Dandelion (Chapter 1)

Author           : Rifka Shin Hye Jin (@RifkaShinHyeJin)

Main Cast      : Choi Lee Ra (OC), Baekhyun, Kris, Daniel

Support Cast : Kyung Soo (D.O), Tao, Kai, and you can find next.

Genre             : Family, Romance , Friendship.

Length            : Chaptered

            Hello readers…..ini tulisan pertama author istri sah Suho enjel (abaikan) ini. Saye mencoba buat FF yang ide ceritanya dari novel mbak/ibu T Andar. Yang mungkin udah baca novelnya pasti tau. Tapi yang belum, silahkan dinikmati. Monggo…………………………………………….

f6790rwgf

Choi Lee Ra’s POV

            “And how about you Mr. Lee? Do you agree with these answers?” tanyaku. Lelaki setengah baya yang menjadi muridku itu mengangguk.

            “So, I just can say all these answers are correct” kataku kemudian. Kelas menjadi riuh dengan tepukan tangan. Mereka bersemangat sekali. Kusangka sebelumnya mereka akan jadi pasif mengingat umur mereka sudah lumayan.

“And for the next class, you have to collect the paper. What paper? The paper is your writing about your experience when you were in Senior High School”. Kuberi tugas mereka sedikit. Dan ajaibnya mereka tetap kelihatan bersemangat.

“Is it OK if I want to write about my love story?” celetuk Kwon ahjussi, muridku yang selalu bertanya hal-hal aneh. Mendengar pertanyaan itu, wajah ahjussideul dan ahjummadeul yang lain jadi berseri-seri.

“It’s OK Mr. Kwon. Make it perfect” jawabku. Mereka bersorak seperti anak kecil.

“OK. So this is the end of our class. See you next time. Gamsahamnida. Annyeong” ucapku mengakhiri kelas. Kulirik jam tanganku,

“Astaga, telat setengah jam”. Aku bergegas memasukkan buku-buku dan handphone ku ke tas. Segera berjalan keluar kelas. Di koridor aku bertemu dengan Mrs. Huang, pemilik kursusan tempatku bekerja saat ini. Aku membungkuk memberi hormat.

“Kau sudah selesai? Berikan ini pada Daniel. Ini dari Mr. Albert” kata Mrs. Huang sembari menyodorkan sebuah bungkusan. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih, (bos ku ini memang baik hati, tidak pernah membeda-bedakan atau meremehkan orang lain) lalu segera melanjutkan perjalananku.

Kuputuskan untuk naik taksi saja. Daniel sudah menungguku terlalu lama.

Jalanan kota Seoul begitu menyebalkan. Saat seperti ini malah harus terjebak macet. Daniel, bersabarlah.

Akhirnya aku sampai. Kuterobos kerumunan orang-orang yang sama padatnya dengan mobil-mobil di jalanan tadi. Aku masih harus berjalan lima puluh meter lagi agar sampai di sekolah Daniel.

Kubuka pintu gerbang sekolahnya, sudah tidak ada orang. Kucari di kelas, tidak ada. Di taman bermainnya juga tidak ada. Ku kelilingi sekolah. TK ini luas sekali sih. Dan tetap nihil.

“Shin ahjussi, apa ahjussi melihat Daniel?” tanyaku akhirnya pada satpam penjaga sekolah Daniel.

“Semua anak sudah pulang ahgassi”. Duh, dimana Daniel? Kuperiksa lagi saja. Kembali ku buka lagi pintu kelas satu persatu.

“Umma pati matih bekerja. Biatanya Umma tidak pernah terlambat menjemput Daniel”.

Suara Daniel! aku berlari mencari sumber suara itu. Itu dia, sedang bermain ayunan. Eh, siapa yang sedang bersama Daniel itu? Namja?

“Umma!!!!!” Daniel menghambur ke arahku begitu melihat aku datang. Aku berjongkok dan memeluknya erat.

“Sorry. Umma terlambat ya?” kataku mengelus kepalanya. Daniel menggeleng-geleng.

“Tidak apa-apa. Umma kan kerja”.

“Anak umma pintar”. Kucubit pipinya. Gemas. Ia hanya memanyunkan bibirnya manja.

“Ehem!”. Aku menoleh. Oh, aku lupa kalau ada orang lain disini. Siapa namja ini?

“Ini Umma Daniel?” tanyanya. Daniel mengangguk senang.

