One Reason (Chapter 1)

Title : One Reason

Nama author : milkchocholate (@silmiazizah)

Genre : Romance

Length : 1 of ? (on writing)

Main cast : Park Chanyeol, Song Hyoki

Other cast : find it with yourself.. ^^

one reason cover

Author note :

Annyeonghaseyo yorobundeul~~ 😀

Gomawo dulu buat admin udh publish… 😀

Karena this is what I called lovenya masih proses juga, karena athornya labil juga, karena ide ff ini yang terus dateng juga, makanya jadilah chapter 1 nya aku publish sekarang, hehe

This is what I called lovenya masih lanjut ko, cuma ya kan seperti yg udah dibilang kalau authornya labil jadi deh ga tahan pengen selesain chapter 1 ini padahal d.o sama cheonmi udah nagih-nagih next chapter storynya mereka. Hahaha. dua-duanya nanti jalan barengan ko.. ^^

Okelah sekian cuapcuapnya, makasih udah mau ngikutin cerita-cerita yang aku buat. Aku appreciate bgt, makasih yaaaa~~~ 😀 😀

 

Enjoy!!! ^^

 

Aku punya banyak alasan untuk pergi dan meninggalkanmu, tapi aku hanya butuh satu alasan saja untuk bisa tetap berada di sisimu

 

One Reason

 

Departement of dance performance, School of Dance, Korea National University of Arts, Seoul, 02.00 pm

 

“Mulai besok sampai satu bulan ke depan kalian akan latihan perorangan setiap hari, baru setelah itu kalian akan digabung dan latihan bersama, lalu-“

 

Semua mahasiswa di dalam kelas itu sudah bosan dengan kalimat yang baru saja diucapkan dosen mereka itu, bahkan kalimat-kalimat selanjutnya pun hampir sudah mereka hapal di luar kepala. Beberapa memandang dosennya dengan wajah bosan, yang lain ada yang sudah membereskan barang-barangnya bersiap pulang. Tak lama dosennya pun menutup pertemuan mereka itu lalu keluar dari ruangan.

 

“Hyoki-ya, setelah ini kau mau kemana?”

 

Seorang gadis yang tengah membereskan isi tasnya mengangkat kepalanya memandang temannya yang tengah bicara padanya. Ia tengah berpikir sesaat lalu menjawab.

 

“Pulang ke rumah tentu saja..”

 

“Bagaimana kalau kau ikut aku dan teman-teman main dulu, hari ini kita mau makan-makan dan pergi ke tempat karaoke, ayo ikut..”

 

Song Hyoki memasang wajah sedih lalu menangkupkan kedua telapak tangannya menjadi satu.

 

“Mianhae.. hari ini kakakku akan datang ke apartementku jadi aku harus bersiap-siap, aku tidak bisa ikut kalian..”

 

“Memang kapan kau bisa ikut kami main?” celetuk salah satu temannya yang lain dengan nada bercanda.

 

Hyoki hanya tersenyum lebar menanggapi celetukan salah satu temannya yang lain itu.

 

“Aigoo.. jangan marah padaku ya.. kapan-kapan pasti aku ikut..”

 

***

 

Song Hyoki keluar dari ruang kelasnya, ia lalu keluar dari area kampusnya menuju supermarket. Hari ini kakak laki-lakinya yang tinggal di China akan datang berkunjung. Ia membeli beberapa bahan makanan untuk kakaknya nanti.

 

“Banyak sekali yang kau beli..”

 

“omo! Kau membuatku kaget..”

 

Hyoki hampir saja berteriak karena saat ia berbalik kembali ke troli belanjaannya setelah mengambil sayuran ia langsung dihadapkan dengan wajah kekasihnya yang tengah tersenyum lebar lengkap dengan deretan giginya rapi dan mata bulat besarnya yang jenaka.

 

“Ada perayaan apa?”

 

“Ha?” Hyoki memandangnya dengan wajah bengong.

