Chapter Of Our Life (Chapter 5)

Chapter of Our Life (Part 5)

 

Title     : Chapter of Our Life (Part 5)

Genre : Family, Friendship, Angst

Length : Chapter

Rank    : PG-15

Main Cast :

  1. Do Kyungsoo as Kim Kyungsoo
  2. Byun Baekhyun as Kim Baekhyun
  3. Park Chanyeol as Park Chanyeol

Support cast:

  1. Oh Sehoon as Park Sehun
  2. Lee Youngra (OC)
  3. Cho Seorin (OC)
  4. Park Jungsoo aka Leeteuk as Park Jungsoo
  5. Kim Heechul as Kim Heechul

Author : Han Minra aka RahmTalks

chapter of our life_

AN       : Part ini lumayan panjang dan mungkin agak membosankan. Miankan author ini…

 

***

 

Kyungsoo

Hyung, apa kau pernah mengalami saat-saat dimana jantungmu berdetak lebih cepat dan darahmu mengalir dengan sangat deras saat kau sedang dekat dengan seseorang?

 

Chanyeol

Apa maksud kalian selama ini? Kalian ingin mengelabuhi keluarga kami? Memeras kami?!

 

=== CHAPTER OF OUR LIFE===

 

 

Saat ini, appa memperkenalkanku dan Baekhyun hyung kepadanya, mungkin appa menyadari bahwa Sehun kebingungan. Beberapa hari yang lalu dia memanggilku dan Baekhyun hyung dengan panggilan ‘hyung’ namun saat memorinya kembali, dia seperti berfikir ‘kenapa kemarin aku memanggil mereka hyung, sementara aku hanya mempunyai satu orang hyung.’

Aku menebak nebak responnya, apakah dia akan menolak kami atau menyambut kami dengan baik. Namun itu segera terjawab ketika Sehun mengatakan,

“Annyeonghaseyo. Selamat datang di keluarga Park. Sehun imnida.” Kalimat yang ia ucapkan begitu indah. Dia menyambut kami dengan sangat baik dan ramah.

Lalu kami mengobrol, tertawa, bercanda, layaknya keluarga seutuhnya. Sungguh sebuah kebahagiaan yang amat besar bagiku. Baekhyun hyung pasti juga berfikir seperti itu.

Hari sudah malam namun cerita demi cerita tak pernah berhenti dari kami. Mengalir begitu saja layaknya aliran sungai yang tak ada habis-habisnya.

“Ini sudah terlalu malam. Kami pulang dulu.” Kata Seorin noona sambil melirik ke arah Youngra.

“Akan kuantar.” Kataku dan Chanyeol hyung bersamaan.

Ups! Ini memalukan, bagaimana jika mereka berfikir yang macam-macam? Kalau Seorin noona sudah jelas, dia yeojachingunya Chanyeol hyung. Nah, aku? Eh, aku kan sahabatnya, tentu saja tak apa jika aku mengantarnya. Lalu, kenapa aku gugup? Dan kenapa aku malah berfikiran seperti ini?

“Haha,… kalian kompak sekali.” Kata Baekhyun hyung.

“Ne. Kalian cocok menjadi saudara. Kyungsoo hyung, biarkan Chanyeol hyung saja yang mengantar mereka karena dia naik mobil. Lagipula aku masih ingin bercerita banyak denganmu.” Kata Sehun.

“Arraseo. Hati-hati di jalan. Annyeong.” Kataku.

“Annyeong.” Lalu mereka keluar dari ruang rawat Sehun.

“Kyungsoo, Baekhyun, aku dan Eun-ssi pulang dulu. Nanti aku akan kesini lagi untuk menggantikan kalian.” kata appa.

“Ne.” Jawab kami serempak.

“Sehun, jangan banyak mengobrol dan jangan tidur terlalu larut. Arra?”

“Arraseo, appa.”

“Baik, aku pergi.”

 

===

 

Author’s POV

Dua hari kemudian Sehun diijinkan untuk pulang dan esoknya dia sudah mulai masuk sekolah seperti sedia kala diantar sopir pribadinya. Dia berjalan beriringan dengan Kyungsoo dan selama perjalanannya menuju kelas, beberapa anak ada yang berbisik-bisik dan bahkan ada yang secara terang-terangan bertanya padanya. Dia menjadi cukup populer di sekolah melalui kisahnya.

“Sehun? Itu benar Sehun kan?”

“Annyeonghaseyo Sehun…”

“Akhirnya kau masuk juga. Kau tambah kurus ya.”

“Kau kapan ikut ekstra futsal lagi?”

“OMO! Itu Sehun! Aigoo… lama tak jumpa dia makin tampan saja.”

“Kemana saja dia? Kenapa baru keliahatan?”

“Dia anak baru ya? Tak pernah lihat.”

“Kemarin tim kita ikut pertandingan, kita mendapat juara 2!! Lumayan kan, coba kau ikut pasti kita mendapat juara 1.”

“Katanya dia habis kecelakaan ya?”

“Kata teman sekelasnya, kecelakaan yang dialami sangat parah.”

“Mian, kemarin-kemarin aku tak menjengukmu. Jujur, baru sekarang aku tahu kalau kau tak masuk karena kecelakaan. Kukira kau jalan-jalan ke luar negeri.”

“Apa kabar Sehun…”

“Sebulan yang lalu aku ke rumah sakit, tapi ternyata kau tak dirawat di sana ya.”

“Kenapa kau masuk sekarang? Kenapa tidak besok saja? Kau tahu? Hari ini ada pelajaran Lee songsaenim dan Kang songsaenim.”

“Senang bisa melihatmu masuk lagi.”

“Kenapa kau tak masuk lama sekali? Separah itukah?”

“Kau sudah sembuh total kan?”

Kurang lebih seperti itu suara teman-teman satu sekolahnya yang beberapa diantaranya adalah teman sekelasnya dan hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman.

“Kehadiranmu di sekolah menjadi peristiwa paling fenomenal.” Kata Kyungsoo.

“Kau bisa saja.”

“Sehun-ah… Kyungsoo-ya.” Sambut Youngra ketika mereka tiba di kelas.

“Annyeong.” Kata Sehun dan Kyungsoo.

“Aku sudah memikirkan bagaimana posisi duduk kita. Satu minggu lagi Sena pindah sekolah dan nantinya aku akan menduduki bangkunya yang sekarang. Nah, berhubung tempat duduknya ada di belakang tempat duduk kita yang sekarang, jadi kita masih bisa berdekatan. Untuk sementara aku akan duduk disana, kalian duduk disini berdua.” Kata Youngra sambil menunjuk bangu di pojokan kelas yang sengaja ia minta tadi pagi pada tukang kebun sekolah.

“Biar aku saja yang duduk disana, bukankah dulu kau pernah bilang jika Sehun sudah masuk aku harus angkat kaki dari sini.” Kata Kyungsoo.

