Fallen (Chapter 7B)

Title    : FALLEN – CHAPTER 7 PART B: PANCARAN CAHAYA

Author : @dearmydeer_

Main Cast :  -Lucinda Price : Park Gi Eun (OC)

-Daniel Grigori : Xi Luhan (EXO-M)

-Cameron Briel : Wu Yi Fan a.k.a Kris (EXO-M)

-Arriane Alter : Amber Josephine Liu (F(X))

-Pennyweather Van Syckle-Lockwood : Lee Sun Kyu a.k.a Sunny (SNSD)

-Roland Sparks : Roland Sparks (OC)

-Gabrielle Givens : Lee Hyori (OC)

Support Cast :

  • Sophia Bliss : Kim Hyun Jin—Miss Kim (OC)
  • Mary Margaret ‘Molly’ Zane : Choi Jin Hee (OC)
  • Randy : Kim Joon-myun a.k.a SuHo (EXO-K)
  • Callie : Jung Ji Hyun (OC)
  • Todd Hammond : Park Chanyeol (EXO-K)
  • Trevor : Trevor (OC)

Genre  : Western-Life, Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy

Sumber : FALLEN karya Lauren Kate

Warning : Typo bertebaran, OOC

fallen

Credit Pict: Art Factory by QuinAegyoMin

CHAPTER 7 PART B:

PANCARAN CAHAYA

 

Hyori mengerjap, lalu mengigit bibir. “Miss Kim,” akhirnya gadis itu berkata, menjentikkan jari. “Benar, ia mulai panic ketika Gi Eun tidak muncul di kelas. Terus-terusan mengatakan kau murid yang menjanjikan dan sebagainya.”

Gi Eun tidak memahami gadis ini. Apakah ia tidak main-main dan hanya mengikuti perintah? Apakah ia mengejek Gi Eun karena memberikan kesan baik pada guru? Apakah ia belum cukup menguasai Luhan—sehingga harus mendekati Kris juga sekarang?

Hyori pasti merasa ia mengganggu, tapi ia hanya berdiri di sana, mengerjapkan matanya yang besar dan memelintir sejumput rambut pirang dengan jari. “Yah, ayo, kalau begitu,” akhirnya gadis itu berkata, mengulurkan tangan untuk membantu Gi Eun dan Kris berdiri. “Ayo, kita kembali ke kelas.”

“Park Gi Eun, kau bisa memakai meja nomor tiga,” Miss Kim berkata, menunduk menatap selembar kertas, ketika Gi Eun, Kris, dan Hyori memasuki perpustakaan. Tidak ada Dari mana saja kalian? Tidak ada pengurangan nilai karena terlambat. Hanya Miss Kim, sambil lalu menyuruh Gi Eun duduk dengan Sunny di kelas lab computer dalam perpustakaan. Seakan ia tidak menyadari Gi Eun sempat menghilang.

Gi Eun melirik Hyori dengan tatapan menuduh, tapi gadis itu hanya mengangkat bahu dan menggerakkan bibir tanpa suara, “Apa?”

“Darimanasajakau?” Sunny mendesak begitu Gi Eun duduk. Satu-satunya orang yang kelihatannya menyadari Gi Eun sempat menghilang.

Mata Gi Eun menemukan Luhan, yang serius menatap computer di meja tujuh. Dari tempat Gi Eun duduk, yang bisa dilihatnya hanyalah pirang rambut cowok itu, tapi sudah cukup untuk membuat pipinya merona. Gi Eun melesak lebih renang di bangku, kembali merasa sangat malu karena pembicaraan mereka sebelumnya di ruang olahraga.

Bahkan setelah tertawa-tawa, tersenyum, dan kesempatan nyaris berciuman yang baru saja dialaminya bersama Kris, ia tetap tidak bisa menyangkal apa yang dirasakannya jika melihat Luhan.

Dan mereka takkan pernah bisa bersama.

Itulah inti omongan cowok itu di ruang olahraga. Setelah Gi Eun menyodorkan dirinya bulat-bulat padanya.

Penolakan itu melukainya begitu dalam, begitu dekat dengan hatinya, Gi Eun yakin setiap orang di sekitarnya bisa tahu persis apa yang terjadi hanya dengan menatapnya sekali.

Sunny mengetuk-ngetuk pensil dengan tidak sabar di meja Gi Eun. Tapi Gi Eun tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Acara pikniknya bersama Kris terganggu oleh Hyori sebelum Gi Eun bisa benar-benar menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Atau apa yang akan terjadi. Tapi anehnya, dan yang tidak bisa dimengertinya, adalah kenapa semua itu terasa tidak terlalu penting dibandingkan apa yang terjadi di ruang olahraga bersama Luhan.

Miss Kim berdiri di tengan lab computer, menjentikkan jemari di udara seperti guru taman kanak-kanan untuk mendapatkan perhatian murid-murid. Gelang-gelang peraknya yang berjajar berdenting seperti lonceng.

