Exoplanet Games (Chapter 1)

Members of EXO (K and M) are not mine, but Gods and themselves

EXOPLANET GAMES by Eka Kuchiki

Inspiration from movie and novel ‘The Hunger Games’ by Suzanne Collins

Genre: Fantasy, Adventure, Little Sci-fiction, Friendship, Family, Game, Thriller.

Rating: PG 13+

Warning: OOC, OC (hanya sebagai pendukung), alur loncat-loncat, (mungkin) death character, Alternate Universe (sekitar tahun 2066).

Notes: Alur fic ini loncat 5 tahun pada alur prolog.

[Chapter 1: Tributes]

.

.

.

.

.

Matahari sepenggalah naik pertanda waktu tengah hari menyapa. Orang-orang pun berupaya melindungi wajah mereka dari sengatan matahari dengan topi-topi lebar, telapak tangan melindungi mata agar tidak silau, bersandar di pohon rindang, atau pun berlindung di dalam rumah.

—kecuali untuk satu pemuda berkulit putih susu itu. 

Seorang pemuda bersurai coklat berlari-lari kecil melintasi pinggiran kota di tengah sengatan matahari yang menggigit kulit wajahnya. Beberapa pasang mata hanya melihatnya sekilas, kemudian mereka kembali fokus pada aktivitas masing-masing.  Pemuda itu terus berlari kecil, tak peduli dengan orang-orang yang memandangnya aneh.

—yang tidak ia ketahui, orang-orang menatapnya aneh karena di cuaca yang panas ini hanya dia yang mengenakan jaket hoodie berbahan tebal.

Pemuda itu meneruskan lari-lari kecilnya hingga kakinya kini menyusuri jalan ke sebuah hutan lindung Seoul yang terlarang untuk dimasuki oleh orang-orang kalangan bawah. Tetapi bagi dirinya, tidak ada jalan penghambat selama masih ada jalan tikus yang terbebas dari belitan kabel listrik di jalan akses utama hutan lindung Seoul.

Langkah kakinya makin dipercepat, dan ia melirik jam tangannya. Jam setengah satu. Terlambat sejam dari janji awalnya dengan sahabatnya.

—sebuah janji untuk melatih ‘kekuatan’ mereka.

.

.

.

Sepuluh menit telapak kaki berbalut sepatu itu berlari menelusuri tengah hutan. Tak peduli dengan keringat bercucuran di dahi, dan tak peduli  dengan sinar matahari ganas yang masih bisa menelusup di sela-sela payung rimbun pepohonan dan memanaskan jaketnya. Ia hanya peduli pada satu orang.

—dan orang itu tepat berada dihadapannya. 

“Cepat sekali kau sampai, Oh Sehoon,” sindir pemuda berkulit kecoklatan itu. Sindiran itu terus berlanjut tanpa menunggu si terdakwa menyelesaikan pengaturan napasnya yang terengah-engah. “untung saja aku tidak lumutan menunggu di sini!”

Pemuda bersurai coklat itu hanya memasang cengiran sekilas saat orang yang memanggil nama lengkapnya itu berkata dengan nada sinis. Cengirannya semakin lebar, kontras dengan ekspresi wajah orang yang menyambut kedatangannya. Malahan pemuda itu menutup mulutnya demi menahan tawanya yang akan meledak, lupa dengan dirinya yang baru saja kelelahan setelah berlari ke tengah hutan selama sepuluh menit.

“Kim Jongin, wajahmu kocak sekali!”

Kim Jongin berkacak pinggang. Ekspresi Jongin yang ingin menelannya bulat-bulat membuat cengiran Sehun kini berganti dengan raut wajah sedikit serius. Tanda ‘peace’ dengan kedua jari membentuk huruf ‘V’ juga tak lupa disertakan.

Mianhae, tadi aku harus membantu Umma membereskan toko, mianhae karena latihan kita jadi molor satu jam… ” kata Sehun lengkap dengan tampang memelasnya.

Raut wajah Jongin melunak melihat ekspresi sahabatnya tersebut. Menjadi seorang sahabat bagi Oh Sehoon selama lima tahun membuatnya tahu persis seperti apa kehidupan Sehun dan ibunya sepeninggalan tulang punggung mereka.

—ditambah lagi dengan kepergian figur seorang kakak yang seharusnya menjadi pengganti tulang punggung mereka.

Jongin memamerkan cengirannya ketika melihat Sehun melepaskan jaketnya hingga terlihat lengan dan leher putih mulusnya yang berkeringat. Pemuda berkulit putih itu dengan santainya mengibaskan angin kecil di bagian leher dan wajahnya untuk menghilangkan rasa gerah.

“Trik angin apa yang ingin kau tunjukkan padaku?” tanya Jongin.

