My Heart For Money (Chapter 1)

Title : My Heart for Money

Author : ranm_yeonnn/ kim_nana

Genre : Romance, Family

Rate : General/Teen

Length : Multi chapter

Main cast : 

–          Kim Jung Yeon (OC)

–          Kim Jong In / Kai [EXO-K]

–          Do Kyung Soo / D.O [EXO-K]

And Other~

nwdgd

Sinopsis : Kim Jung Yeon, yeoja yang sangat terobsesi dengan uang, merasa beruntung karena kakeknya berniat akan mewariskan seluruh kekayaannya pada Jungyeon. Namun sebelumnya Jungyeon harus berhasil menemukan tunangannya yang berbeda sekolah dengannya. Siapakah tunangan Jungyeon?

 Happy Reading ^_^

***

“Baiklah, mulai sekarang seluruh kekayaanku, akan kuwariskan semuanya padamu..” kata kakeknya tiba-tiba.

Jungyeon tersentak kaget.” M-WO? Kakek bilang apa barusan?”

“Seluruh kekayaanku akan kuwariskan padamu, Kim Jung Yeon.. tapi ada syaratnya”

Mendengar kata ‘syarat’ dalam kalimat kakeknya, membuat Jungyeon yang tadinya senang berubah murung.

“Syarat? Syarat apa?” 

“Kau harus menemukan tunanganmu di Seoul. Tapi karena kalian berbeda sekolah, terpaksa kau harus pindah ke sekolah dimana tunanganmu berada”

“MWO??”

Chapter 1

Jungyeon terhenyak di sofa yang ia duduki, masih kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. Tawaran yang menarik dengan syarat yang menurutnya aneh.

Sejenak Jungyeon hanya termangu didepan meja kerja kakeknya. Ia tak habis pikir, apa susahnya untuk langsung memberikan semua kekayaannya itu padanya. Mengapa pakai acara mencari-cari tunangan dulu untuk bisa memperoleh kekayaan kakeknya itu?

Tunangan?

“Tunggu dulu, Kek. A-aku punya tunangan? Memangnya sejak kapan aku pernah tunangan?” tanya Jungyeon heran. Kakeknya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jungyeon. Ia sudah menduga Jungyeon pasti akan menanyakan pertanyaan ini padanya.

“Dulu, saat kau masih kecil. Kejadian itu memang sudah lama dan kau  mungkin sudah lupa. Tapi yang pasti, kau sudah mempunyai tunangan.” Jelas kakeknya. Jungyeon hanya bisa diam mendengar penjelasan kakeknya.

Untuk seorang Jungyeon yang sampai saat ini tidak pernah tertarik pada namja (dan juga belum pernah pacaran), hal ini terdengar aneh dan terkesan tiba-tiba. Otaknya dipaksa untuk kembali ke moment masa kecilnya. Tapi, jangankan untuk mengingat dengan siapa ia bertunangan. Ia bahkan lupa kapan peristiwa pertunangannya terjadi.

“Tapi aku benar-benar tidak ingat semua itu, Kek. Aku merasa tidak pernah bertunangan dengan siapapun” tukas Jungyeon masih dengan wajah tidak percaya.

“Percayalah, Jungyeon-a. Kakek tidak mungkin berbohong padamu. Mana mungkin aku tega membohongi cucuku sendiri.”

Jungyeon mengacak pelan rambutnya lalu menatap kakeknya. “Kalau aku berhasil menemukannya?”

“Seperti yang kubilang tadi, semua kekayaanku akan kuberikan padamu, tentu saja setelah kau menemukan tunanganmu itu” ucap kakeknya lagi.

Kekayaan? Itu sama saja dengan uang yang berlimpah. Mana mungkin seorang Jungyeon yang sangat terobsesi dengan uang, berani menolak tawaran kakeknya itu. Jika ia berhasil mendapatkan warisan ini, ia tidak perlu susah payah lagi bekerja.

“Bagaimana? Apa kau setuju? Mungkin kau belum bisa menentukannya sekarang. Kuberi waktu satu hari untuk memikirkannya..”

“Aku setuju” timpal Jungyeon memotong perkataan kakeknya. Kakeknya tersenyum semakin lebar, ia memang sudah hapal kelemahan cucunya ini. Jungyeon pasti tidak akan menolak sesuatu jika itu menyangkut dengan uang.

“Baiklah, setelah ini kau akan kudaftarkan ke sekolah barumu. Besok  mungkin kau sudah bisa masuk kesana. Aku akan urus semua urusan kepindahan sekolahmu yang dulu.” Kakeknya meraih sebuah map berwarna hijau dan mulai membolak-balik isinya.

