Reborn (Chapter 2)

Title                       : Reborn [Chapter 2]

Author                  : Niki Pinastika Fahira (cym121)

Genre                   : Romance, Friendship, Sad, Family

Rating                   : PG-17

Length                  : Chapter

Main Cast            :

~ Choi Youngmi (OC/YOU)

~ EXO-K Kai

~ EXO-M Luhan

~ SNSD Sooyoung

Other Cast: temukan sendiri

Twitter: @nikipfff

Disclaimers: Semua cast punya Tuhan dan orangtuanya masing-masing! *kecuali Luhan punya author juga XD*

 

Happy Reading^__^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

_Author POV_

“Sudah Young-ah, uljima. Fighting!” ucap Luhan. Youngmi menghapus air matanya dan memaksakan untuk tersenyum.

“Gomawo Luhan” ucap Youngmi

Seseorang masuk ke dalam kelas “Kalian tidak makan siang?” tanya orang itu

“Ah, Sooyoung. Anio, kami tidak lapar” jawab Luhan

Hari ini, kelas vocal cukup sampai sini dulu. Mereka dipersilahkan untuk kembali ke kelas masing-masing. Ternyata, tanpa disangka-sangka. Luhan sekelas dengan Youngmi.

“Young? Kau di kelas ini juga?” tanya Luhan

“Kau, disini?” tanya Youngmi heran

“Ne, boleh aku duduk denganmu? Kurasa yang lain sudah penuh” kata Luhan

“Tentu. Silahkan” ucap Youngmi

Selama jadwal belajar mengajar, Youngmi tak fokus pada apa yang diterangkan sonsaengnim di depan kelas. Ia hanya melihat ke luar, ke lapangan hijau di sekolahnya. Sesekali ia menghembuskan nafas beratnya. Ya, seperti terlihat sedang memikirkan masalah.

“Choi Youngmi!!” seru sonsaengnim. Sontak Youngmi langsung tersadar dan menatap sonsaengnim terkejut.

“Mwohaneungoya jigeum?” tanya sonsaengnim

“Anio, eobseoyo” jawab Youngmi takut

“Tolong perhatikan!” titah sonsaengnim pada seluruh murid di kelas tersebut

“Gwaenchana?” tanya Luhan seraya memegang pundak Youngmi. Youngmi hanya menjawabnya dengan anggukan kepala

.

.

5.00 PM

Bel pulang berbunyi dengan nyaring, semua murid langsung keluar dari kelas. Youngmi lebih baik menunggu halaman sekolah sepi oleh siswa-siswa yang ingin lebih dahulu keluar sekolah. Luhan yang hendak keluar dari kelas melihat Youngmi masih duduk di bangkunya tanpa membereskan buku-bukunya pun kembali lagi ke mejanya dan meja Youngmi. Luhan membereskan alat-alat tulis dan buku-buku Youngmi yang berada di atas meja lalu memasukkannya ke dalam tas Youngmi.

“Kajja, kita pulang bersama” Luhan menarik tangan Youngmi dengan lembut

“Shireoyo!” tolak Youngmi

“Wae?” tanya Luhan

“Nanti saja. Di luar masih mengantri siswa-siswa yang keluar, aku malas jika harus bertubrukan dengan mereka. Lagipula, aku juga sedang malas pulang. Aku malas melihat eomma!” jawab Youngmi

“Young-ah, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?” ajak Luhan

“Itu takkan bisa menghiburku” tolak Youngmi secara tidak langsung

“Ayolah, aku yang akan menghiburmu. Bukan tempat itu yang akan menghiburmu” kata Luhan seraya menarik tangan Youngmi keluar kelas.

Tas Youngmi dibawa oleh Luhan dan ia hanya mengikuti arah langkah Luhan pergi. Di lobby sekolah, Sooyoung dan Kai ternyata menunggu mereka berdua. Sontak Luhan dan Youngmi saling melepaskan pegangan tangan antara mereka.

