A Song Without Voice (Chapter 2)

Title:    A Song Without Voice (Chap 2)

Author:  Ms Bubble Tea (@icaclrss)

Casts:   Kim Jongdae (Chen) EXO M

Park Sohi OC

Wu Yi Fan (Kris) EXO M

Park Chanyeol (Chanyeol) EXO K

Other Casts: some EXO members

Genre: Romance, Friendship, Sad

P.S: Annyeong readerdeul~~ ini dia chapter 2 dari kisah yang gajelas alurnya ini -_- maafkan author ya, author kelewat gabut bulan januari ini hhhh :/ yaudahlah sebelum banyak bacot dan ditimpuk readerdeul yang udah baik mau baca ff ini :’) mending check this out aja langsung! Sorry for typos and happy reading<333

 

Summary: Bertemu, mengenal, menyukai, mencintai dan kemudian dihadapkan pada pilihan dikhianati atau mengkhianati. Salahkah aku jika kata itu tak pernah terucap dari bibirku? Atau kau terlalu takut denganku dan penyakitku? Salahkah aku mencintaimu? Jika kebahagiaanmu bukan karenaku, biarkan aku. biarkan aku pergi….kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada.

 

Chapter 2

Author’s POV

Kris berjalan bolak balik di depan ruang ICU itu, sesekali mendecak kesal dan mengacak rambutnya frustasi. Bahkan sekarang dia mulai menendang nendang lantai karena rasa tidak sabarnya.

“Bagaimana mungkin kau bisa meninggalkannya hah?!” Teriak sebuah suara bass dengan emosi kepada yeoja didepannya.

“Op…oppa mianhae…” Ucap yeoja itu lemah karena merasa bersalah. Kris pun segera mendatangi dua orang kakak beradik itu.

“Chanyeol, sudahlah. Ini bukan kesalahan Sohi. Dia pasti tadi kesal karena Chen berteriak padanya. sudahlah, Sohi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Sekarang lebih baik kita berdoa Chen tidak apa apa.” Ucap Kris bijak dan akhirnya Chanyeol pun hanya menghela nafas panjang.

“Hhhh, baiklah hyung. Sohi mianhae aku sudah memarahimu.” Ucap Chanyeol lembut dan mengelus puncak kepala dongsaengnya itu. Sohi pun mengangguk angguk sambil menghapus air matanya.

“He eum, gwenchana oppa” Ucap Sohi mengerti keadaan oppanya yang sangat khawatir pada keadaan Chen sekarang. Begitu ia meninggalkan Chen tadi, ternyata Chen terjatuh dari tempat tidurnya dalam keadaan darah keluar dari mulutnya. Sekarang dia masuk ruang ICU dan sudah satu jam berlalu namun dokter Suho belum juga keluar.

Kris menggigit ibu jarinya dengan kesal, kesal karena dokter yang tak keluar keluar dan kesal karena ia tak berada disaat Chen sangat membutuhkan seseorang untuk membantunya.

“Permisi…” Ucap sebuah suara membuat Kris sangat tahu siapa pemilik suara itu, namja blonde itu segera mengangkat kepalanya dan menemukan dokter Suho berdiri dihadapannya.

“Dokter! Bagaimana??? Chen? Apa dia baik baik saja??” Tanya Kris dengan paniknya.

“Tenanglah Mr. Wu. Dia hanya butuh istirahat, ah soal batuk darah…..mohon maaf dengan sangat, kankernya terus tumbuh karena ia sama sekali tidak mau melakukan pengobatan apapun. Tolong bujuk dia, karena saya bukanlah ibu peri yang bisa memberi keajaiban kesembuhan padanya dengan mudah. Terimakasih, saya permisi dulu.” Ucap dokter Suho dan segera pergi keruangannya. Kris pun hanya mendesah kecewa. Dokter itu benar, Chen sama sekali tidak mau melakukan pengobatan apapun.

“Hyung…” Panggil Chanyeol membuat Kris tersadar.

“Gwenchana, dia hanya butuh istirahat lebih.” Ucap Kris, tak mau menjelaskan secara detail takut Sohi dan Chanyeol akan semakin khawatir.

“Oppa, jangan berbohong padaku, aku tahu Chen oppa semakin parah dan aku sangat tahu itu.” Ucap Sohi membuat Kris pun menghela nafas panjang.

“bujuk dia untuk melakukan pengobatan. Hanya itu yang bisa kukatakan untuk sekarang ini. Sohi, masuklah lebih dulu. Aku harap kau bisa membujuk namja keras kepala itu Sohi” Ucap Kris sambil mendorong Sohi masuk kedalam ruangan dimana Chen berada sekarang.

 

Chen’s POV

Aku menatap infusan yang menusuk tanganku, sakit. Tapi tidak lebih sakit dari tenggorokanku ini. dokter bilang kankerku semakin parah, aku tahu. Dari pertama aku lihat darah saat aku batuk aku sangat tahu kankerku semakin parah. Kupejamkan mataku dan merasakan airmata keluar dari sudut mataku.

