Chapter Of Our Life (Chapter 4)

Chapter of Our Life (Part 4)

 

Title     : Chapter of Our Life (Part 4)

Genre : Family, Friendship, Angst

Length : Chapter

Rank    : PG-15

Main Cast :

  1. Do Kyungsoo as Kim Kyungsoo
  2. Byun Baekhyun as Kim Baekhyun
  3. Park Chanyeol as Park Chanyeol

Support cast:

  1. Oh Sehoon as Park Sehun
  2. Lee Youngra (OC)
  3. Cho Seorin (OC)
  4. Park Jungsoo aka Leeteuk as Park Jungsoo

Author : Han Minra

chapter of our life_

Annyeonghaseyo…

Baru pertama kali ya? Author nyapa readers? Maap yah, part sebelumnya gak ada cuap-cuap gak penting dari author. Anggap aja author kalap, eh, khilaf.

Author Cuma mau obral obrol dikit.. Dikit aja…

ff ini pernah di post di dua blog, yang satu blog pribadinya author di www.rasmalltalk.wordpress.com  dan yang satu lagi di www.ourkpopfanfiction.wordpress.com
Ini murni buatan author dan kalo pernah menu di dua blog itu berarti bukan plagiat ya… Liat aja nama authornya.

Sebenernya pingin nulis lagi, tapi ini jari udah gak bisa diajak kompromi. Jadi miankan author yang sekali ngasih cuap-cuap malah langsung nyampah segini banyaknya.

Oke… Happy reading all…

 

***

 

-Youngra

Hmmm…. Ada hal yang harus kuketahui. Akan kumulai darimu Kyungsoo.

 

-Sehun

Annyeonghaseyo. Selamat datang di keluarga Park. Sehun imnida.

 

 

 

=== CHAPTER OF OUR LIFE===

 

Author POV

At Other Place

“Jadi kau tak berhasil?! Aku harap penjelasanmu masuk akal.”

“Seseorang datang membantunya. Aku tak bisa melawan karena pisauku jatuh dan dia sangat hebat dalam berkelahi.”

“Dasar bodoh! Dia masih anak-anak, sedangkan kau… Jika tahu begini aku tidak akan memintamu membereskan ini semua.”

“Tolonglah, beri aku satu lagi kesempatan.”

“Lebih baik kau pergi! Aku bisa menyuruh orang yang jauh lebih cerdas darimu.”

“Tapi kau harus membayarku. Setidaknya aku sudah bekerja malam ini.”

“Membayar katamu? Kau pikir aku bodoh? Kemarin kau sudah kuberi setengahnya, seharusnya kau yang ganti rugi karena tak berhasil. Pergi sekarang juga atau ucapkan selamat tinggal pada kepalamu.” Orang itu menodongkan pistol kepada orang di depannya.

“Baiklah, aku pergi.”

CKLEK

“Mengapa kau tidak mengincar kakaknya? Bukankah akan lebih mudah karena kakinya pincang.”

“Dia? Dia terlalu berisik.”

 

===

 

Next Morning

“Hoammmm…”

“Loh? Kok gelap gulita? Apa aku bengun terlalu pagi? Kyungsoo ya.. kau sudah bangun?” kata Baekhyun namun tidak ada jawaban.

Dia menuruni kasurnya dan mencari saklar lampu.

TEK TEK TEK TEK

Berkali kali saklar itu ditekan, lampu kamar itu tidak menyala juga. Baekhyun menuju jendela bermaksud membuka tirai.

GREK

“Loh? Kenapa tidak terlihat apa-apa? Jangan-jangan… Aku buta?!” perkataan bodoh keluar dari bibir mungil Baekhyun.

“Khyungsoo ya… Kyungsoo… Kau dimana?” Baekhyun meraba raba ranjang Kyungsoo yang berada di sebelah ranjangnya namun ia tak dapat menemukan Kyungsoo.

Baekhyun sudah sangat panik. Dia menuju pintu dan memutar-mutar kenop pintu. Namun hasilnya pintu tidak terbuka, terkunci dari luar.

“Ada apa ini? Dimana aku? Masih di dunia kan? Atau aku sedang berada di planet lain yang mirip bumi dan ini adalah tiruan kamarku? Ah… andwae!!! Kuharap ini mimpi…” Baekhyun mencubit tangannya, meyakinkan dirinya bahwa ini adalah mimpi sehingga ia dapat bangun dan melihat dunia.

“Aww… Sakit!! Kyungsoo ya…. Eomma… Appa… Chanyeol…. Tolong akuuu….” teriak Baekhyun yang rupanya kakinya menabrak pinggiran ranjang.

CKLEK

Seketika Baekhyun menoleh ke arah pintu.

“Saengil chukkae hamnida… Saengil chukkae hamnida. Saranghaja uri Baekhyun, saengil chukkae hamnida…” Seluruh anggota keluarga minus Sehun berdiri di depan kamar Baekhyun, dan Kyungsoo berada di paling depan dengan membawa kue ulang tahun.

Hening, cukup lama keadaan hening.

“Baekhyun, jangan hanya diam dengan tatapan jelek seperti itu. Beri reaksi sedikit…” kata Chanyeol.

“Kau kaget hyung? Tenang, ini masih di bumi kok. Kekeke…”

“Kalian!! Kalian mengerjaiku?! Tidak kusangka kalian tahu hari ulang tahunku. Aku saja lupa. Ini pasti ulahmu! Dasar kau anak nakal! Tapi, terimakasih…” Baekhyun kemudian menghampiri mereka.

“Kudoakan yang terbaik untukmu.” Kata Jungsoo.

“Khamsahamnida…” Baekhyun tersenyum dan memeluk Jungsoo.

“Hyung, make a wish.”

Baekhyun memejamkan mata untuk beberapa saat dan meniup api di atas lilin berangka 18 itu.

“Kau sudah tua ya… Kekeke..” ejek Chanyeol.

“Tapi setidaknya wajahku sepuluh tahun lebih muda darimu. Hahaha…” kata Baekhyun dan Chanyeol malah semakin tertawa keras.

Pagi hari yang sangat membahagiakan di kediaman keluarga Park.

“Annyeonghaseyo ahjumma…”

“Annyeonghaseyo… Pagi sekali, kau mencari Kyungsoo atau Sehun?”

