My Life Is For You

Title : My Life is For You (It’s Okay, I am With You sequel)

Author : Krys98

Main Cast :

–          Lara Park (oc)

–          Kris Wu (exo)

Support Cast : Krystal f(x) , Donghae Super Junior , Victoria f(x) , Amber f(x)

Length : Oneshoot

Genre : Romance , Drama

Rating : PG-14

mylifeisforyou

Credit Poster : ( http://superita.wordpress.com/ ) ( thanks, bagus banget^^ )

Ini sequel dari ff author yang berjudul It’s Okay, I am with You. Happy reading~

MY LIFE IS FOR YOU

 

“Sudah mau sampai ya Kris?” seorang gadis berambut merah bertanya pada kekasihnya yang sedang mengecek koper mereka.

 

Lelaki yang dipanggil Kris tersenyum, “Sekarang kita sudah sampai di Las Vegas, ayo turun..”

 

“Cepat sekali.” si gadis berambut merah yang bernama Lara bergumam.

 

“Tentu saja cepat, kerjaanmu daritadi hanya tidur.” Kris terkekeh.

 

Lara cemberut, tapi ia tidak menyangkal. Penerbangan Los Angeles-Las Vegas memang sangat melelahkan.

 

Mereka berdua mulai menuruni tangga pesawat yang mereka tumpangi. Kris yang membawa koper mereka mengurus sebentar kedatangan mereka di ruang administrasi, sedangkan Lara duduk di ruang tunggu. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru bandara yang tampak asing di matanya.

 

Tiba-tiba ia merasakan kedua lengannya dicengkeram. Ia melihat kearah pencengkeramnya,  segerombolan orang berpakaian hitam tengah berdiri mengelilinginya. Lara membelalakkan matanya. Orang-orang itu..orang suruhan keluarganya. Tidak diragukan lagi.

 

Lara kontan berontak. Ia mengibas-ngibaskan tangannya. Tapi apa gunanya jika lawannya adalah dua orang pria yang memiliki ukuran tubuh dua kali lipat lebih besar darinya?

 

“KRIIISSSS…” Lara berteriak. Orang-orang berpakaian hitam yang mengelilinginya langsung membekap mulutnya. Mereka kemudian menyeret Lara ke arah pintu penerbanagn dengan tulisan Las Vegas-Ottawa di atasnya.

 

Di lain tempat, Kris yang mendengar namanya dipanggil langsung menolehkan kepalanya kearah Lara. Ia membelalakkan matanya begitu melihat kekasihnya sedang dikerumuni oleh orang-orang berpakaian hitam. Ia kontan langsung berlari menghampiri kekasihnya, tapi sebelum kakinya sempat melangakah, gerumbulan orang berpakaian hitam lainnya mencengkeram kuat lengannya.

 

“Lepaskan aku!” Kris memberontak.

 

“Tuan Wu, kami dikirim untuk membawa anda pulang ke Seoul.”

 

“Lepaskan aku bodoh! Aku harus menyelamatkan kekasihku.” Kris tetap memberontak.

 

Si pencengkeram menggeleng, kemudian ia membekap hidung Kris dengan sebuah saputangan hitam. Tak lama setelah itu, Kris langsung terjatuh lemas ke arah lantai bandara yang dingin.

 

****

 

Two years later at Ottawa

 

Seorang gadis berambut blonde terlihat sedang mengaduk-aduk minumannya dengan tatapan kosong. Matanya terlihat menerawang. Ia bahkan tidak sadar bahwa seorang gadis berambut pendek yang hampir menyerupai seorang laki-laki tengah melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.

 

“YA! Lara..” bentak gadis berambut pendek.

 

“Oh, Amber, ada apa?” si gadis blonde bertanya dengan tampang polos setelah berhasil kembali ke alam nyata.

 

“Ck..kau kenapa? Melamun saja kerjaannya.”

 

“Emm..tidak apa-apa. Aku hanya rindu pada Kris.”

 

Amber meringis, “Kau masih memikirkannya?”

 

“Apa maksudmu? Tentu saja masih, dua tahun kami hidup bersama, mana mungkin aku melupakannya.”

 

Amber hanya manggut-manggut. Ia memang sudah tau kisah hidup Lara sebelumnya. Mulai dari pelariannya ke Los Angeles empat tahun lalu sampai dengan perpisahannya dengan Kris dua tahun lalu di bandara Las Vegas.

 

“Hei…kau jangan terlalu larut dalam kesedihanmu seperti itu. Pikirkan saja tugas praktekmu, kudengar dari Prof. James kau akan di-partnerkan dengan Krystal.” Amber mengalihkan pembicaraan.

 

“Hh..kenapa harus dengan Krystal? Dia selalu mencari masalah denganku.” Lara menjawab dengan nada malas.

 

“Dia hanya iri padamu, kau kan bisa dibilang primadona di kampus ini. Lagipula kau satu-satunya gadis yang menarik perhatian Kai, gebetannya. Kau enjoy saja, dia sebenarnya baik hati kok.”

