A Song Without Voice (Chapter 1)

Title:    A Song Without Voice (Chap 1)

Author:  Ms Bubble Tea (@icaclrss)

Casts:   Kim Jongdae (Chen) EXO M

Park Sohi OC

Wu Yi Fan (Kris) EXO M

Park Chanyeol (Chanyeol) EXO K

Other Casts: some EXO members

Genre: Romance, Friendship, Sad

P.S: Annyeong readerdeul~~ author datang dengan chapter story kali ini. Ga akan lama kok chapternya (semoga) hehehe. Oh iya, mohon maaf kalau disini romancenya tidak terlalu menonjol ya^^ sorry for the typos guys! ^^ ide murni dari hasil pemikiran author yang lagi gabut liburan kuliah okay, happy reading and please give comment! Kamsahamnidaaaaa *bow*

 

Summary: When you have something or someone that really special for you. Then you realize, you must let them go. It hurts, it makes you crazy. I feel it, when I must lose something that really special for me…. Here I am, a singer who loses his voice slowly…

 

Chapter 1

Author’s POV

Awal musim semi, semua orang bersiap menyambut musim semi. Membersihkan sisa-sisa salju di halaman rumah mereka, mempersiapkan barang-barang untuk piknik musim semi tahun ini, tak terkecuali seorang namja. Namja itu merapikan dirinya didepan cermin, sesekali merubah tatanan rambutnya, kadang ke kiri kadang ke kanan dan selalu berujung dengan desahan nafasnya

“Haaaah….kenapa aku selalu merasa rambutku ini jelek?” Tanya namja itu sambil menatap dirinya di cermin.

“Kau sudah tampan dan berhentilah memandangi dirimu di cermin seperti itu, Chen!” Ucap seorang namja bersuara berat yang sangat tinggi dengan rambut blonde.

“Ah! Kris hyung, kau sudah disini rupanya~” Ucap namja bernama Chen itu sambil tersenyum dan segera meraih tasnya.

Actually, aku sudah berada disini dari 15 menit yang lalu dan kau masih sibuk dengan rambutmu itu.” Ucap Kris dengan muka yang dibuat sedemikian mungkin, kurasa dia mencoba terlihat kesal.

“Hahaha, mianhae hyung. Kajjaaa kita pergi!” Ucap Chen sambil menarik tangan Kris dan Kris hanya bisa menghela nafas mengikuti Chen.

Mereka, Kim Jondae a.k.a Chen dan Wu Yi Fan a.k.a Kris adalah dua orang namja yang sudah bersahabat sejak lama. Chen adalah seorang penyanyi di café tempat Kris bekerja, jangan salah Kris bekerja bukan sebagai pelayan atau penyanyi seperti Chen. Dia pemilik dari café bernama “Amore Cafe” dan Chen sangat beruntung karena perantauannya di China tak berujung dengan pengangguran karena Kris memberinya pekerjaan di café miliknya. Alasan Chen merantau? Sederhana, dia hanya ingin mengadu nasibnya di negara orang, dia tak berasal dari keluarga yang tak mampu hanya saja Chen memang memiliki keinginan hidup sendiri yang tak bisa ditentang oleh siapapun. Jangan salah, hingga detik ini Chen selalu menerima uang yang lebih dari cukup dari kedua orangtuanya, tentu saja mereka takkan mau anak tunggalnya luntang lantung di negara orang.

 

Chen’s POV

Begitu sampai di Amore café aku segera menuju panggung kecil yang terdapat di tengah ruang café, kubersihkan debu-debu yang selalu saja ada tiap pagi aku datang kesini. Ya, inilah pekerjaanku di café milik sahabatku. Aku seorang penyanyi, hanya suara merduku yang dapat kujual disini. Aku tak ingin memiliki pekerjaan seperti seorang pembisnis karena itu sama sekali bukan karakterku, ayahku sudah berkali-kali menentang keputusanku untuk menjadi seorang penyanyi, beruntung saudara dekatku Kim Jongin mau membantuku dan pada akhirnya perusahaan ayahku akan diserahkan pada Jongin. Well, aku sangat percaya pada saudaraku yang satu itu meskipun dia sempat menjadi seorang berandalan tapi dia seorang pria yang bertanggung jawab dan memang pantas untuk memimpin sebuah perusahaan, itulah alasan mengapa aku semakin yakin dengan keputusanku untuk merantau ke China.

“Chen, mau sampai kapan kau mengelap pianomu itu?” Tanya sebuah suara bass membuatku segera tersadar dari lamunan pagiku.

“Chanyeol? Haha tadi aku sedang melamun eoh.” Ucapku sambil tertawa dan segera menyelesaikan pekerjaanku. Dia Park Chanyeol, salah seorang namja dari Korea yang juga merantau sama sepertiku. Dia sudah cukup lama berteman dengan Kris hyung. Mereka berdua persis dua buah tiang listrik dengan suara bass-nya masing-masing.

