Apple With Love (Chapter 1)

Title                 : Apple with Love

Author             : ekaputdn / @ekaputdn

Claraapr / @claraKHB

Main cast         : Byun Baek Hyun

Kang Hye Bin (OC)

Kim Jong In

Kang Ha Na (OC)

Other Cast       : Kystal Jung

Choi Minho

(you can find it by your self)

Genre              : AU, romance, friendship, little bit comedy

Length             : Chapter

Rating             : PG

awl

DC                    : semua cast milik Tuhan dan orangtua mereka, kecuali Kang Hye Bin dan Kang Ha Na itu milik author. Dan plot serta cerita ini juga milik author sepenuhnya, jangan pernah mengcopy ff ini tanpa izin author, oke? Salam hangat, author.

Author Cuap2    :  annyeong readersdeul ^^ ff kali ini sedikit berbeda ehemm… karena ff ini dirumuskan dan digarap pula oleh dua author kece, claraapr dan ekaputdn hehe *tebar kiss bareng sehun wkk~ mian ya kalo kurang greget, sebenernya project ini udah lama tapi author ekaputdn masih sibuk dengan suami barunya, Choi Minho *eh? Jadilah baru sekarang bisa bikin hehe. Happy reading ^^ warning: typo(s)!

 

Pertemuan awal yang membuatku tidak tenang,

tak tenang karena hazel eyes miliknya~

-Kang Hye Bin-

(Baek Hyun POV)

5.00 am, KST

Kriiing!

Sial. Siapa sih yang menelepon pagi-pagi begini? Rasanya ingin kubanting saja posel ini, terlebih seseorang yang ada diseberang sana , yang menelepon di pagi buta seperti ini. Kuambil paksa ponselku yang sedari tadi bersarang tenang diatas meja di sebelah tempat tidurku. Seketika mataku membulat melihat nama yang tertera pada layar pinselku. Jonginnie.

“MWO?!” apa dia sudah gila? Satu rumah saja pakai acara meneleponku segala? Aish benar-benar bocah ini.

“apa kau gila ha?” bentakku padanya yang aku yakin dia pasti akan langsung menjauhkan ponselnya itu dari telinganya.

“ya! Tidak perlu berteriak seperti itu hyung. Bahkan dari kamarku ini aku dapat mendengar suaramu yang menggelegar itu hah. Langsung saja, apa kau mau membantuku sekarang?”

“bocah macam apa kau ini? Aish. Memangnya ada apa?”

“temui saja aku dibawah sekarang.”

“mwo?” bicara apa bocah ini sebenarnya? Hhh.

“tidak perlu berlebihan seperti itu hyung. Cepatlah !”

Tiiit. Dan panggilan pun terputus. Tentu dia yang menutup teleponnya. Ah iya, aku lupa mengenalkan diriku bukan? Namaku Byun Baek Hyun dan bocah itu bernama Kim Jong In, adikku. Mungkin kalian bertanya-tanya, marga Byun punya adik bermarga Kim? Tentu dia bukan adik kandungku. Dia namja yang sudah kuanggap adik kandungku sendiri karena sesuatu hal terjadi. Saat itu aku berusia tujuh tahun dan Jong In berusia lima tahun.

—–Flashback—-

“nah, Baek Hyun, malam ini tolong kau ajak Jong In bermain di rumah ya. Karena malam ini eomma dan appa serta Kim ahjussi dan Kim ahjumma akan menghadiri suatu acara. Jangan khawatir, Jang ahjumma akan menjaga kalian. Jangan nakal ya?” sahut eomma dengan memberikan senyum terbaiknya padaku.

“eomma, jangan pergi terlalu lama. Aku takut.” Sebutir cairan bening pun menetes di pipiku.

“uljimma. Kami akan segera kembali. Bye chagi” bersamaan dengan menjauhnya punggung eomma yang meninggalkanku, air mataku pun semakin tak tertahankan untuk keluar mataku.

“eomma, eomma. Kajima!” suara serakku pun tak membuatnya berbalik dan meraihku.

Perasaanku tak enak. Meskipun bodoh keliohatannya, bocah berusia tujuh tahun merasakan ada hal buruk yang akan menimpa keluarganya dan keluarga Kim.