“Dua-duanya juga boleh… Hihi… Aku mencari Kyungsoo, ahjumma.”

“Baiklah, silakan duduk. Akan kupanggilkan Kyungsoo.”

“Mencari Sehun? Kenapa menanyakan hal itu? Jika aku ingin menemuinya, biasanya aku langsung ke kamarnya.” Gumam Youngra.

Sesaat kemudian…

“Weits, ada angin apa kau kesini pagi-pagi?”

“Kyungsoo-ssi… Apakah kau sudah mengerjakan tugas dari Kang songsaengnim? Aku pinjam ya… jebal… Tadi malam aku ketiduran dan belum sempat mengerjakan.” Nada bicara Youngra berubah total dari super ramah dan datar menjadi panik.

“Oh, hanya itu, kukira ada apa. Mengagetkanku saja.” Kata Kyungsoo dengan masih santainya berdiri dan berkacak pinggang.

“Ppali ambil tugasmu! Aku mau menyalin!!”

“Ye…” Kyungsoo berjalan malas dan dilambat-lambatkan padahal dalam hati ia senang melihat Youngra datang.

Tiga menit kemudian

“Ini.”

“Eh, kenapa dengan kakimu? Jalanmu agak pincang.”

“Gwaenchana. Tadi pagi saat bangun kakiku kram.” Katanya berbohong.

“Oh, makannya rajin-rajin olahraga. Gomapta. Aku salin sekarang.”

“Mwo? Kau yakin? Ini ada dua halaman ful.”

“Kau harus tahu, kecepatan menulisku di atas rata-rata.”

“Terserahlah. Aku mau sarapan, kau sudah sarapan?”

Youngra hanya mengangguk karena sudah terlanjur terjun dalam dunianya sendiri.

.

“Kalau tidak salah, kau Youngra ya?”

“Ye.”

Mendengar jawaban singkat itu Baekhyun kaget karena baru kali ini dia terabaikan oleh seorang hoobae apalagi dia seorang yeoja.

“Jangan ganggu dia hyung. Dia sedang menulis marathon.” Kata Kyungsoo yang baru selesai sarapan.

“Oh begitu.”

“Aaaaakhirnyaaaa selesai juga… Waktu tercepat, menulis dua halaman buku dalam waktu 10 menit.”

Baekhyun dan Kyungsoo saling melirik setelah mendengar itu. Youngra melihat sesuatu melingkar di tangan Baekhyun, dia teringat sesuatu.

“Baekhyun oppa… Saengil chukkae hamnida..”

“Waaa… Gomapta. Kau tahu hari ulang tahunku?”

“Ne. Kemarin Kyungsoo bilang begitu.”

“Kau kesini pagi sekali, Youngra. Em… Kalian berangkat saja dengan Chanyeol. Ini sudah agak siang. Aku harus berangkat sekarang. Annyeong.” Kata Jungsoo yang sudah membawa tas kerjanya dan berlalu keluar.

“Annyeong. Hati-hati.” Kata mereka.

“Kajja.” Kata Chanyeol yang tiba-tiba muncul.

“Emm… Chanyeol oppa, bolehkan kalau aku menjenguk Sehun dulu.” Pinta Youngra.

“Nde, tapi jangan lama-lama.”

“Jangan! Emm… maksudku, ini kan sudah siang, lebih baik kita segera berangkat.” Kata Kyungsoo sambil melihat ke arah Baekhyun.

“Aku terserah Chanyeol saja.” Kata Baekhyun.

“Sebentaaaar saja.”

“Lihat! OMO! Jam tujuh kurang sepuluh menit! Kajja hyung, kita berangkat sekarang.” Kyungsoo menatap Chanyeol dengan tatapan memohon.

“Benar juga. Jika kau ingin menjenguk Sehun, lakukanlah setelah pulang sekolah.”

“Arraseo.” Kata Youngra.

 

===

 

Baekhyun’s POV

Ini pertama kalinya aku dan Chanyeol berjalan beriringan masuk kelas. Rasanya aku sudah lumayan dekat dengannya. Semoga ia benar-benar sudah menerimaku dan Kyungsoo sebagai saudaranya.

“Kau duduk di sebelahku ya. Hari ini Seorin belum masuk.”

“Aku sebenarnya tidak keberatan, tapi bagaimana dengan Jongin?”

“Tenang saja, dia sudah biasa sendirian sebelum kau bersekolah disini. Iya kan Jongin?” Ia melirik ke arah Jongin yang baru masuk kelas.

“Apa?”

“Hari ini aku duduk di sebelah Chanyeol. Tidak apa-apa kan?”

“Ya! Kau Park Chanyeol! Seenaknya saja merebut teman sebangku orang lain… Baiklah, saat Seorin sudah masuk, aku akan memaksanya agar duduk di sebelahku.” Kata Jongin dengan senyum jahil.

“Andwae! Tidak akan kubiarkan! Langkahi dulu mayat Baekhyun…”

“Kenapa aku?”

Kemudian kami bertiga tertawa.

Selama pelajaran berlangsung aku merasa sangat ngantuk. Tadi malam aku tidak bisa tidur karena terlalu banyak hal yang kupikirkan. Aku, sangat mengkhawatirkan keadaan Kyungsoo. Kata-katanya semalam yang sama sekali tidak mengisyaratkan kekhawatiran terus terngiang di otakku. Aku tersenyum miris mengingat itu. Aku tahu sebenarnya ia merasa sangat khawatir dan takut namun ia berusaha menyembunyikannya sendirian. Dan lagi-lagi aku tahu apa alasannya, dia tidak mau merepotkan appa dan tidak mau membuatku khawatir. Tidak tahukah dia bahwa aku malah lebih khawatir melihat kejadian yang baru saja menimpanya sedangkan ia tetap bersikap biasa saja. Mengapa ada orang yang menaruh dendam pada anak sebaik itu. Dia masih kecil dan aku yakin tidak pernah terlibat masalah dengan siapapun.

Kecuali…

Apa mungkin mereka lagi? Belum puaskah mereka memonopoli kehidupan kami selama ini?

Mataku yang tadinya terasa berat langsung full charge. Aku butuh memikirkan ini lebih dalam dan memperhatikan semua bukti.

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol yang rupanya mendapati keanehan padaku.

“Aniya. Hanya mengantuk.”