“Melamunkan apa? Memikirkan yeoja yaaa?” Ucap Chanyeol sambil memasang muka sok tahu andalannya membuatku tertawa.

“Yaaa, memangnya aku itu Luhan hyung yang hobi tebar pesona~”

“Hey hey aku mendengarnya loh!” Teriak sebuah suara, ya dia Luhan. Seorang namja China yang juga merupakan teman dari Kris hyung. Dia juga bekerja di café ini dan yah….dia sangat cute, banyak sekali yeoja yang mengejarnya.

“Aish, kalian bertiga berisik sekali sih sudah lebih baik bekerja dengan benaaar~” Kali ini seorang namja dengan topi chef muncul dari dapur, ya dia Kim Minseok atau lebih sering kami panggil Xiumin. Dia yang paling tua diantara kami semua. Selain itu masih ada dua orang lagi yang bertugas sebagai chef di café ini, seorang bernama Do Kyungsoo atau D.O dan seorang lagi Zhang Yi Xing atau Lay. Kami semua berteman sangat baik dan mengurus café peninggalan keluarga Kris hyung dengan sepenuh hati(?) haha oke aku rasa aku berlebihan, tapi sungguh aku merasa sangat nyaman disini.

Begitu semua sibuk dengan urusan masing-masing aku pun duduk dan menatap kosong tuts-tuts piano dihadapanku. Segera kukeluarkan beberapa lembar kertas dari tasku, ya ini partitur lagu-lagu yang akan kunyanyikan hari ini. Lagu-lagu yang memang kubuat sendiri. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, begitu papan ”open” dipasang pengunjung mulai berdatangan dan memenuhi ruangan. Syukurlah, café kami memang cukup terkenal.

Kutarik nafasku singkat, ini ritualku saat akan memulai pekerjaanku. Kupilih sebuah lagu dari kumpulan lagu-lagu itu dan menaruhnya di hadapanku. Let’s start the show, Jongdae!

Do you ever imagine when you must let go

Someone that so important to you, someone that you’ve loved so much

And then you realize how terrible this situation

A simple ‘hello’ was a beginning of everything we called “love”

A hard ‘goodbye’ is the ending of this love story….

Oh baby, is it that easy for you? Just to let them go. Oh baby is it that easy for you…

Letting me go

Begitu selesai dengan beberapa bait laguku tadi, aku pun tersenyum mendapati para pengunjung café menikmati laguku. Aku pun turun dari panggung dan duduk disebuah sudut ruang café. Aku belum sarapan dan aku sudah kelaparan sekarang.

“Mau makan apa Chenchen?” Tanya Chanyeol padaku, sepertinya dia tahu aku kelaparan.

“Ah aku mau……..ti” Ucapku

“Hah? Apa? Aku tak bisa mendengarmu.” Tunggu, aku merasa aku sudah mengucapkan pesananku. Aku pun memberi isyarat pada Chanyeol untuk menungguku.

“Ehem! Ehem! Eugh…kurasa suaraku serak Chanyeollie….” Ucapku yang menyadari bahwa suaraku tiba-tiba menjadi serak tanpa sebab untuk kesekian kalinya akhir-akhir ini.

“Eoh? Jinjja? Kalau begitu kubuatkan kau milk tea hangat dan roti panggang untuk sarapan. Chankkaman.” Ucapnya lalu aku pun mengangguk. Benar-benar aneh, tumben sekali aku bisa serak begini. Padahal selama ini aku tak pernah makan es krim secara berlebihan…eungg oke tadi malam aku makan 5 batang es krim-_-

“Ini dia, milk tea-mu.” Ucap Chanyeol sambil menyajikan secangkir milk tea di hadapanku dan 2 buah roti panggang. Aku pun mengangguk.

“Gomawo.” Ucapku dan dia langsung mengacungkan ibu jarinya lalu kembali melayani pengunjung lain.

Kutatap makanan didepanku, tenggorokanku terasa tak begitu enak tapi kurasa aku harus makan. Aku pun memotong sedikit roti panggang dan memasukkannya ke dalam mulutku

Nyut!

Seketika itu juga saat aku menelan roti itu, tenggorokanku terasa nyeri. Sangat nyeri. Aku pun buru-buru meminum milk teaku, tak membantu karena tetap terasa nyeri. Seperti ada benda asing di tenggorokanku. Entah itu apa. Begitu selesai menikmati sarapan pagiku walau sama sekali tak terasa nikmat-_- aku pun kembali ke atas panggung, sepertinya aku akan menghindari makan hari ini.