“Trik ini,” Tangan Sehun mengibaskan sedikit angin pada poni rambut Jongin—untuk menarik perhatian si empunya poni.  Baru saja Jongin ingin melayangkan protes, tangannya ditarik oleh Sehun yang berlari ke arah belakang. Beberapa detik kemudian, angin puting beliung menubruk pohon itu, dan—

‘KRAK!’

‘BUM!’

Lalu terdengar suara berdebum yang nyaris memecah gendang telinga dan hampir membuat jantung Kim Jongin turun ke mata kaki. Bagaimana seseorang tidak terkejut apabila ada sebuah pohon besar baru saja roboh di depan matanya?

Mata kelam Jongin melirik ragu-ragu pada pemuda sebaya di sampingnya. Oh, tidak mungkin! Waktu yang mustahil untuk merobohkan sebuah pohon hanya dalam hitungan detik. Kecuali—

“… kecuali kalau kau tahu pohon itu memang pohon tua yang sudah mulai keropos akarnya ….”

Jongin terdiam sejenak. Setelah menangkap maksud dari Sehun, ia menggeplak kepala sahabatnya yang terpaut usia tiga bulan dengannya itu. Tentu saja hal itu membuat si pemilik kepala mengerang kesakitan dan memajukan bibirnya.

Ya! Umma juga membutuhkan kayu bakar! Bahan bakar fosil dan gas sedang melambung harganya!” protes Sehun sambil mengusap kepalanya.

“Oke, lupakan,” Jongin mengibaskan tangannya—ancang-ancang untuk mengalihkan pembicaraan. Seringai tersungging menghiasi wajah pemuda berkulit coklat itu. “Sekarang giliranku, Oh Sehoon.”

Merasa ada aura pamer kekuatan, Sehun tersenyum sinis sembari memasang indra penglihatannya semaksimal mungkin.  Ia sudah mengetahui bahwa Jongin adalah seorang teleporter.

—dan teleporter itu tidak ada bedanya dengan hantu.

Jongin menghilang dari pandangan Sehun. Tanpa diberi aba-aba, Sehun pun mengandalkan kemampuannya menebak. Pandangannya dimulai dari sisi kiri.

Tidak ada Jongin di depan matanya.

Sehun berdecih sebal. Pandangannya dilemparkan ke sisi kanan. Ia seperti merasakan kehadiran Jongin karena angin sedikit kencang menerpa pipi kanannya.

Tapi lagi-lagi nihil pencariannya.

Sehun mengumpat dalam hati, kemudian mengepalkan tangannya—bertekad untuk kesempatan kedua ini ia harus berhasil.  Baru saja ia menoleh ke depan—

“Kena kau!”

Tepat di depan matanya, Jong In mendorong kening Sehun dengan kedua jarinya, membuat si pemilik kening membelalakkan matanya. Tawa terbahak-bahak pun keluar dari mulut Jongin serempak dengan umpatan dari mulut Sehun. Sayangnya umpatan itu tidak mempan untuknya karena umpatan itu tidak pernah sinkron dengan pipi putih pualam Sehun yang bersemu merah bak buah ceri.

Tapi Jongin bisa bernapas lega karena sesi mengumpat dari Sehun hanya berlangsung semenit. Waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk melatih kekuatan mereka hingga matahari tenggelam di ufuk Barat.

.

.

.

.

.

Malam ketiga sebelum hari pembukaan Exoplanet Games membuat seorang pemuda tidak nyenyak dalam tidurnya. Bukan karena insomnia yang mendera, tetapi ada sebentuk alam mimpinya yang begitu aneh namun terasa nyata.

—dan malam ini adalah malam ketiga kalinya ia bermimpi sama.

(Ia berada di sebuah ruangan. Begitu modern, dengan dinding terbuat dari metal, berwarna metalik, dan penerangan dibuat tidak terlalu menyilaukan mata. Ruangan serba metal itu terasa dingin, padahal ia tidak menemukan satu pun alat pendingin ruangan menempel manis di bagian atas dinding  metal itu.

Ia meraba tubuhnya yang kini terbalut pakaian ketat yang tahan api tetapi begitu elastis dan fleksibel. Tangannya juga dilapisi oleh sarung tangan karet yang tipis, namun kuat melindungi indra perabanya itu.

Ia melihat sesosok pemuda berambut coklat pirang yang berdiri bersandar di dinding dengan berbalut pakaian yang sama dengan miliknya. Pemilik wajah yang imut sekaligus tampan itu merupakan sosok yang dirindukannya setiap waktu. Ia selalu membayangkan pemuda itu di setiap kesempatan. Sosok yang selalu memberinya kehangatan selain kehangatan dari seorang ibu.

