Cupcake Date

Author             : happyeol

Title                 : Cupcake Date

Main Cast        : Xi Luhan (EXO M), Chan Aerin (OC)

Genre              : Romance

Length             : Oneshot

Note                :  ~ …anyeong…~

Kali ini saya kembali dengan FF oneshot dengan main cast Luhan, FF ini spesial untuk ultah Luhan 20 April :’)…

Sebelumnya saya mau bilang “jeongmal gamsahamnida” dan “mianhe” untuk FF Beautiful kidnapping , makasih untuk readers yang sudah mau baca+comment dan maaf bagi yang request sequel.. karena FF itu ditakdirkan(?)  menjadi ficlet. Jintjaa mianhe .. Y_Y

Well, FF kali ini lebih panjang dari sebelumnya, please enjoy the mayo *nyanyi ala Luhan #plak abaikan

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~OOOooooooooooooOOO~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku memasuki  Brownie Cafe , tempatku bekerja part time setiap sore. Hari ini cafe cukup ramai, terlihat  beberapa maid cafe yang tak lain adalah teman-temanku mondar mandir mengantar pesanan. Ah, ya tentu saja ramai, hari ini adalah week-end. Baiklah, sepertinya hari ini aku akan lebih lama pulang.

“ anyeong, cafe ramai lagi, ayo cepat ganti baju, ada banyak orderan latte “ kata Vina saat aku memasuki dapur tempat aku bekerja, aku tersenyum sekilas lalu pergi mengganti bajuku dengan seragam maid Brownie Cafe.

Aku mulai menyiapkan gelas dan beberapa cup untuk memenuhi  sejumlah list orderan yang tercantum di rak pantry tempat aku meracik latte.cupcake edit Aku bekerja di bagian minuman di cafe ini, khususnya latte, entah karena aku begitu menggemari kopi dan latte atau apa, yang pasti aku tidak pernah bosan melakukan pekerjaan ini, padahal orang yang bekerja dibagian ini beberapa bulan kemudian kebanyakan memilih beralih ke bagian baker atau maid yang mengantar pesanan. Selang beberapa  menit setelah meracik latte dan menatanya, aku pun berjalan mengantarkannya ke bagian pelayan, dan sepertinya ada yang aneh disini. Ketika aku meletakkan nampan yang berisi latte buatanku tidak ada satupun yang mengambil dan segera mengantarkan ke pelanggan, kemana mereka? Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru cafe dan berhenti pada suatu titik di meja pojok yang berada di samping jendela. Ada apa disana? Mengapa semua pelayan mengerubungi meja itu? dan astagaa apa yang mereka lakukan? Cekikikan dan berebutan meminta tanda tangan dan foto pada pria dengan tuxedo hitam yang duduk sendirian di meja itu. Dia tersenyum ramah dan melayani permintaan teman-temanku, apa dia artis? Mengapa aku bisa tidak tahu? Ah sudahlah, yang penting sekarang aku harus memberi tahu mereka untuk kembali bekerja.

“ aerin, sedang apa kau disitu?” ujar Vina dari dalam dapur, sepertinya dia bingung melihatku yang berdiri diam sambil memerhatikan meja diseberang sana.

“ Vina, coba kau lihat. Dia siapa? Dan kenapa mereka tidak mengantar order pelanggan lain? Kau mau manajer memotong gaji kita semua karena mereka?” aku menggerutu sambil menunjuk meja yang masih ramai itu. Malah sekarang  meja itu tambah ramai, karena beberapa pelanggan cafe juga ikut mengerubungi meja itu.

“ ya ampuun,, itu kan Luhan! Omonaa~ akhirnya dia kembali lagi dari Paris. Waaa.”  Dan sekarang Vina yang tertular seperti mereka, dia malah mengambil buku sakunya dan pulpen lalu pergi ke meja itu. Aku benar-benar frustasi melihat mereka. Bisa-bisanya mereka jadi gila karena pria itu disaat cafe sedang ramai begini. Ckckck. Terpaksa hari ini aku merangkap jadi pelayan sekaligus. Aku mulai berjalan mengitari beberapa meja yang memesan latte kemudian meletakkan pesanan mereka.