 

“Monghyo ssi, aku bertanya ada perayaan apa sampai-sampai kau belanja banyak seperti ini? arachi?” Hyoki mengangguk dengan wajah polos layaknya anak kecil, membuat kekasihnya itu tersenyum lalu mengacak rambutnya perlahan.

 

Selama berbelanja mereka terus tertawa karena lelucon dan tingkah laku kekasih Hyoki, Park Chanyeol. Hyoki yang terus protes karena Chanyeol yang selalu memanggilnya dengan sebutan ‘monghyo ssi’ pun tidak digubris, pria itu terus saja memanggilnya dengan panggilan itu karena menurutnya nama ‘monghyo’ sangat pas dengan Hyoki yang memang sering terlihat bengong namun wajah bengong itulah yang selalu berhasil membuat Chanyeol tertawa. Walaupun menurut Hyoki ‘monghyo’ itu adalah nama panggilan yang sejak kecil diberikan kakaknya untuknya tetapi karena Chanyeol memanggilnya seperti itu tanpa tau soal kakaknya, ia bersikeras menyebut dirinya sebagai pencipta nama ‘monghyo’ itu.

 

“Ayo pulang..” mereka keluar dari super market tersebut lalu masuk ke dalam mobil milik Chanyeol menuju apartement Hyoki.

 

***

 

Song Hyoki’s apartement, 07.00 pm

 

“Jam berapa kakakmu akan datang?”

 

Chanyeol duduk di meja makan sementara Hyoki sibuk merapikan meja makan, menata masakan yang telah ia buat sebagus mungkin.

 

“Luhan oppa bilang ia sudah keluar dari bandara menuju kemari..”

 

Hyoki melihat Chanyeol diam-diam mengambil sumpit lalu mengambil makanan di depannya sedikit demi sedikit. Ia hanya tersenyum lalu mengambil satu bibimpap dan menyodorkannya di hadapan Chanyeol.

 

“Kau terlihat kelaparan..” Hyoki lalu memaksa Chanyeol memakan satu bibimbap utuh di tangannya yang sebenarnya memiliki ukuran yang lumayan besar. “Makanya jangan mencoba curi-curi makanan seperti tadi lagi, ne?” Hyoki tertawa senang melihat Chanyeol yang kerepotan mengunyah karena bibimbap besar tersebut.

 

Setelah selesai dengan bibimbapnya, Chanyeol lalu menuju kulkas untuk mengambil air minum. Ia mengambil jus melon buatan Hyoki yang memang selalu tersedia disana. Chanyeol baru saja selesai menyimpan kembali botol jusnya saat Hyoki memanggilnya. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada sofa di depan tv dimana kekasihnya berada.

 

“Sana pulang..”

 

“Kau mengusirku monghyo ssi?” tanya Chanyeol dengan nada bercanda.

 

Hyoki hanya tersenyum miris, ia melihat Chanyeol berjalan mendekat ke arahnya, duduk di sampingnya, lalu merangkul Hyoki dengan gestur bercanda. “Jadi kau benar-benar mau mengusirku ya?”

 

“Kau mau Luhan oppa tau hubungan kita?”

 

Chanyeol seketika terdiam, ia melepas rangkulannya lalu memandang Hyoki dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada raut rasa bersalah tersirat dalam tatapan pria itu. Chanyeol lalu mengusap kedua sisi wajah Hyoki dengan tangannya.

 

“Aku-“

 

“Ayo pulang Park Chanyeol.. “ belum juga Chanyeol menyelesaikan perkataannya Hyoki sudah menggenggam kedua tangannya lalu menariknya berdiri. Gadis itu mendorong Chanyeol menuju pintu menyuruhnya pulang dengan nada ceria. Melihat Chanyeol yang masih saja diam, Hyoki lalu mencubit kedua pipi pria itu membuatnya berteriak kesakitan. Hyoki terus berusaha membuat Chanyeol kembali ceria dan tidak lagi menunjukan wajah sedihnya. Akhirnya Chanyeol pun pergi dari apartement Hyoki.