 

***

#Malam hari pukul 22.00

Amore café baru saja tutup, syukurlah hari ini kami tak perlu lembur karena stock makanan yang sudah habis kkk~ aku pun membereskan kertas-kertas partitur dan memasukkannya ke dalam tasku.

“Chenchen, kau baik-baik saja?” Tanya Kris hyung yang baru saja keluar dari kantornya.

“Eh? Memangnya aku kenapa hyung?” Aku pun justru balik bertanya karena tak mengerti maksud Kris hyung.

“Tadi Chanyeol bilang padaku, suaramu jadi serak dan yah memang sekarang suaramu serak…” Ucapnya dengan khawatir. Kurasa Chanyeol menceritakannya secara hiperbola.

“Aigoo haha tenanglah hanya serak biasa karena aku terlalu banyak makan es krim kemarin, aku baik-baik saja hyung.” Jawabku sambil menepuk pundak Kris hyung dan dia pun membalasku dengan anggukan.

“Jadi kita pulang sekarang?” Tanyanya padaku. Ya aku dan Kris hyung memang tinggal di apartemen bersama, YA! Jangan berburuk sangka dulu, menyewa apartemen untuk berdua itu lebih irit bukan? Hehehe. Aku pun mengangguk dan kami berjalan keluar dari café, tapi tunggu…apakah itu chanyeol?

 

Author’s POV

Tepat disebrang Amore café, namja jangkung itu berdiri didampingi seorang yeoja dengan rambut coklat sepundak. Chen dan Kris yang melihat Chanyeol pun mendatangi Chanyeol.

“Yo! Yeollie!” Sapa Kris dengan suara beratnya membuat Chanyeol sedikit kaget.

“A…AH! Hyung! Jangan mengagetkanku -____-“ Ucapnya sambil memukul pelan lengan Kris yang dibalas dengan tawa oleh namja blonde itu.

“Omooo~ baru tadi pagi kau bilang aku memikirkan yeoja, sekarang lihat siapa disampingmu itu~” Sambung Chen sambil melirik yeoja disamping Chanyeol, manis, itulah yang ada dipikiran Chen begitu melihat yeoja itu dari dekat.

“Aish, dia bukan pacarku!! Dia ini adikku!” Ucap Chanyeol sambil menarik tangan yeoja itu agar lebih dekat dengan Chen dan Kris.

“An….annyeong.” Sapa yeoja itu dengan sedikit terbata.

“Annyeong.” Jawab Chen dan Kris berbarengan.

“Namanya Sohi, Park Sohi hyung. Nah Sohi, mereka ini teman-temanku. Yang tinggi blonde ini namanya Kris hyung, kalau yang satunya lagi dan berambut hitam dengan senyum tampan ini namanya Chen.” Ucap Chanyeol menjelaskan panjang lebar, ketiga orang dihadapannya hanya mengangguk-angguk dan saling menatap melihat Chanyeol yang sangat semangat.

“uhuk uhuk uhuk!” Lagi dan lagi, Chen terbatuk membuat Kris, Chanyeol, dan Sohi segera menoleh kearahnya.

“Yaa! Chen kau baik-baik saja?” Tanya Kris dengan panik karena Chen terus menerus batuk. Chanyeol dan Sohi pun menunjukkan raut muka khawatir. Ya, tak biasanya Chen seperti ini.

“Gwen….uhuk! Gwenchana hyung…” Ucap Chen dengan lemah, mukanya terlihat pucat.

“Oppa…apa tidak sebaiknya teman oppa dibawa ke dokter?” Tanya Sohi pada Chanyeol dan namja itu pun hanya menghela nafas, Chen tak pernah mau ke dokter untuk alasan apapun itu. tak ada yang pernah berhasil membujuknya.

“Aku…ba ik ba ik sa….uhuk! Tenang saja….” Ucap Chen sambil tersenyum. Namun dia terus terbatuk.

“Yaaa, sudah sudah. Jangan bicara lagi ayo kita pulang!” Perintah Kris dan segera membawa Chen masuk ke mobilnya. Chanyeol pun segera menarik Sohi.

“Hyuuung, aku ikuuut!~~” Teriak Chanyeol dan Kris pun mengangguk. Kris pun segera menyetir mobilnya kearah apartemen, yang ia tahu sekarang ia harus membiarkan Chen beristirahat di kamarnya dan memberinya obat.

 

***

#Apartemen

Chen’s POV

Chanyeol dan Sohi baru saja pulang, aku pun segera masuk kamarku setelah Kris hyung memberiku obat. Syukurlah mereka sangat perhatian padaku hehe, aku pun menatap obat didepanku sambil tersenyum. Aku teringat saat Sohi mengatakan aku harus dibawa ke dokter… Dia cukup perhatian bukan? Hahaha yaaa Jongdae! Apa yang kau pikirkan sih-_- aku pun menjitak kepalaku sendiri.