“Umma, ini pamannya Min Hyoon” terang Daniel. Aku berdiri. Membungkuk. Ia juga melakukan hal serupa. Pakaian namja ini casual sekali, cocok dengan gayanya.

“Aku pamannya Min Hyoon. Tadi kulihat Daniel sendirian, jadi aku ajak dia mengobrol” jelasnya. Aku tersenyum,

“Ne. Gamsahamnida sudah menemani Daniel. Maaf jadi merepotkan”.

“Tidak kok. Aku juga sedang menunggu Min Hyoon. Nah itu dia”. Min Hyoon berlari. Bajunya coreng moreng disana-sini. Anak itu memang hobi melukis.

“Choi ahjumma! Ahjussi!!!” Min Hyoon berteriak-teriak.

“Annyeong Min Hyoon. Apa kabar?” tanyaku. Mata Min Hyoon melebar.

“Baik ahjumma, Min Hyoon selalu baik-baik saja”. Aku hanya tertawa. Jawabannya bagus sekali.

“Min Hyoon, darimana kau belajar berkata seperti itu?” tanya si paman Min Hyoon.

“Dali paman kan?” jawab Min Hyoon polos. Perdebatan mereka jadi berlanjut. Mereka berdua lucu sekali.

“Emm, kami pulang dulu ya. Daniel, ucapkan salam” perintahku. Daniel segera mengucapkan salam dan membungkuk.

“Tampai jumpa betok Min Hyoon. Jangan lupa gambarnya” pesan Daniel. Min Hyoon mengacungkan jempol.

“Aku pasti gambal bagus buat Daniel”. Akhirnya kulambaikan tanganku pada mereka berdua.

***************************************************************************

Author’s POV

Lee Ra dan Daniel akhirnya sampai di rumah. Lee Ra segera mengganti baju Daniel dan menyuruh Daniel menunggu di ruang tengah selagi ia memasak makan siang. Tapi Daniel menyusul Lee Ra ke dapur beberapa saat kemudian.

“Umma, Daniel ingin makan udang. Boleh?” tanya Daniel. Lee Ra tersenyum.

“Tentu saja boleh. Umma kan memang sedang masak udang”.

“Hore!!!!” Daniel kembali melesat ke ruang tengah, melanjutkan membaca buku cerita buatan Lee Ra sendiri. Setelah hampir satu jam, Lee Ra memanggil Daniel untuk segera makan siang. Daniel duduk di kursi dengan memegang sumpit. Lee Ra juga duduk.

“Kita berdoa dulu” Lee Ra mengingatkan. Setelah berdoa, mereka berdua makan dengan lahap. Sesekali Lee Ra menambahkan lauk atau sayur ke mangkuk Daniel. Daniel juga melakukan hal sama. Terkadang bahkan ia menyuapi Lee Ra.

Kring,kring. Telepon di ruang tengah berdering.

“Daniel lanjutkan makannya ya. Umma angkat telpon dulu”.

Lee Ra berjalan mengangkat telpon,

“Yeoboseyo”. Lee Ra kemudian bercakap-cakap sebentar, kemudian memanggil Daniel.

“Daniel, appa ingin bicara”. Daniel langsung menghentikan makannya dan berlari. Lee Ra memberikan telponnya ke Daniel.

“Yeoboteyo appa!” Daniel berteriak girang. Lee Ra membiarkannya dan kembali ke meja makan. Ia hanya bisa mendengar Daniel tertawa-tawa dan bicara penuh semangat. Sepuluh menit kemudian Daniel kembali ke meja makan dengan tersenyum lebar.

“Appa bilang appa akan pulang tebulan lagi. Appa juga bilang appa tudah membelikan Daniel robot-robotan” Daniel bercerita riang. Lee Ra menyimak dengan tersenyum.

“Iya. Makanya, sekarang Daniel habiskan dulu makanannya. Jadi kalau nanti appa pulang, appa akan senang melihat Daniel sudah tumbuh lebih tinggi”.

Daniel menanggapi ucapan Lee Ra dengan sungguh-sungguh. Ia menghabiskan makan siangnya dengan bersemangat.

“Daniel tudah teletai Umma” katanya kemudian. Lee Ra memberikan tepuk tangan untuk Daniel kemudian mengelap sisa makanan di sekitar mulut Daniel.

“Nah, sekarang, Daniel teruskan membaca bukunya. Lalu nanti tinggal tidur siang. Arasseo?”.

