2109

Title              : 2109

Author          : Valleria Park

Cast’s           : Xi Luhan, Park Yoonji, Park Chanyeol

Length          : Short Fic ( 3.041 words –dengan biodata(?) FF dan bacotan author._.v)

Genre           : Angst, Sad

Rating          : General

Disclaimer   : Annyeong yeorobun ^^ Vallerie balik lagi bawa FF yang terinspirasi dari sebuah novel yang baru-baru ini aku baca. Maaf kalo gak sesuai harapan atau gimanalah gitu. Maklum namanya juga author baru yang baru masuk didunia per-FF an. Terinspirasi bukan berarti plagiat ya? Ide ceritanya tetep hasil mikir author juga kok, walaupun kadang ada kata-kata yang sama kaya yang di novelnya. So, cekidot :p

Paradise Café, Seoul 14.30 KST

Yoonji terus melihat kearah jam tangannya dengan kesal, menunggu kedatangan kekasihnya, Xi Luhan. Sebenarnya, dia sudah cukup jenuh untuk menunggu Luhan selama satu setengah jam ini, tapi Luhan malah mengiriminya pesan satu jam lalu.

 

From: Lulu Gege

Yoonji-ya, mianhae aku akan telat karena rapat komunitasku masih belum dimulai. Sabar ne chagiya? Chu ❤

With love, your beloved namjachingu :p

 

Yeoja itu masih merutuki dirinya sendiri yang mau-maunya saja mengiyakan permintaan Luhan untuk menunggunya. Entah sampai kapan. Sampai lonceng yang berada di café itu berbunyi, pertanda ada orang yang masuk.

Seorang namja berwajah rupawan tertangkap oleh retina mata Yoonji. Yeoja itu sedikit menggerutu kesal saat melihat cengiran tak bersalah dari namja tersebut, lalu melayangkan death glare andalannya.

“Mianhae Yoonji-ya, hehehe.” kata namja itu setelah duduk dihadapan Yoonji sambil tertawa polos. Tawaannya sukses membuat rasa kesal yang dari tadi bersarang didada Yoonji sedikit berkurang.

“Bagaimana rapatnya? Aku yakin pemerintah tidak akan mau mengabulkan permintaan konyol dari komunitas abal-abalan.” tanya Yoonji sarkatis sambil tersenyum sinis pada Luhan.

“Aigo, kau ini harusnya mendukungku dan komunitasku, dong! Pemerintah makin sini makin tidak waras dan tidak ber-peri kemanusiaan.” jawab Luhan sambil menyesap coffee latte nya yang baru diantarkan seorang pelayan cantik beberapa menit yang lalu.

Yoonji hanya tersenyum tipis sambil melihat liku-liku wajah Luhan yang mungkin hanya sebentar lagi akan dia nikmati.

“Yoonji-ya, aku berharap bumi ini akan berjalan seperti biasanya, dan pemerintah kembali melarang manusia untuk melakukan pengkloningan. Bukankah pengkloningan manusia terdengar sangat jahat sekali? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakit hati manusia yang terlahir karena alat-alat canggih kedokteran itu saat tau tubuhnya digerakkan bukan organ tubuh yang semestinya.” Luhan berbicara panjang lebar dengan mata penuh harap. Seketika itu pula hati Yoonji mencelos.

“Ya… aku harap juga begitu. Aku mendukungmu, Oppa.” Yoonji meremas tangan Luhan, nada bicaranya terdengar begitu lirih.

Di tahun 2109 ini, kloningan manusia bukan sesuatu yang aneh. Bahkan, sudah hampir separuh bagian dibumi ini diisi oleh orang-orang yang merupakan hasil kloningan. Tak lazim memang, namun ada hal yang memaksa kedokteran dan pemerintah memperbolehkan hal ini untuk dilakukan oleh para manusia.

Pada tahun 2089, bumi mengalami kebocoran ozon yang cukup dahsyat yang menyebabkan hampir separuh populasi bumi musnah.