“Oh ya. Jungyeon-a.” Kakeknya mengangkat sedikit wajah dari mapnya. “Mulai sekarang kau tidak usah bekerja lagi. Aku akan memberikan fasilitas selama kau tinggal dan sekolah di Seoul.”

“Ah, ne..” ucap Jungyeon pelan sebelum beranjak dari sofa. Dalam hati Jungyeon berdoa semoga keputusan yang ia pilih ini benar.

Jungyeon melangkah menuju pintu berniat akan keluar dari ruang kerja kakeknya. Namun saat tangannya hendak memutar kenop pintu, ia berhenti setelah teringat satu hal yang belum ia tanyakan pada kakeknya, menyangkut misinya menemukan ‘tunangan’nya.

Ia tidak tahu bagaimana sosok tunangannya.

“Kakek…” panggil Jungyeon pelan dan membuat kakeknya menoleh ke arahnya. “Hmm.. bagaimana sosok tunanganku itu? Maksudku yah.. ciri-cirinya bagaimana?” Jungyeon merasa harus menanyakan hal ini sebelum ia nekat menanyai satu-persatu semua laki-laki yang bersekolah di sekolah barunya nanti.

“Yang pasti dia anak yang baik dan tentu saja tampan… Ah, kau pasti menyukainya”

***

“Kakek memanggil saya?” tanya namja berkulit putih pada seorang lelaki tua yang sedang menyesap cangkir kopinya.

“Oh, Dio-ah. Ne, kakek memanggilmu kesini. Ayo duduk” Lelaki tua yang tak lain adalah kakek namja putih susu itu meletakkan cangkir kopinya dan menyuruh namja bernama D.O itu untuk duduk.

D.O berjalan lalu menarik salah satu kursi didepan kakeknya. “Ada apa, Kek?”

“Begini, kakek minta untuk sementara waktu kau harus merubah penampilanmu menjadi… sedikit berbeda dari biasanya” terang Kakeknya hati-hati sambil memasang wajah serius.

“Berbeda?  Maksud kakek apa?” D.O mengeryitkan alisnya bingung.

“Hmm.. berpenampilan dengan selalu mengancingkan kancing atas baju, memakai kacamata dan bertingkah seperti layaknya orang…”

“Orang culun maksud kakek?” potong D.O cepat yang kemudian dibalas anggukan dari kakeknya.

D.O terdiam mendengarkan permintaan aneh kakeknya itu. Mengapa tiba-tiba kakeknya meminta dirinya untuk mengubah penampilannya? Sejauh ini menurutnya ia masih berpenampilan layaknya anak remaja kebanyakan dan itu masih bisa dikategorikan sopan.

Namun D.O mencoba berpikiran positif menghadapi hal ini. Mungkin kakeknya memang memiliki alasan tertentu sehingga memintanya mengubah penampilannya menjadi culun. Dan seperti biasa D.O tidak berniat mengetahui ataupun menanyakan alasan tersebut.

Karena D.O tipikal namja yang penurut, tanpa banyak komentar D.O langsung menuruti saja apa kata kakeknya barusan.

“ Baiklah. Mulai besok kau sudah bisa merubah penampilanmu…”

***

Keesokan harinya, D.O benar-benar merubah penampilannya. Mulai dari mengancingkan kancing teratas baju seragamnya, memakai kacamata dengan frame cukup tebal sampai mengancingkan semua kancing jasnya, yang langsung membuat 1 sekolah tercengang ke arahnya. Bagaimana tidak, D.O yang menjadi salah satu idola sekolah, tiba-tiba datang ke sekolah dengan dandanan yang bahkan sangat berbeda jauh dengan sebelumnya.

Sedikit informasi. D.O yang sekarang kelas 2 SMA ini termasuk jajaran siswa yang di idolakan di sekolahnya. Disamping otaknya yang cerdas, D.O juga memiliki wajah tampan dan cucu dari Do Kyung Rae, pengusaha real estate yang sangat dihormati. Terbukti dari siswa yeoja, mulai dari kakak sampai adik kelas tergila-gila dengan namja bernama lengkap Do Kyung Soo itu.

Namun dari sekian banyaknya yeoja yang berusaha mendekati bahkan meminta D.O menjadi pacarnya, tidak satupun dari mereka yang menarik hati D.O. Untuk alasannya, mungkin hanya D.O dan Tuhan yang tahu.