“Permisi Lee songsaengnim, bolehkah aku ke kamar kecil sebentar?”

“Ne, Baekhyun. Cepatlah.”

>>

Aku membasuh muka dan menatap diriku di kaca. Menerawang semua yang terlintas di otakku. Aku mengedarkan pandangan dan mataku tertuju ke bawah dan mendapati kakiku yang sekarang sudah tidak memakai bantuan tongkat untuk berjalan, tapi jalanku masih pincang dan ini masih lumayan sakit.

Tunggu!

Kalau itu Heechul ajusshi, kenapa ia tak mengincarku? Padahal jika ia tahu kami tinggal dimana, otomatis ia pasti juga tahu kalau kondisiku seperti ini. Itu artinya, akan lebih mudah jika ia ingin menangkapku atau apa. Tapi, kenapa Kyungsoo?

Yang dia incar hanya Kyungsoo seorang atau aku juga menjadi targetnya yang sedang menunggu giliran serangannya? Tapi, jahat sekali aku berpikiran seperti itu apalagi tanpa bukti. Memangnya dia tahu aku dan Kyungsoo kabur kemana?

Tapi jika orang lain, maka siapa?

Arrghhh!! Ini semakin buram saja. Kuharap orang itu tidak pernah datang lagi.

.

“Kau masih memikirkan kejadian tadi malam?” tanya Chanyeol saat istirahat.

“Begitulah. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Kyungsoo. Appa menitipkannya padaku, jadi sebisa mungkin aku harus melindunginya. Tidak peduli jika harus mengganti dengan nyawaku, asal dia baik-baik saja.”

“Kau benar-benar kakak yang baik dan bertanggung jawab. Aku, belum bisa bertindak sepertimu. Aku….”

“Sudahlah, kau hyung yang sangat baik bagi Sehun. Kau masih bersedia merawatnya, kau masih mau menemaninya saat malam-malam ketika semua sudah tertidur. Aku tahu, kau menghabiskan sebagian besar waktu di rumah hanya untuk menemani Sehun.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku melihatmu tertidur di kamar Sehun dalam kondisi duduk di tepi ranjang. Dan itu tidak hanya terjadi sekali, tapi berkali-kali.”

“Jadi kau berkeliaran malam-malam? Kau vampire?” Pertanyaan konyol dan bodoh keluar dari bibir Chanyeol.

“Hahaha… Ani, aku sering kehausan saat tengah malam.”

“Kalian tidak ke kantin? Aku lapar sekali…” kata Jongin tiba-tiba menghampiri kami.

“Aku juga. Kajja kita ke kantin.” Kata Chanyeol.

“Kau mengajak kami? Sip! Jadi kau harus mentraktir kami.” Kata Jongin jahil.

“Kenapa bisa?”

“Mengajak berarti mengundang. Berarti apa anak-anak? Ya, benar, makan gratis.” Kata Jongin sambil menuru gaya bicara Pak Kepsek.

Aku hanya bisa diam menahan tawa, menunggu reaksi Chanyeol berikutnya.

“Memang kau pikir ini acara resepsi atau ulang tahun?! Aku tahu hartamu melimpah, rumah mewah, jadi tidak usah sok miskin dan merana Tuan Kim Jongin…”

“Jadi ke kantin tidak? Sebentar lagi bel.” Kataku menyela perdebatan tidak penting antara remaja berusia 17 tahun ini.

Setelah bel pulang sekolah aku berdiri di dekat pagar, menunggu seseorang.

“Kyungsoo-ya!”

“Hyung? Kau tidak ada jam tambahan?”

“Ani. Kajja kita pulang bersama.”

“Chanyeol hyung mana?”

“Dia ada urusan.”

“Emm… Aku ikut bersama kalian ya. Sekalian menjenguk Sehun.” Kata Youngra.

“Andwae! Maksudku, tidak usah.” Kata Kyungsoo.

“Wae?”

“Mmm… Nanti aku akan ke rumahmu. Bukankah kita mau mengerjakan tugas kimia?”

“Kita kerjakan saja di rumahmu.”

“Di rumahmu saja, sekalian aku ingin mengunjungi ibumu.” Kata Kyungsoo. Pembicaraan ini aneh sekali.

“Kenapa tidak di rumah kita saja? Bukankah Youngra juga ingin melihat keadaan Sehun..” kataku menengahi.

“Iya, oppamu saja mengijinkan. Kau kenapa? Sejak tadi pagi kau aneh sekali.”

“Aku hanya ingin mengunjungi ibumu saja. Hanya itu.”

Apa mungkin dia merindukan eomma? Sehingga ia menganggap eommanya Youngra adalah eommanya juga.

“Arraseo. Nanti datang  ke rumahku jam tiga sore.” Youngra akhirnya mengalah. Mungkin ia sudah tahu tentang Kyungsoo karena sepertinya ia berfikiran sama denganku.

Kami menunggu bis di halte dekat sekolah. Baru kali ini aku pulang dengan Kyungsoo karena biasanya aku pulang dengan Jongin. Alasanku tidak lain adalah, memastikan bahwa Kyungsoo tak apa-apa. Sedikit over protective memang, apalagi usianya sudah tidak tergolong anak kecil yang perlu dikawal lagi. Semoga ia tak menyadari kekhawatiranku ini.

“Itu bisnya. Ayo Kyungsoo, Baekhyun oppa.” Kata Youngra.

Di dalam bis, aku duduk terpisah dengan Kyungsoo sehingga ia bisa duduk di sebelah Youngra. Sesaat setelah Youngra turun, ia duduk di sebelahku.

“Tumben sekali kau pulang bersama kami hyung.”

Rupanya ia menyadarinya. Aku harus mengangkat topik yang bagus untuk menjawab.

“Apa salah aku pulang bersama dongsaengku? Huh! Bilang saja kau tak ingin aku mengganggu waktumu yang berharga bersama Youngra.”

“Aduh, kenapa bisa berfikiran sampai kesana? Bukan begitu, biasanya kan kau pulang dengan Jongin hyung. Apa dia tak masuk?”

“Oh, dia masuk. Tapi tadi dia dijemput orang tuanya, katanya ada urusan keluarga.”

“Oh, begitu.”

“Oh iya, ngomong-ngomong sudah sampai sejauh mana hubunganmu dengan Youngra?” kataku menggodanya.

