Librarian (Chapter 3)

Title                             : Librarian (Chapter 3)

Author                         : Baby Panda

Main Cast                    : Kris Exo-M, Lee Minji

Supporting Cast           : Taeyeon, Sungmin, Minho, Jonghyun, Luhan.

Length                         : Chapters

Genre                          : Romance

 __________________

 

Minji membuka matanya selama beberapa detik sebelum jatuh tertidur lagi. Samar-samar dia melihat dirinya berada diruangan bercat putih dan seorang pria pirang dengan telapak tangan yang super lebar menggenggam tangan kecilnya tertidur disamping tempat dia berbaring.

 

Hari sudah hampir tinggi saat Minji benar-benar terbangun dari tidurnya. Sepi. Dia tidak melihat siapa-siapa diruangan yang sekarang diketahuinya bahwa itu kamar rumah sakit.

 

Siapa yang mem……

 

Minji terlonjak saat dia melihat Kris keluar dari kamar mandi dengan wajah lelah. Rupanya dia belum terbisa dengan kehadiran Kris.

 

Jadi dia,

 

‘Loe udah siuman. Gue panggil dokter dulu,’ Kris berjalan keluar kamar tanpa ekspresi di wajahnya. Dia meninggalkan Minji dengan dokter yang memeriksanya didalam karena Minji yang merasa masih tidak nyaman dengan kehadiran Kris.

 

‘Sini gue bantuin,’ Kris yang baru saja masuk tidak tega melihat Minji yang tidak kuat mengangkat sendok buburnya menawarkan bantuan.

Minji Cuma bisa menatap malang selimutnya saat tangan Kris menyuapkan bubur ke mulutnya. Dia tidak bisa mengangkat kepalanya—takut Kris akan berubah jutek lagi dan mengacuhkannya seperti biasa.

‘Perut gue udah nggak bisa nerima lagi,’ Minji menggelengkan kepalanya saat Kris siap menyuapkan bubur yang masih separuh lebih tersebut. Kris yang dari tadi melihat Minji menelan buburnya dengan susah payah pun tidak tega dan mau menurutinya.

‘Sudah gue cas, sana telfon Sungmin hyeong. Ah, teman-temanmu juga dari kemarin mereka nyariin loe,’ Kris menyodorkan ponsel Minji sesaat setelah dia meletakkan peralatan makan dimeja.

‘Kamsahamnida, udah nyelametin gue,’ Minji bicara dengan kepala masih tertunduk.

 

Kalo mau berterima kasih harusnya loe nggak usah nunduk. Emang gue nyeremin banget ya?

 

Kris meninggalkna Minji sendirian agar dia bisa menghubungi oppa dan teman-temannya dengan nyaman.

 

 

‘Omo,’

‘Wae?’ Minji sudah menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur saat Kris bertanya agak panic.

‘Eomma gue telfon.’ Minji sudah duduk dilantai sambil membuka lemari pakaian dan menemukan sebuah jemper kuning yang langsung dipakainya sekenanya. Dia tidak melihat tatapan bingung Kris. Minji mencoba berdiri dengan sekuat tenaga namun sia-sia saja. Dia hampir jatuh dengan wajah menghantam lantai kalau saja Kris tidak sigap menangkapnya.

‘Eo, eomma annyeong…’ Minji mencoba melambaikan tangan dan tersenyum pada sosok eommanya.

‘Aigoo, Ya kenapa kau pucat banget? Kau nggak sakit kan?’ eomma Minji langsung kelihatan cemas.

‘Nggak kok, eomma tenang aja. Aku kan kuat,’

‘Emang kau habis ngapain sih kok bisa pucat banget kayak gitu?’

‘Eh,,,gym. Ah, iya ini abis ngegym sama anak-anak jadi agak capek. Eoh, eomma aku tutup dulu ya, anak-anak pada ngajakin pulang,’

‘Jangan lup…’

‘Makan, nggak boleh begadang, minum air putih yang banyak. Arasseo eomma~saranghae…’ Minji memotong peringatan eommanya dan langsung menutup sambungan telfon tersebut setelah melihat senyum eommanya.

‘Eomma gue nggak tau kalo gue masuk rumah sakit. Sungmin oppa sama gue sengaja nggak cerita,’ Minji agak ragu menjawab tatapan bingung dimata Kris. Sepertinya tenaga yang dikumpulkannya sejak 2 hari yang lalu langsung hilang hanya untuk membohongi eommanya.