Beberapa menit kemudian aku melihat kegiatan jumpa fans dadakan di meja itu berakhir, pria itu masih tetap duduk disitu dengan tenang sambil memainkan Ipad nya, sementara itu di seberang meja dan dari arah pantry aku mendengar sorakan ‘fans’nya yang tetap memerhatikan mejanya dari jauh. Ya ampun , sebenarnya dia siapa ? kenapa semua orang seperti terobsesi dengannya? Aku menggeleng sekilas melihat mereka lalu kembali ke dapur. Aku memutuskan mencuci gelas dan cup yang mulai menumpuk.

“ hei, Aerin, lihaat.. aku dapat tanda tangan luhan. Ya ampun dia cute sekaliii !” ujar Vina tiba-tiba ketika dia kembali ke dapur , aku mendengus pelan.

“kalian kenapa sih ? sepertinya terobsesi pada orang itu? Memangnya dia siapa? “ tanyaku yang tetap fokus membilas cup yang menumpuk.

“ aigooo.. kau  benar-benar tidak tahu dia siapa aerin-ah? Aiishh dasar kuper kau, siapa suruh kau di dapur terus. Sekali –sekali  kau jadi maid yang mengantar pesanan, biar kau update sedikit. “ kata Vina sambil merapikan cup yang sudah selesai aku bilas.

“ hmm, entahlah, aku tidak tertarik untuk bekerja selain membuat latte.” Ujarku cuek sambil mengedikkan bahu.

“aiish kau ini, dengar ya Aerin, dia itu anak direktur perusahaan game terbesar ketiga di Korea, dan dia belajar di Paris beberapa tahun lalu dan sepertinya sekarang studinya sudah selesai, dia cukup terkenal karena dia pernah jadi model dan bintang iklan di beberapa brand terkenal. Dan secara tidak terduga dia datang ke cafe ini hanya untuk memesan cupcake. Ckckck aku tak habis pikir, apa cafe ini begitu terkenal sampai dia sudi mampir kesini “  Vina mengakhiri penjelasannya dengan menggeleng-gelengkan  kepalanya dengan antusias .

“ooo,,, “ aku bereaksi seadanya.

“ ya, Aerin-ah, sebenarnya tipe pria seperti apa yang bisa membuat kau jatuh hati? Mengapa aku merasa kau belum pernah punya pacar ya?” tanya Vina sanbil berkacak pinggang. Sepertinya dia gusar karena aku terlihat tidak begitu berminat pada ceritanya.

“hmm, seperti apa yaa? Entahlah. Haha aku memang belum berminat untuk itu.” Aku menoleh sekilas kearahnya dan dia hanya mendengus lalu kembali pada pekerjaannya.

Aku berpikir sejenak. Pacar?? Ah entahlah.

~~oOo~~

Udara malam Seoul yang dingin menerpaku begitu keluar cafe.  Aku merapatkan coat cokelatku sambil berjalan ke arah halte bus. Tapi sepertinya  sudah tidak ada bus lagi yang akan berhenti di halte ini mengingat sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Aku memutuskan mencari taksi saja di perempatan jalan seberang. Aku mempercepat langkahku mengingat malam semakin larut, jujur saja aku paling tidak suka pulang di atas jam sembilan malam.

Aku terus berjalan sampai tiba di seberang jalan aku melihat ada taksi yang melintas, aku memberi kode untuk berhenti pada taksi itu, dan taksi itu pun berhenti diseberang jalan. Dan Itu berarti aku harus menyeberang. Baiklah, satu hal lagi, aku sangat payah dalam hal seberang menyeberang dan kejadian seperti ini adalah hal yang paling aku hindari. Biasanya ada Vina atau Nami yang pulang bersamaku, jadi tentu saja mereka  yang membantuku dalam  urusan menyeberang. Tapi sekarang aku harus minta bantuan siapa? Vina dan Nami sudah pulang duluan setengahnjam yang lalu.  ah yang benar saja, aku bukan nenek-nenek renta atau tunanetra yang perlu dituntun untuk menyeberang, hanya saja aku benar-benar takut menyeberang. Sekali lagi, aku takut, dan itu yang membuatku sampai sekarang tidak bisa menyeberang sendiri.