“Maksudmu?”

“Semacam hubungan spesial atau,… apalah.”

“Ani! Kami hanya bersahabat.”

“Kenapa kau jadi heboh? Jangan-jangan benar, ada sesuatu diantara kalian…”

“No Hyung! No no no.”

“Yes… yes yes yes.”

“Lihat hyung! Stasiun dekat rumah sudah terlihat!” katanya yang terkesan seperti mengalihkan pembicaraan.

Kena kau Kyungsoo… Hahahaha….

 

===

 

Youngra’s POV

Hari ini Kyungsoo terlihat agak aneh. Apa yang terjadi dengan anak itu? Apa sedang terjadi masalah? Jika iya, mengapa tak mengatakannya kepadaku. Mungkin aku bisa membantunya.

Jujur saja, dengan kehadirannya bisa membuatku melupakan sejenak kesedihanku mengenai keadaan Sehun. Setidaknya ia bisa membuatku tersenyum, tertawa, menjadi teman untuk mengobrol dan bercerita. Secara tidak sadar atau mungkin ia menyadarinya, ia sudah berhasil membantuku dari keterpurukan. Aku merasa beruntung mempunyai dua sahabat seperti Sehun dan Kyungsoo. Semoga kami tak kan terpisahkan.

Sehun, aku jadi ingat dengannya. Sudah agak lama aku tak pernah menjenguknya, bagaimana keadaannya sekarang? Tunggu, aku menyadari sesuatu. Ketika aku mengungkit akan ke rumah Sehun dan menjenguknya, Kyungsoo mendadak berubah sikapnya menjadi aneh, seolah…. ia melarangku untuk menemui Sehun? Ini hanya dugaanku atau memang benar? Memang, aku bisa merasakan hal aneh yang terjadi dengan cepat. Tapi kali ini lain, aku belum bisa memastikan karena ini berhubungan dengan sahabatku yang (menurut dugaanku) melarangku untuk menjenguk sahabat kami. Ani! Bahkan saudara angkatnya sendiri.

Hmmm…. Ada hal yang harus kuketahui. Akan kumulai darimu Kyungsoo.

.

“Youngra! Ada Kyungsoo datang.” Teriakan dari eomma mengganggu konsentrasiku yang menonton TV.

“Ne… Aish! Dia cepat sekali datang. Padahal sedang seru-serunya.” Gerutuku sambil beranjak dari karpet.

“Kau datang cepat sekali, ini kan belum jam tiga. Seperti akan melakukan hal penting saja.”

“Aku kan memang akan melakukan hal penting. Kajja kita kerjakan.”

“Ne. Terserahlah. Aku ambil buku dulu.”

Kami mengerjakan tugas dalam diam. Ini tidak seperti biasanya dimana dia selalu berisik.

“Kau bisa menyelesaikan soal nomor lima? Tolong ajari aku.” Kataku yang sudah tidak tahan dengan keheningan ini.

“Aigoo. Kurasa kau lebih pintar dariku. Sini berikan padaku.”

“……”

“Oh, jadi begitu. Kau selalu belajar di rumah ya?”

“Tidak juga. Aku lebih sering membaca majalah daripada buku pelajaran.”

“Setiap hari? It’s impossible. Mana mungkin kau membaca majalah selama itu.”

“Ani! Tentu saja tidak setiap hari. Hanya sering, bukan terus.”

“Lalu jika tidak ada lagi majalah yang kau baca, apa yang kau lakukan?”

“Bercerita dengan Se… Eh, Seorin noona.” Apa dia bilang? ‘bercerita dengan Se…’?? Sehun maksudnya? Lihat saja, dia sudah mulai menunjukan gerak-gerik aneh yang jika melihatnya saja bisa merasa iba. Baik, akan kutingkatkan level kemana arah pembicaraan ini.

“Jinjja? Apa kau sedekat itu dengannya?”

“Um… tidak juga. Dia sering berkunjung ke rumah jadi aku sering mengobrol banyak dengannya.”

“Jadi seakrab itu ya? Apa yang kalian bicarakan?”

“Banyak. Dia sedikit cerewet dan pandai bercerita. Yang lebih sering tentu saja bercerita tentang Chanyeol hyung.”

“Chanyeol oppa sangat baik ya. Dia sangat menyayangi Sehun.”

“Ye. Dia memang sangat baik.”

“Ngomong-ngomong, aku merindukan Sehun. Sudah beberapa hari ini aku tak menjenguknya.”

“Um… Bukankah sama saja. Maksudku, kau menjenguknya hampir setiap hari dan belum ada perubahan yang signifikan. Apa kau tidak lelah menunggu?”

“Selama yang kutunggu adalah Sehun, aku akan menunggunya sampai kapanpun. Baik, besok aku akan ke rumahmu.”

“Besok? Bukankah kita akan mengerjakan tugas matematika?”

Dia mulai berulah lagi. Kapan aku mengadakan janji seperti itu? Lagipula, kami tak ada tugas matematika. Baik, ini sudah jelas, dia berusaha menjauhkanku dari Sehun.

“Sekarang apa lagi Kyungsoo?! Aku tahu apa maksudmu. Ini semua hanya modus! Apa kau ingin menjauhkanku dari Sehun?!”

“Ani! Aku sama sekali tidak bermaksud….”

“Kau! Kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu sejauh mana kedekatanku dengan Sehun. Kau juga tidak tahu bagaimana rasa khawatirku padanya. Kau tak tahu itu semua! Jadi jangan berani-berani melakukan ini. Aku pikir kau teman yang baik, tapi ternyata tidak. Sebenarnya apa maumu?!”

“A.. aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan Sehun.”

“Dengan cara berusaha memisahkan kami?!”

“Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu apa?! Sudahlah, aku sudah malas menanggapi orang sepertimu. Lebih baik kau keluar sekarang! Dan satu lagi, anggap saja kita tak pernah saling mengenal.”

“Youngra, dengarkan dulu penjelasanku!”

“Aku tidak peduli. Keluar sekarang juga!”

“Youngra-ya…. Kenapa berteriak?” tanya eomma dari dalam kamarnya.

“Gwaenchana eomma… eomma lanjutkan saja kegiatan eomma.”

Aku menarik tangan Kyungsoo untuk keluar.