 

Gadis bodoh.

 

Kris menghela nafas pendek kemudian memapah Minji kembali naik ketempat tidurnya. Dia membantu Minji melepas jemper kuningnya sebelum kembali meneruskan menyuapkan makan malam Minji yang terganggu.

 

Meski tiap hari Taeyeon, Jonghyun, Minho datang bergantian namun mereka tidak pernah menginap sendirian dirumah sakit menemani Minji. Kris sangat disiplin seperti eommanya Minji. Dia hanya pulang kerumah untuk mandi atau mengambil buku dan keperluan lain yang digunakannya untuk mengisi waktu luangnya saat menjaga gadis tersebut. Taeyeon yang sempat membawakan projek Minji kerumah sakit terpaksa harus membawanya pulang lagi hanya karena tidak mendapat persetujuan dari Kris.

‘Loe boleh ngerjain tu projek lagi kalo udah sembuh,’ itu alasan Kris.

Minji juga tidak bisa menonton pertandingan sepakbola kesayangannya baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Seperti kemarin saat pagi-pagi buta Minji menonton Barcelona vs Valencia dibalik selimutnya, tiba-tiba tangan Kris sudah menengadah dibalik selimut tanda ‘berikan ponselmu’ untuk yang kesekian kalinya.

 

Sudah seminggu lebih Minji berada dirumah sakit tapi dia masih belum diizinkan pulang. Dia sudah merasa sumpek dengan bangunan berbau alcohol ini. Kris yang tidak mengijinkannya keluar menghirup udara ditaman bahkan sampai menyebutnya sasaeng fans hanya karena setiap hari dia mencari info tentang penyanyi dan artis idolanya.

‘Ne eomma,’ Kris keluar untuk menerima telfon dari eommanya setelah mencibir Minji yang cekikikan membaca manga.

 

Sungmin Oppa:

Barusan eomma sms katanya appanya Kris baru aja meninggal.

 

Minji berjalan keluar kamar dengan berpegangan dinding kamarnya. Dia menemukan Kris duduk membungkuk dibangku ujung koridor dengan kepala tertunduk dalam.

‘Kris-ssi, gwencanayo?’ Minji duduk disamping Kris sambil mengelus pundaknya. Kris yang tidak merespon membuat Minji semakin khawatir.

‘…Appa gue……meninggal……’ Kris bicara tanpa menoleh ke arah Minji sama sekali.

Minji diam membisu tidak tahu harus bicara apa. Dia tanpa ragu menggenggam tangan Kris yang ternyata sudah basah dengan cairan hangat—Kris menangis tanpa bersuara. Minji merangkul Kris dan menepuk bahunya dengan lembut sebelum airmatanya ikut jatuh ke punggung Kris. Kris merebahkan kepalanya dipangkuan gadis tersebut dengan airmata yang masih mengalir deras membasahi pangkuan Minji. Minji tersenyum pilu melihat Kris yang jatuh tertidur dipangkuannya karena lelah menangis.

 

Appa loe pasti bangga punya anak yang sayang banget sama dia.

 

Malam itu juga Minji merengek agar bisa pulang kerumah bersama Kris. Dia tidak ingin Kris mengkhawatirkannya untuk saat ini.

 

Dia keliatan seperti anak baik saat tidur tapi siapa sangka dia berubah nyeremin banget kalo lagi sadar, ck.

 

Malam itu Minji menyuruh Kris untuk pulang kerumah Kangin ahjussi tapi ternyata dia malah tidur disofa ruang tamu Minji. Mereka akan kebandara Incheon untuk menjemput eommanya Kris dan yang lainnya. Dari sana mereka akan langsung pergi kerumah duka untuk mengurusi pemakaman appanya Kris.

 

Appa, maafin Kris yang bodoh dan nggak tau kalo appa sakit. Harusnya kita pindah kesini sama-sama. Appa, Kris pengen denger suara appa lagi. Kenapa appa nggak jawab sih? Appa, Kris sayang appa. Appa tau kan? Kenapa appa nggak bangun-bangun sih?