Seluruh spesies terkena dampak bencana mengerikan itu. Termasuk manusia. Yang jelas, sejak saat itu teknologi kloning yang semula dilarang karena melanggar begitu banyak norma agama, kini dilegalkan oleh pemerintah diseluruh dunia. Gunanya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan makanan, ternak, dan banyak lagi. Mengembalikan keseimbangan ekosistem.

Seiring berjalannya waktu, naluri liar manusia yang berperang melawan kebaikan dan didukung kemajuan teknologi telah membutakan mata banyak orang. Mereka tidak lagi hanya mengkloning hewan, tetapi juga…manusia.

Di abad 22 ini, manusia telah hidup berbaur dengan ‘produk’ hasil rekayasa kloning. Bahkan tidak ada yang bisa membedakan mana manusia asli, dan yang mana manusia kloningan.

Luhan terus memandang wajah Yoonji dengan intens. Yoonji begitu rupawan nyaris tanpa cacat sedikitpun. Fikiran ini membuat Luhan bertanya pertanyaan yang –sangat- bodoh kepada yeojachingunya.

“Yoonji-ya, apa kamu manusia…sungguhan?” pertanyaan yang meluncur dibibir Luhan sontak membuat Yoonji terkejut.

Orang lain mungkin akan marah dipertanyakan seperti itu oleh kekasihnya sendiri, tetapi tidak dengan Yoonji. Yeoja itu malah merenung sesaat.

“Kau bukan hasil sampah kloningan itu, ‘kan?” lanjut Luhan lagi. Suaranya meninggi.

Yoonji tersenyum samar, lalu menjawab, “I’m real, chagiya.. Believe me, I’m real.”

 

Mereka baru melangkah beberapa langkah dari Paradise Café ketika Yoonji mendadak terengah-engah sambil memegang dadanya.

“Appo, jeongmal appoyo.” erang Yoonji lemah.

Yoonji seperti tercekik, seolah-olah berjuang keras menghirup udara. Wajahnya seputih kertas dan bibir pink nya mendadak berubah menjadi kebiruan.

“Chagiya, neo gwenchanayo?” tanya Luhan panic sambil membantu menggendong tubuh Yoonji yang sudah tidak berdaya lagi.

Yoonji membuka mata, susah payah mengatur nafas. Yeoja itu mengangguk lemah.

“Nan gwenchanayo Oppa, aku hanya tidak enak badan, aku ingin pulang saja. Jebal antarkan aku pu—“

“Pulang?! Aku akan memanggil ambulance,” potong Luhan cepat sambil membuka flip ponselnya. Namun, jemari pucat Yoonji menahannya.

“Jebal, aku ingin pulang…”

Dengan perasaan tak tenang, Luhan membawa Yoonji menuju mobil hitamnya.

Malam itu, Yoonji masih terbaring lemah diatas ranjangnya. Menangis mendengarkan penjelasan dokter Jung, dokter pribadi keluarga Park. Luhan sudah pulang beberapa jam yang lalu. Itupun karena paksaan Yoonji yang tidak mau merepotkan namja itu lagi.

“Nona Park, anda sudah mengalami proses penurunan fungsi.” jelas dokter Jung dengan raut wajah yang sangat sedih.

“Penurunan fungsi, apa artinya hidupku tidak akan lama lagi?” tanya Yoonji, ia mengusap kasar air matanya yang masih setia mengalir di mata indahnya.

Dokter Jung menghela nafas sejenak, lalu menatap mata sayu Yoonji.

“Penurunan fungsi itu penurunan fungsi organ tubuh sehingga tidak akan berfungsi lagi. Semua orang hasil kloningan pasti dan memang seharusnya mengalami penurunan fungsi. Biasanya penurunan fungsi terjadi saat manusia kloningan sudah menginjak umur 20 tahun. Dan untuk hidupmu..aku tidak tau, aku hanyalah dokter biasa sayang, bukan Tuhan.” jelas Dokter Kim. Dan itu sukses membuat hati Yoonji terasa semakin ngilu.

