Daydream

Daydream

Title                 : Daydream

Author             : Wu Mei Yi

Rating             : PG-15

Length             : Oneshoot/Ficlet

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Tragedy

Main Cast        :

• Wu Yi Fan/Kris

• Hua Yi Mo/Momo

734990_318056784979911_1298212548_n_副本

Summary           : “Aku bertahan. Semuanya menjadi redup dan gelap saat kau meninggalkanku. Aku tak bisa melanjutkan hidupku. Sejak kepergianmu, aku merasa tak hidup lagi. Sekali lagi, aku tak percaya kisah kita berakhir seperti ini. Begitu banyak janji yang telah dibuat. Apa yang harus kulakukan?”

Backsound      : Super Junior – Daydream

***

Kris POV

Aku membuka mataku perlahan. Membiarkanku menatap cahaya yang masuk melalui sela-sela jendela. Kutatapi kamarku yang berantakan. Aku berharap dia ada disini.

Berada di sampingku dan menyambut pagiku dengan senyum. Tapi yang kulihat hanya kekosongan.

Terputar memori indahku bersamanya,

“Kris, ayo bangun”

“Ngghh” leguhku

“Yakk!! Kris!! Bangun!!” ujarnya sambil menggoyang goyangkan tubuhku agak keras

“Emhh,, a moment please, Momo”

“Kau mau bangun atau tidak? Atau lebih baik aku pulang saja” katanya sambil  mulai beranjak pergi

Otomatis aku langsung bangun dan beranjak dari tempat tidurku

“Okay okay, you’re win, I’m wake up now” ujarku malas kulihat dia tersenyum puas dan kemudian merapikan tempat tidurku.

“That’s better, Kris. Cepat mandi, kutunggu kau dibawah dan kita makan bersama. Aku sudah memasakkan Sup Pangsit Pedas dan Bakmi kesukaanku” ujarnya lalu mulai berjalan menuju pintu

“Akan legbih baik jika aku mendapatkan makanan pembukaku dulu” ujarku dan membuat langkahnya terhenti

“Eh?”

Tanpa basa basi, kurengkuh tubuhnya, menciumi bibir pinknya yang memabukkan dengan sedikit melumatnya. Setelah kami hampir kekurangan oksigen barulah aku melepaskan ciuman kami. Kulihat wajahnya sudah semerah tomat.

“W..what are you doing?” ujarnya malu-malu.

“Baiklah, tunggu aku di bawah, kecuali kalau kau ingin mandi bersamaku” kataku pervert dan langsung dibalas oleh pukulan bantal darinya.

“Apa-apaan kau, Kris. Cepat mandi atau makananmu akan berakhir di tempat sampah!” ujarnya galak lalu melesat cepat ke bawah tangga, padahal aku tahu dia hanya menutupi rasa malunya.

Aku hanya terkekeh geli dan langsung masuk ke dalam kamar mandi

 

Dengan perlahan aku bangun dari tempat tidurku. Berjalan pelan kea rah cermin besar yang tertempel di dinding kamarku. Kucoba untuk menatapi diriku yang begitu kacau.

Tapi yang terlihat adalah bayangannya yang tersenyum manis ke arahku. Aku memejamkan mataku. Mencoba agar sesak di dada ini agar hilang.

Kualihkan pandanganku pada tangan kananku yang terbalut oleh kain. Entah sudah berapa kali aku memukul dinding kamarku dan memecahkan cermin kamar mandiku sehingga bercak darah yang mongering tampak begitu abstrak di sana.

Aku tersenyum miris. Kemudian kupejamkan mataku.

Butiran bening kembali membasahi pipiku

Aku menghapus air mataku kasar lalu berjalan ke luar dari kamar.

 

Aku melangkahkan kakiku menuju sebuah ruangan.

Kubuka perlahan pintu ruangan itu dan berjalan menuju sebuah piano besar berwarna putih.

Kubersihkan sedikit debu yang melapisinya, sehingga tampak sedikit berkilat. Lalu mendudukkan diriku perlahan di kursi.

“Kau ingin  mendengarkanku bernyanyi?” tanyaku

“Memangnya kau bisa bernyanyi? Kau bisa bermain piano? Sejak kapan? Setahuku yang kau bisa hanya ngerapp dan mengomeli orang saja” katanya panjang lebar dan membuatku tersenyum kecil lalu mengacak rambutnya.

