Two Moons (Chapter 2)

Title : Two Moons [Chapter 2]

Author : VnJwoon

Cast :

  • Kang Ahn Jung
  • Kris
  • Sehun

Other Cast : All Member EXO

Genre : Mistery Romance

Length : Chaptered

Two Moons part 22

Siapa dia?

Mengapa aku seperti merasa mengenalnya?

Kapan aku pernah bertemu dengannya?

________________________

Chapter 2

Raut wajah tegas dan rahangnya yang kukuh selalu berkeliaran di dalam kepalaku. Namja ini, aku tak pernah bertemu dengannya sebelum insiden kecil tadi. Aku… Aku hanya merasa telah mengenalnya sejak lama. Tapi siapa namja itu? Entahlah…

Kim ahjjussi menguasai setir mobil dengan santai. Mobil kami  melaju perlahan meninggalkan danau yang mungkin akan mengukir kenangan di dalam benakku.

Aku masih diam membeku di bangku belakang mobil. Menatap lurus jalanan yang ada di depanku sekarang. Menata degup jantung yang sedari tadi tak henti-hentinya. Pikiranku masih terpaku pada sosok namja itu.

“Kita sampai, agashi”

Tanpa menunggu jawaban dariku, Kim ahjjussi membuka pintu mobil dan menuntunku masuk ke dalam rumah. Aku seperti anak kecil-tepatnya pesakitan-yang untuk berjalan saja harus dituntun oleh orang yang bahkan lebih tua dariku.

“DIMANA AHNJUNG?!” Tiba-tiba aku mendengar teriakan seseorang -yang kuyakini adalah teriakan appa- menyebut namaku

Aku melepaskan tanganku dari genggaman Kim ahjjussi dan membuka pintu rumahku.

Aigoo~ Aku tak percaya dengan apa yang ada di depanku kali ini.

Kim ahjjumma berlutut di lutut appa dan juga umma. Isakan kecil jelas terdengar dari sudut bibirnya.

“KATAKAN DIMANA AHNJUNG SEKARANG!” Bentak Appa

Kim ahjjumma masih terisak dan berlutut di hadapan umma.

“Appa, aku disini. Hentikan ini semua. Sekarang!” Ucapku pelan namun tegas

“Kau!? Bukankah appa sudah memperingatkanmu agar kau tak pernah keluar dari rumah ini?!”

“Aku hanya pergi ke danau, lagipula aku ditemani oleh Kim ahjjussi”

“Danau? Kau kira pergi ke danau itu bukanlah bahaya bagimu?!”

“CUKUP APPA! Aku bosan di rumah! Kalau appa menganggap kepergianku ke danau adalah bahaya untuk diriku, apa pedulimu? Kau tak pernah peduli pada kehidupanku!”

“Jaga mulutmu, Kang Ahnjung!”

“Kang Ahnjung? Waw! Beruntung sekali namaku masih berisi marga keluarga ini!”

Appa terlihat geram mendengar perkataanku barusan.

“Tuan, tolong jangan marahi Ahnjung… Aku yang menyuruhnya untuk pergi ke danau. Ini salahku, bukan salahnya” Rujuk Kim ahjjumma

Aku beringsut menuju Kim ahjjumma. Memeluk tangannya dan menuntunnya berdiri. Aku tak mau melihat seseorang berlutut di hadapan orang lain. Aku menuntunnya berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan appa dan umma dengan menyisakan raut wajah kebencian di wajahnya.

Tiba-tiba aku merasakan rambutku ditarik secara paksa. Sontak saja kepalaku ikut tertarik ke belakang. Aku tak bias membuka mataku. Rasanya sakit sekali hingga aku harus menahan rasa sakitnya dengan menutup mataku.

Aku meronta-ronta berusaha melepaskan cengkraman di rambutku hingga akhirnya akupun terjatuh. Bukannya melepaskannya, ia menambah kekuatan pada tangannya dan menarikku paksa. Rambutku seperti mau lepas dari akarnya. Cengkraman ini sangat kuat! Tolong! Lepaskanlah! Aku sudah tak kuat!

“Ini peringatan terakhir appa, jadi kau jangan coba-coba melanggarnya lagi, Kang Ahnjung”

Appa! Begitu teganya kau pada anakmu! Haruskah kau memperlakukanku seperti binatang?!

Appa semakin menarik dan menarik rambutku dengan kuat. Percuma saja aku meronta-ronta, hal itu malah menghabiskan tenagaku.

Appa membuka pintu sebuah ruangan-yang aku yakini adalah kamarku- dengan keras. Mendorongku ke dalamnya dan menguncinya. Kini aku merasakan kesendirian lagi. Tak akan ada lagi kehangatan air danau dan percikan-percikan kecil dari ekor sekelompok ikan yang bermain di dalam air.

