampiriku dengan cepat.

“Yong Mi-ah, kau pucat sekali. Gwenchana?” tanya Wu Fan padaku. Aku hanya tersenyum tipis.

“Ne, gwenchana Wu Fan…” jawabku pelan, namun entah mengapa aku merasa kepalaku pusing. Semua berputar dan… berubah gelap.

+++

Huang Zi Tao / Tao

Yeoja itu tiba-tiba saja ambruk ke atas lantai. Aku hanya menatapnya datar. Kris hyung mengguncangkan tubuhnya.

“Yong Mi-ah? Yong Mi-ah!!”

Membosankan.

Setelah adegan Kris hyung menangis karena Yong Mi tak kunjung bangun, Lay hyung pun mengatakan bahwa Yong Mi kekurangan darah. Dasar yeoja aneh, bukannya ia telah banyak mendapatkan transfusi darah dari Lay hyung dan yang lain? Mengapa ia masih saja mengalami blood comma? Ah, tapi semua itu bagus… Artinya ia antara hidup dan mati. Lebih baik lagi jika dia mati.

Dan sekarang, mau tidak mau aku harus menemani yeoja itu di kamarnya. Well, sebenarnya Kris hyung yang memaksaku untuk ‘menjaga’ yeoja itu, karena tiba-tiba saja ia dipanggil oleh dewan vampire.

Menyusahkan saja. Seharusnya saat itu aku berlatih pedang, bukan menunggu yeoja ini siuman. Atau jika perlu, aku saja yang membunuhnya. Mudah, bukan? Yang perlu kulakukan hanyalah mengambil sebuah pedang, kemudian menusukkannya di tubuh yeoja itu, lalu ia mati. The end. Akhir yang membahagiakan.

“Benarkah itu yang kau inginkan?”

Aku terkejut ketika melihat seorang namja yang duduk di jendela kamar ini. Dia menatapku datar.

“Cih, nuguya? Kau memasuki rumah orang tanpa permisi.” Ucapku ketus. Namja itu berjalan menghampiriku, kemudian ia berhenti dengan jarak 3 meter dari tempatku duduk.

“Namaku Shin Yongjae, tapi kau bisa memanggilku Yongjae. Sepertinya kau sangat membenci yeoja itu, hm?”

Itu adalah hal yang tidak perlu ditanyakan lagi. Jelas aku membencinya.

“Kalau begitu, aku akan menawarkan sesuatu yang menarik untukmu.”

Ia mengayunkan tangannya, dan tiba-tiba saja di antara kami terdapat segumpal awan. Awan itu menampilkan beberapa buah gambar yang terlihat seperti sebuah video.

“Kau tahu tentang wingstales, bukan?” tanyanya yang membuatku terhenyak. Seketika aku menyadari bahwa namja itu adalah salah satu dari wingstales. Apa tujuan mereka disini? “Aku hanya ingin memberitahukan satu hal saja. Keluarga Lee, yaitu Lee Hyunwoo dan Lee Yong Mi, mereka berdua merupakan keluarga yang terpilih untuk menjadi wingstales.”

Aku terbelalak. Yong Mi terpilih? Tidak mungkin!

“Dan kau tahu, bahwa setiap manusia yang mati akan menjadi wingstales.” Ucap Yongjae lagi. “Jiwa manusia Yong Mi telah mati, oleh karena itu aku harus membawanya ke tempat ia seharusnya berada. Sayangnya, ia memiliki satu jiwa lagi, yaitu jiwa vampire. Karena jiwa manusia Yong Mi telah mati, ia telah mendapatkan kekuatan dari seorang wingstales.”

Semua ini… tidak mungkin.

“Untuk membunuh seorang vampire yang juga merupakan wingstales hidup, kau hanya bisa membunuhnya dengan pedang khusus.” Ucapnya. “Aku dan kelima saudaraku memiliki pedang khusus itu, sayangnya kami tidak bisa membunuh Yong Mi, karena jika seorang wingstales membunuh seseorang, maka mereka akan kehilangan sayap dan kekuatannya…”

Gumpalan awan itu menghilang, bergantikan dengan dirinya yang menatapku tajam.

“Oleh karena itu, kami membutuhkan bantuanmu, Tao.”

Ia menjentikkan jarinya.