“Jika kau ingin tahu alasan mengapa aku melakukan ini semua, datang ke rumahku sekarang juga! Aku tidak yakin kau akan siap menghadapi ini. Dan setelah kau mengetahui semuanya, aku setuju dengan keputusanmu yang menganggap kita tak pernah saling mengenal.”

“Arraseo.” Kataku dengan nada tegas tapi di dalam hati aku menjadi sedikit gelisah. Dia sampai berkata seperti itu berarti memang ada sesuatu hal yang memaksanya untuk tidak menceritakannya padaku. Baik, akan kubuktikan sendiri nanti.

Kami naik taksi untuk menuju rumahnya. Suasana di dalam taksi ini sangat tegang dan panas. Aku memang marah padanya, tapi melihatnya dengan ekspresi marah begitu membuatku menyesali perbuatanku tadi. Seharusnya kudengarkan dulu penjelasannya.

.

At Park Jungsoo’s House

Aku langsung menuju kamar Sehun diikuti Kyungsoo di belakangku. Betapa terkejutnya, kudapati Sehun sudah sadar dan dia sekarang sedang menonton TV sambil duduk di atas tempat tidurnya.

“Sehun…” panggilku dengan mata beraca-kaca saking bahagianya.

Dia menoleh padaku dengan tatapan datar.

“Kyungsoo hyung, kau sudah datang?” katanya.

“Sehun…” panggilku sekali lagi.

“Kau siapa?”

Tiba-tiba rasa sesak menyerang dadaku. Terasa sakit, sangat sakit. Mugkin lebih sakit daripada saat aku mendengar kabar bahwa Sehun mengalami kecelakaan. Kalimat itu, sederhana dan membekas sangat dalam di hati.

Dia tak mengenaliku? Air mata yang sedari tadi tertampung di pelupuk mataku, kini terdesak dengan cairan yang lebih deras menyebabkan cairan ini turun dengan cepat dan deras.

Aku berbalik dan menoleh pada Kyungsoo, meminta penjelasan atas ini semua.

“Dia amnesia.” Kata Kyungsoo, dan GREP. Refleks aku memeluknya. Aku tak peduli siapapun orangnya, yang kubutuhkan adalah seseorang untukku bersandar. Aku tak tahu lagi bagaimana meluapkan emosi ini. Yang kubisa hanyalah menangis dan aku membutuhkan orang lain untuk membantuku menghadapi ini.

“Aku tahu akan begini jadinya. Mianhae jika aku tak memberitahumu sejak awal. Aku tak ingin kau terluka.” Katanya sangat lembut dan tenang, padahal aku tahu jantungnya berdegup sangat kencang, aku bisa merasakannya. Seirama dengan degup jantungku saat ini.

Setelah beberapa saat, aku melepas pelukan diantara kami dan dia mengusap air mataku.

“Jangan menangis. Dulu kau sudah sering menangis.” Katanya.

“Gomawo. Kau mau memperhatikanku dan memikirkan perasaanku.” Lalu aku berbalik lagi dan menatap Sehun.

Aku menghampirinya dan duduk di kursi sebelah ranjang.

“Kau…. benar-benar tak mengenalku?”

Dia nampak berfikir dan melihatku dengan seksama hingga akhirnya dijawab dengan gelengan dan ia mengalihkan pandangannya lagi ke layar TV. Mengabaikan semua keadaan di sekitarnya. Aku menghela nafas. Dan kembali, butiran bening ini mengalir di pipiku.

“Kau, tidak apa-apa kan?” tanya Kyungsoo dengan nada khawatir.

“Gwaenchana. Tidak pantas jika aku terlalu bersedih dan menyalahkan takdir. Lagipula, siapa aku? Aku hanya sahabatnya. Keluarganya saja tabah menghadapi ini semua, mengapa aku tak bisa?”

“Kau benar.”

“Mianhae… mianhae aku telah menuduhmu dengan tuduhan-tuduhan yang jahat. Salahku yang tak mau mendengar penjelasanmu dulu. Jeongmal mianhae, aku sangat jahat. Kau tidak marah, kan?”

“Gwaenchana. Kau hanya belum mengerti bagaimana berada di posisiku.”

“Aku sudah salah paham denganmu. Kau namja yang sangat baik. Tapi satu hal yang disayangkan, aku menghargai niatmu untuk membuatku agar tidak bersedih, tapi aku sahabat Sehun, aku juga berhak tahu bagaimana keadaannya.”

“Aku hanya tidak mau melihat sahabatku terluka.”

“Cepat atau lambat, pada akhirnya aku akan tahu juga.”

“Kupikir jika berhasil mengulur waktumu agar tak bertemu Sehun adalah cara terbaik sambil menunggu kondisi Sehun kembali seperti sedia kala. Tapi kuyakin itu tidak akan berhasil, awalnya aku sudah menyerah tapi tak ada salahnya mencoba kan? Satu-satunya alasan aku melakukan ini adalah, aku tak ingin melihatmu menangis lebih banyak.”

Tiba-tiba aku ingat tentang perlakuanku tadi terhadap Kyungsoo. Baru kusadari ternyata benar, ia melakukan ini semua, semata hanya karena tidak ingin melihatku terluka apalagi menangis. Hanya demi aku? Aku menyesal dengan perkataanku tadi padanya.

“Jadi kita masih sahabat kan? Tidak usah pikirkan perkataanku tadi. Aku terlalu terbawa emosi. Mianhae.”

“Ne. Bestfriend.” Katanya sambil tersenyum dan kami menautkan jari kelingking kami.

“Baiklah, kita mulai dari awal.” Katanya.

“Memulai apa?”

“Membantu Sehun mendapatkan kembali memorinya.”

“Baik, kita mulai.”

 

===

 

Author’s POV

Next Day

“Kau datang cepat sekali.” Kata Kyungsoo.

“Aku bukan tipe orang yang suka megulur waktu.” Kata Youngra yang duduk manis di sofa.

“Mengapa tidak langsung menuju kamar Sehun?”

“Aku menunggumu. Kemarin kau memperkenalkanku sebagai temanmu di hadapan Sehun. Jika aku sekarang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya, SENDIRIAN… Apa yang akan dia pikirkan?”

“Tumben sekali kau sampai berfikir sejauh itu. O iya, kondisinya sudah mulai ada perkembangan. Dia sudah mulai berkumpul dan berbincang dengan keluarga.” Terang Kyungsoo.