 

Lara hanya mengangkat bahunya acuh. Ia tengah memikirkan tugas prakteknya. Dia akan di-partnerkan dengan Krystal, gadis yang selama ini selalu mencari masalah dengannya. Kerja prakteknya kali ini adalah menjadi sekretaris pribadi seorang CEO atau co-CEO sebuah perusahaan. Lara mendengus, menjadi sekretaris menurutnya tidak jauh berbeda dengan menjadi pembantu yang selalu disuruh-suruh oleh majikannya

 

“Kau juga tau tidak kalau tempat kerja praktekmu kali ini berada di Seoul?” Amber bertanya lagi.

 

“EH??! Seoul..?”

 

****

 

Seoul, South Korea

 

Dua orang gadis cantik tampak berjalan cepat-cepat keluar bandara. Salah satunya yang berambut blonde, wajahnya ia tutupi dengan syal yang hampir menutupi seluruh wajahnya, begitu juga dengan kacamata hitam yang dikenakannya.  Wajahnya daritadi terus menunduk.

 

Berbeda dengan gadis satunya, rambut coklatnya ia kuncir, kacamata hitamnya tidak sampai menutupi seluruh wajah cantiknya. Gadis itu tampak menatap antusias ke seluruh penjuru bandara Incheon ini.

 

“Wah..sudah banyak berubah ya Seoul.” si rambut coklat berkomentar.

 

“Kau kan memang sudah lama tak kesini Krys.” gadis berambut blonde menanggapi.

 

“Benar sekali, aku rindu pada Seoul. Kau sendiri? Bukankah ini kunjungan pertamamu ya Lara?”

 

Gadis yang dipanggil Lara itu hanya bergumam.

 

“Setelah ini kita langsung ke perusahaan tempat kita kerja praktek. Koper kita nanti ada yang akan mengangkut ke apartemen kita selama di Seoul.”

 

“Jadi inikah alasannya kita disuruh naik pesawat dengan blazer formal seperti ini?”

 

“Hm..”

 

****

 

Lòng Group, Seoul

 

Lara dan Krystal tengah duduk berdampingan di sebuah ruangan ber-AC milik perusahaan tempat mereka akan magang. Lara sekarang telah melepas syal yang hampir menutupi seluruh wajahnya tadi. Sekarang ia memakai kemeja orange yang dilengkapi dengan blazer berwarna coklat muda. Rambut blondenya ia biarkan tergerai.

 

Mereka berdua mengalihkan pandangan ke arah pintu saat telinga mereka menangkap suara pintu terbuka. Dari arah pintu, masuk dua orang pemuda berjas hitam. Yang satu berambut hitam dan berwajah ramah, pemuda lainnya yang jauh lebih tinggi mempunyai rambut pirang dan berwajah dingin.

 

Lara membelalakkan matanya begitu melihat pemuda berambut pirang masuk. Kris.

Kris yang sebelumnya sudah mengetahui bahwa Lara termasuk salah satu dari dua orang mahasiswi dari Ottawa yang akan magang di perusahaan milik ayahnya hanya menahan tawa melihat ekspresi lucu Lara. Ia dan pemuda satunya kemudian duduk di hadapan kedua gadis tadi.

 

Annyeong haseyo, kalian akan menjadi sekretaris kami berdua selama kurang lebih dua bulan. Nama saya Lee Donghae, dan ini Wu Yi Fan.”

 

Annyeong haseyo, nama saya err..apakah disini saya harus menggunakan nama korea saya?” Krystal bertanya ragu.

 

“Tentu saja. Ini di korea bukan? Kenapa kalian harus memakai nama barat kalian?” Pria yang mengaku bernama Donghae menjawab dengan ramah.

 

“Emm..kalau begitu nama saya Jung Soojung. Dan ini rekan saya bernama….” Krystal menoleh ke arah Lara, ia tidak tau nama korea Lara.

 

Josonghamnida, tapi saya tidak tau nama korea saya. Seumur hidup saya, saya hanya pernah tinggal di Ottawa dan Los Angeles, jadi saya tidak mengetahui nama korea saya. Nama saya Lara Park.”

 

“Bukankah kau punya darah Korea?” tanya Donghae.

 

Ne. Tapi saya tak pernah ke korea, jadi mohon maklum.”

 

Donghae mengangkat alisnya tidak setuju. Ia sebenarnya tidak suka pada orang yang menolak perintahnya. Baru saja ia ingin menekankan kembali tentang pentingnya nama korea, pria disampingnya yang bernama Wufan menyela, “Biarkan saja hyung.”

 

Donghae menatap Wufan. Ia sebenarnya tau hubungan masa lalu adik tirinya ini dengan gadis yang bernama Lara tadi. Kris selalu curhat padanya tentang perasaan dan kerinduannya selama ini. Dongahe mendengus, “Saat kita bekerja kita harus profesional Kris-ah, tidak boleh diselingi dengan masalah pribadi.”

 

Kris terkekeh, “ Aku tau hyung.”

 

Lara yang mendengar percakapan dua pemuda dihadapannya hanya mengangkat alisnya. Ia curiga bahwa Kris adalah dalang di balik kerja prakteknya kali ini. Sedangkan Krystal hanya menatap kedua pemuda di hadapannya dengan pandangan bingung. “Josonghamnida, tapi apa maksud perkataan anda berdua tadi?”