“Besok pukul 12 malam, datanglah ke dalam hutan. Aku akan memberikanmu pedang tersebut, dan gunakanlah kemampuan time control-mu untuk menghentikan waktu. Bunuh Yong Mi pada saat itu, lalu jiwanya akan musnah dalam sekejap. Kami akan segera membawanya kembali, dan kau tidak harus bertemu dengannya lagi.”

Ia berbalik, berjalan kembali ke arah jendela, dan bersiap untuk keluar.

“Jadi, kau akan datang?”

Tanpa menunggu jawabanku, ia melompat keluar dan menghilang dari pandanganku. Samar, aku tersenyum sinis.

“Tentu saja aku akan datang…”

+++

Siang hari. Sehun melihat Tao yang kembali berlatih pedang tanpa diminta.

“Tao hyung? Kau berlatih lagi?” tanya Sehun. Tao mengangguk, dan ia menggerakkan pedangnya seakan ada lawan di hadapannya. Keringat bercucuran dari dahinya. “Kalau hyung lelah, lebih baik hyung berhenti dan beristirahat sejenak-“

“Andwae!!” potong Tao cepat. “Aku harus terus berlatih.” Ucapnya datar, kemudian ia kembali mengayunkan pedangnya. Sehun mengernyit bingung.

“Baiklah, hyung. Tapi jangan terlalu berlebihan.” Ucap Sehun, kemudian ia meninggalkan Tao. Tao kembali melatih keterampilannya, dalam hati ia berbisik.

Aku harus latihan…

+++

Pukul 12 malam. Tao melesat di dalam hutan dengan kecepatan yang cepat. Ia melihat seorang namja berdiri tidak jauh darinya, dan namja itu adalah Yongjae.

“Annyeong, Tao.” Ucap Yongjae tenang. Tao berdiri di hadapannya, kemudian ia mengulurkan tangannya.

“Dimana pedang itu?” tanya Tao pelan. Yongjae menjentikkan jarinya, kemudian muncullah sebuah pedang pendek di tangan Tao. Tao menatap pedang yang berwarna perak tersebut.

“Itu adalah pedang yang dapat membunuh seorang wingstales.” Ucap Yong Jae menjelaskan. “Lakukan malam ini, maka kau tidak akan melihat Yong Mi di kemudian hari.” Ucapnya dengan menatap Tao tajam.

“Aku mengerti…” jawab Tao tenang. Ia berbalik, dan kembali melesat ke arah rumahnya.

+++

Tao berkonsentrasi. Pelan, sebuah cahaya keluar dari tubuh Tao, menyinari seluruh ruangan…

Jarum jam yang sedari tadi bergerak kini pun berhenti. Suasana sangatlah hening. Tidak ada suara yang terdengar sedikit pun, selain suara langkah kaki Tao yang berjalan ke arah kamar Yong Mi.

Krieett…

Tangan Tao membuka pintu itu. Ia melihat tubuh Yong Mi yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Tidak ada gerakan sebagai tanda kehidupan sama sekali. Hal tersebut wajar saja karena blood comma di dalam dunia vampire berbeda dengan comma di dalam dunia manusia.

Tap… Tap…

Kaki Tao kembali melangkah. Ia mendekati Yong Mi, dan menatap wajah itu.

Dalam sekejap, ia kembali teringat pada Hyura.

“Lupakan, Tao! Kau justru memperlambat gerakanmu dengan nostalgia tidak penting seperti ini!” bisik Tao pada dirinya sendiri. Ia mengangkat pedang itu dengan tinggi, bersiap untuk menghujamkannya pada dada Yong Mi.

“Lakukan, Tao!”

Suara itu berbisik di dalam pikirannya, memerintahkannya untuk segera membunuh Yong Mi. Namun…

“Lepaskan akuuuu!!!”

“Hentikan…”

“ Hentikan, Tao…”

Tao teringat semua yang pernah ia alami dengan Yong Mi. Dalam sekejap, semua pikirannya mengenai diri Yong Mi berubah 180 derajat. Ia terkesiap, menyadari betapa pentingnya yeoja itu dalam hidupnya.

Trang!

Pedang itu jatuh ke atas lantai. Tangan Tao bergetar hebat. Ia memegangi tubuhnya, yang juga ikut bergetar. Pikirannya kalut, antara harus melakukannya dan… sakit untuk melakukannya…

“Lakukan, Tao!”

Yongjae muncul di sebelah Tao. Ia mengambil pedang itu dan memberikannya kembali pada Tao, namun Tao menepis tangannya keras.

