Chapter Of Our Life (Chapter 6)

Chapter of Our Life (Part 6)

Title     : Chapter of Our Life (Part 6)

Genre : Family, Friendship, Angst

Length : Chapter

Rank    : G

Main Cast :

  1. Do Kyungsoo as Kim Kyungsoo
  2. Byun Baekhyun as Kim Baekhyun
  3. Park Chanyeol as Park Chanyeol

Support cast:

  1. Oh Sehoon as Park Sehun
  2. Lee Youngra (OC)
  3. Cho Seorin (OC)

Author : Han Minra

chapter of our life

=== CHAPTER OF OUR LIFE===

“Mianhae. Aku tak tahu jika penderitaanmu seberat ini.” Chanyeol memeluk Baekhyun.

“Tidak apa. Aku yang membuatmu tidak tahu. Mianhae aku telah membohongi kalian dan gomawo telah memberi kesempatan pada kami sekali lagi bagaimana perasaan hidup di tengah-tengah keluarga yang sesungguhnya. Jika kalian ingin aku pergi, maka aku pergi sekarang.”

“Shireo! Shireo! Tak akan kubiarkan kau pergi. Tetaplah disini dan menjadi keluarga kami.” Baekhyun merasakan pundaknya basah, ternyata Chanyeol sedang menangis.

“Tapi, aku….”

“Keluarga tidak akan pernah membiarkan salah satu anggotanya pergi. Mereka akan berusaha mempertahankannya walau dengan cara apapun. Karena keluarga adalah sekumpulan orang yang paling mengerti dirimu, menyayangimu, menjadi tempatmu berbagi dan tak pernah mengkhianati. Sekali menjadi keluarga, selamanya akan tetap begitu.” Kata Chanyeol.

“Aku… berhutang budi pada kalian.” Baekhyun tak kuasa menahan air matanya, sementara Sehun juga menangis melihat peristiwa itu.

Beberapa detik kemudian,

“Tunggu! Dimana Kyungsoo? Dia tidak pulang bersama kalian? Apa yang Heechul lakukan?”

“Dia? Dia… dibawa oleh pamanmu pulang ke rumah.” Chanyeol tertunduk.

“Apa?! Kenapa kalian tak mencegahnya?”

“Chanyeol hyung tidak memberinya kesempatan menjelaskan. Dia sudah terlanjur dikuasai oleh perasaan amarah, juga karena kami tak tahu jika begini cerita sebenarnya.”

Baekhyun terduduk lemas di atas tempat tidur.

“Tapi, sikap pamanmu tadi bertentangan dengan ceritamu barusan.” Kata Sehun.

“Sepertinya sekarang pamanmu sudah berubah, nada bicaranya tadi sangat lembut.”

“….” Baekhyun masih menunduk.

“Baiklah, kita jemput dia besok. Kau tak usah khawatir.”

“Aku sangat khawatir karena aku tak tahu apa yang ada di pikirannya, dia sangat licik. Dan yang membuatku lebih khawatir adalah dugaan sementaraku mengenai peneror itu, semua tertuju padanya. Aku takut ini semua hanya tipuan.”

“Tenang, baik besok pagi-pagi kita jemput dia.”

“Aku takut akan terlambat. Aku hanya tak mau kehilangan satu-satunya saudara kandungku. Tidak bisakah kita pergi sekarang?”

“Bukannya aku tak mau, tapi kondisimu sepertinya belum memungkinkan. Tenangkan hatimu, Tuhan pasti akan menjaganya.”

“Kuharap begitu. Perasaanku tak enak.”

“Lebih baik kau istirahat. Pergilah mandi dan jernihkan pikiranmu.”

“Arraseo.”