Park Chanyeol, kakak dari Park Yoonji lantas mengambil penerbangan tercepat dari Paris ke Korea saat ini juga. Ia sungguh panik mengetahui bahwa adik yang paling ia sayangi kembali jatuh sakit.

Chanyeol memasuki kamar luas itu dengan panik. Yoonji terbaring dengan wajah pucat dengan selang yang menancap dibeberapa bagian tubuhnya.

Chanyeol menghampiri Yoonji, memeluk dan menciumnya dengan frustasi. Airmata luruh dengan bebas di wajah tampan milik Chanyeol. Ingatannya kembali pada peristiwa bertahun silam, yang mengakibatkan hidupnya nyaris hancur berantakan; peristiwa kecelakaan beruntun, yang menyebabkan ia kehilangan Yoonji yang berusia 16 tahun, dongsaeng kesayangannya, orang yang diam-diam dicintainya

Chanyeol hampir gila saat itu, karena harus kehilangan satu-satunya keluarga yang ia punya sekaligus orang yang amat ia cintai. Selama berhari-hari, dia terdiam menatapi mayat Yoonji, tidak mempedulikan bau formalin yang menusuk, tidak makan, tidak tidur, apalagi berganti pakaian. Mungkin ia akan betul-betul gila, jika disaat genting itu seseorang bernama Kris Wu tidak menghampirinya dan membisikkan sesuatu yang menumbuhkan harapannya. Membangkitkan semangatnya untuk tetap hidup, dengat alternative yang sepenuhnya baru; menghidupkan Yoonji asli yang sudah meninggal dengan teknologi kloning.

Kini, 21 tahun telah berlalu. Dan Chanyeol teringat kata-kata namja tinggi bernama Kris itu sebelum meninggalkannya.

“Bagaimanapun juga, yeoja ini bukanlah manusia yang sesungguhnya. Yoonji yang asli sudah tewas, dan yang ada didekapanmu tidak lebih dari hasil rekayasa kloning. Aku hanya memperpanjang kebahagiaanmu, namun sifatnya tidak permanen. Ingatlah, teknologi ini belum sempurna. Setelah 20 tahun berlalu, organ-organ dalam tubuhnya akan mulai mengalami penurunan fungsi secara drastis. Mulai dari paru-paru, limpa, ginjal, dan akhirnya jantung. Kau akan kehilangan dia lagi, namun kau juga dapat menghidupkannya kembali kalau kau mau.” (Ucapan Kris dikutip dari Novel yang asli).

 

Namja tinggi bermarga Park itu merebahkan kepala disisi ranjang Yoonji, lalu terisak pahit.

One week later, at Luhan’s House

 

“Cih, dasar yeoja pembual, pembohong!” gerutu Luhan kesal sambil membuang barang-barang yang mengingatkannya pada Park Yoonji –yeoja yang kini sangat dibencinya-.

“Aku bahkan tidak sudi berpacaran dengan yeoja sampah hasil kloningan seperti itu!” wajah dan telinga Luhan tampak memerah memperlihatkan emosinya yang sedang meluap-luap.

“Dia bilang, dia itu manusia asli, namun nyatanya ia tidak lebih dari sampah hasil rekayasa kloningan!” lanjut Luhan dengan nafas yang memburu, entah berbicara pada siapa.

Beberapa jam yang lalu, Chanyeol menelfonnya dan memberitahukan semua kebenarannya. Dan itu sukses membuat seorang Xi Luhan marah. Terbukti dengan ponsel mewahnya yang sudah terbelah dua disudut kamarnya.