“Itu bagus sekali.”

Setelah di dalam, Youngra langsung menuju ke kamar Sehun.

TOK TOK TOK

“Langsung masuk saja.” Kata Kyungsoo sambil membuka pintu.

“Annyeonghaseyo Sehun… Selamat sore.” kata Youngra. Sehun yang sedang duduk di dekat jendela sambil melihat keluarpun menoleh.

“Kau datang lagi?” tanyanya. Baru kali ini Sehun memberi respon secepat ini pada seseorang setelah dia hilang ingatan.

“Bukankah kemarin aku sudah janji, aku akan membawakanmu sesuatu. Kau pasti suka.” Kata Youngra.

“Kalian kutinggal dulu. Aku ada urusan sebentar.” Kata Kyungsoo dan dijawab anggukan oleh Youngra. Tentu saja itu hanya alasan agar Youngra bisa mengobrol lebih bebas dengan Sehun. Jadi daripada tidak ada yang dikerjakan, dia memutuskan untuk tidur.

Sehun masih menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Youngra mendekat.

“TARA….” Youngra membuka wadah plastik yang dibawanya.

“Apa itu?”

“Puding vla coklat. Cobalah, aku membuatnya sendiri. Oh iya, akan kuambilkan piring dan sendok.” Kata Youngra kemudian keluar.

“Sepertinya aku sangat mengenal yeoja ini. Tapi mengapa aku tak mengingat bahwa kami pernah bertemu sebelumnya.” Gumam Sehun.

Di tengah acara makan puding,

“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Sehun. Posisi mereka lumayan dekat dan berhadapan.

“Maksudnya?”

“Mengapa kau sampai repot-repot membuatkan puding seenak ini untukku? Padahal kita baru saling kenal kemarin dan kau bilang kau temannya Kyungsoo hyung. Jadi mengapa kau tak berikan saja puding ini padanya?”

“Um… Itu…”

“Apa sebelum aku mengalami amnesia, pernah ada hubungan di antara kita?”

‘Akhirnya Sehun menanyakan hal ini.’ batin Youngra.

Youngra menghel nafas, “Ne. Kau benar. Kita adalah sahabat, bahkan sejak kecil saat di taman kanak-kanak, kita sudah menjadi sahabat.”

“Benarkah begitu? Mengapa aku tak bisa mengingatnya sedikitpun.” Sehun menjambak rambutnya.

“Jika kau tak mengingatnya, biarlah seperti itu. Jangan kau paksakan untuk mengingat hal yang tersembunyi di memorimu.”

“Tunggu, jika kau adalah sahabatku, kau tentu tahu seluk beluk tentangku.”

“Mungkin.” Kata Youngra ragu.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu. Aku sudah mendapat jawaban yang sama dari semua orang di rumah ini. Namun aku ragu, jadi aku tanyakan padamu untuk meminta kepastian.”

“Pertanyaan apa?”

“Apa kau tahu, dimana eommaku sekarang?”

Youngra berfikir, apakah Sehun belum tahu jika eommanya meninggal? Ah, tentu saja! Eommanya meninggal saat Sehun sedang mengalami koma. Apa keluarga ini belum menceritakan semuanya pada Sehun? Jawaban apa yang harus diberikan??

“Dimana? Kau tidak tahu?” tanya Sehun sekali lagi.

“Ah… ne ne. Sehun, jadi kau belum tahu apa-apa?” dan dijawab dengan gelengan kepala dari Sehun.

Youngra menghela nafas. Menambah kekuatan apakah dia sanggup mengatakan ini atau tidak. “Eommamu… Dia sudah…”

“Youngra? Ah, kau datang menjenguk Sehun lagi? Khamsahamnida. Maaf jika merepotkan.” Kata Jungsoo yang baru pulang dari kantor.

“Ah, ahjussi. Aku senang melakukan ini.”

“Kau membawakan puding vla coklat? Wah, seperti dulu saja. Apa ini masih menjadi favoritnya?”

“Aku harap begitu ahjusshi.” Kata Youngra dengan senyuman.

“Baiklah, kalian teruskan saja mengobrol.” Kata Jungsoo yang kemudian mengusap kepala Sehun dan keluar.

“Apa maksud dari appa ‘seperti yang dulu’?”

“Oh, bukan apa-apa. Dulu kau suka sekali puding vla coklat buatanku, dan setiap Sabtu sepulang sekolah kau selalu ke rumahku dan mencicipi puding buatanku. Aku heran, kau melakukannya sejak kita kelas 1 SMP, mengapa tidak pernah bosan.”

“Jadi kita sedekat itu ya? Makanan favoritku puding vla coklat? Tapi memang sampai saat ini makanan paling enak yang pernah kumakan adalah puding ini.”

“Gomapta. Sudah lama aku tak mendengar pujian darimu.” Youngra tersipu.

“Oh iya, kembali ke topik awal. Tolong katakan, dimana eommaku. Kau pasti tahu kan? Aku hanya ingin memastikan kebenaran jawaban dari mereka.”

“Eommamu ya… Dia… Dia sudah…”

“Youngra! Jangan!” tiba-tiba Chanyeol muncul dari luar, ternyata dia mendengar penggalan akhir dari percakapan Sehun-Youngra.

“Hyung?”

“Tolong jangan katakan sekarang.” Chanyeol memohon.

“Ada apa sebenarnya?” Youngra nampak bingung.

“Tolong, kabulkanlah permintaanku. Jangan kau katakan.” Youngra mulai bisa mencerna perkataan Chanyeol.

“Apa yang sedang kalian sembunyikan?! Katakan padaku!”

“Ani Sehun, belum saatnya.”

“Lalu kapan?! Hyung! Aku tahu, kalian sedang menyembunyikan suatu rahasia, ini tentang eomma kan?!”

Chanyeol hanya menatap lurus ke arah Sehun, tanpa jawaban, tanpa anggukan dan tanpa gelengan.

“Kalian tidak mengerti bagaimana posisiku. Aku tahu aku memang amnesia, aku juga menyadari aku tak bisa mengingat kalian semua. Aku tahu itu dan aku minta maaf. Tapi tolong bantu aku, setelah aku bangun satu satunya orang yang kuingat adalah eomma. Mengapa kalian tak mengijinkan aku untuk bertemu dengannya? Kalian ingin membuat hidupku lebih menderita lagi?!” Sehun mulai menitikkan air mata.