“Oppa” Panggil sebuah suara melihatku menoleh kearahnya. Sohi berdiri didepan pintu dan berjalan mendekat kearahku

“Apa oppa baik baik saja?” tanyanya, dan bisa kudengar rasa khawatir yang tersirat di tiap kata.

“Gwenchana, aku baik baik saja.” Ucapku perlahan. Sohi duduk disampingku dan menggenggam tanganku. Entah sejak kapan kami sudah tidak merasa sungkan satu sama lain lagi. Kurasakan kehangatan setiap dia menggenggam tanganku seperti ini

“Oppa….maukah kau ikut terapi?” Tanyanya perlahan, aku hampir saja tidak bisa mendengarnya. Mengingat telingaku suka merasakan sakit.

“Mwo?”

“Terapi…. Katanya kalau orang yang terkena kanker laring bisa ikut terapi radiasi. Itu salah satu alternative pengobatan. Oppa mau kan? Aku ingin oppa sembuh” Ucap Sohi sambil menatap kedua mataku. Aku pun terdiam, bukan kali pertama aku mendengar kata terapi, dokter Suho juga sudah berkali kali menyuruhku untuk melakukannya. Tapi aku tak mau menghabiskan waktuku untuk hal yang sia sia begitu.

“Sohi, kau tahu kan biaya terapi radiasi tak semurah itu.” Ucapku sambil menaruh tangan kananku diatas genggaman tangan kami.

“Aku tak mau membebani siapapun, aku juga tak mungkin meminta uang dari kedua orang tuaku, mereka akan sangat khawatir” Ucapku dan tersenyum pada Sohi.

“Tapi oppa…”

“Ssshhh” Ucapku sambil menutup mulut Sohi dengan jari telunjukku.

“Aku akan baik baik saja, asalkan kau disini. Aku akan selalu baik baik saja, Sohi” lanjutku lagi. Aku tersenyum, sangat tulus. Walaupun aku belum mengatakannya, tapi sejujurnya aku menyukai Sohi. Menyayanginya, dan kuharap dia dapat menangkap maksudku dari sikapku selama ini.

“Chen oppa…”

“Hmm? Kau tahu maksudku kan?” Ucapku sambil tersenyum dan memainkan rambutnya. Kulihat semburat merah diwajah Sohi. Aku pun mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“Oppa…”

“Hm? Tatap mataku saat berbicara denganku Sohi-ah” Ucapku padanya. aku tahu dia pasti sangat sangat sangat salah tingkah karena perlakuanku. Tapi biarlah, sekali ini saja aku ingin menggodamu. Hehe :p

“Aishh, oppa aku sedang berbicara serius denganmu sekarang eoh” Ucapnya dengan kesal dan segera mendorong tubuhku menjauhinya. Okay, she’s getting cuter.

“Hahaha, aku sudah bilang kan aku tidak mau. Sudahlah ^^ 3 hari lagi aku akan pulang dan bekerja lagi di café.” Ucapku sambil membawa alur pembicaraan kami kearah serius lagi.

“MWO? 3 hari lagi? Oppa!!! Kau butuh istirahat lebih banyak!” Ucap Sohi setengah berteriak, membuatku menutup kedua telingaku.

“Yaaa, aku tak betah lama lama disini!”

 

Sohi’s POV

“Yaaa, aku tak betah lama lama disini!” Ucap Chen oppa sambil memasang muka malasnya, aku pun hanya bisa menghela nafas dan menatapnya. Aku tahu Chen oppa pasti sangat bosan disini, apalagi saat aku, Kris oppa, atau Chanyeol oppa tidak ada disini

“Chankkaman aku akan tanya pada Kris oppa dan Chanyeol oppa dulu ne?” Ucapku dan segera keluar dari ruangan itu.

Kulihat Kris oppa dan Chanyeol oppa duduk berdua dengan Chanyeol menyandarkan kepalanya dipundak Kris oppa, cih mereka persis gay =_=

“Hey!” Teriakku dan membuat kedua namja itu tersadar dari lamunan mereka.

“Yaaa jangan mengagetkanku!” Teriak Chanyeol oppa sambil menjitak kepalaku

“Awww appo!” Balasku dengan meninju pelan lengan Chanyeol oppa.

“Bagaimana dengan Chen, Sohi-a?” Tanya Kris oppa padaku dengan wajah serius. Aku pun segera menarik nafasku dan duduk di tengah kedua namja itu. mereka benar benar seperti tiang dan aku disini seperti anak kecil.

“Dia bilang 3 hari lagi dia mau pulang dari sini oppa. Aku tidak berhasil membujuknya untuk melakukan terapi hhh” Ucapku dengan nada kecewa dan dapat kulihat raut muka Kris oppa dan Chanyeol oppa yang berubah menjadi kecewa juga

“Hyung… kurasa kita memang tak bisa memaksa namja itu” Ucap Chanyeol oppa

“Hhhh…. Kurasa. Yasudahlah, Chanyeol kau mau masuk duluan?” Tanya Kris oppa pada Chanyeol oppa dan dia pun mengangguk lalu segera memasuki ruangan tempat Chen oppa berada.