Sebuah tangan mungil menggenggam tangan Kris yang super lebar menyadarkan keberadaannya sekarang. Kris yang masih menangis dengan lemahnya mencium sosok appanya untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya memeluk eommanya yang kelihatan lebih tegar dari dia.

 

 

‘Annyeong haseyo, anda pasti eommanya Kris ya?’

Minji yang belum sempat berkenalan langsung dengan eommanya Kris memutuskan untuk mengunjunginya hari ini sekalian dia ingin melihat keadaan Kris. Setakut apapun dia dengan sikap dingin Kris, dia harus tetap menengoknya karena Kris kemarin sudah menyelamatkan dan merawatnya selama sakit.

‘Ne, kau pasti Minji ya? Aigoo, kau miriiiiiip sekali dengan eomma mu,’

‘Ehem,’ Kris tiba-tiba muncul dari belakang punggung eommanya saat eommanya memeluk Minji. Dia benar-benar tidak bisa terbiasa dengan kemunculan Kris. Kali ini dia masih saja tersentak saat melihatnya berjalan mendekati eommanya.

‘Ada apa?’ Kris langsung mendapatkan sikutan empuk dari eommanya yang membuat dia sedikit kehilangan citra menyeramkannya didepan Minji.

‘Ya, jangan bicara sedingin itu pada gadis semanis Minji,’ Eomma Kris mengelus rambut Minji dengan lembut yang membuat Kris iri dan memalingkan wajahnya.

 

Manse!!!!! Minji berteriak girang dalam hati. Dia bahkan sampai harus menunduk agar senyumnya tidak terlihat oleh Kris.

 

‘Eomma tadi habis bikin kue. Katanya Kris eomonim suka banget sama kue ini jadi gue kesini buat ketemu eomonim,’ Minji langsung mendapat rangkulan hangat dari eommanya Kris.

‘Gomawoyo, eommamu selalu tau apa yang eomonim mau,’ Eommanya Kris langsung membalikkan badan dan berbisik di telinga Kris

‘Jadi dia “Si gadis rusuh” mu?’

‘Eomma~~,’ Kris bergumam sambil mendorong eommanya menuju dapur.

‘Eo, Lulu-ya…’ Minji melambaikan tangannya pada sosok pria setinggi 176 cm bermata bulat seperti rusa dengan perasaan gembira yang belum pernah Kris lihat sebelumnya. Pria itu bernama Luhan—anak Kangin ahjussi serta teman Minji sejak kecil.

‘Minji-ah…’ Luhan langsung menuruni tangga dengan cepat dan memeluk Minji. Entah kenapa hal tersebut terasa mengganggu penglihatan Kris.

‘Ya! Mana hadiah gue?’

‘Ya, gadis nakal. Harusnya kan loe tanya kabar gue dulu. Emang loe nggak kangen sama gue ya?’ Luhan mengacak rambut Minji.

‘Ishhh gue nggak peduli ya sama keadaan loe yang gue peduliin Cuma hadiah gue, mana?’ Minji menodongkan tangannya didepan wajah Luhan.

‘Loe beneran nggak kangen sama gue?’ Minji menganggukkan kepalanya dengan mantap lalu Luhan melingkarkan tangannya ke leher Minji yang membuat Kris kelihatan canggung diantara mereka.

‘Ah…kayaknya gue lupa deh dimana naruh hadiah loe,’ Luhan malah memancing emosi Minji.

‘Ya! Neo, Xi Luhan…liat aja kalo loe sampe lupa, gue hancurin semua pernak-pernik MU di kamar loe.’ Luhan langsung lari tunggang langgang menuju kamarnya yang langsung diikuti Minji. Mereka berdua lupa akan keberadaan Kris.

‘Ya! Xi Luhan. Gue nggak bakalan pergi dari depan pintu kamar loe kalo hadiah gue belum ada ya,’ Luhan berhasil mengunci pintu kamarnya dan meninggalkan Minji terengah-engah diluar kamarnya.

‘Nih hadiah loe, dasar gadis gila,’ Luhan pura-pura kesal pada sahabatnya tersebut.

‘Aishhh, ini bocah. Gomawo…’ Minji dan Luhan turun ke lantai 1 tempat Kris duduk sendirian diruang keluarga.

‘Loe udah kenalan sama sepupu gue?’

‘Udah. Dia kan yang bantuin gue bikin projek.’ Minji menjawab dengan mata masih terpaku pada boneka buaya hijau berkaos arsenal fc.