===

Baekhyun POV

Begitu mendengar berita bahwa Kyungsoo dibawa pulang oleh Heechul, tiba-tiba perasaan sesak dan firasat tak mengenakkan itu muncul kembali. Perasaan seperti, akan ditinggal jauh oleh seseorang. Aish! Aku mengusir pikiran-pikiran negative di otakku, meskipun sangat susah. Karena sudah terpatri di otakku bahwa Heechul ajusshi dan istrinya adalah orang paling kejam yang pernah kukenal.

Heechul adalah orang yang sulit ditebak, aku takut di balik sifatnya yang berubah dia menyimpan suatu rahasia yang besar. Bagaimana keadaan Kyungsoo sekarang? Sedang apa dia? Apa Heechul memperlakukannya seperti dulu? Ck, sial! Aku tak bisa mengingatkan Kyungsoo untuk hati-hati. Kenapa ponselnya harus tertinggal?!

Baik, kita tunggu sampai besok. Jika Heechul benar-benar memiliki suatu rencana, aku harap dia tak bergerak secepat itu.

===

Author POV

“Mengapa Baekhyun hyung lama sekali?” kata Kyungsoo.

“Eh? Kau sudah bangun? Emm…. Mianhae, ini mungkin akan membuatmua kecewa.” Jawab Heechul.

“Hm?”

“Tadi saat orang suruhanku datang ke kediaman keluarga Park, ada sesuatu yang aneh. Kupikir orang suruhanku itu salah alamat, tapi ia yakin itu benar karena itu sama persis dengan alamat yang kau berikan.”

“Apa yang aneh? Ajusshi, ceritakan selengkapnya.”

“Baiklah, tapi jangan sedih setelah mendengar ini.”

“Ne.”

“Orang suruhanku bilang dia bertemu Baekhyun dan memintanya untuk pulang ke Incheon. Namum ternyata dia menolak, dia bilang dia sudah betah tinggal disana dan keluarga itu sudah benar-benar menganggap Baekhyun sebagai bagian dari mereka. Kemudian seorang namja bernama Chanyeol mempertegas hal itu. Entah apa yang telah dikatakan Baekhyun hingga dapat merubah asumsi negative dari Chanyeol. Dan katamu, yang tadi memarahimu di makam namanya Chanyeol kan?? Kenapa dia berubah sedrastis itu? Aneh bukan.” Heechul mengarang cerita.

“Lalu apa dia tak ingin bertemu denganku?”

“Masalah itu. Dia bilang…. Dia akan membiarkanmu hidup disini bersamaku.”

“Orang suruhanmu itu pasti salah. Baekhyun hyung tidak akan seperti itu, dia sudah berjanji akan terus bersamaku.”

“Tapi fakta berkata lain Kyungsoo. Itulah dikatakan Baekhyun, dia memutuskan untuk tidak tinggal denganmu.”

“Ia tidak pernah mengingkari janjinya.”

“Sudahlah Kyungsoo, lagipula tak apakan kalau kau tidak tinggal disana bersamanya? Tinggallah disini menemaniku, karena sebentar lagi aku akan ditinggal pergi oleh bibimu.”

“Jangan bicara seperti itu, umur ada di tangan Tuhan. Baiklah aku akan tinggal disini. Ajusshi, aku kecewa, kami sudah berjanji akan selalu bersama. Kenapa dia sendiri yang mengingkari?”

“Huh! Janji itu omong kosong. Siapapun bisa mengingkarinya.”

Hening sesaat…

“Kau sudah mengemasi barang-barangmu?”

“Untuk apa?”

“Kau lupa? Kita berangkat ke China besok.”

“Aku ingat, tapi kenapa berkemas segala? Apakah kita akan lama disana?”

“Ya, kita disana sampai bibimu dipanggil oleh Tuhan. Paling tidak lama, diagnosa dokter mengatakan tinggal seminggu lagi.”

“Sudah kubilang ajusshi, umur berada di tangan Tuhan. Manusia hanya bisa mengeluarkan perkiraan dan asumsi tak masuk akal.”