Kuambil tasku dan mengambil beberapa partiturku, begitu kusadari selama ini aku menyanyikan lagu-lagu yang sedih. Kenapa tidak kucoba membuat lagu yang bahagia? Well, aku akan coba. Aku pun mulai mencorat-coret kertas putih. Mood-ku sedang baik sekarang, kurasa aku bisa membuat lagu yang bagus.

*30 menit kemudian*

“Whoaaaaa, selesaiiiii~” Ucapku dengan suara serak. Sial, suaraku terus serak seperti ini. padahal biasanya hanya serak sebentar tapi sekarang? Sudah minggu ketiga dan serakku semakin parah. Aku pun memutuskan untuk tidur. Kurasa tak baik aku bernyanyi dengan suara seperti ini, kurasa lebih baik besok aku juga harus ke dokter. Ini bukan sekedar serak biasa, mungkin aku radang tenggorokan. Yah, apapun itu asalkan tidak mengganggu pekerjaanku maka aku tidak akan apa-apa.

 

***

#Besoknya

Author’s POV

Chen baru saja selesai membersihkan pianonya pagi ini, sedangkan yang lain sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ia pun memutuskan untuk duduk disebuah sudut ruang café, masih ada waktu satu jam sebelum café buka jadi dia memutuskan untuk bersantai.

“Annyeong…” Sapa sebuah suara dengan lembut membuat Chen mencari sumber suara.

“Sohi? Annyeong!^^” Balas Chen begitu menyadari yang menyapanya adalah Sohi, yeoja yang semalaman tadi cukup mengganggu pikirannya. Chen memberi isyarat pada Sohi untuk duduk dihadapannya dan Sohi pun mengangguk.

“Apa oppa sudah baikan?” Tanya Sohi

“Heum? Maksudmu suaraku? Yah masih serak…” Jawab Chen sambil tersenyum. Sebenarnya ia baru saja menerima berita yang tak begitu baik pagi ini atau lebih tepat disebut…buruk.

“Apa oppa sudah ke dokter?”

“Aku tadi pagi baru saja ke dokter kok^^”

“Lalu? Apa kata dokter?”

“Aish, yeoja ini benar-benar ingin tahu ne? Hahaha.” Canda Chen dan Sohi pun segera memasang muka bete dan mempoutkan bibirnya.

“Yaaa, aku hanya khawatir dengan teman oppa-ku, yasudah kalau tak mau cerita.” Ucap Sohi dan dia segera berdiri dari tempat ia duduk, ia pun melangkahkan kaki berniat meninggalkan Chen.

Grep!

Sebuah tangan yang hangat menggenggam pergelangan tangan Sohi membuat yeoja itu berhenti dan menoleh ke belakang. Sungguh, kalian harus melihat wajah Sohi yang sudah merah padam sekarang, ya dia menyukai Chen sejak pertama bertemu kemarin dan sekarang namja itu justru menggenggam pergelangan tangannya.

“Jangan pergi begitu, duduklah sini.” Ucap Chen sambil tersenyum dan Sohi pun segera menurut.

“Gadis baik hehe. Sebagai permintaan maafku bagaimana kalau nanti sore kutraktir kau es krim?” Tanya Chen dan dibalas dengan sebelah alis terangkat dari Sohi.

“Mwo? Aku bukan anak kecil -_-“ Ucap Sohi.

“Hahaha aigooo lalu bagaimana agar kau tidak marah lagi huh?” Tanya Chen sambil menopang dagunya dan menatap Sohi tepat di kedua bola matanya membuat yeoja itu sudah hampir gila.

“E…eunggg….itu….” Ucap Sohi terbata-bata.

“WAAAH WAAAH, adikku sudah besar~~ WAAAH Chen gerak cepat yaaa~~” Ucap sebuah suara bass dengan setengah berteriak membuat kedua insan itu segera menoleh kearah pemilik suara, Chanyeol.

“AISH! Oppaaa! Apasih maksudmu?” Jawab Sohi dengan muka sebal, sebenarnya dia malu karena Chanyeol tahu kalau dia tertarik dengan Chen.

“Aniyooo~ good luck ya adik maniskuuu~” Ucap Chanyeol dengan muka usil dan segera pergi dari hadapan Sohi dan Chen.

“Aish, Chen oppa mianhae oppaku memang suka sembarangan bicara.” Ucap Sohi

“Hahaha ne, tak apa-apa. Heum, aku harus naik ke panggung Sohi-ah. Nanti kita pergi bersama ok?” Ucap Chen sambil mengelus lembut puncak kepala Sohi dan pergi ke atas panggung. Sohi? Tak perlu kalian tanya sekarang dia sedang lompat tinggi sampai ke mars karena perilaku Chen barusan.