Luhan terus membuang barang-barangnya yang berhubungan dengan Yoonji. Sampai jemarinya menyentuh selembar foto sepasang kekasih dengan pose si yeoja mencium pipi si namja, dengan latar pantai yang indah. Orang itu adalah Xi Luhan dan Park Yoonji.

Tubuh Luhan bergetar. Air wajahnya yang marah berubah menjadi sendu. Setetes air mata jatuh dari matanya.

“Yoonji-ya, sebesar apapun aku membencimu, tapi tetap rasa cintaku padamu lebih besar…”

“Chanyeol oppa, aku mau main wahana yang itu!” tunjuk Yoonji pada wahana Roller Coaster. Mereka sekarang jalan-jalan di Lotte World. Ini semua permintaan Yoonji yang mengandalkan alasan:

“Oppa, hidupku tidak lama lagi, aku ingin mengecap kenangan terindah bersama oppa.”

 

Atau alasan yang ini,

“Jebal, aku ingin sehari saja melupakan Luhan oppa yang sudah membenciku, aku ingin mengusir rasa sakit hatiku ini jauh-jauh, oppa, kau mau ‘kan?”

 

Dan kedua alasan itu sukses membuat Park Chanyeol terpaksa menuruti permintaan adiknya dan akhirnya mereka berdua terdampar ditempat yang bernama ‘Lotte World’.

“Shireo! Tidak boleh! Kau tau ‘kan, kondisi tubuhmu sedang tidak baik, mending kita naik wahana itu saja!” tolak Chanyeol sambil membujuk Yoonji untuk menaiki wahana yang lain.

“Maksudmu Ferris Wheel? Aniyo oppa! Wahana itu terlalu mainstream dan membosankan. Lagipula, yang cocok menaiki wahana itu hanya sepasang kekasih.” jawab Yoonji sambil memajukan bibirnya.

“Yasudah, kau anggap saja aku namjachingumu!” ucap Chanyeol semangat, lalu membentuk jarinya dengan sign ‘v’. Yoonji menatap Chanyeol dari bawah keatas dengan pandangan aneh.

“Tidak bisa! Ayo cepaaat, barangkali ini permintaan terakhirku!” tolak Yoonji sambil menyeret lengan Chanyeol menuju antrian wahana Roller Coaster.

Ingin rasanya Chanyeol berteriak marah saat mendengar Yoonji mengucapkan kata ‘permintaan terakhir’. Namun, apa daya ia tidak bisa marah karena itu memang benar adanya, terlebih lagi, dia memang tidak pernah bisa marah pada Yoonji, orang yang sangat dicintainya.

Seusai menaiki wahana Roller Coaster, Yoonji pamit untuk ke toilet. Ternyata disana, yeoja itu muntah, dan dadanya terasa sakit sekali. Namun, ia tidak ingin membuat oppanya khawatir dan menyesal telah mengiyakan permintannya untuk menaiki Roller Coaster.

Sedangkan Chanyeol, ia sedang menunggu Yoonji di cafétaria yang memang ada dipinggir arena Lotte World. Café itu adalah café favoritenya bersama Yoonji.

Saat sedang asyik-asyiknya namja bernama Chanyeol itu memainkan game Anipang di androidnya, tak sengaja tatapan matanya mengarah pada sosok namja dan yeoja yang sedang berangkulan mesra.

Mata bulat milik Park Chanyeol mendadak menyipit. Memastikan penglihatannya tidak salah.

Xi Luhan.

Lantas Chanyeol langsung berlari kearah namja itu.

“Ya! Luhan-ssi!” teriak Chanyeol sambil menepuk keras pundak milik Luhan.

Luhan memutar kepalanya, lalu menatap Chanyeol datar.

Yoonji sudah merasa agak baikan sekarang, ia segera keluar dari toilet dan mencari oppanya. Yeoja itu mengurungkan niatnya untuk memasuki cafeteria saat melihat Chanyeol sedang dikerubungi banyak orang. Bahkan terlihat ada dua satpam berseragam disana.

