Phobia Meets Mania (Chapter 3)

Title: Phobia Meets Mania

Author: Nisha_bacon627

Main Cast:

  • Byun Baekhyun
  • Park Chanyeol

Pairing: BaekYeol (Slight KaiSoo)

Genre: Romance / School Life

Lenght: Multichapter

Author’s Note:

  • Annyeong~ Nisha kembali dengan FF BaekYeol… ^^ Kali ini bukan ficlet kok, tapi multichapter ^^v
    Ini bukan sepenuhnya ide Nisha, tapi nytslyer03, salah satu author asianfanfics. Versi asli main cast-nya KyuSung (Kyuhyun & Yesung), tapi entah kenapa pas baca cerita itu, BaekYeol berasa mirip ama KyuSung couple. Dan jadilah Nisha membuat FF ini. Tentu saja dengan izin authornya.. Ada dibeberapa bagian yang Nisha ubah, tapi intinya tetap sama kok.
  • Original Version bisa dibuka disini: http://www.asianfanfics.com/story/view/241543/phobia-meets-mania-eunhae-kyuhyun-yesung-kyusung
  • Oh iya… Nisha tau banyak yang baca FF ini dari stat wordpress, semuanya bisa dilihat berapa pengunjung blog ini dan FF yang dibaca apa aja. Tapi Nisha agak kecewa, karena banyak silent readers. Jadi, karena banyak siders, Nisha terpaksa harus protect chapter terakhir (next chapter) dari FF ini  ^^. Gomawo~ Dan untuk yang nunggu For You, sabar yah… Karena banyak kesalahan, jadi Nisha perbaikin dulu ToT … Klo semuanya udah selesai, baru deh next chap di update ^^
  • Dan yang bertanya tentang apa maksud phobia meets mania sebenarnya, bisa ditemukan di chapter ini ^^ Selamat membaca~

Phobia Meets Mania

“Dia benar-benar melakukannya?” Kyungsoo bertanya padaku selagi mencoba menyendok satu sendok ice cream vanilla dari cup-nya.

Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Kyungsoo. Apa boleh buat?! Aku sedang mengunyah makan siangku.

“Tak kusangka, dia benar-benar orang yang baik.”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk singkat.

Siapa yang tak setuju dengan itu? Bayangkan saja, selama dua hari berturut-turut ia terus menjagaku dan merawatku dari demam sialan yang menyerangku! Tentu saja dengan cara apapun yang membuatku tak bisa melihat wajahnya. Entahlah,bagaimana caranya, karena aku juga terus saja menutup mataku, kecuali pada malam hari. Karena ia akan terus mematikan lampu kamar kami, walaupun aku sedikit merasa menyusahkannya karena sepertinya hal itu menyulitkannya untuk beraktivitas dengan bebas di kamarnya, ups..kamar kami sendiri.

Sangat baik bukan? Sayang, aku takut pada orang sebaik dirinya.

“Kelihatannya dia benar-benar baik huh?” Kai bergumam pelan seraya mengupas kulit pisang yang entah sudah yang keberapa kalinya hari ini.

“Kau benar-benar seekor monyet.”

“Dasar bebek!”

“Kau-”

“Kalian berdua, hentikan! Bisakah kalian berdamai dan tak membuat keributan, LAGI?” Kyungsoo meremas rambutnya frustasi. Yeah, kurasa dengan melihat sikapnya ia memang sudah benar-benar tak tahan berada di antaraku dan si monyet.

“Tidak!” Aku dan si monyet menjawab bersamaan. Dan karena itu kami justru saling melemparkan glare masing-masing.

Sepertinya memang tak ada cara lagi untuk membuatku dengannya akur.

“Ngomong-ngomong, si Chanyeol itu sering menghilang huh? Apa kalian tahu dia kemana?” Jongin bertanya tiba-tiba, membuatku menyadari sesuatu. Ya, ia memang sering menghilang entah kemana pada jam istirahat atau santai seperti ini. Tak terlihat dimanapun.

Tiba-tiba saja pembicaraan singkat kami dua hari yang lalu memenuhi kepalaku. Dia orang yang tak banyak bicara menurutku, tertutup. Terakhir kami berbincang adalah hari itu, walaupun ia yang merawatku. Dan kupikir tak baik jika Jongin dan teman-teman lainnya menyadarinya dan menanyakan langsung padanya.

“Di-dia ada di kamar kami. Ya, menghabiskan waktu disana.” Kyungsoo dan Jongin sedikit mengernyit, tapi kemudian Kyungsoo tersenyum, “Pergilah, temui dia. Sekalian aku ingin berbicara padanya agar menjaga sahabatku ini.”

Kyungsoo menepuk puncak kepalaku dan entah mengapa aku merasakan tatapan menusuk dari Jongin.