Aku mendengus frustasi, jam menunjukkan pukul sebelas tepat,  oh kumohon siapa saja tolong aku. Aku benar-benar ingin pulang. Aku nyaris berbalik ketika sosok pria dengan stelan jas itu menghampiriku lalu memegang lenganku dan menuntunku menyeberang jalan. Aku terperangah, tidak menyangka.

“ ah, maaf, merepotkan, terima kasih” ucapku ketika sudah sampai disebrang jalan. Aku membungkuk lalu ketika aku menatap pada orang yang menolongku itu, aku mengenyitkan dahi karena terkejut orang ini kan..,

“ah, gwaenchana? Sepertinya kau ingin naik taksi ini ya?” tanyanya sambil tersenyum ramah lalu menunjuk taksi disampingku.

“ne, aku ingin naik taksi ini, oiya apa kau orang yang tadi sore ke cafe- ?” aku menunjuk Brownie cafe yang berada di seberang jalan sana.

“ kau tadi ada disana juga?, aku Luhan, Xi Luhan, dan kau?” dia mengulurkan tangannya.

“ aku Aerin, Chan Aerin. Aku  bekerja  part time disitu.”  Aku menyambut uluran tangannya dan menjabatnya sekilas.

“oh, baiklah, Aerin begini, aku ingin kembali ke flatku tapi, tadi mobilku mogok dan sekarang sedang berada di tempat reparasi, karena itu aku memutuskan menunggu di Cafe itu sampai perbaikannya selesai, tapi sampai sekarang mobil itu belum bisa digunakan. Jadi, aku harap kau mau membantuku dengan mengizinkan aku naik taksi ini juga untuk kembali ke flatku, karena dari tadi taksi yang melintas dijalan ini sedikit sekali juga rata- rata penuh  dan aku baru menemukan satu ini.” Ujarnya lalu menoleh ke taksi itu ketika mengakhiri penjelasannya.

“oo, gurae, baiklah. “ aku tersenyum sekilas menimpali permintaannya.  Tidak apalah, mengingat tadi dia sudah membantuku menyeberang jalan.

“ oh, baiklah terima kasih.” Ujarnya, lalu kami pun menaiki taksi itu dan memberi tahu alamat flat kami masing-masing.

Di dalam taksi kami hanya diam. Aku tidak pernah menaiki taksi bersama orang asing, apalagi pada  waktu seperti ini, sepertinya flatku masih jauh, dan aku mulai mengantuk.

“ Aerin-ssi,  kau kerja di cafe itu berapa lama?” tanya Luhan memecah keheningan membuat aku membuka kembali mataku yang lima menit sudah kupejamkan.

“umm sekitar satu tahun lebih.” Jawabku.

“oo, sewaktu aku SMA dulu aku sering sekali ke Cafe itu, aku suka brownies dan cupcakenya, benar-benar enak.” Katanya sambil tersenyum riang, ah orang ini terlihat sangat ramah, pantas saja penggemarnya banyak.

“ oo, iya baker brownies dan cupcakenya adalah chef Louiss dari Italia, aku pernah bertemu beberapa kali dan diajarkan beberapa resep. Dia sangat berbakat.  Dan aku setuju denganmu, Brownies dan cupcakenya memang sangat enak.” Ujarku lalu tersenyum sekilas, orang ini cepat sekali mengubah suasana menjadi hangat seperti ini, apa dia selalu begini?

“ ne, benar-benar enak. kau tahu, aku juga suka green tea dan mint latte di cafe itu.” Ujarnya riang, aku terkejut beberapa saat, aigoo nyaris saja aku jingkrak-jingkrak mendengar pujiannya tadi, tapi untunglah aku masih bisa mengendalikan diri. ternyata mendengar pujian dari konsumen langsung menyenangkan. Aku tersenyum simpul.

Sepertinya aku sudah sampai, taksi itu berhenti di depan flatku.

“aku turun dulu, terima kasih untuk tadi, anyeong.” Aku tersenyum sambil membenahi tasku.

“baiklah, terima kasih juga. Selamat malam.” Ujarnya sambil tersenyum lalu melambaikan tangannya dari dalam taksi aku mengangguk dan balas melambaikan tangan.Sepertinya hari ini banyak kejadian tidak yang terduga.

