Faithful (Chapter 2)

Title: Faithful

Author: EunikeM (@eunike_keke0708)

Cast: Exo-K Chanyeol, F(x) Luna, Exo-M Kris

Support cast: F(x) Krystal, F(x) Sulli, Exo-M Lay and.. find it!

Genre: Romance, Frindship, comedy (?) marriage

Rating: Teen

Lenght: Chaptered

go (1)

Loha..loha! kembali lagi bersama author yang cantik nan seksehhh *bibir monyong2* kalau bukan…. *jeng jeng* saya sendiri #pede #okesip #plak! Ini chapter dua dari FF pertama sayo.. okehh kita mulai saja *kayak apaan aje* bila ini FF masih gaje, tetep harus baca huhahahaa *bergaya ksatria baja hitam* maaf jika sedikit memaksa ^^v mumumu :3. Oiya, lupa. Terimaksih yaa buat admin yang udah mau nge-publish FF yang mungkin sedikit tidak bermutu ini 😀

 ______________________

            ” Telepon itu berdering kembali, “Nomor yang sama” “halo? Ini dengan siapa?” “maaf, tadi teleponku terputus. Ini.. em.. Chanyeol” “apa? Chanyeol. Aku harus bersikap semanis mungkin” Luna berkata sambil menutup bawah teleponnya agar tak terdengar oleh Chanyeol. “Oh, aku mengira kau siapa. Ada apa Chanyeol?” “Em, aku mulai kesulitan lagi” “bagian mana?” “besok saja, ini sudah larut malam.” “Ah, tidak apa-apa. Aku juga belum mengantuk” “kalau begitu.. maukah.. k.. kau” “mau apa Chanyeol?” “aduh, bagaimana ya mengatakannya?” “katakan saja, tidak apa-apa” “maukah kau menjadi..” “tut.. tut.. tut..” “Hah! Mati lagi?” “Dia mau menjadikanku apa?” “pacarnya? Aku pasti siap!”

Ponsel Luna bergetar untuk kedua kalinya. Ia tahu, jika yang meneleponnya saat itu adalah pangeran hatinya. Segera tangan kecilnya mengambil ponsel miliknya. Kemudian, menekan tombol berwarna hijau dan menempelkannya ditelinga sebelah kiri. “Chanyeol? Kenapa teleponmu terputus.. lagi?” “maaf. Karena, aku mendapat bonus, jadinya terputus-putus seperti ini.” “Pasti bonusnya hanya beberapa menit saja ya?” “iya” jawab Chanyeol dengan sedikit tawanya yang menyejukkan hati Luna. “Ah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kau ingin memintaku menjadi apa?” “maukah kau menjadi.. eh.. pendampingku?” “apa? Pendamping? Maksudmu?” jantung Luna semakin berdebar kencang. Ia pikir, ia pasti jadi pendamping hidupnya. “Pendamping belajar ku, maukah kau?” “ah, aku kira” Luna terlihat kecewa dan tidak sengaja mengeluhkannya lewat telepon hingga terdengar oleh Chanyeol. “kenapa? Tidak mau ya? Baiklah, tidak apa-apa” “oh, bukan. Aku bersedia, me.. mengajarimu setiap kali kau tak bisa” “wah, are you sure?” “ya!” “Terimakasih Luna, kau memang wanita terbaik yang pernah kutemui” “ah, jangan begitu. Aku menjadi malu. Em, aku sudah mengantuk Chanyeol. Jadi, aku mau tidur dahulu. Bye!” “baiklah, sampai berjumpa besok. Jangan lupa untuk berdoa sebelum tidur” “baik! Kau juga” Luna mematikan teleponnya dan ia pun melonjak-lonjak kegirangan diatas kasur empuknya. “Aa.. aku senang sekali. Beruntungnya aku!”