 

Kris menoleh, “Tidak bermaksud apa-apa. Kau jadi sekretarisnya Donghae hyung, biar Lara yang bersamaku.”

 

Donghae mendelik tak setuju, “Apa? Tidak! tidak bisa! Aku yang bersama Lara, kau nanti jadi lupa bekerja jika bersama Lara.”

 

“Tidak akan hyung. Sekarang biarkan aku membawa sekretaris baruku ini ke ruanganku. Oke hyung? Sampai bertemu lagi.” Kris tersenyum polos sambil menyeret Lara ke luar ruangan.

 

Mereka berdua berjalan di sepanjang koridor yang penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Lara yang berjalan satu langkah di belakang Kris terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru koridor ini. Kelihatannya mereka sibuk sekali, batinnya saat melihat segerombolan orang tengah berlari cepat-cepat sambil membawa berkas-berkas yang entah apa isinya.

 

Lara terus memperhatikan mereka sampai ia tidak menyadari bahwa Kris telah berhenti. Kontan ia langsung meringis kesakitan begitu kepalanya dengan sukses membentur punggung tegap Kris. Kris membalikkan tubuhnya.

 

“Kalau jalan lihat-lihat Miss Park.” Kris menyeringai.

 

“Oh..ne. Josonghamnida sanjangnim.” Lara tersenyum sambil menekankan kata sajangnim.

 

Kris terkekeh geli. Kemudian ia menarik tangan Lara dan menyeretnya masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar. Di dalamnya terdapat satu set sofa dan rak buka di pojok ruangan. Meja yang berada di tengah ruangan bertuliskan “co-CEO Wu Yi Fan.”

 

Lara yang melihat tulisan itu langsung menyelutuk, “Wah..kau sudah kaya ya sekarang?”

 

“Menurutmu? Sikapmu tidak sopan sekali pada atasanmu Miss Park.”

 

Lara mendengus. Kris terkekeh geli. “Kau tidak rindu padaku babe?”

 

Lara menatap Kris sejenak. Sedetik kemudian gadis itu langsung berlari memeluk Kris, pelukannya yang tiba-tiba membuat Kris hampir terjungkal kebelakang.

 

“Kau kemana saja bodoh? Jahat sekali tidak mencariku. Aku tersiksa di Ottawa tanpamu.”

 

Kris hanya tersenyum. Ia mengelus-elus rambut blonde milik Lara. Jas hitamnya sekarang terasa basah. Lara menangis, dan itu karenanya.

 

“Bukankah kau sudah bertemu denganku sekarang?”

 

Lara tak menjawab. Ia terus menangis. Kris mengangkat tubuhnya dan mendudukkanya di sofa. Pria itu mengelus-elus rambutnya sampai Lara sudah berhenti meneteskan air matanya. Lara mengusap-usap matanya, kemudian menatap Kris penuh arti.

 

What? Kenapa menatapku seperti itu?” Kris bertanya curiga.

 

“Aku ngantuk. Tadi aku kena jet-lag, dan aku tidak sempat istirahat karena harus langsung ke kantormu.” Lara mengeluarkan puppy-eyesnya.

 

Kris mendesah pasrah, “Tidur saja disini, aku akan menemanimu sampai kau puas tidur.”

 

Lara tersenyum senang. Ia kemudian bangkit dan berbaring di sofa, kepalanya ia letakkan di paha milik kekasihnya itu. “Kris, nyanyikan aku sebuah lagu.”

 

“Apa? Aku tak bisa menyanyi.” elak Kris.

 

“Ck..sudah bernyanyi saja. Aku rindu suaramu.”

 

Kris yang awalnya ragu kemudian mulai bernyanyi. Tangannya mengelus-eles rambut Lara dengan sayang. Tak lama kemudian ia sudah mendengar dengkur halus dari kekasihnya itu. Kris tersenyum, ia mencium kening gadis itu dan berbisik, “I love you.”

 

****

 

Lara terbangun beberapa jam kemudian. Gadis itu mengucek-ucek matanya sebentar kemudian melihat berkeliling. Kamar ini…terasa asing baginya. Ia berjalan keluar dengan muka heran sampai ia menemukan Krystal sedang memakan seiris roti dengan keju di meja makan. Lara duduk dihadapannya.

 

“Bagaimana bisa aku sampai disini?”

 

Krystal mengangkat alisnya heran, “Mana kutau. Saat aku pulang kau tau-tau sudah tertidur di kamarmu.”

 

Lara menerawang. Ini pasti kerjaan si tiang listrik itu! batinnya.

 

“Ngomong-ngomong, kenapa kau belum siap-siap?” Krystal bertanya sambil membereskan piringnya.

 

“Untuk apa?”

 

“Bukankah kita ke Seoul untuk bekerja?”

