In Paris

Author: Viiausa

Twitter: @veey

Cast: Xi Luhan (EXO-M) and a girl

Genre: Romance

Lenght: Oneshoot, Ficlet, Fluff

 poster1-luhan

__________________________

Paris. Kota yang dikata ‘indah’ itu ada di depanku. Tepatnya, memang aku ada di Paris, memandang ikon kota ini. Gerbang yang bagai memberi ucapan selamat datang bagi siapapun di ujung jalan. Aku takjub. Sangat. Dari jarak yang cukup jauh, kuambil potretnya. Hasilnya lumayan. Sedetik kemudian, perutku terasa melilit. Ketika melihat jam, aku baru sadar bahwa saat ini waktunya makan siang. Kuedarkan pandanganku mencari penjual makanan. Ah, ada coffeeshop di seberang jalan. Segera saja kakiku mengayun santai menuju kedai di pinggir jalan itu. Di sana ada banyak turis sepertiku, sedang berbincang sambil sesekali menyesap kopi dan melahap kue-kue mungil yang terlihat enak.

Aku mengambil kursi yang kosong. Coffeeshop ini berada di pinggir jalan—trotoar, bisa dibilang begitu—dengan payung besar yang menaungi setiap beberapa tempat duduk. Tempat yang kududuki cukup strategis untuk mengambil gambar. Aku bisa melihat bangunan-bangunan lama yang masih tetap berdiri kokoh, orang-orang yang berlalu lalang, hingga anak-anak muda sedang memadu kasih. Iri? Tidak. Walau seharusnya di umurku yang cukup dewasa ini aku seharusnya sudah punya pacar, aku tidak ingin terburu-buru. Jujur saja, aku ingin memuaskan diriku berkeliling dan melihat tempat-tempat menakjubkan sebelum akhirnya harus berhubungan dengan seorang gadis.

“Ini pesanan Anda.” Aku menoleh. Pelayan datang membawa croissant dan secangkir espresso—pesananku. Kuberi senyum untuk berterima kasih, dan pelayan itu pergi.

Perlahan, kuminum espresso-ku, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Aku baru ingat kalau aku membawa i-pod di dalam tas kecilku. Segera  saja kupasang headset di telinga dan memutar sebuah lagu klasik. Lagu klasik selalu bisa menangkanku, membuat pikiranku rileks. Aku suka. Sangat.

Kembali melihat keadaan sekitar. Para pejalan kaki terlihat sibuk. Aku bertanya-tanya mengapa mereka terlihat sibuk padahal hari ini adalah hari libur. Terlebih cuaca cerah benar-benar mendukung untuk relaksasi. Entah mendengarkan musik, membaca buku, atau mengikuti kursus memasak.

Pandanganku terpaku pada seorang gadis berambut coklat ikal yang sedang kesulitan membawa buku-buku di tangannya. Berkali-kali ia membenarkan letak buku-bukunya, tapi tetap saja meleset. Rasa penasaranku makin menjadi ketika melihat seorang laki-laki berbaju kerja dengan telepon genggam di telinga, tengah berjalan terburu dari arah sebaliknya. Apakah mereka akan bertabrakan, atau tidak? Jika memang akan, apa yang mungkin dilakukan pria tersebut? Apakah adegan di film mungkin terjadi?

Bingo! Mereka bertabrakan dan buku-buku sang gadis pun jatuh berserakan. Wajahnya benar-benar frustasi hingga dahinya berkerut-kerut. Aku merasa kasihan, ditambah si pria bukannya membantu, namun terus berjalan bahkan tanpa menoleh sedikit pun. Pandanganku kembali fokus pada si gadis berambut coklat. Ia memutar mata dengan kesal, lalu mendecakkan lidah. Kulihat dadanya naik lalu turun—mengatur emosi. Bibirku tertarik menampakkan seulas senyum geli.

Kemudian gadis itu berjongkok untuk mengambil buku-bukunya. Kepalanya menunduk sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Padahal aku benar-benar ingin mengetahui rupanya. Beberapa saat kemudian ia berdiri kembali, berbalik. Wajahnya masih tidak bisa kulihat, tapi aku bisa melihat hidungnya yang berdarah. Ia mimisan! Dan ironisnya, ia tidak merasakannya. Dia terus saja berjalan, agak sempoyongan dan menunduk.