Kriiing!

“hallo?”

“…”

“mwo? Dimana sekarang?”

“…”

“ba..baiklah kami segera kesana.”

“ada apa ahjumma?” tanyaku dengan polos.

“tidak. Tidak ada apa-apa. Ayo kita pergi sekarang. bawa Jonginnie juga, Baek Hyun.”

“tapi kita mau kemana ahjumma?” rasa khawatir pun seketika merasuk dalam hatiku.

“kau akan tahu nanti. Cepat.”

Sepanjang jalan kuhabiskan dengan pikiranku yang melayang entah sampai dimana, hingga aku tersadar kini kami telah berada di depan sebuah gedung besar yang sangat aku kenal, Seoul Hospital.

“ayo cepat kita masuk, Baek Hyun.” Tangan kiri Jang ahjumma menarik pergelangan tangan kananku dengan tergesa sedang tangan kanannya erat menggendong Jong In.

“mau apa kita kesi…” ucapanku terpotong ketika suara eomma terdengar dari ujung lorong rumah sakit ini.

“Baek Hyunnie!” dengan sekali tarik saja kini tubuhku telah berada dalam pelukan eomma.

“eomma? Apa yang eomma…”

“appamu nak, dia kritis.”

“kritis? Apa itu? Dan dimana Kim ahjussi dan Kim ahjumma?”

“appamu sedang dalam kondisi tidak baik, dan… dan orang tua Jong In… hiks…” terdengar isakan eomma sebelum ia melanjutkan kata-katanya kembali.

“mereka… tidak bisa diselamatkan.” Ucapnya  dengan lesu seraya mengambil Jong In dari tangan Jang ahjumma untuk dia gendong.

“apa maksud eomma mereka meninggal?” dan eomma pun hanya mengangguk pelan. Aku pernah dengar dari temanku bahwa orang meninggal tidakakan pernah kembali untuk selamanya. Lalu bagaimana dengan Jong In jika tidak dapat melihat kedua orangtuanya itu lagi?

“Jong In yang malang…” ucap eomma lirih.

“Jong In, aku berjanji akan selalu menjagamu sebagai seorang hyung. Ya.” Gumamku dalam hati.

—–Flashback End—–

Ya, itulah sebabnya sampai saat ini aku selalu bersedia mengikuti kemauannya. Kecuali ketika dia memintaku untuk menemaninya ke toilet. Apa-apaan itu? Hhh. Kulangkahkan kakiku dengan gontai menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu jati ini. Kami hanya tinggal berdua, sedang kedua orangtuaku memilih untuk tinggal di Jepang karena urusan perusahaan.

“selamat pagi hyung” terpancar dari black pearl eyesnya sebuah kebahagiaan. Meski aku tak tahu apa itu.

“ada apa?” jawabku singkat seraya duduk di seberangnya di ruang makan ini.

“apa kau bersedia membantuku?”

“apa itu?”

“apa yang biasa diberikan oleh namja kepada yeoja yang disukainya?”

“mwo? Uhuk” aku yang sedang melahap roti isiku pun sedikit tersedak karena terkejut bukan main. Bicara apa bocah ini?

“apa maksudmu ha?”

“ayolah hyung, jangan seperti orang bodoh begitu. Jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau sedang menyukai seorang yeoja.”

“bi..bicara apa kau ini ha? Memangnya siapa yeoja itu?”

“siapa? Yang kusukai atau yang kau sukai hyung?” tanyanya dengan bibir yang membentuk huruf ‘O’.

“tentu saja yang kau sukai, untuk apa menyangkutkan urusanku?”

“oh, mian hyung. Dia emm… rahasia! Beri tahu dulu bagaimana caranya untuk melakukan pendekatan? Kumohon.” Hhh, aku tahu akan begini. Aegyo.

“tidak perlu menunjukkan tampang seperti itu, aku sudah pasti akanmembantumu.”

“waah? Jeongmal gomawo hyung-ah^^” berseri-seri. Ya itulah ekspresi yang ditunjukkan Jong In saat ini.

“akan kuajak kau ke suatu tempat nanti.”

“kita mau berkencan hyung?” lagi-lagi bibirnya membentuk huruf ‘O’.

