Enemy Becomes Love (Chapter 1)

Enemy becomes Love

Untitled-1

 ______________________________

 

 

Chapter 1

“Krystal-ya!” seorang gadis berlari kearah gadis yang ia panggil Krystal itu. Krystal menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gadis itu.

 

“Ada apa, Sulli-a?” gadis yang dipanggil Suzy mengatur napasnya yang memburu, lalu menatap Krystal sambil tersenyum.

 

“Mengapa kau berjalan begitu cepat? Sulit sekali untuk menyamakan langkahku denganmu,” ucap Sulli. Krystal terkekeh kecil. “Dan kenapa kakimu itu jenjang sekali?” sambung Sulli sambil menunjuk kedua kaki Krystal. Krystal tersenyum tipis dan menggandeng tangan sahabatnya itu.

 

“Jadi perempuan jangan pendek-pendek. Minta eonnimu menarik kakimu tiap malam,” ucap Krystal sambil tertawa. Sulli langsung mengerucutkan bibirnya dan mencubit lengan Krystal.

 

“Yaa, appo!” seru Krystal sambil mengusap lengannya. Sulli terkekeh kecil dan menarik Krystal masuk ke dalam kelas.

 

Krystal mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, dan moodnya menurun drastis juga wajahnya langsung berubah cemberut seketika begitu menemukan sosok seseorang yang tak ia inginkan berada di dalam kelas yang sama dengannya. Sulli menarik Krystal menuju dua kursi kosong di dekat jendela. Dan sialnya, kursi itu berada tepat disebelah orang yang tidak diinginkan Krystal untuk masuk ke dalam kehidupannya, sekalipun. Krystal menghela napas berat dan dengan malas menjatuhkan dirinya di kursi kayu di samping Sulli.

 

“Kenapa kau ini? Baru hari pertama…” Sulli langsung memperhatikan sesosok pria tinggi berkulit coklat yang sedang duduk-duduk di atas meja dan sedang tertawa bersama teman-temannya. “… Oh dia… Berbahagialah karena orang tertampan sejagat raya sekelas dengan kita,” ucap Sulli berbinar-binar. Krystal langsung menatap Sulli tajam dan menjitak kepala Sulli.

 

“Pria brengsek seperti itu kau bilang tampan? Kau gila! Kurasa matamu harus dioperasi, atau ku pastikan kau akan dirawat di rumah sakit jiwa!” seru Krystal sambil menatap tajam Sulli.

 

“Lagipula, kau kan sudah punya pacar,” ucap Krystal. Sulli menghela napas sejenak dan terkekeh pelan, lalu memegangi kedua bahu Krystal.

 

“Jung Soo-jung, sampai kapan kau mau bermusuhan dengannya, hah? Ingat kata-kataku ini, cepat atau lambat, kalian pasti akan saling jatuh cinta. Kau cantik, dan dia tampan, dan kalian bahkan sebenarnya lebih sering bersama daripada kau denganku. Ingatlah, suatu hari, kalian akan saling mencintai…” ucap Sulli lalu berlalu dari hadapan Krystal. Krystal menghela napas berat dan menyandarkan tubuhnya di  kursinya. Kalau dia cantik, kenapa sampai sekarang ia tak punya pacar? Batin Krystal.

 

*****

 

Bel pulang berbunyi nyaring. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas. Krystal memilih keluar belakangan. Sementara Sulli, ia sudah menghilang entah kemana. Krystal menggandeng ranselnya di punggungnya dan berjalan keluar kelas. Koridor sekolah kelihatan sepi. Maka dari itu, Krystal mempercepat langkahnya.

 

Namun, suatu jebakan sudah menunggu Krystal. Krystal hendak berjalan menuju gerbang sekolah. Tetapi, baru sampai tepat di pintu masuk di gedung sekolahnya…

 

BYUR!

