Krim Historia – Good Night

Tittle : Krim Historia – Good Night

Author : Eunroro13

Main Casts : Wu Yi Fan (EXO-M Kris), Kang Ahrim (OC)

Genre : Romance, A little bit fluff –maybe | Rating : PG-17 | Length : 1,111 words (Vignette?)

Summary : “Sampai bertemu besok pagi, sayang. Good night!” – Kris

Disclaimer : Kris is belong to God, his family, friends, agency, and his beloved fans. I do not own pictures, but OC and storyline. Please do not take out without my permission! Already posted on my personal wordpress http://shineunheedaily.wordpress.com

A/N : Ini fanfiction yang aku buat di sela-sela mengerjakan setumpuk tugas kuliah. Mungkin efek kangen sama Kris jadinya gini kali ya *apaansih *abaikan.

dan karena aku lupa siapa ulzzang yang nge-cover sosok Ahrim sebelumnya, akhirnya aku putuskan untuk ganti ulzzang saja. hahaha -_-a

Semoga kalian suka dan selamat membaca. Read and leave comment later, please.

Other Historia : Dear Oppa

Good Night Cover

– Eunroro13©2013 –

Tidak ada pergerakan berarti. Keduanya, baik si pria maupun si wanita tetap diam tak bergeming pada posisi mereka masing-masing. Bahkan tidak ada percakapan apapun yang berusaha mereka lontarkan. Hanya suara keheningan malam yang terdengar di kamar itu. Sama-sama berada di sebuah ranjang putih, lengkap dengan 2 buah bantal, sebuah guling, dan selimut berwarna senada, yang berhasil membuat suasana keduanya menjadi begitu kikuk. Sejak tadi, sang pria berusaha terus memfokuskan diri untuk membaca sebuah buku tebal di tangannya. Entah apakah kalimat demi kalimat di buku itu berhasil ia cerna atau tidak. Well, itu tidaklah terlalu penting untuknya sekarang.

Lalu bagaimana dengan sang wanita?

Yang bisa ia lakukan sekarang adalah tidur menyamping. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak melihat wajah sang pria tadi. Tangannya memeluk guling begitu erat. Jika guling itu bisa bicara, mungkin ia akan mengaduh kesakitan sekarang. Hahaha lelucon murahan. Yang pasti sekarang ini ia berusaha untuk mengontrol detak jantungnya yang begitu cepat. Kakinya yang sengaja disilangkan sesekali bergerak gelisah. Rasanya ia ingin secepatnya disapa oleh hangatnya sinar mentari dan mendengar suara kicauan burung di luar sana. Suasana heningnya malam, ditambah berduaan dengan seorang pria di dalam kamar ―parahnya lagi di atas ranjang, membuatnya begitu pusing dan gugup. Walaupun ini bukan yang pertama kalinya, tetapi tetap saja. Tuhan! Semoga ia bisa selamat sampai pagi nanti, mohonnya.

Tidak tahan dengan suasana seperti itu, sang pria mencoba menekan ego dan gejolak di hatinya untuk memulai terlebih dahulu. Ditutupnya kencang buku yang sedari tadi ia pegang. Suara debaman buku itu berhasil membuat sang wanita sedikit terlonjak kaget. Jantungnya terus berdegup kencang. Tidak! Kumohon jangan, batin sang wanita.

“Ahrim-ah.” panggil si pria.

Wanita bernama Ahrim itu tidak menjawab. Tetap egois di posisinya sekarang. Dengusan kecil terlontar dari sang pria. Dengan sedikit kekuatan ia balikkan tubuh Ahrim ke arahnya. Membuat pegangan pada guling tadi terlepas dan posisi Ahrim menjadi tidur terlentang. Membuat sang pria dengan mudah memenjarakan tubuh Ahrim di bawah kuasanya. Pria itu bosan hanya menatap punggung Ahrim. Wajah wanita itu lebih cantik untuk ia tatap.

Ahrim terkejut, tentu saja. Dalam pikirannya terus berputar-putar berbagai macam kemungkinan dan pertanyaan apa yang akan dilakukan sang pria kepadanya. Ditelannya salivanya dengan teramat pelan. Matanya mau tidak mau bertatapan lurus dengan mata tajam milik pria itu. Oh! Bahkan hanya menatap matanya saja Ahrim sudah berusaha kuat untuk terus sadarkan diri.

“Aku tidak suka suasana kaku seperti ini,” lontar sang Pria. Masih menatap tajam Ahrim di bawahnya.

“N―ne,”

“Bagaimana kalau kita mulai saja sekarang?” tanya sang pria dengan menyunggingkan seringai andalannya. Mata Ahrim membulat mendengar apa yang diucapkan pria itu barusan.

“M―wo?” pekik Ahrim. Astaga! Jangan bilang pria ini… Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Pria itu tersenyum senang melihat ekspresi yang Ahrim tunjukkan. Seolah dirinya sudah bisa menebak kalau respon Ahrim akan seperti itu. Masih dengan seringai khasnya, pria tadi kembali berkata, “Wae? Bukankah kau juga ingin?”

Bagaimana bisa ia berpikiran seperti itu? Jangankan berbuat seperti yang pria itu pikirkan! Dari tadi saja, hanya untuk menatap pria itu, Ahrim berusaha sekuat tenaga untuk melakukannya. Bagaimana bisa pria itu… Pikirannya… Ah! Lama-lama Ahrim bisa gila kalau begini caranya.