~~oOo~~

Aku tidak tahu sebenarnya hari ini aku kenapa tapi sepertinya hari ini aku cukup sial, aku salah menaiki bus dan sekarang aku sepertinya terlambat setengah jam ke Brownie Cafe. Untunglah supirnya masih berbaik hati menurunkan aku di seberang jalan Cafe, busnya tentu saja tidak berhenti di halte sekitar situ karena memang bukan tujuannya.

Aku menghela nafas, sepertinya aku harus menyeberang lagi kali ini. Jalan sore ini ramai sekali, mobil , bus, truk dikemudikan dengan kecepatan yang membuatku semakin takut menyeberang. Baiklah, ini sudah lima belas menit berlalu dan aku masih terjebak di seberang jalan dengan kepayahanku menyeberang jalan. Kurasa orang-orang mulai memandangiku sekarang karena dari tadi aku hanya berdiri di pinggir jalan dan mondar-mandir tidak jelas, apa ini terlihat menyedihkan? Aku masih berdiri di pinggir jalan berusaha menantikan saat yang tepat untuk melintas dan tidak ada satu mobilpun yang akan menabrakku, tapi sepertinya masih belum berhasil. Aku mendengus frustasi.

“ aerin, kau benar-benar payah.. aiissh” aku merutuki diiriku sendiri. Tiba-tiba seseorang menghampiriku lalu memegang lenganku dan seperti kejadian malam kemarin dia menuntunku menyeberang jalan, jangan-jangan dia-

“Luhan-ssi?” aku menoleh padanya dengan wajah terkejut bercampur malu, kenapa aku selalu dalam keadaan seperti ini ketika bertemu dengannya.

“ kau benar-benar tidak bisa menyeberang ya? sudah berapa lama kau mencoba menyeberang tadi?” dia terkekeh pelan  lalu menatapku, aku tergagap, sepertinya sudah tiga orang yang tahu aku tidak bisa menyeberang.

“ ituu, aku tadi- “ aku kehilangan kata-kata untuk melakukan pembelaan, ya ampun memalukan sekali.

“ hehe, gwaenchana, nanti kalau kau terjebak di seberang jalan seperti tadi kau boleh menelponku.” Ujarnya sambil tersenyum.

“huh? A-aniyeo Luhan-ssi, aku sebenarnya bisa, tapi, tapi yah begitulah-“ aku tidak meneruskan penjelasanku, karena sepertinya aku akan terlihat semakin payah. Aiiissh hari ini aku benar-benar sial. Luhan tersenyum lagi, ya ampun apa dia tahu sekarang orang-orang di Cafe sedang melihat ke arah kami? Aku mulai gusar, aku benci menjadi sorotan.

“ kau ini, lucu sekali, pokoknya kau boleh menghubungiku kalau sedang kebingungan ingin menyeberang, tapi nanti aku minta bayaran dengan cupcake gratis dari cafe itu, bolehkan?” ujarnya sambil  menoleh ke Brownie Cafe,

“ wah kalau urusan cupcake itu lain lagi Luhan-ssi, kau tetap harus membayarnya tapi nanti akan aku usahakan untuk di diskon. “ aku menjawab permintaannya dengan serius, dia tertawa renyah.

“ haha aku hanya bercanda Aerin,,tentu saja aku tidak boleh makan cupcake gratis di Cafe itu hanya karena membantumu menyeberang jalan, tapi kalau cupcake buatanmu boleh kan kalau gratis?” tanyanya.

“huh? Cupcake buatanku? Tapi, aku-“ penjelasanku terpotong karena kami sudah masuk pintu Cafe dan semua orang menatap ke arah kami, Vina tiba-tiba datang dan menghampiri kami.

“ Luhan-ssi? Aerin? Kalian saling kenal?” tanya Vina sambil mengernyitkan dahi.

“ ah, itu-“ aku baru akan menjelaskan tapi Luhan kemudian berujar,

“ ne, kami saling kenal, dia maid di Cafe ini juga kan?” tanya Luhan dengan antusias, Vina mengangguk lalu mempersilahkan Luhan duduk di meja favoritnya, aku berjalan menuju dapur.