 

***

 

“Monglu bogosipo!!”

 

Hyoki terlihat sangat senang begitu melihat kakak laki-lakinya berada di depan pintu, ia langsung memeluknya. Mereka berdua memang pasangan saudara yang sangat dekat. Semua hal pasti mereka ceritakan satu sama lain. Walau mereka bukanlah saudara kandung, tapi itu tak mempengaruhi hubungan mereka. Ibu Hyoki menikah dengan ayah Luhan saat Luhan berumur sepuluh tahun sementara Hyoki enam tahun dan sejak saat itulah Hyoki dan Ibunya pindah ke China. Sejak orang tua mereka menikah Luhan dan Hyoki benar-benar menjadi pasangan kakak-adik yang paling dekat. Saat Hyoki menerima beasiswa dari Korea National University of Arts Luhan lah yang paling mendukungnya. Ia juga yang membantu Hyoki membujuk orang tua mereka untuk mengizinkannya mengambil beasiswa tersebut dan tinggal sendirian di Korea. Dan sekarang Luhan jugalah yang paling sering mengunjungi Hyoki di Korea karena orang tuanya sibuk mengurusi bisnis mereka di China.

 

“Panggil aku oppa..”

 

“Aigoo.. masih saja membahas masalah itu ya?”

 

Luhan masuk lalu langsung merebahkan dirinya di sofa sementara Hyoki menyimpan barang-barang Luhan di kamar tamu. Selesai dengan barang-barang Luhan, Hyoki lalu menarik lengan kakaknya itu menuju meja makan.

 

***

 

“Ibu dan ayah apa kabar?”

 

Hyoki bertanya dengan bahasa cina yang fasih. Setelah bertahun-tahun tinggal di China ia memang sudah bisa menguasai bahasa tersebut dan bisa berkomunikasi selayaknya orang Cina asli. Sebaliknya Luhan pun menguasai bahasa korea dengan baik dan lancar berkat Hyoki yang terus mengajarinya. Mereka berdua terkadang mencampur kedua bahasa tersebut saat tengah berbicara. Hyoki dan Luhan kini tengah makan malam dengan masakan buatan Hyoki.

 

“hm..”

 

“Paman?”

 

“hm..”

 

“Apa anak-anak kucing Mogi sehat?”

 

“hm..”

 

“Jawab dulu baru makan monglu~~”

 

Hyoki memasang wajah kesal karena Luhan tidak menanggapi pertanyaanya dan malah asyik makan. Kakaknya ini terlihat sangat lucu saat makan dengan lahap begitu. Persis anak kecil kelaparan yang diberi makanan favoritnya.

 

“Makan dulu baru jawab monghyo.. aku lapar.. selesai makan aku jawab, ne?”

 

***

 

Song Hyoki’s apartement, few days later, 02.00 am

 

“Kau harus ke rumah sakit..”

 

“Tidak. Aku cukup diobati olehmu saja..”

 

“Chanyeol-ah..”

 

Song Hyoki menghela nafas dengan wajah khawatir melihat sosok kekasihnya yang penuh luka. Ia baru saja akan tidur setelah lembur berlatih sebelum bel apartementnya berbunyi. Ini sebenarnya sudah ke sekian kalinya Chanyeol datang ke apartementtnya tengah malam dalam keadaan babak belur seperti sekarang, tapi ia masih saja kaget begitu kejadian seperti ini terjadi. Hyoki duduk di atas karpet di depan tv sementara Chanyeol merebahkan tubuhnya dengan kepala yang ia tempatkan di atas pangkuan Hyoki. Hyoki tengah mengobati luka-luka di wajah Chanyeol. Sesekali Chanyeol meringis perih saat obat luka itu menyetuh luka-luka di wajahnya.

 

“Maafkan aku Hyo..”

 

“Untuk apa?”

