LuMyung Diary: Hujan

LuMyung Diary: Hujan

Author: @kim_mus2

Main Casts: Xi Luhan & Lee Myunghee

Note: Luhan + Myunghee = Couple Half of My Heart: Luhan Version

Length: Oneshot

Genre: Romance, Angst

Rating: PG-13

Heavy Downpour

=♡♡♡=

“Oppa! Bulan depan oppa akan lulus kuliah kan? Yay! Berarti kau sudah bisa menikah denganku. Hehehe.” Myunghee tersenyum riang sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.

“Mmh! Lepaskan tanganmu dari hidungku oppa!” Pekik Myunghee yang hampir kekurangan oksigen karena ulah Luhan yang memencet hidungnya.

“Bleeh…” Namja itu hanya menjulurkan lidahnya kemudian.

“Oppa chankanman!” Myunghee berlari-lari kecil untuk mengejar Luhan. Saat jarak keduanya semakin dekat, Myunghee melihat namja itu mengulurkan tangannya ke belakang. Tanpa ragu, Myunghee pun meraih tangan itu dengan cepat dan mereka berdua pun akhirnya berjalanan beriringan.

Setelah beberapa menit berjalan bersama, suasana tiba-tiba menjadi gelap. Awan-awan hitam pun menampakkan dirinya dan menutupi sinar matahari siang itu. Udara mulai menyebarkan hawa dingin yang dengan seketika membuat bulu roma berdiri. Bulir-bulir air  pun dengan tak sabar mulai berjatuhan dari tempat asalnya. Mulai menyirami sang bumi yang telah lama menantikannya.

“Omo! Sekarang sudah musim hujan lagi rupanya. Dimana ya, aku menyimpannya?” Myunghee melepaskan tangannya dari genggaman Luhan dan mulai mencari-cari sebuah barang di dalam tas jinjingnya yang berwarna orange.

“Apa kau mencari ini?” Tanya Luhan sambil menunjuk barang yang sedang digenggamnya.

Myunghee terperanjat saat melihat Luhan memegang sebuah benda yang kini melindunginya dari serangan hujan.

“Yaa! Oppa! Sejak kapan oppa membawa payung dari tasku?”

“Sejak kau merengek minta aku nikahi.” Jawab Luhan santai sambil tersenyum jahil.

“Issh! Aku tak akan memintanya lagi mulai dari sekarang. Huh!” Myunghee langsung melipat tangannya di dada dan memalingkan wajahnya dari Luhan. Nampaknya dia sangat kesal sekarang.

“Yaa! Myunghee-ya!”

“Loh, sepertinya ada yang memanggilku. Suara siapa ya?” Tutur Myunghee dengan ketus. Yeoja itu sama sekali tak memandang wajah kekasihnya. Dia ingin sekali membalas perlakuan Luhan yang menurutnya sangat menyebalkan.

“Yaa! Myunghee-ya! Aku harus pergi! Pegang payungnya!” Luhan terdengar sangat panik tapi karena kesal, Myunghee pun hanya menerima payungnya dengan malas dan membiarkan Luhan pergi begitu saja.

“Luhan oppa menyebalkan! Aku kesal! Benar-benar kesal!” Myunghee terus berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya di atas jalanan trotoar yang sudah tergenangi air.

TIN! TIN! AWAS! AWAS! AWAS!

Suara gaduh klakson mobil dan teriakan orang-orang bercampur menjadi satu. Terdengar sangat gaduh dan semakin menyebalkan menurut Myunghee.

BUGH!

“Ibu!” Terdengar jeritan anak kecil yang amat keras setelah keributan itu berakhir. Myunghee yang sedari tadi melamun sambil berjalan dengan langkah yang lambat pun akhirnya mengalihkan perhatiaannya pada sumber suara itu.

Dengan tatapan nanar, Myunghee mematung di tempatnya. Dia tak yakin dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tubuhnya yang mendadak lemas berlari sempoyongan menghampiri tubuh seseorang yang bersimbah darah, tergeletak di jalanan aspal yang basah kala itu.

“LUHAN OPPA!” Pekik Myunghee dengan segenap tenaganya yang tersisa.

“Tolong! Siapapun tolong!”

=♡♡♡=

“Ibu, apa paman itu akan bangun?” Tanya seorang gadis kecil yang berdiri di samping ranjang yang ditempati seorang namja yang masih terbaring lemah di atasnya.

“Paman pasti akan bangun Yuki. Tenanglah.” Tutur sang Ibu seraya mengukir seulas senyuman yang ia harap dapat menenangkan anaknya.