D.O berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya dengan diiringi tatapan dari setiap siswa maupun  siswi yang kebetulan berpapasan dengannya. Ini bukan pertama kalinya D.O ditatap warga sekolahnya. Mau D.O mengubah penampilannya atau tidak, toh ia hampir setiap hari diperhatikan juga seperti itu.

Setelah tiba di kelasnya, baru D.O bisa bernapas lega. Lega bisa terbebas dari tatapan yang menurutnya menyebalkan dari semua yang menatapnya tadi. D.O lalu mendudukkan badannya dan membongkar tasnya. Ia ingin melanjutkan membaca novelnya sembari menunggu bel tanda masuk berbunyi. Ya, D.O terlalu malas untuk sekedar menebar senyum pada orang-orang saat ini.

***

Jungyeon mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang kini ditempatinya. Ruang guru. Ya, kakeknya langsung mendaftarkan Jungyeon di Seongji High School, sekolah dimana tunangannya juga bersekolah disini. Dan ini hari pertamanya di sekolah barunya, sekaligus hari pertama pencariannya.

“Kim Jung Yeon-sshi.” Suara sang kepala sekolah menghentikan gerakan kepala Jungyeon yang berputar kesana – kemari.

Nde?” dengan cepat Jungyeon memfokuskan pandangannya pada lelaki paruh baya didepannya.

“Perkenalkan, ini Lee Hyo Sun songsaenim yang sekaligus akan menjadi wali kelasmu nanti” ucap sang kepala sekolah memperkenalkan seorang wanita muda disampingnya.

Annyeong-haseyosongsaenim. Kim Jungyeon-imnidaBangapseumnida” Jungyeon memperkenalkan diri sambil membungkukkan badannya didepan Lee Hyo Sun.

Eo, Annyeong-haseyo” balas Hyo Sun ramah. “Mari saya antar ke kelas barumu. Mereka pasti senang mendapat teman baru.”

Jungyeon berjalan mengikuti wali kelas barunya itu menuju kelasnya yang baru. Berkali-kali Jungyeon mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup saat sampai di kelas nanti.  Ada sedikit kekhawatiran memang dihatinya, yang memang lumrah terjadi pada murid pindahan seperti Jungyeon.

Kelas baru Jungyeon berada di lantai 2 gedung sekolah. Setelah mereka tiba di depan pintu kelas, Hyo Sun meminta Jungyeon menunggu sebentar diluar. Jungyeon mengangguk, sementara Hyo Sun berjalan memasuki kelas yang awalnya gaduh seketika menjadi tenang setelah Hyo Sun tiba.

Tidak lama kemudian Hyo Sun mengisyaratkan agar Jungyeon bisa memasuki kelas sekarang. Dengan wajah dibuat sedatar mungkin, Jungyeon melangkah memasuki kelas lalu berdiri disamping Hyo Sun.

“Nah, silakan memperkenalkan dirimu dengan teman-teman barumu!” perintah Hyo Sun.

“Ehem, Annyeong-haseyo. Kim Jung Yeon-imnida. Bangapseumnida chingu.” Jungyeon kembali memperkenalkan dirinya dihadapan teman sekelasnya. Suaranya terdengar ceria namun terkesan dibuat-buat. Jungyeon juga mencoba tersenyum semanis mungkin. Tapi yang muncul di wajahnya malah cengiran tidak jelas.

“Baekhyun-a, cepat kau pindah ke kursi disamping Dio. Biar aku bisa sebangku dengan yeoja baru itu” bisik namja tiang listrik yang biasa disapa Chanyeol, pada namja disampingnya yang dipanggil Baekhyun.

Shireo. Kau saja yang pindah ke sebelah Dio. Aku juga ingin duduk dengannya” balas Baekhyun tak mau kalah. Chanyeol mempoutkan bibirnya mendengar penolakan teman sebangkunya itu.

“Nah, Jungyeon-a. Sekarang kau bisa duduk di bangku kosong di sebelah Kyungsoo..”

“MWO?” pekik namja bernama Kyungsoo, langsung bangkit dari bangkunya. “Songsaenim, bukankah saya sudah pernah bilang jika saya tidak ingin memiliki teman sebangku?” protes Kyungsoo lagi, membuat seluruh penghuni kelas kini menatap ke arahnya.

Sombong banget ini anak..” batin Jungyeon kesal.

Memang, Kyungsoo satu-satunya siswa yang menolak untuk duduk sebangku dengan siswa lainnya. Kyungsoo beralasan jika ia duduk sendirian, ia bisa lebih fokus memperhatikan pelajaran. Entah itu hanya sekedar alasan Kyungsoo agar ia bisa  menghindar dari siswa lainnya.