—***—

            “Krystal!” panggil Luna dari kejauhan. Krystal pun menoleh ke arah dimana ia dipanggil. “Hai! Ada apa?” “hati ini sedang berbunga-bunga sayang” “Chanyeol?” “siapa lagi kalau bukan pangeran hatiku yang satu itu?” “dia meminta nomormu, lalu menelepon mu. Begitu-kah?” “bagaimana kau bisa tahu?” “mudah ditebak” “kau terlalu banyak mengkonsumsi cerita detektif” “i’m the Sherlock Holme’s fan” “pantas saja kau bertingkah seperti itu” “bukannya kau juga?” sambil mencolek dagu kecil Luna. “memang iya” Luna menjulurkan lidahnya. “Eh, memangnya dia ada urusan apa dengan mu?” “siapa?” “Chanyeol oppa meneleponmu karena hal apa?” “dia memintaku..” “jangan membuat ku penasaran lagi!” Krystal menatap tajam tepat ke bola mata Luna. “Aku tidak takut dengan tatapan wajahmu” “baiklah, katakan sekarang. Apakah kau dijadikannya pacar? Atau.. sebagai.. pembantu?” Krystal terdiam lalu tertawa sekeras mungkin mendengar perkataannya sendiri. “Jahatnya kau!” Luna menyilangkan kedua tangannya dan berlaga seperti anak kecil yang marah karena tidak dibelikan balon. “Wah, kakakku yang cantik ini marah ya? Maaf kakak!” Krystal mencubiti pipi Luna dan memeluknya sambil meminta maaf. “Baiklah aku beri tahu. Aku dijadikannya partner dalam membantunya belajar. Puaskah anda?” “Oh, bagus kalau begitu!” “Semoga saja” Luna menundukkan kepalanya. “Jangan begitu. Fighting!” “Baik! Kalau begitu, aku masuk kelas dulu, selamat tinggal” “aku juga kalau begitu, bye!”

Ketika Luna menginjakkan kaki di lantai koridor kelasnya, ia mendengar suara seorang laki-laki yang tak asing lagi ditelinganya. “Apakah harus, aku mengatakan ini?” “lebih baik dan lebih cepat, ayah katakan saja padanya.” Luna tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang itu dari balik pintu koridor. Rasa penasaran Luna semakin melunjak, sehingga ia dekatkan telinganya ke sumber suara. Namun, ia sama sekali tak disadari kehadirannya oleh dua orang tersebut. “Ayah tak ingin menyakitinya” “bukankah ayah hanya tidak sengaja menabrak anjingnya?” “apa? Anjing?” Luna berkata dalam hati. “Tidak hanya itu” “lalu?” “saat ayah hendak pergi ke Busan, ayah dalam posisi setengah mengantuk, hingga ayah menabrak seseorang” “apa hubungannya dengan dia?” “aku menabrak ayahnya ternyata” “apa? Ayahnya?” “sssttt.. jangan terlalu keras” “ba.. bagaimana sekarang?” “ayah langsung meminta maaf dan bertanggung jawab akan membiayai sekolah kedua anaknya hingga mereka lulus kuliah. Walaupun, istrinya sudah mendapatkan suami lagi sekarang” “siapa memang anaknya?” “keduanya menjajal bangku kuliah disini. Kakaknya bernama Luna dan adiknya Lay.” Jantung Luna seakan ingin lepas detik itu juga. “A.. apakah itu.. su.. suara Wu seonsaengnim?” Ia mulai memberanikan diri menengok kearah kedua orang yang sedang bercakap itu, dan ternyata benar. Itu dosen Wu. “Berarti, selama ini? Dan tunggu, apakah itu Kris? Ketua tim basket Universitas ini? Dia anak dari dosen Wu? Aku masih tidak percaya! Sungguh kejam!” Luna ahkirnya memutuskan untuk berlari menuju kelasnya dan merenungkan perkataan mereka berdua. “Apa? Luna? Lay?” “ya! Itu anak Lee seonsaengnim” “aku tidak percaya! Sekarang ayah bersikap selalu mengacuhkan setiap Luna bertanya? Itu tidak tepat ayah!” “ayah tau itu” “ayah tau? Kenapa masih dilakukan juga? Ayah mengerti jika aku menyukainya!” “ayah juga tahu hal itu. Ayah pula yang memberikan anjing albino itu dan ayah juga yang menabraknya” “sungguh keterlaluan! Tak kusangka!” Kris pergi meninggalkan ayahnya begitu saja. “K.. Kris!” panggil ayahnya. Namun, sang anak tidak menoleh. “Semoga ia tak katakan kepadanya, ya! Semoga!” Wu seonsaengnim berkata pada dirinya sendiri.