“Jika aku bertemu dengannya, aku ingin memberinya penjelelasan bagaimana cara menakut-nakutimu.”

UGH!!! Dasar monyet sialan!! Tak bosankah ia selalu menakut-nakuti seperti itu?!

“Tak usah ambil pusing dengan perkataannya, Baekhyun-ah… Pergilah.” Setelah itu aku segera pergi menuju kamar asramaku dengan sebelumnya melempar senyum kepada Kyungsoo dan tak lupa tatapan membunuh kepada si monyet hitam.

***

Seperti biasa, kamarku, ah tidak…maksudku kamar kami, aku dan Chanyeol, gelap, sangat gelap. Padahal jika dipikir-pikir ini masih siang hari. Semua sumber cahaya tertutupi, jendela contohnya, yang tertutupi dengan tirai. Satu-satunya yang memberi cahaya adalah dua fentilasi yang tak cukup besar tepat di atas jendela. Itupun tak membantu memberi penerangan pada kamar gelap ini, karena cahayanya tak menerangi seluruh kamar, hanya membias lurus dari fentilasi.

Hal ini membuatku tak bisa melihat begitu jelas, ada atau tidaknya Chanyeol disana.

“Chanyeol?”

Sebenarnya aku sedikit was-was, jika saja dia muncul dan mengagetkanku (lagi). Ugh…membayangkannya saja aku tak mau. Untung saja jantungku ini kuat, jika tidak aku sudah tak ada di dunia ini sejak lama. Ambil sisi positifnya saja, setidaknya keadaan gelap ini membantuku untuk tetap terjaga dalam kesadaran jika berhadapan dengan Park Chanyeol, karena tak bisa melihat wajahnya secara jelas.

“Chan-,” Aku terdiam begitu mendengar suara desisan dari arah kamar mandi.

Ternyata dia ada dalam. Tapi apa yang ia lakukan siang-siang seperti ini? Mandi? Terlalu cepat menurutku.

“Chanyeol..”

“……………”

Tak dibalas. Sebenarnya sedang apa dia di dalam? Mandi? Tapi kenapa tak ada suara air sedikitpun?!

“Chanyeol?”

“……………..”

“YA! Park Chanyeol! Buka pintunya!” Ok! Sekarang jantungku berdebar tak karuan. Ada apa dengannya? Terjadi sesuatu kah? Dan akhirnya kuputuskan untuk memutar kenop pintu, dan beruntung, pintunya tak terkunci.

Bibirku melengkung perlahan, seraya membuka pintu itu perlahan.

“Chanyeol? Kenapa kau tak-,” Perkataanku terhenti otomatis.

Darah! Darah! Di pergelangan tangan kanannya! Dan sebuah silet di tangan kirinya.

“Ya Tuhan! Chanyeol, apa yang kau lakukan?!

Aku berlari ke arahnya yang bersandar lemah pada bath up, mengambil tangan kanannya perlahan. Setelah beberapa detik, barulah aku sadar! Dia butuh diobati.

Saat itu juga aku membantunya berdiri perlahan, sedikit memapahnya menuju ranjang miliknya dan mendudukkannya disana. Segera aku mencari saklar untuk memberi penerangan, tapi dimana saklar itu?! Kenapa susah sekali menemukannya disaat seperti ini?!

Ketika lampu telah berhasil kunyalakan, segera aku mencari kotak P3K milikku.

Agh!

Sial! Aku lupa benda itu ada di kamar mandi! Sia-sia saja perjuangan singkatku mencari saklar untuk penerangan, sementara yang aku cari bukan di dalam ruangan ini.

Ugh.. sepertinya IQ-ku mulai berkurang karena hal ini.

***

“Ada apa denganmu?! Apa kau bodoh? Kau bisa membahayakan dirimu sendiri!” Selama beberapa waktu yang lalu hening, dan sekarang, aku membuka pembicaraan, tidak…lebih tepatnya mengomelinya karena melakukan sesuatu yang bodoh seperti itu.

“……………..” Dia diam. Tak membalas. Ugh… ada apa dengannya?

“Kau…tak takut padaku?” Chanyeol tiba-tiba bertanya, cukup mengagetkanku. Dan pertanyaannya sungguh kontras dengan pertanyaan yang kuberikan.

Aku menghela nafas dalam, “Aku tak takut padamu, tapi aku takut pada wajahmu yang terlihat seperti boneka.” Yah…koreksi yang cukup bagus Byun Baekhyun. Urgh!

Jujur saja, aku sempat lupa dengan dirinya yang mempunyai wajah seperti apa untuk sesaat. Yeah…salahkan hal bodoh yang baru saja ia lakukan. Rasa takutku akan hal itu lebih besar daripada semenakutkan apa wajahnya.