Kini tinggal aku dengan Kris oppa, dia terlihat begitu banyak pikiran. Aku pun menepuk pundaknya pelan membuatnya dia menoleh kearahku.

“Oppa, kau pasti sangat khawatir pada Chen oppa neh? Tenanglah aku akan menjaganya. Aku senang kok bisa menjadi temannya^^” Ucapku sambil tersenyum dan menunjukkan eye smile-ku. Aku tahu Kris oppa benar benar sudah menganggap Chen oppa sebagai adik kandungnya sendiri.

“Hmmm… apakah pikiranku sangat terbaca olehmu? Haha baiklah. Terimakasih, setidaknya aku tahu pasti Chen berada di tangan yeoja yang benar. Gomawo Sohi-a” Ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku

DEG

Kurasakan semburat merah segera memenuhi wajahku, aniya! Ani ani! aku tidak boleh merasa deg degan dengan namja lain, aku pasti begini karena Kris oppa yang terlalu tampan. Bukankah yang kusukai Chen oppa?

“kenapa kau bengong begitu hm?” Tanya Kris oppa sambil mendekatkan wajahnya kearahku. Aku pun hanya bisa diam membeku, sungguh aku bisa melihat jelas ketampanan ditiap sisi wajah seorang Wu Yi Fan. Aku rasa aku akan meledak sekarang!

“a….aniyo….” Ucapku terbata dan segera mengalihkan pandanganku kearah yang lain.

“hahahaha neomu kyeopta~” Ucap Kris oppa dan mencubit hidungku membuatku segera memegangi hidungku. Dia terus tertawa

what if we get a relationship, hm?” Lanjut Kris oppa dalam sela tawanya

DEG

Seketika itu juga aku terdiam. aku menatap tak percaya kearahnya dan mencoba memastikan hal yang baru saja kudengar tidak salah. Maksudku….dia tidak mengajakku berpacaran kan?

“M…mwo?” Tanyaku terbata bata

Should I repeat it once more? Saranghae, maukah kau berpacaran denganku?” Tanya Kris oppa lagi sambil tersenyum dan menatapku dengan lembut. Tuhan…. Aku rasa aku akan terbang ke langit ke tujuh sekarang. Tapi seketika aku terdiam, aku menoleh kearah ruangan dimana Chen oppa berada. Apa Kris oppa tidak tahu kalau aku dan Chen oppa…….eung tapi memang sih kami tidak berpacaran.

“Diam terus hm? Kuanggap kau mengiyakan pernyataanku loh” Ucap Kris oppa dengan santai dan meminum minuman kalengnya.

“E…eh!?”

“Makanya beri aku jawaban.” Ucap Kris oppa

“Eung….aku….” Aku berpikir keras, apa tidak apa apa kalau aku berpacaran dengan Kris oppa? Tapi selama ini Chen oppa memang baik ke yeoja manapun bukannya.

“Aku sudah menyukaimu dari pertama kita bertemu sebenarnya, Sohi-a. hehe tapi maaf baru berani mengatakannya sekarang dan ditempat seperti ini.” Ucap Kris oppa, aku pun menatapnya. Tak kutemukan kebohongan disana. Untuk pertama kalinya aku melihat seorang Wu Yi Fan berwajah begini didepan seorang yeoja, dan itu aku!

“Eung…. Baiklah oppa. Kurasa…kita bisa berpacaran…” Ucapku perlahan namun sebisa mungkin terdengar oleh Kris oppa. Dia terdiam dan membelalakan matanya

“JINJJAAA???! KAU MAU??! JEONGMALYO???” Teriaknya heboh dan aku pun membalasnya dengan anggukan, dia pun segera menarik kedua tanganku

“Jeongmal saranghae, Park Sohi” Ucapnya sambil tersenyum dan

Chu

Dia mengecup lembut kedua tanganku membuatku tersipu malu. Aku hanya bisa berharap keputusanku ini tak salah.

***

Chanyeol’s POV

Aku hanya duduk disamping Chen yang sibuk memainkan game di ipad-nya. Dia sudah berkali kali mengajakku bermain bersamanya tapi aku tidak mengindahkan ajakannya karena aku ingin menyuruh dia melakukan terapi

“Heh” Panggilku membuat dia menoleh kearahku dan menaruh ipadnya

“Wae?” Tanyanya

“3 hari lagi kau pulang kan? Kalau begitu setiap selesai kerja kita lakukan terapi” Ucapku yang lebih terkesan memerintah mungkin. Untuk sekarang ini aku ingin lebih tegas

“Tidak mau” Ucapnya singkat

“Aishh, ayolah Kim Jongdae! Mau sampai kapan kau diam dan membiarkan penyakitmu itu menjalar hah?”