‘Woaaa, jinja? Loe beruntung banget sih mesti bantuin gadis menyusahkan kayak dia,’ Luhan tersenyum sambil menepuk pundak Kris yang hanya tersenyum simpul.

‘Loe…’ Minji langsung menghujani Luhan pukulan menggunakan si boneka buaya.

‘Loe liat kan dia galak banget. Mana ada coba cowok yang mau jadi pacarnya?’ Luhan meminta persetujuan Kris.

‘Gue baru bisa punya pacar kalo orang-orang kayak loe, Sungmin oppa and the gang udah nggak gangguin hidup gue lagi. Ah, gimana kabarnya calon istri temen gue Luhan ya? Kayaknya udah lama banget nggak ada kabarnya nih?’

‘Baru aja diomongin. Gue terima telfon dulu ya…ey baby…’ Luhan naik lagi ke lantai 2 menuju kamarnya meninggalkan Minji dan Kris berdua di ruang keluarga. Kris melihat ekspresi kecewa di wajah Minji saat gadis itu memperhatikan punggung Luhan yang menaiki anak tangga.

Minji memutuskan untuk berjalan keluar menuju taman yang diikuti oleh Kris. Mereka duduk dibangku taman rumah Kangin ahjussi.

‘Ngerasa lebih baik?’ Minji memulai percakapan dengan agak ragu—takut Kris kembali dingin dan jutek lagi.

‘Uhm.’Kris mengangguk

‘Eomma loe cantik banget ya? Dia malah lebih keliatan kayak nuna loe,’

‘Keliatannya loe udah bener-bener sembuh bisa jalan kesini sendirian sampe lari-lari lagi. Tadi nggak jatuh kan?’ Kris menggoda Minji.

‘Aish, kan gue udah bilang kalo gue udah sembuh dari 5 hari yang lalu. Loe aja tuh yang nggak ngijinin gue buat pulang.’ Minji berlagak sok kuat dan memalingkan wajahnya dari Kris.

‘Berarti besok gue udah bisa liat hasil analisisnya lagi donk,’

‘Mwo??? Ya, bukannya loe dari kemarin ngelarang gue buat pegang tu projek ya? Kenapa sekarang malah minta?’

‘Gue kan bilangnya jangan ngerjain itu projek kalo loe belum sembuh. Sekarang kan katanya loe udah sembuh jadi projeknya udah loe kerjain kan?’

‘Ya, loe…bener-bener………ck,’ Minji yang kesal dengan perlakuan Kris langsung bangkit berdiri dan berjalan kembali kerumahnya sambil ngomel-ngomel pada dirinya sendiri.

‘Harusnya gue tau kalo dia bakal nyebelin lagi. Harusnya tadi gue langsung pulang abis liat tampangnya dia. Aaaaah~kenapa sih dia nyebelin bangettttttt.’

 

 

 

Tiang Listrik:

Loe udah sembuh kan? Besok gue mau liat analisisnya lagi jadi jangan molor mulu

 

‘Ni tiang listrik tau darimana kalo gue molor?’ Minji langsung keluar kamar mencari sosok Kris dari lantai 2 namun tidak ketemu. Dia lalu turun kebawah bahkan sampai keluar rumah untuk mencari keberadaan Kris namun sia-sia saja.

 

Tiang Listrik:

Loe ngapain sih? Jangan main-main terus! Jangan sampe besok gue coret-coret analisis loe lagi

 

Minji masih mencari sosok Kris disekitar taman bahkan dia sampai mengintip kerumah Kangin ahjussi tapi tetap saja sosok tinggi Kris tidak terlihat sama sekali.

 

Aneh. Batin Minji sembari berjalan masuk ke kamarnya lagi.

 

Tiang Listrik:

Gue nyuruh loe buat ngerjain analisis lagi bukan berarti loe boleh ngelewatin makan malam.

 

Minji:

Loe dimana sih?

 

Tiang Listrik:

Loe turun sekarang buat makan ato gue yang kesana buat nyeret loe?

 

Minji yang mulai kesal sekarang mencari sosok Kris dikamarnya tapi disana juga tidak ada. Mau tidak mau Minji keluar kamar berharap si tiang listriknya ada dibawah atau diruang tamu, tapi ternyata dia juga tidak ada disana.