“Aishh,, kau ini suka sekali mengacak rambut orang. Cobalah sekali-kali kau acak rambutmu sendiri” keluhnya membuatku kembali tersenyum

“Nah, apa kau mau aku menyanyikanmu sebuah lagu? Untuk membuktikan seberapa besar cintaku padamu”

Dia tertawa.

“Alright, alright, nyanyikan sebuah lagu untukku, berjudul Daydream”

Aku memainkan jari-jariku diatas tuts piano, membuatnya berdenting dan menghasilkan rangkaian nada yang indah dan mulai bernyanyi,

 

Gwireul makgo

Geudaereul deoreobonda

Du nuneul gamgo

Geudaereul geuryeobonda

Geudaen heulleoganneunde

Geudaen jinaganneunde

Imi japhil su jochado eomneun

Gieok sogeso

 

Nan meomunda

Nan meomunda

Saranghaetdon gieokdeuri

Nareul gajigo nonda

Dasi han beon one more time

Ireokhe kkeutnandani mideul suga omneun geollyo

Gojak i jeongdoro

Geu su manhatdon yaksokdeureun

Eotteokhe eotteokhe

 

Dia memejamkan matanya perlahan, menggoyangkan kepalanya dan bersenandung dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya

 

Sumeul chamgo

Geudaereul deurikinda

Jeumeogeul jwigo

Geudael sseudadeumneunda

Geudaen heulleoganneunde

Geudaen jinaganneunde

Ijen gasil su jochado eomneun

Chueok sogeseo

 

Air mataku mulai turun,

Sungguh,

Sakit,

 

Nan meomunda

Nan meomunda

Saranghaetdon gieokdeuri

Nareul gajigo nonda

Dasi han beon one more time

Ireokhe kkeutnandani mideul suga omneun geollyo

Gojak i jeongdoro

Geu su manhatdon yaksokdeureun

Eotteokhe eotteokhe

 

***

Aku hentikan mobil Ferarri merah mengkilatku didepan sebuah padang rumput yang luas.

Aku turun dan melangkahkan kakiku kearah padang rumput yang indah tersebut.

Membiarkan angin semilir menggoyangkan surai emasku lembut.

Kuhentikan langkah kakiku, lalu kupejamkan mataku, merasakan hembusan angin.

 

“Kris, ayo kejar aku!” teriaknya di antara hembusan angin.

Rambut panjang hitamnya dan gaun putihnya ditiup oleh angin. Membuatnya semakin tampak cantik dan indah di mataku.

Aku tersenyum tetapi aku diam. Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Dia benar-benar menyukai tempat ini.

Dia berjalan ke arahku dengan sedikir menghentakkan kakinya dan mengerucutkan bibirnya. Aku menatapnya bingung.

“What?”

Dia menatapku kesal,

“What?! You say what?! Oh okay, what ever!” dengan nada marahnya dia berjalan menjauhiku menuju kea rah mobil yang terparkir di pinggir jalanan yang sepi

Sebelum terlalu jauh, aku mengejarnya lalu menggelitikinya, membuatnya menggeliat geli,

“Aw,, aw,,, hei,, hentikan Kris, hahahaha,, aduhh,, hentikann,, kumohon,,ahahahaha…” ringisnya sambil sesekali tertawa dan memukul lenganku agak keras.

Aku menggelitikinya tanpa ampun sampai kami membaringkan tubuh kami yang kelelahan di padang rumput itu menghadap kea rah langit yang teduh.

“Momo?”

“Ada apa Kris?”

“Kau mau berjanji pada langit?”

“Berjanji apa?” tanyanya polos.

“Berjanji kalau kau tidak akan pernah meninggalkanku, dan selalu berada di sampingku selamanya”

“Kenapa? Bukankah lusa kita akan menikah juga” tanyanya lagi.

“Tapi bisa saja nanti kau menyelingkuhiku kan?” balasku

“Oh my god, you’re always negative thinking of me, Kris” dengusnya kesal

“Ayolah berjanji padaku” ujarku sedikit merengek. Meskipun aku adalah Kris yang dingin, aku hanya bisa bersikap manja dan kekanak-kanakan hanya kepada calon istriku yang satu ini.

Dia mendengus kesal lalu menghadapkan kepalanya ke arahku,

“Baiklah, baiklah, aku, Hua Yi Mo, berjanji tidak akan pernah meninggalkan calon suamiku, Wu Yi Fan dan akan selalu setia padanya sampai akhir hayatku” ucapnya panjang. Sambil mengangkat sebelah tangannya. Aku tersenyum.

