Make You Feel My Love

Title : Make You Feel My Love

Author : Scarlett Li (@bellasallsa)

Length : Oneshot

Genre : Romance, Friendship, Ficlet

Rated : 13

Main Cast :

– Byun Baekhyun

– Song Hwasung

Support Cast :

– Someone in Baekhyun’s history

Desclaimer : The plot is mine. OC’s my imagination._. and Byun Baekhyun EXO is god’s. And i’m not own the picture.

Warning : May Typos.

Summary :

Andai saja cinta itu mudah untuk dikenang, hanya sekedar untuk dikenang. Dan mudah untuk mencari seseorang yang lain. Andai saja begitu. Tetapi.. sampai kapan aku terus menerus berandai-andai?

– Song Hwasung

Recommended Song :

1. Adele – Make You Feel My Love (cover)

2. Ailee – Evening Sky (저녁 하늘)

Night sky

April, 09th

When the rain is blowing in your face,

Song Hwasung membuka matanya lebar-lebar. Tetapi seberusaha apapun ia membuka matanya lebar-lebar dan berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya karena titik-titik hujan deras yang belum juga berhenti sekaligus menerpa wajahnya, tetapi tetap saja. Hal itu tidak terjadi. Pria itu tetap disana. Diam tidak tergerak sedikit pun dari tempatnya, hanya mengerjapkan kedua matanya dan sesekali mengusap pusara sebuah makam.

And the whole world is on your case,

Hwasung menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia sudah kedinginan. Tetapi ia tidak boleh meninggalkan pria itu sendirian. Pria itu tidak boleh berlarut dalam kesedihannya. Tetapi yang jelas, pria itu harus melupakan masa lalunya.

“Baekhyun-a. Sampai kapan kau akan berdiam diri disana dan akan tetap menunggu disana?” kali ini Hwasung memberanikan diri untuk berbicara, walau suaranya agak tenggelam karena suara titik-titik hujan yang menghantam bumi dengan keras.

Walaupun suaranya agak tenggelam diantara titik-titik hujan yang deras itu, Baekhyun tetap menoleh padanya. Menatapnya datar. Hwasung menghela nafas melihat itu.

“Kau bisa pergi jika kau mau.” katanya lalu kembali menatap pusara itu.

“Tetapi, Baekhyun-a..” katanya lagi, hendak membantah. Tetapi ia membungkam kembali mulutnya saat melihat Baekhyun kini menunduk. Dan mungkin selanjutnya, ia melakukan hal yang sama seperti seminggu yang lalu. Menangis.

Kaki Hwasung perlahan berjalan mendekatinya, berjongkok disebelah pria itu dan mengusap bahunya lembut. “Kau tidak perlu menangisinya lagi. Ia sudah bahagia di langit sana. Jika kau terus menangisinya, ia juga akan sedih bahkan akan menangis melihat tingkahmu yang seperti ini.” katanya. Ia tahu, Baekhyun bukanlah anak kecil lagi yang akan percaya dengan perkataan bullshitnya itu. Tetapi untuk saat ini, melakukan hal itu memang lebih baik untuknya pikir Hwasung saat itu.

“Aku masih tidak bisa percaya ini. Tolong beri tahu aku, bahwa ini semua hanyalah mimpi burukku.” katanya menatap Hwasung dengan matanya yang sembab, memerah. Hwasung bisa bersumpah, bahwa wajah Baekhyun terlihat buruk saat ini.

“Ini memang mimpi burukmu, Hyunnie.” katanya lalu menghela nafas. “Mimpi buruk yang berubah menjadi kenyataan.”

Walaupun terlihat samar, tetapi airmata Baekhyun benar-benar jatuh, lalu menunduk kembali. Bahunya bergetar tak teratur. Hwasung menatapnya, kini airmatanya juga mendesak keluar. Ya tuhan… mengapa harus seperti ini?