 

Saat itulah Lara baru menyadari sesuatu. Krystal saat ini tengah memakai celana panjang katun dengan kemeja putih dan blazer hitam. Pakaian umum yang dipakai saat sedang bekerja. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jam dan langsung melotot begitu melihat bahwa jam telah menunjukkan pukul 07.30 A.M.

 

“KYAAAA~ Aku terlambat.” Lara kontan berlari ke arah kamar mandi setelah sebelumnya menyambar asal sebuah handuk yang tergantung di depannya. Tiga menit kemudian ia keluar dengan tubuh yang masih basah karena ia hanya mengeringkan tubuh seadanya.

 

Tepat sepuluh menit setelah itu, Lara dan Krystal tengah duduk manis di jok belakang sebuah taksi yang akan membawa mereka ke Lòng Group. Lara sekarang sudah cukup rapi. Tubuh rampingnya dibalut dress hitam setengah lutut dengan blazer merah sebagai pelengkapnya. Rambut blondenya  ia jepit kebelakang.

 

Mereka berdua langsung berjalan cepat-cepat menuju kantor atasan mereka masing-masing saat taksi sudah menurunkan mereka tepat di depan pintu masuk perusahaan.

 

“Kau tau Lara, kita terlambat.” Krystal berkata cemas setelah melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

 

“Run.”

 

Mereka berdua lari dengan kecepatan yang bisa dibilang ‘fantastis’ bagi seorang gadis muda seumuran mereka. Suara high heels yang beradu dengan lantai mendominasi koridor-koridor Lòng Group ini. Mereka berdua berpisah di persimpangan koridor dan masuk ke kantor atasan mereka masing-masing.

 

Josonghamnida sajangnim, saya telat.” Lara membungkukkan badannya setelah berhasil masuk dan melihat Kris telah duduk manis di mejanya sambil berkutat dengan kertas-kertas yang cukup banyak.

 

Kris melirik Lara sebentar kemudian berkata, “Gwenchana. Tolong buatkan aku kopi.”

 

“Ne.”

 

****

 

Lara memijit-mijit keningnya, ia pusing melihat berkas-berkas milik Kris yang harus ia periksa. Lara tak menyangka bahwa tugas seorang sekretaris bisa serumit ini. Setelah tadi mengantarkan secangkir kopi ke ruangan Kris. Ia diserahi setumpuk berkas yang harus ia periksa dan betulkan kemudian menyerahkannya untuk ditandatangani.

 

Lara menghela napas sebentar, ia kemudian mulai berkutat dengan kertas-kertas di hadapannya. Sesekali keningnya berkerut ketika membaca kalimat yang menurutnya tidak sesuai. Satu jam setelah itu, ia selesai. Lara merapikan berkas-berkas itu dan mulai membawanya ke ruangan Kris.

 

Kris tampak berkutat di depan komputernya. Ia memakai kacamata berbingkai putih. Lara tercengang. Ia baru kali ini melihat Kris memakai kacamata. Sungguh..dia tampak semakin tampan.

 

Miss Park, kenapa berdiri di depan pintu seperti itu?”

 

Ne? Oh..ini berkas-berkas yang sajangnim harus tanda tangani.” Lara menyerahkan setumpuk kertas kepada Kris. Ia kemudian mengeluarkan pulpen pink miliknya dan mengangsurkarnya ke arah Kris untuk dipakai. Kris mengangkat alisnya, “Kau menyuruhku memakai pulpen childish ini Miss Park?”

 

Josonghamnida, saya akan mengambilkan pulpen lain.” Lara sudah akan beranjak pergi tetapi atasannya itu terlebih dahulu merebut pulpen pink-nya. “Tak apa, sini biar kupakai.”

 

Lara mengangguk , ia menerima berkas-berkas yang selesai ditandatangani dan mulai beranjak pergi. Saat ia sudah sampai di depan pintu, ia mendengar Kris berkata, “Miss Park?”

 

“Ne?” Lara berbalik menghadap Kris.

 

“Malam ini bersiap-siaplah. Aku ingin mengajakmu makan malam bersama keluargaku. Jam delapan aku jemput.”

 

“Pardon?”

 

“Kau gugup ya kuajak makan malam bersama keluargaku? Hahaha.” Kris tertawa lebar melihat wajah Lara yang cukup konyol.

 

Lara mendengus. Ia tak menghiraukan tawa Kris dan berjalan ke luar ruangan setelah sebelumnya ia menutup pintu dengan ‘cukup’ keras. Kris yang melihat tingkah kekasihnya yang sedang malu-malu itu semakin mengeraskan tawanya.

 

Lara menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia heran, kenapa akhir-akhir ini Kris suka menggodanya seperti itu?

 

Ia membanting berkas-berkas milik Kris ke mejanya, tak menyadari bahwa seorang wanita paruh baya tengah memperhatikan tingkahnya. “Ehemm..”

 

Lara mendongak, “Oh, josonghamnida..”

 

Wanita itu tersenyum, “Kau sekretaris Wufan ya?”

 

“Ne.” Lara tersenyum canggung.

 

“Tugas ini pasti sangat berat sampai-sampai kau membanting berkas-berkas perusahaan seperti itu.”

 

“Oh..josonghamnida. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Lara berkata sambil membungkuk.