 

Chen’s POV

Sebelum ke atas panggung aku pun mengecek lagi partitur-partitur dalam tasku. Aku tersenyum melihat lagu-lagu yang sudah kusiapkan, namun seketika senyumku pudar. Kulihat sebuah amplop coklat muda yang baru saja kuterima tadi pagi. Kubuka amplop itu dan kembali mengingat apa yang tadi pagi terjadi.

*Flashback*

Karena serak berkepanjangan dan tenggorokanku yang sakit aku pun memutuskan untuk ke dokter, aku baru saja selesai dari pemeriksaan dan ronsen. Masih tak mengerti kenapa dokter menyuruhku untuk ronsen padahal ini hanya radang tenggorokan biasa kurasa. Sekarang dokter itu sudah memanggilku lagi ke dalam ruangannya

“Ah annyeong dok.” Sapaku dan segera duduk di hadapan dokter bernama Suho itu.

“Annyeong, Chen-ssi….” Balasnya dengan wajah yang sedikit murung, ada apa? Apa ada yang salah dengan hasil ronsenku?

“Anu…..apa ada yang salah dengan tenggorokanku dok?” Tanyaku dengan sedikit ragu, firasat buruk mulai mendatangiku.

“Jeongmal mianhae Chen-ssi. Tapi…..sebuah tumor tumbuh didalam tenggorokanmu dan ini adalah gejala dari kanker laring (pita suara)….” Ucapnya sambil menatap putus asa padaku. Aku pun hanya melongo kaget dan diam. Dia tak sedang bercanda kan? Ini bukan April mop kan?

“Apa maksudmu?” Tanyaku

“Kau bilang kau sudah serak lebih dari 3 minggu kan? Dan ada rasa nyeri saat menelan, begitu kulihat hasil ronsenmu………….maafkan aku Chen-ssi.” Ucapnya sambil memberi sebuah amplop coklat padaku, aku menatap kosong kearah amplop itu.

“Sebaiknya kau cepat melakukan pengobatan Chen-ssi, sebelum penyakitmu bertambah parah.” Ucap dokter itu dan aku pun tetap menatap kosong kearah amplop itu. Tak percaya? Ya, aku yakin dokter ini sedang bercanda.

“Terimakasih dok, kurasa aku harus pergi sekarang.” Ucapku lalu berdiri dan membungkukkan badanku. Aku tak mau memperpanjang candaan yang sama sekali tak lucu ini.

“Tap…”

“Jeongmal kamsahamnida Dokter Suho, aku baik-baik saja tenang saja.” Ucapku memotong perkataannya dan segera pergi dari ruangan itu. Sungguh, aku tak mau mendengar omongan mengenai laring atau apalah itu namanya. Aku pun segera beranjak pergi menuju café.

*flashback end*

Kuhela nafasku panjang, percuma. Sekalipun aku memarahi dokter Suho takkan ada gunanya, hasil ronsen itu memang benar adanya. Sebuah tumor tumbuh didalam tenggorokanku dan ini awal dari sebuah kanker…. Kusandarkan kepalaku pada dinding dan terduduk lemas. Tuhan, biarkan semua ini hanya menjadi mimpi buruk bagiku. Biarkan aku hidup sehat Tuhan, biarkan aku……untuk tetap bernyanyi….

Tes… tes…tes…

Air mata turun sedikit demi sedikit dari sudut mataku. Menangis, ya hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Tak ada yang boleh tahu mengenai penyakitku, tak ada satupun. Aku harus terlihat baik-baik saja, aku tak mau menjadi beban siapapun disini. Aku tak pernah mau. Aku pun bangkit dari tempatku dan segera naik ke atas panggung. Disana sudah banyak pengunjung yang menantiku, bahkan Chanyeol, Luhan hyung, Xiumin hyung, Lay, D.O, dan Kris hyung sudah duduk manis. Ah satu orang lagi, Sohi…..gadis itu pun duduk manis bersama namja-namja itu. Tenanglah Jongdae, bernyanyilah seakan kau tak pernah memiliki beban apapun. Bernyanyilah, karena isi amplop itu tak pernah ada. Tak pernah…

Can you hear the melody of my song

The melody which tell you my heart

Can you see the different feeling

The different feeling from my heart

Oh baby, I just want you to know

It’s classic but it happens now

Yes, baby take a look at me. Yes baby, I fall in love with you

Kuselesaikan laguku dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang. Kurasakan sakit yang semakin menjadi tepat di tenggorokanku. Tahan sebentar lagi Jongdae, kau hanya harus menutup lagu ini

Yeah, baby….I fall for you…

Begitu laguku selesai, kudengar tepukan tangan dari para pengunjung dan teman-temanku. Aku pun segera turun dari panggung dan menuju toilet. Rasa nyeri di tenggorokanku dan kian menjadi.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Aku terus terbatuk berharap rasa sakit itu berkurang. Sial, justru rasa sakit itu semakin terasa. Aku pun memegangi tenggorokanku, kenapa sakitnya sangat menyiksa seperti ini?