 

Rambut, pakaian, tas, dan sepatu yang ia kenakan sekarang basah kuyup diguyur satu ember besar berisi penuh dengan air. Krystal mengatupkan giginya dan menutup matanya. Dalam hatinya, ia mengutuk siapapun yang melakukan ini padanya. Sayup-sayup terdengar suara tawaan puas dari beberapa orang yang berada tidak jauh dari tempat Krystal berdiri.

 

“Selamat, Jung Soo-jung! Anggap saja itu hadiah dariku di hari pertama,” ucap seseorang dari gerombolan orang-orang popular di depannya. Ya, orang-orang yang sekarang berada di depan Krystal sekarang sama dengan yang tadi berada di dalam kelasnya. Orang yang sama, dan, popular tentunya. Tentu saja, Krystal sudah tau siapa mereka-mereka itu. Salah satu dari mereka mendekati Krystal lalu menepuk-nepuk bahu Krystal. Lagi-lagi orang sialan ini, batin Krystal.

 

“Berbahagialah, Krystal. Jarang-jarang lho orang-orang bisa mendapat hadiah dariku,” ucap orang itu. Krystal menepis tangan besar orang itu dan menatapnya tajam. Orang itu tertawa, dan sedetik kemudian tawanya terganti dengan ekspresi jijik sekaligus kesakitan, karena Krystal meludahi sepatu orang itu dan menginjaknya lalu berlalu dari hadapan segerombolan orang-orang itu.

 

*****

 

“Aku pulang!” seru Krystal dengan malas. Krystal langsung melemparkan tasnya ke atas sofa di ruang keluarganya. Seorang gadis yang lebih tua darinya berjalan keluar dari dapur dan menghampiri Krystal yang sedang duduk di sofa dan melipat kedua tangannya di depan dada.

 

“Kenapa kau basah kuyup begitu, Jung Soo-jung? Jangan bilang karena Kai lagi,” ucap gadis itu. Krystal mendengus dan mengangguk. Gadis yang lebih tua darinya langsung menjitak kepala Krystal.

 

Yeodongsaengku yang manis, mana mungkin Kai yang seperti malaikat itu mengerjaimu?” tanya gadis itu. Krystal langsung memutar bola matanya. Dia sudah biasa mendengar jawaban dari gadis itu setiap ia habis dikerjai Kai. Kai, malaikat? Orang-orang sudah gila, pikir Krystal.

 

“Apa eonni bilang? Malaikat? Bukannya justru kebalikannya? Kurasa eonni sudah tersihir dengan kekonyolannya itu!” seru Krystal. Eonninya menggeleng-gelengkan kepala dan melambaikan tangannya untuk mengusir Krystal. Krystal meraih ranselnya dan berjalan menuju kamarnya, lalu ditutup dengan suara bantingan pintu kamarnya.

 

Krystal melempar ranselnya kesembarang arah dan menghempaskan tubuh mungilnya ke atas ranjang empuknya. Krystal menerawang langit-langit kamarnya yang dicat berwarna merah muda pudar. Pikirannya menerawang, mengapa orang-orang yang pernah ditemuinya selalu memuji-muji musuhnya, Kai? Padahal, kelakuan Kai jauh dari apa yang mereka ucapkan. Kalau di depan orang lain, Kai akan bersikap manis. Namun, di depan Krystal, Kai akan melakukan apa saja untuk membuat Krystal tersiksa dan sengsara. Krystal bertambah kesal memikirkannya. Maka, gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam dunia mimpinya.

 

*****

 

Suara iringan tuts piano mengalun lembut di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu. Krystal memperhatikan setiap gerakannya, apakah seirama dengan lagu atau tidak. Pelatihnya sesekali mengangguk saat Krystal berhasil menyamakan gerakannya dan iramanya, namun sesekali juga menggelengkan kepalanya saat Krystal melakukan kesalahan.