—***—

            “Sudah jelaskah semua?” “sudah seonsaengnim!” jawab serentak para mahasiswanya. “Bagaimana ini, aku belum mengerti juga. Tapi, jarang ada dosen yang menanyakan keadaan mahasiswanya.” “Luna, apakah kau tidak mau bertanya?” “ah, tidak” “aku bisa belajar sendiri” Luna berkata dalam hati disertai dengan keraguan akan kemampuannya belajar tanpa bertanya pada dosen kesayangannya. Namun, itu dahulu.

Jam kuliah Luna sudah selesai. Ia mengambil jurusan teknik kimia, cukup sulit memang, ia pun mengakuinya. Itulah pemacu Luna untuk bertanya pada dosennya. Ponselnya mulai berdering. Satu kali, dua kali dan ahkirnya deringan ketiga, baru ia tersadar. Pasti ada seseorang yang menelepon, hingga beberapa kali. “Ha.. halo?” “kenapa teleponku yang sebelumnya tidak kau angkat?” “maaf, aku melamun sebentar tadi” Luna mengatakan kepada penelepon dengan malu-malu dan diselingi tertawanya yang khas. “Jadikah, kau mengajari aku siang ini?” “bisa! Dimana?” “seperti biasa” “perpustakaan?” “yes” “baik, aku kesana sekarang” “aku menunggumu.”

Sesampainya Luna di perpustakaan, ia melihat Chanyeol sedang sibuk sedari tadi membolak balik bukunya dan bermain dengan ponselnya. “Chanyeol?” “oh, kau sudah tiba. Maaf, aku sedang.. em, bisa kau lihat sendiri” “yaampun, betapa rajinnya anak ini. Mengerjakan tugas dari Wu seonsaengnim. Walaupun itu dikumpul bulan depan” Luna mengagumi akan kerja keras lelaki dihadapannya. Bahkan, dirinya sendiri belum menuangkan setitik kemampuan dalam menegerjakan tugas tersebut. “Bagian mana yang belum bisa?” “sebenarnya, aku mau tanya terlebih dahulu” “apa?” “apakah kau mendapat tugas ini dari dosen Wu?” Chanyeol menunjukkan karyanya dihadapan Luna. “iya, aku mendapatkannya. Ada yang tidak bisa?” “iya Luna, apakah kau sudah mengerjakan?” “belum” tawa khas Luna menyertai perkataannya. “Baiklah, aku akan membantumu. Tapi, kau juga harus bantu aku, karena aku belum mengerjakannya sama sekali” pinta Luna. “Baiklah.”

Suara derap langkah kaki seseorang entah siapa, ingin memasuki perpustakaan kampus tersebut, dilihatnyalah dua anak manusia sedang bercanda dan saling akrab satu sama lain. Ia hanya bersikap biasa seolah tak ada apa-apa. Namun, dalam hatinya terasa panas. Ya, itulah Kris, melihat sang pujangga hati bersama seorang anak buah tim basket kampusnya. Ia ingin mendekat namun apa daya, hanya bisa mengurungkan niatnya. Sampai, “Hei! Kris! Kemarilah!” saat kaki panjang milik Kris ingin melangkahkan keluar perpustakaan, ia menoleh dengan sekuat tenaga, seolah tak sanggup melihat pujangga hati bersama lelaki didepannya. “Eh, a.. ada apa Chanyeol?” “kemarilah! Bergabung bersama aku dan Luna.” “Apa? Kris? Si kapten basket berwajah bak malaikat pencabut nyawa? Putra dari seorang Wu seonsaengnim? Ayahnya telah menabrak ayah.. ah jangan berburuk sangka dahulu!” protes Luna dalam hati. “Ba.. baiklah, aku kesana” “dengan senang hati” jawab Kris, lagi-lagi dari dalam hatinya. “Kau kenal Luna?” “aku kenal. Namun, aku tak tahu dia mengenalku atau tidak” Luna tiba-tiba bangkit dan menatap tajam bola mata Kris, “salam kenal, aku Luna. Kau Kris sang kapten basket-kah?” “I.. iya. Salam kenal” keduanya berjabat tangan dan saling menunduk satu sama lain. Kris terlihat canggung terhadap mereka berdua. “Luna bisakah kau mengajariku sekali lagi?” tangan Chanyeol sedang menjalar mendekati jari-jari kecil Luna. “Bagian yang mana?” Chanyeol menunjukkan bagian yang ia tak bisa. “Dari pada hatiku memanas dan semakin bengkak, lebih baik aku pergi saja!” gerutu Kris dari dalam hati untuk kesekian kalinya. “Teman, aku sedang ada urusan mendadak. Sepertinya, aku mengganggu kalian. Jadi, aku pergi dahulu ya” Tiba-tiba, tangan kanan Luna menggenggam tangan kiri Kris, ketika ia hendak berdiri meninggalkan tempat duduknya. “Urusan apa?” tanya Luna dengan lemah lembut selembut kapas yang menyentuh telinga Kris. “Urusan? Yang pasti urusan penting” Kris mengatakannya dengan perasaan berat. Karena, ia sudah berbohong pada orang yang dicintainya dan sekarang berada dihadapannya sambil menggenggam pergelangan tangannya. “Kena kau! Aku mengerti sekarang, bagaimana membedakan orang yang jujur dan tidak. Kris! Kau sedang berbohong! I know!” Luna berkata dalam hati dengan nada kemenangan. Ahkirnya, genggamannya dilepaskan dan Kris pun pergi melaju entah kemana.