“Apa yang telah kalian lakukan?” tanya Sooyoung

“Eobseoyo” jawab Youngmi singkat

“Kalau begitu, ayo pulang bersama” Sooyoung merangkul lengan Luhan

“Chankkaman! Youngmi dan aku akan pergi dulu ke suatu tempat. Jadi, kalian duluan saja” ucap Luhan

“Kalian mau apa?” tanya Kai curiga

“Aku hanya ingin menghibur Youngmi” jawab Luhan

“Apa hubunganmu dengan dia? Dia yeojachinguku, kau tak berhak membawanya sesukamu! Kau mencari masalah denganku?” Kai merasa dirinya cemburu dan akhirnya marah pada Luhan

“Mianhae, aku tak bermaksud mencari masalah denganmu Kai-sshi” kata Luhan

“Kai sudahlah, biarkan Luhan membawaku. Maksud dia juga baik. Ne?” ucap Youngmi

“Ya, ya. Terserahmu. Tapi cepatlah pulang, kalau tidak keluargamu akan mengkhawatirkanmu” jawab Kai

Akhirnya, Luhan dan Youngmi berjalan bersama ke suatu bukit yang tak jauh dari sekolah mereka. Dari atas sana, mereka bisa melihat kota Seoul. Terpaan angin petang yang dingin, tak membuat mereka mengurungkan niat untuk pulang.

“Apa yang kau lihat?” tanya Luhan

“Seoul yang indah” jawab Youngmi

Luhan tersenyum “Sama indahnya seperti kau” ucap Luhan

“Ya! Kau menggombal Luhan?” tanya Youngmi seraya memukul pelan tangan Luhan

“Hahaha~ anio. Kau merasa aku menggombal Young-ah? Mau aku gombali?” tawar Luhan

“Anio, tidak usah. Aish~ udara disini semakin dingin” Youngmi menggesekkan telapak tangannya satu sama lain

“Kau mau pulang?” tawar Luhan

“Shireo! Aku ingin disini. Aku ingin melihat Seoul dari sini. Aku ingin melihat betapa indahnya negeri tempat kelahiranku” tolak Youngmi

“Aku rindu Haidian” kata Luhan

“Kau tak betah disini ya?” tanya Youngmi

“Tentu saja betah” jawab Luhan

“Wae?” tanya Youngmi lagi

“Karena ada kau disisiku. Hahaha” jawab Luhan sambil tertawa

“Ya! Kau menggombal lagi” Youngmipun ikut tertawa

Mereka menyaksikan matahari terbenam dari bukit itu. Tanpa sadar Youngmi dan Luhan saling menyandarkan kepala mereka satu sama lain. Sangat lama sampai matahari benar-benar tenggelam di balik gedung-gedung tinggi dan langit berganti warna menjadi hitam malam.

“Aku ingin mereka mengerti perasaanku sekarang ini” ucap Youngmi tiba-tiba

“Kau masih memikirkannya Young?” tanya Luhan

“Ne, rasanya bayangan itu tak kunjung menghilang dari pikiranku. Hatiku selalu sakit. Sakit sekali. Kau tau itu Luhan?” jawab Youngmi

“Ne, aku mengerti Young” Luhan memindahkan posisi kepalanya dan alhasil kepala Youngmi jadi bersandar di pundak Luhan.

“Kau adalah temanku yang benar-benar mengerti aku” kata Youngmi. Luhan tersenyum

“Nyanyikan aku sebuah lagu dong” pinta Youngmi

“Kau mau lagu apa?” tanya Luhan

“Apasaja, asal kau yang bernyanyi untukku” jawab Youngmi. Luhanpun mulai bernyanyi

“Girl, I can’t explain what I feel. Oh baby, my baby baby baby baby yeah…

Haruga machi ilbunchorom neukkyojige mandeulji
Nomanisseumyon yonghwasoge juin-gong
Nol borodallyoganeun eksyonsinirado jjigeulgot chorom
Nan machi yongungi dwen gotchorom

Non nege wanbyok
Sangsanghebwasso
Hamkkeramyon ottolkka yeah
Nan noman gwenchantago malhejumyon modu wanbyokhe oh baby