Pemuda itu menyunggingkan senyum lembut ke arahnya. Hanya seukir senyum, namun membuat batinnya tenang. Pemuda itu jelas  mengenalinya. Lima tahun terpisah belasan ribu kilometer dan hanya melepas rasa rindu dengan suara di telepon selular dan sesekali chatting di jejaring sosial—karena keterbatasan dana dan waktu untuk saling bertemu secara jasmani—membuatnya semakin yakin bahwa pemuda itulah yang dicarinya.

Tanpa ia sadari, bibirnya bergerak pelan memanggil pemuda itu,

“Luhan-hyung ….”)

.

.

.

Mimpi itu terulang lagi. Sehun terbangun dengan mata yang membuka secara refleks untuk yang ketiga kalinya. Ia terbangun dengan napas terengah-engah, keringat dingin berleleran di dahi, dan otaknya hanya mengingat satu nama.

—nama di dalam mimpi itu ia ucapkan sekali lagi beserta dengan ganjalan pertanyaan di dalam hatinya.  

“Luhan-hyung,”

‘Apakah kau akan mengikuti permainan itu?’

.

.

.

.

.

Hari itu telah datang. Aula gedung pemerintahan distrik Seoul kali ini tampak berbeda. Aula yang biasanya hanya berfungsi sebagai tanah lapang berumput sepi kegiatan di atasnya, kini bertransformasi menjadi ramai dan sesak oleh kumpulan pemuda berusia rata-rata 18-22 tahun. Mereka bersiap untuk menjadi saksi sejarah, mencoba keberuntungan siapa di antara mereka yang akan menjadi pemimpin perang di masa depan.

“Selamat datang di Exoplanet Games!”

Sambutan hangat itu keluar dari mulut seorang wanita yang bertugas sebagai MC dari Exoplanet Games. Sorakan dari para calon tributes turut membuka reality show Cina-Korea Selatan yang disponsori oleh pemerintah itu.

“Kalian semua yang berada di sini akan menjadi perwakilan distrik Seoul untuk menjadi calon pemimpin perang masa depan!”

Sementara Sehun dan Jongin yang baru saja datang langsung memasuki barisan usia 18 tahun. Saat memasuki barisan, Sehun mengomel  panjang lebar karena Jongin bangun kesiangan dan membuat mereka berdua datang terlambat. Beruntung bagi pemuda berkulit agak gelap itu karena suara omelan Sehun kalah telak dengan suara gegap gempita para calon tributes.

.

.

.

Tangan MC mengaduk-aduk akuarium yang berisi ratusan gulung kertas berisikan nama tributes. Jari lentik itu mengambil sebuah gulungan kertas dan menunjukkan ke semua calon tributes.

“Ini dia kertas yang berisikan nama tributes pertama! Siapakah namja beruntung itu?”

Gulungan kertas itu pun dibuka dan menampilkan sebuah nama ….

“Kim Jongin!”

Jongin tersenyum tipis. Tangannya yang menggenggam erat sehun dilepaskan. Ia berjalan ke depan dengan tenang.

“Oh! ternyata tribute pertama kita dari golongan 18 tahun!” seru MC wanita itu saat melihat Jongin melangkah maju keluar dari barisannya. Setelah Jongin berdiri di sampingnya, tangan wanita itu kembali mengaduk-aduk isi akuarium sebelum mengambil gulungan kertas dari akuarium.

Kini kertas kedua mulai diambil dengan gerakan tangan perlahan. Dan—

“TUNGGU!”

Teriakan itu menginterupsi tangan wanita itu untuk mengambil kertas undian. Oh Sehoon maju ke depan barisan. Kini ia menjadi pusat perhatian para pemuda yang memasang tatapan, ‘Mau apa dia?’ dan berbagai dugaan miring lainnya mengenai diri seorang Oh Sehoon.

“Aku siap untuk menjadi tribute!”

Seruan ‘Aigo!’ bergaung di lapangan saat Se Hun meneriakkan kalimat itu. Sang MC wanita dan Jongin menatap Sehun dengan mulut menganga dan mata membelalak. Selama tiga puluh tahun pihak pemerintah menyelenggarakan reality show Exoplanet Games di distrik Seoul, baru kali ini ada peserta yang mengajukan—lebih tepatnya mengorbankan—diri menjadi tribute.

Bahkan Jongin masih membelalakkan matanya tak percaya sampai Sehun menaiki anak tangga panggung. Sehun hanya melempar senyum kepadanya dan memilih untuk berdiri di sampingnya, mengisi celah kosong antara Jongin dengan MC itu.

“Baru kali ini ada seorang pemuda yang berani mengajukan dirinya untuk bermain! Luar biasa!”  MC wanita itu menyambutnya dengan tepuk tangan. Dengan reaksi yang sangat antusias, tangan wanita usia kepala tiga itu menarik tangan Sehun dan menyodorkan mic kurang lebih lima senti dari mulut pemuda itu. “Siapa namamu, Tampan?”