“Baiklah, akan kugunakan itu. Kau sudah makan? Ah, tentu belum. Kajja makan, aku sudah memasak untukmu.”

“Kau sendiri?”

“Ne.”

Kyungsoo tersenyum. ‘Aku ingin Baekhyun hyung juga ada disini. Aku ingin dia melihat bagaimana sikap Heechul ajusshi yang sekarang.’ Batin Kyungsoo.

===

Heechul POV

Anak ini terlalu polos atau terlampau bodoh? Percaya saja dengan cerita murahan yang kukarang secara spontan. Huh! Tak salah aku memilihnya sebagai targetku. Baekhyun tidak diusir dari rumah, berarti dia sudah menceritakan yang sebenarnya pada keluarga itu. Anak itu memang patut diwaspadai. Aku harus bertindak cepat. Bisa-bisa mereka menyerobot startku yang sudah kurancang sejak lama.

Tinggal menunggu hari, aku akan menjadi orang paling bahagia. Hahahaha…

===

Author POV

Next Morning

Pukul 07.00 KST kediaman keluarga Kim sudah sepi. Pemiliknya baru pergi menggunakan mobil lima menit yang lalu.

Tepat lima belas menit setelahnya, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan kediaman keluarga Kim. Dari dalam keluar seorang namja dengan tinggi badan sedang serta berwajah imut.

“Kau agak mundur menjauh. Aku akan masuk lebih dulu, jika ada sesuatu yang tak mengenakkan tiba-tiba terjadi, kau baru masuk. Jika sekiranya ada keterlibatan senjata tajam, jangan lupa hubungi polisi sebelum kau keluar.” Katanya pada seseorang di dalam mobil.

“Arraseo.” Pemuda dari dalam mobil mengacungkan jempol.

Namja berwajah imut itu berdiri tegak di depan pagar, menghela nafas dan mambuka pagar yang tidak digembok.

“Aku tak percaya akan kembali ke tempat ini.” gumamnya.

TOK TOK TOK

Dia mengetuk pintu depan. Tidak ada jawaban. Diulangi sekali lagi, masih tak ada jawaban. Untuk kesekian kali dia mengetuk, tak ada respon seperti yang ia harapkan.

“Mereka pergi. Ck! Aku kalah cepat. Kemana dia membawanya pergi?”

Akhirnya ia memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Meski dengan susah payah dan waktu yang lama, akhirnya berhasil juga. Ia menutup pintunya kembali.

Ia berjalan memasuki rumah yang tak asing baginya. Memori masa lalu lewat begitu saja di pikirannya. Namun ia segera mengusir segalannya, berusaha fokus mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi bukti atau petunjuk.

Sesuatu di atas meja dekat lemari menyita perhatiannya.

“Dia membawanya ke China?!”

Drtzzzz

Ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk.

From : Park Chanyeol

            Hati-hati! Ada yang datang.

‘Apa yang harus kulakukan? Aku pernah kabur dari sini, mana mungkin aku tiba-tiba muncul dan mengobrak abrik rumah ini.’ Batin Baekhyun. Dia gelagapan mencari tempat persembunyian. Matanya tertuju pada lemari besar di ujung ruangan, tempat bibinya biasa menyimpan mantel.

CKLEK

“Rupanya aku kedatangan tamu.” Kata orang yang baru datang, tidak lain adalan Heechul.

“Keluar! Atau kubunuh saat aku menemukanmu.”

BRAK

Heechul membanting meja. Memastikan apakah ‘tamu’nya berada disana atau tidak. Suara sepatu kulit Heechul terdengar menggema di seisi ruang, melangkah dengan pasti di lantai kayu itu.

“Keluarlah… jika kau masih sayang nyawa….” katanya sambil bersenandung. Pandangan ia edarkan ke suluruh penjuru ruang dan berhenti di lemari tempat menyimpan mantel.

Ia berjalan mendekat dan membuka lemari itu. Menarik setiap mantel yang ada di dalam dengan tidak sabar.