I lost my mind noreul choeummannasseultte
No hanappego modeungoseun get in slow motion
Nege marhejwo ige sarangiramyon
Maeil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
Ssaugo ulgo anajugo
Nege marhejwo ige sarangiramyon

Sesangnamjadeul modu nalburowohe
Noreul gajin nega jiltuna jukgennabwa
My babe, baby babe, baby baby
Nolaraboneun-gol ige sarangin-gol
Aichorom nol jaju utgemandeulgo
Chingguchorom nol gajang pyonhage mandeulkkoya
My babe, baby babe, baby baby
marhaejwo nege what is love?”

“Baiklah, aku sudah menyanyikanmu sebuah lagu. Sekarang sudah mulai larut. Ayo kita pulang” ajak Luhan

“Youngmi?” Luhan melihat kearah Youngmi. Ternyata ia sedang tertidur pulas di pundak Luhan. Luhan pun hanya tersenyum. Ia tak tega membangunkan Youngmi. Lalu, ia memutuskan untuk menggendong Youngmi. Sesampainya di depan rumah Youngmi, Luhan menekan bel rumah tersebut lalu muncul seorang wanita paruh baya yang terkejut melihat mereka berdua.

“Aigoo~ kalian darimana saja? kenapa Youngmi bisa tertidur Luhan?” tanya wanita yang tak lain adalah eomma Youngmi

“Ah, anio. Kami habis mencari udara segar dan aku menyanyikan sebuah lagu untuknya. Tak taunya dia tertidur saat aku bernyanyi” jawab Luhan

“Ah, kalau begitu bawa Youngmi ke kamarnya saja ya Luhan. Mianhae merepotkanmu” kata eomma Youngmi

“Ne, gwaenchana ajhumma” Luhanpun membawa Youngmi ke kamarnya. Sebelumnya ia sedikit kebingungan mencari kamar Youngmi. Tapi akhirnya ia menemukan kamarnya saat melihat sebuah papan nama bertuliskan ‘Choi Youngmi’.

Luhan membaringkan Youngmi di kasurnya yang empuk. Ia menatap sebentar sekeliling kamar Youngmi dan meletakkan tas milik Youngmi. Kamarnya sangatlah luas dan rapi. Ia pun kembali melihat Youngmi yang tertidur. Ia lalu mengambil selimut dan menyelimutkannya pada Youngmi.

“Selamat malam tuan putri” kata Luhan. Baru saja Luhan hendak berbalik dan keluar dari kamar tersebut, Youngmi tiba-tiba menggenggam tangan Luhan. Tentu saja itu membuat Luhan terkejut.

Youngmi membuka matanya, melihat Luhan dan tersenyum padanya. “Gomawo” ucap Youngmi

Luhan membalas senyumannya “Cheonmaneyo” jawab Luhan

“Maaf hari ini aku merepotkanmu Luhan” kata Youngmi

“Anio, aku tidak repot sama sekali. Aku senang bisa membantumu. Baiklah, aku pamit Young-ah. Selamat malam dan sampai bertemu besok di sekolah” ucap Luhan lalu beranjak keluar dari kamar Youngmi.

_Luhan POV_

“Aku kembali” ucapku saat memasuki rumah

“Ya ampun, kemana saja kau ini?” tanya eomma

“Aku menemani Youngmi, dia sedang sedih” jawabku

“Yasudah, mandilah dan makan. Semua sudah makan kecuali kau” kata eomma

.

.

Jujur aku malas sekali makan hari ini. aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar. Tanpa sengaja aku menoleh ke lantai atas rumah Youngmi, tepatnya pada kamar Youngmi. Gordennya terbuka. Bukankah tadi sudah tertutup? Lalu aku menyipitkan mataku dan menangkap seseorang dari balik jendela kamar tersebut.