 

“Tak apa. Wufan memang orang yang menyebalkan. Sungguh keajaiban besar kau mau menjadi sekretarisnya mengingat Wufan adalah orang yang sangat perfeksionis. Sekarang tolong panggilkan dia, bilang kalau ibunya ingin bertemu.”

 

Lara membulatkan matanya. Jadi ini ibu Kris? Anggun sekali. Batinnya. Lara tersenyum, “Ne. Tolong tunggu sebentar, silahkan duduk dulu.”

 

Setelah mempersilahkan ibu Kris duduk. Lara langsung berjalan ke arah ruangan Kris, ia langsung masuk tanpa mengetuk. “Kris-ah, Oh My God, ada ibumu di depan, dia cantik sekali.” Lara berujar berbinar-binar.

 

Kris mengangkat alisnya, “Really?”

 

“Sure. She is an elegant woman you know.”

 

“Of course she is. Elegant like me huh?” Kris mengedip nakal.

 

“Jangan mulai membanggakan diri sendiri Kris. Sudah sana, nanti ibumu menunggu lama.” Lara mendorong Kris ke arah pintu.

 

Alright babe, kau tunggu saja disini selama aku berbicara dengan ibuku.”

 

“Got it.”

 

****

 

Lara sekarang tengah duduk disamping Kris yang sedang sibuk dengan ponselnya. Mereka berdua kini berada di salah satu restoran mewah di Seoul. Lara yang sedari tadi gugup hanya meremas-remas jarinya sendiri. Malam ini ia tampak cantik dengan balutan dress putih miliknya. Rambutnya ia jepit kebelakang.

 

Tak lama kemudian dari arah pintu muncul seorang pria paruh baya ber-jas dan seorang wanita anggun yang dikenali Lara sebagai ibu Kris. Mereka berdua tersenyum ke arahnya dan duduk.

 

“Jadi Wufan-ah, siapa gadis cantik ini?” si pria paruh baya bertanya.

 

“Ah aboji, kenalkan, ini Lara Park kekasihku.”

 

Tuan Wu yang mendengar kata kekasih dari mulut Kris langsung memasang wajah mendung. “Kekasih?”

 

Ne. Nama saya Lara Park, senang bertemu anda.” Lara memperkenalkan dirinya.

 

“Wah..bukankah ini sekretarismu ya?” kali ini ibu Kris bertanya.

 

“Ya. Dia cantik bukan?”

 

Ne. Cocok untukmu Wufan-ah.” Kris yang mendengar pujian dari ibunya langsung tersenyum lebar. Ia berpikir, ibunya berarti menerima Lara.

 

Kris sekarang menatap ayahnya. Ayahnya itu sedang mengerutkan keningnya, wajahnya masam tanda tak setuju. “Ada yang salah aboji?”

 

“Wufan, kau kuajak makan malam kali ini bukan untuk memberimu kesempatan untuk mengenalkan kekasihmu padaku. Tapi untuk menjodohkanmu dengan anak temanku. Dia mungkin sedang dalam perjalanan kemari.”

 

“APA?”

 

Tepat setelah itu terdengar suara pintu dibuka dan ditutup. Seorang gadis dengan rambut coklat panjang dan bermata besar berjalan ke arah mereka.

 

Annyeong haseyo, maaf saya terlambat.” gadis itu membungkuk.

 

“Tak apa Victoria, duduklah.”

 

Si gadis tersenyum dan duduk disamping Kris. Lara menatapnya tak percaya. Inikah maksud Kris sebenarnya? Bahwa Kris ingin mengenalkan gadis ini padanya? Tapi Lara tau, Kris bukan tipe pria seperti itu. Lagipula melihat tanggapan Kris yang cukup shock kali ini membuat Lara tau bahwa Kris memang tak tau apa-apa tentang perjodohan ini.

 

“Victoria, kenalkan, ini Wu Yi Fan, anakku.”

 

Annyeong, Wufan-ssi. Senang bekenalan denganmu.” Victoria –gadis itu- tersenyum ramah. Kris hanya terdiam, ia menggigit-gigit bibirnya sendiri.

 

“Lalu kau siapa agasshi?” kali ini Victoria bertanya pada Lara.

 

“Dia sekretaris Wufan.” Tuan Wu cepat-cepat menjawab sebelum Lara sempat mengatakan apa-apa.

 

“Sekretaris? Bukankah ini acara keluarga yang sangat pribadi ya?”

 

“Benar. Ini memang sangat pribadi, dia saja yang memaksa untuk ikut.”

 

ABOJI, apa-apaan ini?!” Kris membentak.

 

“Apa maksudmu membentakku seperti itu Wufan?” Tuan Wu mendelik ke arah Kris, ia kemudian menoleh pada Lara. “Lara-ssi, sebaiknya kau pulang, kau mengganggu acara keluarga kami.”

 

****

 

Esoknya, Lara terbangun dengan mata berkantung hitam seperti panda. Bibirnya pucat dan rambutnya awut-awutan. Krystal yang melihat itu langsung bertanya cemas, “Are you okay?”