Bahu Baekhyun semakin bergetar. Hwasung segera memeluknya. Memberinya energi sejenak atau membantunya meluapkan rasa sedihnya. Kini bahu Baekhyun benar-benar terasa bergetar hebat. Dan suara isak tangisnya pun terdengar—walaupun agak terendam karena hujan deras yang menyelimuti mereka.

Apapun, Hwasung membantin. Apapun akan kulakukan.. untuk membuatmu bahagia.

Apapun.

I could offer you a warm embrace
To make you feel my love

                                                                   —

April, 13th

When the evening shadows and the stars appear,

Hwasung melangkah pelan, seakan takut memecahkan konsentrasi pria itu yang sedang menatap langit diatas loteng apartemen. Hwasung duduk disampingnya tanpa suara, lalu menatapnya dan menyodorkan coklat panas.

“Diluar dingin, kau tidak ingin masuk?” tanya Hwasung pelan. Baekhyun tidak menjawabnya, hanya menatap kosong langit yang mulai disinari beberapa bintang yang kerlap-kerlip mengisi langit yang terlihat kosong. “Aku membuatkan coklat panas untukmu. Minumlah.”

Baekhyun menatapnya sekilas, lalu mengambil cup itu lalu menaruh cup itu disampingnya, di sebuah drum didekatnya. Hwasung mendesah lalu menatap langit kosong seperti Baekhyun.

And there is no one there to dry your tears,

“Kau tahu, kadang aku merasa perasaanku seperti langit.” Baekhyun tiba-tiba berbicara, membuat Hwasung menoleh padanya. Sementara kini Baekhyun tersenyum pahit. “Kadang cerah, kadang mendung. Kadang hujan, kadang terlalu panas sampai menjadi terik. Tetapi kadang terlalu dingin sampai menjadi salju.”

Hwasung mulai mengerti maksud Baekhyun, mulai menatapnya lekat. Sementara Baekhyun menghela nafas berat, lalu tersenyum kecil.

“Dan saat ini, perasaanku sama seperti langit itu.” katanya. “beberapa bintang mengisi kekosongan, tetapi tidak cukup untuk menerangi langit dengan sinarnya itu.” lanjutnya. Ia menunduk, lalu mengepalkan tangannya sambil mengeleng. “Aku tidak bisa. Aku masih mencintainya.” lalu suaranya semakin memberat karena ia sudah mulai menangis. Hwasung memeluknya, dan ia malah menangis lebih.

Aku mengelus rambutnya, lalu berbisik pelan. “Kau bukannya tidak bisa, tetapi belum.”

Baekhyun memeluk Hwasung semakin erat, membuatnya menangis. Apakah rasa itu begitu sakit?

“Aku.. tidak bisa. Aku masih mencintainya. Begitu.. begitu mencintainya.” kata Baekhyun ditengah-tengah tangisnya.

Sekarang Hwasung tahu rasa itu. Begitu sakit, menusuk.

I could hold you for a million years
To make you feel my love

I know you haven’t made your mind up yet,
But I would never do you wrong

Pagi-pagi sekali, Hwasung sudah bangun dan bergegas mandi. Setelah itu—tanpa sarapan—ia langsung ke flat Baekhyun. Ia menekan beberapa angka disana, dan terdengar suara verified. Hwasung membuka pintu, lalu menghela nafas pelan. Sama saja seperti tadi malam. Berantakan, walaupun tidak seperti kapal pecah—karena untungnya Baekhyun tidak meluapkan perasaannya dengan melempar barang-barangnya. Hanya karena sudah lama tidak dibersihkan (biasalah, laki-laki).

Ia melangkah ke depan pintu kamar Baekhyun, lalu menatap pintu itu ragu. Apakah ia harus membukanya? Hwasung menatap kenop pintu ragu. Mereka sudah bersahabat lebih dari lima tahun, jadi.. boleh kan?