“Arasseo umma” kata Daniel, mengecup pipi Lee Ra dan kemudian berlari lagi ke ruang tengah. Melihat tingkah polah Daniel yang begitu rupa, Lee Ra tersenyum. Seakan-akan semua rasa lelah dan penatnya hilang begitu mendengar celoteh dan tingkah riang putranya itu.

*************************************************************************

Lee Ra pergi bekerja setelah mengantarkan Daniel ke sekolahnya. Ia menggunakan bus sebagai transportasi sehari-hari. Setelah menunggu beberapa menit di halte, akhirnya kendaraan umum yang ditunggunya itu datang juga. Ia segera masuk dan mencari tempat duduk.

“Lee Ra ya, sini!”

“D.O?”

“Kau habis mengantarkan Daniel ya?” kata D.O sambil menggeser tempat duduknya. Lee Ra mengucapkan terima kasih dan duduk di samping D.O.

“Ya. Baru saja dia masuk. Bagaimana kelas grammarmu?” tanya Lee Ra dengan tersenyum.

“Lumayan. Setidaknya murid-muridku di periode ini punya selera humor. Kalau tidak aku bisa cepat tambah tua setiap harinya” celetuk D.O. Lee Ra hanya tertawa. Temannya itu memang kebagian mengajar Grammar, sehingga mau tidak mau suasana kelasnya lebih sering serius.

“Kau sendiri bagaimana? Kelas mu sih enak ya, selalu ramai dan cair”.

“Emm, seperti biasa. Kali ini ahjummadeul dan ahjussideul nya lebih aktiv dari biasanya. Butuh tenaga ekstra sih” kata Lee Ra menjelaskan. D.O mengangguk-angguk,

“Boleh tidak ya lain kali aku minta pada Mrs. Huang untuk membagiku kelas speaking? Rasanya aku butuh suasana baru”. Mereka pun kembali bercengkerama akrab. Membahas pekerjaan dan apa saja yang mereka bisa diskusikan hingga akhirnya sampai di kantor mereka, EFC.

“Lee Ra, D.O!” panggil Tiffany, teman kerja mereka juga.

“Hi!” sapa D.O. Tapi Tiffany mengacuhkan D.O dan menggeret Lee Ra masuk ke ruang Italy (ruang di tempat kursus nya di beri nama-nama negara dan tokoh).

“Ada apa Fani ah?” tanya Lee Ra penasaran. Fany tersenyum-senyum tidak jelas. Lee Ra mngerutkan dahinya, kemudian mengangkat sebelah alis, menuntut penjelasan.

“Aku jadi membangun rumahku sendiri!” cerita Fany riang. Lee Ra membulatkan mata dan tersenyum lebar,

“Chukkae ya Fany ah. Akhirnya kau akan membangun istana impianmu” kata Lee Ra senang. Keduanya lalu berpelukan.

“Siwon oppa akhirnya memenangkan tender perusahaannya. Jadi dia dapat bonus lumayan. Langsung saja kami mematangkan planning kami” jelas Fany, masih segembira tadi.

“Apa kau sudah memberitahu Jessica dan Sooyoung?” tanya Lee Ra. Fany ber em em.

“Mereka tau lebih dulu”.

“Fany ah, Mrs. Huang memanggilmu” Sooyoung yang sudah tiba-tiba berada di ruangan itu membawa berita.

“Kau dan semua teman kantor kita diundang, aku akan mengadakan pesta syukuran (?) kecil-kecilan. Bye Lee Ra” ujar Fany yang kemudian meninggalkan Sooyoung dan Lee Ra.

“Dia gembira sekali ya” kata Sooyoung yang juga ikut tersenyum.

“Ne. Sudah pasti”.

 

Lee Ra mengajar penuh dari jam 9 hingga jam 2 siang, ia hanya istirahat setengah jam untuk makan saat jam setengah dua belas. Kemudian ia segera bersiap-siap menjemput Daniel. Hari ini kelas yang diajarnya penuh hingga sore. Jadi Daniel akan dia bawa ke kantornya dulu sebelum mereka berdua benar-benar pulang ke rumah.