“Jika ada diantara kalian yang pernah menelusuri pohon keluarga kalian,” Miss Kim berseru diantara keributan murid-murid, “kalian akan tahu harta karun macam apa yang terkubur dibagian akarnya.”

“Ampun deh, tolong enyahkan metafora itu,” Sunny berbisik. “Atau singkirkan aku. Pilih salah satu.”

“Kalian punya dua puluh menit sambungan Internet untuk meriset pohon keluarga kalian sendiri,” Miss Kim berkata, mengetuk-ngetuk stopwatch. “Satu generasi kira-kira dua puluh sampai dua puluh lima tahun, jadi cobalah mundur setidaknya enam generasi.”

Erangan.

Desahan kerasa terdengar dari meja tujuh—Luhan.

Miss Kim berpaling kea rah cowok itu. “Luhan? Apa kau punya masalah dengan tugas ini?”

Cowok itu mendesah lagi dan mengangkat bahu. “Tidak, tidak sama sekali. Tidak apa-apa. Pohon keluargaku. Pasti menarik.”

Miss Kim memiringkan kepala dengan bingung. “Aku akan menganggap kalimat itu sebagai persetujuan yang penuh semangat.” Saat melanjutkan lagi ke murid-murid di kelas, Miss Kim berkata, “Aku yakin kalian akan menemukan bahan yang pantas diteliti dan ditulis sepanjang sepuluh sampai lima belas halaman.”

Gi Eun tidak mungkin bisa berkonsentrasi pada tugas ini sekarang. Begitu banyak hal lain yang harus dipikirkan. Dirinya bersama Kris di pemakaman. Mungkin kejadian tadi bukan standar kejadian romantic, tapi Gi Eun nyaris menganggapnya begitu. Ia belum pernah melakukan hal seperti itu. Membolos untuk keluyuran di antara makam-makam. Makan bersama saat piknik, sementara Kris menuangkan lagi kopi latte-nya yang sempurna. Mengolok-olok rasa takut Gi Eun terhadap ular. Yah, sebenarnya ia lebih suka tidak ada kejadian dengan ular, tapi setidaknya reaksi Kris menyenangkan. Lebih daripada Luhan sepanjang minggu ini.

Ia tidak suka mengakuinya, tapi itu memang benar. Luhan sama sekali tidak tertarik.

Kris, disisi lain…

Gi Eun memerhatikan Kris, beberapa meja disebelahnya. Cowok itu mengedipkan mata padanya sebelum mulai mengetik keyboard. Jadi Kris menyukainya. Ji Hyun takkan bisa tutup mulut tentang betapa jelas Kris tertarik padanya.

Ia ingin menelepon Ji Hyun saat ini juga, untuk melarikan diri dari perpustakaan ini dan menunda tugas pohon keluarga. Membicarakan cowok lain adalah cara tercepat—atau mungkin satu-satunya—untuk menyingkirkan Luhan dari benaknya. Tapi ada peraturan telepon yang menyebalkan di Sword & Cross, dan murid-murid lain disekitarnya, yang tampak sangat tekun. Mata Miss Kim yang kecil mengamati seluruh kelas mencari murid yang menunda bekerja.

Gi Eun menghela npas, merasa kalah, dan membuka search engine di komputernya. Ia terjebak di sini selama dua puluh menit ke depan—sementara tidak satu pun sel otaknya digunakan untuk tugas. Ia sama sekali tidak ingin mempelajari keluarganya sendiri yang membosankan. Tetapi, jemarinya tanpa sadar mulai mengetikkan tujuh huruf:

“Xi Luhan”.

Cari.

To Be Continue

Buat yang udh baca chapter ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

Iklan

12 pemikiran pada “Fallen (Chapter 7B)

  1. Ahh akhirnya lnjutannya udah ada… Hmmm mkin ksini makin seru critanya, romancenya mlai kerasa bnget… Lebih panjang dong author.. Ini kependekan bneran… Ok, ditunggu next chapter yg lebih panjang secepatnya yahhh ^-^

  2. aku cari buku novel fallen tapi udah gak ada 😦
    jadi satu-satunya yang bisa menghilangkan rasa penasaranku lewat ff ini tentang novel itu.
    lanjut thor

  3. Seru thor.. Makin seru makin lama.. Tpi jgn pdk” thor.. Penasaran bgt ni sama lanjutannya.. Jgn lama” ya postiny nya

  4. Author.. Ini critanya dr novel, btw beli novelnya dimana yah? Nyari nih.. Critany bgus.. Buruan ya post chapter berikutnya

  5. Thor kok ceritanya pendek sekali sih?
    Kurang panjang ni thor. Bikin penasaran,
    Nggak puas bacanya…..
    Ok thor next chapter nya lebih panjang ya thor, ditunggu kelanjutannya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s