“Kami tidak bermaksud begitu…”

“Hyung! Kau pernah bilang kau menyayangiku lebih dari apapun. Tapi apakah begini wujud sayangmu kepadaku?! Aku kecewa dengan kalian!”

“Mianhae Sehun.”

“Katakan sekarang juga atau aku akan kabur dari rumah dan mencari eomma sendiri!”

“Jangan pernah kau berfikiran seperti itu! Karena kau tak akan pernah menemukannya.” Chanyeol menunduk dan terlihat butiran bening keluar dari matanya.

“Apa maksudmu?” Di kepala Sehun mulai bermunculan pikiran-pikiran yang mengganggu.

Sehun  mendekati Youngra.

“Kau sahabatku kan? Tolong bantu aku, katakanlah…”

Youngra terpaku menatap Sehun dengan jarak sedekat ini. Ia ragu menjawabnya. Tapi jika terus disembunyikan, malah akan membuat Sehun semakin terluka.

“Baiklah… eommamu….”

“Eomma sudah meninggal! Puas kau sekarang?!” Chanyeol memotong perkataan Youngra.

Sehun menoleh, “Katakan sekali lagi.”

“Eomma… Sudah meninggal.” Kata Chanyeol pelan.

Sehun mencerna kata-kata itu. Berusaha mendeteksi apa mungkin ada kata yang terlewat atau tidak. Tapi ini semua terdengar sangat jelas dan kini terus terngiang di pikirannya. Eommanya memang sudah tiada, itu sebabnya selama ini ia tak pernah bertemu dengannya.

Memori masa lalu bersama eommanya kini berputar di otaknya. Entah mengapa memori seperti ini muncul begitu saja saat dia sedang mengalami kenyataan terpahit dalam hidupnya. Sehun menolak ingatannya itu, ia tak ingin memutar memori itu sekarang. Ia menjambak rambutnya sendiri dan seketika kepalanya terasa sangat pusing. Iapun terjatuh di lantai.

“Sehun!!” Pekik Chanyeol dan Youngra bersamaan.

“Arrgggghhh!!!! Sakit!” Sehun menjerit.

Youngra memegangi bahu Sehun dan kemudia dilepaskannya karena posisinya digantikan oleh Chanyeol.

“Sehun… Maafkan aku. Kau tak apa? Tolong, saat ini tenangkan pikiranmu.” Kata Chanyeol panik.

“Sakit hyung!” Dan seketika Sehun tak sadarkan diri.

“Ada apa?” kata Jungsoo panik. Dibelakangnya secara berurutan dengan jarak sekian detik, Kyungsoo, Eun ahjumma dan Baekhyun menghambur ke kamar Sehun.

“Appa. Kita bawa dia ke Rumah Sakit.” Kata Chanyeol yang terlihat lebih panik dari semua orang.

 

===

 

Sehun’s POV

Dimana aku? Ah… tentu saja, ini kan di pusat perbelanjaan. Mengapa aku tak sadar kalau aku tadi kesini.

“Sehun, kau mau kemeja warna apa?” kata eomma sambil memilah beberapa kemeja di hadapannya.

“Terserah eomma. Apapun yang eomma pilih pasti bagus untukku.”

“Sepertinya warna biru bagus. Kau belum pernah punya kemeja warna biru.”

Setelah membayar, kami keluar sambil membawa beberapa tas belanjaan.

“Jika bukan untuk keperluan pertemuan keluarga besok, aku tidak akan berbelanja sekarang.”

“Mengapa begitu?” tanyaku.

“Jangan mengebut seperti tadi. Hampir saja jantung eommamu ini lepas gara-gara gaya mengemudimu yang sangat ugal. Seharusnya aku menunggu appamu pulang atau Chanyeol yang kualitas mengemudinya jauh lebih baik.”

“Yah.. mengapa eomma tidak mempercayaiku? Aku kan sudah berbulan bulan berlatih.”

“Kau masih di bawah umur. SIM saja kau belum punya.”

“Tapi kemampuanku sudah sangat baik untuk ukuran remaja seusia 16 tahun. Baiklah, nanti aku akan hati-hati.”

“Nah, begitu. Jangan ngebut lagi ya.”

**

Suasana sudah mulai gelap apalagi ditambah dengan awan hitam di langit, keadaan di jalan juga tidak terlalu ramai.

KRING…

“Yebseyo?” kata eomma pada benda kecil itu.

“…..”

“Ya, aku tahu. Tapi tadi dia yang memaksa, tadinya aku ingin menunggumu pulang.”

“…..”

“Ne. Kita bicarakan ini di rumah bersama appamu.” Lalu eomma menutup sambungan teleponnya.

“Pasti dari Chanyeol hyung.”

“Dia belum percaya denganmu untuk masalah mengemudi.”

“Ck! Seperti dia sudah lihai saja.”

“Setidaknya dia jauh lebih baik darimu Sehun.”

“Apa yang akan kita bicarakan di rumah bersama appa?”

“Tadi dia mengusulkan untuk mempunyai sopir pribadi. Jadi tak mungkin lagi anak keluarga Park yang masih di bawah umur sepertimu berkeliaran di jalan dengan mobil.”

“Yah!! Tidak seru! Aku tidak setuju!”

Tiba-tiba…

BRES…

“Kenapa tiba-tiba hujan sederas ini? Padahal mendungnya tidak terlalu gelap dan besar.” Kata eomma.

“Entahlah. Mungkin awal musim hujan.” Jawabku asal.

TIN TIN…

Suara klakson mobil di belakang sangat keras dan terkesan tidak santai. Aku memacu mobil dengan lebih kencang karena tak mau didahului oleh mobil sombong itu.

“Park Sehun! Bukankah tadi sudah kubilang, jangan ngebut. Apalagi ini hujan dan jalan licin.”

“Ne eomma.”

Aku sedikit memperlambat laju mobil sampai tiba-tiba mobil di belakangku menyalip dengan kecepatan tinggi dan jarak antara mobil itu dengan kami sangatlah minim, kuperkirakan hanya lima senti.

Spontan aku membanting setir ke kanan untuk menghindari agar tak terjadi semacam goresan yang nantinya merusak salah satu mobil appa.