“Chen, gwen…..na?” Kudengar sebuah suara samar-samar dari arah belakangku.

NYUT!

Seketika itu juga kurasakan sakit yang tak tertahankan tepat ditelingaku. Aku pun reflek berteriak sambil memegangi telingaku

“AAARGH!!” Pekikku. Sungguh, ini sangat sakit. Telingaku sangat sakit, aku memegangi kedua telingaku dan yang kulihat adalah Kris hyung yang berlari kearahku. Aku tak bisa mendengarnya, telingaku sangat sakit. Yang kulihat dia hanya terus berbicara dan berbicara

“Hyung….aku tak bisa mendengarmu…” Ucapku dengan suara serak dan tetap memegangi kedua telingaku yang masih sangat sakit.

 

Author’s POV

“AAARGH!!” Pekik Chen membuat Kris kaget sekaligus panik. Ia pun segera berlari kearah Chen yang memegangi kedua telinganya.

“Chen??? Kau kenapa? Apa ada yang sakit?!” Tanya Kris bertubi-tubi, raut mukanya terlihat sangat khawatir. Namun tak ada jawaban dari Chen, dia hanya terus memegangi telinganya. Wajahnya menunjukkan bahwa dia memang sangat kesakitan.

“Chen!! Ada apa???”

“……”

“CHEEEEN!!!” Teriak Kris dengan sedikit emosi karena panik sekaligus tak sabar Chen tak menjawab pertanyaannya. Atau lebih tepat tak bisa menjawabnya, karena ia tak bisa mendengar sama sekali.

“Hyung….aku tak bisa mendengarmu…” Ucap Chen dan seketika itu juga Kris terdiam. Kaget? Ya tentu saja, tapi bukan waktunya untuk ia kaget. Kris langsung menarik Chen dan membawanya keluar dari toilet. Dia tahu ada yang salah dengan sahabatnya itu, dan sesuatu yang salah itu hanya bisa diketahui oleh seorang dokter.

Begitu keluar dari toilet, terlihat para karyawan café dan Sohi menatap Kris dengan penuh tanya dan bingung. Bingung karena Kris memapah Chen yang masih memegangi kedua telinganya.

“Hyung! Chen kenapa?!” Tanya Chanyeol dengan panik.

“Lebih kalian tak usah banyak tanya, ikut aku saja. Café kita tutup lebih awal, ok? Aku harus buru buru ke rumah sakit!” Ucap Kris, dan semuapun mengerti. Chanyeol segera ikut dengan Kris, Sohi pun mengikuti kakaknya. Beberapa pengunjung melihat kearah Chen dengan bingung, ya tentu saja namja itu baru saja bernyanyi untuk mereka dan sekarang dia seperti orang tak berdaya.

 

***

 

#Rumah Sakit

Sohi’s POV

Chanyeol oppa dan Kris oppa terus berjalan bolak balik didepanku. Mereka terlihat sangat panik, tentu saja aku pun panik. Chen oppa terlihat begitu kesakitan tadi. Aku tahu pasti ada yang tidak beres dengannya. Tapi kenapa ia tak pernah bercerita apapun bahkan Kris oppa yang notabenenya adalah sahabat dekatnya tak tahu menahu sama sekali. Tak berapa lama dokter pun keluar dari ruang UGD

“Maaf, siapa yang merupakan anggota keluarga dari Jongdae?” Tanya Dokter yang bernama Suho itu.

“Saya, saya kerabat terdekatnya!” Ucap Kris oppa dan dokter itu pun segera memberi isyarat agar Kris oppa mendekatinya. Aku tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan yang jelas Kris oppa terlihat sangat kaget dan terlihat sedikit marah.

“JANGAN BERCANDA DENGANKU!!” Teriak Kris oppa membuatku dan Chanyeol oppa segera menoleh kearahnya, kulihat dengan jelas Dokter Suho menepuk pundak Kris oppa. Aku tahu ada hal yang buruk menimpa Chen oppa. Firasatku sangat teramat tidak enak sekarang. Tak berapa lama pun Dokter Suho membungkuk dan segera pergi dari hadapan kami semua. Kris oppa mendatangiku dan Chanyeol oppa dengan muka lesu.

“Oppa, Chen oppa kenapa?” Tanyaku

“…….” Diam, Kris oppa hanya diam.

“Yaa hyung! Jelaskan pada kami, Chen kenapa?” Tanya Chanyeol oppa dengan panik. Aku tahu, ada yang sangat tidak beres disini.