 

“Baiklah, Krystal. Latihan lagi ya dirumah. Gerakanmu sudah cukup bagus untuk mengalahkan kompetitormu di lomba nanti,” ucap sang pelatih. Krystal tersenyum dan mengangguk. Minggu depan, dirinya akan mengikuti lomba dance dalam rangka ulang tahun sebuah pusat perbelanjaan di Seoul. Gadis itu menyambar tasnya dan berjalan keluar dari ruang latihan. Tiba-tiba, handphonenya yang berada di dalam tasnya berdering. Krystal mengambil kotak tipis berwarna biru itu, menekan tombol berwarna hijau dan menempelkan kotak itu ke telinganya.

 

Yeobosseyo?”

 

“Krystal-ya!” Krystal menjauhkan kotak itu dari telinganya dan menatap layar handphonenya. Tertera nama Sulli disitu. Pantas saja, pikir Krystal.

 

“Ne, Sulli-a. Waeyo?”

 

“Kau harus cepat datang ke rumahku karena aku sedang sangat-sangat bosan. Kalau kau tidak datang, kujamin besok kau tak akan kutraktir sesuai janjiku.”

 

“Kenapa harus seka-” sambungan telepon terputus sebelum Krystal menyelesaikan ucapannya. Krystal menatap bingung layar handphonenya dan memasukannya ke dalam tasnya. Krystal mempercepat langkahnya menuju halte bus yang berada cukup jauh dari tempat latihan dancenya itu. Namun, tangan seseorang menghentikan langkahnya. Orang itu menutup mulut Krystal yang hendak berteriak lalu menariknya masuk ke dalam mobil Chevrolet bumblebee dan melaju dengan cepat. Krystal sempat bangga karena dirinya bisa duduk di jok empuk mobil idamannya. Namun, akal sehatnya mengingatkan dirinya bahwa ia sedang diculik. Krystal yang masih bingung memukul-mukul lengan orang itu. Tentu saja Krystal tidak tau siapa yang menculiknya, karena orang itu memakai topeng ski berwarna hitam.

 

Yaa orang aneh! Siapa kau?! Dan untuk apa kau menculikku?!” Seru Krystal histeris. Orang itu mengedikan bahunya pelan dan tetap mengemudi.

 

Sepuluh menit kemudian, mobil itu berhenti di depan rumah yang tidak asing bagi Krystal. Dan ini memang tujuannya sekarang. Krystal buru-buru membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah Sulli. Orang yang tadi membawa Krystal telah pergi entah kemana.

 

Harus sepuluh kali Krystal memencet bel rumah Sulli, sebelum akhirnya gadis itu membukakan pintu untuk Krystal. Krystal langsung menghambur masuk ke rumah Sulli dan duduk di sofa di ruang keluarga rumah itu. Sulli menggeleng dan duduk di samping temannya itu.

 

“Apa gerangan yang membuat temanku ini seperti habis melihat sadako?” Sulli terkekeh pelan, sementara wajah Krystal masih tampak ketakutan.

 

“Kau tau tidak? Tadi, saat aku berjalan ke halte bus, ada seseorang berpakaian serba hitam dan memakai topeng ski, menarikku dan membekap mulutku lalu menyuruhku naik mobilnya. Memang sih mobilnya itu Chevrolet bumblebee, mobil terkeren sepanjang masa. Tapi, yang bikin diriku gemeteran begini, dia itu tidak memberitahu siapa dia. Dan, dia bisa tau tujuanku sekarang!” jelas Krystal panjang lebar. Sulli terdiam dan berpikir sejenak. Kemudian, gadis itu tertawa terbahak-bahak, dan membuat Krystal bingung setengah mati.

 

“Krystal-ya, kau itu lucu sekali! HAHAHA! Mana ada orang seperti itu disini?” Sulli memegangi perutnya sambil berusaha menahan tawanya yang ia rasa terlalu berlebihan. Krystal mengerucutkan bibirnya dan mencubit lengan Sulli.

 

Aww!” Sulli meringis dan mengusap lengannya.

 

“Kau ini, sahabat sendiri tidak dipercaya? Tsk, sahabat macam apa kau?” Krystal menyandarkan punggungnya pada sofa dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sulli mencubit kedua pipi Krystal dan berkata, “Kau tak akan pernah tau kapan cinta akan datang,” dan ucapan Sulli itu membuat Krystal bingung setengah mati.