Songsaenim..” Chanyeol ikut berdiri dari bangkunya. “Baekhyun bilang ia ingin pindah tempat duduk di sebelah Kyungsoo. Bagaimana kalau Jungyeon duduk di samping saya saja?” tawar Chanyeol dengan senyum lebarnya. Baekhyun terbelalak kaget mendengar kata-kata Chanyeol. Kapan ia berniat pindah tempat duduk? Tentu saja yang diucapkan Chanyeol tadi hanya akal-akalan namja tiang listrik menyebalkan ini, agar bisa duduk sebangku dengan Jungyeon.

“Sudah sudah..” Hyo Sun akhirnya bersuara setelah cukup lama terdiam. “Tidak ada yang boleh berpindah-pindah tempat duduk. Dan Jungyeon, tetap akan duduk sebangku dengan Kyungsoo” putus Hyo Sun akhirnya.

Mendengar keputusan wali kelasnya, Kyungsoo hanya mendengus pelan lalu kembali duduk di kursinya. Masih terlihat rona merah di wajahnya karena berusaha menahan emosinya. Sepertinya ketenangan hidup Kyungsoo dikelas akan terusik oleh makhluk bernama Kim Jungyeon.

Perlahan Jungyeon berjalan ke arah bangkunya yang tepat bersebelahan dengan bangku Kyungsoo. Setelah duduk, Jungyeon pura-pura menyibukkan diri dengan mengaduk-aduk isi tasnya. Padahal sebenarnya ia sedang mencuri-curi kesempatan untuk memperhatikan wajah ‘teman sebangku’nya itu.

Jungyeon memperhatikan Kyungsoo dengan tatapan intens. Kyungsoo, yang saat ini sibuk dengan bukunya, ditambah dandanannya yang terkesan culun. Dan Jungyeon menarik satu kesimpulan, Kyungsoo pasti seorang kutu buku yang tidak pintar berdandan.

“Pasti dia bukan tunanganku. Tunanganku pastinya orang yang tampan dan keren” pikir Jungyeon sambil membayangkan bagaimana wajah namja yang menjadi tunangannya.

“Bersikap ramahlah pada semua orang di sekolah baru nanti..”

Jungyeon teringat pesan kakeknya tadi pagi sebelum ia berangkat ke sekolah barunya. Ia harus bersikap ramah pada orang di sekolah ini. Dan untuk permulaan, ia akan menegur Kyungsoo, sebagai orang yang dikenalnya pertama kali.

Annyeong” sapa Jungyeon sedikit keras agar Kyungsoo ngeh kalau sedang disapa.

Nde , Annyeong-haseyo. Chanyeol-imnida.” Bukannya Kyungsoo yang membalas sapaannya, tapi malah Chanyeol yang menjawab. Chanyeol terlihat berdiri menghadap Jungyeon lalu membungkukkan badannya, tidak mempedulikan Hyo Sun yang sedang menjelaskan materi didepan kelas.

Kok jadi dia yang jawab?” pikir Jungyeon dalam hati. Chanyeol memang duduk tepat didepan bangku Jungyeon, sehingga Chanyeol mengira kalau Jungyeon tadi sedang menyapanya.

“Aish, Chanyeol-a. Apa yang kau lakukan? Cepat duduk” perintah Baekhyun karena terganggu dengan tingkah memalukan Chanyeol. Setelah Chanyeol duduk, malah Baekhyun yang kini berdiri menghadap Jungyeon.”Annyeong, Baekhyun-imnida” kata Baekhyun sambil bergaya sok imut, yang sukses membuat Jungyeon ingin muntah melihatnya.

“Byun Baekhyun, apa yang lakukan sambil berdiri seperti itu? Cepat duduk kembali!” perintah Hyo Sun berubah galak. Baekhyun buru-buru duduk di bangkunya lagi sambil menunduk menghindari tatapan aneh siswa lainnya.

Sementara Jungyeon belum bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya melihat tingkah ajaib 2 namja yang duduk didepannya itu.

Annyeong

Ditengah rasa terkejut yang masih melanda Jungyeon, ia sempat mendengar Kyungsoo dengan suara pelan  membalas sapaannya, yang sempat disalah-artikan oleh 2 namja kapiran; Chanyeol dan Baekhyun.

Jungyeon menoleh cepat ke arah Kyungsoo. Kyungsoo masih tetap berkutat dengan bacaannya. Tanpa sadar Jungyeon tersenyum tipis walaupun ia yakin Kyungsoo tidak akan melihatnya.