“Hampir saja! Tapi, sepertinya Luna mengetahui jika aku berbohong” Kris merasakan kepekaan Luna dan iapun merasa bersalah karena berbohong kepada dua orang temannya. Terutama Luna. “Ah, itu Kris! Kapten basket yang terlihat arogan, namun hatinya selembut malaikat dan senyumnya semanis permen kapas. Ya! Tentu saja ketika ia tersenyum. Sungguh tak sinkron dengan wajahnya. Satu lagi, ia menyukai kakakku, Luna. ayahnya pula yang..” kata-katanya terputus ketika Luna menepuk pundaknya. “Ah, kakak! Sudah selesaikah belajar dengan pujaan hatimu?” Lamunan Krystal terbuyarkan. Luna terlihat begitu bahagia, sedari tadi senyum tak habis-habisnya membuat Krystal curiga sekaligus khawatir dengan keadaan orang dihadapannya. “Kau baik-baik saja kan?” punggung tangan Krystal ditempelkannyalah di dahi Luna, merasakan hangat? Ya! “Sungguh baik! Aaa..” Luna berteriak sambil memeluk kencang dan mengguncang-guncangkan tubuh orang yang ada dihadapannya. “wait..wait.. ada apa ini?” “aku..” “aku apa?” “aku..” “cepat katakan kakak! Jangan buat ku penasaran!” “sedang menjalin hubungan asmara, bahagianya!” lagi-lagi Luna berteriak sekencang-kencangnya. Karena Krystal malu dengan kelakuan kakak tingkatnya, ia menutup mulut kakaknya yang lucu itu. “Asmara? Dengan dia?” ujung jari krystal menunjuk lelaki yang sedang bermain basket diujung lapangan. “Siapa lagi?” “jadi? Benar? Kakakku yang satu ini sudah in relationship?” “yes!” “sejak kapan?” “sejak kami diperpustakaan” “bukannya kalian baru dekat beberapa hari ini?” “itu bukan masalah. Yang penting, kami saling menyayangi” “tapi, masalah bagiku” “kenapa?” “aku kurang yakin dengan kalian? Apakah tidak bisa, kalian kenal lebih lama lagi sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan?” “tidak!” jawab Luna tegas. “Bagaimana ceritanya?”