KRING… KRING

Ringtone kuno dari ponsel miliknya berbunyi.

“Mwo? Tinggal emapt puluh menit lagi? Baik aku kesana sekarang. Aku sedang menerima tamu sekarang.”

“….”

“Benar juga. Untuk apa aku meladeninya. Tunggu aku disana.”

Kemudian Heechul pergi. Setelah dirasa cukup aman, Baekhyun keluar dari persembunyiannya. Dua mantel kulit beruang yang masih tergantung di lemari telah menyelamatkan hidupnya. Ia kembali ke meja tadi dan didapatinya kedua passport itu telah lenyap.

“Keberangkatannya empat puluh menit lagi. Aku harus menyusulnya.”

Baekhyun mengobrak abrik isi lemari di sisi lain ruangan dan akhirnya menemukan passportnya yang dulu digunakannya saat keluar negeri bersama appanya.

“Yeol, antarkan aku ke Incheon International Airport.”

“Wae?”

“Dia membawanya kabur ke China!”

Tanpa pikir panjang Chanyeol langsung memacu kendaraannya secepat yang ia bisa. Waktu empat puluh menit menjadi penentu bagi mereka.

CIIT

Chanyeol mengerem mobilnya disertai bantingan setir ke tepi jalan. Dia dan Baekhyun menyusuri kerumunan orang berusaha menemukan objek mereka.

“Aku sama sekali tak melihat mereka.”

“Aku juga. Mungkinkah mereka bersembunyi di suatu tempat?”

“Tadi kau bilang kau sudah mengambil passportmu. Lebih baik kau pesan penerbangan ke China sekarang, aku yakin kau akan bertemu mereka di pesawat. Setelah itu kau ikuti mereka.”

“Tapi,..”

“Aku akan membantumu. Nanti aku akan menyusul di penerbangan selanjutnya.”

“Gomawo.”

“Permisi, bisakah aku memesan satu tiket penerbangan ke China sekarang juga? Tolonglah, aku terburu buru.”

“Sebentar, biar saya cek.”

……

“Bisa, agasshi. Penerbangan dimulai dua puluh menit lagi.”

“Syukurlah.”

“Bisa saya cek passport anda?”

“Ne.”

Setelah mereka mengurus administrasi, mereka masih disibukkan dengan pencarian.

“Bagaimana jika mereka tidak dalam pesawat yang sama denganmu?”

“Aku juga mengkhawatirkan itu. Tapi pagi ini hanya ada satu penerbangan ke China dan saat kulihat tiket mereka, jam penerbangannya saat ini juga.”

“Aku yakin mereka sedang bersembunyi, entah sengaja atau tidak untuk menghindarimu.”

Baekhyun mendengus. “Apa tadi dia tahu kalau itu aku? Aish! Apa yang akan mereka lakukan disana. Merepotkan sekali.”

Sesaat kemudian suara wanita dari pengeras suara mulai terdengar, menjadi kode bagi Baekhyun untuk meninggalkan Chanyeol.

“Nah, kau sudah mendapat panggilan.”

“Aku pergi dulu.”

“Tunggu aku di China dan memulai misi kita.”

“Gomawo. Kau terlalu banyak menolongku.”

“Kita kan saudara. Hati-hati.”

“Annyeong.” Baekhyun melambaikan tangan dan meninggalkan Chanyeol.

“Annyeong!!!” Chanyeol melambai dengan tinggi.

===

Chanyeol’s POV

Enam jam lagi, aku harus cepat.

Segera kupacu mobilku meninggalkan bandara. Tujuanku? Tentu saja ke Seoul.

~Careless careless, shoot anonymous, anonymous….

KLIK

“Ada apa?”

“Kau dimana? Kalian sudah pulang kan?”

“Ya! Kau tidak ada pelajaran?! Mengapa malah menelponku?”

“Hyung! Jangan mengalihkan pembicaraan!”