Hwasung menahan nafasnya melihat pemandangan di hadapannya. Baekhyun terlihat sedang tidur dengan tenang diatas tempat tidurnya. Tak sadar, sekarang Hwasung sudah berada disamping kasur itu. Menatap lekat Baekhyun. Walaupun ia sudah berkali-kali melihat wajah polos Baekhyun saat tidur, entah kenapa rasa itu tetap saja terlahir kembali. Rasa gemuruh dalam dadanya. Jantungnya berdegup kencang.

Hwasung mengerjapkan matanya, lalu menggeleng. Tidak, batinnya. Tidak boleh. Ini… tidak boleh terjadi.

Ia segera keluar dari kamar itu dan berjalan agak tergesa-gesa menuju dapur flat Baekhyun. Ia membuka kulkas, hanya ada telur, susu…

Hwasung menghela nafas menatap isi kulkas Baekhyun yang hampir kosong itu. Masih ada sedikit beras, bubur sajalah. Pikir Hwasung.

Saat bubur itu sudah diberi sedikit garam, Hwasung mengurungkan diri untuk memberi bubur itu kaldu. Baekhyun tidak suka kaldu. Walaupun kaldu itu terasa enak di makanan.

“Hwasung?”

Hwasung menoleh, lalu tersenyum senang melihat Baekhyun dengan tampangnya yang baru tidur itu—berantakan, wajahnya yang masih terlihat mengantuk—Baekhyun menggaruk kepalanya, lalu mendekat melihat aktifitas Hwasung.

“Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” tanya Hwasung sambil tersenyum lebar padanya.  “Aku sudah membuatkanmu sarapan. Mungkin sebentar lagi akan matang dan—” Hwasung menahan nafasnya saat Baaekhyun kini berada disampingnya. Dengan seringaian kecilnya—seperti anak kecil yang mendapatkan apel curian—ia mengambil sendok lalu tergerak untuk membuka tutup panci. Ia tersenyum lebar melihat isinya lalu menutup matanya, ingin merasakan lebih dalam aromanya.

“Sepertinya enak sekali. Apakah sudah matang?” Tanya Baekhyun sambil menatap Hwasung cerah. Jantung Hwasung langsung berdebar-debar. Tak sadar, Hwasung mengangguk. Melihat itu, senyum Baekhyun melebar dan segera menyendokkan sedikit bubur itu kedalam sendoknya, lalu meniupnya sejenak dan mencicipinya. Ia tersenyum lebar lalu mengambil panci itu dengan sarung tangan dan membawanya ke meja kecil.

Hwasung hanya melihat kejadian itu dengan matanya yang melebar. Tadi malam.. tadi malam.. Ah.. ia tersenyum. Baekhyun sedang mencoba untuk melupakan masa lalu.

Melihat Hwasung tersenyum sambil menatapnya, Baekhyun menoleh padanya lalu tersenyum. “Tadi kau menanyakan kabarku bukan?” katanya yang segera dijawab anggukan oleh Hwasung. “aku.. aku baik-baik saja. Yah.. untuk sekarang ini.. kurasa aku.. membaik.”

Hwasung berjalan mendekati Baekhyun dengan dua mangkuk yang berada di tangannya. Hwasung tersenyum lebar. “Baiklah.. kalau begitu. Kau makan dulu. Aku yakin perutmu itu tidak kebal pada makananku.” katanya yang membuat Baekhyun tertawa.

Seperti ini… Batin Hwasung sambil menatap Baekhyun yang kini memakan buburnya dengan lahap. Biarkan semuanya berjalan seperti ini.. tolong.

“Hwasung?”

“Ah! Ada apa?” Hwasung mengerjapkan matanya. Sementara Baekhyun tersenyum menatapnya. Baekhyun menggerakkan sendoknya, menyuruh Hwasung berada di sisinya.

“Kau tidak makan?” tanya Baekhyun. Hwasung menatap baekhyun dengan matanya yang membulat karena kaget, lalu menggeleng.

“Kau duluan saja.” katanya. Baekhyun berdiri. Dan menariknya ke sisinya.