“Sampai aku benar benar tidak kuat dan melakukan satu satunya cara terakhir” Ucapnya santai. Gila, namja ini memang gila.

“Chen, kenapa kau harus bersikap begini?”

“Chanyeollie, aku hanya tak mau menghabiskan uangku untuk terapi terapi macam itu. tenanglah aku sudah berbicara pada dokter Suho dan dia bilang aku boleh melakukan sesukaku” Ucapnya santai sambil tersenyum. Aku pun terduduk lemas disampingnya

“Kau tau tidak betapa khawatirnya aku? pabo!” Ucapku kesal dan memukul sudut tempat tidur pelan.

“Chanyeollie, tenanglah. Aku baik baik saja…. Tolong jangan membuat seakan besok aku akan mati” Ucapnya lirih dan aku pun terdiam.

“Baiklah baiklah, sekarang kau istirahatlah, 3 hari lagi kami datang dan menjemputmu ok?” Ucapku dan diapun mengangguk, dia terlihat seperti anak kecil sekarang-_- aku tak menyangka bahwa dia lahir di tahun yang sama denganku.

Aku pun segera keluar dari ruangan dan mendatangi Kris hyung dan dongsaengku, tunggu….kenapa mereka terlihat lebih dekat? Maksudku lihat bagaimana Kris hyung menggandeng tangan dongsaengku.

“ehem” Ucapku dan seketika itu juga Kris hyung menjauhkan tangannya dari Sohi. What the hell has happened when I wasn’t here huh?

“Oppa!” Teriak Sohi dengan sedikit….panik?

“Jadi, bisa jelaskan padaku kenapa kalian jadi terlihat begitu dekat?” Tanyaku dan mereka berdua hanya diam. Oke, aku tahu ada sesuatu yang terjadi saat aku menjenguk Chen tadi. Kalau firasatku tidak salah, apa mungkin mereka….

“Eung, Chanyeol. Aku baru saja resmi berpacaran dengan dongsaengmu ini” Ucap Kris hyung dengan menggaruk kepalanya yang kupastikan tak terasa gatal sama sekali. Aku pun melongo kaget.

“mwo? Kalian????” Tanyaku dengan mata yang sukses membulat sempurna

“Iya, aku baru saja jadian dengan dongsaengmu, yakan Sohi-ah?” Tanya Kris hyung sambil menengok kearah Sohi dan gadis itu hanya mengangguk angguk tersipu malu. Oke, mereka tidak sedang bercanda sekarang.

“WHOAAAA CHUKKAEEE!!” Teriakku dan memeluk mereka berdua, well aku rasa ini pertama kalinya aku melihat seorang tebing es, Wu Yi Fan menyukai seorang yeoja dan yeoja itu adikku sendiri! HAHAHAHA tapi sejujurnya ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Bukankah yang Sohi sukai itu….

 

Author’s POV

Saat ketiga orang itu sedang sibuk dengan obrolan mereka masing masing, namja dengan suara indah itu hanya bisa menatap mereka dari pintu, menghela nafasnya begitu ia tahu apa yang baru saja terjadi. Ketika kau mencintai seseorang kau pada akhirnya akan dihadapkan pada 2 pilihan, dikhianati atau mengkhianati.

Chen menghela nafasnya kecewa, dengan perlahan dia berjalan masuk ke dalam ruangan itu lagi. Terduduk diatas tempat tidurnya dan menunduk. Menangis? Tidak. Dia tak mau menangisi hal seperti ini. Dia tak mau menghabiskan sisa hidupnya dengan menangisi cinta, dia ingin menjadi egois kali ini. dia hanya ingin memikirkan dirinya sendiri.

#3hari kemudian

Terlihat suasana di Amore café seperti biasa, Chanyeol yang sedang beres beres. Luhan yang sedang menyiapkan meja meja untuk para pengunjung, Lay Xiumin dan D.O yang membereskan bahan bahan makanan. Namun semua kegiatan mereka terhenti begitu pintu café terbuka, menampakkan sosok namja yang sudah lama tak terlihat di ruangan itu

“Annyeooong~” Sapanya dengan riang membuat kelima namja tadi segera berlari kearahnya

“JONGDAEEEE!!!” Teriak mereka semua bersamaan dan memeluk Chen dengan erat.

“Yaa yaaaa aku tak bisa bernafas eoh!” Ucap Chen sambil mendorong kelima namja itu dan menatap mereka dengan senang. Dia sudah sangat merindukannya teman temannya disini.

“Kau sudah sehat? Kata Chanyeol kau demam tinggi!” Ucap Luhan sambil memegangi dahi Chen membuat namja itu tertawa dan melirik kearah Chanyeol. Chanyeol pun memberikan kode kalo ia tak berbicara apa apa pada orang orang café

“Hahaha aku sudah tidak apa apa kok hyung. Sekarang aku bisa bekerja lagi” Ucap Chen. Walaupun tak bisa ia pungkiri suara seraknya masih saja mendatanginya belum lagi kadang ia harus tahan saat batuk darah mendatanginya.