Perlahan, wajah sang pria semakin mendekat. Mencoba mengeliminasi jarak di antara mereka. Jantung Ahrim bekerja dua kali lebih cepat. Sial! Pria ini benar-benar berbaik hati membuatnya pingsan perlahan. Sampai Ahrim mendengar bisikan lembut yang menggoda di telinganya. Sungguh, terlalu lembut sampai tubuhnya menegang mendengar ucapan pria itu.

“Kau… sudah siap?”

“K―Kris, engg…”

“Hmm?” balas pria bernama Kris. Masih dengan bisikan lembut di telinga Ahrim. Kali ini pria itu menambah sedikit hembusan nafas di tengkuknya. Pria ini benar-benar!

“Engg… I―itu… M―maksudku…”

“Kau takut? Gugup?” tanya Kris pelan setelah memalingkan pandangannya kembali menatap manik mata Ahrim. Seolah tersihir dengan tatapan Kris, Ahrim menganggukan kepalanya pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Kris barusan.

“Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah,” tenang Kris sembari membenarkan anak rambut Ahrim yang terlihat tidak pada tempatnya.

“Kau istriku. Aku berhak atas apa yang ada pada dirimu. Karena kau milikku,”

Kris berusaha mengontrol detak jantungnya melakukan itu semua. Wanita ini benar-benar membuat seluruh hidupnya menyerah seutuhnya. Menyerah hanya untuk terus bersama dan selalu berada di dekat Ahrim, wanita pilihan hidupnya. Sungguh Kris tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia hanya berjauhan dengan Ahrim barang sebentar saja. Kumohon jangan sampai itu terjadi, pinta Kris.

Ahrim hanya bisa memejamkan matanya akan sentuhan lembut Kris di helaian rambutnya. Sebisa mungkin menenangkan jantungnya yang terlalu lancang berdetak semakin cepat. Ahrim kembali membuka kedua matanya dan mendapati Kris di atasnya menatapnya tajam. Tatapan favorite-nya sampai kapanpun juga. Kris tersenyum, senyum malaikat yang selalu Ahrim dambakan. Tangan Ahrim terangkat ―tidak tahan― untuk tidak menyentuh wajah sempurna di hadapannya. Perlahan, wajah itu mendekat. Mempertemukan kedua ujung hidung mereka yang sukses memacu jantung keduanya berdetak lebih cepat.

“Jadi?”

“Ja―jadi apanya?”

“Kau tau maksudku,”

“Ak―aku…” jawab Ahrim masih dengan terbata-bata. Kris menggeleng untuk menghentikan jawaban gugup Ahrim.

“Oh ayolah. Seperti biasa. Aku tidak menerima penolakan,” balas Kris cepat. Kris kembali memperpendek jarak di antara mereka. Mau tidak mau Ahrim kembali menutup kedua matanya rapat. Gugup menantikan apa yang akan dilakukan Kris setelahnya.

Sampai akhirnya ia merasakan sentuhan lembut yang sedikit basah di bibir miliknya. Bibir Kris tepat mendarat di permukaan bibir wanitanya. Beberapa detik kemudian sekedar sentuhan itu berubah menjadi beberapa lumatan lembut yang semakin lama semakin menuntut. Betapa Kris ingin wanita itu tahu bahwa ia begitu mencintainya. Tangan Ahrim tergerak untuk direlungkan di leher milik Kris. Dirinya mencoba mengimbangi sentuhan Kris di bibirnya, mencoba membalas penyaluran cinta Kris untuknya.

Beberapa menit kemudian, pergerakan bibir keduanya terhenti dan terlepas ketika Ahrim mendorong dada Kris pelan. Nafasnya tidaklah sepanjang nafas Kris. Semburat merah menghiasi kedua belah pipi Ahrim tatkala matanya kembali bertemu dengan mata milik Kris. Kris tak kuasa untuk tidak tersenyum. Kembali bibirnya menyentuh bibir Ahrim, mengecupnya teramat pelan dan cukup singkat. Kris mengalihkan bibirnya untuk mengecup dalam dahi Ahrim. Jauh di dalam hatinya ia terus menggemakan pernyataan cintanya untuk sang wanita pujaannya itu.

“Aku mencintaimu, Ahrim-ah,”

Setelahnya, tidak ada yang bisa didengar selain detak jantung mereka yang saling bersahutan. Cepat dan begitu keras.

“Baiklah, lain kali saja. Sampai bertemu besok pagi, sayang. Good night.” tutup Kris sembari menatap lembut Ahrim.

Kris beranjak mengalihkan posisinya menuju sisi sebelah kanan Ahrim. Ia merebahkan dirinya di samping wanitanya itu, memeluk pinggang Ahrim posesif, dan kemudian memejamkan kedua belah matanya. Bibirnya sedari tadi tak henti untuk menyunggingkan senyum. Ahrim yang tadinya masih termenung akibat perlakuan Kris perlahan tersadar dan ikut menyunggingkan senyumnya. Ditatapnya Kris yang berada disebelahnya. Pria itu sudah mulai tidur rupanya. Ahrim mengelus tangan Kris yang melingkar di pinggangnya. Entahlah. Yang bisa ia lakukan adalah bersyukur atas hadirnya pria yang memeluknya sekarang. Bersyukur atas cinta yang diberikan pria itu untuknya. Tak lupa ia gumamkan ‘Aku pun mencintaimu, Kris.’ sebagai balasan.

“Good night too, Kris.”

– kkeut –

Iklan

81 pemikiran pada “Krim Historia – Good Night

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s