“Oh Sehoon.” jawab Se Hun singkat dan datar. Nada bicaranya tidak sedikit pun menyiratkan rasa ketakutan.

“Apa alasanmu mengajukan diri, Se Hun-ssi?”

“Aku yakin bahwa aku siap untuk menjadi tribute.” jawabnya mantap.

MC wanita itu pun tersenyum senang mendengar jawaban Sehun. “Baiklah! Sudah diputuskan!”

Tributes dari distrik Seoul adalah Kim Jong In dan Oh Sehoon!”

.

.

.

.

.

“Apa tujuanmu mengikuti Exoplanet Games, Sehun-ah?”

Sehun menoleh ke samping. Obsidian itu menatap pemuda berkulit coklat yang tengah menatapnya tajam.

“Aku … hanya ingin ikut, kok! Memangnya tidak bo—“

“Jangan bohong. Jawab yang jujur.”

Jongin tahu betul siapa itu Sehun, baik secara fisik maupun tingkah laku dan pola berpikirnya. Walaupun sedikit ceroboh, Sehun masih waras untuk tidak merelakan dirinya sebagai tributes untuk bermain di Exoplanet Games—nama permainan  maut itu—tanpa alasan yang jelas.

“Aku ingin bertemu dengannya.” jawab Sehun lemah.

“Maksudmu Luhan-hyung?” tebak Jongin yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Sehun. Jongin menghela napas. Dugaannya tepat sasaran.

Mianhae, aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu. Tapi—“

“… bagaimana kalau ternyata dia tidak ikut dalam permainan itu?”

Sehun terdiam. Jujur saja, ia tidak berpikir sampai ke sana—hanya bermodalkan insting lewat mimpi. satu nama terlintas di otaknya dan lamat-lamat ia menjawab,

“Tidak masalah,” Mata jernih Sehun menatap lurus mata teduh Jongin. “Asalkan aku bisa bersama dengan orang yang aku sayangi, aku akan tetap mengikuti permainan itu.”

Ekspresi wajah Jongin kini seperti terharu kepadanya. Sehun menyunggingkan senyumnya—yang lebih menyerupai cengiran. Tidak disangka, ternyata Kim Jongin yang terlihat dingin dari luar bisa bersimpati ju—

Aigo! Ternyata Tuan Cengeng sepertimu berani menantang maut juga!”

—ga?

Antiklimaks. Sehun meninju perut Jongin, disusul dengan erangan kesakitan yang keluar dari mulut Jongin.

.

.

.

.

.

Para calon tributes distrik Incheon ditelan ketegangan.

Nada detak jantung yang terus berbunyi kurang dari seperdetik dirasakan oleh seluruh calon tributes yang tegang menanti siapakah yang akan dipanggil untuk berdiri di atas panggung.

Chanyeol merasakan dingin di punggung tangan saat tangannya digenggam tangan Baekhyun yang basah karena keringat. Wajah mereka berdua digerayangi kecemasan. Tepat saat MC membuka kertas dan membacakan nama yang tertera di kertas tersebut.

“… Tributes pertama dari distrik Incheon adalah ….”

“… Park Chanyeol!”

Pemuda bertubuh tinggi itu mempererat genggaman tangannya di tangan sahabatnya ketika namanya disebut. Ia mendekatkan bibirnya di dekat telinga pemuda yang  tangannya tengah digenggam erat olehnya, dan berbisik,

“Aku ke depan dulu, Baekie. Aku tunggu kau di atas panggung itu.”

Baekhyun hanya mengangguk pelan. Dengan berat hati, Chanyeol melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke depan untuk berdiri di atas panggung. Saat Chanyeol pergi meninggalkannya, ia teringat satu hal.

Chanyeol pernah mengatakan bahwa seorang pemuda bisa mengajukan diri menjadi tributes tanpa harus menunggu secarik kertas undian diambil oleh MC. Tapi sayang, ia gagal mendapatkannya karena kesempatan itu sudah direbut oleh distrik Seoul—MC baru saja memberitahukan kepada semua calon tributes setelah Chanyeol meninggalkannya.

—sial sekali dirinya. Mengapa satu negara hanya diberi satu kesempatan? Mengapa bukan untuk satu distrik?

Setelah mengeluarkan ekspresi frustasi dengan mengacak surai coklatnya, Baekhyun akhirnya memilih untuk larut dengan perdebatan pikirannya sendiri, sampai-sampai ia tidak melihat kertas kedua diambil oleh jari-jari lentik milik sang MC.

“Ini dia kertas kedua! Siapakah yang akan menemani Chanyeol-ssi untuk menjadi perwakilan distrik Incheon?”

Baekhyun memejamkan matanya, dan kedua tangannya disatukan membentuk kepalan di dada. Mulutnya komat-kamit, mencoba bernegosiasi dengan Tuhan.