“Hoaaa kalau begitu aku akan membuatkan masakan yang enak untukmu!” Ucap D.O sambil berlenggang ke dalam dapur diikuti Lay dan Xiumin yang juga ingin membantu D.O. Luhan pun segera kembali ke pekerjaannya membereskan meja meja

“Jangan sakit sakit lagi ne? disini sepi kalau tidak ada kau” Ucap Luhan sebelum hanyut dalam pekerjaannya membuat Chen tersenyum.

 

Chen’s POV

Kualihkan pandanganku pada Chanyeol yang masih berdiri dihadapanku.

“Gomawo, sudah menyembunyikan hal ini dari mereka” Ucapku sambil menepuk pundak namja tinggi itu

“Cheonmaneyo, karena itu lebih baik kau cepat sembuh” Ucapnya padaku membuatku menyunggingkan senyumku. Aku sudah memutuskannya.

“Kau tunggu saja ne? Kalau memang sudah waktunya aku pasti akan sembuh” Jawabku dan segera pergi menuju panggung. Membereskan barang barangku dan membersihkan pianoku. Kutatap pianoku dengan malang, sudah berapa lama kau tidak tersentuh hm? Debunya sudah lumayan menumpuk. Aku pun membersihkannya dengan perlahan. Tiba tiba pintu café terbuka dan aku tahu pasti siapa yang baru saja datang…

“CHEN!! Kenapa kau pergi duluan tanpa memberitahuku hah?” Ucap suara bass itu dan mendekatiku. Kris. Dia Kris hyung, aku memang sedang menghindarinya. Aku tak mau terlalu dekat dengannya mengingat ia baru saja pacaran dengan Sohi. Yeoja yang memang kusukai.

“Aku bisa berangkat sendiri hyung, kakiku masih berfungsi dengan baik.” Jawabku datar dan menatap tuts tuts pianoku. Kumohon lebih baik dia segera pergi dari hadapanku.

“Ada apa denganmu? Kau terus menghindariku akhir akhir ini” Ucapnya. Oh, tentu saja ia takkan tahu aku menyukai Sohi. Tak ada yang tahu.

“Aku? tidak hyung. Hanya perasaanmu saja.” Ucapku dan segera berjalan, aku lebih baik pergi duluan.

“Tunggu!” Ucapnya sambil menarik tanganku dan aku pun diam ditempatku. Beruntung orang orang café tak melihat kami karena sibuk dengan pekerjaannya.

“…..Apa ini karena Sohi?”

DEG

Aku terdiam. dia tahu? Atau dia hanya menebak? Tentu saja hanya menebak, kalau dia tahu mana mungkin dia merebut yeoja itu dariku. Aku pun menoleh ke belakang

“Dia tak pernah ada hubungannya denganku hyung” Ucapku dan segera menarik tanganku darinya lalu pergi kearah dapur. Yang jelas Kris hyung pasti hanya bisa berdiri terpaku mendengar jawabanku tadi.

Kududukkan diriku di sebuah bangku di dapur, menatap ketiga koki temanku yang sedang memasak. Tiba tiba Lay berjalan kearahku dan menaruh sepiring pasta dihadapanku.

“Untukmu. Makanlah” Ucap Lay dan kemudian duduk disampingku.

“Gomawoo” Ucapku dan mulai mengaduk aduk pasta itu sebelum memasukkannya kedalam mulutku. Lay ini salah satu teman yang lumayan dekat denganku, kami memang jarang mengobrol karena dia sibuk di dapur.

“Ada yang mau kau ceritakan?” Tanyanya membuatku mengangkat sebelah alisku

“mwo?”

“Kau mungkin bisa membohongi semua orang disini tapi aku sangat tahu ada masalah. Kau mau cerita?” Tanyanya sambil meminum segelas air, well dia sangat tahu diriku sepertinya.

Actually…. There are 2 problems here.” Jawabku sambil tersenyum padanya. maaf Lay aku tak bisa menceritakan semuanya.

“Mau berbagi denganku?”

“Tentu, tapi tak bisa semuanya” Jawabku dan dia pun mengangguk.

“Kalau kau merasa dikhianati apa yang akan kau lakukan?” Tanyaku sebagai awal dari ceritaku. Yah, aku akan bercerita soal Sohi disini.

“Hm? Aku? aku rasa aku akan memilih untuk menjauhi orang yang mengkhianatiku”

Exactly… itu yang sedang kulakukan” Jawabku.

“Kris hyung huh?” Tanya lagi dan aku hampir saja tersedak begitu ia menemukan orang yang kumaksud

“Ap….apa maksudmu?”

“Jongdae Kim, aku sangat tahu dirimu. Kau menyukai Sohi kan?” Tanyanya dan aku pun hanya bisa mengalihkan pandanganku lurus kedepan. Tak begitu berani menatap Lay yang sepertinya memang bisa membaca pikiran.