 

Lara tersenyum lemah menandakan ia baik-baik saja. Tapi tentu saja Krystal tidak langsung percaya, penampilan gadis itu bahkan bisa dikatakan seperti orang gila.

 

“Kau mau kubuatkan surat ijin?”

 

“Jika kau tak keberatan, aku memang merasa agak tidak sehat.”

 

Gurae, aku akan membuatkanmu surat ijin. Tunggu sebentar..” Krystal sudah akan beranjak dari duduknya saat ponsel putihnya berdering. Ia mengetuk layarnya dan mulai menempelkan benda itu ke telinganya.

 

Ne sajangnim, ada apa menelepon?”

 

“…”

 

“Ne? Tapi dia sedang sakit.” Krystal melirik Lara sebentar. Lara merasakan perasaannya mulai tak enak.

 

“…”

 

“Ah ne, arraseo.” Krystal menutup teleponnya, ia menatap Lara sebentar. “Kau disuruh ke perusahaan, Wufan sajangnim harus menemui klien di suatu tempat dan kau harus menemaninya.”

 

****

 

Dan disinilah Lara berada. Ruangannya di Lòng Group, matanya sedari tadi sibuk memeriksa berkas-berkas milik Kris yang harus dibawa untuk menemui klien nanti. Sesekali Lara menarik napas panjang dan memejamkan matanya sebentar. Entah kenapa huruf dan angka-angka yang berada dalam berkas itu seakan kabur di matanya. Ia mencoba mengabaikannya, tapi lama-kelamaan huruf-huruf itu malah terlihat seperti berputar di kepalanya.

 

Lara menyerah. Ia membuka laci meja kerjanya dengan tangan gemetar dan mengeluarkan sebuah tabung kecil. Ia membuka tabung itu dan mengambil sebuah pil di dalamnya. Dengan sekali telan ia memakan pil itu dan langsung meneguk segelas air besar. Dahinya berkeringat deras.

 

“Apa yang baru saja kau minum?” tanya seseorang.

 

Lara mendongakkan kepalanya, tampak Kris sedang menatapnya curiga. “Air putih.”

 

“Bukan itu maksudku, obat apa yang barusan kau minum?”

 

“Bukan apa-apa.” Lara mengambil selembar tisu dan mengelap keningnya, ia kemudian melanjutkan, “Ada apa menemuiku?”

 

Kris menatap Lara sebentar, sedetik kemudian tangannya merebut tabung kecil yang berada di genggaman Lara. Ia membelalakkan matanya begitu membaca label tabung tersebut.

 

“Obat penenang? Kenapa kau meminum obat semacam ini?”

 

“Tidak apa-apa. Aku memang membutuhkannya.”

 

“Tapi kau bisa kecanduan.”

 

Lara menatap Kris, ia kemudian bergumam, “Aku memang sudah kecanduan.”

 

Kris kembali membelalakkan matanya. Ia membanting tabung kecil tersebut dan menginjak pil-pil yang ada di dalamnya.

 

“Apa yang kau lakukan?” Lara bertanya marah.

 

“Aku. Tidak. Mau. Kau. Kecanduan. Dengan. Pil. Brengsek. Ini.”

 

Lara mengalihkan pandangannya. Ia meneteskan air matanya. Kris tidak pernah tau bahwa karena perpisahan mereka di bandara Las Vegas dua tahun lalu-lah yang membuatnya tergantung pada obat penenang itu. Ia hampir gila waktu itu karena Kris tak ada disampingnya.

 

Kris menatap Lara setelah berhasil menghancurkan seluruh obat penenang milik gadis itu, “Pertemuan dengan klien hari ini dibatalkan. Kau boleh pulang, istirahatlah.”

 

Lara menatap Kris sebentar. Ia kemudian mulai membereskan berkas-berkas di mejanya dan merapikan mejanya yang berantakan. Setelah selesai ia mengambil tas tangannya, membungkuk sebentar ke arah Kris dan berjalan ke arah pintu.

 

Belum sempat ia membuka pintu, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya. Tuan Wu masuk. Ia melihati Lara heran. “Mau kemana kau?”

 

“Pulang.”

 

“Apa maksudmu dengan pulang?”

 

“Wufan sajangnim bilang bahwa tugas saya sudah selesai, ia mengijinkan saya pulang.”

 

Tuan Wu menatap Kris tajam. Sementara Kris mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras seperti menahan amarah.

 

“Kau belum boleh pulang Lara-ssi, aku membatalkan pertemuan klien Wufan agar ia bisa mengurusi pernikahannya yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. Kau juga harus membantunya menyiapkan segala keperluan pernikahan.”

 

DEG.. Lara merasa hatinya direnggut secara paksa setelah mendengar ucapan Tuan Wu tadi. Ia menatap Kris sendu.

 

Aboji, sudah kubilang aku bisa mengurusnya sendiri.” Kris mengatakan itu sambil menggertakkan giginya.

 

“Tidak bisa. Apa gunanya kau memiliki sekretaris kalau begitu? Sudah cepat sana ke butik, Victoria sudah menunggumu.”