 

*****

 

“Jongin-a! Kau gila! Untuk apa kau melakukan hal segila dan sekonyol itu?” Sehun, sahabat baik Kai memaki-maki temannya yang baru saja sampai di cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka kali ini. Mereka berdua tidak berada di sekolah yang sama, namun mereka sudah saling mengenal karena orang tua mereka yang bersahabat.

 

“Memangnya kenapa? Kau tau kan pekerjaanku setiap hari, mengerjai gadis itu,” ucap Kai santai. Kai lalu menyesap sedikit vanilla latte yang ia pesan. Sehun yang duduk dihadapan Kai hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Oh iya, kau jadi ikut kompetisi minggu depan?” Tanya Sehun memulai pembicaraan mereka. Kai mengangguk pelan.

 

“Tentu saja. Dan kali ini, aku akan menang!” Ucap Kai dengan yakin. Kai mengepalkan salah satu tangannya dan mengangkatnya ke udara. Sehun tersenyum dan berkata, “Semoga berhasil, Kim Jongin,” Kai tersenyum tipis dan meminum vanilla lattenya.

 

“Jongin-a, aku ingin bertanya sesuatu,” ucap Sehun dengan nada misterius. Kai langsung menatap Sehun dan menjawab, “Apa itu?” Tanya Kai sambil menyesap minumannya.

 

“Apa kau… Menyukai gadis itu?” Sontak Kai kaget. Hampir saja ia menyemburkan vanilla latte yang ia minum. Namun, dia masih cukup terkendali karena ia tak mau menyia-nyiakan minuman kesukaannya untuk disemburkan kepada sahabatnya itu.

 

“Kau gila?! Mana mungkin aku menyukai gadis sinting seperti dia?! Dunia sudah terbalik jika aku menyukainya!” Seru Kai. Para pengunjung yang mendengar keributan antara Kai dan Sehun langsung menatap dua orang itu dengan tatapan heran. Kai dan Sehun berkali-kali minta maaf hingga semua pengunjung kembali tidak menghiraukan mereka berdua.

 

“Lagian, kau itu tidak bosan-bosannya mengerjai gadis itu. Setiap hari, ada saja yang kau lakukan terhadap gadis itu,” jelas Sehun panjang lebar. Kai terdiam dan tampak berpikir. Benar juga. Kenapa ia tak pernah bosan mengerjai gadis itu? Tapi, itu merupakan suatu kesenangan sendiri baginya, melihat gadis itu yang menggerutu kesal karena ia kerjai. Kai sangat senang melihat gadis itu memaki-makinya. Bagi Kai, gadis itu terlihat menggemaskan saat ia marah-marah. Tunggu, apa yang kupikirkan? Batin Kai. Kai menggelengkan kepalanya dan mengedikan bahunya ke arah Sehun.

 

*****

 

Sementara di rumah Sulli, Sulli sedang curhat tentang pacarnya pada Krystal. Krystal hanya manggut-manggut saat mendengar curahan hati Sullu padanya.

 

“Lalu, kau mau memutuskannya?” Tanya Krystal begitu Sulli menyudahi cerita panjangnya itu.

 

“Iya,” jawab Sulli. Krystal menggelengkan kepalanya.

 

“Berapa banyak pria yang sudah kau permainkan Sulli-a? Cobalah mencintai pria yang satu ini, jangan pernah merasa bosan padanya. Kalau dia sudah tidak sebaik seperti sekarang di matamu, baru kau putuskan dia,” jelas Krystal panjang lebar. Sulli mengangguk.

 

“Lalu, apa kau menyukai pria itu?” Tanya Sulli. Krystal menautkan alisnya.

 

“Siapa pria yang kau maksudkan itu?” Sulli menghela napas dan menjawab, “Tentu saja Kai.” Dan Krystal langsung membelalakan matanya seketika.

 

Iklan

7 pemikiran pada “Enemy Becomes Love (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s