“Ani. Tidak usah sungkan. Dulu aku hanya bercanda.” Kata Youngra dan langsung berlari ke tempat duduknya yang baru kemudian melambai ke arah Kyungsoo dan Sehun.

“Biarkan saja. Dia memang tipikal orang seperti itu jadi tidak usah merasa tak enak padanya.” Kata Sehun kemudian meletakkan tasnya.

At Other Place

TIN TIN

“Ya! Park Chanyeol! Aku sudah bertunas menunggumu. Kau sadar ini sudah pukul berapa?!” teriak Seorin begitu Chanyeol membuka kaca jendelanya untuk melihat Seorin.

“Sudah jangan cerewet! Masuk sekarang atau kutinggal?”

“Aish! Ne.”

“Kenapa lama sekali sih?! Kau tahu kan ada berapa banyak lampu merah yang nanti kita lewati? Kau nekat sekali berangkat sekolah di detik-detik terakhir seperti ini.”

“Sudahlah Seorin. Pagi-pagi sudah mengomel.”

Seorin menoleh ke belakang. “Eh… Rupanya ada kau Baekhyun. Bagaimana tidak marah? Aku tidak mau masuk BK gara-gara terlambat.”

“Sudahlah! Jangan berisik! Mengganggu konsentrasiku saja. Lagipula itu belum terjadi kan? Jadi percayalah, dengan kelincahanku mengemudi aku pasti bisa sampai tepat waktu.” Kata Chanyeol lalu menambah kecepatan laju mobilnya.

“Iya, kau memang calon pembalap, jadi kupercayakan nyawaku dan Seorin padamu… Hahahaha. Lagipula ini masih kurang 10 menit.” Baekhyun membela Chanyeol. Sementara Seorin mendengus kesal karena tak ada yang berpihak padanya.

“Aigoo… Jangan memasang muka seperti itu. Kalau mukamu kau tekuk seperti itu nanti bedakmu bisa pecah-pecah.”

“Ya! Kau masih saja mencaciku! Aku tak pernah memakai bedak setebal tembok!”

“Nah.. kan.. mulai ada retakan… Hahahaha…”

Baekhyun tertawa puas melihat kejadian yang tak langka lagi baginya di pagi nan cerah itu.

“Sudah jangan marah. Sebentar lagi kita sampai jadi siap-siap memasang muka ter-rupawan yang kau punya untuk mengubah pikiran pak satpam yang akan menutup gerbang. Lihat saja, dia sudah mulai menarik gerbang.”

Chanyeol mempercepat laju mobilnya dan,

TIN TIN….

Satpam itu sampai hampir meloncat karena kaget. Chanyeol membuka kaca pintu mobil dan menjulurkan kepalanya.

“Pak… Tolong bukakan sebentar. Kami sudah kelas tiga, jadi tidak boleh tidak masuk ke sekolah.”

“Ne. Tapi kalian boleh masuk kelas setelah berhadapan dengan guru BK.”

“Tidak ada waktu lagi. Sebentar lagi Kang songsaenim pasti sudah sampai di kelas.” Gumam Baekhyun. Kemudian ia membuka kaca mobil dan berteriak, “Ajushhi… Lihat kesini!!”

Semua menoleh.

“Bbuing Bbuing…” Baekhyun akhirnya memutuskan untuk melakukan itu untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya. Chanyeol dan Seorin hanya menatapnya sambil memasang ekspresi O_O. Satpam itu hanya diam terpaku melihat pesona yang dipancarkan Baekhyun. Merasa tidak ada reaksi akhirnya Seorin membantu.

“Ajusshi… Bbuing Bbuing… Bbuing Bbuing…”

Kemudian disusul oleh Chanyeol.

“Pak… Bbuing bbuing… bbuing bbuing… bbuing bbuing…” yang berpuluh puluh kali lebih dahsyat daripada Baekhyun dan Seorin.

Akhirnya karena tak tega, satpam itu mengizinkan mereka masuk tanpa harus menghadap ke guru BK. Mereka lari terburu-buru sepanjang koridor kelas, kecuali Baekhyun yang hanya bisa sebatas berjalan kaki dengan ekspresi panik. Yang membuat ini lebih menyedihkan adalah karen kelas mereka berada di lantai dua, paling ujung pula. Tepampang jelas bayangan saat mereka mengetuk pintu dan mendapati ekspresi wajah Kang songsaenim yang sangat kejam dan gahar.

Karena rasa kesetiakawanan, Chanyeol dan Seorin membantu Baekhyun berjalan dan bersama-sama menghadapi kenyataan terpahit yang siap menjadi cobaan hidup mereka.

“Kajja. Semoga masih sempat. Semoga dia terlambat sedikit atau apalah.” Kata Chanyeol.

TOK TOK TOK

CKLEK

Disanalah, berdiri Kang songsaenim dengan ekspresi andalannya yang khusus dipasang untuk murid-murid yang melanggar aturan.

“Sudah tahu kan, kalian harus melakukan apa?” tanyanya.

“Ne. Songsaenim.” Kata Chanyeol dan Seorin tanpa perlawanan sementara Baekhyun masih bingung. Kang songsaenim menutup pintu lagi.

“Kita harus apa? Aku tak mengerti.”

“Berdiri di sini sampai jam pelajarannya selesai dan sepulang sekolah harus merangkum materi  pelajarannya di perpustakaan.” Terang Chanyeol.

“Menyesal tadi aku berangkat denganmu kalau begini jadinya.” Omel Seorin.

“Cerewet sekali. Kau pikir aku mau? Jangan menggerutu terus.”

“Jelaskan mengapa kau bisa terlambat! Kuharap ini masuk akal.”

“Tadi pagi ban mobil Chanyeol bocor. Karena sudah janji akan menjemputmu, maka dia menunggu sopir pribadinya Sehun pulang dari mengantar Sehun dan memakai mobil itu. Jadi ini semua bukan salah Chanyeol.” Kata Baekhyun.

“Kenapa kau tak bilang saja? Kan kau bisa membatalkannya dan kita berangkat sendiri-sendiri.”

“Aku sudah terlanjur janji, jadi harus kutepati.” Kata Chanyeol sambil tersenyum lebar.

“Kau masih belum berubah ya. Ini yang kusuka darimu.” Kata Seorin dan merekapun bertemu pandang cukup lama.

“Ehem… apa kehadiranku disini mengganggu situasi dan kondisi?” tanya Baekhyun.

CKLEK

“Semua aman, tentram, dan damai sebelum kalian datang. Diam atau kusuruh membersihkan toilet!” kata Kang songsaenim.

“Ehehe… Keadaan yang memaksa, songsaenim. Baik, kami akan berusaha untuk diam meskipun sangat sulit.” Kata Chanyeol sambil menyinggung senyum super lebar.

“Dasar anak jaman sekarang.” Gerutu Kang songsaenim sambil menutup pintu kembali.