“Aku dalam perjalanan pulang untuk mengambil sesuatu. Kau tahu? Orang itu membawanya ke China.”

“Mwo?! Jadi kau dan Baekhyun hyung akan menyusulnya?”

“Ne.”

“Itu terlalu beresiko hyung! Jika ternyata itu golongan mafia bagaimana? Nyawamu bisa jadi taruhannya. Jika appa tahu dia pasti akan marah. Bukankah lebih baik jika memanggil polisi?”

“Jangan mengkhayal yang berlebihan, mana ada mafia berwajah aneh dan konyol seperti dia. Dan apa kau bilang tadi? Memanggil polisi? Hey! Kita belum tahu pasti apa yang akan mereka lakukan di China. Maka dari itu kami mengikutinya. Jika sesuatu yang menyalahi aturan terjadi, barulah melibatkan polisi. Untuk urusan appa, dia kan pergi selama dua minggu. Semoga saat dia kembali aku juga sudah kembali. Ah, aku yakin ini tak akan lama.”

“Yah… Baiklah… Apa yang bisa kubantu hyung?”

“Kau diam saja di rumah dan menjadi anak baik.”

“Libatkan aku hyung! Aku ingin menjadi detektif dan aku ingin menyelamatkan Kyungsoo.”

“Yak! Ini bukan main-main. Jika terjadi sesuatu denganmu siapa yang disalahkan? Aku! Siapa yang akan dicincang oleh appa? Aku!”

“Tapi hyung… Aku ingin melakukan sesuatu yang berguna.”

“Um… kau diam saja di rumah dan tutupi apa yang sedang kami lakukan. Aku tahu daya imajinasi dan kreatifitasmu tinggi, jadi karanglah suatu alur cerita yang bagus. Kau mengerti kan?”

“Akan kulaksanakan. Hati-hati di sana, jaga diri baik-baik dan pastikan kalian bertiga pulang dengan selamat. Aku menyayangi kalian.”

“Ne. Kupercayakan nasib kami selanjutnya di Seoul kepadamu. Mudah-mudahan ini tak lama.”

“Fighting! Hyung, aku tutup dulu telfonnya. Sepertinya Youngra berusaha mencuri dengar.”

“Haha… Sepertinya kau harus memulai darinya.”

KLIK

Dia menyudahi sambungan telfonnya.

Aku baru sadar akan keadaan sebenarnya karena Sehun. Memangnya kemana saja kesadaranku dari tadi? Dia benar, tindakan ini penuh resiko dan bisa-bisa nyawaku menjadi taruhannya. Ah… Aku serasa menjadi seorang agen, masalah ini bahkan mambutuhkan perjalanan sampai ke luar negeri. Semoga orang itu tak berbuat apa-apa dengan Kyungsoo jadi kami bisa pulang dengan selamat.

~Careless careless, shoot anonymous, anonymous….

Ck! Siapa lagi yang menggangguku?

“Ne?”

“Kau dimana? Kenapa tak masuk?” tanyanya beruntun.

“Aku mengantar Baekhyun menjenguk neneknya yang sakit di Incheon.” Jawabku sekenanya.

“Kenapa tak bilang? Membuatku khawatir saja, pantas kalian berdua kompak tak masuk.”

“Kau hati-hati di Seoul, jaga diri baik-baik.”

“Eh? Mengapa bicaramu aneh? Seharusnya aku yang bilang begitu.”

“Ani. Hanya saja kau harus mulai terbiasa sendirian. Untuk jaga-jaga kalau aku tak lagi bisa bersamamu dan melindungimu.”

“Kau ingin hubungan kita berakhir?!”

“Bukan begitu maksudku. Ah! Pokoknya kau harus mulai bisa menjaga dirimu sendiri. Bila perlu, pergi latihan bela diri. Hahaha…”

“Ini tidak lucu Park Chanyeol. Dan satu lagi, jangan pernah meninggalkanku karena kau sendiri yang menjanjikan itu padaku.” Katanya dengan nada tegas.