Aku bingung, ingin menyapanya lalu mengajak duduk atau mendiamkannya. Jika aku mengajaknya duduk, bisa-bisa aku dikira ingin macam-macam. Sudahlah, aku diam saja sambil terus memerhatikannya.

Mataku membulat melihatnya kembali menjatuhkan buku di tangannya. Aku heran kenapa tidak ada orang yang menyadarinya lalu membantu. Tunggu, itu aku, bukan? Aku hanya melihatnya tanpa membantu. Tapi jika aku membantu… Hah! Aku kan, tidak ingin macam-macam, hanya ingin membantunya. Baiklah, akan kudekati lalu kuajak duduk.

Aku mulai berdiri ketika gadis itu memegangi kepalanya. Sepertinya ia pusing karena kelelahan. Mungkin?

Aku sampai beberapa saat kemudian. Ia jongkok untuk memunguti barang-barangnya yang jatuh. Aku ikut jongkok. Kuulurkan tangan untuk juga mengambil barangnya. Dari sudut mataku bisa kulihat ia mendongak sambil menatapku bingung. Sedang aku hanya memberinya senyum simpul, membuatnya percaya kalau aku bukan orang jahat. Aku memang hanya ingin membantunya. Kembali kupunguti buku-buku yang—ternyata—lumayan tebal. Tanpa sengaja tanganku bersentuhan dengan tangannya. Seketika itu, dunia terasa berhenti untuk mendengarkan detak jantungku yang terdengar keras, juga darahku yang berdesir halus di sekujur tubuhku.

Gosh.

Aku tersentak ketika gadis di hadapanku berdiri. Aku pun ikut berdiri sambil membawa buku-bukunya yang sudah kuambil dari tanah. Ternyata ia lebih pendek dariku. Tingginya hanya menyentuh hidungku. Kuberikan bukunya tanpa berani menatap ke arahnya. “Ini punyamu,” kataku sedikit bergetar. Sial.

Sepertinya ia mendongak, mau tidak mau aku bisa melihat wajahnya kini. Wajahnya oriental dengan mata setengah bulan yang memberiku senyum lewat pandangan teduhnya. Senyumnya kecil, tapi mampu membuatku ikut tersenyum. Tulang pipinya tidak tegas, tertutup pipinya yang sedikit chubby. Aku tertegun. Apa ini? Sepertinya aku terpesona padanya. Tunggu, terpesona?

Lalu aku sadar. “Kau mimisan.” Detik kemudian bisa kulihat kantung mata yang hitam di bawah mata indahnya. Benar, ia pasti kelelahan hingga mimisan.

Ia memegangi bawah hidungnya. Gadis itu tampak kaget karena dari hidungnya keluar darah.

Dengan cepat kukeluarkan sapu tanganku. “Ini.”

Diterimanya sapu tanganku sambil kepalanya menunduk lalu berucap terima kasih. Sekali lagi, tanpa sengaja kulit kami bersentuhan. Dan untuk kedua kalinya, jantungku berpacu cepat dengan desir darah di sekujur tubuhku.

Kulihat ia mengusap bawah hidungnya dengan kasar dan buru-buru. Ketika kembali mendongak untuk menatapku, pandangannya seperti tidak enak. “Aku akan mencucinya,” katanya dengan nada menyesal. Benar-benar terdengar lembut di telingaku. Aku pasti sudah gila. Bingung harus berkata apa, akhirnya hanya senyum simpul yang dapat kuberikan.

“Permisi.” Ia berjalan melewatiku dengan langkah terburu sedang tubuhku tetap berdiri di tempat.

Sejenak kututup mata, menikmati semilir angin. Senyum terulas di bibirku tanpa sadar. Jantungku berdetak sangat cepat. Sekujur tubuhku serasa dialiri listrik yang menyengat dengan lembut. Dan untuk sejenak, aku lupa caranya bernapas dan berpikir.

Kuakui aku sudah gila. Aku gila karena tersadar, bahwa aku jatuh cinta.

♥Fin♥

Makasih untuk admin yang udah mau post FF pertamaku ke blog ini 🙂

Semoga readers pada suka

Blog pribadi aku:
http://www.myteenlit.wordpress.com

Iklan

20 pemikiran pada “In Paris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s