***

Tepat saat bel tanda istirahat berdentang dan Hyo Sun mengakhiri pembahasannya, Jungyeon langsung melesat keluar kelas. Ia memilih untuk mengenal lingkungan sekolah barunya itu terlebih dahulu.

Saat Jungyeon berjalan-jalan melihat-lihat keadaan kantin sekolah, tidak sengaja ia mendengar obrolan sekumpulan yeoja yang tengah duduk-duduk di salah satu meja kantin.

“Kau lihat tidak penampilan Dio Oppa tadi pagi? Tanya seorang yeoja berambut coklat madu pada teman-temannya.

“Tentu saja. Penampilannya sangat berbeda dari biasanya” sahut seorang yeoja yang duduk didepannya.

Ne. Tapi kenapa ya, Dio Oppa sampai mau mengubah dandanannya seperti itu?” tanya  yeoja berambut coklat madu lagi sambil menerawang. Jungyeon sendiri sedikit tertarik mendengarkan pembicaraan mereka. Bahasa kerennya- menguping.

“Ah, seperti apapun dandanan Dio Oppa, menurutku dia tetap terlihat ganteng.”

“Iya ya. Malah dia semakin terlihat tampan dengan dandanan barunya itu”

“Aaahh, kurasa aku jadi tambah suka pada Dio Oppa”

“Aku juga” jawab mereka bersamaan lalu tertawa. Sehingga kini seisi kantin penuh dengan tawa membahana mereka.

Setelah puas menguping, Jungyeon kini merasa penasaran dengan orang yang sedari tadi menjadi topik obrolan para yeoja yang 1 tingkat lebih rendah darinya itu. Namja bernama D.O .

“Aku jadi penasaran dengan orang yang namanya Dio itu” gumam Jungyeon sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan kantin. Jungyeon tidak menyadari jika D.O, tidak lain adalah teman sebangkunya, Kyungsoo.

“Jika ada orang yang sering menjadi obrolan para yeoja, biasanya dia adalah salah satu orang diidolakan dan berpengaruh di sekolah. Apa itu berarti Dio adalah salah satu namja yang diidolakan di sekolah ini?” Jungyeon sibuk dengan pemikirannya. Sibuk memikirkan status Dio di antara siswa yang bersekolah di sekolah yang bisa dibilang elite ini. Memang yang bisa bersekolah disini hanya orang-orang tertentu, dalam artian ‘lebih’ di bidang perekonomiannya. Dan bagi Jungyeon, jika bukan karena seorang cucu pengusaha kaya, mana mungkin ia bisa sekolah disini.

***

Seorang namja berkulit agak gelap tampak berjalan dengan langkah tergesa-gesa melewati kantin. Dilihat dari nametag yang dipakai namja itu, terpampang nama Kim Jong In disana. Namun jika ada siswa yang tak sengaja berpapasan dengannya, mereka akan memanggil namja itu dengan sebutan Kai.

Kai yang saat ini sedang sibuk mencari temannya, segera mempercepat langkahnya saat akan melewati kantin. Karena jika sampai ada satu saja yeoja yang melihat dia berjalan sendirian seperti sekarang, pastilah mereka akan langsung berteriak histeris dan mengerubunginya berjam-jam.

Setengah berlari, Kai sesekali melongokkan kepalanya memantau seisi kantin. Tapi karena pandangannya tidak sedang fokus sepenuhnya ke jalanan, tanpa sengaja Kai menubruk bahu seseorang yang berjalan didepannya.

“Aduh”  pekik orang yang ditabrak Kai sambil mengelus bahunya yang menjadi sasaran badan Kai yang atletis.

“Aish” desis Kai sambil menatap yeoja yang baru saja ditabrak. Bukannya minta maaf, Kai malah sibuk merapikan jas seragamnya yang terkena debu akibat bertabrakan tadi.

“KYAAAAA…”

Seorang yeoja yang tidak sengaja melihat Kai berdiri di luar kantin, langsung memekik dan menghambur keluar kantin bersama yeoja lainnya yang kebetulan juga melihat sosok Kai.  Dan seperti dugaan Kai, mereka semua kini sudah mengerubuti Kai sambil berteriak histeris.

Jungyeon -yeoja yang ditabrak Kai-  yang masih berdiri disebelah Kai, otomatis ikut terdesak kedalam kerumunan. Jungyeon serasa ingin pingsan karena dari dulu ia tak suka yang namanya berdesakan.