 

****

 

“Menurutmu mana yang bagus Lara-ssi?”

 

Lara tersenyum getir, “Kurasa yang ini bagus.”

 

“Wah..seleramu bagus. Aku akan mencoba yang ini. Kau tunggu disini sebentar ya?”

 

Lara mengangguk kaku. Ia sekarang tengah berada di sebuah butik terkenal yang berada di kawasan Gangnam. Gara-gara perintah Tuan Wu tadi, ia terpaksa menemani Victoria untuk memilih gaun yang akan dipakainya di pesta pernikahannya dengan Kris nanti.

 

Pernikahan. Lara tersenyum getir. Ia dulu berharap bahwa ialah yang akan memakai gaun putih mengembang itu dengan Kris sebagai mempelai prianya. Tapi sepertinya keinginan itu harus ia kubur rapat-rapat.

 

Victoria keluar dari balik tirai sambil tersenyum lebar. Tubuh rampingnya terbalut gaun pendek berekor panjang. Rambut coklatnya diberi jepit bunga besar. Dia cantik sekali, setidaknya dia cocok dengan Kris. Lara membatin.

 

“Bagaimana Lara-ssi? Aku cocok tidak dengan gaun ini?” tanyanya dengan mata berbinar-binar.

 

“Anda cocok sekali. Saya yakin Wufan sajangnim nanti akan terpesona pada anda.” Lara tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya. Senyumnya kali ini berbeda, senyumnya benar-benar tulus. Sepertinya ia memang telah merelakan Kris.

 

****

 

Hari-hari selanjutnya dilewati Lara dengan berat hati. Ia setiap hari harus bangun pagi dan pulang larut malam karena tugasnya sekarang telah berubah menjadi bridesmite pernikahan. Ia harus bolak-balik mengecek apakah perlengkapan pernikahan sudah benar-benar sesuai dengan keinginan yang bersangkutan. Karena ini pula, waktunya dengan Kris juga tersita. Bahkan ia belum bicara dengan Kris sejak kejadian obat penenang itu. Padahal ini sudah lewat dua minggu. Dan itu artinya Kris besok menikah.

 

Lara berbaring di kasurnya. Ia menerawang langit-langit kamarnya. Haruskah ia datang besok?. Mengingat fakta bahwa ia adalah sekretaris pribadi Kris tentu saja ia harus datang. Tapi ia tak yakin, apakah nanti ia sanggup melihat Kris mengucapkan janji sehidup semati dengan gadis lain?

 

Lara mengacak-acak rambutnya. Ia frustasi. Berkali-kali ia mencoba menenagkan dirinya tapi selalu gagal.

 

TOKK..TOKK

 

Lara menoleh ke arah pintu kamarnya. Ada apa Krystal mengetuk malam-malam begini?

Lara berjalan ke arah pintu dengan langkah gontai. Ia melihat Krystal tengah menatapnya gelisah.

 

“Ada apa?”

 

Krystal menggigiti bibirnya, “Err..bisakah kau membelikanku pembalut? Punyaku habis.”

 

Lara terperangah, “Kau menyuruhku membeli apa?”

 

“Pembalut. Ayolah..aku sangat butuh sekarang. Atau kau punya? Sini aku minta satu.”

 

Lara menggeleng. Ia mengambil dompet dan jaketnya. “Aku tak punya, kau tunggu saja disini, aku akan membelinya di supermarket depan.”

 

Krystal mengangguk, “Eh, beli juga beberapa bahan makanan. Persediaan di kulkas hampir habis.”

 

****

 

Lara membawa troli belanjaannya ke arah kasir. Ia membiarkan seorang gadis dengan name tag bertuliskan “Yoon Jihyun” menghitung total belanjaannya.

 

Agasshi, semuanya 24.000 won.” Si penjaga kasir berkata ramah.

 

“Oh..ne. Tunggu sebentar.” Lara membuka dompetnya, tapi gerakannya terhenti begitu melihat sebuah tangan menyerahkan beberapa lembar uang ke arah kasir.

 

“Aku membayar belanjaan milik nona ini.” terdengar suara berat disampingnya.

 

“Kris?”

 

Kris tersenyum. Ia kemudian mengambil kantung belanjaan milik Lara dan menggandeng gadis itu keluar supermarket.

 

Mereka berdua berjalan dalam keheningan. Lara melihat tangan kanannya yang digenggam dengan erat oleh Kris. Kenapa rasanya de javu sekali?

 

“Aku akan mengganti uangmu tadi.” Lara memecah keheningan.

 

Kris tersenyum ke arahnya, “Tak usah diganti. Tadi aku hanya menepati janjiku padamu.”

 

“Kau masih mengingatnya?”

 

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku melupakan itu?”

 

-flashback-

 

 

I am sorry. Seharusnya aku tidak membiarkanmu membayar belanjaan kita tadi.”

 

It’s okay babe. Aku senang bisa ikut membantumu, rasanya aku bukan jadi bebanmu saja.” jawab Lara sambil tersenyum.

 

“Jika aku sudah kaya nanti. Aku tidak akan membiarkanmu membayar belanjaan kita seperti tadi, I promise.”