Aku beringsut menuju ranjangku. Kepalaku rasanya berat sekali. Sekilas aku melihat mobil putih milik appa melaju meninggalkan rumah. Segera saja aku rebahkan diriku di atas kasur. Perlahan aku mencoba menutup mataku.

Kepalaku masih berdenyut keras. Appa menjambak rambutku dengan sangat kuat. Rambutku serasa akan lepas dari akarnya di kepalaku.

.

.

.

Aku terbangun dari tidurku secara tiba-tiba. Hatiku gelisah memikirkan mimpi yang baru saja aku alami. Aku mencoba mengatur nafas dan mengingat kembali mimpiku tadi.

Aku melihat seorang namja tampan berjalan beriringan dengan seorang yeoja langsing dan cantik. Pasangan yang serasi menurutku. Sang yeoja mengenakan gaun putih berlengan panjang dan rambut panjangnya tergerai bebas. Sedangkan sang namja, terlihat gagah dengan jubah putih.

Yeoja itu terlihat sangat bahagia. Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. Begitu pula dengan namja yang sedang berjalan di sebelahnya ini.

Tetapi dibalik kebahagiaan dua insan tersebut, ada sepasang mata di balik sebuah pohon besar terus mengamati mereka dengan tatapan bengis. Tatapan mata yang penuh dengan kebencian. Tangannya mengepal.

Kedua orang itu tak menyadari bahwa mereka sedang diperhatikan. Keduanya terus tertawa dengan gembira. Tak peduli dengan rasa sakit yang dialami seseorang nan jauh disana.

.

.

.

‘Bukanlah sebuah mimpi yang buruk’ Batinku

Segera saja aku membasuh wajahku. Kulihat di cermin, wajahku tampak sangat pucat. Aku seperti seseorang yang tak pernah dirawat. Memang benar sih, aku memang tak pernah diurus oleh kedua orangtuaku. Mereka hanya sibuk memikirkan bisnisnya.

Terlebih lagi appa. Setiap melihat wajahku, raut mukanya selalu berubah menjadi masam. Tatapan matanya penuh kebencian. Aura yang dipancarkannya selalu membuatku bergidik ngeri.

Tapi walau bagaimanapun juga, aku tak pernah membenci mereka.

“Ahnjung” Terdengar ketukan di pintu kamarku

Segera saja aku berjalan untuk membukanya. Tetapi bodohnya aku, aku lupa kalau tadi pintu kamarku dikunci oleh appa.

“Ne? Ahjjuma?” Panggilku

“Ne. Ini ahjjuma, saying” Jawabnya lembut

“Ahjjuma, bisakah kau membukakan pintu ini untukku?”

“Jeongmal mianhae, Ahnjung, tetapi semua kunci rumah ini dibawa pergi oleh appamu”

Aku berpikir sejenak. Tak kah ia berpikir bagaimana aku bisa makan kalau aku tak bisa keluar dari kamar ini?!

Lalu aku teringat dengan kunci cadangan yang memang sengaja aku simpan. Aku mencarinya di laci dan beruntung bagiku, kunci itu masih ada pada tempatnya.

Setelah pintu terbuka, aku menghambur ke dalam pelukan Kim ahjjuma. Aku peluk tubuh renta itu. Dan ia membelai kepalaku.

“Waktunya makan malam. Ayo turun. Masakan telah siap”

“Arraseo” Jawabku mantap

Lalu aku menyelesaikan makan malamku dengan lahap. Seorang gadis berumur 19 tahun yang sedang makan seperti anak berumur 7 tahun.

“Ahjjuma, apakah kau baik-baik saja ?”

“Tentu saja, apakah aku kelihatan tidak baik-baik saja?”

“Aniya. Aku hanya khawatir dengan sikap appa tadi”

“Tenanglah Ahnjung, semua akan baik-baik saja. Ahjjuma percaya itu”

Tetapi dari wajah dan tatapan matanya menyiratkan ketidak-yakinan.

[To Be Continued]

Huwaaaaaa mian ya jadinya kelamaan ._. Sebenernya sih bisa aja aku panjangin lagi, tapi ya itu disimpen aja di chapter selanjutnya ^^v

6 pemikiran pada “Two Moons (Chapter 2)

  1. Itu yg dimimpinya ahnjung si sehun? #soktau
    Thor, ini pendek banget… Lebih cocok dijadiin ficlet deh -_-
    Pokoknya next chapter harus lebih panjang dan cepetan dipost. Arraso?

    Keep writing ^^

  2. Thor !!!!! Kok pendek bgt ??? Next chap harus lebihhhhhhh panjang ya thor !!!! Tuh ayahnya jahat amat,;;; next !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s