“YA! Tidak usah berdesakan seperti ini. Minggir, aku mau keluar” teriak Jungyeon ketus sambil berusaha keluar. Kai yang mendengarnya, merasa ada yang berbeda dari yeoja yang baru saja berteriak tadi. Yeoja ini tidak ikut-ikutan histeris seperti para yeoja yang sekarang mengelilinginya.

Oppa, yeoja ini siapa? celetuk seorang yeoja sambil mengarahkan telunjuknya pada Jungyeon.

Tiba-tiba terbersit satu ide di otak Kai agar bisa segera keluar dari ‘serangan’ para yeoja ini.

“Oh dia. Perkenalkan, ini  yeojachinguku yang baru” jawab Kai enteng sambil merangkul pundak Jungyeon dan menarik kesampingnya. Jungyeon yang mendengar pernyataan Kai langsung membulatkan matanya kaget.

Hampir semua yeoja yang mendengarnya juga kini melongo tidak percaya. Pasalnya baru kemarin mereka mendengar kalau Kai baru putus dengan Krystal. Dan sekarang Kai malah mengenalkan pacar barunya.

Tapi jika dipikir-pikir untuk apa mereka heran? Toh bukan rahasia umum lagi kalau Kai adalah seorang playboy. Walaupun baru kelas 2 SMA, hampir semua yeoja di Seongji High School sudah pernah Kai pacari, sekalipun itu kakak kelasnya sendiri.

Namun bagi Jungyeon yang belum mengenal dan baru bertemu Kai saat ini, ia sama sekali tidak tahu bagaimana watak dan perilaku Kai sehari-hari.

Karena kesal atas tingkah Kai yang menurutnya kurang ajar, Jungyeon langsung menginjak kaki Kai sekuat tenaga. Alhasil Kai langsung melepas rangkulannya di pundak Jungyeon.

“Aww.. Appo” rintih Kai sambil mengangkat sedikit kakinya yang terasa nyeri akibat diinjak Jungyeon. Sementara Jungyeon tersenyum bangga melihat keadaan Kai yang kesakitan.

Appo?” tanya Jungyeon sambil memasang wajah tidak bersalah. Kai langsung berdecak kesal mendengarnya, terdengar seperti ejekan ditelinga Kai.

“Tsk . Ayo cepat ikut aku!” Dengan kasar Kai langsung menarik lengan Jungyeon dan langsung berjalan membelah kerumuan yeoja didepannya. Ia ingin memberi pelajaran pada Jungyeon atas tindakannya menginjak kakinya barusan. Sebelumnya ia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh yeoja manapun.

Tepat saat mereka berjalan melewati tangga menuju lantai 2, Kyungsoo a.k.a D.O baru turun dari tangga dan tak sengaja berpapasan dengan Kai dan Jungyeon. Saat tatapan Kai bertemu dengan D.O, Kai langsung memasang wajah jutek pada D.O.

Kai dari dulu memang tidak menyukai D.O, karena menurutnya D.O lebih terkenal dan diidolakan dibanding Kai sendiri. Kai merasa hanya menjadi nomor 2 dalam hal ini, dan itu yang membuatnya sampai sekarang menganggap D.O adalah rivalnya. Menjadi nomor 1 dan diidolakan semua orang disekolah ini adalah segala-segalanya bagi Kai. Berbeda dengan D.O yang sama sekali tidak tertarik dengan semua yang ia dapat.

D.O hanya memandang Kai dan Jungyeon sebentar, kemudian melanjutkan langkahnya ke perpustakaan untuk sekedar menyepi disana. Ia sempat heran melihat kedekatan Kai dan teman sebangkunya itu, namun ia mencoba tidak peduli soal itu.

“Hei, lepaskan aku. Aish, dasar namja tidak tahu diri” Jungyeon berusaha melepaskan tangan Kai dari lengannya, namun Kai pura-pura tidak mendengar dan terus menyeret Jungyeon hingga mereka sampai di atap gedung sekolah

“Ya, kau ini siapa?” semprot Kai setelah melepaskan tangannya kasar.

“MWO? YA! Bukannya aku yang harusnya bilang begitu?” teriak Jungyeon keras.

“Kau tidak tahu siapa aku? Aku ini idola di sekolah ini. Kau lihat para yeoja yang mengerubutiku tadi? Mereka semua mengidolakan aku. AKU” teriak Kai sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Tapi aku tidak, namja bodoh. Aku tidak menyukaimu, apalagi mengidolakanmu” balas Jungyeon lagi. Apa semua yeoja tadi sudah kehabisan idola sampai-sampai harus mengidolakan namja ini, pikir Jungyeon.