“Aku tak bisa mengatakannya pada kalian, mian. Lebih baik kita segera masuk ke dalam.” Ucap Kris oppa sambil mendahului kami. Chanyeol oppa hanya bisa menghela nafas kecewa dan aku? well, aku hanya bisa mengikuti saja. Didalam ruangan sudah ada Chen oppa yang terbaring, dia menoleh kearah kami.

“Oh… hey” Ucapnya dengan suara serak. Lebih terdengar seperti serak yang sakit ditelingaku, entah kenapa. Hanya terdengar begitu ditelingaku.

 

Author’s POV

Kris segera mendekat kearah Chen yang terbaring dengan lemah itu, hati Kris sangat sakit melihat sahabatnya terkulai lemah seperti sekarang ini. dia pun segera duduk disamping Chen.

“Kenapa tak cerita?” Tanya Kris tanpa menatap Chen sedikitpun, Chen sedikit kaget mendengar pertanyaan Kris karena itu artinya Kris sudah tahu dia sakit apa.

“Mian…” Ucap Chen lirih. Dia menunduk.

“Kau tahu tidak? Sakitmu itu bukan sekedar main main. Dan bisa bisanya kau tidak bercerita sama sekali padaku.” Jawab Kris dengan sedikit emosi. Chanyeol dan Sohi pun hanya bisa diam, mereka sama sekali tidak mengerti

“Bukan begitu hyung… hanya saja…”

“Hanya apa? Sekarang kau pilih aku yang jelaskan pada Chanyeol dan Sohi atau kau yang menceritakan semuanya dengan jelas pada kami?” Tanya Kris dan Chen pun menghela nafas berat, ia tahu ia memang harus memberitahukan hal ini pada teman teman terdekatnya.

“Aku yang akan jelaskan, Chanyeol, Sohi duduklah” Ucap Chen dan kedua orang itu pun segera duduk. Mereka menatap Chen, menunggu penjelasan dari Chen.

“Maaf sudah membuat kalian khawatir, hanya saja aku tak mau kalau nanti kau bercerita pada kalian. Kalian akan sangat teramat protect padaku hanya karena penyakitku ini. aku……….ditenggorokanku. lebih tepatnya di pita suaraku, tumbuh sebuah tumor yang merupakan sebuah kanker…” Ucap Chen dengan terbata. Kalian bisa tahu sendiri bagaimana wajah Chanyeol dan Sohi sekarang, mereka sangat shock.

“Op….oppa” Ucap Sohi

“Mianhae, aku tak bercerita pada kalian.” Ucap Chen lagi, pundaknya bergetar. Ia tak mau menangisi hal ini lagi dan lagi, tapi bagaimana mungkin dia bisa berhenti menangisinya.

“Chen…sudah tidak apa apa. Toh sekarang kau sudah bercerita kan? Eung…kalau begitu aku ingin membeli minuman dingin dulu. Aku sangat haus.” Ucap Chanyeol dan segera pergi keluar. Kris sangat paham kenapa Chanyeol memilih untuk keluar dari ruang itu, Kris pun segera berdiri.

“Aku harus menelfon karyawan café yang lain dulu. Sohi jaga Chen baik baik, ne?” Ucap Kris dan dijawab dengan anggukan dari Sohi. Lalu ia pun keluar dari ruangan itu. kini tinggal Chen dan Sohi di ruangan bercat krem itu.

“Sohi…” Ucap Chen

“Wae oppa?”

“Mianhae”

“Untuk?”

“Karena aku pasti membuat kalian semua panik tadi. Aku sendiri terlalu takut bahkan untuk mengakui sebuah kanker tumbuh di dalam diriku.” Ucap Chen lagi, suaranya bergetar. Sohi pun segera menggenggam tangan Chen.

“Oppa….kami takkan marah atau bahkan menjauhimu karena ini. tenanglah, kami semua disini untukmu. Walaupun aku baru mengenalmu, tapi bolehkan aku mengajukan diri untuk jadi orang yang selalu bersamamu. Jika kau tak mau dijaga maka biarkan kita saling menjaga, jika kau tak mau menanggung penyakit itu sendirian maka kita akan tanggung bersama oppa. Jangan bersedih lagi, kau tahu? Air matamu itu membuat kami semua sedih…” Ucap Sohi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Chen yang melihatnya segera menarik Sohi ke dalam pelukannya. Memeluk yeoja itu dengan erat, menangis dipundak yeoja itu.

“…..” Diam, hanya bisa terdiam. Sohi mengelus lembut puncak kepala Chen dan memeluknya erat.

“Gwenchana oppa, gwenchana…” Ucap Sohi, dia tahu hanya ini yang bisa dia lakukan untuk Chen. Untuk namja yang ia…ehem sukai. Chen terus menangis. Ini pertama kalinya, ia menangis didepan seorang yeoja dan merasa begitu lega. Mereka berdua terhanyut dalam dunia mereka sendiri.