“Jangan menyentuhku!!” teriak Tao kalap. Ia menatap Yongjae tajam.

“Kenapa kau tidak melakukannya?!” balas Yongjae kesal. Ia kembali berusaha untuk meraih pedang itu, namun Tao menendang tubuhnya dengan cepat, sehingga ia terdorong ke belakang dan punggungnya menabrak dinding.

“Sedetik sebelum tadi, aku menyadari sesuatu…”

Tao meraih pedang itu.

“Melihat wajahnya yang terlalu mirip dengan wajah Hyura…”

Ia mengarahkan pedang itu pada wajah Yongjae, membuat namja itu terkejut.

“Membuatku kembali berpikir…”

Tao berjalan perlahan mendekati Yongjae. Tangannya tetap mengancungkan pedang itu tepat di depan wajah Yongjae.

“Bahwa yeoja itu tidak bersalah sedikit pun. Hyura-lah yang telah memutuskan untuk mengalah dulu.”

Tanpa ragu Tao menyerang Yongjae. Ia mengibaskan pedang tersebut di depan wajah Yongjae dan hampir saja mengenainya, namun Yongjae segera menghindar dan ia kembali mundur.

“Kau, mengkhianatiku!!” teriak Yongjae marah. Ia mengayunkan tangannya dan dalam sekejap kamar itu dipenuhi dengan asap, namun Tao lebih berpikir. Ia segera menghampiri Yong Mi dan menjaga tubuh itu.

“Berikan Lee Yong Mi padaku!”

Suara itu kembali terdengar di dalam pikiran Tao. Ia menggeleng, seraya tangannya tetap menggenggam erat tangan Yong Mi.

“Menjauh dari sini!!”

Tao kembali menjalankan waktu. Jarum jam yang tadinya berhenti kini kembali bergerak. Asap itu pun perlahan menghilang, dan Tao tidak lagi merasakan kehadiran dari Yongjae. Ia menghela nafas lega.

“Syukurlah, namja itu telah pergi.” Ucap Tao pelan. Ia melihat ke arah Yong Mi yang tetap tidak bernafas. Lututnya perlahan melemas, dan ia jatuh terduduk di atas lantai.

“Paboya…” gumam namja itu pelan. “Benci? Seberapa butakah diriku, hm?”

Tao memukul lantai dengan kesal. Ia kembali menatap Yong Mi. Wajahnya menyiratkan sebuah kesedihan.

“Mianhae…”

Tanpa pikir panjang, Tao menghisap darahnya sendiri, kemudian ia memberikan darah itu pada Yong Mi melalui sebuah ciuman pada bibirnya…

+++

Lee Yong Mi

Keadaan yang tadinya gelap, kini bertambah terang. Terus terang…

“Yong Mi?”

Seseorang memanggilku. Aku membuka mataku perlahan, dan hal pertama yang kulihat adalah wajah Tao yang khawatir.

Eh? Dia khawatir?

“Yong Mi-ah!!”

Aku terkejut ketika ia memelukku erat, dan kepalaku sedikit pusing ketika ia mengguncang-guncangkan tubuhku.

“Akhirnya kau sadar! Aku… aku benar-benar…”

Ia melepas pelukannya dan jatuh ke atas lantai. Yang kembali mengejutkan, ia menangis. Bukan menangis biasa, ia menangis sambil meraung-raung.

“Mianhae… Aku tidak tahu apa yang kupikirkan selama ini… Aku tidak tahu mengapa aku membencimu seperti dulu…”

Aku berniat menghampirinya, namun tubuhku sendiri masih lemah. Sepertinya aku mengalami blood comma lagi, karena aku tidak meminum darah selama beberapa hari penuh.

“Seharusnya aku cepat sadar, kalau kau itu bukan seperti yang kubayangkan…”

Ia kembali menangis, dan hal berikut yang ia lakukan adalah memukul dirinya sendiri. Entah mendapat kekuatan dari mana, aku segera beranjak dan menghentikannya.

“Berhenti, Tao! Jangan memukul dirimu sendiri!” teriakku seraya menahan tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Ia semakin menangis dengan keras. “Tao! Kumohon berhenti!!”

Ia terengah-engah, begitu pula denganku. Aku menatapnya tajam.