“ ya, Aerin kau ternyata mengenalnya? Sejak kapan? Sepertinya dia tertarik padamu, tadi dia sempat menanyakan nomor ponselmu” Vina memberondongku dengan pertanyaannya ketika kembali ke dapur,tunggu dulu , apa yang terakhir dia bilang tadi?

“nomor ponselku? Untuk apa? Aku mengenalnya kemarin malam, dia membantuku menyeberang jalan.” Ujarku sambil menundukkan kepala, astaga bukankah itu konyol sekali, aku mengenalnya gara-gara dia menolongku menyeberang.

“omoo, jadi karena itu? Berarti dia sudah tahu kau penyeberang yang payah? “ tanya Vina terkejut. Aku memukul pelan lengannya.

“aaishh, ne, ne dia sudah tahu aku tidak bisa menyeberang.” Jawabku sambil menghela napas.

“ aigooo , kau ini, tapi sepertinya dia tertarik padamu Aerin-ah, aku tidak tahu kenapa tadi sehabis memesan dia menanyakan itu. Wah sepertinya sebentar lagi akan ada pasangan baru di Cafe ini.” Ujar Vina yangmengundang tatapan ingin tahu seisi dapur. Aku mendelik padanya,

“ya Vina, kau bicara apa, awas saja kalau beredar gosip yang aneh-aneh tentangku.” Kataku sambil memakai Apron. Dia tertawa pelan.

“hehehe, oiyaa tadi dia memesan greeen tea latte, sekalian kau antar yaa” setelah mengatakan itu Vina mengedipkan mata padaku,

“ya ! apa-apan kau, aiih.” Vina hanya cengengesan kemudian berlalu.  Aku kembali mengatur cup dan membuat latte pesanan Luhan.

Beberapa saat kemudian latte pesanannya sudah selesai, tapi sepertinya kejadian kemarin sore terulang lagi, mereka tidak ada dan malah mengerubungi meja Luhan, aiish, apa Cafe akan selalu ribut seperti ini kalau dia ada? Aku mendecak kesal. Awas saja kalau sampai manajer  tahu dia pasti akan memotong gaji kami karena menelantarkan pelanggan lain. Oh, ngomong-ngomong ini kan latte pesanan Luhan, bagaimana aku mengantar ini? Disana sesak sekali, mereka sibuk memberi kado dan surat untuknya, apa hari ini dia ulang tahun? Aku memutuskan untuk menunggu beberapa saat sampai acara jumpa fans itu selesai kemudian baru mengantarkan pesanan Luhan.

“permisi , Luhan-ssi ini latte pesananmu” kataku sambil meletakkan Latte di mejanya yang sudah berisi tumpukkan kado dan surat warna warni, astagaa orang ini,  apa dia begitu terkenal?

“oh, gomawo Aerin, “ katanya lalu tersenyum kearahku.

“apa kau tahu hari ini aku berulang tahun?” tanya Luhan sambil memperhatikanku menata Latte diatas mejanya yang sudah berjejalan dengan kado-kado. Tentu saja aku tahu, ini buktinya, mejanya penuh sesak seperti ini karena hadiah fansnya.

“ne, tentu saja Luhan-ssi bagaimana aku tidak tahu kalau mejamu sudah penuh kado seperti ini.” Jawabku lalu menoleh ke arahnya.

“kalau begitu, mana hadiah buatku?” katanya lalu menatapku, aku terhenyak beberapa detik berusaha mencerna permintaannya, hadiah? Apa aku harus memberinya hadiah? Ah tentu saja, dia sudah dua kali membantuku menyeberang.

“baiklah, kalau kau mau hadiah dariku, kau bisa menunggu beberapa saat. aku akan membuatnya” ujarku lalu tersenyum sekilas.

“ooh, baiklah, aku tunggu.” Katanya lalu menyeruput latte.

Aku nyaris membalikkan badan bermaksud kembali ke dapur, tapi  dia memanggilku lagi.

“ Aerin,.”

“ ne?” aku menoleh ke arahnya lagi.

“Latte buatanmu enak.” Ujarnya sambil tersenyum mengangkat cup latte. Entah mengapa aku merasa  senyum itu berbeda dari sebelumnya, Ya Tuhan sebenarnya apa yang sedang aku pirkan.