“tentu saja tidak, pabbo!” ucapku seraya melayangkan sebuah pukulan ringan di kepalanya dan berbuah dengan Jong In yang meringis kesakitan. Berlebihan.

“oh, kukira begitu. Sakit sekali pukulanmu hyung.” Katanya dengan mengelus bagian kepalanya yang dia bilang sakit itu.

“ohya? Mana yang sakit adikku sayang? Disini yaa? Biar kusembuhkan ya?”  dan…

“Aww! Hyung kenapa memukulku lagi?” terlihat wajahnya kini memerah karena menahan sakit akibat pukulanku kedua yang mendarat di bagian kepalanya yang lain.

“jangan jadi Kim Jong In yang manja, arra?”

“ne, hyung. Kalau begitu segera kita bersiap saja hyung.”

“ne, setelah mandi kita akan sarapan di cafe favoritku saja. Aku yang akan traktir.”

“waah kau memang hyung yang sangaaaat baik. Gomawo.”

“ya, cepatlah mandi.”

—–skip—–

 

(Hye Bin POV)

“ya! Kang Ha Na!” aku tahu ini masih terlalu pagi untuk berteriak seperti ini. Tapi memang inilah yang sealu kulakukan tiap pagi untuk membangunkan sepupuku yang satu ini.

“hmm?” gumamnya sambil menggeliat seperti cacing lapar.

“mau tidur sampai jam berapa kau ini? Kalau begini terus lebih baik kau kupecat saja!”

“mwo? Mau kau cari dimana lagi seorang patissier sepertiku?”

“ah, tidak perlu banyak alasan. Cepat bangun dan bekerja.”

“chagi-ya lima menit lagi ya?” ucapnya memelas.

“tidak ada lima menit tidak ada dua menit atau satu menit sekalipun dan, ya! Berhenti memanggilku ‘chagi-ya’. Cepat!” ujarku tanpa jeda. Ya, melelahkan.

 

7.00 am, KST

“huwaah segarnya…” ucapku setelah membuka pintu utama cafe mungil ini, Apples Cafe. Kalian pasti sudah menduga, ya benar cafe ini menyediakan sarapan berupa kue-kue atau roti yang pastinya dicampur dengan buah apel begitu pula dengan minumannya, hampir semua menu minuman terbuat dari apel,entah jus apel, apple tea, apple blush, apple float dan banyak yang lain. Kami, aku dan Ha Na begitu menyukai, ah tidak tapi begitu mencintai apel.

“Hye Bin-ah  tolong pindahkan apel-apel segar kita ke rak buah ya? Ingat, jangan samapai kau lukai apel-apel itu. Arra?”

“tentu tidak akan, Ha Na-ah.”

Cafe ini, Apples Cafe milik kami berdua seutuhnya. Sebenarnya dulu tempat ini adalah rumah makan yang dibangun kedua orang tua ku dan dikelola oleh mereka berdua pula. Akan tetapi, kini mereka telah meninggal dunia, sehingga Kang Min Seo ahjussi yang merupakan adik ayahku sekaligus ayah dari Ha Na memerintahkan Ha Na untuk tinggal disini untuk menemaniku plus membantuku mengelola tempat ini.

“nah, sudah semuanya… Ha Na-ah, apa yang akan kau buat hari ini?”

“ehm, sepertinyaa tidak ada.” Sahutnya dari arah dapur.

“lalu? Mau kau beri makan apa pelanggan yang akan memesan makanan disini?”

“ne, baiklah-baiklah.”

“selalu saja kau ini.”

“ah, Hye Bin-ah. Kurasa ada beberapa bahan yang harus kita beli, ah tidak tapi kau saja yang beli. Kita butuh beberapa kilo tepung terigu, gula, cokelat, dan vanila essence.”

“aku? Sepagi ini? Lalu siapa yang akan menjaga cafe sementara aku pergi dan kau membuat makanan?”

“tidak. Aku akan menjaga cafe dan untuk sementara akan kukatakan pada pelanggan untuk menunggu sejenak selama kau pergi. Bagaimana?”

“kau yakin?” ucapku dengan wajah tidak percaya.

“ne. Cepatlah sebelum terlalu siang.” Katanya dengan kepala mengangguk penuh keyakinan.