“Anak itu kenapa belum tidur?” aku tersenyum sendiri melihat tingkah Youngmi

“Oh, Luhan?” tanya seseorang. Aku menoleh dan ternyata itu Sooyoung

“Ah, kau. Kenapa kau malam-malam keluar?” tanyaku

“Ngg~ aku habis disuruh eomma untuk membeli ini” jawab Sooyoung seraya memperlihatkan kantung plastiknya padaku

“Cepatlah masuk, nanti kau masuk angin” perintahku

“Baik baik. Kau sendiri juga cepat masuk ya?” Sooyoung tersenyum padaku lalu masuk ke rumahnya.

Kali ini aku sengaja menatap lantai atas rumah Youngmi lagi. Gordennya sudah tertutup. Aku kaget mendengar suara gerbang yang tengah dibuka dan mucullah Youngmi.

“Kau ini mengagetkanku saja Young-ah” ucapku

“Aku? Mengagetkanmu? Haha, tapi  aku hanya membuka gerbang saja Luhan” ucap Youngmi tertawa

“Iya, tapi kau keluar kan secara tiba-tiba seperti itu” timpalku

“Baiklah, mianhae. Kau sedang apa di luar?” tanyanya mengalihkan pembicaraan

“Mencari udara segar” jawabku

“Mencari udara segar atau ingin memata-mataiku?” Youngmi tersenyum jahil

“Ya! Kau bilang apa tadi?” tanyaku

“Anio. Aku tak bilang apapun. Memang tadi kau kira aku bilang apa?” kata Youngmi. Anak ini ada-ada saja. Akupun mengacak-acak rambutnya sehingga membuat ia sedikit menggerutu.

“Masuklah, kau akan sakit nanti” titahku

“Shireo! Aku bosan. Di dalam tak ada teman, sepi. Kau pikir eomma akan cepat pulang? Tidak!” tolak Youngmi

“Jadi aku harus berbuat apa supaya kau mau masuk ke rumahmu? Tidurlah Young” tanyaku

“Cukup diam dan masuklah ke rumahmu. Aku sedang menunggu Kai” jawab Youngmi. Yeah, dia menunggu namjachingunya untuk datang dan sepertinya untuk menemaninya di rumah.

“Oh, Kai!!” Youngmi melambaikan tangannya pada seseorang yang mulai medekati kami dengan mengendarai motor. Ia kemudian membuka helm-nya dan menatapku. Sepertinya ia sebal padaku.

“Kau..kenapa kau ada disini?” tanya Kai heran

“Jelas aku ada disini, aku kan tinggal disini” jawabku seraya menunjuk rumah yang berada di belakangku

“Oh. Youngmi-ah, kenapa kau menungguku di luar? Kau bisa masuk angin” kata Kai

“Anio, nan gwaenchana. Di dalam sendiri membuatku sumpek. Kajja, aku akan buatkan kau cokelat panas” Youngmi merangkul lengan Kai lalu masuk ke dalam rumahnya. Hhh~ begitukah orang yang berpacaran?

Aku kembali ke dalam rumah dan masuk ke kamarku. Aku duduk di tepi kasurku mencoba memikirkan sesuatu tapi tak ada yang masuk. Kepalaku terpenuhi oleh sebuah nama. Zhang Liyin. Aku merindukan yeoja itu. Yeoja yang dulu satu sekolahan denganku dan telah merebut hatiku. Tapi sayang, aku tak bisa lagi bertemu dengannya untuk selamanya. Kenapa? Karena dia sudah tenang….di surga. Hah! Kenapa aku jadi memikirkan dia lagi? memikirkan dia hanya membuatku sedih. Oh, Luhan kau sudah mulai gila pada yeoja itu! Tidakkah Tuhan mengutus seseorang untukku untuk menggantikan posisi Liyin di hatiku?

Ponselku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk. Aku mengambil ponselku dan melihatnya. Ternyata pesan dari Sooyoung

From : Sooyoung-sshi

 

Luhan, besok kita berangkat bersama lagi. Okay?

 

Dia selalu ingin berangkat bersamaku. Tanpa ia mengajakku juga, kita akan selalu bersama karena selain rumah berdekatan juga jadwal berangkat dari rumah kita juga sama.