Dengan tergesa-gesa, Yoonji menghampiri oppanya.

Wajah Chanyeol sudah babak belur, begitu juga wajah namja yang tidak sempat Yoonji perhatikan.

“Ya! Gwenchanayo, oppa?!” Tanya Yoonji khawatir sambil menyeka butiran-butiran darah yang sudah keluar dari pinggir bibir Chanyeol yang robek, sehingga merembes terkena kemejanya.

“Gwen..hh..chana..hh..yo.. Yoonj-jii-ya..hh…” jawab Chanyeol, nafasnya tak beraturan.

Seketika kerumunan yang mengerumuni sudah bubar, dan satpamlah yang membubarkannya.

“YA!! Kau apakan oppaku?!” bentak Yoonji marah, namun saat melihat orang yang membuat oppanya babak belur, mulutnya langsung terkatup rapat.

Luhan membiarkan pertanyaan Yoonji menggantung diudara. Namja itu hanya menatap Yoonji dengan tatapan datar. Namun, dibalik tatapan datar itu, siapa yang tau ada tatapan lain lagi yang Luhan sembunyikan. Tatapan rindu, penuh cinta.

“Oppa, siapa dia?” Tanya yeoja disebelah Luhan sambil menunjuk kearah Yoonji.

Yoonji menatap nanar pada pemuda yang tepat dihadapannya.

Apa dia masih menganggapku sebagai kekasihnya? Bahkan belum ada kata putus diantara kami.

 

“Dia..dia.. Oh, oppa tidak mengenalnya, Hana-ya.” Jawab Luhan singkat.

Dia benar-benar tidak menganggapku lagi.

 

“Tapi tadi oppa terus menatapnya.” Yeoja bernama Yoon Hana itu tetap keukeuh.

“Sudahlah, bukankah kau ingin Ice Cream?”

Dan Yoonji, yeoja itu hanya bisa menatap kepergian Luhan. Menahan mati-matian ribuan kristal yang terasa ingin keluar dari tempat persembunyiannya. Ini bukan mimpi. Kisah cintanya harus berakhir. Disini.

Luhan meremas kasar gantungan kunci berbentuk hati ditangannya. Gantungan kunci yang tentunya memiliki pasangan. Dan pasangannya tepat berada ditangan Yoonji.

Lalu, tanpa ia sadari, gantungan itu sudah tak berbentuk lagi. Nyaris seperti butiran debu yang tak berharga.

Luhan tersenyum sinis. Tangan kirinya membuang retakan gantungan itu kedalam tempat sampah yang tepat berada disebelahnya. Sedangkan tangan kanan-nya masih dengan betah bertengger diatas bahu seorang yeoja cantik bernama Yoon Hana.

‘Aku akan memulai hidup baru yang menyenangkan. Bersama yeoja ini pastinya. Dan bisa kupastikan, yeoja sampah kloningan bernama Park Yoonji itu tidak akan pernah mengganggu hidupku lagi.’ Perlahan, smirk di wajah tampan milik seorang Xi Luhan itu mulai terukir, dengan sangat liciknya.

Luhan baru saja selesai mandi pagi. Yah karena hari ini adalah kencan kelima kalinya bersama Yoon Hana, pacar barunya. Namun, saat sudah siap berangkat, Luhan dikejutkan oleh suara ponselnya yang begitu memekakkan telinga. Dan ia lebih terkejut lagi melihat ID Call nya,

박찬열 (Park Chan Yeol)

Dengan sedikit keraguan, namja itu menekan tombol hijau dan menjawab panggilan itu dengan nada sedingin mungkin.

“Yeoboseyo?”

“Luhan-ssi! Aku harap kau mau datang kesini, Seoul Hospital untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir pada Yoonji.”

Seoul Hospital, Seoul 09.30 KST

 

Yoonji tau, hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Bukannya ia sok tau atau sok sok an menjadi cenayang. Tapi taukah kau, konon jika seseorang akan meninggal, orang itu akan mempunyai firasat sebelumnya.