Telapak tangan Chanyeol mulai mendekat ke arah jari-jari kecil Luna.”Ada apa dengan tangannya, kenapa semakin mendekat dengan..” “Luna?” “ya?” lamunan Luna buyar seketika. Ketika seorang laki-laki tampan nan rupawan memanggil namanya tepat dihadapan wajahnya yang seputih susu. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu?” “apa itu?” “aku malu mengatakannya” “sudahlah, kau kan memakai baju. Kenapa harus malu?” “kau ini, bisa saja. Bagaimana ya?” “ayolah, beri tahu aku” Luna merengek seperti anak kecil yang meminta permen kapas kepada ibunya. “baiklah, apakah kau mau?” “ya?” “menjadi” “apa?” “my girlfriend” “kekasih mu?” “iya” Chanyeol mengangguk puas dengan seulas senyuman diwajahnya. “jelas saja. Ah, maaf.” “tidak apa-apa, mau atau..” Chanyeol mengelus kepala Luna dengan lembut. “Mau!” Luna berbisik dengan sedikit berteriak agar tak terdengar oleh seisi perpustakaan. “Mulaisekarang, kau adalah kekasihku. Kalau begitu, karena ini sudah sangat sore, sebaiknya kau pulang “sayang.” Karena, aku harus berlatih basket untuk tim kampus ini” “apa? Sayang?” Luna menjerit dalam hatinya yang masih terkena ledakan bom atom dari “kekasih” barunya. “baik, aku pulang sekarang. Krystal sudah menungguku diluar. Selamat bermain.. sayang!” Luna sengaja menghentikan ucapannya, karena ia masih terlihat canggung dengan panggilan “sayang.” “good bye!” “bye! Take care!” lambaian tangan Chanyeol menyertai kepergian Luna. “Luna.. luna, kau ini” senyum termanis Chanyeol sekali lagi terlukis diwajahnya.

“Sepanjang jalan kenangan..” Luna menyanyikan bait lagu tersebut berulang-ulang hingga seorang wanita disebelahnya merasakan agak sedikit aneh dan geli. “Bisa tidak, kakak mengganti lagunya? Apakah lagu tersebut hanya berisi bait itu?” “memang tidak. Namun, hatiku hanya terisi dengan bait tersebut” Luna menyetir dengan sesekali menyunggingkan senyuman termanisnya. “Terserah kau saja!” sahut Krystal dengan nada sekaligus tatapan datarnya. Luna ahkirnya sampai didepan rumah sang adik tigkatnya dan menurunkannya disana. “Selamat tinggal Krystal sayang” sambil melayangkan kecup jauh pada adiknya itu. “Selamat tinggal kakak! Jangan lupa kirim pesan atau telepon aku. Bila ada masalah dengan kekasih baru mu” “ssstt.. ini masih rahasia” “baik! Terimakasih!” Luna melesat pergi dengan mobil silver miliknya.

—***—

            “Lay!” teriak Luna dari dalam kamarnya. “apa?” “kemari!” “sebentar!” “kemarilah!” “sebentar lagi!” “ayolah kemari!” “kakak, sebentar!” “kemari!” kesabaran Luna sudah tak bisa dibendung lagi, otot-ototnya pun sudah muncul dipermukaan kulit mulusnya. “Hei! Aku ingin cerita!” Lay tersontak dan spontan melempar PSP-nya. Karena, ada seseorang wanita yang tak lain dan tak bukan, kakaknya sendiri sedang berteriak tepat disebelah telinga adiknya. “Kakak! Jangan berteriak! Kau mengagetkanku saja!” “sudah berapa kali aku memanggilmu bocah!” “tidak tahu” jawab Lay polos. Wajah sang kakak pun memerah panas karena tak tahan melihat kelakuan adiknya ini. “Lay! Kau!” “a.. ampun ka.. kak” “Kau! Awas kau!” “kakak, aku minta maaf” Lay bersujud dengan telapak tangan kanan dan kirinya dipertemukan, sambil kepalanya menengadah keatas. “Aku ingin cerita bocah!” “i.. iya, tu.. tunggu dulu” “tunggu apa?” Lay mulai bangkit, lalu mengambil PSP yang ia lempar tadi. Tidak segan-segan ia meninggalkan kakaknya yang sedang bersungut-sungut dan ia berlari kearah ibunya. “Ibu! PSP milik Lay rusak!” rengek Lay manja sambil memeluk pinggang sang ibu. “Kau ini sedang kerasukan apa? Ha?” “PSP-ku rusak, karena aku banting. Namun, itu tidak sengaja” “kenapa bisa kau lempar? Sudah jangan seperti anak kecil, kau ini sudah mahasiswa bukan anak manja lagi” “kakak!” Lay menunjuk dengan ujung telunjuknya kearah tempat berdirinya Luna. Ahkirnya, Luna melayangkan protesnya.”Bukan aku yang salah! Pastinya kau! Sudah kupanggil berjuta-juta kali kau tidak mau mendengarkan aku!” Luna bergantian yang bertingkah anak kecil dengan ikut-ikutan memeluk ibunya, bukan memeluk pinggangnya seperti yang dilakukan Lay. Melainkan, memeluk kaki sang ibu. “Ibu, kakak hiperbola sekali. Aku sedih” “memangnya kau tidak hiperbola?” moment salik tunjuk menunjuk terjadi dan mereka berdua seakan-akan berbicara sambil menitihkan air mata. “Sudah! Cepat kalian berdiri. Kalian yang hiperbola! Cepat menjauh dari tubuh ibu!” Pinta sang ibu sambil menyingkirkan tubuh mereka yang membuat ibu mematung untuk beberapa saat. “baik bu, maaf” tanpa banyak bicara, mereka segera menyingkir dari hadapan ibunya dan melesat menuju kamar Luna.