.

.

.

“Luhan! Kau tak mau sarapan dulu” tanya eomma

“Tidak, terimakasih” jawabku seraya keluar dari rumah. Tak kusangka aku dan Youngmi bersamaan keluar dari rumah.

“Mau berangkat bersama?” tawarku

“ Tidak, terima kasih” tolak Youngmi. Ada apa dengannya?

“Luhan! Eh, Youngmi. Ayo kita berangkat bersama?” ajak Sooyoung

“Tidak, aku masih ada urusan sebentar. Kalian duluan saja” tolak Youngmi

“Kau kenapa Youngmi-ah?” tanya Sooyoung

“Apa jawabanku penting untukmu Soo?” tanya balik Youngmi. Kulihat Sooyoung hanya terdiam saja. Youngmipun berjalan berlawanan arah dengan arah sekolah

“Young-ah! Hati-hati!” seruku

Aku tak tau dia mau kemana, tapi hati ini sebenarnya sangat khawatir. Aku takut sesuatu menimpa Youngmi.

“Luhan, gwaenchana?” tanya Sooyoung

“Ne. Kajja, nanti kita terlambat” jawabku

_Youngmi POV_

Aku berbohong pada mereka. Aku membohongi mereka. Aku sebenarnya tak ada urusan yang lain. Hanya, hari ini aku tak ingin masuk sekolah. Aku tak ingin melihat semuanya. Aku benci eommaku, aku benci appaku! Mereka tak pernah akur. Mereka tak pernah mengerti perasaanku. Aku ingin mati dihadapan mereka agar mereka tau betapa sakitnya, betapa mereka menyesalnya melakukan semua ini padaku.

Aku berjalan-jalan di pinggir sungai Han. Aku ingat saat masih kecil, aku selalu kemari bersama eomma dan appa. Dengan canda dan tawa. Tapi kini semuanya sirna. Kemarin eomma pulang pukul 2 pagi dengan keadaan mabuk. Dan aku mencium aroma rokok yang paling tidak kusenangi. Dia sudah pergi ke club.

Kai, walaupun ia namjachinguku yang kadang membuatku sebal, membuatku ilfeel padanya , ia telah banyak mensupportku. Walau ia tak sering menghiburku, tapi aku sadar, betapa besarnya dukungan Kai agar aku tak sedih lagi memikirkan nasib kedua orangtuaku.

Sooyoung, walaupun ia sahabatku dari kecil, aku tak pernah menceritakan tentang hal ini. kenapa? Aku tak yakin jika masalah ini diceritakan pada Sooyoung. Bukan aku tak percaya pada Sooyoung untuk menjaga rahasia ini. tapi, entah kenapa Sooyoung semakin menjauh dariku semenjak ada…Luhan.

Luhan, walau ia namja yang baru kukenal kemarin-kemarin ini, aku merasa nyaman jika berada di dekatnya. Berbeda dengan Kai yang hanya mensupportku. Ia menghiburku juga dan aku juga merasa terhibur. Walau aku belum tahu sifatnya yang sebenarnya, aku percaya padanya. Entah bagaimana aku sekarang jika aku tak bertemu dengannya.

Entah hidupku akan bagaimana jika tak ada mereka. Hancur? Tentu saja. Sepi? Apalagi.

Saat matahari mulai beranjak ke atas dan toko-toko dan department store sudah buka, aku menuju sebuah toko game. Aku bermain sepuas mungkin untuk meluapkan semua amarahku. Dan entah sampai kapan aku akan disana terus. Tak ada yang menghentikanku. Semua orang yang berada di toko game itu memandangku dengan heran bercampur dengan kagum, mereka mengira aku semangat memainkan game ini. Tapi kenyataannya, aku sedang meluapkan emosiku.

_Author POV_

12 PM @ School

Luhan sibuk mencari Youngmi kemana-mana. Ia tak menemukan Youngmi baik di kelas vocal maupun kelas belajar.