“Oh…”

Ah… sial! Seluruh tubuhku mulai berkeringat dingin, lagi! Untung saja sekarang aku masih menunduk untuk mengobati lukanya. Relax Baekhyun…relax…tarik nafas dan buang perlahan.

“Haruskah aku mengiris wajahku?”

Pertanyaannya kali ini membuatku kaget, yang spontan membuatku menatap ke arahnya.

Dan terimakasih kepadanya karena mempunyai inisiatif untuk menutupi wajahnya sebelum aku benar-benar menatap ke arahnya dan mungkin saja akan berteriak seperti perempuan yang melihat hantu.

Aku kemudian berdiri dan mengambil sesuatu dari laci nakas yang berada tepat di samping tempat tidurku.

Ah! Got it!

“Pakai ini!” Tanpa berkata apapun, ia dengan cepat memakai kacamata –yeah, yang boleh kukatakan cukup tebal dan..ergh, tanpa ragu-ragu.

“Bagaimana?”

Aku tersenyum, “Lumayan.”

Walaupun masih terlihat seperti boneka, tapi setidaknya dengan kacamata itu, wajahnya yang terlihat menakutkan –bagiku, sedikit tertutupi dan aku dengan tenang dapat menatap wajahnya yang… yah, kuakui cukup tampan dengan kacamata ‘aneh’yang kuberikan, yang seharusnya terlihat aneh jika dipakai. Jika saja Jongin yang memakainya, aku pasti akan tertawa terbahak-bahak.

“Aneh…” Aku menggumam, membuat keningnya berkerut, tak mengerti dengan apa yang kuucapkan.

“Apa yang aneh?”

“Aku tak pernah membayangkan hari dimana aku menatap seseorang dengan wajah mannequin sepertimu.” Aku menggumam lagi, seraya mendekatinya kali ini. Entah kenapa ada keinginan besar dalam diriku untuk menyentuh wajah sempurna lelaki di hadapanku ini.

“Bolehkah aku menyentuh wajahmu.”

“Tentu.”

Dengan tangan yang masih bergetar dan mata terutup, aku menyentuhnya. Mulai dari satu jari, dua jari, dan seluruh telapak tanganku menangkup sebagian wajahnya.

Hangat. Wajahnya begitu hangat dan lembut.

“Kenapa kau takut pada wajahku?” Chanyeol bertanya. Ya, ia hanya tahu aku takut padanya –wajahnya, tapi tak pernah tahu alasan kenapa aku takut padanya.

“Karena wajahmu seperti boneka.” Aku menjawab, masih dengan menangkupkan tanganku pada pipinya. Tapi kali ini bukan satu, tapi keduanya.

“Kau..takut boneka?” Chanyeol kembali melempar pertanyaan. Kali ini, mataku terbuka, mengizinkan akses mataku dan matanya yang tepat menatap lurus ke arahku bertatapan, yang jujur saja membuatku sedikit takut.

Aku mengangguk.

“Kenapa?”

“Aku tak yakin ingin memberimu jawabannya saat ini. Aku belum percaya padamu, yah…disamping aku tak ingin ditertawakan juga.” Aku menarik kedua tanganku, lalu mengambil tempat duduk di sampingnya.

“Ok, tak apa jika kau tak ingin memberitahuku. Tapi, kenapa kau menolongku hm?”

“Kenapa aku menolongmu?” Ugh… Park Chanyeol, aku rasa itu pertanyaan bodoh.

“Ku kira kau membenciku.”

Oh! Not this again Park Chanyeol! “Aku hanya takut pada wajahmu, bukan padamu.”

“Maaf.”

“Tak apa.” Setelah itu hening, tak ada yang berbicara. Dan itu.. um, yeah…sedikit awkward.

Aku meraih pergelangan tangannya yang terluka, mengecek apakah darahnya masih terus keluar dan syukurlah jawabannya tidak.
Aku kemudian menyejajarkan tanganku dengannya, membandingkan jari-jari milikku dan miliknya. Sedikit kaget ia ketika aku tiba-tiba menyatukan jari-jari kecilku dan miliknya yang lebih besar. Ia mencoba untuk menarik tangannya dariku, tapi aku malah mengenggamnya erat.

“Nenekku mengatakan, jika aku takut dan ingin menyakiti diriku sendiri, aku hanya perlu mengenggam tangan seseorang seperti ini.” Sekarang bukan hanya satu, tapi kedua tanganku telah mengenggam tangannya.

“Dulu, aku selalu menyakiti diriku sendiri, dan orang tuaku… ingin aku kembali normal, tapi…”

Aku menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, “Semuanya membuatku tertekan, pergi ke dokter yang berbeda setiap minggu, bahkan psikiater.” Aku tertawa kecil. Cih! Padahal tak ada yang perlu ditertawakan saat ini.