‘Tuhan, semoga aku yang terpilih menjadi tribute bersama dengan Chanyeol. Kumohon, Tuhan. Jangan pisahkan aku dengan—

“… Byun Baekhyun!”

—nya. Amin.’

Baekhyun membuka matanya dan mendapati sebagian besar pandangan pemuda tertuju padanya. Dialah pusat perhatian sekarang—termasuk pusat perhatian MC dan Chanyeol di depan panggung. Wajahnya digelayuti kebingungan karena hampir semua mata tertuju padanya. Bahkan saat MC mengulangi panggilannya.

“Adakah tuan Byun Baekhyun di sini?”

Seseorang  berinisiatif mendorong Baekhyun hingga keluar dari barisan dengan posisi hampir terjengkang ke depan. Setelah menstabilkan pijakannya, ia mengedarkan pandangannya dengan ekspresi  wajah yang masih dipenuhi rasa tidak percaya. Beberapa provokator di kanan, kiri, depan, dan belakangnya meneriakkan namanya saat ia melangkahkan kakinya maju ke depan dengan mantap. Senyum kemenangan pun tersungging manis di wajah perpaduan tampan dan imut itu. Dalam hati, ia berbisik,

‘Akhirnya kita bersama lagi, Chanyeol-ah ….’

.

.

.

.

.

“… Kim Joonmyun!”

Joonmyun mengangkat kepalanya ketika namanya disebut. Ada berbagai ekspresi yang terlihat di pandangannya. Banyak wajah iri dari pihak yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, Banyak pula wajah sinis dan mulut nyinyir menyindir dari orang antihomo. Di antara kedua ekspresi tersebut, terselip beberapa wajah sendu dari teman-temannya yang masih memiliki hati untuk berempati padanya.

—dan Do Kyungsoo termasuk dalam golongan orang terakhir.

Joonmyun melangkah ke depan dengan tenang. Saat ia melewati barisan di samping kirinya, terdengar beberapa suara sumbang yang mulai mengusiknya.

“Cih! Untuk apa ia dipilih?”

“Paling nasibnya sama seperti kakaknya!”

“Ha! Apa maho seperti dia bisa bertahan di permainan itu?”

Joonmyun menulikan telinganya saat ia berjalan menuju panggung. Ia sudah kebal dengan semua hinaan dari teman-teman seasramanya yang mayoritas pembenci homoseksual. Tapi mungkin karena mereka iri dengannya yang memiliki wajah di atas rata-rata. Mungkin mereka iri dengan potensi suaranya yang bisa disejajarkan dengan penyanyi papan atas. Atau mungkin—

—mereka iri karena ia begitu dekat dengan Kyungsoo layaknya seorang adik kakak?

Ketika MC pria itu melihat sosok Joon Myun yang semakin mendekat ke atas panggung, dahinya sempat berkerut melihat garis wajah tampan tribute yang baru saja dipanggilnya itu. Sampai sosok itu mendekat, ia mengangguk sekali setelah menatap fokus wajah Joonmyun—dan membuat pemuda tampan itu menaikkan alisnya.

“Wajahmu mengingatkanku pada seorang tribute yang juga mewakili distrik ini,” kata MC itu setelah melihat wajah Joonmyun dari jarak dekat. Tak lupa mic disorongkan ke arah mulut Joonmyun setelah ia bertanya,

“Apa kau punya kakak laki-laki yang pernah mengikuti Exoplanet Games?

Joonmyun mengangguk. “Ya. Kakak laki-laki saya pernah mengikuti permainan ini dua tahun yang lalu, dan—” Mata Joonmyun sedikit berkabut. Namun senyum yang disunggingkan secara paksa berhasil menahan kabut di matanya untuk tidak berevaporasi menjadi banjir dan meluap mengaliri pipi.

“… dia meninggal di hari ke-dua puluh dengan tempurung kepala hancur. ”

MC itu terhenyak mendengar jawaban Joonmyun. Begitu juga dengan sebagian calon tributes yang belum mengenal Joonmyun. Pria umur kepala tiga itu itu buru-buru membungkuk sembilan puluh derajat—sebagai gestur meminta maaf—di hadapan Joonmyun.

Mianhae, saya tidak tahu kalau kakak anda sudah meninggal ….”

Gwaenchana.” Joon Myun menyunggingkan senyum maklum.

Setelah  keadaan mulai terkontrol, tangan MC mulai mengubek-ubek isi akuarium kaca dan mengambil selinting kertas yang berisikan nama tribute kedua yang akan dipanggilnya.

“Oke, kita lanjutkan pencarian tribute kedua! Siapa yang beruntung?”

“Dan tribute yang akan menemani  Kim Joonmyun adalah ….”