“Nah, begitu dong”

“Hei! Kau tidak mau berjanji juga?! Masa Cuma aku yang berjanji?” protesnya.

Aku terkekeh, lalu mengangkat sebelah tanganku,

“Aku, Wu Yi Fan, berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Hua Yi Mo, calon istriku, hanya mencintainya dan setia padanya sampai aku mati” ujarku lantang. Kudengar dia tertawa.

“Apa ada yang lucu, mrs. Wu Yi Mo?” tanyaku

Dia menghentikan tawanya dan memukul dadaku pelan,

“Jangan seenaknya merubah margaku. Kita belum menikah” protesnya lagi. Kini aku yang tertawa.

“Tetapi sebentar lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya, Momo” ujarku sambil tersenyum evil

“Pervert!”

Aku mendekatkan wajahku dan menciumi puncak kepalanya lembut, membuat wajahnya kembali memerah,

“Wo ai ni, Momo” ucapku pelan

 

Aku membuka mataku perlahan

Entah aku bermimpi atau aku yang sudah gila,

Aku melihatnya, aku melihat Momo berdiri agak jauh di depanku.

Dia tersenyum menatapiku, kemudian berjalan menjauh,

Seolah terhipnotis, aku berjalan mengikutinya yang ada di depanku.

Kulihat dia merentangkan kedua tangannya, merasakan hembusan angin.

Aku penasaran, kucoba lagi berjalan untuk mendekatinya, tetapi dia kembali berjalan menjauh.

Kuhentikan langkahku saat dia menghilang dengan perlahan di hadapanku.

Tiba-tiba sekelebat memori menyakitkan itu kembali terputar di otakku,

Membuatku memegangi kepalaku yang sakitnya menjalar sampai hati.

 

“Apa gaun pernikahanmu sudah selesai?” tanyaku

“Sudah, Minna memnyelesaikannya untukku. Tuxedomu juga sudah selesai” balasnya.

“Wah, sepertinya bagus”

“Tentu saja bagus, kan aku yang merancangnya sendiri, khusus untuk pernikahan kita lusa” jawabnya senang.

Aku tersenyum, mengalihkan kosentrasiku untuk menatap wajahnya yang duduk di sampingku, lalu mengacak rambutknya gemas, membuatnya mem-poutkan bibirnya.

Tapi aku tidak menyadari bahwa sebuah truk besar melaju dengan kencangnya di depan kami, Momo yang menyadarinya membulatkan matanya dan berteriak kencang, membuatku mengalihkan pandanganku lagi ke depan,

“KRIS AWASSS!!!!”

Tetapi kejadian itu tidak bisa terelakkan lagi,

 

Apado dachyeodo nan neo

Isseoya sal su isseo

Neo eomneun sarmeun naegen

Jugeumgwado gata

Apeudoro dwidoro gal su eomneunde

Naneun eotteokhe eotteokhe

 

“Momo, Momo, sadarlah Momo. Bangun” kugoyang-goyangkan tubuhnya yang berada di pangkuanku, kutepuk pelan pipinya.

Tak kupedulikan sakit di tubuhku, dan darah yang keluar dari kepalaku,

Yang kukhawatirkan hanya Momo-ku

Wajahnya pucat, darah terus keluar dari luka-luka di tubuhnya tak terkecuali dari mulutnya.

Bibirnya yang biasanya berwarna pink itu kini memutih, kurasakan denyut jantungnya semakin lemah,

“Momo,, Momo,, bangunlah.. Kumohon bertahanlah,, aku akan segera mencari pertolongan” ujarku panik

Momo membuka matanya perlahan, menatap manik mataku.

Dengan susah payah tangan kirinya terangkat dan memegangi pipiku, nafasnya tersenggal

“K…Kr..Kriss..” panggilnya tersendat

“W..wo..a..a..ai..n…ni”

Kemudian dia menutup pelan kedua matanya,

Tangannya yang memegang pipiku terjatuh

 

Meomunda

 

Dengan senyum di bibir pucatnya

 

Jeomunda

Niga tteonan geu nalbuteo nan

 

“Mo??!! Momo??!! Momo,, jangan menakutiku Hua Yi Mo, ayo buka matamu, Momo!!”