“Bodoh? Kau bilang aku bodoh? Ya, seharusnya kau bersyukur bisa sedekat tadi denganku”

“Bersyukur? Hah.. kau ternyata tidak cuma bodoh, tapi juga tidak tahu malu. Seenaknya saja kau mengakuiku sebagai yeojachingumu. Aku saja tidak kenal denganmu”

Kai tidak sedikitpun tersinggung dengan kata-kata Jungyeon barusan. Malah meresponnya dengan kekekan pelan.

“Kau pintar berpura-pura juga ternyata..” Kai menampakkan smirknya di depan Jungyeon. “Jujur saja padaku, kau sebenarnya senang kan karena bisa dekat namja tampan sepertiku? Haha.. kau mudah sekali di tebak.” Kai tertawa keras, sampai-sampai tidak menyadari Jungyeon yang sudah mengepalkan tangannya karena geram mendengar perkataan Kai.

Perlahan Jungyeon mendekat ke arah Kai yang masih asyik tertawa. Sampai akhirnya..

PLAK~

Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Kai. Sontak Kai langsung menghentikan tawanya, berganti dengan raut wajah garang seraya menatap Jungyeon tajam.

“Apa yang kau lakukan, hah?” tanya Kai dengan nada menggelegar. Seorang Kai tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh yeoja manapun sebelumnya.Tapi hari ini, ia merasa harga dirinya telah direndahkan oleh yeoja bernama Jungyeon.

Jungyeon tidak menghiraukan pertanyaan Kai dan berbalik meninggalkan Kai sendiri. Ia sangat kesal dengan semua orang di sekolah ini, terutama namja brengsek –yang ia sendiri tidak tahu namanya- yang telah mengakuinya sebagai pacarnya.

Dengan langkah sengaja dihentak-hentakkan, Jungyeon berjalan menuju kelasnya di lantai 2. Ia memutuskan langsung pulang lalu menemui kakeknya untuk membatalkan perjanjian yang telah ia setujui kemarin.

Baru hari pertama saja ia sudah mendapatkan kesialan seperti ini. Apalagi jika ia harus berada disini selama 2 tahun. Jungyeon rasa ia akan menjadi orang gila saat itu juga.

Sampai dikelas Jungyeon langsung berjalan menuju bangkunya dan meraih tasnya. Kebetulan dikelas hanya ada Baekhyun dan Chanyeol yang sedang asyik main kartu dengan wajah belepotan bedak.

“Hei, Jungyeon-a, kau mau kemana membawa tas begitu? Ini kan belum saatnya pulang” tegur Chanyeol saat Jungyeon terlihat menenteng tasnya.

“Aku mau pulang” ucap Jungyeon ketus tanpa menoleh sedikitpun pada Chanyeol.

Saat Jungyeon hendak keluar dari pintu kelas, tepat saat itu juga Kyungsoo yang baru kembali dari perpustakaan hendak masuk ke kelas. Kyungsoo terdiam sejenak memperhatikan Jungyeon sambil menenteng tasnya, gelagat ingin pulang.

“Minggir!” bentak Jungyeon kasar dengan wajah jutek. Kyungsoo sedikit bergeser ke samping agar Jungyeon bisa melewati pintu. Posisi mereka saat itu memang berhadapan langsung dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

“Mau kemana?” tanya Kyungsoo saat Jungyeon berhasil keluar dari kelasnya. Jungyeon menghentikan langkahnya sejenak demi mendengar suara Kyungsoo barusan. Mirip suara seseorang. Suara orang yang ia kenal.

‘Suara itu. Suara itu mirip..’ batin Jungyeon. Ia merasa sering mendengar suara orang yang barusan menegurnya. Suara orang yang sekian lama hilang dalam diri Jungyeon. Orang yang telah ia lupakan dalam hidupnya.

“Aku mau pulang” Setelah mengatakan itu, Jungyeon bergegas meninggalkan sekolah menuju tempat parkiran dimana mobilnya telah menunggunya.

“Lho, Aggashi. Ini kan belum jamnya pulang?” tanya sopir sambil menatap Jungyeon lewat kaca spion.

“Aku tidak betah disini. Cepat antarkan aku ke rumah kakek sekarang!” ucap Jungyeon dingin. Tanpa diminta 2 kali, sang sopir pribadi Jungyeon itupun langsung menjalankan mobil meninggalkan pelataran parkir sekolah elite itu.