Lee Ra kembali setengah jam kemudian dengan menggandeng Daniel yang sedang menjilati lollipop mini nya. Mr. Albert, staff pengajar asing yang sudah lama bekerja untuk Mrs. Huang, segera mengambil alih tugas Lee Ra untuk menjaga Daniel. Mr. Albert memang sangat menyukai Daniel. Ia bilang Daniel mirip sekali dengan cucunya yang tinggal di negeri asalnya, AS.

“Jangan nakal” pesan Lee Ra pada Daniel.

Lee Ra melanjutkan pekerjaannya hingga pukul empat sore. Saat keluar dari kelas, ia sudah melihat Daniel asyik makan pizza bersama Mr. Albert dan hampir semua rekan-rekan kerjanya.

“Choi Daniel. Kenapa tidak menunggu Umma selesai? Kenapa Daniel makan duluan?”. Yang lain hanya tertawa mendengar ucapan Lee Ra.

“Daniel, sana suapi umma mu” perintah D.O. Jessica, Sooyoung, dan Tiffany mengangguk mantap. Memberikan isyarat pada Daniel agar benar-benar melakukannya. Daniel membawakan Lee Ra sepotong besar pizza dan menyuapi umma nya itu.

“Umma pati lapar kan? Mianhae tadi Daniel makan duluan. Daniel tudah lapar tekali Umma”. Lee Ra menepuk keningnya. Dia lupa mengajak Daniel makan siang.

“Daniel, umma yang seharusnya minta maaf. Umma lupa kau belum makan siang. I’m so sorry” kata Lee Ra dengan wajah menyesal. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang lupa pada hal sepenting itu. Ia sudah makan siang tadi, sementara anaknya harus menahan lapar menunggunya selesai bekerja.

“I’m ok Umma. Mr. Albert kan tudah membelikan Daniel pizza” jawab Daniel. Teman-teman Lee Ra kembali tertawa. Mereka geli sekali mendengar celotehan Daniel yang tidak bisa mengucapkan huruf S dengan benar itu.

“Apa kau sudah bilang terima kasih pada Mr. Albert?” tanya Lee Ra. Daniel mengangguk.

“Tudah kan Mr. Albert?”. Kali ini gantian Mr. Albert yang tertawa.

“Yeah. You’re good boy, my grandchild” seru Mr. Albert.

“Thank you” Daniel membalas dengan bahasa Inggris, membuat orang disekitarnya kembali tertawa.

“Umma sudah selesai. Jadi kita bisa pulang sekarang”.

“Yeee” Daniel berteriak girang.

“Thank you for taking care Daniel” Lee Ra mengucapkan terima kasih pada Mr. Albert.

“Oh, it’s a happy time playing with such adorable kid like him” jawab Mr. Albert. Senyum Lee Ra terukir mendengar putranya di puji begitu.

“Aku duluan ya, D.O, Sooyoung, Tiffany, Jessica” pamit Lee Ra. Daniel melambaikan tangan.

“Wah, Choi Daniel. Kau sudah besar”. Lee Ra terpaku melihat siapa yang berjalan ke arahnya itu.

Semuanya menoleh ke namja yang sekarang berdiri tepat di depan Lee Ra dan Daniel.

“Annyeong haseyo Tao ssi” ucap Lee Ra buru-buru. Yang lain juga melakukan hal sama, kecuali Mr. Albert dan Daniel.

“Umma, siapa ahjussi ini?” tanya Daniel yang sekarang berdiri di belakang Lee Ra sambil menarik-narik baju ummanya itu.

“Kau sudah lupa padaku ya? Aku Tao ahjussi. Dulu aku sering membelikanmu balon saat kau masih kecil” Tao yang menjawab. Sekalipun Tao menceritakan hal seperti itu pada Daniel, Daniel tetap tak ingin mendekati Tao.

“Huang Zi Tao. Bukankah kusuruh kau untuk ke ruang England? Kenapa masih disini?” kata Mrs. Huang yang datang sama tiba-tiba nya dengan Tao tadi.

“Dia baru datang tadi pagi. Maaf ya kalau dia selalu saja membuat masalah” ujar Mrs. Huang. Mereka semua hanya nyengir. Tidak berniat menjawab. Tao bersungut-sungut mendengar ibunya mengatakan hal tak enak tentang dirinya, kemudian memutuskan pergi dari situ, ke ruang England.

“Silahkan lanjutkan aktivitas kalian” kata Mrs. Huang sambil lalu. Begitu Mrs. Huang pergi, mereka saling berpandangan. Jessica mengangkat bahu.