“… Selamat untuk Do Kyungsoo!”

Kyungsoo membelalakkan matanya saat namanya digaungkan oleh sound system. Mata bulatnya kali ini tidak terfokus pada tatapan-tatapan sinis dari beberapa teman-teman seasramanya, tetapi tepat mengarah pada satu sosok di atas panggung. Ia tahu, pemuda bersurai hitam di atas panggung itu sudah tidak sabar menanti dirinya untuk berdiri mendampinginya.

Joonmyun pun menyambutnya dengan senyuman saat langkah Kyungsoo mengambil posisi di sampingnya. Kyungsoo pun menyunggingkan senyum manisnya sebagai balasannya. MC  wanita itu kembali fokus pada kumpulan tributes di bawah panggung untuk mengumumkan kembali nama kedua tributes yang akan mewakili distrik.  Ia seperti tidak peduli apa yang dilakukan oleh kedua tributes di sampingnya yang memancing bisik-bisik sinis dan hujatan ‘menjijikkan’ dari sebagian pemuda di bawah panggung.

—karena kedua tangan mereka saling bertautan, sangat erat mengikat hingga sulit untuk dipisahkan.

.

.

.

.

.

Jongdae merasa jantungnya berdebar sangat cepat. Padahal bukan namanya yang dipanggil oleh MC tadi. Seorang pemuda—kalau Jongdae tidak salah dengar namanya Kim Minseok—berwajah imut dan berpipi tembam bak bakpau itu maju ke depan untuk dinobatkan sebagai tribute. Salahkan suara-suara bising di sekelilingnya yang berkoar-koar karena nama tribute yang disebutkan berasal dari Korea Selatan.

—oh, jantung ini … mengapa terus-terusan berdebar kencang?

Iris coklat gelap Jongdae memilih untukmelempar pandangan mengawang ke arah langit biru lengkap dengan gumpalan kapas bernama awan. Tingkah laku mengalihkan kegugupan itu tidak berlangsung lama karena pandangannya kembali fokus pada MC yang sudah mengambil gulungan kertas kedua.

“Dan tribute kedua untuk distrik Guanzhong adalah ….”

Jongdae memejamkan mata, bersamaan dengan dibukanya gulungan kertas oleh MC. Nama tribute itu ….

“… Kim Jongdae!”

 “DARI KOREA LAGI?”

Reaksi kaget lewat decak tak percaya keluar dari bibir sebagian para pemuda calon tributes. Baru kali ini ada dua tributes Cina yang berasal dari Korea Selatan.

Jantung Jong Dae serasa melorot ke mata kaki ketika namanya disebut. Langkah kakinya untuk maju berat, dan merasakan nyalinya menciut ketika telinganya dicekoki oleh protes dari sisi kanan kirinya. Namun suatu keberanian membuat kakinya terus melangkah maju dan menulikan telinganya dari protes dan cemooh dari para calon tributes asli Cina yang sudah menantikan nama merekalah yang akan dipanggil.

MC itu menepuk keningnya, karena ia terlambat menyadari kejanggalan pada kedua tributes yang dipanggilnya. “Oh! Ternyata kedua tributes ini sama-sama dari Korea Selatan!” seru MC itu. Ia menyebar senyumnya ke arah kedua tributes di sampingnya dan menyapa mereka berdua,  “Annyeong!”

Berebeda dengan ekspresi MC yang tetap netral, sebagian dari calon tributes melayangkan protes lebih keras. Jongdae menoleh dan melihat wajah partnernya, Kim Minseok, pucat pasi. Tidak berbeda jauh dengan dirinya yang berkeringat dingin.

 “Harusnya mereka dianulir saja! Untuk apa orang Korea mewakili distrik dari Cina!”

“Iya, betul! Mereka kan sudah punya haknya sendiri di negaranya sendiri!”

Tapi diantara sebagian besar protes yang dikoarkan, ada beberapa diantara mereka yang cuek bebek dengan kedua tributes Guanzhong yang baru saja terpilih. Bahkan ada yang menghela napas lega.

“Ah, tidak apa-apa. Setidaknya aku masih diberi nyawa panjang.”

“Masa bodo dengan kedua tributes itu. Tidak ada pengaruhnya bagiku.”

MC pria bermata sipit itu hanya tersenyum. Berbanding terbalik dengan ekspresi harap-harap cemas kedua tributes asal Korea di sampingnya.  Seakan mengerti kekhawatiran mereka akan dianulir dari permainan, MC itu langsung mengedarkan pandangannya ke arah pemuda-pemuda di bawah panggung.

“Pihak penyelenggara Exoplanet Games tidak mengeluarkan peraturan bahwa tributes dari distrik Cina harus orang Cina asli, begitu juga dengan Korea Selatan. Jadi tidak masalah jika tributes ternyata merupakan orang Korea Selatan asalkan ia harus tinggal di Cina minimal selama tiga tahun.”