“Lebih baik kita membaca buku pelajarannya sekarang dan sekalian merangkumnya supaya nanti siang kita tidak terlalu lama.” Usul Baekhyun.

“Baekhyun, kau belum tahu betapa kejam dan liciknya guru itu. Kuberitahu sesuatu, nanti di perpustakaan, kau akan dihadapkan dengan tiga tumpuk buku nan tebal dan beberapa lembar kertas. Nah, kau diminta merangkum buku-buku itu sampai kertas yang diberikan penuh dengan tulisan.” Terang Seorin dan Chanyeol mengangguk semangat sambil mengacungkan jempol.

“Mwo?? Berapa lembar kertas yang dia berikan?”

“Tergantung. Bisa sepuluh, bisa dua puluh, bahkan bisa seratus.”

“Hukuman macam apa itu?! Tahu begini tadi aku melawan. Kenapa kalian diam saja?”

“Tak ada gunanya. Kalau dilawan, hukumannya malah ditambah.”

“Kenapa tadi tidak bolos saja ya?” cetus Chanyeol.

“Kau tidak ingat nasib Hyeji dan Daehee dulu? Gara-gara bolos pelajarannya guru licik itu, dia diminta merangkum buku selama seminggu. Itu pelajaran dari kelas X sampai XII loo…”

“Sekejam itu ya…” kata Baekhyun miris.

“Eh, kok kita jadi tukang gosip begini? Ah, gara-gara kutil ini! Baekhyun, kau jangan mau terinfeksi virusnya.” Kata Chanyeol dan Seorin sudah siap melayangkan pukulannya.

CKLEK

“Jangan berisik!”

“Ne ne ne ne ne.” Kata mereka latah.

“Dia dengar yang tadi tidak ya?” kata Seorin berbisik.

“Molla. Sssssstttt….”

 

===

 

“Masih lama hyung?” tanya Sehun.

“Sudah tentu, aku baru menyelesaikan lima lembar. Kau mau menunggu hingga lembar ke 30 berakhir?”  Sehun dan Kyungsoo menggeleng. Mereka sedang di perpustakaan menunggui Chanyeol, Baekhyun, dan Seorin yang harus menjalani hukuman karena seharusnya mereka pulang bersama.

“Baiklah hyung. Aku dan Kyungsoo hyung pulang dulu.”

“Kau tidak jadi ke makam eomma?”

“Tentu saja jadi. Aku akan naik taksi.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan dan jangan pulang malam-malam.”

“Aku sudah tahu. Memang siapa yang mau terus berada di kuburan sampai malam.”

“Iya ya. Hehehe…”

“Annyeong hyung, Baekhyun hyung dan Seorin noona juga… Annyeong.” Kata Kyungsoo sambil melambai.

“Annyeong semuanya…” kata Sehun sambil melambai juga. Mereka pergi sambil diantar Chanyeol sampai pintu perpustakaan.

“Kalian sudah sampai berapa halaman?” tanya Chanyeol.

“Dua belas.” Kata Seorin.

“Sepuluh.” Kata Baekhyun.

“Huh! Cepat sekali.” Gerutu Chanyeol.

 

===

 

Suasana di sepanjang jalan sangat panas dan cerah, namun begitu menginjakkan kaki di makam itu, suasana berubah menjadi mendung dan suram. Sehun dan Kyungsoo menapaki jalan setapak itu. Jalan yang dipenuhi rumput dan berbatu, kemudian mereka berhenti di sebuah makam yang di atasnya tergeletak dua buket bunga dimana yang satunya masih terlihat segar pertanda orang terakhir yang kesana pergi belum lama.

“Appa… Dia sangat menyayangi eomma. Dia pasti sangat terpukul dengan kematian eomma. Sayang saat itu aku tak ada disana untuk menghiburnya.” Kata Sehun.

Kyungsoo agak terkejut karena ini bertentangan dengan cerita Baekhyun yang mengatakan bahwa kata Chanyeol, appa mereka tidak pernah memperhatikan keluarganya sama sekali. Namun ia memutuskan untuk diam dan mengelus punggung Sehun.

“Apa yang kau lakukan saat sedang merindukan eommamu?” tanya Sehun.

“Biasanya saat merindukan orang, aku mengingat ingat kejadian indah saat aku bersama orang itu. Tapi karena aku tidak pernah melihat wajah eomma secara langsung, jadi saat merindukannya aku harus puas hanya dengan menatapi wajahnya lewat foto.”

“Kau sangat sabar, aku harus belajar darimu.”

“Eomma? Bagaimana kabarmu hari ini? Baik saja kan? Bagaimana keadaan surga saat ini? Oh iya, apa disana eomma bisa melihat wujud Tuhan? Ah… seharusnya aku tak bertanya macam-macam. Kabarku disini baik-baik saja dan jauh lebih baik daripada saat kemarin aku mengunjungimu. Hari ini aku sudah mulai masuk sekolah lagi dan rasanya senaaang sekali, aku merindukan teman-temanku dan juga guruku. Tapi tetap saja orang yang kurindukan nomor satu adalah eomma. Eomma, entah sampai kapan aku juga tak tahu, yang pasti hingga saatnya tiba kita semua akan berkumpul lagi sebagai keluarga yang utuh dan bahagia di surga. Tapi aku juga tak berharap itu segera terjadi karena aku masih punya kehidupan yang harus kujalani. Seperti kata eomma, hidup hanya sekali jadi jangan pernah menyia nyiakannya. Iya kan? Apa eomma masih ingat? Itu terekam jelas di otakku seperti kaset rusak. Haha…” Sehun mengucapkan kalimat itu dengan air mata yang sudah memenuhi matanya, mendesak agar segera keluar.

“Mianhae eomma. Aku tahu aku sudah berkali kali mengatakan ini, semoga kau tak bosan. Aku, merasa bersalah, sangat bersalah atas kematianmu. Aku menyesali perbuatanku yang tidak mau menuruti perkataanmu. Aku anak yang tidak berbakti pada orang tua. Setelah ini aku berjanji, akan menuruti semua perkataan appa dan berusaha membuat hatinya senang. Oh iya, apa tadi appa kesini? Jika iya, berarti dugaanku benar dia memang sangat sangat sangat sangat sangat mencintai eomma.” Kali ini air mata Sehun benar-benar mengalir keluar.

“Saranghae eomma. Kau sangat berharga bagiku dan aku menyayangimu lebih dari apapun.”

Kyungsoo yang mendengar kata demi kata yang dilontarkan Sehun juga tak kuasa menahan air mata agar tak keluar. Namun pemandangan mengharukan di hadapannya memaksanya untuk mengingat keluarganya yang dulu, yang tahu-tahu saat ia lahir hanya dapat melihat appanya.

Sehun berbalik.

“Kita akan pergi ke Incheon”

“Untuk apa?”

“Mengunjungi eomma dan appamu. Tidak adil jika hanya aku yang mendapat kesempatan ini sementara kau dan Hyungmu tidak.”