“Dengar! Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, karena aku tidak mau kau melakukan hal bodoh seperti itu. Arra?!” ucapku tegas. Ia mengangguk pelan, dan aku tahu bahwa ia ketakutan. “Hey, Tao… Coba perhatikan aku!”

Tanganku meraih dagunya, menggerakkannya agar matanya menatap wajahku.

“Lihat? Aku tidak apa-apa, bukan? Jadi tidak sepenuhnya semua itu salahmu, arra?” tanyaku lagi. Ia kembali mengangguk. “Tenanglah, tidak akan ada yang memarahimu karena kau tidak bersalah apa-apa. Tenang, ne?”

Ia mengangguk lagi. Aku memeluknya secara perlahan, berusaha agar ia tidak merasa takut lagi. Awalnya ia diam, namun akhirnya ia balas memelukku dan meletakkan kepalanya di pundakku. Aku mengusap punggungnya perlahan.

“Mi, mianhae…”

Ia semakin mengeratkan pelukannya. Sepertinya ia menangis lagi.

“Gwenchana, Tao…” ucapku. Aku melepaskan pelukanku padanya. Astaga, matanya merah sekali. Dan kantung matanya itu… membuatnya terlihat mirip… ehm, panda.

“Jangan memperhatikan mataku!” ucapnya dengan nada anak kecil. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Eh? Yak, kenapa kau menutupnya! Kau justru terlihat imut!” ucapku seraya menarik kedua tangannya dari wajahnya, namun kami justru kehilangan keseimbangan dan-

“Huwaaa!!”

Bruk!

Oke, ini tidak baik. Aku jatuh di atas tubuhnya…

+++

Huang Zi Tao / Tao

Deg… Deg…

Kurasa Yong Mi dapat mendengar suara dari detak jantungku ini, karena kulihat wajahnya merona merah.

“Mi, mianhae!” ucapnya. Ia segera beranjak berdiri. “A, aku… aku akan menemui Wu Fan terlebih dahulu…”

Ia segera berlari keluar, meninggalkanku yang masih terduduk di atas lantai. Aku masih berusaha untuk mengatur detak jantungku ini. Hm, katakanlah bahwa aku ini orang yang tidak mempunyai pendirian. Awalnya mengatakan bahwa membenci Yong Mi, tapi berubah pikiran dengan semudah itu.

Tapi siapa yang tidak berubah pikiran, ketika sebuah ikatan yang sangat kuat antara dia dan orang yang dibencinya itu memaksanya untuk mengingat kenangan mereka?

Dan setelah mengingat semuanya… ternyata aku dulu terlalu jahat pada Yong Mi. Sekarang, aku yakin bahwa Yong Mi tidak bersalah. Yong Mi benar-benar tidak bersalah. Aku yang salah. Memaksakan kehendakku untuk terus membela Hyura. Ah, sudahlah. Lebih baik aku melupakan semua kejadian yang lalu. Hadapi semua masa depan! Fighting! Aku harus berjuang untuk Yong Mi yang kucintai!

Aku terlalu kekanak-kanakan.

Ehm, abaikan semua tulisan di atas. Aku harus segera menghampiri Yong Mi. Mungkin ada baiknya jika aku mengajaknya untuk berburu binatang. Sudah seharusnya ia meminum darah sebanyak mungkin agar ia tidak mengalami blood comma lagi.

“Yong Mi-ah!” panggilku ketika melihat ia di sudut koridor. Ia menoleh-dan aku baru menyadari bahwa ada Luhan hyung bersamanya.

“Ta, Tao!” ucapnya seakan terkejut. Apa aku seperti hantu? “Ka, kau…”

“Tao! Kebetulan kau ada disini!” ucap Luhan hyung. Oh ayolah, jangan ganggu aku, Luhan hyung! “Aku dan Kris hyung akan pergi sebentar lagi. Entah kenapa dewan vampire selalu memanggil perwakilan dari setiap kelompok beberapa hari belakangan ini.”

Wajahku berubah cerah.

“Jadi aku titip Yong Mi padamu, ne? Jaga dia baik-baik.”

Aku mengangguk dengan cepat. Selama aku bersama Yong Mi, aku pasti akan dengan senang hati untuk menjaganya.

“Arasseo, hyung!” ucapku antusias. Luhan hyung pun berjalan pergi, meninggalkan kami berdua yang sekarang sama-sama diam.

“Em… Apa kau haus, Mi?” tanyaku. Lucu juga karena aku memanggilnya dengan ‘Mi’.