“……Apa yang harus kulakukan?” Tanyaku pada akhirnya membuat namja disampingku sepertinya senang karena aku mengakui kebenaran dari pernyataannya.

“Kenapa tidak kau katakan saja pada Kris hyung?” Ucapnya dan aku pun segera menoleh kearahnya. Namja ini gila kurasa

“Aniyo! Aku tak mau menghancurkan kebahagiaan dia dengan gadis itu” Ucapku

“Lalu kebahagiaanmu?”

“Apa maksudmu?”

“Kau selalu seperti ini Jongdae, membiarkan orang lain bahagia diatas rasa sakitmu. Ingat saat seorang gadis pengunjung disini menyukaimu dan kau juga menyukainya? Tiba tiba Luhan hyung bilang dia menyukai gadis itu dan kau merelakan gadis itu untuknya? Ingat juga saat….kau harus menggantikan Chanyeol hanya karena dia ingin jalan jalan? Kau selalu seperti ini” Jelas Lay panjang lebar membuatku mengingat kisah kisah lalu. Ya, dia benar. Entah memang karakterku seperti ini atau memang hobiku.

“Haha kau masih mengingat semua itu hhh” Jawabu sambil menghela nafasku.

“Tentu saja. Aku ini sangat tahu dirimu, dan satu lagi. Aku tahu kau bukan sekedar demam Jondae. I’m not that stupid, tell me. What happened with you?” Ucapnya padaku

DEG

Seketika itu juga aku terdiam, darimana dia tahu? Oke, dia memang seorang cenayang. Percayalah padaku kau tidak bisa berbohong pada namja berlesung pipit ini. dia terlalu…..menyeramkan -_-

“Aku tidak apa apa kok” Jawabku dan menghabiskan pasta dihadapanku.

“Kalau begitu biar kubuat lebih spesifik, ada apa dengan TENG GO RO KAN MU?” ucapnya sambil memotong setiap penggal dan menekan kata ‘tenggorokanmu’ membuatku bergidik ngeri sekarang.

“Oke, darimana kau tahu?” Ucapku yang tak mungkin bisa mengelak lagi sekarang.

“Bingo! Suaramu serak berkepanjangan dan aku sering kali melihatmu memegangi tenggorokanmu dan batuk berkepanjangan. Jadi, ada apa?”

“Hhhh….. Yixing berhentilah menganalisa segala sesuatu seperti itu. kau seorang koki bukan detektif” Ucapku dan namja itu tertawa puas

“Hahaha, aish anggap saja aku beruntung karena bisa menganalisa segala sesuatu” Ucapnya

“Baiklah, aku sakit. Aku tak bisa bilang aku sakit apa”

“Kenapa?” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut namja ini. haruskah aku bercerita? Aniyo! Semakin banyak yang tahu akan semakin berbahaya

“Kau hanya harus tahu aku sakit di tenggorokan. Tak usah bertanya lebih, oke?” Jawabku dan namja itu akhirnya mengangguk mengerti.

“Bagus, yah lebih baik sekarang kau memberiku solusi dari masalah cinta segitiga sialanku ini” Ucapku dan mengacak rambutku frustasi. Aku tidak terlalu mempermasalahkan Sohi akan denganku atau tidak tapi melihat sahabatmu sendiri dengan yeoja yang kau cintai? Itu sudah lebih dari cukup membuatku sangat sensitive.

“Sudah kubilang kan? Bilang saja pada Kris hyung. Atau kalau mau…kau sibukkan dirimu dengan hal yang lain. Mencari pekerjaan ditempat lain misalnya? Tapi aku takkan semudah itu membiarkanmu kabur dari sini” Ucapnya dengan tampang serius.

“Solusi keduamu aku buang jauh jauh, tak mungkin aku pergi dari sini. Tapi solusi pertamamu… kau sangat tahu ini pertama kalinya Kris hyung menyukai seorang yeoja, mana mungkin aku merebutnya” Jawabku

“Kalau begitu berhentilah menyukai Sohi” Ucapnya

“Heh?”

“Berhentilah menyukai yeoja itu karena satu satunya jalan jika kau tak mau menyakiti mereka berdua pasti kau harus menyakiti dirimu sendiri LAGI. Dan selama ini yang kau lakukan hanya menekan dirimu sendiri Jongdae, mengalah dan mengalah.”

“Kau tahu kan aku takkan bisa merebut kebahagiaan orang lain.” Ucapku

“Aku tahu, itulah kenapa aku bilang padamu untuk mengatakan hal ini pada Kris hyung. Kau tak merebut kebahagiaannya, kau hanya meminta kembali apa yang harusnya menjadi milikmu, mengingat Sohi juga tertarik padamu.” Jelasnya panjang lebar. Lay benar Sohi memang sempat menyukaiku tapi bukan berarti sekarang dia masih menyukaiku juga kan?