“Tidak usah, aku tak apa-apa. Kami sudah biasa.”

“Kali ini saja. Apa kau tak merindukan mereka? Apa kau tak ingin mampir dengan hanya sekedar berkata ‘Annyeong’ pada mereka?”

“Aku ingin. Aku sangat merindukan mereka.” Kyungsoo menunduk.

“Maka dari itu. Nanti aku akan berbicara dengan appa agar mengizinkan kita kesana.”

“Gomawo.”

Mereka pulang dengan dikuasai oleh pikiran mereka masing-masing.

 

===

 

At Night

“Jadi appa mengizinkan?”

“Ne. Tapi berangkatnya hari Minggu saja, kau sudah terlalu lama hiatus dari dunia pendidikan jadi jangan coba-coba bolos sekolah.”

“Gomawo.” Sehun tersenyum girang.

“Tapi mianhae Kyungsoo ya, Baekhyun-ah, mulai besok hingga dua minggu kedepan aku harus pergi ke China karena ada urusan. Jadi aku tidak bisa ikut bersama kalian.”

“Yahh… Berarti mulai besok rumah ini jadi lebih sepi.” Keluh Sehun.

“Kau sekarang punya banyak saudara, pasti tidak akan terasa sepi.”

“Benar juga.”

“Kalau begitu aku juga ikut. Biar nanti aku yang mengemudi.” Kata Chanyeol.

“Wahh… pasti sangat ramai.” Kata Kyungsoo.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 KST. Semua anggota keluarga menuju ke kamar masing-masing.

“Kau kenapa hyung? Tidak biasanya kau betah berlama-lama diam.”

“Gwaenchana. Aku hanya merasa lelah, hukuman Kang songsaenim benar-benar tiada tandingannya.”

“Bagian mana yang pegal? Sini aku pijit.”

“Semuanya.. Kau bersedia kan?” Baekhyun mengeluarkan puppy eyesnya. Sementara Kyungsoo mengalihkan pandangan supaya tidak melakukan kontak dengan mata itu, namun pada akhirnya usahanya gagal.

“Arraseo, tapi hanya 10 menit ya.”

“Ne.”

Setelah itu mereka tiduran, Kyungsoo merebahkan diri di ranjang Baekhyun bersebelahan dengan hyungnya itu.

“Hyung, keluarga ini sangat baik.”

“Ne. Mereka mau menerima kita sebagai bagian dari keluarga ini. Entah dengan apa kita bisa membalas kebaikan mereka.”

“Aku juga tak tahu. Lebih baik kita tanyakan pada eomma dan appa besok Minggu.”

“Boleh-boleh saja.”

“Aku sudah tidak sabar. Jam, berputarlah lebih cepat! Aku ingin hari segera berganti menjadi Minggu.”

“Tinggal beberapa jam lagi.”

“Masih hitungan hari hyung, bukan jam.”

Keheningan menyelimuti mereka, sesaat kemudian Kyungsoo teringat sesuatu.

“Hyung aku ingin bertanya, karena aku yakin kau lebih berpengalaman daripada aku.”

“Hmm”

“Hyung, apa kau pernah mengalami saat-saat dimana jantungmu berdetak lebih cepat dan darahmu mengalir dengan sangat deras saat kau sedang dekat dengan seseorang?”

“Hmm”

“Itu bukan penyakit jantung kan hyung?”

“Hmm”

“Kemarin-kemarin aku sudah bertanya pada Chanyeol hyung karena wajahnya sangat meyakinkan. Dia bilang itu namanya cinta, karena dia juga merasa begitu saat dekat dengan Seorin noona. Apa kau sependapat dengannya hyung?”

“Hmm”

“Tapi saat aku bertanya apa itu cinta, dia belum sempat menjelaskan karena ada urusan mendadak. Katanya jika membicarakan cinta, membutuhkan waktu tiga hari tiga malam. Apa cinta serumit itu hyung?”

“Hmm”

“Kalau begitu, bisakah kau menceritakan padaku, apa itu cinta?”

“….”

“Can you tell me what is love?” Kyungsoo mengulangi pertanyaannya.

“….”

“Hyung? Yah. Kalau sudah ngantuk bilang saja. Untuk apa tadi aku bicara dengan orang setengah sadar.”

Kyungsoo menghela nafas, ‘Apa aku sedang jatuh cinta? Pada Youngra? Sulit dipercaya. Pasti hanya suka, atau kagum. Ya, hanya sebatas itu.’ Batinnya.

 

===

 

Kyungsoo’s POV

Sepertinya Baekhyun hyung benar-benar lelah, biasanya dia raja begadang dan gara-gara dia aku juga sering begadang. Sudah pukul 11.00 KST dan aku belum bisa memejamkan mataku.

Drrrttzzzz

Kurasakan ponsel di sebelahku berbunyi. Siapa yang mengirim SMS selarut ini?

From : Park Sehun

Kau sudah tidur? Jika belum kutunggu kau di kamarku sekarang.

Ternyata dia juga belum tidur.

Aku menutup inbox dan dapat kulihat wallpaper ponselku adalah foto kami bertiga –aku, Sehun, dan Youngra- yang diambil secara paksa oleh Youngra, dia juga yang memaksa kami untuk berfoto bersama, dan dia juga lah yang mati-matian mengganti wallpaper ponselku jadi seperti ini. Tingkahnya kekanakan, tapi sepertinya itulah yang membuatku menyukainya. Dia gadis yang apa adanya, tidak seperti yeoja lain yang lebih mementingkan penampilan.

Antara Youngra dan Sehun, mereka bersahabat sejak kecil dan jika kulihat ada yang lain saat mereka saling menatap, seperti ada magnet tersendiri. Untuk yang satu ini aku berputus harapan, lebih baik aku memendamnya sendiri karena tidak mungkin aku menjadi orang diantara keduanya. Lagipula kami bersahabat, dan aku tidak ingin ini merusak persahabatan kami. Ini hanya perasaan suka, jadi sebentar lagi pasti akan hilang dengan sendirinya. Huft, beruntung tadi Baekhyun hyung tidak begitu memperhatikan ucapanku.

Aku segera menuju kamar Sehun, barangkali dia membutuhkan sesuatu atau apa.

TOK TOK

Tak lama kemudian Sehun membuka pintu dan berbisik “Masuklah.” Kemudin menutup pintunya lagi.

“Ada perlu apa kau memanggilku?” aku juga ikut berbisik.

“Kau tidak mengantuk kan?” aku menggeleng.

“Aku juga. Jadi, kau disini saja menemaniku.”

“Mwo? Menemanimu? Aku masih normal!”

“Sttttt… Jangan berisik! Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu.”

“Arraseo.”

“Apa?” tanyaku begitu sudah duduk di atas ranjangnya.

“Ini.. Bantu aku mengerjakannya. Hehe.”

“Kau memanggilku hanya untuk ini? Akan kuambilkan pekerjaanku dan kau mencontek saja ya.”