15 menit kemudian mobilnya telah sampai di halaman rumah besar kakeknya. Jungyeon tidak sabar ingin membatalkan semua perjanjian ini dan kembali ke kehidupannya yang dulu. Walaupun itu sama saja ia harus rela melepaskan semua apa yang telah kakeknya janjikan dan kembali bekerja sendirian seperti dulu. Namun Jungyeon tidak peduli.

Jungyeon menaiki tangga menuju ruang kerja kakeknya, karena Jungyeon yakin kakeknya pasti ada disana. Pintu ruang kerja itu tidak tertutup sepenuhnya. Jungyeon memutuskan mengintip terlebih dulu keadaaan didalamnya.

Di dalam terlihat kakeknya tengah asyik mengobrol dengan lelaki yang berperawakan hampir sama dengan kakeknya, sambil sesekali menyeruput teh didepan mereka. Bagusnya Jungyeon tidak langsung melabrak kakeknya begitu saja tadi.

“Bagaimana Kim Jung Yoon? Apa cucumu mau menuruti perkataanmu seperti yang telah kita rencanakan?”

Jungyeon sudah hendak meninggalkan tempat itu, namun urung setelah mendengar obrolan kakeknya dengan temannya itu.

“Tentu saja. Ternyata tidak sesulit yang kukira. Setelah aku berjanji akan memberikan seluruh hartaku padanya, ia langsung setuju. Kau sudah tahu kan bagaimana cucuku yang satu itu?”

Lelaki paruh baya didepan kakek Jungyeon hanya manggut-manggut. Ia sudah tahu apa kelemahan cucu rekannya yang satu ini. Apalagi kalau bukan uang.

“Kau sendiri bagaimana? Apa cucumu mau melakukannya juga?” Kakek Jungyeon menanyakan pertanyaan yang hampir sama seperti tadi.

“Seperti yang kau ketahui, cucuku Dio langsung menyetujui permintaanku tanpa menanyakan apa alasanku menyuruhnya melakukan itu. Aku bersyukur mempunyai cucu penurut seperti Dio” ucap sang lelaki paruh baya itu seolah membanggakan cucunya yang bernama D.O.

D.O?

Jungyeon mengerutkan keningnya setelah mendengar nama D.O disebut. Nama yang juga sempat ia dengar dari obrolan para yeoja di kantin. Nama yang ia duga salah satu orang terkenal di sekolah barunya.

“Apa jangan-jangan orang yang dimaksud kakek tunanganku… itu Dio?” tebak Jungyeon. Jungyeon membalikkan badannya berniat pulang. Niatnya semula seolah hilang setelah ia berhasil mendapatkan nama tunangannya itu.

“Itu berarti aku tinggal mencari namja bernama Dio, lalu setelah itu aku akan menjadi pemilik semua kekayaan kakek. Asyik” sorak Jungyeon sambil  melonjak-lonjak menuruni tangga.

D.O yang faktanya adalah namja idola di sekolahnya, yang selama ini ternyata adalah tunangan Jungyeon. Itu berarti sebentar Jungyeon akan memiliki tunangan orang terkenal dan kaya, sekaligus akan memperoleh semua kekayaan kakeknya sendiri. Benar-benar suatu keberuntungan bagi Jungyeon.

“Kau tidak tahu siapa aku? Aku ini idola di sekolah ini. Kau lihat para yeoja yang mengerubutiku tadi? Mereka semua mengidolakan aku. AKU.”Jungyeon kembali teringat ucapan Kai di atap tadi.

“Namja tadi bilang dia idola di sekolah. Sedangkan Dio itu pasti seorang idola sekolah. Apa itu berarti.. namja brengsek tadi itu Dio?” Cukup lama Jungyeon terdiam dengan pemikirannya sendiri. Sampai akhirnya…

“AAANNNDDDWWWAAAEEE…..”

To Be Continue…

A/N : Hehehe.. #ketawa nista# gimana? Bagus atau jelek? Ini lanjutannya juga dibantuin sama temen, soalnya otak saya blank setelah bikin prolognya. Saya udah pesimis duluan pas ngetiknya. Apa chapter 1 nya bakal bagus? Beginilah jadinya -___-‘

Intinya, Jungyeon nyangkain Kai itu D.O, tunangannya. Padahal Kai sama D.O orangnya beda jauh . Pasti banyak yang ngak ngerti ya? Nanti di chapter 2 bakal dijelasin semuanya. Abang Sehun juga kemungkinan besar muncul di next chapter.  Entah jadi apaan entar.

RCL ya? Gomawo ^_^V #Lambai-lambai

Iklan

35 pemikiran pada “My Heart For Money (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s