“Jika bubur ini beracun, setidaknya bukan hanya aku saja yang merasakannya.” katanya membuat Hwasung menatapnya tajam, bibirnya mengerucut.

Ya, Byun Baekhyun-a!”

I’ve known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong

I’d go hungry; I’d go black and blue,
I’d go crawling down the avenue.

No, there’s nothing that I wouldn’t do
To make you feel my love

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,

“Kau tidak kerja?” tanya Baekhyun padanya. Hwasung menggeleng.

Eomma mengizinkanku libur. Yah, untuk sebulan. Cukup untuk menemanimu, bukan?” kata Hwasung membuat Baekhyun tersenyum kecil.

“Lebih dari cukup.”

Udara berhembus, dan berhembus lagi dengan cepat dan liar. Membuat Hwasung berkali-kali harus menyelipkan rambut panjangnya ke belakang cupingnya. Pasir putih yang begitu menggelitik kakinya karena sejak datang ke tempat ini, mereka langsung melepaskan alas kaki. Pemandangan ini terlalu indah untuk dilewatkan.

Mereka berhenti dan duduk di tengah pasir putih itu. Baekhyun menatap lautan itu. Ombak yang terombang-ambing sembarangan membuat pamandangan terlihat begitu cantik. Sedangkan Hwasung? Menatap Baekhyun pun sudah cukup dibilang pemandangan termanis yang pernah ia lihat. Tetapi Hwasung tetap memfokuskan dirinya menatap lautan biru itu. Walaupun sekali-sekali ia melihat wajah Baekhyun.

“Aku pernah kesini. Bersamanya.” kata Baekhyun tanpa menatap Hwasung. “Dia mengatakan, “Jika kita hidup seperti ombak ini, kita belum tentu akan selamat. Terbentur karang yang keras dan tajam, terombang ambing tanpa tahu arah, dan tidak tahu kapan akan mencapai daratan. Dan ataukah ia akan selamat jika sudah sampai di daratan.”.” katanya lalu tersenyum kecil. “dan ia bilang ia tidak mau hidup seperti itu. Walaupun memang itulah hidup.”

Hwasung menatapnya. Matanya berkaca-kaca, sementara Baekhyun menghela nafas berat. “Aku masih.. mencintainya. Hwasungie.” katanya lalu menunduk.

Hwasung menatap lautan luas itu, lalu menghela nafas. “Cinta itu memang tidak mudah pergi. Sekuat apapun caramu untuk membiarkannya, tetapi jika cinta, itu akan.. sulit.” Hwasung merasakan tenggorokannya kering dan matanya mulai memanas. Tidak, jangan. Jangan disini.

“Kau boleh mencintai sesuatu, tetapi jangan lebih. Karena jika sesuatu itu menghilang, kau akan sakit. Sakit.. sekali.” kata Hwasung lagi. Airmatanya menetes, lalu dengan segera ia menghapusnya. Ah.. begitu sakitnya.

Baekhyun menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Darimana kau mendapatkan kata-kata itu?”

Hwasung menghela nafas karena Baekhyun tidak menyadari kejadian tadi. Ia menatapnya sekilas, lalu tersenyum kecil. “Eomma.”

“Bagus sekali. Ibumu itu hebat juga. Selain bisa membuat roti yang lezat, ia juga seseorang yang puitis.” kata Baekhyun sambil tersenyum kecil. Hwasung tersenyum kecil memikirkan itu. Pada saat ibunya mengatakan hal itu, ia sedang menangis karena Baekhyun mengatakan akan bertunangan dengan seseorang di masa lalunya.

“Tapi, aku agak membantah perkataannya.” kata Hwasung, membuat Baekhyun menaikkan salah satu alisnya. Hwasung tersenyum pahit. “kita tidak bisa menakar seberapa besar kita mencintai sesuatu. Jadi saat sesuatu itu hilang, hal pertama yang kita lakukan adalah menangis.”