“Ah, sudahlah. Kami pulang dulu ya” Lee Ra mengakhiri kemudian menggandeng Daniel dan pulang.

Lee Ra dan Daniel pulang menggunakan bis lagi. Daniel bercerita tentang kegiatannya disekolah seharian tadi,

“Min Hyoon menggambar bagut tekali. Lalu diberikan pada Daniel. Ini gambarnya” kata Daniel, membuka tasnya lalu mengambil gambar pororo yang di buatkan Min Hyoon.

“Wah. Min Hyoon memang berbakat melukis ya. Gambarnya bagus” puji Lee Ra. Daniel tersenyum senang. Merasa bahagia sahabatnya dipuji oleh ummanya sendiri. Ia terus bercerita hingga tiba di halte bus dekat rumah.

Daniel menceritakan tentang Sunny saem yang mengajarinya membuat origami dan patung manusia salju. Langkah mereka terhenti ketika sampai di depan sebuah rumah bergaya minimalis yang asri dan indah, di depan rumah itu tertulis ‘rumah dijual’

“Umma, kapan ya kita bita pindah ke rumah ini?” tanya Daniel yang ikutan melamun seperti Lee Ra. Lee Ra mengerjap,

“Emm, asalkan Daniel terus mendoakan Umma dan jadi anak baik, pasti suatu saat kita bisa pindah ke rumah ini” Lee Ra menggumam. Daniel mengangguk. Diam-diam Lee Ra agak menyesali keputusannya untuk tidak menerima bantuan dari orang tuanya. Ya, seharusnya jika dia tidak bersikeras akan menabung sendiri sisa uang yang ia butuhkan untuk membeli rumah itu, ia dan Daniel pasti sudah menempati rumah impian mereka berdua itu sekarang.

“Eh, ayo kita pulang” Lee Ra tersadar dari lamunannya. Baru berjalan beberapa langkah, Jung ahjumma, tetangga super usil dan menyebalkan, menyapa mereka.

“Oh, Choi ahgassi, Daniel. kalian baru pulang ya?” tanyanya.

Lee Ra memaksakan diri untuk tersenyum, sebagai sopan santun saja.

“Iya. Kami baru saja pulang” jawabnya singkat. Ketika Lee Ra ingin buru-buru berjalan lagi, Si ahjumma usil mencegahnya,

“Daniel, apa appa Daniel tidak pernah menengok Daniel? kasihan. Daniel tidak pernah ketemu ayahnya sendiri” ujarnya menyebalkan. Lee Ra kembali terpaksa tersenyum. Daniel cuma mendengarkan, tidak begitu paham apa yang dibicarakan ummanya dengan ahjumma tetangganya itu.

“Ya saya kira jika Daniel bertemu appanya tidak harus disini” kata Lee Ra yang langsung bergegas pergi.

“Akhirnya kita sampai juga” ujar Lee Ra lega, merasa terbebas dari pengganggu. Ia menghenyakkan diri ke sofa. Daniel langsung ke kamar mandi, mencuci tangan dan kakinya, kemudian berlari menuju kamar. Sesudah itu Lee Ra melihat seragam Daniel sudah berganti dengan pakaian bermain.

“Daniel pergi main dulu ya Umma” katanya kemudian mengeloyor pergi. Lee Ra hanya bisa membiarkannya. Tidak sempat bertanya.

Lee Ra bangkit dan menuju kamar. Ia melihat seragam Daniel diatas tempat tidur lalu memungutnya dan memasukkannya ke keranjang pakaian kotor. Ia memutuskan untuk bersih-bersih rumah selagi menunggu Daniel pulang bermain.

Saat sedang membersihkan ruang tengah, teleponnya berdering.

“Yeoboseyo”

“Yeoboseyo Lee Ra”

“Apa kau ingin bicara dengan Daniel? Dia sedang bermain keluar”

“Ani. Aku tidak ingin bicara dengan Daniel. Aku ingin bicara denganmu”

“Waeyo Kris?” tanya Lee Ra dengan nada datar. Suara Kris diseberang tidak terdengar untuk beberapa saat.

“Apa Daniel sudah bercerita padamu?” suara Kris terdengar bergetar.

“Tentang apa? Tentang kepulanganmu sebulan lagi?” ucap Lee Ra ketus. Kris terdengar menghelas nafas,

“Ya. Aku pulang China sebulan lagi. Jadi sekalian saja aku ke Korea. Aku rindu pada Daniel” kata Kris panjang lebar.