Tak lama kemudian, namja itu, yang tak lain adalah Luhan akhirnya dapat membuka matanya perlahan. Gadis kecil dan seorang perempuan yang duduk di sebelah ranjangnya itu pun berdiri untuk mengamati keadaan Luhan.

Berselang setengah jam kemudian, pintu kamar itu terbuka.

“Oppa, kau sudah siuman?

“Hyung! Kau tidak apa-apa?”

Sehun dan Myunghee yang baru selesai menemui dokter langsung menerobos masuk ke ruang rawat Luhan dengan terburu-buru.

“Sehun-aah.” Panggil Luhan pada adiknya.

“Ya Tuhan, syukurlah, ternyata hyung tidak lupa ingatan. Aku tahu, dokter pasti salah mendiagnosa.” Sehun yang begitu senang memeluk erat tubuh kakaknya yang masih lemah itu. Sehun sama sekali tak mempedulikan seorang wanita dan seorang anak kecil yang juga berada di ruangan itu.

Setelah Sehun melepaskan pelukannya pada Luhan, Myunghee pun mendekat perlahan.

“Luhan oppa… gwaenchanayo?” Tanya Myunghee sedikit terisak.

“Siapa yeoja ini, Sehun-ah?”

“Kau tak mengingatnya hyung? Dia Myunghee!”

“Myunghee? Siapa?” Tanya Luhan sambil menatap polos pada Sehun dan Myunghee.

Kedua manusia itu hanya bisa terdiam mendengar perkataan Luhan. Ketakutan mereka rupanya terjadi.

“Oh ya. Itu Yuki dan ibunya, kenapa kau tak menyapa mereka Sehun-ah?” Tunjuk Luhan pada seorang perempuan dan anaknya.

Taemin yang baru datang ke kamar Luhan dengan sangat emosi melemparkan keranjang berisi buah-buahan yang dibawanya. Dia sudah terlanjur marah mendengar kata-kata Luhan yang ia yakini sudah sangat menyayat hati adik kesayangannya.

“Yaa! Luhan! Apa-apaan kau? Tega-teganya kau melupakan adikku! Dasar brengsek!” Seru Taemin dengan nafas yang terengah-engah saking besarnya amarah yang masih berusaha ia tahan dalam dirinya.

“Oppa. Sudahlah oppa. Gwenchanayo, nan gwenchana.” Air mata Myunghee sudah tak tertahankan lagi. Dia hanya bisa menangis dalam diam sambil menunduk dan kemudian berlari meninggalkan kamar rawat Luhan. Taemin yang merasa khawatir pun langsung mengejar adiknya itu.

Luhan’s Side

Siapa dia sebenarnya? Aku tak tahu. Kenapa semua orang menyalahkanku? Apa gadis itu seseorang yang penting dalam hidupku? Tapi, kenapa aku tak bisa mengingat apapun tentangnya? Rambut berwarna kecokelatannya yang bergelombang, wajahnya yang kecil, matanya, semuanya, terasa asing bagiku. Kenapa?

=♡♡♡=

“Annyeong! Kau gadis yang kemarin ya?”

Dia tersenyum. Dia ternyata seorang pribadi yang periang. Syukurlah, sepertinya dia tak membenciku. Meski aku sendiri pun tak tahu kenapa dia harus membenciku.

Tapi, kenapa matanya terlihat sendu? Sebenarnya, ada apa dengannya? Dan ada apa denganku? Aku tak tahu.

“Aku pergi dulu oppa. Senang bisa bertemu denganmu.”

“Ne, annyeong!”

Gadis itu pergi. Kenapa aku merasa sedikit bersalah? Apa aku memang melakukan kesalahan pada gadis itu? Ini terlalu rumit. Aku tak mengerti.

“Paman!” Seorang gadis kecil berlari ke arahku. Mulai dari sejak aku dirawat di rumah sakit, anak ini dan ibunya selalu datang menjengukku, bahkan sampai saat ini. Mereka sampai menyempatkan datang ke kampus demi menemuiku. Aku nyaman bersama mereka.

“Hai Yuki! Bagaimana harimu? Apakah hari ini menyenangkan?” Tanyaku sambil mencubit kedua pipinya gemas.

“Menyenangkan sekali, ayah!”

“Eh?” Kenapa anak ini memanggilku ayah? Aku  tak mengerti.

“Yuki, jangan bicara seperti itu pada paman Luhan!” Yuki dimarahi ibunya. Sebenarnya aku tak terlalu keberatan dipanggil seperti itu. Aku menyukai anak ini. Dia sangat periang. Persis dengan seseorang yang kukenal. Entahlah. Aku hanya senang bisa bersama anak ini.