Selalu aku yang dikorbankan untuk keluar cafe -_- dia jadi keenakkan bersama apel-apel segar itu. Ah, Ha Na menyebalkan.

“kau sangat menyebalkan Ha Na-ah!” aku berteriak sendiri di pinggir jalan menuju supermarket dan tanpa sadar tanganku yang terkepalke udara memukul seseorang yang sedang berjalan berbalik arah denganku.

“oh, mianhae. Jeongmal mianhae.” Ucapku dengan badan yang membungkuk 90 derajat sempurna berulang-ulang.

“ah, gwenchana.” Ucapnya singkat sambil tersenyum.

Astaga! Bisa kalian lihat namja itu? Dia mengenakan jaket bisbol warna biru langit dengan aksen abu-abu yang kontras dengan warna kulitnya yang putih. Dipunggungnya telah bersarang dengan apiknya ransel abu-abu. Terlebih wajahnya yang sangat imut itu, ah aku bisa meleleh di tempat juga karena senyumnya yang menenangkan. Dan apa itu? Hazel eyes nya, Ya Tuhan keren sekali.

“sekali lagi, mianhae. Mianhae, mi…”

“sudah, tidak apa-apa. Tidak perlu begitu. Maaf aku buru-buru.”

“ah, baiklah. Annyeong” ucapku dengan menampakkan ekspresi terbaikku, tersenyum. Begitulah, banyak temanku yang berkata bahwa aku memiliki senyuman yang lebih dari menawan. Dan itu membuatku sedikit besar kepala.

“Ya Tuhan, mengapa ada malaikat tak bersayap berkeliaran sepagi ini? Ah, aku pasti sudah gila!” apa-apaan ini? Mengapa aku senyum-senyum sendiri semenjak bertemu namja itu? Apa aku mulai membenarkan pernyataan ‘love at first sight’ ? ah, bukan. Ini bukan apa-apa, ini pasti hanya perasaanku saja. Ya, aku selalu menyangkal istilah itu tiap Ha Na mengatakannya.

—–skip—–

(Jong In POV)

Kami tiba di suatu cafe yang sedikit aneh menurutku. Apa ini? Apples Cafe? Bagaimana bisa seorang Byun Baek Hyun memiliki selera yang seperti ini? Lihat saja sendiri, keadaan cafe yang sangat sepi bahkan hanya ada aku dan hyung sudah seperti kuburan saja. Kemana penjaga cafe ini? Payah.

Ting!

Bunyilonceng ketika kami membuka pintu cafe ini. Horor menurutku, hanya ruangan sekitar 10×12 meter dengan beberapa kursi pelanggan dan apa itu di ujung sana? Sebuah rak yang menyimpan begitu banyak apel merah yang kelihatannya segar. Tapi aku tidak begitu tertarik.

“duduklah.” Baek Hyun hyung menyuruhku untuk duduk di kursi yang ada di depan kami.

“tidak mau. Aku mau kesana saja.” Ucapku seraya menunjuk lemari pendingin yang berisi beberapa kue yang bentuknya, yaah boleh dibilang menarik.

“hyung-ah. Aku kira kue ini bisa kuberikan pada yeoja itu. Bagaimana menurutmu?” tanyaku dengan kue berbentuk mobil di tanganku.

“yang mana?” Baek Hyun hyung pun mendekat kearahku, ke arah lemari pendingin yang leteknya bersebelahan dengan rak buah apel tadi.

“ya! Seleramu buruk sekali. Lebih baik yang berbentuk boneka ini saja, pasti dia akan menyukainya.” Ucapnya sambil mengeluarkan kue berbentuk boneka dari lemari pendingin ini.

“tidak mau! Selera hyung itu yang buruk, justru yang berbentuk mobil ini yang bagus,seperti…”

“mwo? Seperti apa?”

“seperti yang ads di permainan PSP ku, hahaha” tawaku seketika menggelegar memenuhi ruangan ini.

“aish, pabboya! Sini kemarikan kue mobil itu, ganti dengan yang boneka saja. Cepat!”

“ah, shireo!” saat tanganku ingin menjauhkan kue mobil ini dari hyung, tanpa kuketahui tanganku menyenggol sesuatu dibelakang punggungku dan… kue coklat berbentuk mobil itu pun ikut terjatuh.