Aku menghela nafas, “ Ne. Aku mengingatnya, mudah-mudahan Tuhan mengizinkanku memenuhi janji itu. Saranghae.”

“Apa ada yang salah denganmu? Kenapa…”

“Sudah dulu ya. Aku sedang mengemudi jadi jangan menggangguku dengan pertanyaanmu itu. Annyeong.”

KLIK

Aku mengakhiri panggilan. Rasanya sedih mengatakan itu padanya. Aku belum siap pergi meninggalkannya secepat ini, namun jika perginya aku demi menyelamatkan seseorang, tak masalah bagiku.

YA! Kenapa aku berfikiran seolah-olah aku benar-benar akan mati?! Be positive thinking Chanyeol! Misi belum dimulai! Bendera perang belum dikibarkan.

Mwo? Aku saja tak tahu apa tujuan mereka ke China. Huh! PD sekali aku, malah sudah yakin bahwa ini adalah kasus yang berat dan berdampak merugikan. Bisa saja kan, Heechul itu benar-benar baik dan malah ingin menyekolahkan Kyungsoo di China.

Aku memacu mobil tambah cepat dan tanpa terasa aku sudah memasuki kota Seoul.

===

Author’s POV

At Other Place

“Sehun! Hey! Gelagatmu mencurigakan sekali. Apa yang kau sembunyikan?” tanya Youngra dengan gaya yang meniru seorang detektif.

“Ani! Bukan apa-apa.”

“Kau menelfon siapa?”

“Appaku. Dia di China sekarang, hanya sekedar bertanya bagaimana keadaan kami di rumah.”

“Aneh sekali. Kenapa menelfon saat sedang di sekolah? Bukannya malah mengganggu?”

“Dia tahu kalau ini jam istirahat. Lagipula dia juga bertanya aku mau oleh-oleh apa karena saat ini dia sedang di pusat perbelanjaan.”

“Ya sudah. Itu bukan urusanku, lancang juga jika aku bertanya terus. Eh, kenapa Kyungsoo tak masuk?”

“Kyungsoo?”

“Ne.”

“Kim Kyungsoo?!”

“Ya.”

“Jinjja? Kyungsoo? Kim Kyungsoo?”

“Katakan saja!” Youngra tak sabar.

“Kemarin dia bertemu pamannya yang sudah lama terpisah, jadi dia sekarang berada di Incheon karena bibinya sakit.”

“Baekhyun oppa juga?”

Sehun mengangguk.

“Jadi dia masih punya keluarga ya?”

“Iya, tapi waktu itu mereka tak tahu karena dia kira paman dan bibinya itu sudah meninggal, ternyata mereka hanya pindah ke kota lain. Lucu sekali kan?” Sehun pura-pura tertawa.

“Oh begitu. Ada-ada saja dia. Hahaha…”

Merasa sudah tak ada yang ingin diketahui, Youngra mengedarkan pandangan ke seisi kelas.

“Sepi juga kalau tak ada dia. Eh, ke kantin yuk.”

“Kajja.” Langkah mereka terhenti di depan pintu kelas karena dihadang oleh Seorin.

“Sehun, aku perlu bicara denganmu.”

===

Sehun’s POV

Sudah aku duga, ini berkaitan dengan Chanyeol hyung. Dan, WHAT?! Tadi dia menelfon Chanyeol hyung dan hyungku yang aneh itu mengatakan hal yang berbeda denganku terhadap Youngra? Parahnya lagi, Seorin noona mengatakan itu di depanku dimana Youngra ada di sampingku.

Kalau begini mana bisa aku mengeluarkan bakat terpendamku berakting dengan sempurna?

Baru kurasakan sekarang, berakting dan berpura-pura di depan yeoja sungguh merepotkan. Sangat rumit. So complicated.

“Jadi mana yang benar?” tanya Seorin noona.