“Shireo! Kau harus menerangkan bagaimana caranya mengerjakan ini. Jebal… besok akan kutraktir makan di kantin sampai puas.”

Aku menghela nafas, “Baiklah… Tapi aku tak terlalu baik dalam hal ini.”

“Gwaenchana. Masih lebih mending daripada aku.”

Setelah dua jam memberi les privat matematika pada Sehun, rasa kantuk belum juga datang. Besok kami harus sekolah, tidak tidur semalaman sama saja mengambil resiko dihukum guru karena tidur di kelas.

“Apa aku menderita insomnia ya? Kenapa tak ada tanda-tanda ingin tidur?”

“Aku juga. Apa kira-kira yang membuat mengantuk? Mengobrol kah? Menonton film kah? Bermain puzzle kah? Atau diam saja di atas tempat tidur?”

“Aha! Aku teringat sesuatu.” Sehun menjentikkan jari. Aku menunggunya mengambil sesuatu di lemari pakaiannya.

“Tara….” Dia menunjukkan sebuah ponsel jadul.

“Maksudnya?”

“Apa kau sering mengantuk saat pelajaran Kang songsaenim?”

“Ne. Tapi aku tidak berani tidur karena dia galak.” Aku masih belum mengerti kemana arah pembicaraan anak ini.

“Beberapa bulan yang lalu aku merekam suaranya saat mengajar dengan ponsel ini. Jika aku tidak bisa tidur, aku mendengarkannya. Alhasil, aku cepat tertidur.”

“Hahaha… Kau memang unik.”

“Kau tidur disini saja.”

Kami merebahkan diri di kasur. Tak lama kemudian terdengar suara Kang songsaenim yang amat membosankan. Benar saja, aku jadi mengantuk.

 

===

 

Author’s POV

Next Morning

“Appa, mianhae kami tak bisa mengantar sampai bandara. Kau sendiri yang bilang bahwa aku tak boleh bolos sekolah.”

“Gwaenchana. Jika kalian mengantarku sampai sana malah akan kumarahi kalian. Jaga diri kalian baik-baik. Jika ada sesuatu, telfon saja aku. Jangan nakal, terutama kau Sehun.”

“Tenang saja. Aku kan anak baik. Ajusshi, setelah sampai bandara, pastikan appa tidak tertidur saat menuggu keberangkatan pesawat.”

“Arraseo.” Kata Sopir itu menahan tawa.

“Haha… kau masih mengingat itu rupanya. Annyeong.”

“Annyeong!” kata keempat anak Jungsoo dan Eun ahjumma.

“Appa! Hati-hati…” teriak Chanyeol.

Mobil itu sudah melaju meninggalkan kediaman Park.

“Kenapa kalian diam saja? Lihat! Ini sudah pukul setengah tujuh, kalian tidak mandi?!” kata Eun ahjumma.

Hening…

Keempatnya saling bertatapan kemudian berlari ke dalam kecuali Baekhyun yang tertinggal jauh di belakang.

“Aku dulu.” Kata Sehun.

“Kau mandi di kamar mandi di dalam kamar appa!”

“Andwae! Terlalu jauh dengan kamarku. Kau saja hyung.”

“Hyung, kau mandi di bawah saja. Akan kuambilkan seragammu.” Kata Kyungsoo yang mengerti keadaan hyungnya.

“Arraseo.”

Eun ahjumma ikut kebingungan menghadapi anak-anak ini. Mereka berjalan kesana kemari entah mencari apa. Suasana serasa berubah seperti di pasar.

“Kalian tidak sarapan?”

“Tidak.” Kata mereka serempak dan setengah berlari menuju mobil, kecuali Chanyeol yang kemudian berbalik arah dan mencomot satu roti tawar.

“Aku butuh energi.”

Keadaan di mobil pun tidak kalah heboh dibanding dengan keadaan di dalam rumah. Baekhyun masih memakai kaus kaki dan sepatu. Kyungsoo belum menyisir rambut dan mengancingkan baju. Sementara Sehun malah belum memakai baju dan sepatu.

“Hyung! Apa yang kau tunggu?”

“Sebentar, kau tidak lihat aku sedang apa?!” Kata Chanyeol yang kesusahan memakai celananya. Dan sekarang terkuaklah sudah, boxer berwarna biru dengan gambar ikan paus yang biasa tergantung di jemuran adalah milik Chanyeol.

 

===

 

At School Canteen

“Buahahaha… Jadi boxer menjijaikan di jemuran itu milikmu hyung?” kata Sehun. Mereka –Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, dan Sehun- sedang berkumpul di kantin.

“Memangnya kenapa?” jawab Chanyeol sinis.

“Ani. Hanya saja, aku tak menyangka. Hahahaha…” kata Kyungsoo mengikuti jejak Sehun mengejek Chanyeol.

“Pagi tadi benar-benar… Aish! Aku sampai lupa belum menjadwal buku.” Kata Kyungsoo yang masih diiringi dengan tawanya.

“Aku juga. Padahal tadi ada tugas yang harus dikumpulkan. Huhu.” Kata Chanyeol.

“Tidak heran jika kau lupa hyung. Yang kau ingat kan hanya boxer unyumu itu. Hahaha….” Sehun melanjutkan cemoohannya.

Nasi goreng kimchi untuk mengganjal perut mereka yang sudah meraung dari tadi sudah datang.

“Lupakan saja kejadian tadi pagi! Membuatku ingin mual saja.” Kata Chanyeol sementara Sehun masih melanjutkan tawa hingga perutnya sakit. Sedangkan Kyungsoo dan Baekhyun hanya tersenyum.

“Baekhyun, jangan tidur disini. Nanti Lee songsaenim marah.” Baekhyun tidak menjawab, mukanya merah dan pucat.

“Kau sakit?” Jongin memegang jidat Baekhyun.

“OMO! Kau panas sekali! Kajja kuantar ke UKS.”

“Tidak usah. Aku masih kuat.”

“Jangan bercanda. Guru ini lumayan killer, bisa tambah parah penyakitmu ini.”

“Permisi songsaenim.” Jongin mengangkat tangannya.

“Ya?”

“Aku minta izin mengantar Baekhyun ke UKS. Dia sakit, songsaenim.”

Lee songsaenim menuju ke meja Jongin-Baekhyun seakan tidak percaya dengan perkataan Jongin. Guru itu memegang jidat Baekhyun dan melepasnya dengan cepat.

“Baiklah. Tapi setelah mengantarnya kau harus segera kembali ke kelas. Tidak ada acara mampir di kantin dan sebagainnya.” Sepertinya guru ini sudah hafal betul dengan sikap Jongin.

“Arraseo.” Jongis mendengus. Ia menuntun Baekhyun yang berjalan lemas di sebelahnya.

Jongin menutup tirai UKS agar tak menyilaukan mata Baekhyun.

“Apa kepalamu pening?”

“Lumayan.”