Namun aku kurang beruntung, bantingan setirku terlalu mendadak dan kecepatan mobil masih di atas rata-rata dan menyebabkan ban mobil tergelincir karena jalan licin, kurasa. Akhirnya kurasakan mobil ini tak bisa dikendalikan lagi.

“Sehun! Hentikan mobil ini!” teriak eomma panik.

“Andwae!!!!!!! Aku tidak bisa mengendalikan mobil ini! Eomma!!!!!”

CIIIITTTT

BRAK

Terdengar hantaman yang sangat keras, kurasakan badanku tak bisa digerakkan dan kepalaku sangat sakit.

“Eomma…” lirihku.

Tak ada jawaban.

“Eomma…” masih tak ada jawaban.

“Eomma!!” kini kepalaku sudah terasa sangat berat dan seketika aku tak bisa merasakan apa-apa lagi.

 

===

 

“Eomma!” aku berteriak, di hadapanku sudah ada tujuh pasang mata yang menatap dengan tatapan yang sulit kuartikan. Sekarang aku sadar, aku berada di rumah sakit. Aku berusaha bangkit.

“Jangan paksakan dirimu Sehun.”

“Eomma… eomma meninggal gara-gara aku. Dia meninggal gara-gara aku!” aku panik. Kurasakan badanku basah, keringat dingin bercucuran. Kejadian tadi terekam sama persis dengan kejadian saat itu.

Tiba-tiba appa memelukku.

“Tenangkan dirimu Sehun. Ini bukan salahmu.”

“Mianhae appa. Aku penyebab kecelakaan itu. Aku membunuh eomma.” Tiba-tiba aku menangis.

“Bukan. Bukan seperti itu kejadian sebenarnya. Jadi berhenti menyalahkan dirimu. Kau tidak bersalah sama sekali.”

“Lalu bagaimana?” tanyaku pelan.

Kemudian appa menceritakan semuanya padaku. Yang intinya tetap saja sama. Eomma meninggal gara-gara aku. Aku membuatnya terlalu khawatir sehingga penyakitnya kumat.

“Tetap saja. Dia meninggal karena aku kan?”

“Ini takdir Sehun. Eommamu ditakdirkan untuk meninggal dengan cara seperti itu.”

“Jadi, Tuhan tak mengizinkanku menemani eomma di saat terakhirnya? Sungguh tak adil!”

“Bersabarlah. Kuatkan dirimu. Ini yang terbaik yang diberikan Tuhan padamu. Bukankan eommamu pernah bilang bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang yang selalu memberi yang terbaik pada umatnya.”

“Aku harap itu semua benar adanya.” Kataku lemas.

Kutatap semua orang yang masih membisu di hadapanku. Orang-orang terdekatku dan beberapa kenangan bersama mereka terlintas saja di otakku begitu aku melihat wajah mereka. Tapi, kedua orang itu…

Mwo? Aku baru menyadari, aku… mengingat mereka semua. Bukan hanya memori bersama mereka setelah aku sadar dari koma waktu itu. Tapi semuanya, ya… semuanya. Apakah aku sudah bisa dinyatakan sembuh dari amnesia?? Secepat inikah?

“Berapa lama aku tertidur?”

“Satu minggu.” Kata Chanyeol hyung.

Selama itukah?? Aku tertidur dalam waktu sepanjang itu, dan aku bangun dalam keadaan telah mengingat semuanya. Benar-benar instan menurutku. Kini aku yakin, Tuhan memang Maha Pengasih dan Penyayang. Aku percaya itu.

“Hyung… Appa… Aku, sudah mengingat segalanya.”

Seperti dugaanku mereka terkejut, sama sepertiku.

“Jinjja?” Youngra lebih dulu mengeluarkan suara.

“Aku rasa begitu. Tapi aku juga belum bisa memastikan, yang pasti aku mengingat banyak sekali kenangan yang sudah terlewat bersama kalian.”

“Syukurlah. Chanyeol, tolong panggilkan dokter.” Kata appa.

 

===

 

Kyungsoo’s POV

Aku senang akhirnya Sehun akhirnya sembuh dari amnesia. Aku berani menjamin itu karena barusan dokter juga bilang begitu.

Saat ini, appa memperkenalkanku dan Baekhyun hyung kepadanya, mungkin appa menyadari bahwa Sehun kebingungan. Beberapa hari yang lalu dia memanggilku dan Baekhyun hyung dengan panggilan ‘hyung’ namun saat memorinya kembali, dia seperti berfikir ‘kenapa kemarin aku memanggil mereka hyung, sementara aku hanya mempunyai satu orang hyung.’

Aku menebak nebak responnya, apakah dia akan menolak kami atau menyambut kami dengan baik. Namun itu segera terjawab ketika Sehun mengatakan,

“Annyeonghaseyo. Selamat datang di keluarga Park. Sehun imnida.” Kalimat yang ia ucapkan begitu indah. Dia menyambut kami dengan sangat baik dan ramah.

 

 

===TBC===

Dimohon kritik, saran, dan likenya

Eh, kalo dibolak-balik jadi LKS dong (Like, kritik, saran) #ketauan banget kalo cerewet, gini aja dibahas. -_-

Khamsahamnida…. J

12 pemikiran pada “Chapter Of Our Life (Chapter 4)

  1. jeongmal mianhae thor, aku baru komen d part ini.

    ceritanya seru!!! plus feel’a dapet banget. aku baca ff ini kadang senyum” sendiri tau thor heee#ga ad yg nanya.

    kalau boleh aku pingin kyungsoo am youngra aj yayaya. tapi tsrh author’a aj deh heee.# reader banyak cingcong.

    ok sekian dulu komen’a.

    Fighting buat Author.

    ‘salam kenal thor’ *cring* #ilang bareng sehun.

    • Iya gapapa kok, makasih banget udah bersedia comment 🙂
      Aduh, apakah ff ini mengandung sindrom senyum?? Kalo iya syukur deh… Senyum kan ibadah cuy.
      Kyungsoo sama Youngra ya?? Hmm… Hmm… Kayaknya mendingan sama saya aja deh. #dibakar pembaca

      Oke. FIGHTING!!

      Iya, salam kenal juga… Loh, loh… Sehun!! Sini dulu, jangan ngilang dulu! You harus nuntasin ff I dulu. Arraseo? #najong banget bahasanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s