 

Tiang Listrik:

Pilih salah satu:

  1. a.      tidur sekarang juga
  2. b.      analisis loe besok gue coret-coret semua

 

‘Aaaaah~~…loe dimana sih?’ Minji berteriak kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya. Tiba-tiba matanya menangkap sosok tinggi pirang berdiri dijendela ruangan kamar yang berseberangan dengan kamarnya.

‘YA! Sejak kapan loe disitu?’ Minji berteriak pada Kris dari balkon kamarnya. Kris dengan cueknya hanya menunjukkan jam ditangan kirinya tanda Minji harus tidur.

‘Loe………haaah…’ Minji mendesah lemah—pasrah.

 

Dia bener-bener nyebelin!!!

 

Minji menutup korden kamarnya dengan kasar lalu kembali lagi meneruskan pekerjaannya.

 

Tiang Listrik:

Tidur sekarang!

 

Minji langsung mematikan ponselnya.

 

TAK                TAK                TAK

 

‘Gue hitung sampe 3 kalo loe nggak berhenti ngerjain itu analisis dan tidur, gue bakal kerumah loe bilang sama eomma loe kalo loe mau bunuh diri,’ Kris berbicara dengan nada biasa saja dari balkon kamarnya karena dia yakin Minji pasti dengar—Kris punya suara yang cukup dalam dan volume yang keras.

‘Satu………dua………ti……’

Korden kamar Minji terbuka. Minji menunjukkan wajah kesal setengah matinya kemudian menutup lagi kordennya sekuat tenaga dan memencet saklar lampu dengan sangat kasar.

‘Jangan pernah berpikir buat ngerjain tuh projek dibalik selimut. Gue bisa liat,’ sekali lagi Kris mengancam Minji. Minji menjatuhkan senter dan mengangkat kedua tangannya dari balik selimutnya.

 

 

 

‘Loe nggak mau ngebuka hati buat yang laen lagi?’ Taeyeon bertanya dengan sangat hati-hati pada sahabatnya, Minji, saat dia menceritakan tentang kepulangan Luhan dari Inggris kemarin.

‘Gue udah lama ngebuka ni hati tapi tetep aja nggak ada yang masuk. Gimana dong?’ Minji menatap sedih buku yang tadi dibacanya. Dia masih selalu merasa sakit saat berada dekat Luhan—cinta pertamanya yang tidak pernah dia ungkapkan.

‘Loe udah coba buka hati loe buat Kris?’ Minji langsung tersedak mendengar perkataan Taeyeon padahal dia tidak makan atau minum saat itu.

‘Taeyeon-ah, loe mau liat gue pacaran sama cowok yang juteknya setengah mati itu?’

‘Hello…Lee Minji…dia kan juteknya Cuma sama loe doang. Dia baik kok kalo sama orang lain. Ah, dia juga cakep, catet tuh.’ Minji mendengus sebal mendengar penjelasan Taeyeon. Dia pergi membiarkan Taeyeon mengekor dibelakangnya keluar dari perpus.

Seorang pria tinggi, blonde bangkit dari belakang meja tempat Minji duduk tadi. Ternyata Kris dari tadi disitu mendengarkan semua percakapan antara Minji dan Taeyeon.

 

 

‘Eh manajer loe mau kemana tuh?’ Taeyeon sekarang menyebut Kris manajer karena sudah seminggu ini Kris selalu mengatur kapan Minji harus makan, istirahat, dan mengerjakan projeknya.

‘Molla,,,gue bener-bener berharap ni projek cepet selese sebelum gue masuk rumah sakit lagi gara-gara nggak sanggup lagi diawasin dia mulu,’

‘Tapi itu juga buat kebaikan loe kali. Loe kalo nggak diawasi kayak gitu paling juga udah sakit lagi. Dasar bandel!’

‘Taeyeon-ah, kenapa loe jadi belain dia sih?’

‘Gue nggak belain siapa-siapa kok. Gue Cuma ngomongin fakta.’

‘Tau ah, pulang yuk,’

 

16 pemikiran pada “Librarian (Chapter 3)

  1. Wahh keren thor ^^ lanjut ya , tp aku mau kasih saran klu udh beda situasi kasih tanda ya thor aku jd bingung hehehe tp ff’a daebak kok ^^

Tinggalkan Balasan ke lee Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s