“Aku rasa kau demam. Akan kupanggilkan penjaga UKS agar merawatmu. Aish! Kemana orang itu…”

“Jongin-ssi…”

“Ne?”

“Gomawo.”

Setelah kembali bersama petugas UKS, Jongin pergi meninggalkan Baekhyun. Petugas itupun memberikan beberapa obat untuknya sehingga Baekhyun bisa tidur dengan pulas.

 

===

 

At Night

Baekhyun tertidur pulas di ranjang, di sekelilingnya ada beberapa orang menatapnya dengan khawatir.

“Panasnya belum turun juga. Apa obat dari Kwon uisa belum bereaksi juga?” Kyungsoo khawatir.

“Biasanya obat darinya cukup manjur. Apalagi ini hanya demam, kita tunggu saja.”

“Ne. Kita tunggu saja, semoga dia cepat sembuh dan bisa ikut ke Incheon besok.” Sehun menambahkan.

“Sebaiknya kita keluar, biarkan dia istirahat.” Kata Eun ahjumma.

“Aku akan tetap disini, mungkin nanti dia butuh sesuatu.” Kata Kyungsoo.

Hanya ada Baekhyun dan Kyungsoo di kamar itu.

“Hyung, lekaslah sembuh. Bukankah kau ingin bertemu eomma dan appa besok? Jika kau sakit mana bisa ikut.” Kemudian dia tidur.

 

===

 

Next Morning

“Ya! Kau masih belum sembuh benar.”

“Aku sudah tidak apa-apa.”

“Benar kata Chanyeol, sebaiknya kau istirahat di rumah.” Kata Eun ahjumma.

“Hyung, appa ingin bicara denganmu.” Sehun datang sambil memberikan sebuah benda kotak pipih, kecil, berwarna putih.

“Ye… ob… seyo?”

“…..”

“Aku sudah baikan…”

“…..”

“Tapi appa, aku sudah sehat.”

“…..”

“Baiklah kalau begitu.”

“…..”

“Annyeong.”

KLIK

“Appa bilang apa?”

“Dia melarangku ikut bersama kalian. Bagaimana dia tahu kalau aku sakit? Kau pasti yang mengadu. Iyakan, Sehun?”

“Hehe… Appa bertanya bagaimana keadaan kita. Kujawab saja sejujur-jujurnya, tidak salah kan?”

“Sudah jangan sedih, kita bisa kesana lagi setelah kau sembuh. Lagipula Incheon dan Seoul kan tidak begitu jauh.”

“Gwaenchana hyung, kali ini kesehatanmu lebih penting. Akan kusampaikan salammu pada eomma dan appa.”

“Ne.” Jawab Baekhyun dengan sedih.

“Nah, sekarang kau harus sarapan dan minum obat agar lekas sembuh.” Eun ahjumma siap menyuapkan sesendok bubur ke arah Baekhyun.

“Ahjumma, tidak usah repot. Aku makan sendiri saja.”

“Sehun, Kyungsoo! Cepat mandi sana!” kata Chanyeol.

“Kau sendiri juga belum mandi. Dasar.” Kata Sehun.

“Nanti. Yang tua mengalah.”

“Akhirnya kau sadar juga. Annyeong ajusshi, anak-anak imut ini mau mandi dulu.”

“Kapan kau berhenti mencemoohku Park Sehun!!”

“Hyung, kami berangkat dulu. Eh, kau mau kemana?”

“Mau mengantar kalian sampai di luar.”

“Tidak usah, ingatlah dengan kondisimu. Seperti kami akan pergi jauh saja.” Kata Kyungsoo.

“Iya, paling nanti sore atau malam kami sudah kembali.” Tambah Chanyeol.

“Baiklah, hati-hati. Chanyeol, jangan mengebut. Arra?”

“Arraseo. Kau cerewet seperti appa.”

 

===

 

Baekhyun POV

‘Seperti kami akan pergi jauh saja.’ Kalimat Kyungsoo yang satu ini kenapa mengganggu pikiranku? Membuat kepalaku semakin pusing saja. Padahal hanya kalimat yang terkesan seperti candaan itu. Memang tidak begitu jauh tujuan mereka, dan aku yakin nanti malam mereka pasti sudah di rumah. Tapi kenapa ada firasat tak enak yang menggangguku? Seperti, akan ditinggal jauh oleh seseorang.

Tapi anggota keluarga ini kan memang ada yang sedang pergi jauh. Ah, mungkin karena aku terlalu merindukan appa, sudah dua hari ini aku tidak melihat senyumnya. Lebih baik aku tidur karena Kwon uisa memintaku untuk sering beristirahat. Aku tidak mau terjebak lebih lama dengan penyakit menyebalkan ini.

 

===

 

Author’s POV

“Kemana mereka pergi?”

“Molla. Aku masih terus mengikuti mereka dan arah mereka ke Incheon.”

“Mengarah ke kandang singa rupanya. Bagus sekali, jadi aku tak usah repot-repot kesana mereka malah menuju padaku. Terus ikuti mereka dan beri tahu perkembangannya.”

“Siap.”

At Other Place

Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka memasuki kota Incheon.

“Kau sering kesini hyung? Kenapa hafal jalan menuju kesini? Aku saja tak hafal.” Kata Kyungsoo.

“Aku pengendara ulung. Kau ingin pergi kemana? Akan kuantarkan. Aku hafal semua jalan di Korea Selatan.”

“Baik. Antar aku jalan-jalan ke seluruh pelosok Korea Selatan.” Kata Sehun.

“Siapa takut.”

“Hyung, kita sudah hampir sampai. Di depan, belok kanan.”

Mereka bertiga menapakkan kaki di pemakaman itu. Sekumpulan orang memakai pakaian serba hitam menciptakan suasana duka yang amat kental. Namun Kyungsoo tidak menghiraukan keadaan si sekitarnya itu. Dia fokus melangkah menuju ke makam kedua orang tuanya yang terletak bersebelahan.

“Eomma, appa. Aku datang.” Kyungsoo tersenyum.

“Sudah lama ya, aku tidak kesini.. Bagaimana keadaan kalian? Oh, iya kuperkenalkan ini Chanyeol hyung dan Sehun. Sekarang aku tinggal bersama keluarga Park, mereka baik sekali seperti kalian. Aku dan Baekhyun hyung bahagia tinggal bersama mereka. Mengenai Baekhyun hyung, dia tidak kesini karena dia sedang sakit. Tapi dia berjanji akan kesini ketika dia sudah sembuh.”

Kyungsoo berbicara lama sekali di makam itu. Seperti bicara sendiri. Sehun dan Chanyeol merasa iba dengan pemandangan itu. Tiba-tiba seseorang berpakaian hitam menghampiri mereka.

“K… Kyungsoo?”

Mereka menoleh. Sesaat kemudian Kyungsoo agak mundur menjauh.

“Kau benar Kyungsoo kan?” Namun Kyungsoo malah memperlebar jaraknya dengan orang itu.