Setelah beberapa saat yang melelahkan, melihat dua tingkah anak manusia yang perlu terjadi sebenarnya. Segera Luna membicarakan sesuatu pada adik yang sangat ia sayangi. “Hei! Aku ingin menceritakan sesuatu pada mu” “apa kakak?” “aku sedang… “ “sedang apa?” “sedang..” “apa?” “sedang..” Luna yang memulai perdebatan diantar mereka berdua. “Kakak! Jangan buat kita melakukan hal yang tidak penting seperti tadi!” “baik! Aku sedang menjalin tali asmara dengan Chanyeol” jawab Luna langsung pada intinya. “apa?” Lay terkaget-kaget mendengar pernyataan dari kakaknya. “are you serious?” “ya!” “sejak kapan?” “sejak tadi siang, bagaimana?” “apa yang bagaimana? Kau sudah gila!” “kenapa?” “dia itu sangat senang mempermainkan perempuan” “ssttt… tak boleh kau mengatakan yang tidak-tidak” tangan Luna dengan sigap memukul pipi Lay, yang menurutnya itu hanyalah sekedar tamparan kasih sayang. Namun, bagi Lay itu sangat menyakitkan. “Kakak! Sakit! Bisa kah tidak berperilaku seperti ini dengan ku?” “sudahlah. Yang penting, apa yang kau katakan aku tidak percaya dan tidak peduli” “terserah kau saja! Jika kau tahu yang sebenarnya, jangan merengek padaku!” “baiklah!” Suasana hening sejenak. Ahkirnya, Luna memecah keheningan. “Sudah, sudah. Sebaiknya kau keluar!” dikibaskannyalah tangan Luna seperti gaya elegan untuk mengusir orang. “Dasar kakak yang tidak berguna” Lay ?” “kakak salah dengar. Yang benar, kakak adalah seorang perempuan berparaskan cantik nan seksi” jawab Lay datar dan baginya itu hanya bualan semata. Dengan cepat, ia melarikan diri dari hadapan kakaknya.

—***—

            “Luna sayang” sapa Chanyeol “kekasih” barunya. “Oh, hai! Ada apa?” “kau tidak mengucapkan selamat pagi kepadaku?” Chanyeol berlaga dengan lucunya dihadapan Luna. “baik! Good morning oppa!” “jangan panggil aku dengan sebutan itu” “kenapa?” “karena, dia sudah..” Chanyeol segera membenahi kaliamat yang terlontar dari mulutnya. “Dia siapa?” “maksudku, “dia” adikku sudah memanggil aku dengan sebutan itu. Bagaimana dengan honey?” “baby?” “darling?” “honey saja” jawab Luna singkat. “Baiklah. Good morning honey!” “morning honey!” sapaan Chanyeol di jawab dengan senyuman manis yang tersirat dari wajah Luna. “Wah, kau manis sekali jika tersenyum” tangannya mencubit pipi mulus milik Luna. “Ah, sakit honey” “oh, maaf” tiba-tiba saja, tanpa Luna duga, bibir indah milik Chanyeol mendarat di pipi Luna, dimana tempat ia mendaratkan mencubit pipi sang kekasih. “Apa? Apakah ini mimpi? Chanyeol mencium pipiku” Sadar Luna dalam hati. “Luna?” lagi-lagi, imajinasinya terlalu tinggi. “Oh, iya” “bagaimana, sudah tidak sakit lagi?” “jelas tidak” Luna menjawab dengan malu-malu diikuti pipinya yang memerah. “Ayo!”  tangan Chanyeol memegang pergelangan Luna yang membuat jantungnya semakin melonjak ingin keluar dari perlindungan tulang rusuknya. “Ah, kemana?” “bermain basket” “a.. aku tidak bisa memainkannya” “akan aku ajarai, tenang saja.”