Firasat yang kini sedang dialami oleh gadis kloningan bernama Park Yoonji.

Proses penurunan fungsi memang kejam. Dua minggu yang lalu, ia masih bisa berjalan-jalan bahkan menaiki wahana yang ekstrim bersama oppanya, Park Chanyeol. Namun sekarang? Seakan waktu sudah merenggut segalanya.

Hampir seluruh organ vital Yoonji sudah mengalami penurunan fungsi. Dan hasilnya, sekarang yeoja itu harus terbaring manis kaku seperti patung dengan beberapa alat dan jarum yang tertanam didalam tubuh ringkihnya.

Kini, kondisinya lebih buruk dari kritis. Yang membuat Yoonji bertahan hanya keinginannya bertemu dengan Luhan. Sekali lagi saja.

Yoonji tidak lagi mampu berbicara, namun, matanya berbinar saat melihat Luhan muncul diambang pintu. Air matanya mengalir dengan bebas, mendapati kenyataan bahwa Luhan masih sudi untuk menjenguknya.

Luhan nyaris berteriak saat melihat kondisi Yoonji. Sungguh memilukan. Rasa takut, panik, dan frustasi yang selalu berusaha ia kubur dalam-dalam kini meluap lagi, membuncah dalam dadanya, hampir tidak terkendalikan.

Sekuat tenaga Luhan menekan gejolak emosinya. Ia mendekati sosok yang bagai mayat itu, menabahkan diri untuk menggenggam lembut jemari Yoonji. Jari yang sama, yang menggenggam erat tangannya saat ia luruh dalan kekecewaan di Paradise Café.

Dan kini, satu hal yang Luhan sadari.

Ia tidak akan pernah bisa membenci yeoja itu. Sekuat apapun dia berusaha untuk membencinya, mencari kekasih baru, atau merubah sikapnya menjadi lebih dingin pada yeoja itu. Bahkan saat mengetahui bahwa yeoja itu hanyalah hasil klongingan.

Tangan lemah Yoonji terangkat, membelai gemetar wajah rupawan Luhan yang sarat airmata, lalu menyelipkan secarik kertas ditelapak tangan Luhan.

Seandainya ia bisa berkata-kata…Seandainya ia dapat –sekali saja- mengucapkan maaf kepada sosok yang sangat disayanginya ini…Seandainya ia bisa hidup lebih lama untuk mengecap kebahagiaan atau menatap wajah Luhan…

Namun, Yoonji tidak dapat menunggu lebih lama lagi.

Mungkin, mungkin kebahagiaan itu akan dapat mereka kecap berdua, suatu saat nanti. Di alam yang berbeda.

Setetes air jatuh dari mata indah Yoonji, sebelum mata hazel itu menutup dan takkan pernah terbuka lagi.

Hanya tinggal Luhan sendiri ditempat itu.

Tepat disamping nisan bertuliskan,

Park Yoon Ji

 

Namja itu mematung sesaat. Meresapi kehadiran kekasihnya untuk terakhir kalinya dalam hidupnya. Entah sudah tetes keberapa air mata terkutuk itu menetes dari iris hitam milik Luhan.

Seketika namja itu mengingat sesuatu. Selembar kertas yang Yoonji selipkan dirumah sakit dua hari yang lalu.

Luhan merogoh saku hoodie biru dongkernya, mencari keberadaan kertas beraroma Lavender itu.

Perlahan ia membuka lipatan rapi kertas itu.

Luhan oppa, saat kau membaca surat ini, aku sudah pergi untuk selamanya. Maafkan aku karena meninggalkanmu secepat ini. Maafkan aku juga, karena telah menyimpan rahasia darimu.