 “ah, ne. Gamsahamnida” aku membungkuk dan tersenyum sekilas lalu secepatnya  kembali berjalan ke dapur agar dia tidak melihat wajahku yang mulai merah sekarang.

~~oOo~~

Aku memutuskan membuat cupcake sebagai hadiah untuk Luhan, aku tidak sempat memikirkan hadiah unik lain karena sepertinya semua sudah diberikan penggemarnya. Aku mulai mempersiapkan bahan dan alat untuk membuat cupcake, kemarin dulu aku sempat bereksperimen membuat cupcake jadi tentu bahan-bahannya masih ada sehingga aku tidak perlu mengganggu bagian cake diseberang sana yang sedang sibuk membuat adonan dan menghias cake.

“ waah, sedang apa kau Aerin? Membuat kue spesial untuk tuan muda itu?” Vina kembali meledekku, aku hanya mengangguk sekilas dan tetap fokus pada adonan yang sedang aku aduk, terus terang saja aku khawatir cupcake ini nanti malpraktek >,<

“aigoo lihat, kau seperti sedang menakar dosis buat pasien sekarat. Haha” vina masih terus mengoceh melihatku, dan aku memberinya tatapan kesal.

“ ya do jintjaa ,, aku sedang berkonsentrasi membuat ini, kau tau dia sudah dua kali menolongku, kemana kalian sewaktu aku terjepit tidak bisa menyeberang tadi??” aku menghentikan sejenak kegiatanku lalu menoleh ke arah Vina yang sedang mencuci gelas.

“ aish, sudah saatnya kau dilepas dijalanan sendirian Aerin, mau sampai kapan kau tidak bisa menyeberang  begini hah? Lagi pula sepertinya posisiku dan Nami sudah tidak terlalu dibutuhkan, mengingat sekarang kau memiliki pangeran penolong yang tampan rupawan itu.” Vina menatapku dengan tatapan meledek, aku hanya mendelik lalu meneruskan kegiatanku.

“ kau harus mentraktirku kalau dia nanti mengajakmu kencan. Okee?” vina bertanya padaku sambil menaikkan alisnya.

“ya, kenapa kau berpikiran begitu? Aku bukan tipenya, apalagi dia bahkan sudah tahu aku tidak bisa menyeberang. “ aku menghela nafas pelan. Tentu saja itu termasuk nilai minusku, tapi mau bagaimana lagi, aku memang mengakui kelemahanku kalau sudah berurusan dengan yang namanya menyeberang jalan.

“kau tidak bisa menebak isi kepala pria Aerin-ah, mungkin saja itu malah menjadi daya tarikmu, daya tarik yang aneh. Ahaha” Vina menertawai perkataannya tadi sambil memberi tanda damai padaku yang sedang memberi death glare ke arahnya.

Beberapa menit kemudian, cupcake itu selesai, aku memberi hiasan di atasnya lalu mengemasnya pada kotak kecil.  Ku harap dia suka, semoga. Aku berjalan meunju mejanya, dia masih disana, dia sedang membaca surat-surat penggemarnya sambil tersenyum sesekali menggelengkan kepalanya seperti tak menyangka penggemarnya akan seperti itu.

“ Luhan-ssi? Ini hadiahnya, kuharap kau suka. Maaf aku hanya bisa memberikan ini sebagai hadiah.” Ujarku lalu meletakkan kotak cupcake itu di  mejanya.

“oh, sudah selesai rupanya, Aniyeo, aku suka kok, selama kau  tulus membuatnya. Gomawo Aerin.”  Ujar Luhan lalu mengambil kotak itu sambil tersenyum, lagi-lagi senyum itu, apa dia tahu seberapa besar efek senyumnya itu pada kemampuanku bernapas? Baru kali ini aku melihat jenis senyum yang mampu membuat jantungku berpacu.

“aku akan mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih.” Dia berkata lagi.

“ah, tidak perlu seperti itu, aku benar-benar memberikannya sebagai hadiah,  tidak perlu membalasnya.” Aku tersenyum sungkan.