Raut wajah kecewa terlihat jelas dari kalangan kontra. Mau tidak mau mereka harus menelan kenyataan bahwa wakil dari distrik Guanzhong berasal dari Korea Selatan.

Tributes dari distrik Guanzhong adalah Kim Minseok dan Kim Jongdae!”

.

.

.

.

.

Sepulang dari seleksi tributes Exoplanet Games, Luhan sudah tak sabar ingin mengajak Yi Xing ke sebuah pusat perbelanjaan. Rencananya, ia ingin merayakan terpilihnya dirinya dan Yi Xing sebagai tributes perwakilan dari distrik Haidian. Luhan menarik tangan Yi Xing dengan semangat, sementara si pemilik tangan berusaha melepaskan tangannya dari tarikan maut Luhan.

“Luhan-ge, kita kan sudah janji ke Baba kalau kita akan membantunya.” tolak Yi Xing halus.

“Sebentar saja kok kita di sana ….” Luhan tetap berusaha menarik tangan Yi Xing, bersikeras untuk tidak mengalah. “Kita kan bisa telepon Baba kalau kita pergi ke Xia Departement Store dan akan pulang secepatnya.”

“Tidak bisa, Ge. Kita sudah janji dengan Baba.”

“Tapi kan—“

“Bagaimana kalau kita pergi setelah selesai membantu Baba?” potong Yi Xing cepat. Luhan hanya bisa meresponnya dengan bibir mengerucut sebal dan membiarkan Yi Xing menarik tangannya pulang ke rumah.

.

.

.

“Luhan-ge.” panggil Yi Xing.

“Ada apa, Yi Xing?” tanya Luhan balik. Tangannya yang dipenuhi buih sabun mulai menggosok permukaan piring-piring berlemak dengan spons. Apes untuk mereka berdua. Mesin pencuci piring sedang rusak, jadi Luhan dan Yi Xing harus bersabar mencuci manual enam puluh piring makan. Belum termasuk dengan gelas-gelas, sumpit, sendok dan garpu, beserta dengan panci, teflon, dan kawan-kawan.

“Emm … sebenarnya aku ingin menanyakanmu setelah kita berdua terpilih menjadi tributes ….” Yi Xing mengusap tengkuknya sendiri.  Sementara Luhan seperti acuh tak acuh dengan Yi Xing dan memilih fokus pada wajan yang dicucinya.

“Sebenarnya kemampuanmu apa? Kenapa aku tidak pernah melihat kemampuanmu?”

“Akan aku tunjukkan,” jawab Luhan (masih) tidak menoleh ke arah Yi Xing. “tapi bukan sekarang.”

Yi Xing mengerti. Sekarang Luhan sedang tidak bisa diganggu gugat jika ditilik dari nada bicaranya yang datar. Ah, Yi Xing jadi merasa sedikit bersalah karena telah menolak ajakan Luhan saat mereka baru saja keluar dari aula pusat pemerintahan distrik Haidian.

Yi Xing mengaduh kecil. Tiba-tiba saja ia merasakan debu menelusup di matanya. Ia sempat berkedip sekali, menangkis rasa pedih di mata dengan mengucek-kucek matanya.  Setelah rasa pedihnya mereda, iris mata coklatnya perlahan membuka dan mulai mengedarkan pandangan di depan batang hidungnya.

—tunggu sebentar.

Apakah matanya sedang memantulkan imajinasi? Ataukah—

Gelas-gelas bersih itu benar-benar melayang?

“Apa kau baru saja melihat kekuatanku, Yi Xing?”

Yi Xing terperanjat, matanya kini membulat sempurna. Berbanding terbalik dengan Luhan yang sedang tersenyum jenaka. Tangan kanannya—yang terbebas dari busa—terangkat di udara dan jemarinya mengarah pada gelas-gelas yang melayang itu. Seperti mematuhi titah tangan Luhan, gelas-gelas itu terbang dan mendarat mulus di atas rak gelas.

Berarti si penggerak gelas-gelas tadi—

Gege! Ternyata kau itu—“

“… seorang telekinesis!”

.

.

.

.

.

“Yi Fan-ge.”

Suara bas lembut itu berhasil membuat sosok tinggi yang duduk tenang di sofa itu mengalihkan perhatian dari buku yang dibacanya ke arah pemilik suara tadi. Buku ditutup rapat, kemudian  iris mata hitam itu kini mengarah pada sosok pemuda yang berdiri tepat dibelakangnya.

“Ada apa, Zi Tao?”

“Bisakah kau membantuku?”