“Akan kupikirkan. Kalau begitu aku akan bekerja dulu. Terimakasih Lay!” Ucapku dan segera meninggalkan dapur. Begitu aku keluar dapur kulihat dengan jelas Sohi bersama Kris hyung sedang duduk di salah satu sudut ruangan.

Mereka terlihat begitu bahagia, sesekali Kris hyung mengusap lembut puncak kepala Sohi dan yeoja itu akan menunjukkan semburat merah di wajah manisnya. Aku hanya tersenyum kecil melihat mereka, Lay benar aku memang harus bicara pada Kris hyung. Tapi manusia macam apa yang tega menghancurkan kebahagiaan sahabat baiknya sendiri? Bukan aku. tentu saja bukan aku.

“Hey pasangan baru!” Ucapku dengan suara serak membuat sepasang kekasih itu segera menoleh ke arahku.

“Ah, Chen oppa!” Sohi membalas salamku sambil tersenyum dan Kris hyung mengangguk padaku.

“Mesra sekali kalian ini eoh, café ini terasa panas~~” Ucapku sambil berpura pura mengipas ngipaskan tanganku. Membuat mereka berdua tertawa.

“Aish, kau ini ada ada saja Jongdae!” Ucap Kris hyung dan kujawab dengan ‘hehehe’ ria. Sakit. Jauh di lubuk hatiku aku ingin sekali marah…

 

Author’s POV

Akhirnya Chen pun segera naik ke atas panggung dan mulai menekan tuts tuts piano. Beberapa pengunjung sudah berdatangan dan mulai menikmati pesanan mereka masing masing. Chen memandangi tuts tuts piano itu dengan hampa.

Terbesit dipikirannya sampai kapan ia bisa bernyanyi disini. Menggunakan suaranya. Menahan rasa sakit yang terus menerus menyerangnya. Sampai kapan ia akan tahan……melihat gadis yang ia sayangi bersama sahabat karibnya sendiri.

Chen merasakan ada air yang siap keluar dari mata indah miliknya, segera ia menghapusnya. Tidak, ia tak mau menangisi apapun lagi. Ia tak mau menghabiskan waktunya untuk hal hal seperti ini

I….. Me…… Mine….

Chen mulai menyanyikan lagu buatannya. Rasa sakit tepat ditenggorokannya mulai kembali menyerang.

I lost my mind. Lost my self

Lost the most important thing in my life

Oh baby, can you just stay here and gimme the streght?

Oh baby, can you just hug me once and never let me go?

Oh baby….why….

Why you leave me? Why do you sit beside him? Why you leave when I really need you the most?

Chen mencoba untuk mengendalikan emosinya. Ada rasa sakit yang menyerang tiap kali ia mengingat saat Sohi menjaganya, tersenyum padanya, memberikan wajah malu malunya hanya pada Chen.

So baby, if I ask you now

If I ask you to go away and never comeback

Will you do it? Don’t ever touch my life again

Don’t ever come again

Don’t ever regret everything bout us

‘cause for me, there is no more us. No. Never.

Don’t ever come again

Don’t remind me of anything

Oh baby, I’m trying, yes I’m a careless man

Just, don’t ever knock my heart again……..

Setelah selesai menyanyikan lagu singkatnya, Chen segera turun dari panggung kecil itu dan pergi menuju kamar mandi

“uhuk uhuk uhuk!” lagi dan lagi ia terbatuk karena penyakitnya. Ia tatap tangannya yang sudah dipenuhi darah. Bukan. Ini bukan kali pertama atau kedua ia batuk darah.

“Cih, kenapa lemah sekali sih!” Ucapnya bermonolog sambil mencuci tangannya dan membersihkan sisa sisa darah di sudut bibir tipisnya.

“Oppa….” Panggil sebuah suara membuatnya segera menoleh.

 

Sohi’s POV

Kris oppa baru saja pergi keruangannya untuk mengurus beberapa pekerjaan, aku pun memutuskan untuk ke toilet.

“Uhuk uhuk uhuk!” Kudengar suara batuk dari arah kamar mandi namja. Eungg…..apa tidak apa apa kalau aku mengecek? Aku pun berjalan mendekat dan mengintip sedikit

“Cih, kenapa lemah sekali sih!” Ucap namja itu. kulihat tangannya….penuh darah. Begitu kupicingkan mataku untuk memastikan siapa sosok namja itu

DEG

Chen oppa.

“Oppa…..” Panggilku dengan ragu, membuatnya segera menoleh ke arahku.

“So…Sohi?” Ucapnya sambil terbata dan segera mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya. Masih ada jejak jejak darah disana.

“Oppa….apa kau baik baik saja? Kau sudah meminum obatmu?” Tanyaku sambil mendekat ke arahnya. Tapi dia segera menyuruhku untuk menghentikan langkahku.

“Tetap disana. Jangan melangkah lebih dekat lagi” Ucapnya seketika dingin, berbeda dengan tadi. Ada apa dengannya?

“Tapi oppa aku hanya ingin….”