Ah ya… dan reaksinya? Ia tak mengatakan apapun dan um.. motionless.

“Suatu malam, ketika aku berlibur di rumah nenekku, sesuatu terjadi kepadaku. Aku terbangun di tengah malam, pergi menuju dapur, lalu mengambil sebuah pisau. Setelah itu aku tak tahu apapun. Aku tak mengingat bagaimana dan apa yang kupikirkan sampai aku berakhir seperti itu.”

“Satu hal yang aku ingat adalah tangan nenek yang mengenggam kedua tanganku erat. Pisau itu entah kenapa telah berada jauh beberapa meter dariku. Nenek kemudian menenangkanku dan memberi beberapa nasihat. Setelah kejadian itu, nenek meminta pada orang tuaku agar aku tinggal bersamanya.”

“Apa yang orang tuamu katakan?”

“Mereka setuju, dengan satu syarat.”

“Aku harus sembuh, jika aku ingin pulang kembali ke rumah, kepada mereka.” Setetes air mata jatuh membasahi pipiku membuatku sekali tertawa kecil, sungguh miris. “Kenapa aku mengatakan semua ini padamu huh?”

Chanyeol tak menjawab. Aku hanya merasakan, genggaman yang bertambah erat darinya, membuatku sedikit tersenyum karena aku tahu ia mendengarkan ceritaku dengan tulus.

Dan setelahnya, air mata yang hanya jatuh setetes, kini terus mengalir. Huh.. seperti anak kecil saja. Bahkan aku tak ingat kapan aku terakhir kali menangis seperti ini.

“Aku menderita automania.”

“Apa itu?”

“Obsesi yang tidak terkontrol untuk terus menyendiri.”

What the?! Jika ia ingin menyendiri, kenapa ia harus bersekolah?

“Aku rasa, kau memikirkan kenapa aku berada disini, di sekolah ini sekarang huh?” Mind reader too? Good Park Chanyeol!

“Dr.Kim, psikiaterku, memberikan solusi seperti itu. Aku harus lebih sering berada di tempat ramai, daripada menyendiri dan cenderung melukai fisikku sendiri. Tentu saja, orang tuaku tak senang dengan itu semua.”

Automania eoh? Aku belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya. Tapi, obsesi untuk sendiri.. kupikir itu aneh. Aku tahu, kadang menyendiri adalah hal bagus, misalnya saja untuk merenungkan keselahan-kesalahan yang telah kita perbuat sebelumnya, tapi terobsesi dengan hal seperti itu?! Ck! This guy’s sick!

“Pernah sekali aku mencoba melarikan diri dari rumah dan hidup di gunung. Dan orang tuaku meminta polisi dan tim penyelamat untuk mencariku.”

Yep! This guy is definitely sick!

“Masuk ke sekolah ini kupikir adalah hal yang bagus.”

“Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Karena ada kau disini.” What?! Aku hampir saja tersedak –bukan karena apa-apa, tapi karena kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Kali ini aku yang mencoba menarik tanganku darinya, tapi ia menggenggamku semakin erat.

“Dan kau…berbeda.”

“Berbeda?”

“Orang-orang selalu mendekatiku karena wajahku dan aku benci itu. Tapi, kau justru menjauh dariku.”

“Maaf… tapi aku merasa lucu kau menggunakan kacamata itu. Kau terlihat seperti badut.” Aku tertawa. Bagaimana tidak? Kacamata besar yang hampir menutupi sebagian wajahnya yang tersambung dengan hidung pelastik buatan dan sebuah kumis tepat di bawahnya. Itu semua….. hahaha! Sangat lucu! Aku heran pada diriku yang baru tertawa sekarang~ XD

“Setidaknya, kau bisa berinteraksi denganku.” Benar. Tanpa kacamata badut aneh itu, aku tak akan duduk dan berbincang seperti ini dengannya.

“Kau orang baik Baekhyun. Aku senang menjadi roommatemu.”

“Yeah…” Jika sebelumnya keheningan diantara aku dan Chanyeol terasa begitu awkward, sekarang aku bisa merasa sedikit nyaman. Dia orang yang sangat baik, dan akan lebih sempurna lagi jika tanpa wajah menakutkan itu. Aku sedikit kasihan padanya.

I am Pediophobic by the way.”

Well… Nice to meet you, Phobia.”

Nice to meet you too, Mania.”

To Be Continued

Iklan

155 pemikiran pada “Phobia Meets Mania (Chapter 3)

  1. Oh jadi maksud judulnya ini. Wkwk baru ngerti, kirain maksud judulnya phobia bertemu mainan /maklum english pas2an. Eh ternyata maksudnya phobia(baek) bertemu manaia(chan)
    lanjut baca next chap
    keep writing and fighting thor~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s