“Lalu?”

“Aku ingin mengajak Daniel jalan-jalan nanti”.

“Aku tidak akan menghalangimu. Selama ini juga aku tidak pernah melarangmu kan?”

“Tapi aku ingin jalan-jalan bersama Daniel. Hanya bersama Daniel” terang Kris. Lee Ra berpikir sejenak.

“Kita lihat saja nanti” Lee Ra mendengus sebal.

“Kau harus mengijinkanku. Aku ayahnya” kata Kris tak mau kalah.

“Apa aku pernah mencegahmu bertemu dengan Daniel sebelum ini, Kris? Kurasa tidak”.

“Jadi intinya kau memberiku ijin kan?”

“Datang sajalah nanti. Aku sedang sibuk. Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, lebih baik kau tutup telponnya”.

“Oh baiklah. Sampaikan salamku ke Daniel”. Telpon terputus.

Lee Ra menggeleng-geleng. Ia tau persis bagaimana sifat Kris. Saat hendak melanjutkan acara bersih-bersihnya, ia berhenti. Memandangi sebuah foto berfigura ungu. Itu foto yang diambil saat ulang tahun ke 3 Daniel tahun lalu. Lee Ra menyadari bahwa dilihat bagaimanapun, Daniel memang mirip Kris. Apalagi rambut dan garis mukanya. Daniel berambut pirang, seperti Kris. Dan siapapun yang mengenal Kris, pasti akan langsung tau siapa Daniel jika melihatnya. Kenyataan itu membuat Lee Ra agak terbebani. Meskipun mungkin dulu ia memang mencintai Kris, tetapi apa yang terjadi sesudahnya tak bisa ia lupakan atau abaikan. Dan bahkan hingga kini semua kenangan itu masih bergelayut dengan jelas, mengorek luka yang berusaha ia sembunyikan dan obati sendiri.

************************************************************************

Choi Lee Ra’s POV

Aku tau apa arti pandangan orang-orang itu terhadapku. Aku sudah terbiasa. Terkadang mereka memandangku jijik, kasian, heran, ataupun sumringah saat mendengar Daniel memanggilku dengan sebutan Umma. Awalnya aku benar-benar terganggu dengan semua itu. Namun keberadaan Daniel lah yang selalu mampu menguatkanku, membuat benteng pertahanan luar biasa ketika aku hampir kalah menjalani semua ini. Di umurku yang ke 23 ini, kuakui saja aku masih sering merasa goyah. Terkadang saat lelah mendengar hujatan-hujatan terhadapku, aku merasa malu sekali memandang wajah Daniel. Aku malu sebagai ibu tak bisa membuat hidup kami berdua terhindar dari celaan dan cacian “Janda, hamil diluar nikah, gadis nakal” dan cercaan semacam itu. Dan sekali lagi justru Daniel lah yang mebuat aku mampu menghadapi semua kesulitan yang ada. Aku bersyukur Tuhan menganugerahkan ia padaku. Menganugerahkanku seorang putera yang begitu menakjubkan, yang mampu membuatku tenang hanya dengan memandangnya saja.

“Lee Ra ya!”.

“Eh, Ada apa Fany?” tanyaku sambil membereskan meja. Kelasku telah usai.

“Besok adalah peletakan batu pertama pembangunan rumahku. Jadi aku harap kau bisa datang, acaranya jam 9 pagi” kata Fany smuringah. Aku mengangguk.

“Baiklah. Kau pintar, sengaja memilih hari libur. Bagaimana dengan yang lain?” tanyaku.

“Mereka sudah tau. Berkumpullah di rumah lamaku jam setengah sembilan. Nanti kita semua berangkat bersama”.

Aku hanya mengangkat jempol.

“Aku pulang dulu ya Lee Ra, bye. Sampai jumpa besok”.

******************************************************************************

Aku tiba di rumah Fany jam setengah sembilan tepat. Disana sudah ada Sooyoung dan suaminya, Gikwang, juga Mr. Albert.

“Apa kau juga mengundang Mrs. Huang?” tanyaku kemudian. Fany mengangguk,

“Tentu saja. Tapi sayangnya ia harus mengantarkan Tao kembali ke China”.

“Oh”.