“Maaf, anda siapa?” tanya Chanyeol.

“Kyungsoo, kau tak mengingatku nak? Aku Heechul.”

“Siapa?” tanya Sehun.

“Aku pamannya.”

Sehun dan Chanyeol kaget mendengar itu karena selama ini Kyungsoo dan Baekhyun bilang jika mereka sudah tak punya keluarga lagi.

“Kemana saja kau selama ini? Mari pulang bersamaku. Bibimu sakit, dia sakit karena terus memikirkan kalian. Pulanglah, dia membutuhkanmu.”

“Kau, selama ini membohongi kami? Kau bilang kau tak punya keluarga.”

“Ani hyung, ada sesuatu yang harus kujelaskan.”

“Apa maksud kalian selama ini? Kalian ingin mengelabuhi keluarga kami? Memeras kami?” kata Chanyeol tak sabar.

“Apa yang telah kau katakan pada mereka? Kau berbohong? Kau masih punya aku dan bibimu. Pulanglah, mana Baekhyun?”

“Aku tidak mau ikut denganmu. Hyung dengarkan penjelasanku dulu, aku dan Baekhyun tidak bermaksu…”

“Kalian penipu. Pulanglah ke keluargamu! Sudah baik aku tak berniat melaporkan kalian ke polisi atas tindakan penipuan. Sehun! Kajja kita pulang, kita kesini buang-buang waktu saja.” Chanyeol menarik Sehun.

“Tapi hyung, ada sesuatu yang ingin dia jelaskan. Lebih baik kita dengarkan dulu.”

“Kau masih percaya dengan penipu itu? Kurasa otakmu sudah dicuci olehnya.”

“Hyung, aku tidak seperti itu. Akan kujelaskan semuanya, izinkan aku ikut bersama kalian.” kata Kyungsoo.

“Maaf, pintu rumah kami terkunci untuk seorang penipu. Dan setelah pulang akan kuusir Baekhyun dari rumah. Aku yakin appa akan menyetujui keputusanku ini. Kajja Sehun! Kita tak punya banyak waktu untuk meladeni orang ini.” Chanyeol yang sudah geram mencengkeram tangan Sehun lebih erat dan menariknya lebih keras.

“Jangan hyung, dia sedang sakit. Kumohon hyung…” pinta Kyungsoo.

“Aku bukan hyungmu! Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Cih! Memuakkan!”

“Lebih baik kalian pulang. Akan kuurus Kyungsoo di rumah. Terimakasih karena kalian selama ini mau menampung Kyungsoo dan Baekhyun.” Kata Heechul.

“Kau harus membayar ganti rugi kepada keluarga kami.” Chanyeol menudingkan telunjuk tepat di depan muka Heechul.

“Lepaskan, hyung!” Sehun berusaha melepaskan tangan Chanyeol tapi kekuatan tangan besar itu tidak sebanding dengan tangan kurus Sehun.

“Akan kulaporkan appa jika kau tak menuruti perintahku.”

Akhirnya Sehun menuruti perkataan Chanyeol dan sesekali menoleh kebelakang, melihat Kyungsoo yang ekspresi wajahnya menggambarkan rasa takut. Kyungsoo berusaha menyusul Chanyeol dan Sehun namun dihadang oleh Heechul.

“Jebal. Ikutlah denganku, bibimu sangat membutuhkanmu. Aku tahu kau dan Baekhyun kabur karena tak tahan dengan perlakuanku dan istriku yang tak menyenangkan. Aku menyesal, aku minta maaf. Kami akan memulainya dari awal jika kau mengizinkan. Namun jika kau tak berkenan, akan kukembalikan kau ke keluarga itu dan kubantu kau menjelaskan semuanya. Aku juga siap jika kau ingin melaporkan ke polisi atas tindak kekerasan kami waktu itu.”

“Bagaimana jika perkataanmu tidak benar?”

“Kau boleh membunuhku.”

Hening sesaat.

“Kau masih belum percaya?”

“Ani. Aku hanya berusaha memahami sikapmu yang berubah drastis ini.”

“Ayolah, aku sudah berubah. Kepergianmu dan Baekhyun yang telah merubahku dan istriku.”

“Arraseo. Tapi ajusshi, bagaimana jika mereka benar-benar mengusir Baekhyun hyung? Dia sedang sakit.”

“Akan kusuruh seseorang menjemputnya dan membawanya tinggal bersama kita. Sudah, tak usah kau pikirkan keluarga jahat itu.”

Kyungsoo menunduk lemas. Secepat inikah dia berpisah dengan mereka?

 

===

 

“Duduklah.”

“Kenapa begitu? Bukankah kau bilang ahjumma sedang sakit dan ingin menemuiku?”

“Perlu kau ketahui, penyakit bibimu sangat parah dan sekarang dia dirawat di China.”

“Separah itukah? Penyakit apa yang dideritanya?”

“Dia menderita kanker otak dan baru-baru ini terkena serangan jantung.” Kata Heechul murung.

“Tadi kau bilang dia sakit karena memikirkan kami. Mianhae, aku tak tahu akan begini jadinya.”

“Gwaenchana, ini sudah takdir. Yang ia butuhkan adalah bertemu kalian di saat-saat terakhirnya. Jadi, besok kita berangkat ke China.”

“Besok?!”

“Ne. Aku sudah dua hari aku meninggalkannya karena ada urusan dan kebetulan sekali saat aku pulang malah menemukanmu. Akan kusiapkan keberangkatanmu…”

“Dan Baekhyun hyung.”

“Ah, iya.. Dia kan sebentar lagi pulang. Dimana passport kalian waktu itu? Aku rasa disini…” Heechul membuka lemari besar di ruang tamu dan mengeluarkan sebuah map.

“Nah, ini dia.” Kyungsoo tersenyum simpul mendengarnya.

“Kurasa kau lelah. Lebih baik kau segera istirahat.”

“Arraseo.” Kyungsoo memasuki kamarnya.

“Tidak banyak yang berubah.” Kemudian dia merebahkan diri di kasur dan tertidur.

 

===

 

At Other Place

~Listen, neukkil su inni?

Nae simjangi ttwijireul anha

“Yeobseyo?”

“….”

“Ani. Ini aku Baekhyun, Kyungsoo sedang pergi bersama Sehun dan Chanyeol.”

“….”

“Jadi kau tak bisa menghubungi Sehun? Baiklah, akan kusampaikan ke Kyungsoo.”

“….”

“Annyeong, Youngra.”

“Sudah sore begini. Mereka sudah sampai mana ya. Ah, akan kutelpon Sehun. Eh, Chanyeol saja, tadi Youngra bilang Sehun tidak bisa dihubungi. Kyungsoo, aku pinjam ponselmu ya, salah sendiri kau meninggalkannya.”

“Ne, dengan senang hati hyung.” Baekhyun meniru suara Kyungsoo.

CKLEK

BRAK

Dengan sangat cepat seseorang membanting pintu kamar Baekhyun.