 

Chanyeol tidak langsung menjawab. Ia memandangi kekasihnya itu yang masih sibuk mengobati luka-lukanya.

 

“Aku mengganggumu lagi tengah malam begini..”

 

“Kau memang selalu menggangguku..”

 

Chanyeol terkekeh pelan mendengar jawaban kekasihnya itu. Hyoki sudah selesai mengobati luka-lukanya. Gadis itu kini hanya mengelus-elus rambutnya perlahan tanpa menatapnya.

 

“Monghyo ssi..”

 

“Ada apa?”

 

“Saranghae..”

 

Hyoki terdiam sejenak sebelum menjawab.

 

“Jangan mengatakan hal seperti itu.”

 

“Kenapa? Aku kan-“

 

“Berhenti dulu balapan motor baru kau boleh mengatakan hal itu padaku..”

 

“Aku tidak bisa berhenti dan keluar dari sana, kau tau alasannya kan?”

 

***

 

Departement of instrumental music, School of Music, Korea National University of Arts, Seoul, 01.00 pm

 

“Byun Baekhyun cepat, kita harus ke ruang alat sekarang..”

 

Chanyeol dan seorang temannya berlari menuju ruang alat, mereka hampir saja terlambat karena terlalu asyik mengobrol saat makan siang tadi. Beruntung hari ini dosennya tidak bisa hadir karena kalau dosennya itu hadir mereka tidak akan bisa masuk ruangan walau hanya terlambat satu menit. Chanyeol membuka pintu dan langsung disambut wajah teman-temannya yang tengah fokus pada biola masing-masing. Ruangan ini memang khusus ruang biola, semua jenis biola tersedia lengkap dengan kualitas barang terjamin. Chanyeol dan Baekhyun lalu duduk di bangku yang tersisa, di pojok belakang dekat jendela. Chanyeol duduk di bangku paling belakang sedangkan Baekhyun duduk di depannya.

 

Semua orang di ruangan itu sibuk dengan alat musik di tangannya masing-masing, ada yang berlatih, mencari referensi mengenai biolanya, yang malah bermain-main dan hanya mengobrol pun tak kalah banyak. Chanyeol tengah sibuk berlatih saat Baekhyun memanggilnya. Karena terlalu fokus Chanyeol tak merespon panggilan Baekhyun, sampai temannya itu kesal dan mengguncang tubuhnya barulah Chanyeol memandang ke arahnya.

 

“Kalau kau sudah bersama alat musik kau tampak menyebalkan..”

 

Chanyeol tertawa mendengar perkataan temannya itu, ia pun menaruh biolanya.

 

“Chanyeol-ah, itu salah satu ruang latihan di gedung departemen tari kan?”

 

Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah tunjuk Baekhyun. Ya benar, itu salah satu ruang latihan yang berada di gedung departemen tari. Ruangan itu dipenuhi cermin di tiga bagian dindingnya dan sisanya oleh kaca transparan yang bisa memperlihatkan keadaan disana dari luar. Gedung departemen musik dan tari memang sangat dekat, salah satunya alasannya karena kedua departemen ini sering kali mengadakan kerjasama terutama untuk keperluan praktek dan konser-konser besar. Salah satu contohnya untuk ujian semester mereka beberapa bulan lagi, kelas Chanyeol harus berkolaborasi dengan salah satu kelas dari departemen tari sebagai salah satu tugas ujiannya.

 

“Itu Song Hyoki, kan?”

 

Baekhyun menunjuk seorang gadis yang tengah berada di ruangan yang tadi mereka bicarakan. Gadis itu tampak tengah fokus menari. Tiga bagian dinding ruangan yang dipenuhi cermin itu menunjukan semua sudut dari gerakan-gerakannya yang indah dan sempurna. Chanyeol tertegun melihatnya, baru kali ini ia benar-benar memperhatikan kekasihnya itu berlatih. Biasanya ia hanya melihatnya saat tengah tampil, ia tidak tau kalau saat latihan Hyoki sangatlah serius dan benar-benar fokus pada tariannya itu.