Baekhyun mengangguk kecil lalu menatap lautan, membenarkan perkataan Hwasung.

“Kupikir.. kau benar.”

Hwasung tersenyum. Lalu keadaan kembali lengang. Hanya terdengar desiran ombak dan hembusan udara yang menerpa kulit dan hanya deruan nafas masing-masing—walaupun itu agak terkalahkan dengan suara ombak yang menghantam karang.

“Baekhyun-a.” Hwasung memanggilnya dan menatapnya. Baekhyun menoleh padanya, mengerutkan keningnya.

“Bagaimana perasaanmu.. jika rasa sakit itu bukan karena kehilangan?” perkataan Hwasung membuat Baekhyun semakin mengerutkan kening dan menggerakkan bibirnya, tidak mengerti.

“Bagaimana jika sesuatu itu… telah dimiliki orang lain? Seperti anak kecil saat menemukan sebuah mainan kesukaannya yang ternyata pada saat itu juga telah dibeli oleh anak lainnya?”

Baekhyun menatapnya—wajahnya tidak lagi penuh kerutan dan pertanyaan besar—Baekhyun tersenyum.

“Pasti itu.. sangat sakit.” kata Baekhyun membuat Hwasung tersenyum kecil.

“Ya. Sepertinya itu memang sangat sakit.”

Bahkan, orang yang dicintainya mengatakan hal yang sama. Sangat sakit…

You ain’t seen nothing like me yet

I could make you happy, make your dreams come true

Hwasung berjalan mendekati sofa tua yang dihadapan sofa tua itu ada dua drum besar; yang satu digunakan untuk tempat pembakaran, dan yang satunya lagi digunakan untuk meja.

“Kupikir percuma kau menyalakan api disana.” kata Hwasung sambil melirik drum besar yang terlihat api yang menyala-nyala. “kau sepertinya samasekali tidak merasakan rasa hangat dari api itu.”

“Aku merasakan hawanya.” katanya lalu terkekeh. “setidaknya jika kau kedinginan, kau bisa berdiri dan menghangatkan diri di dekat sana.” Kata Baekhyun lalu tersenyum. “Mana coklat panasku?”

Hwasung tersenyum, lalu menyodorkan salah satu cup yang di bawanya. “Ini. Tidak sabaran sekali.”

Baekhyun mengambil cup itu lalu tersenyum menatap Hwasung yang duduk disampingnya. Ia menaruh cupnya di “meja” dan melebarkan selimutnya. Hwasung menatapnya sementara Baekhyun tersenyum.

“Lebih hangat?” tanyanya. Hwasung mengangguk lalu menunduk sambil menyeruput coklat panasnya.

“Ah.. udaranya dingin sekali. Kupikir tidak akan sedingin ini.” gumam Baekhyun, lalu mengambil cup coklat panasnya lalu menyeruputnya pelan-pelan.

Nothing that I wouldn’t do

“Baekhyun.”

Baekhyun menatap Hwasung dengan satu alisnnya yang dinaiikan.

Hwasung menatapnya, benar-benar menatapnya. “Sesudah ini.. apa yang akan kau lakukan?”

Baekhyun tersenyum sambil menaruh cup coklat panasnya di tempat tadi.

“Kupikir.. aku akan membuka mimpiku. Mimpi sejak lamaku.” kata Baekhyun lalu tersenyum kecil. “Eomma dan Appa sudah mengizinkan dan akan membantuku. Jadi tinggal mengurus yang lain. Itu mudah.”

“Mimpimu itu..”