Iris mata hitam Wu Yi Fan mengarah pada sosok Huang Zi Tao, adik angkatnya. Tao berdiri di belakang dengan tangan merenggut kepala sofa dan bibir bawah yang digigit pertanda gelisah. Helaan napas yang keluar dari mulut pemuda bersurai hitam itu semakin meyakinkan Yi Fan bahwa adiknya kini sedang memiliki masalah.

“Kau tahu kan kalau tributes harus memiliki satu kekuatan?”

“Tentu saja,” jawab Yi Fan dengan alis naik sebelah. “Memangnya kau punya kekuatan apa?”

Tao menggelengkan kepala. “Justru itu, aku tidak tahu kekuatanku itu apa.”

“Bicara apa sih kamu,” Yi Fan terkekeh mendengar pernyataan Tao, sementara tangannya menepuk pundak adiknya pelan. “Kau kan jago martial arts!”

“Bukan itu maksudku, Ge!” bantah Tao kesal. Kakak angkatnya memang selalu berpura-pura bodoh di waktu yang tidak tepat. “maksudku kekuatan supranatural!”

Kerutan di dahi Yi Fan bertambah. “Memangnya harus punya ya?”

“Tapi kau punya, Ge! Kau bisa terbang—“

Terlambat. Tao buru-buru menutup mulut embernya, namun sia-sia karena sang kakak sudah terlebih dulu memasang wajah terkejut akibat pernyataannya.  Kini Yi Fan langsung menatapnya penuh selidik. Pemuda bersurai hitam itu akhirnya menundukkan kepalanya sedikit, menghindari tatapan menginterogasi dari kakaknya.

“Darimana kau tahu kalau aku bisa terbang, Zi Tao?” tanya Yi Fan tajam, setara tajamnya dengan tatapannya kepada pemuda yang lebih muda tiga tahun darinya.

“A-aku pernah melihat kaki Gege tidak menapak tanah saat di kamar Gege ….” jawab Tao lirih. Tatapannya masih melirik takut-takut ke arah lantai metal berlapis warna putih. Ia sudah pasrah jika Yi Fan akan marah, mungkin juga mendiamkannya, atau—

Mei guan xi*,” Yi Fan menepuk pundak Tao pelan. Nada bicaranya pun berubah menjadi santai. “Lain kali aku harus lebih waspada agar tidak ketahuan lagi olehmu.”

“Dasar Fan-ge aneh!” cibir Tao sambil memajukan bibirnya, membuat Yi Fan tak bisa menyembunyikan tawanya saat melihat ekspresi lucu adik angkatnya.

Beberapa detik kemudian, Yi Fan

“Kau tidak perlu mencari tahu kekuatanmu. Dia akan muncul di saat waktu kau membutuhkannya.”

Untuk kali ini, Tao tidak tahu harus memberi respon selain mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih kepada kakak angkatnya. Padahal isi hatinya masih ingin mengetahui kekuatan kakaknya dan mengapa dirinya yang juga terpilih sebagai tribute Exoplanet Games bersama sang kakak tidak memiliki kekuatan supranatural.

‘Yah, semoga saja Fan-gege benar.’

—dengan mantra penenang itu, Tao menelan bulat-bulat rasa penasarannya.

.

.

.

.

.

 

.

.

[To Be Continued]

.

.

Glossary:

Baba: Ayah (bahasa mandarin) dibacanya ‘Papa’ ya…

Mei guan xi: Tidak apa-apa (bahasa mandarin). Balesan untuk ‘Tui bu jie’ (saya minta maaf)

.

.

Eka’s Note:

Mohon maaf saya baru mengupdate fanfic ini sekarang karena saya baru tahu ternyata fanfic saya dimuat di exofanfiction~ TT_TT  (Jujur, saya tidak mendapat konfirmasi dari wordpress.com kalau fanfic saya dimuat~ TT_TT) Mianhae bagi yang sudah menunggu kelanjutan fanfic ini terlalu lama (dari mulai tanggal 2 Oktober~). Sebenarnya saya sudah membuat kelanjutan fanfic ini sampai chapter 4 di Archiveofourown: http://archiveofourown.org/works/422906/chapters/705903

Dan di asianfanfics : http://www.asianfanfics.com/story/view/207955/exoplanet-games-fantasy-indonesian

Saya selalu mengupdate fanfic di kedua tempat itu. Kalau penasaran, silakan dilihat chapter 3 dan 4 di website tersebut… (:

Kamsahamnida bagi admin yang sudah memuat fanfic ini dan kalian semua yang sudah membaca dan memberikan komen untuk fanfic ini~ Saya cinta kalian semuaaa~ (big hug)

Akhir kata, komen?

12 pemikiran pada “Exoplanet Games (Chapter 1)

  1. keren thor aku bc next ny d blog kamu yah kkk~ kaya film catching fire masa distrik” gtu — ntar kan klo di film itu jd sekutu” gtu yak~~ smlm br nonton soalnya wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s