“Sooyoung, kau sudah melihat Youngmi?” tanya Luhan dengan nada khawatir

“Anio. Ada apa?” jawab Sooyoung

“Apa ia tak ke sekolah?” Luhan menebak-nebak

“Anio, Youngmi bukan tipe orang yang suka membolos sekolah” sanggah Sooyoung

“Kau tau ia suka kemana?” tanya Luhan lagi

“Entahlah, paling ia suka ke pinggiran sungai Han atau tempat-tempat yang ramai dikunjungi seperti department store atau toko game” jawab Sooyoung

“Sooyoung, apa kau melihat Youngmi? Dia belum kelihatan sejak tadi” tiba-tiba Kai datang menghampiri mereka

“Aku juga belum melihatnya. Hanya saja, tadi pagi dia bilang kalau dia ada urusan sebentar dan tidak langsung pergi ke sekolah” jawab Sooyoung

Luhan berlari meninggalkan Sooyoung dan Kai. Ia segera mengambil tasnya, mengendap-endap keluar dari sekolah dengan memanjat gerbang yang berada di belakang sekolah. Beruntung saja tidak ada yang melihat aksinya itu. Ia berlari menuju sungai Han.

Ia melihat sekeliling sungai Han, tapi yang ia cari tak ada di tempat manapun di pinggiran sungai Han. Kemudian ia berlari menuju sebuah toko game yang lumayan besar. Ia masuk ke dalam toko tersebut. di telinganya terngiang bunyi-bunyi dari mesin-mesin game yang dimainkan oleh orang-orang yang berkunjung.

Ia memutar bola matanya mencari-cari apa yang ia cari. Sampai, matanya tertuju pada seseorang yang sedang bermain drum beat. Ia tersenyum lalu menghampiri orang yang sedang memukul-mukul drum dengan penuh emosi.

“Ternyata kau disini” ucap Luhan seraya tersenyum

“K-ka-kau? Kenapa kau ada disini? Maksudku kenapa kau tau aku disini?” tanya orang itu terkejut

“Hanya sebuah feeling. Ayo!” Luhan menarik tangan orang itu keluar dari toko game

“Lepaskan aku!” seru orang itu

“Young-ah! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tak ke sekolah?” tanya Luhan

“Ak-aku..aku tak mau! Shireoyo!! Lepaskan aku sekarang juga Luhan!!” seru Youngmi

“Shireo!” tolak Luhan

“Ah, wae?! Kau menyebalkan Luhan!!” seru Youngmi. Luhan membawa Youngmi ke bukit yang kemarin ini ia dan Youngmi kunjungi. Ia tak peduli Youngmi berteriak sekeras apapun memintanya untuk melepaskan tangannya dari tangan Youngmi. Ia tak peduli orang-orang menatap heran kearah mereka berdua. Barulah setelah mereka sampai di bukit tersebut, Luhan melepaskan Youngmi.

“Kau kenapa?! Kenapa kau begitu menyebalkan Luhan?!!” seru Youngmi. Matanya sudah memerah siap untuk mengeluarkan air matanya

“Lalu kenapa kau tidak ke sekolah huh?” tanya Luhan sedikit menaikkan nada suaranya. Akhirnya pertahanan Youngmi runtuh. Ia mengeluarkan air matanya.

“Uljima, Young-ah” pinta Luhan

“Kau menyebalkan! Kenapa kau tak membiarkanku saja?” tanya Youngmi. Luhan menarik Youngmi ke dalam pelukannya.

“Uljima” ucap Luhan

“Hyaa~ lepaskan aku! Aku benci padamu!!” seru Youngmi seraya memukul-mukul dada Luhan

“Diam! Aku seperti ini padamu karena aku khawatir padamu. Aku khawatir karena aku belum melihatmu di sekolah. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu!” kata Luhan seraya mengelus-elus rambut Youngmi

“Aku tak mau…kehilanganmu” lanjut Luhan

“Mwo?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

~To Be Continued~

Iklan

8 pemikiran pada “Reborn (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s