Buk!

“aww?” teriak seseorang dari belakangku. Seketika aku pun menoleh kearahnya dan betapa aku terkejut melihat seorang yeoja dengan kain dan buah apel di tangannya. Sepertinya ia akan membersihkan apel-apel di rak ini, tapi tidak lagi setelah kue coklat berbentuk mobil itu melayang mengenai wajahnya.

“ya! Kau ini bagaimana sih? Kenapa tiba-tiba ada di belakangku sih? Aish!” ucapku menyalahkannya. Sedetik kemudian aku melihatnya menatapku dengan tatapan yang tidak dapat diartikan, entah marah atau cuek atau entahlah. Benar-benar datar.

“kau bisu ya? Bukannya minta maaf.” Suaraku kembali menggema di ruangan ini. Aneh, dia benar-benar yeoja yang aneh dan… mengerikan. Dia tidak menjawab apapun dan hanya melihatku dengan tatapan yang sama.

“ya! Berhenti melihatku seperti itu. Mengapa kau menatapku seakan ingin membunuhku saja ha?” dan lagi-lagi aku berteriak ke arahnya.

“hentikan Jong In-ah. Kau salah tapi sikapmu malah seperti ini.” Kini Baek Hyun mencoba menenangkanku. Dan itu? Dia, yeoja itu malah masuk ke dalam dan keluar dengan wajah yang mengerikan dan tatapan mata yang seakan berkata ‘AKU AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA’.

“apa yang kau lakukan eoh?” tanyaku dengan nada meremehkan.

“YAAAAAAAAAAAAA!” ini dia! Yeoja itu berteriak setelah sebelumnya menarik napas panjang.

“AKU AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA!” teriaknya lagi dengan… tunggu. Apa itu dibalik punggungnya? Apa yang ia genggam? Jangan katakan kalau itu…

“waaaa…” aku berteriak sekuat tenaga dan berlari keluar cafe ini. Tepat seperti dugaanku bahwa dia akan membunuhku. Dia menggenggam pisau daging. Ah, demi apapun juga aku tidak akan sudi datang lagi ke cafe ini. Dasar, yeoja gila!

 

(Ha Na POV)

“AKU AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA!” aku berteriak sekencang mungkin setelah menahan amarahku yang tertumpuk karena ulah namja itu.

Sial. Secepat kilat dia berlari keluar dan meninggalkan namja yang bersamnya tadi. Makhluk apa dia itu ha? Bisa-bisanya dia berbuat kesalahan dansekarang menyalahkanku?

Jika saja dia tidak berlari tadi? Sudah kucincang dia untuk makan malamku. Kudengar dari luar ia sepertinya masih mengumpatiku. Hah, masa bodoh dengannya. Yang terpenting sekarang aku harus membersihkan tubuhku dari kekacauan yang ditimbulkan namja itu.

“mianseumnida, agashi. Dia memang seperti itu, harap maklum.” Tiba-tiba namja di depanku ini bersuara dengan membungkuk sempurna berulang kali.

“adikmu?” sahutku singkat karena masih emosi.

“bukan adik sebenarnya sih, tapi aku sudah menganggapnya adik kandungku sendiri. Karena suatu hal dan pada saat itu…”

“hentikan! Itu bukan urusanku. Apa kau ingin memesan sesuatu?” tanyaku yang memotong ucapannya itu.

“ah, kalau seperti ini keadaannya lebih baik aku kembali lagi nanti siang. Mianhae, kamsahamnida” ucapnya dengan santun dan membungkukkan badannya kembali.

“ne, gwenchana.” Ucapku berbohong. Kalau bukan namja ini yang meminta maaf sudah kupelet namja itu. Lihat saja.

—–To Be Continue—–

Naah gimana ff nya? Hehe mian kalo agak membosankan wkk~ *tersipu-sipu bareng Kai hihi. Mian kalo alurnya kecepetan yaa chingu L Disini, konflik sebenarnya belum nampak, alias masih perkenalan gituu. Jangan lupa RCL yak chingudeul. Gomawo^^

 

2 pemikiran pada “Apple With Love (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s