“Dua duanya benar. Setelah menjenguk bibi, mereka menjenguk nenek mereka. Chanyeol hyung hanya mengantar karena Baekhyun hyung tidak bisa mengemudi sedangkan Kyungsoo masih dibawah umur dan kau tahu lah, sopir pribadi kami ditugaskan untuk mengantarku ke sekolah.”

“Lalu kenapa seakan akan mereka membolos? Tak ada surat izin atau apa.”

Matilah aku, aku lupa dengan surat izin. Lebih tepatnya kami lupa karena mereka tadi pagi sangat terburu-buru. Aku tak mau disalahkan sendirian. Hehe.

“Jangan berbohong Sehun. Tolong sekali ini saja kau menolongku. Aku mempunyai firasat tidak enak terhadap Chanyeol dan tadi dia mengatakan hal-hal aneh padaku.”

Aku iba melihat tatapan memohon dari Seorin noona. Melihatnya yang sangat khawatir terhadap Chanyeol hyung membuatku tak ingin menutupi apapun darinya. Tapi di sisi lain aku sudah berjanji pada Chanyeol hyung untuk merahasiakan ini.

“Katakan saja Sehun. Jangan mengarang cerita terus. Akan membuatmu tak tenang jika kau terus berbohong karena kau harus mengarang cerita tiap orang bertanya.” Nasihat Youngra.

Kau tidak tahu? Aku sudah berjanji, Youngra! Aku sangat ingin mengatakannya pada kalian, tapi janji itu menahanku. Aku tidak akan pernah mengingkari janji, apalagi ini janji sekaligus amanat besar. Akan kukatakan pada kalian jika waktunya sudah tepat dan atas izin seseorang tentunya.

“Aku tidak berbohong. Memang itulah yang terjadi, terserah kalian mau percaya atau tidak. Ah, kepalaku pusing, aku kembali ke kelas dulu.”

“Ya! Sehun!” Seorin noona menarik lenganku dan aku menoleh.

“Tak apa jika kau tak bersedia menceritakannya sekarang, aku akan menunggu sampai saatnya tiba.” Katanya yang sukses membuatku bergidik. Yeoja ini seperti bisa membaca pikiran orang lain.

===TBC===

#Widih, covernya baru nih…

*Maklum lagi kumat pingin ngedit poto.

#Tumben gak males? Biasanya juga ogah-ogahan.

*Suka-suka lah… Biar ganti aja suasananya… Masa dari part awal sampe end gambarnya itu melulu. Bosen ah.

#Iya deh iya.

He’eh, chapter ini pendek banget deh ya… Maklum lah,, ini dampak dari pasang surut idenya author.

Oke, the next part is the final part. Jadi jangan bosen nongkrongin blog ini ya,.. Ehehe…

Butuh kritik dan saran.. Bash juga boleh asal bashingannya bermutu alias comment.

Well, sekian dari saya, Annyeong…..

Iklan

24 pemikiran pada “Chapter Of Our Life (Chapter 6)

  1. dari kemaren-maren aku cari ff ini gak ketemu”, dan sekrg alhamdulilah ya ketemu. ihhh makin gemes deh sm haecul rese banget si tuh org semprot juga ni*alay*
    moga aj si d.o gak ngapa” ya amin dh…

    thor part ini madet banget, tp gpp deh kan yg bikin author saya mah cuma baca, ini kurang gereget dikit thor tapi bagus kok aku suka.

    yaudah deh dr pd banyak cincong bikin author pusing saya cuma mao bilang, Fighting!!! aku tunggu kelanjutannya.

  2. Thor!!!!!!!! *teriak nih q…. ceritanya bagus banget….. daebak buat author…. *tepuk tangan…… Thor!!!! cerita lanjutannya jangan lam lama donk….. q dah ama menanti lanjutannya nih…… sdh kadung seneng ma nih cerita…. *jempol nggeradak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s