“Luhan, tolong maafkan anakku yang sudah bicara yang tidak-tidak. Maaf.” Tutur ibu Yuki yang baru-baru ini kuketahui bernama Yura.

“Tak apa-apa. Aku senang bisa akrab dengan anakmu. Kau juga senang kan, Yuki?”

Dimana anak itu? Kenapa dia menghilang?

“Yuki! Kau dimana?”

“Aku di atas pohon!” Anak itu berteriak dengan suara cemprengnya dari atas pohon sakura yang sudah tak berbunga. Anak itu benar-benar mirip seseorang.

“Hati-hati Yuki! Nanti kau jatuh!”

“Tidak akan! Eh… Aaaaa!”

BRUK

Dahan yang diinjak Yuki ternyata sangat rapuh dan akhirnya membuat anak itu terjatuh juga dari pohon setinggi tiga meter itu. Untung saja aku dapat menangkapnya. Kalau tidak, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Perasaan khawatir seperti ini terasa sangat nostalgic. Sungguh.

“Yuki! Kau ini! Kenapa memanjat pohon segala? Untung saja paman menolongmu. Kau ini.”

Yuki hanya menunduk mendengar omelan dari ibunya. Anak ini sepertinya merasa sangat bersalah.

“Hey, Yuki! Kau tidak apa-apa kan? Lain kali, jangan bermain di atas pohon lagi ya. Itu berbahaya. Apa kau mengerti?” Aku membelai rambut Yuki, mencoba untuk menenangkannya yang pasti masih sedikit terkejut dan ketakutan setelah terjatuh dari pohon yang lumayan tinggi.

“Emmh!” Dia mengangguk cepat. Sungguh gadis kecil yang unik.

“Luhan. Terima kasih banyak. Kau sudah menyelamatkan anakku untuk yang kedua kalinya.” Yura mengatakan sesuatu yang tak kumengerti.

“Menyelamatkan untuk kedua kalinya?” Tanyaku heran. Hal inilah yang tak kumengerti. Dua kali? Dua kali bagaimana? Aku hanya menolongnya saat terjatuh dari pohon. Tak ada yang lebih.

“Iya. Ini yang kedua kalinya. Sebelumnya, kau jugalah yang menyelamatkan Yuki dari insiden tabrakan mobil. Aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu kehilangan ingatan.”

“Apa? Hilang ingatan? Aku rasa, aku baik-baik saja. Aku bisa mengenal orang-orang di sekelilingku dengan baik.”

“Mungkin kau tak menyadarinya. Kebetulan aku menemukan cincin ini di tempat kecelakaan waktu itu. Ini cincin milikmu kan? Semoga ini bisa membantumu untuk memulihkan ingatan.”

Cincin ini. Cincin apa ini? Benarkah ini milikku?

Myunghee’s Side

Luhan oppa, kau telah benar-benar melupakanku. Kau rupanya lebih memilih untuk bersama perempuan itu dan anaknya. Bahkan cincin itu. Cincin pertunangan kita. Kau memberikannya pada wanita itu.

Katakan oppa! Apa aku harus mundur? Apa aku harus berhenti mencintaimu? Katakan oppa! Katakan!

Ingin rasanya aku menghilang saja dari bumi ini. Kenapa aku harus mengenalmu, dan kenapa aku harus mencintaimu kalau akhirnya hanya akan seperti ini?

=♡♡♡=

“Nona! Kita bertemu lagi.” Luhan oppa menemuiku lagi. Lebih baik aku berpura-pura untuk tidak melihatnya. Ini jalan yang terbaik. Aku tak mau luka ini semakin dalam.

“Nona Myunghee! Tunggu!”

Ah sial! Kenapa dia berhasil menangkap tanganku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Menatapnya saja aku tak kuat. Ah! Mataku mulai tak berkompromi. Jangan menangis Myunghee! Jangan! Kau harus tegar.

“Ah, Luhan oppa. Bagaimana kabarmu?” Baiklah, wajah ceria ini pasti bisa menipunya kan? Dia takkan tahu kalau aku hampir menangis, kan? Baiklah. Myunghee, Fighting! Kau pasti bisa!

“Ah, aku sudah mulai baikan. Terima kasih sudah datang menjengukku waktu itu.”

“Oh iya. Sama-sama oppa. Aku kan sahabat Sehun. Mana mungkin aku tak menjenguk kakaknya.”

“Ah, ne Arasseo. Jeongmal gomapta.”

“Kalau boleh tahu, ada apa oppa menemuiku? Apa ada yang ingin oppa bicarakan denganku?”