Diluar, Kris terduduk lemas di depan ruangan. Pundaknya bergetar. Dia menghela nafas berat, menatap foto di layar i-Phonenya, fotonya dengan Chen dan Chanyeol. Air matanya tak terbendung lagi. Ia bahkan tak sanggup hanya untuk membayangkan kanker itu akan menjalar di seluruh tubuh Chen, tidak. Itu tidak boleh terjadi pada sahabat karibnya.

“Aniyo…..Jongdae…. hiks aniyo… kenapa kau harus sebodoh itu huh? Kau tahu tidak seberapa parahnya penyakitmu sekarang?” Gumam namja jangkung blonde itu dalam isak tangisnya.

Sementara Chanyeol, ia menatap lurus ke mesin minuman dingin di depannya.

DUUUK!

Dia menendang mesin itu dengan kesal dan memukul kaca dimesin itu.

“Pabo namja! Kenapa tidak cerita pada kami selama ini? dia pikir kami ini apanya hah?!” Teriaknya sambil menunduk. Dia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menyadari penyakit Chen.

“Kenapa…..kenapa kau tak bercerita….Chen… bodoh!” Ucap Chanyeol sambil menahan tangisnya. Sia-sia, air mata itu turun dengan mulusnya. Chanyeol tak mau kehilangan sahabatnya, tidak. Ia sudah cukup kehilangan ayahnya dulu, ia tak mau merasakan kehilangan lagi. Namja itu menangis dalam diam mencoba mencari cara bagaimana cara menolong Chen.

***

#Seminggu kemudian

Chen’s POV

Aku masih berada di rumah sakit, ini karena Kris hyung tidak memperbolehkanku keluar. Aku pun mengambil bukuku dan mulai menuliskan beberapa lirik lagu. Yeah, aku ingin sekali bernyanyi hanya saja suaraku semakin serak akhir akhir ini dan semakin sakit tepat di tenggorokanku.

Would you…. Uhuk! Uhuk!” lagi lagi aku terbatuk hanya pada 2 kata pertama dari laguku. Aku pun memegangi tenggorokanku yang semakin sakit

“uhuk! Uhuk! Uhuk!” aku terus terbatuk dan memegangi tenggorokanku, rasanya seperti terbakar. Aku pun mencari air minum dan segera kuminum tapi nihil, tenggorokanku masih sangat sakit

“Uhuk!!” Batukku dengan keras, dan kurasakan sesuatu yang berbeda dari batukku yang biasanya. Aku pun melihat tanganku

DEG

Darah…….. aku batuk darah……. Aku pun terdiam. hatiku benar benar terasa seperti ditusuk sekarang, penyakit ini terus menggerogoti tubuhku, aku pun menangis.

“Tuhan, kumohon… berikan aku kesembuhan. Aku tak mau. Tak mau begini” Ucapku lirih dan mencari cari tisu untuk membersihkan darah ditanganku.

“Oppa, itu apa?”

DEG

Aku segera menoleh dan mendapati Sohi sedang berdiri di sampingku, aku pun panik dan segera menyembunyikan tanganku yang terkena darah.

“A….aniyo” Ucapku terbata.

“Oppa……..kau eunggg tidak batuk darah kan?”

DEG

Aku seperti membeku saat itu juga, tidak aku tidak boleh memberitahukan Sohi. Tidak, aku tak mau membuat semua orang lebih panik lagi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus berkata jujur? Tidak!! Ottokheee??

“Oppa, kemarikan tanganmu”

“Aniyo!” Ucapku setengah berteriak. Aku mulai panik sendiri. Sohi tidak boleh melihat tanganku tidak. Tidak disaat begini.

“Oppa…. Wae? Jangan begini”

“AKU BILANG TIDAK!!! JANGAN MEMAKSAKU!!!” Teriakku dan seketika itu juga Sohi kaget dan dia segera membeku ditempatnya berdiri, lalu dia pun tersenyum tipis.

“Arraseo, kurasa lebih baik aku pergi sekarang” Lalu dia membalikkan badannya dan berjalan keluar dari ruangan. Aku masih menatap punggungnya yang mulai menjauh dari kamarku.

“Chankk…..uhuk! uhuk!” Lagi lagi aku terbatuk, dadaku terasa sesak karena batuk yang terlalu keras. Sakit…sangat sakit. Aku terjatuh dari tempat tidurku, kupegangi tenggorokan dan dadaku. Seseorang….tolong aku, jebal….

 

TBC

 

Helloooooo, maaf alurnya gajelas gini ya hehehe abis author tadinya mau bikin one shot Cuma kepanjangan gitu :S okay, thanks for reading readerdeul! Wait for the next chap oke hehehe gomawooo ^^

 

14 pemikiran pada “A Song Without Voice (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s