 

“Dari semester satu dulu sampai sekarang kita sama-sama sudah semester lima gadis itu sudah menjadi salah satu penari terbaik yang dimiliki universitas kita..” Baekhyun berbalik menatap temannya yang ternyata tengah fokus menatap gadis yang tengah menjadi bahan pembicaraan mereka. “Jangan bilang kau tidak mengenalnya?” tanya Baekhyun sambil menggebrak meja dihadapan Chanyeol membuat pria itu terperanjat kaget, menatapnya dengan mata bulat yang penuh. Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan Baekhyun barusan, ia kembali menatap gadis yang sedari tadi berhasil menyedot seluruh fokusnya itu. Baekhyun pun kembali memainkan biolanya karena bosan menunggu tanggapan Chanyeol atas pertanyaannya. Chanyeol tersenyum saat melihat gadis itu mengganti gerakannya menjadi tarian ceria nan enerjik.

 

“Tentu saja aku mengenalnya..”

 

***

 

School of Dance’s canteen, Korea National University of Arts, Seoul, 01.00 pm

 

“Pria setampan Park Chanyeol itu masa belum punya kekasih ya?”

 

“Kalau begitu aku saja yang menjadi kekasihnya bagaimana?”

 

“Kalau itu terjadi aku tidak akan menjadi temanmu lagi..”

 

“Aku akan mendatangi pria itu dan bilang kau sudah punya dua kekasih di luar kampus..”

 

Tiga orang gadis yang duduk di samping bangku kantin yang ditempati Hyoki dan temannya itu pun tertawa dengan lelucon yang mereka buat sendiri. Ya benar. Park Chanyeol yang tampan, berbakat, ramah, dan anak dari keluarga terpandang dan kaya menjadi daya tarik tersendiri bagi gadis-gadis di universitas tersebut. Banyak dari mereka yang menyayangkan kenapa hingga saat ini pria jangkung itu belum juga terlihat bersama wanita manapun. Tapi tak sedikit yang bahagia dengan keadaan itu, jadi mereka masih mempunyai kesempatan menjadi kekasih seorang Park Chanyeol. Banyak gadis yang sudah mendekatinya, dengan perlahan dan malu-malu maupun buru-buru dan terang-terangan. Chanyeol pun tak pernah menolak ajakan para gadis itu untuk sekedar makan bersama, mengobrol, atau yang paling sering, minta diajari cara bermain alat musik. Tapi tetap saja, semua kebaikan dan keterbukaan Chanyeol itu berujung pada penolakan saat gadis-gadis itu memintanya menjadi kekasihnya. Tidak ada yang tau apa alasannya. Chanyeol hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala.

 

Di sisi lain, seorang gadis cantik dengan kulit halus seputih susu pun menarik perhatian banyak orang. Baik pria maupun wanita. Pria? Sudah jelas kalau mereka tertarik dengan wajah cantik, perawakan kecil, dan senyum manis milik gadis itu. Bakat menarinya yang luar biasa pun tak bisa dipungkiri menjadi salah satu daya tarik besar dari seorang Song Hyoki. Pendiam dan pemalu dalam kesehariannya tak membuatnya dijauhi dan dikucilkan, pria-pria itu malah semakin mengejar-ngejarnya. Untuk wanita, Song Hyoki adalah gambaran gadis sempurna di mata mereka. Baik hati, feminim, dan punya aura luar biasa saat sedang menari. Gadis-gadis itu terus saja mengejarnya, bertanya apa rahasia untuk bisa menjadi sepertinya tapi gadis itu hanya menunjukan wajah kebingungan, tak tau harus menjawab apa. Dan Xi Luhan, kakak laki-laki Hyoki yang imut dan tampan dari China pun tak luput dari perhatian gadis-gadis itu. Banyak dari mereka yang mendekati Hyoki sekedar untuk bertanya mengenai kakak laki-lakinya itu. Hyoki pun hanya menjawab seadanya, ia tidak memberi tahu mereka lebih dalam karena perintah Luhan sendiri.