“Kalian sudah datang? Barusaja aku akan menelponmu.”

“Keluar dari rumah ini sekarang juga!” kata Chanyeol geram.

“Apa maksudmu? Kenapa marah-marah seperti ini?”

“Dasar penipu! Pemeras harta! Parasit! Sampah tak berguna!”

Baekhyun yang keadaannya mulai pulih merasa marah dengan ucapan Chanyeol. Dia berdiri untuk meladeni Chanyeol.

“Apa kau bilang?! Katakan sekali lagi!”

“Kau! Sampah tak berguna! Sifatmu bagai binatang! Kau tidak layak hidup sebagai manusia!”

“Atas dasar apa kau berkata seperti itu padaku?! Apa yang kulakukan padamu? Hah!”

Chanyeol menarik kaos Baekhyun dan mengangkatnya.

“Sabar hyung… Kita bicarakan ini baik-baik.” Sehun menenangkan.

“Kau jangan ikut campur!”

“Katakan sejujurnya! Apa yang kau incar dari keluarga kami?!”

“Aku… aku tak mengincar apapun dari kalian.”

“Bohong! Selama ini kau membohongi kami! Mulut sampah! Masih berani kau mengelak?!”

“Aku tak mengerti apa maksudmu. Lepaskan aku!”

“Sudahlah hyung!” Sehun menarik Chanyeol dengan paksa dan akhirnya dia melepaskan tangannya dari kaos Baekhyun.

“Hyung, di pemakaman tadi kami bertemu seseorang, namanya Heechul. Apa benar dia pamanmu?”

“Kalian? Bertemu dengannya? Mana Kyungsoo?!”

“Huh! Tertangkap basah rupanya. Kau dan adikmu itu bisa tinggal disini karena appa iba pada kalian yang tak punya keluarga. Ternyata itu hanya tipu muslihat! Cih! Kalian membohongi kami! Aku yakin kau mengincar sesuatu. Apa yang kau inginkan?!”

“Mengenai itu, dengarkan penjelasanku.”

“Aku tak butuh penjelasan! Kenyataan sudah menjelaskan semuanya. Tentang betapa busuknya kalian!” Chanyeol yang tak kuasa menahan amarah meraih kembali kaos Baekhyun dan mengambil ancang-ancang untuk memukulnya.

BUGH

Suara hantaman yang amat keras. Chanyeol mundur beberapa langkah sambil memegangi sudut bibirnya yang ia temukan sudah berdarah.

“Kenapa kau memukulku? Kau berada di pihak penipu ini?!”

“Aku muak dengan sifatmu yang tempramental hyung! Dengarkan dulu penjelasannya! Jangan menyelesaikan masalah dengan kekerasan apalagi semena-mena mencaci maki orang seperti itu. Kau… Kau manusia berpendidikan hyung! Tunjukkan jika uang yang selama ini appa keluarkan untuk biaya pendidikanmu tidaklah sia-sia!” Chanyeol langsung bungkam karena baru kali ini Sehun berani membentaknya.

“Gomawo Sehun. Mianhae… Seharusnya ini kuceritakan sejak awal.” Baekhyun langsung angkat bicara karena tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Sebenarnya, kami memang masih punya keluarga, paman dan bibi kami. Aku dan Kyungsoo kabur dari rumah. Kami tak kuat tinggal disana, semenjak appa meninggal, paman dan bibiku mengambil alih seluruh harta appa yang seharusnya untukku dan Kyungsoo. Yang lebih kejam lagi, mereka selalu menyiksa kami. Tahun demi tahun kami lewati dengan penderitaan seperti itu. Akhirnya aku sadar, kehidupan akan terus berlanjut. Bagaimana aku melanjutkan kehidupan jika setiap hari aku merasa tertekan. Aku sudah tak kuat lagi tinggal disana, aku saja tak sanggup bertahan apalagi Kyungsoo. Akan jadi apa masa depannya nanti jika keadaan keluarganya seperti itu? Dia masih terlalu kecil untuk mengalami semua ini. Kami memang masih hidup, tapi kami tak bisa merasakan bagaimana indahnya kehidupan.” Baekhyun berhenti sesaat, mengambil nafas agar air mata yang terus mendesak tak keluar.

“Lalu saat kami bertemu kalian, semua berubah, kalian menerima kami dengan baik. Bersama kalian kami benar-benar merasakan bagaimana rasanya hidup. Kalian mengizinkan kami membuka lembar baru kehidupan kami. Kami bisa tersenyum, tertawa, ada canda, ada duka. Kalian seperti keluarga kami yang dulu. Susah, senang, kalian lewati bersama, itu yang dinamakan keluarga. Mianhae, saat appa kalian bertanya apa kami mempunyai keluarga, kami terpaksa berbohong. Karena aku berfikir, mungkin ini jalan Tuhan untukku dan Kyungsoo agar memulai kehidupan baru. Kami tak mau kembali ke tempat itu. Jadi kami memutuskan untuk memulainya dari awal, ingin memendam kenangan di tahun-tahun suram itu. Membuka halaman baru pada kehidupan kami, dan kami mulai berhasil, berkat kalian. Gomawo untuk semuanya.”

“Kau dengar itu kan…” Perkataan Sehun terpotong oleh tindakan Chanyeol.

“Mianhae. Aku tak tahu jika penderitaanmu seberat ini.” Chanyeol memeluk Baekhyun.

“Tidak apa. Aku yang membuatmu tidak tahu. Mianhae aku telah membohongi kalian dan gomawo telah memberi kesempatan pada kami sekali lagi bagaimana perasaan hidup di tengah-tengah keluarga yang sesungguhnya. Jika kalian ingin aku pergi, maka aku pergi sekarang.”

“Shireo! Shireo! Tak akan kubiarkan kau pergi. Tetaplah disini dan menjadi keluarga kami.” Baekhyun merasakan pundaknya basah, ternyata Chanyeol sedang menangis.

 

===TBC===

 

I need your comment 🙂

Iklan

35 pemikiran pada “Chapter Of Our Life (Chapter 5)

  1. Kyaaaaa,,,,,,,,,,,chanbaek moment ni ye, boleh koment dkit j z ni tor mnrut gue tu ni crita sbnarx baguz ch tpi gue ngrasa alurnya kok kcepetan z coba j sdkit diselingi m lelucon gtu psti tmbah bgus dech *banyak bacot lu di sruh bwt crita ndiri bisa g lu* hehe maaf z tor tpi selebihnya dah BAGUS PAKEK BANGET KOK AUTHOR FIGHTING !

    • Ohoho~~~ Wah makasih makasih kritiknya..
      Saya juga mikirnya gitu, dibanding ff berchapter saya yang lain ini yang paling garing #menurut saya
      Maklumlah, ini waktu saya masih latihan buat ff genre sad. Mana chapter pula #sok yes beneran deh
      Oke.. Fighting!! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s