“Membuka kedai. Sebenarnya awalnya aku ingin menghususkannya pada kopi. Tetapi setelah kupikir ulang, minuman yang lainnya pun menarik untuk dicoba.” katanya  sambil tersenyum lebar mengatakan hal itu. “Aku akan meminta Kyungsoo hyung untuk masalah dapur. Dan Chanyeol bagian promosinya. Ah, Kupikir si kecil Sehun itu dapat membantu Chanyeol juga. Untuk masalah pelayan, ah, gampang. Ada Jongin yang kemarin baru saja dipecat dari kerjaan lamanya. Juga Myungsoo hyung yang bisa membantu. Bisa kuatur.” katanya seakan-akan semua orang yang dibicarakannya sudah setuju dengan perkataannya yang baru saja keluar dari pikirannya. Itulah yang membuat Hwasung tertawa kecil melihat tingkah Baekhyun seakan semuanya setuju padanya.

“Lalu bagaimana dengan tempatnya? Arsitekturnya? Penataan setiap detil barangnya?” tanya Hwasung lalu menyeruput coklat panasnya sejenak. “Biasanya interior itu juga dinilai oleh para pengunjung. Kau harus tahu itu.”

Baekhyun terdiam sejenak, lalu tersenyum sambil menatap Hwasung. “Ada kau.” katanya lalu tersenyum lebar. “ah, benar. Lengkap semuanya.”

“Sepertinya dari perkataan panjang-lebarmu itu, aku samasekali belum mengatakan aku setuju dengan perkataanmu itu.” kata Hwasung dengan raut wajah seakan-akan aku-menolak-pemikiranmu-itu.

Baekhyun menatapnya, lalu merangkul Hwasung. Hwasung menahan nafas, apa ini?

“Ayolah, Bantu aku. Hwasungie, bbuing-bbuing.” katanya dengan menggerakkan tangannya yang sudah terkepal di sekitar pipinya. Ia menggembungkan sedikit pipinya. Astaga, ia terlihat menggemaskan.

“Baekhyun, hentikan. Astaga, kau terlihat seperti anak kecil saja. Aku belum mengatakan aku setuju.” kata Hwasung lalu tertawa.

Baekhyun tidak mau menyerah begitu saja. Ia mengeluarkan puppy eyesnya. “Ayolah, Hwasung. Kau itu kan sahabatku.. sesama sahabat harus saling membantu bukan?” katanya. “oh, kau tentang saja. Aku akan membayarmu. Walaupun kita bersahabat, aku akan tetap mengingat hal itu, kok. Kau tenang saja.”

Hwasung terdiam, lalu tersenyum pahit. Ah.. sahabat, ya? Hampir saja ia melupakan hal itu.

“Ya, aku akan membantu.”

“Bagus kalau begitu. Berarti aku tinggal mencari lokasi yang tepat dan strategis untuk…” selanjutnya, Hwasung tidak mendengar perkataan Baekhyun—yang dengan mata yang berbinar-binar penuh bahagia itu. Ia terlalu sibuk memikirkan satu kata yang diucapkan Baekhyun itu.

Sahabat.. sahabat.. akankah selalu begitu?

Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love

“—Sungie?”

“Ah? Nde?” Hwasung mengerjapkan matanya lalu menatap Baekhyun yang kini menatapnya dengan tatapan bingung dan kesal.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Baekhyun penuh selidik. Hwasung menatap langit, lalu menggeleng.

“Tidak ada.”

“Kau yakin?”

Hwasung hanya menggumam tak jelas tanpa menatap Baekhyun. Terlalu takut untuk menatapnya. Hening diantara mereka. Hanya terdengar suara angin yang berhembus, hendak berpindah kearah lain, suara mobil dan klaksonnya itu di jalan raya dan suara kecil dari drum pembakaran itu dan—oh!—kini Baekhyun tengah menyeruput coklatnya yang mulai dingin. Sementara Hwasung tidak peduli pada coklat panas—atau sekarang bisa dibilang dingin—miliknya itu.

“Baekhyunnie.” Hwasung memanggilnya dengan suara kecil-bahkan hampir tidak terdengar jika suasana malam itu tidak terlalu sepi seperti tadi.

“Hm?” gumam Baekhyun sambil tetap menatap langit. Ia kembali menyeruput coklat panas—yang mulai dingin—miliknya.