 

-flashback end-

 

“Lara, menurutmu apa kita harus kabur lagi seperti empat tahun lalu?” Kris bertanya sambil menatap Lara dalam.

 

“Tidak. Menikahlah dengannya, aku memang masih mencintaimu. Tapi sekarang aku sudah merelakanmu dengannya.”

 

****

 

Kris menatap sekeliling ruangan putih ini dengan gelisah. Ia sekarang sudah memakai sebuah tuxedo putih bersih. Bibirnya ia gigiti sedari tadi. Ia gelisah. Bagaimana ia tidak gelisah jika ia akan menikah dengan seorang gadis yang tidak dicintainya?

 

Sedangkan Lara di lain tempat juga sedang gelisah. Ia berkali-kali mencoba menghubungi sebuah nomor. Tapi jawaban suara operator wanita di ujung sana membuatnya melenguh kesal. Victoria menghilang. Lara tadi menemaninya ke kamar mandi karena gadis itu bilang bahwa ia ingin buang air kecil. Setelah lama menungguinya, Lara memutuskan untuk mengeceknya masuk. Tapi apa yang didapatnya? Victoria menghilang.

 

Lara menggigiti bibirnya gelisah. Victoria tadi sudah mengenakan gaun pengantinnya. Tentu mencolok jika gadis itu kini tengah kabur mengingat mewahnya gaun pengantin milik gadis itu. Terdengar suara bantingan pintu, tampak Tuan dan Nyonya Wu masuk dengan tergesa-gesa.

 

“Victoria membatalkan pernikahan. Ia mengirimi kami pesan ini.” Tuan Wu memberitau Lara sambil menyerahkan ponselnya.

 

Tuan Wu, maaf aku tidak bisa menikah dengan putramu. Aku masih mencintai Nickhun, kekasihku. Mohon anda maklum. Aku membatalkan pernikahan ini. Maafkan aku sekali lagi. Tapi jika anda ingin tetap menyelenggarakan pesta pernikahan. Kurasa Lara-ssi cocok menjadi pengantin wanitnya. Tampaknya Wufan begitu mencintainya. –Victoria Song-

 

Lara menganga tak percaya. Bagaimana mungkin Victoria berani melakukan hal nekat macam ini?

 

“Jadi bagaimana Lara-ssi?” terdengar Nyonya Wu bertanya.

 

“Eh, apanya yang bagaimana?”

 

“Kau mau tidak menikah dengan Wufan? Maaf atas perkataanku tempo hari, aku menyesal.” Kali ini Tuan Wu bertanya.

 

“Eh..aku..”

 

****

 

Kris merasakan tubuhnya menegang begitu mendengar dentingan piano yang terdengar seperti lagu kematian baginya. Ia lebih memilih menatap pendetanya daripada harus berbalik untuk menatap si pengantin wanita. Tangannya mengepal kuat. Ia langsung mendongak ketika mendengar si pendeta berdehem dan menyuruhnya untuk berbalik. Dengan berat hati Kris berbalik. Saat itulah matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya berdesir seketika.

 

Lara berdiri disana. Dengan gaun panjang hingga menyentuh lantai. Rambut blondenya digelung dan diberi mahkota kecil diatasnya. Belum lagi tangannya yang dibungkus sarung tangan tengah memegang sebuket bunga mawar merah yang kontras dengan warna gaunnya. Ia tampak menawan dengan semua itu.

 

Tanpa disadarinya, Kris mengembangkan senyum lebarnya. Ia mengulurkan tangannya untuk menerima uluran tangan milik gadis itu. Senyum Kris bertambah lebar begitu mendengar si pendeta berkata bahwa Lara sekarang telah resmi menjadi miliknya. Saat itu Kris merasa bahwa dunia sedang berpihak padanya.

 

In other side

 

“Lihatlah, mereka begitu bahagia, kenapa dulu kau tega memisahkan mereka?” Nyonya Wu berkata pada Tuan Wu.

 

“Ya. Aku menyesal. Untung sekarang belum terlambat. Kau tau yeobo? Ternyata Lara Park itu anak dari seorang konglomerat di Ottawa.”

 

“Benarkah? Sudah kuduga anak itu memiliki sesuatu yang tersembunyi di balik wajah cantiknya.” Ujar Nyonya Wu sambil menatap ke arah sepasang pengantin yang tengah melambai ke arahnya dengan senyum lebar di wajah mereka.

 

END

 

Wah..wah..tepuk tangan #prokprok

Ini ff terpanjang yang pernah author buat. Gimana menurut kalian? FF ini sequel dari ff author yang berjudul It’s Okay, I am With You.

 

Bagus nggak? Suka nggak? Yah..moga2 kalian suka. Author buatnya dengan sepenuh hati soalnya xD

Oh..iya, swait milik author belum dilanjutin. Masih males, hehehe #plaak #ditabok

Oke dehh..cukup cuap-cuapnya, jangan lupa tinggalkan kesan dan pesan kalian di kotak komentar, okey 😉 ?

 

 

 

21 pemikiran pada “My Life Is For You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s