Sesampainya mereka di lapangan ujung kampus, ada seorang laki-laki yang sedang berdiri menghalang matahari, mengamati setiap sudutnya dan menemukan dua anak manusia sedang berjalan memasuki lapangan dengan bergandengan tangan seperti sepasang kekasih. Atau mungkin mereka adalah sepasang kekasih sungguhan. Lelaki itu hanya berdecak kesal bercampur heran dan pergi melangkahkan kakinya mendekati mereka. “Chanyeol! Kemari!” Seseorang yang dipanggil pun segera memalingkan kepala menuju arah terdengarnya suara tersebut dan segera berlari menghampiri sesosok laki-laki tersebut. “Ada apa kapten?” “jangan memanggilku seperti itu, aku bukan kaptenmu” “tapi, kau itu kapten tim basket kampus” “ya.. memang iya. Tapi, panggil namaku saja sudah cukup” “baik! Ada apa Kris?” “begitu baru benar. Oh, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu” “apa?” “aku dengar, kau menjalin hubungan asmara dengan Luna. apakah itu benar?” “kau bertanya seperti seorang reporter saja. Iya, kenapa?” “pantas saja kalian selalu berdua. Se.. selamat” Kris sangat berat hati untuk mengatakan ucapan “selamat” kepada Chanyeol. Tangan kanan Kris diangkatnya pelan dan Chanyeol pun menjabat tangan nya. “Terimakasih” “sama-sama, mau bermain basket denganku?” “boleh!” Mereka pun segera berjalan menuju keranjang, dimana kumpulan bola basket tersebut berada. Diambilnya satu bola dan mereka pun bermain bersama.

“Luna! ayo main!” “aku tidak bisa!” “akan aku ajari, tenang saja!” Luna segera berlari kearah dua orang lelaki yang tingginya jauh melebihi dirinya sendiri. Chanyeol mempraktekkan gerakan mendribble bola, lay up bahkan slam dunk pun ia ajarkan kepada Luna. “Dari pada pusing bagaimana cara bermain basket, lebih baik aku menghapal seluruh rumus kimia beserta nomor atom, golongan dan periode yang ada di tabel periodik” pikir Luna. Kris yang melihat kebersamaan mereka, merasakan sakit yang luar biasa di bagaian lubuk hatinya. “Ayo Kris! Main bersama kami!” Kris yang melamun sambil kedua tangannya memegang bola basket, tersadar akan panggilan dari rekannya, Chanyeol. “Ah, kau saja. Aku lelah” “kenapa? Kita baru saja main sepuluh menit yang lalu” “aku sudah main dari tadi” “aku tidak melihatmu?” “mungkin” “ayolah!” tangan Chanyeol menarik lengan Kris dan memaksanya ikut bermain. “Lebih baik kau pergi saja dari hadapanku, Kris!” pekik Luna dalam hati. Ahkirnya, mereka bertiga bermain dibawah terik matahari yang menghangatkan hati, terkecuali untuk Kris.

“Kris! Kemari!” terdengar suara seorang lelaki dari jarak kejauhan yang berbisik sedikit keras, mengisyaratkan untuk Kris mendekatinya. “apa?” Kris berkata tanpa suara. “Kemarilah! Penting!” Kris segera berlari menuju orang itu tanpa diketahui Luna dan Chanyeol yang masih sibuk dengan  permainan basketnya. “Ada apa?” tanya Kris terburu-buru. “Lihat ini!” “bukannya?” Kris menghentikan kata-katanya karena bingung setelah melihat sesuatu yang ditunjukkan oleh temannya, Luhan. “Kau yakin ini Chanyeol?” “yakin sekali!” “bukannya ini…”

 

Nah.. hohohoho….

Belcambung lagi yaww..

Hehehe ^^v

 

7 pemikiran pada “Faithful (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s