“Aku baik baik saja, ini bukan urusanmu.” Ucapnya dan segera berjalan mendahuluiku. Aku berdiri membeku mendengar ucapannya barusan. Bukan urusanku? Sejak kapan seorang Kim Jongdae jadi sedingin ini? apa aku berbuat salah padanya?

Aku pun segera mengejarnya, begitu kutemui sosoknya aku segera menarik tangannya membuatnya kaget. Sejujurnya aku pun kaget karena tangan Chen oppa semakin kurus….

“Lepaskan!” Ucapnya setengah berteriak padaku dan aku pun segera melepaskan tanganku

“Oppa, apa salahku?” Tanyaku membuatnya mengangkat sebelah alisnya

“Salah….mu?”

“Oppa kenapa tiba tiba kau berubah? Kris oppa pun bilang kau tadi pagi bersikap dingin padanya. ada apa denganmu?” Tanyaku yang mungkin lebih terdengar mendesak.

“Bisakah kau tak ikut campur urusanku?” Ucapnya lalu membungkuk dan pergi dari hadapanku.

Aku terdiam. baru kali ini kulihat Chen oppa sedingin itu. baru sekali ini aku melihat wajahnya yang dingin seperti itu. aku pun segera melangkahkan kakiku keruangannya Kris dan mengetuknya.

“Masuklah.” Ucap suara bass dari dalam, tentu saja suara namja chinguku.

“Oppa….” Ucapku yang dibalas dengan senyuman dari namja jangkung blonde itu

“Ada apa chagi? Duduklah” Ucapnya sambil menepuk sofa disampingnya. Aku pun menurut dan duduk disampingnya.

“Chen oppa….ada apa dengannya?” Tanyaku dan kulihat wajah Kris oppa yang langsung berubah.

“Apa dia melakukan sesuatu padamu?” Tanyanya

“A…ani! dia hanya… eung bersikap dingin padaku.”

“Aish, aku tak mengerti sama sekali dengan namja itu. kurasa aku harus berbicara dengannya.” Ucap Kris oppa dengan wajah serius

“Apa dia tidak sedang ada masalah?” Tanyaku lagi. Kris oppa terlihat berpikir lalu kemudian dia menggeleng pelan

“Dia tak pernah bercerita apa apa padaku akhir akhir ini. chen termasuk orang yang cukup tertutup chagi” Ucapnya dan aku pun mengangguk angguk mengerti.

“Tapi pasti nanti aku akan coba menanyakannya pada Chen.” Lanjut Kris oppa sambil merangkulku dengan lembut. Well, kuharap Chen oppa bisa bersikap seperti biasa lagi.

***

Author’s POV

#Pukul 22.00

Amore Café sudah tutup dan semua karyawannya sedang membereskan barang barang mereka, tanpa terkecuali Chen. Ia membereskan kertas kertas partitur dan memasukkannya ke dalam tas.

“Jongdae” Panggil sebuah suara bass yang sudah sangat ia kenal. Ia tidak menghiraukannya dan tetap sibuk dengan kegiatannya.

“Kim Jongdae” Panggil suara bass itu sekali lagi dan nihil, Chen tetap tak mau menghiraukannya.

Begitu selesai membereskan barang barangnya Chen segera membalikkan badannya dan berjalan melewati Kris yang sedari tadi memanggilnya.

GREP

Kris menahan tangan namja berbibis tipis itu membuat Chen menghentikan langkahnya

“Jongdae, apa kau tidak mendengarku memanggilmu sedari tadi?” Tanya Kris

“……” Chen tetap diam dan menjauhkan tangan Kris darinya. Dia hendak berjalan lagi ketika lagi lagi Kris menahannya

“Jongdae, ada masalah apa denganmu? Jangan bertingkah seperti anak kecil. Kau terus diam dan bersikap buruk padaku dan juga Sohi. Apa kami melakukan kesalahan? Jawab aku” Tanya Kris dengan setengah memohon karena ia baru sekali ini diperlakukan aneh seperti ini oleh Chen.

“Hyung, apa kau bahagia bersama Sohi?” Tanya Chen yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kris. Namja jangkung itu terdiam lalu mengangguk.

“Bagus, kalau begitu karena kau sudah bersama Sohi. Bisakah….bisakah kau membiarkan ku pergi dari sini?” Tanya Chen lagi

DEG

Kris membeku ditempatnya berdiri.

“Apa maksudmu?” Tanya Kris pada Chen. Semua semakin membingungkan baginya.

“Biarkan aku pergi dari sini. Aku tak mau mengganggu kebahagiaanmu. Aku…..akan kembali ke korea.”

 

TBC~

Hellooooo, aduh ternyata chapter 2 juga belum cukup buat author menamatkan cerita ini readerdeul! TT____TT mianhaeeee. Semoga kalian suka dengan alur yang absurd ini. thanks for reading ya, I throw many sarang to you<3<3<3 sampai berjumpa di chapter 3!! U_U

 

 

Iklan

25 pemikiran pada “A Song Without Voice (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s