 

***

 

“Kau ingat kan Hyo?”

 

“Ha?”

 

“Astaga..” Gadis yang duduk di hadapan Hyoki hanya mengetuk kening temannya itu dengan jarinya. Ia tak tahan melihat wajah Hyoki kalau sudah bengong dengan wajah kosong seperti tadi itu.

 

“Kau mendengarkanku tidak sih?”

 

“Ya.. tentu saja.. kau bertanya padaku mengenai-“

 

“Park Chanyeol.. itu Park Chanyeol kan? Apa yang mereka lakukan disini?”

 

Hyoki membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang diperlihatkan arah tunjuk temannya itu. Disana, Park Chanyeol, beberapa pria yang ia yakin salah satunya adalah teman Chanyeol yang ia tau bernama Byun Baekhyun, juga segerombolan gadis-gadis cantik baru saja duduk santai dan mengobrol seru. Mereka pun terlihat tengah menggoda Chanyeol dan salah satu dari gadis-gadis itu. Chanyeol hanya tersenyum dengan senyuman khasnya sedangkan gadis tersebut sudah bersemu malu.

 

“Kita ke kelas sekarang bagaimana?”

 

“Tapi masih ada waktu satu jam sebelum kelas dimulai..”

 

“Kalau begitu antar aku ke perpustakaan..”

 

Hyoki menarik lengan temannya itu lalu keluar dari kantin dengan terburu-buru. Ia melirik sekilas kekasihnya lagi lalu berpaling dan benar-benar pergi dari sana. Oh ayolah, hal seperti ini sudah sering terjadi. Kenapa ia masih saja tak bisa tenang dan bersikap sebagaimana yang dilakukan Chanyeol saat mereka tengah berada di luar wilayah mereka?

 

***

 

Park near Song Hyoki’s apartement, 05.15 am

 

“Kau marah?”

 

“Kenapa aku harus marah?”

 

“Karena- aaww..”

 

Chanyeol tak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena Hyoki menekan tubuhnya lebih kuat saat ia tengah pemanasan sebelum berolahraga. Di wilayah apartement Hyoki ada taman yang biasa digunakan penghuni apartementnya untuk bersantai, di sisi taman itu juga disediakan jalan khusus untuk para pelari.

 

“Pemanasannya harus serius kalau kau tak mau cidera saat olahraga..”

 

“Kemarin itu aku-“

 

“Lipat tanganmu kebelakang..”

 

“Mereka semua-“

 

“Sekarang angkat kakimu seperti ini..”

 

Hyoki benar-benar tak memberi kesempatan Chanyeol untuk bicara, selesai dengan pemanasannya, gadis itu langsung berlari ringan mengelilingi taman tersebut, Chanyeol yang tertinggal berusaha mengejarnya.

 

“Bisa kita bicara monghyo ssi?” Chanyeol akhirnya berhasil mensejajarkan dirinya dengan Hyoki, ia kini berlari di samping Hyoki.

 

“Bicara saja..”

 

“Masalah kemarin itu-“

 

“Aku tak mau membicarakan itu..”

 

“Tapi-“

 

“Aku sudah bilang kalau-“

 

Hyoki tak sempat menyelesaikan perkataannya karena ia tiba-tiba jatuh. Gadis itu terlihat meringis kesakitan.

 

“Kau tidak konsentrasi..”

 

“Tadi ada batu. Aku tidak apa-apa..” jawab Hyoki membela diri sambil mengerucutkan bibirnya. Ia mencoba berdiri tapi berakhir dengan ringisan kesakitan karena hempasan tubuhnya yang kembali jatuh ke aspal. Chanyeol hanya tersenyum lalu berjongkok untuk melihat keadaan kekasihnya itu. Iseng, pria itu lalu memencet lutut gadis itu, membuatnya berteriak kesakitan.