“Ah cheogi! Maukah kau jadi pacarku?”

Ya Tuhan! Ada apa ini? Apa Luhan oppa sudah kembali mengingatku? Ah ani! Mungkin oppa masih lupa ingatan, tapi dia tetap memilihku. Apa ini yang namanya keajaiban?

“Ah mian… mian. Kau pasti tak mau berpacaran denganku. Tapi, aku mohon kau mau berpacaran denganku ya. Sepertinya Sehun sangat menyukaimu. Dia selalu saja membicarakanmu. Aku ingin membuatnya cemburu, supaya dia segera menyatakan perasaanya padamu. Apa alasan itu cukup untuk membuatmu bersedia membantuku?”

Ternyata seperti itu. Sudah kuduga. Semuanya  tak akan kembali seperti sedia kala. Aku tak boleh banyak berharap.

“Jadi?” Tanyanya sedikit ragu.

“Baiklah, aku bersedia oppa.”

“Terima kasih banyak Myunghee. Aku ingin melihat Sehun bahagia. Akhir-akhir ini dia selalu murung. Aku jadi sedih melihatnya.”

“Cheonmaneyo oppa.” Sudah kesekian kalinya aku memasang senyum palsu di wajahku. Akan kuakhiri semua ini dengan cepat. Aku harus membuat oppa membenciku. Itu satu-satunya cara agar aku tak lagi bertemu dengannya. Ya! Tekadku sudah bulat.

=♡♡♡=

Author’s Side

Sudah hampir satu minggu Myunghee berpura-pura menjadi kekasih Luhan. Selama itu, Luhan hanya mengajak Myunghee ke rumahnya dengan tujuan memanas-manasi Sehun. Tak ada hal spesial yang mereka lakukan. Semuanya hanya sandiwara.

Myunghee tahu benar kalau yang dilakukannya memang sangat konyol. Tapi, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bersama namja itu. Sehun yang melihat Myunghee dan Luhan akrab kembali tentunya sangat senang. Dia sama sekali tak tahu dengan apa yang terjadi.

Setelah begitu lama menguatkan hatinya, kini Myunghee memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Hubungannya dengan Luhan memang sudah tak dapat lagi dipertahankan.

“Oppa, aku ingin mengakhiri hubungan palsu ini sekarang juga.”

“Myunghee-ya!  Waeyo? Sebentar lagi. Sebentar lagi Sehun pasti me…”

“Sudahlah oppa. Aku lelah.”

Myunghee pergi meninggalkan Luhan secepat mungkin. Gadis itu tak ingin Luhan melihatnya menangis.

Tanpa disadarinya, setelah berlari sambil menangis di bawah guyuran hujan, Myunghee pun sampai di tempat saat Luhan mengalami kecelakaan. Sungguh tempat yang penuh kenangan. Semuanya terjadi begitu cepat di tempat ini. Masih tergambar jelas dalam ingatan Myunghee saat ia dan Luhan bercanda bersama, kemudian hujan tiba-tiba turun dan Luhan memayunginya sambil bercanda. Kemudian, semuanya berakhir.

Karena kakinya yang semakin lemas, Myunghee duduk dan menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon yang cukup besar di pinggir jalan. Perempuan gila. Mungkin itulah yang muncul di pikiran setiap orang yang melihatnya saat ini. Badan Myunghee sudah basah kuyup, rambut basahnya sangat kusut karena ulahnya sendiri, yang terus mengacak rambutnya frustasi.

“Hahaha… kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang mengalami kejadian seperti ini? Dunia ini benar-benar menakjubkan.” Myunghee hanya tersenyum getir sambil memandang kosong ke depan.

Untuk beberapa jam, Myunghee menangis dalam diam sambil memeluk kedua lututnya. Rasa dingin yang menerpanya sudah tak ia hiraukan. Dia terlalu menikmati rasa sakit yang melanda hatinya. Untuk saat ini, menangis adalah satu-satunya hal yang dia butuhkan.

“Myunghee-ya, kenapa kau hujan-hujanan begini? Ayo kita pulang!”

Myunghee menengadahkan wajahnya setelah mendengar panggilan dari seseorang.

Myunghee langsung mengusap air mata di pipinya dan kembali memasang senyum palsunya di hadapan orang itu, orang yang menjadi penyebab utama rasa sakit di dadanya.

“Kau menangis?” Tanya Luhan. Dia sangat khawatir pada yeoja di hadapannya yang terlihat kusut dan basah kuyup karena hujan yang sangat deras saat ini.

“Aniyo! Gwaenchanayo! Ini air hujan oppa.” Myunghee tersenyum lagi, mencoba terlihat baik-baik saja.