“Aku..” Hwasung mencoba mengumpulkan suaranya yang terasa tercekat di tenggorokan. “Aku berhasil bukan?”

Kini Baekhyun menatapnya, tidak mengerti. Hwasung menoleh padanya, lalu tersenyum kecil.

“Aku berhasil membuatmu tersenyum atau bahkan tertawa lagi. Aku benar kan?” kata Hwasung penuh harap. Baekhyun menatapnya beberapa waktu tanpa berbuat apa-apa, lalu menaruh cupnya di meja drum itu dan kembali menatap Hwasung dengan senyumannya.

“Ya. Kupikir begitu.”

Hwasung menggigit bibirnya kuat-kuat. Menahan tangis. “Kalau begitu.. sepertinya misiku sudah selesai. Aku telah membuatmu kembali menjadi dirimu, aku senang sekali. Tetapi aku harus berjalan.”

Baekhyun menatapnya sambil mengerutkan kening. “Maksudmu berjalan?”

Hwasung menatap langit, lalu tersenyum pahit. “Setiap superhero, ketika sedang menjalankan misinya untuk menyelamatkan dunia, ia harus menuntaskannya bukan? Apapun itu, bagaimana pun itu. Meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri—”

“Hwasung, hentikan. Dan bicaralah pada intinya. Aku semakin tidak mengerti apa yang kau maksud.” kata Baekhyun gusar. Ia sebenarnya mengerti maksud Hwasung kali ini. Tetapi ia tidak ingin pikirannya bermain-main tanpa tahu jawaban yang pasti.

“—dan pada akhirnya jika superhero itu selamat, ia harus pergi. Untuk tetap hidup, dan membantu bagian lain yang sedang kesusahan.” kata Hwasung. Membuat Baekhyun menghela nafas. Ia tahu akhirnya akan seperti ini.

“Dan seperti superhero itu, aku harus pergi.” lanjutnya.

“Kemana? Chuncheon? Daejeon? Daegu? Akan kuantar.” kata Baekhyun.  “atau… kau akan pergi ke Jeju? Baiklah, akan kuantar. Oh atau kau ingin pergi ke Jepang? Berapa lama? Aku akan mengantarmu dan berkunjung sekali-kali.” lanjutnya gusar. Hwasung menggeleng kecil lalu tersenyum.

“Bukan ke semua tempat yang kau maksud.” kata Hwasung.

“Kau akan pergi kemana?” tanya Baekhyun semakin gusar. Ia tidak mengatakan akan tinggal di tempat-tempat itu, lalu kemana?

“Bukan di Korea, yang jelas.” kata Hwasung.

Baekhyun menghela nafas. Pasti ia berpikir akan kehilangan satu lagi wanita yang dicintainya.

Sebagai sahabat. Itu pasti. Hwasung tersenyum kecil.

Sementara Hwasung memiliki pemikiran yang berbeda. Jika ia berada jauh di sekitar Baekhyun, semakin mudah baginya untuk melupakannya.

Saat itu, ia hanya menginginkan hal itu. Ia hanya tidak ingin terlalu sakit hati saat Baekhyun mengatakan hal itu lagi padanya. Setidaknya, ia tidak melihat kilat-kilat bahagia Baekhyun saat menceritakan masa lalunya, atau seseorang di masa depannya.

Walaupun sementara.

To make you feel my love

Annyeong. Kali saya datang dengan tema yang sama: inspired by song. Dan kali ini bukan K-pop, melainkan wenstern music. Kenapa? Nggak tahu, lagi dapet feelnya saja sama lagu itu. Oh ya, kalo commentnya banyak (dan pada minta sequel._.), saya bakal bikin side storynya (Baekhyun’s side) dan sequelnya. Mohon bantuannya, ya. Kamsahamnida 🙂

Visit my wordpress : bellssalsa.wordpress.com

95 pemikiran pada “Make You Feel My Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s