 

Aku bukanlah seperti yang kau bayangkan selama ini, oppa. Aku adalah hasil rekayasa kloning, dan kau pasti sudah tau itu, hahaha. Aku pengganti yeodongsaeng kesayangan Chanyeol oppa yang tewas dalam kecelakaan beruntun 21 tahun yang lalu.

 

Tapi, meskipun aku adalah produk buatan, aku percaya Tuhan itu ada, dan manusia tidak berhak menggantikan posisi Tuhan. Itu sebabnya aku terus berada disisimu. Mendukungmu dan selalu mencintaimu.

 

Tubuhku memang tidak asli, Luhan oppa…namun perasaanku asli. Segenap cinta yang kumiliki asli, dan tidak akan pudar walau 20 tahun telah berlalu. Meskipun tubuh dan suara ini milik Yoonji yang lama, diriku yang sesungguhnya hanya satu. Jiwa ini tidak akan tergantikan untuk selamanya.

 

I’m sorry for not being honest with you. I just love you too much. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku ingin pergi dengan bahagia, mengetahui bahwa kau masih mencintaiku hingga detik terakhir hidupku. Aku mencintaimu, oppa, dengan seluruh hati dan jiwaku.

 

Jika kau memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan Chanyeol oppa yang sok sibuk itu, tolong sampaikan bahwa cintaku tidak akan pernah meninggalkannya. Dan tolong ingatkan Chanyeol oppa agar tidak mengkloning diriku. Katakan kepadanya agar jangan menipu diri sendiri lagi, karena walaupun tubuhku Yoonji, aku bukanlah Yoonji yang sesungguhnya. Aku tidak ingin ia melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali. Terima kasih karena telah mencintaiku…namun aku tidak ingin keberadaanku tergantikan. Aku ingin menjadi yang terakhir dihati Chanyeol oppa dan juga dihatimu, Luhan oppa… walaupun aku yakin, suatu saat nanti pasti akan ada yeoja yang akan membuatmu jatuh cinta lebih dari ini.

 

Sayonara, Luhan oppa… (Surat dari Yoonji dikutip dari Novel yang asli)

 

Luhan meremas kertas itu. Lalu berteriak frustasi. Hidupnya seakan hancur. Terbawa kenangannya bersama Yoonji yang telah melebur. Nafasnya terengah-engah.

Namja itu yakin, suatu saat nanti ia bisa benar-benar melupakan Yoonji. Walaupun setengah hatinya berteriak, menginginkan Yoonji sebagai yeoja terakhir dihidupnya.

Namun, kenyataan tetaplah kenyataan. Yoonji sudah tidak ada disampingnya lagi. Sudah tidak bisa dia gapai lagi.

Waktu memang terkadang kejam. Terus berjalan, perlahan menghancurkan kebahagiaan seseorang. Namun, Luhan yakin, waktu jugalah yang akan mengantarkannya pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Suatu hari nanti.

.

.

.

 

 

[Status 2109: End]

 

 

[Author Note] Annyeong ^^ akhirnya bisa posting lagi disini 😀 senang rasanya bisa menyelesaikan FF keempatku dengan cast member EXO. Yah, walaupun masih banyak kekurangan. Apalagi typo yang memang tidak bisa dihindari -_- Terimakasih yang sudah mau membaca FF ini hehehe. Oh iya, adegan yang dirumah sakit itu, aku kutip dari novelnya, you must know lah, aku mentok ide disana! Azz-_- yah, walaupun masih banyak beberapa hal yang dirombak. Dan surat dari Yoonji buat Luhan juga ngga sepenuhnya ngutip, kok. Ada beberapa yang saya ganti ^^ dan untuk selebihnya.. Itu hasil murni pure dari otakku xD. And last… jangan lupa buat meninggalkan komentar! Jujur yah, aku bener-bener pengen mutilasi para silent readers yang masih bergentayangan wkwk. [31 Maret, 2013]

 

Iklan

155 pemikiran pada “2109

Tinggalkan Balasan ke Nurizka Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s