Kulihat Daniel sedang mengajak Hyun Woo, putra Fany dan Siwon, bermain kapal-kapalan. Mereka akur dan akrab. Hyun Woo yang lebih tua setahun dari Daniel menjaga Daniel seperti adiknya sendiri.

“Bagaimana kandunganmu menurut dokter, youngie ah?” tanyaku.

“Dokter bilang aku masih kurang nutrisi. Entahlah. Aku sering merasa pusing dan tidak enak badan” kata Sooyoung, mengelus-elus perutnya yang kian membuncit. Gikwang menatap Sooyoung cemas. Ia tau kehamilan ketiga istrinya kali ini agak bermasalah.

“Hi semua!!!”. Aku menoleh. D.O datang membawa sebungkus besar kado lalu menyerahkannya pada Fany. Setelah itu, kami bercengkrama dan baru berhenti saat Fany dan Siwon menyuruh kami untuk makan. Kami melanjutkan obrolan kami di meja makan,

“Yupz. Kukira sudah saatnya kita melihat rumahnya” ucap Siwon memberi komando. Kami langsung bergegas. Mr. Albert, aku dan Daniel, naik mobil D.O. Fany, Hyun Woo, dan Siwon dengan mobil mereka sendiri. Sooyoung juga menolak ikut sekalian di mobil D.O karena ia ingin langsung pulang begitu selesai melihat bakal rumah baru Fany. Jadi ia dan Gikwang naik mobil mereka sendiri.

            “Wuaaaahhh…. luas sekali areanya!” D.O melongo, takjub melihat luasnya area yang akan dibangun itu. Aku mengiyakan. Luas sekali. Pasti Fany ingin menambahkan taman-taman atau halaman yang luas. Kami segera berjalan mendekat ke area. Kulihat disana sudah banyak tukang-tukang yang bekerja.

            “Lee Ra ya, arsiteknya ganteng lho. Kau mau kukenalkan tidak? Masih single lagi” Fany memberondongku. Anak ini memang suka sekali mencomblangkan aku dengan siapapun orang yang menurutnya baik dan cocok. Aku tertawa saja.

            “Nah itu dia”. Mataku membelalak. Apa aku salah lihat? Kukucek lagi mataku. Bukannya dia itu…..,

            “Ahjussi!!!” aku menoleh, melihat Daniel yang sudah berlari menghampiri orang itu.

            “Aaa. Choi Daniel, kita bertemu lagi ya” katanya saat aku ikut mendekat.

            “Umma, ini pamannya Min Hyoon. Umma masih ingatkan?”

            “Ne. Anyyeong haseyo” kataku memberi salam. Ia berdiri, menghentikan kegiatannya mengacak-acak rambut Daniel.

            “Daniel, kau kenal ahjussi ini?” tanya Fany yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingku.

            “Ne. Baekhyun ahjussi kan pamannya Min Hyoon” jawab Daniel. Jadi nama namja ini Baekhyun. Aku baru tau. Fany memandangku,

           “Min Hyoon itu sahabat Daniel di sekolah” terangku. Fany manggut-manggut lalu tersenyum evil, aku hanya bisa menaikkan alis. Tak mengerti maksudnya.

            “Lee Ra ya. Kenalkan. Ini arsitek rumah kami”. Aku tau maksud Fany mengatakan semua itu. Namun mau tak mau aku mengulurkan tangan dengan canggung. Begitupun dengan namja bernama Baekhyun itu, tapi ia terlihat lebih tenang dariku.

            “Byun Baekhyun”.

            “Choi Lee Ra”.

To Be Continued

            Sampai sini dulu ya….author lagi dimarahin dosen gara-gara lebih milih nulis FF daripada nyelesaiin writing essay. Ckckck. Jangan ditiru lho. Next chap segera di post ketika kalian komen dengan hati yang tulus. Dengan begitu guntur menggelegar dan kutukan pun segera hilang (sekali lagi abaikan).

            See you soon…..annyeong (Bow with Suho).

Iklan

10 pemikiran pada “Dandelion (Chapter 1)

  1. wah,,
    bkl ada cinta segitiga nih..
    >.<

    tp knpa lee ra dibilang janda ,, hamil diluar nikah lg??
    #kepo

    ok deh,,
    dtggu next chapter ny,,
    hwaiting..
    😀

  2. Ga nyangka itu bacon(?) /lupa sama cast-nya/ wkwk buruan kerjain thoooor biar cepet berlanjut ffnya-_-V sekalian dosennya suruh baca wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s