 

“Ini yang kau sebut tidak apa-apa?” Hyoki tak menjawab pertanyaan Chanyeol barusan, pria itu berbalik lalu menepuk-nepuk bahunya sendiri. “Ayo naik, olahraga pagi selesai. Kita kembali ke apartementmu sekarang..”

 

Hyoki pun memajukan badannya lalu naik ke punggung Chanyeol. Kini Chanyeol tengah menggedong Hyoki di punggungnya.

 

“Aku tidak mau membahas masalahmu kemarin, aku tau dan tidak akan pernah marah padamu karena hal seperti itu. Jadi tidak usah memohon-mohon maaf lagi karena kau memang tak salah apapun. Ne?”

 

Chanyeol hanya mengangguk. “Terimakasih monghyo ssi..”

 

Mereka pun kembali mengobrol seru sambil tertawa-tawa di tengah perjalanan menuju apartement Hyoki. Banyak orang yang memperhatikan mereka namun mereka tak peduli. Chanyeol masih saja menggendong kekasihnya itu di punggungnya.

 

“Oya, kemarin ada yang memintaku jadi kekasihnya..”

 

“Lagi? Itu pernyataan keberapa dalam minggu ini?”

 

“Entahlah, tiga? empat?”

 

“Lalu kau jawab apa? Kau langsung tolak kan monghyo ssi?”

 

“Siapa bilang? Pria kemarin itu tampan, sepertinya ia orang baik..”

 

Mendengar jawaban kekasihnya itu Chanyeol langsung membalikkan wajahnya ke arah Hyoki, membuat jarak antara wajah keduanya sangat kecil. Hidung mereka pun hampir bersentuhan.

 

“Jadi apa yang kau katakan pada pria tampan itu Song Hyoki?”

 

Hyoki sedikit terkejut melihat raut wajah serius dan fokus mata yang tajam dari wajah kekasihnya. Ditambah panggilan Chanyeol untuknya tadi. Chanyeol akan memanggil namanya dengan benar dan lengkap kalau ia sedang serius atau marah. Hyoki pun menegang, tadi ia hanya bercanda saja. Tentu saja ia menolak pria yang memintanya menjadi kekasih itu. Tapi walaupun wajahnya tegang, dalam hati Hyoki sangat senang dan tenang. Chanyeol marah karena Hyoki memuji pria lain, tampak seperti menerima pernyataan cinta pria lain. Hyoki senang melihat Chanyeol marah karena cemburu. Ayolah, semua wanita pasti berpikiran seperti itu kan? Itu salah satu bukti cinta tersirat yang manis yang ia dapat dari seorang Park Chanyeol.

 

Hyoki hanya tersenyum menatap wajah Chanyeol yang masih saja menunjukan kecemburuannya. Ia mempererat kaitan tangannya di leher Chanyeol lalu menyimpan kepalanya dengan posisi miring di bahu Chanyeol, memperpendek jarak wajah diantara mereka dan membuat hidung keduanya benar-benar bersentuhan.

 

***

 

TBC

 

Otte otte??

As usual gitu ya, masih dengan cerita yang biasa bgt, banyak salahnya, banyak typonya, tata bahasa yg ga bener, etc.. TTATT

Korea National University of Arts itu beneran ada di Koreanya, kalo ga salah kampusnya SJ sungmin gitu apa ya lupa.. haha, coba cari bisi salah.. *author nyusahin* xD, itu juga pembagian pake ada school of music, school of dance itu dari wikipedianya juga gitu.. hahaha

Terimakasih bgt udah mau baca ampe akhir, next chapter tunggu saja yaaa~~~ hehehe ^^

komen ga komen, like ga like, yang penting udah mau baca, makasih yaaaa~~~ 😀 😀 *dadah2 brg baekhyun*

 

10 pemikiran pada “One Reason (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s