“ anieyo, pokoknya aku akan tetap mentraktirmu.” Katanya lalu melirik jam tangannya kemudian berkata lagi

“ Baiklah, sepertinya aku harus pergi, masih ada beberapa agenda di kantor yang harus aku lakukan. Sekali lagi terima kasih untuk kadonya.” Ujarnya lalu membereskan kado-kadonya kemudian menentengnya, sekarang  dia kelihatan seperti habis memborong belanjaan di toko.

“oh, ne, chonma, maaf sudah menyita waktu bekerjamu di kantor Luhan-ssi.” Kataku.

“it’s okay, na kalkke.” Katanya sambil tersenyum (lagi) lalu berjalan keluar cafe. Aku memperhatikan sosoknya yang mulai menjauh dan hilang dibalik mobil hitamnya. Orang itu kenapa suka sekali tersenyum seperti itu? Dan aku tersenyum tanpa alasan begitu dia benar-benar menghilang dari pandanganku.

~~oOo~~

Malam ini aku berhasil sampai di flat tepat jam delapan,sehabis mandi dan memakai piyama kesayanganku , aku menyalakan TV dan duduk disofa melepas penat setelah seharian bekerja. Beberapa saat kemudian ponselku berdering. Dari nomor asing. Aku menjawab telepon itu dengan ragu-ragu.

“ yeoboseyo? Aerin? ..” sapa seseorang di seberang telepon sana.

“ ah, ne, yeoboseyo, Luhan-ssi? “ jawabku sambil melebarkan mata, tidak menyangka dia akan menghubungiku.

“ bisakah kau tidak memanggilku dengan Luhan-ssi, aku merasa sangat tua dengan panggilan itu.” Aku mendengar dia tertawa sekilas.

“oh, baiklah, Luhan, .”

“kau sudah sampai di flat? Apa tadi kau menyeberang sendiri?” dia terkekeh pelan,

“ ne, aku menyeberang sendiri, tapi dibantu Vina dan Nami.” Ujarku dengan nada sedikit ketus. Dia bisa menjadikan ini sebagai bahan ejekan yang ampuh, ckckck

“hahaha , kalau kau ingin menyeberang lagi, kau benar-benar harus menelponku.” Ujarnya.

“ waeyo? Kau orang yang sibuk Luhan, mana bisa aku tiba-tiba menelponmu hanya untuk menolongku menyeberang, aku akan berlatih sendiri nanti.” Kataku.

“ tapi aku ingin menjadi orang yang menuntunmu ketika menyeberang, kau tahu, entah mengapa aku merasa kehadiranku menjadi lebih berarti ketika aku berhasil menuntunmu menyeberang.” Perkataannya sukses membuat wajahku seperti udang rebus.

“ aku sudah memakan cupcake mu.” Katanya  lagi.

“otte? “ tanyaku hati-hati.

“  mashitda, itu cupcake spesial yang pernah kumakan selama aku berulang tahun, karena orang yang memghadiahkannya adalah pembuatnya langsung.” Jawabnya, yang aku yakin sekarang dia sedang tersenyum dan itu mampu membuatku menahan napas beberapa saat.

“ aerin, besok kau libur kerja kan? “ tanyanya lagi.

“ne.” Jawabku singkat.

“aku berniat mentraktirmu besok, kita akan pergi ke amusement park. Mencoba roller coaster, bianglala dan membeli permen kapas dan es krim. Apa kau menyukainya?” tanya Luhan lagi.

“wah, sepertinya menyenangkan, tapi apa kau tidak sibuk?” aku balik bertanya.

“ aniyeo, aku besok libur kerja juga, jadi, Kau mau kan? Besok aku jemput jam sembilan.”

“ ah, ne, baiklah.” Ujarku sambil tersenyum yang jelas-jelas tidak bisa dilihatnya.

“ okay, selamat malam Aerin, sampai bertemu besok” ujarnya mengakhiri percakapan.

“ne, selamat malam.” Kemudian sambungan telepon terputus.

Aku menggenggam ponsel itu erat-erat. Hmm. Ke amusement park, mencoba roller coaster, bianglala, membeli permen kapas dan es krim… bukankah itu  kencan??

Aku tersenyum simpul, baiklah sepertinya aku harus mentraktir Vina besok lusa.

Aku mematikan TV dan memutuskan tidur lebih awal. Aku harus mempersiapkan energi untuk besok.  :))

61 pemikiran pada “Cupcake Date

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s