“Se, sedikit…” jawabnya terbata. Aku menggenggam tangannya, membuat ia sedikit tersentak.

“Kalau begitu, ayo kita pergi. Sedikit berburu binatang.” Ajakku. Baru saja aku melangkah, ia menahan lenganku.

“Chankamman! Sebentar lagi pagi! Bukankah kau tidak bisa keluar di pagi hari?”

Oh iya, aku melupakannya.

“La, lagipula…” ia terlihat salah tingkah. Manis sekali. “Aku hanya bisa menerima darah vampire saja…”

Aku terdiam. Yong Mi sendiri menghela nafas.

“Aku memang hanya menyusahkan saja.”

Tanpa ragu aku menatapnya tajam.

“Menyusahkan? Katakan sekali lagi.” Ucapku kesal. Aku menariknya masuk ke dalam kamarku. Ia tampak ketakutan.

+++

Lee Yong Mi

Aku ketakutan ketika Tao menarikku masuk ke dalam sebuah kamar. Ia mendorongku ke arah dinding.

“Jika kau haus, kau bisa meminum darahku, Yong Mi.”

Aku menggeleng cepat. Mana mungkin aku meminum darahnya! Aku… hanya tidak terbiasa saja…

“Jangan menahannya.” Ucap Tao lagi. Aku menghindari tatapannya. Ia menyeramkan.

“Aku, aku tidak apa-apa…” ucapku terbata. Ia memegang daguku dan menarik wajahku sehingga tatapan kami bertemu.

“Jangan membuatku memaksamu, Yong Mi.” Ucapnya tajam. Aku menelan ludah, sekarang aku benar-benar ketakutan akan dirinya.

“To, tolong… lepaskan aku…” ucapku pelan. Ia sepertinya menyadari ketakutanku, karena sedetik kemudian ia melepaskan cengkramannya pada tanganku.

“Mianhae.” Ucapnya seraya menjauh. “Aku menakutimu?”

Aku mengangguk kecil.

“Em… Aku tidak bermaksud untuk menakutimu.” Ucapnya lagi. “Mianhae. Aku terlalu memaksa.”

Ia berjalan pergi. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh ketika ia pergi, seperti… kehilangan?

“Ta, Tao!!”

Ia berhenti berjalan, kemudian berbalik ke arahku.

“Ne, Yong Mi?”

Aku menggigit bibir.

“Ka, kalau kau memaksa…” ucapku terbata. “Aku… aku tidak keberatan…”

Aku memejamkan mataku karena takut, namun kemudian aku merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku. Saat aku membuka mata, aku melihat Tao tersenyum.

“Aku tidak memaksa… Tapi baiklah.”

Ia menancapkan taringnya pada tangannya sendiri, membuatku bingung akan apa yang sedang ia lakukan. Lalu, secara tiba-tiba ia mencium bibirku dan mengalirkan darah itu dari dalam mulutnya ke dalam mulutku…

Dan jujur saja, rasanya manis.

+++

Brak!

Hyunwoo kali ini benar-benar kesal. Segala siasatnya gagal! Ia tidak berhasil membuat Tao untuk membunuh Yong Mi.

“Sial. Kenapa semua ini selalu gagal?!” gerutunya kesal. Ia segera menjauh dari rumah tersebut. “Tunggu saja, akan kubunuh kalian semua… Lagipula, sepertinya masih ada satu kebencian yang tersisa.”

Ia berhenti sesaat, kemudian matanya menatap ke arah seorang namja yang duduk di tepi jendela. Namja itu terlihat menatap ke arah langit.

Hyura… batin namja itu. Ia berdiri, kemudian menutup jendelanya dengan pelan. Tenanglah… Aku akan membalaskan dendammu…

 

TBC

 

Next episode: Xiumin (Ga!)

 

“Watch and learn, baby~”

 

“Tunggulah, Lee Yong Mi. Aku akan membunuhmu.”

 

“Apakah kau bersedia… jika kami yang menjadi pendampingmu?”

 

“Yong Mi-ah, apa kau menyayangi kami?”

 

“Aish, masalah apa lagi yang akan menghampiriku?”

 

“Yo, Yong Mi menghilang… Ia terlihat berteleportasi!!”

 

“Lee Yong Mi, tunggulah kedatanganku.”

 

Iklan

57 pemikiran pada “Memories (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan ke choyuumie Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s