“Aku sudah mengingat semuanya.” Ucap Luhan lirih.

“Maafkan aku, Myunghee. Maaf. Aku selalu saja membuatmu bersedih. Aku lelaki tak berguna. Lelaki brengsek! Ya. Kakakmu benar. Aku memang lelaki brengsek.”

Tak terasa air mata Myunghee pun jatuh membasahi pipi putihnya. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit yang berkecamuk di dadanya. Entah kenapa Myunghee malah merasa sakit. Seharusnya dia bahagia. Luhan telah kembali mengingatnya. Myunghee pun tak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat ini. Perih. Dia hanya ingin menangis. Menangis sepuasnya, sampai rasa perih itu menghilang.

Luhan pun menarik Myunghee ke dalam pelukannya.

“Oppa, jahat! Hiks! Hatiku sakit oppa.” Myunghee terus saja menangis dalam pelukan Luhan. Tubuhnya terus saja bergetar seiring dengan tangisannya itu.

“Myunghee-ya, apa yang harus kulakukan agar kau tak sakit lagi? Aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku padamu.” Luhan mempererat pelukannya.

“Nan mollasso.” Tangisan Myunghee semakin terdengar memilukan. Luhan hanya bisa mengusap lembut punggung gadisnya, berharap dapat memberikannya sedikit ketenangan.

=♡♡♡=

“Min, Myunghee dimana?” Tanya Luhan yang baru datang untuk menjemput Myunghee untuk jalan-jalan minggu pagi ini.

“Cek saja di kamar!” Teriak Taemin dari dapur rumahnya.

“Ok!”

Luhan pun berjalan menaiki tangga yang akan mengantarkannya ke kamar Myunghee.

“Hiks… hiks… oppa jahat!” Dari luar kamar, Luhan sudah dapat mendengar suara Myunghee samar-samar. Dia sudah bangun, pikir Luhan. Tapi sayangnya dugaan Luhan  sangat berkebalikan dengan kenyataan yang dilihatnya saat ini. Gadis itu masih terbaring di ranjangnya sambil merintih kesakitan. Entah sakit karena apa.

“Myunghee-ya! Ireona! Ireona!” Luhan menggoncang – goncangkan tubuh Myunghee yang terlihat sangat menderita dalam tidurnya. Gadis itu menangis. Dia terlihat sangat terluka. Pedih. Itulah yang tersirat dari air muka Myunghee saat ini.

Saat dia mendapatkan kembali kesadarannya, Myunghee melihat sosok wajah seseorang. Seseorang yang membuatnya sesak. Seseorang yang bahkan dalam tidur pun selalu ia pikirkan.

“Luhan oppa…”

GREP

“Oppa! Hiks!” Myunghee memeluk Luhan yang duduk dengan setia di pinggir ranjangnya.

“Kau mimpi buruk?” Tanya Luhan sambil mengusap lembut puncak kepala gadisnya.

“Ne! Aku tak tahu kenapa aku selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini. Aku bermimpi kau melupakanku oppa. Aku takut. Aku takut oppa akan meninggalkanku.” Tangisannya belum juga berhenti.

“Ssst! Itu tak akan pernah terjadi Myunghee. Kau harus berada di sisiku selamanya. Aku tak akan pernah melepasmu. Aku berjanji!” Tegas Luhan sambil tak hentinya mengusap punggung Myunghee agar gadisnya itu merasa tenang. Persis seperti yang dirasakannya dalam mimpi, pikir Myunghee.

“Percayalah padaku.” Lanjut Luhan seraya menenggelamkan kepalanya di pundak kecil milik gadisnya. Myunghee pun hanya mengangguk pelan dalam pelukan Luhan dan kemudian mempererat pelukannya.

END

Author’s Talk:

Annyeong readerdeul! Otte?

Sedih gak sih ceritanya? Ko gak yakin gini ya?

Baru kali ini nih author sok-sok-an bikin genre angst, biasanya komedi amburadul.

Emang bener gitu ini genrenya angst? Hmm…

Ayo chingudeul, ekspresikan apa yg kalian rasain abis baca ff ini?

Ppalli…ppalli…

Can’t wait to see your comments!

Best Regard,

Dini a.k.a kim_mus2 (gender insyaalloh masih cewe kkk ^^)

27 pemikiran pada “LuMyung Diary: Hujan

  1. aduhhh,gue kira beneran,eh ternyata.deg deg’an nunggu akhirnya,dan ternyata…jeng jeng jenggggg.thor,buat yg udah nikah dong.pingin liat keseruan di rumah tangganya.thank’s thor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s