 

Nan Jeomunda

Nareul beorin geu nalbeuteo nan

 

“Momo??!! Bangun Hua Yi Mo!! Ayo bangun!! Ini tidak mungkin!! MOMO!! TIDAAAAAAAAAAKKKKKKKK!!!!!!!” aku memeluk tubuhnya yang dingin, berteriak dengan air mata yang mengalir deras

Hidupku,

Separuh jiwaku,

Kekasihku,

Calon istriku yang amat kucintai,

Wu Yi Mo-ku,

Pergi

 

Niga tteonan geu nalbuteo

Jogeumssik churakhanda

 

Aku meremas kuat rambutku,

Kupukul keras dadaku,

Sakit,

Sangat sakit,

Tetesan bening ini kembali turun, tak peduli seberapa banyaknya aku menangis hari ini.

”AAAAAAAAHHHHHHHH!!!!!!” teriakku keras

Kemudian aku berlari kencang

 

Dasi han beon one more time

Ireokhe kkeutnandani

Mideul suga eomneungeollyo

Gojak i jeongdoro

Geu su manhatdeon yaksokdeureun

Eotteokhe eotteokhe

 

Sangat kencang

Aku berlari sampai aku sampai ke bagian jalanan yang ramai.

Aku berlari sampai di tengah jalan, menghadang mobil sedan yang melaju dengan kencang

Tak memperdulikan teriakan kencang orang orang,

DIIINN DIIIIINN

Aku tersenyum,

“Momo, bila kau tak dapat kembali, setidaknya biarkan aku datang ke tempatmu”

Kupejamkan mataku

DUUAAAKKKK

***

“Kris”

Aku mengalihkan pandanganku pada gadis berambut panjang dan bergaun putih yang duduk menemaniku di bangku taman yang sangat indah ini. Aku belai kepalanya penuh kasih sayang

“Heung? What’s matter, Momo?” tanyaku

Dia mengalihkan pandangannya utnuk menatap wajahku

“Kenapa kau harus menyusulku ke sini?”

Aku tersenyum,

“Karena aku sangat mencintaimu, kau tahu, semenjak kau meninggalkanku, aku seperti mayat hidup, aku selalu merindukanmu”

“I know that Kris. But, how about your family? Bagaimana dengan orang-orang yang menyayangimu disana?” ujarnya lagi

“Mereka pasti mengerti keinginanku sekarang” balasku sambil megelus lembut pipinya.

“Memangnya kau tidak merindukanku ya? Kau tidak menginginkanku disini?” tanyaku dengan nada pura-pusa sedih. Dia langsung membelalakkan matanya.

“Bukan begitu Kris, hanya saja….”

“Ssstt,,” aku memotong perkataannya dengan jariku

“Tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi. Sekarang kita berbahagia” ujarku. Kemudian dia tersenyum.

“Kau benar”

“HOIIIIII!! Yang sedang bermesraan disanaaa!! Ayo cepat kemariiii!!!!” teriak seorang lelaki berwajah tampan dengan sepasang sayap putih di punggungnya.

“Tunggu sebentar Suho!! Kau ini tidak bisa mengerti keromantisan sepasang kekasih ya!!” balasku kencang. Kudengar tawanya membahana.

“Baiklah baiklah” kata malaikat bernama Suho itu.

Akupun berdiri, kemudian menjulurkan tanganku kea rah gadis yang amat sangat kucintai,

“Hold in me?” tanyaku dan dia tertawa kecil

“Sure, why not?”

Kemudian kami masuk ke dalam gerbang dimana Suho menunggu kami sambil bergandengan tangan

-END-

Yah, sebenarnya author sudah lama bikin FF ini, tapi baru sekarang mau post. Soalnya gak yakin readers bakalan suka ._.v

Mian juga kalo typo bertebaran, gak suka jalan ceritanya, trus pendek ._.v

But, keep I still need your RCL please J

Okey, see you next Fanfiction^^

Iklan

18 pemikiran pada “Daydream

  1. awalnya mewek . tapi ternyata happy ending yaaa 😀
    hihihi NICE thor !!
    astaga daddy Joonma.. apabanget sih lu ngerusak moment kemesraan orang aja!!!!
    /jewer/

  2. Nyesek abiiis….
    Tapi keren thor! Apa lagi pas terakhirnya Kris bilang “Tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi. Sekarang kita berbahagia itu suka banget!
    Keep writing yaaaa

  3. Ffnya sedih…. Nyesekkk banget :'(.. Apa lgi klo smbil dgar lgunya daydream.. Makin sedihhh bacax… :”(… (y) (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s